3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Duku dan Duka | Kisah Kematian Pohon-Pohon

Lanang Taji by Lanang Taji
February 14, 2021
in Khas
Duku dan Duka | Kisah Kematian Pohon-Pohon

Pohon duku yang berduka [Foto L Taji]

“Ayo, dicobain dukunya, duku hasil kebun nih,” kata lelaki empunya rumah menawarkan duku dalam nampan yang disajikan di meja setelah kopi.

“Hasil panen, Bang?” Itu kalimat pengantar tangan menjuntai, mengambil buah duku dari nampan.

“Panen, hasil kebun orang, saya sih beli,” jawabnya.

Jawaban yang kemudian diikuti dengan tawa gelak tawa.

Barisan warung-warung kecil di pinggir jalan yang menjual duku menjadi pemandangan menarik ketika menyusuri ruas jalan menuju ke Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan. Lokasi itu adalah kediaman lelaki dengan senyum ramah dan biasa kami panggil dengan sebutan Bang Wat.

Melihat deretan duku yang digantung dan ditawarkan bagi pengguna jalan lintas Sumatra, tentunya menjadi penanda bahwa sedang terjadi panen duku di kebun milik warga.

Namun sayang, panen duku tahun ini bukan milik dia. Di memang punya pohon duku, namun untuk musim duku tahun ini, Bang Wat harus rela merogoh kocek dari dompetnya sekadar untuk menghadirkan buah duku ke meja teras rumahnya. Apakah pohon dukunya tidah berbuah atau bagaimana? Tunggu dulu.

Tentang Duku

Berbeda dengan tanaman hias dengan trend musiman, duku merupakan pohon buah yang selama bertahun-tahun mengisi ladang warga. Umurnya bisa mencapai puluhan tahun. Tidak terkecuali bagi warga Desa Muara Maung, sebuah desa kecil di jalur lintas Sumatra. Hubungan mereka dengan tanaman duku seperti hubungan tak terpisahkan bertahun-tahun.

Pohon duku yang meranggas dan mati [Foto L Taji]

Umur duku yang bernama latin Lansium parasiticum (Bahasa Bali: Ceroring) ini memang panjang. Umur yang panjang ini tentu membuat hubungan tersendiri dengan mereka yang hidup di sekitarnya. Hubungan yang terjalin dari semenjak masa kanak-kanak.

Hubungan itu dialami jug aoleh Bang Wat. Sejak kanak-kanak, sosok murah senyum ini punya pengalaman dan perasaan tersendiri bagaimana rasanya memanjat dan memanen buah duku yang tumbuh di ladang keluarganya.

Di tengah dunia yang melaju liar, di mana pertumbuhan ekonomi menjadi masinis yang kalap, semua barang diukur dengan standar nilai ekonomis, nilai yang tentu saja juga dimiliki oleh sebiji buah duku. Namun ada hal yang jauh lebih sederhana dari sekedar nilai rupiah yang bisa dihasilkan dari buah duku yang berhasil dipanen; Nilai sosial.

“Bukan, bukan itu. Bagi saya yang utama bukan untuk dijual.” kata Nursahiba, perempuan tua yang sore itu ikut menikmati senja di teras Bang Wat.

Kalimat itu keluar ketika ada pertanyaan tentang berapa kerugian secara ekonomi yang dialaminya saat ini ketika ia tak lagi ikut panen duku.

“Ada dua pohon duku besar, yang sudah tumbuh dari jaman kakek-nenek saya.” katanya. “Pada bulan-bulan sekarang biasanya buahnya biasa dibagikan pada keluarga dan tetangga,” lanjutnya.

Nursahiba menceritakan tentang sebuah kebiasaan tahunan yang telah berlangsung secara turun-temurun. Menurut Nursahiba, siapa saja yang mau buah duku tinggal minta ke kerumahnya.

Itu menarik. Itu sebuah kebiasaan sederhana yang dihadirkan oleh sebuah pohon duku, kebiasaan yang kemudian nyaris hilang seiring dengan peristiwa naas yang menimpa pohon duku miliknya. Daun-daun berguguran, dan batang-batangnya mengering.

Kebiasaan membagi buah duku yang berlangsung turun menurun harus putus. Pohon duku yang diwariskan kepadanya harus mati.

“Saya ingat betul bagaimana dulu minta buah duku ke rumah Bu Nur!” Bang Wat menimpali.

Duku bukanlah tanaman yang sekarang ditanam dan setahun akan berbuah, butuh kesabaran beberapa tahun untuk merawat dan menunggu dia berbuah untuk pertama kali. Kesabaran yang akan terbayar dengan untaian buah kuning dan manis yang bisa dipetik setiap tahun. Kesabaran yang kemudian tidak hanya bisa dinikmati oleh generasi yang menanam, namun juga bisa diwariskan untuk dinikmati oleh generasi anak cucu. Warisan yang tidak hanya berupa sebuah pohon yang bisa dipanen, namun juga warisan nilai untuk berbagi pada sekitar yang terkandung dibalik rimbun daun dan ranum buah duku yang menguning.

“Kini saya tidak bisa lagi memberikan buah dari pohon-pohon duku di pekarangan.” ucap Nursahiba diikuti helaan napas yang berat.

Perasaan duka terdengar jelas keluar bersama cerita yang dituturkan. Perasaan duka akibat kehilangan pohon-pohon duku yang sebelumnya tumbuh subur di ladang yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Duka akibat kehilangan warisan yang dipercayakan padanya. Kehilangan pohon yang selama ini menjadi media perawat hubungan sosial dan menjadi sarana komunikasi dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Kisah Kematian Pohon Duku

Kematian pohon duku milik Nursahiba bukan terjadi secara wajar akibat umur yang tua. Kematian itu terjadi dalam waktu yang relatif cepat, dan tidak hanya menimpa duku yang berusia puluhan tahun, namun juga menimpa tanaman lain seperti pohon durian dengan usia yang tidak kalah tua dengan pohon yang masih aktif berbuah.

Berbicara tentang durian di desa itu tentu tidak lepas dari tempoyak, olahan warga sebagai sebuah usaha menyiasati produksi durian yang berlimpah. Olahan yang biasanya dibuat disetiap keluarga menggunakan hasil panen durian dari ladang yang tak kunjung habis dimakan.

Butiran halus sisa debu batu bara [Foto: L Taji]

Namun sayang, tanaman-tanaman buah warisan tersebut harus mati, kematian yang diakibatkan oleh luapan sungai. Sungai yang selama ini menghidupi mereka kini berubah menjadi ancaman pada warisan yang harus mereka rawat dan teruskan.

Desa Muara Maung dilalui oleh Sungai Kungkilan, sebuah sungai yang melintas di tengah kampung yang kemudian bermuara ke sungai yang lebih besar, Sungai Lematang. Sungai Lematang merupakan sungai besar dan panjang yang bertugas membawa aliran air ke Sungai Musi. Sungai yang menjadi ikon kota Palembang, ibu kota Sumatra Selatan.

Luapan Sungai Kungkilan bukan peristiwa baru. Setiap tahunnya pada bulan-bulan tertentu sungai ini akan meluap. Luapan sungai yang oleh warga berarti akan membawa kesuburan, karena setelah meluap maka akan banyak humus dari hulu yang akan sampai ke ladang-ladang mereka. Namun hal itu kini terbalik.

Luapan Sungai Kungkilan kini membawa lumpur halus. Lumpur-lumpur itu yang kemudian masuk menyelinap ke kebun-kebun warga, menutup akar dan pangkal pohon buah yang ada di kebun-kebun warga.

Apakah kemudian Sungai Kungkilan bisa dikambinghitamkan karena sekarang membawa lumpur ke kebun dan pekarangan rumah warga? Disalahkan karena mengkhianati warga dengan tidak lagi membawa humus yang menyuburkan namun membawa lumpur yang kemudian berakibat membinasakan tanaman buah warga?

Sungai hanya ruang yang bertugas mengalirkan air dari hulu ke hilir, dia tentu tidak memiliki kuasa untuk mengatur apa atau sekedar untuk memilih apa yang bisa melewatinya dan apa yang tidak boleh. Dia hanya ruang bagi air dan apa yang terkandung didalamnya untuk melintas menuju samudra lepas. Peran sederhana yang kemudian menjadikan sungai sebuah relief hidup dari bagaimana hubungan manusia dengan air. Dan Sungai Kungkilan menjadi salah satu relief yang begitu gamblang mengisahkan sebuah masa dengan perubahan prilaku yang terjadi.

Perubahan dari hulu yang dahulu rimbun dengan tutupan pepohonan rindang, kini riuh oleh mesin, alat berat yang menguliti lapisan tanah untuk mencari permata hitam, batu bara. Jejak tumbuhan yang telah membatu dan terpendam dalam tanah sedang laris, kristal ingatan dari bagaimana rindangnya hulu digali sebagai sumber energi. Pelakunya tentu saja mereka yang punya kekuatan modal, karena untuk bisa mengeluarkan batu bara dari perut bumi butuh biaya yang tidak bisa dipenuhi dengan hasil panen durian atau duku.

Aktivitas pertambangan di sekitar sisi hulu Sungai Kungkilan yang telah berlangsung sekitar 12 tahun terakhir, dan akibatnya kini harus ditanggung oleh warga Muara Maung yang ada di hilir sungai. Luapan humus yang bersaman dengan luapan air-air Sungai Kungkilan ketika hujan kini telah berganti dengan luapan lumpur yang bercampur dengan butiran halus sisa debu batu bara yang hanyut. Lumpur hasil penggalian tambang yang kemudian bersama dengan guyuran hujan, mengalir bersama air melalui Sungai Kungkilan. Volume aliran yang tak lagi sanggup ditampung oleh badan sungai terpaksa harus dimuntahkan, menjadi luapan yang menggenangi pekarangan dan kebun warga.

Luapan lumpur yang akhirnya membunuh pohon duku dan pohon lain yang usianya jauh lebih tua dari umur pertambangan di hulu Sungai Kungkilan. Perlakuan pada wilayah hulu sungai yang kini hanya dipandang dengan kaca mata ekonomi, berapa rupiah keuntungan yang bisa digali. Sementara di saat yang sama tanaman buah warga di hilir perlahan tapi pasti mulai mengering, mati tertimbun lumpur.

Kerugian yang tentu saja tak bisa dihitung dengan angka apalagi dirupiahkan. Bagi Nursahiba atau Bang Wat, duku bukan hanya sekedar buah yang sekilo bisa ditebus dengan nominal Rp. 15.000,00-, tapi lebih dari itu duku adalah warisan yang harus dirawat, ada jalinan emosi dan nostalgia yang membentang dan secara nyata telah menjadi perajut jalinan interaksi sosial, nilai yang tidak mungkin bisa dirupiahkan. Kematian satu pohon duku bisa berarti terputusnya interaksi dengan keluarga atau tetangga sekitar.

Dan yang lebih mengerikan tentu saja bagaimana Sungai Kungkilan yang kemudian dengan seenaknya digunakan menjadi agen untuk mengirimkan lumpur yang kemudian membunuh pohon-pohon tersebut.

Sungai yang kemudian kemudian menjadi relief bagaimana sebuah ruang hidup berubah seiring dengan perubahan orientasi manusia yang hidup di dalamnya. Dari yang lebih memilih menjaga tutupan lahan dengan pepohonan demi merasakan luapan air sungai sebagai berkah dengan humus yang menyuburkan. Kini memilih untuk rakus menggali batu bara dan membuat luapan air sungai menjadi momok yang mengancam warga yang sudah turun-temurun hidup dan beranak-pinak di dalam ruang hidup tersebut. [T]

Tags: lingkunganpohonSumatera Selatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pernikahan, Sartre dan Berang-berang Pacarnya

Next Post

Putu Bagiada | Dari Bupati ke Bhawati, Dari Riuh Politik ke Hening Pengetahuan

Lanang Taji

Lanang Taji

Part time citizen, full time netizen. tukang tulis di I NI timpalkopi

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Putu Bagiada | Dari Bupati ke Bhawati, Dari Riuh Politik ke Hening Pengetahuan

Putu Bagiada | Dari Bupati ke Bhawati, Dari Riuh Politik ke Hening Pengetahuan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co