14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Duku dan Duka | Kisah Kematian Pohon-Pohon

Lanang Taji by Lanang Taji
February 14, 2021
in Khas
Duku dan Duka | Kisah Kematian Pohon-Pohon

Pohon duku yang berduka [Foto L Taji]

“Ayo, dicobain dukunya, duku hasil kebun nih,” kata lelaki empunya rumah menawarkan duku dalam nampan yang disajikan di meja setelah kopi.

“Hasil panen, Bang?” Itu kalimat pengantar tangan menjuntai, mengambil buah duku dari nampan.

“Panen, hasil kebun orang, saya sih beli,” jawabnya.

Jawaban yang kemudian diikuti dengan tawa gelak tawa.

Barisan warung-warung kecil di pinggir jalan yang menjual duku menjadi pemandangan menarik ketika menyusuri ruas jalan menuju ke Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan. Lokasi itu adalah kediaman lelaki dengan senyum ramah dan biasa kami panggil dengan sebutan Bang Wat.

Melihat deretan duku yang digantung dan ditawarkan bagi pengguna jalan lintas Sumatra, tentunya menjadi penanda bahwa sedang terjadi panen duku di kebun milik warga.

Namun sayang, panen duku tahun ini bukan milik dia. Di memang punya pohon duku, namun untuk musim duku tahun ini, Bang Wat harus rela merogoh kocek dari dompetnya sekadar untuk menghadirkan buah duku ke meja teras rumahnya. Apakah pohon dukunya tidah berbuah atau bagaimana? Tunggu dulu.

Tentang Duku

Berbeda dengan tanaman hias dengan trend musiman, duku merupakan pohon buah yang selama bertahun-tahun mengisi ladang warga. Umurnya bisa mencapai puluhan tahun. Tidak terkecuali bagi warga Desa Muara Maung, sebuah desa kecil di jalur lintas Sumatra. Hubungan mereka dengan tanaman duku seperti hubungan tak terpisahkan bertahun-tahun.

Pohon duku yang meranggas dan mati [Foto L Taji]

Umur duku yang bernama latin Lansium parasiticum (Bahasa Bali: Ceroring) ini memang panjang. Umur yang panjang ini tentu membuat hubungan tersendiri dengan mereka yang hidup di sekitarnya. Hubungan yang terjalin dari semenjak masa kanak-kanak.

Hubungan itu dialami jug aoleh Bang Wat. Sejak kanak-kanak, sosok murah senyum ini punya pengalaman dan perasaan tersendiri bagaimana rasanya memanjat dan memanen buah duku yang tumbuh di ladang keluarganya.

Di tengah dunia yang melaju liar, di mana pertumbuhan ekonomi menjadi masinis yang kalap, semua barang diukur dengan standar nilai ekonomis, nilai yang tentu saja juga dimiliki oleh sebiji buah duku. Namun ada hal yang jauh lebih sederhana dari sekedar nilai rupiah yang bisa dihasilkan dari buah duku yang berhasil dipanen; Nilai sosial.

“Bukan, bukan itu. Bagi saya yang utama bukan untuk dijual.” kata Nursahiba, perempuan tua yang sore itu ikut menikmati senja di teras Bang Wat.

Kalimat itu keluar ketika ada pertanyaan tentang berapa kerugian secara ekonomi yang dialaminya saat ini ketika ia tak lagi ikut panen duku.

“Ada dua pohon duku besar, yang sudah tumbuh dari jaman kakek-nenek saya.” katanya. “Pada bulan-bulan sekarang biasanya buahnya biasa dibagikan pada keluarga dan tetangga,” lanjutnya.

Nursahiba menceritakan tentang sebuah kebiasaan tahunan yang telah berlangsung secara turun-temurun. Menurut Nursahiba, siapa saja yang mau buah duku tinggal minta ke kerumahnya.

Itu menarik. Itu sebuah kebiasaan sederhana yang dihadirkan oleh sebuah pohon duku, kebiasaan yang kemudian nyaris hilang seiring dengan peristiwa naas yang menimpa pohon duku miliknya. Daun-daun berguguran, dan batang-batangnya mengering.

Kebiasaan membagi buah duku yang berlangsung turun menurun harus putus. Pohon duku yang diwariskan kepadanya harus mati.

“Saya ingat betul bagaimana dulu minta buah duku ke rumah Bu Nur!” Bang Wat menimpali.

Duku bukanlah tanaman yang sekarang ditanam dan setahun akan berbuah, butuh kesabaran beberapa tahun untuk merawat dan menunggu dia berbuah untuk pertama kali. Kesabaran yang akan terbayar dengan untaian buah kuning dan manis yang bisa dipetik setiap tahun. Kesabaran yang kemudian tidak hanya bisa dinikmati oleh generasi yang menanam, namun juga bisa diwariskan untuk dinikmati oleh generasi anak cucu. Warisan yang tidak hanya berupa sebuah pohon yang bisa dipanen, namun juga warisan nilai untuk berbagi pada sekitar yang terkandung dibalik rimbun daun dan ranum buah duku yang menguning.

“Kini saya tidak bisa lagi memberikan buah dari pohon-pohon duku di pekarangan.” ucap Nursahiba diikuti helaan napas yang berat.

Perasaan duka terdengar jelas keluar bersama cerita yang dituturkan. Perasaan duka akibat kehilangan pohon-pohon duku yang sebelumnya tumbuh subur di ladang yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Duka akibat kehilangan warisan yang dipercayakan padanya. Kehilangan pohon yang selama ini menjadi media perawat hubungan sosial dan menjadi sarana komunikasi dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya.

Kisah Kematian Pohon Duku

Kematian pohon duku milik Nursahiba bukan terjadi secara wajar akibat umur yang tua. Kematian itu terjadi dalam waktu yang relatif cepat, dan tidak hanya menimpa duku yang berusia puluhan tahun, namun juga menimpa tanaman lain seperti pohon durian dengan usia yang tidak kalah tua dengan pohon yang masih aktif berbuah.

Berbicara tentang durian di desa itu tentu tidak lepas dari tempoyak, olahan warga sebagai sebuah usaha menyiasati produksi durian yang berlimpah. Olahan yang biasanya dibuat disetiap keluarga menggunakan hasil panen durian dari ladang yang tak kunjung habis dimakan.

Butiran halus sisa debu batu bara [Foto: L Taji]

Namun sayang, tanaman-tanaman buah warisan tersebut harus mati, kematian yang diakibatkan oleh luapan sungai. Sungai yang selama ini menghidupi mereka kini berubah menjadi ancaman pada warisan yang harus mereka rawat dan teruskan.

Desa Muara Maung dilalui oleh Sungai Kungkilan, sebuah sungai yang melintas di tengah kampung yang kemudian bermuara ke sungai yang lebih besar, Sungai Lematang. Sungai Lematang merupakan sungai besar dan panjang yang bertugas membawa aliran air ke Sungai Musi. Sungai yang menjadi ikon kota Palembang, ibu kota Sumatra Selatan.

Luapan Sungai Kungkilan bukan peristiwa baru. Setiap tahunnya pada bulan-bulan tertentu sungai ini akan meluap. Luapan sungai yang oleh warga berarti akan membawa kesuburan, karena setelah meluap maka akan banyak humus dari hulu yang akan sampai ke ladang-ladang mereka. Namun hal itu kini terbalik.

Luapan Sungai Kungkilan kini membawa lumpur halus. Lumpur-lumpur itu yang kemudian masuk menyelinap ke kebun-kebun warga, menutup akar dan pangkal pohon buah yang ada di kebun-kebun warga.

Apakah kemudian Sungai Kungkilan bisa dikambinghitamkan karena sekarang membawa lumpur ke kebun dan pekarangan rumah warga? Disalahkan karena mengkhianati warga dengan tidak lagi membawa humus yang menyuburkan namun membawa lumpur yang kemudian berakibat membinasakan tanaman buah warga?

Sungai hanya ruang yang bertugas mengalirkan air dari hulu ke hilir, dia tentu tidak memiliki kuasa untuk mengatur apa atau sekedar untuk memilih apa yang bisa melewatinya dan apa yang tidak boleh. Dia hanya ruang bagi air dan apa yang terkandung didalamnya untuk melintas menuju samudra lepas. Peran sederhana yang kemudian menjadikan sungai sebuah relief hidup dari bagaimana hubungan manusia dengan air. Dan Sungai Kungkilan menjadi salah satu relief yang begitu gamblang mengisahkan sebuah masa dengan perubahan prilaku yang terjadi.

Perubahan dari hulu yang dahulu rimbun dengan tutupan pepohonan rindang, kini riuh oleh mesin, alat berat yang menguliti lapisan tanah untuk mencari permata hitam, batu bara. Jejak tumbuhan yang telah membatu dan terpendam dalam tanah sedang laris, kristal ingatan dari bagaimana rindangnya hulu digali sebagai sumber energi. Pelakunya tentu saja mereka yang punya kekuatan modal, karena untuk bisa mengeluarkan batu bara dari perut bumi butuh biaya yang tidak bisa dipenuhi dengan hasil panen durian atau duku.

Aktivitas pertambangan di sekitar sisi hulu Sungai Kungkilan yang telah berlangsung sekitar 12 tahun terakhir, dan akibatnya kini harus ditanggung oleh warga Muara Maung yang ada di hilir sungai. Luapan humus yang bersaman dengan luapan air-air Sungai Kungkilan ketika hujan kini telah berganti dengan luapan lumpur yang bercampur dengan butiran halus sisa debu batu bara yang hanyut. Lumpur hasil penggalian tambang yang kemudian bersama dengan guyuran hujan, mengalir bersama air melalui Sungai Kungkilan. Volume aliran yang tak lagi sanggup ditampung oleh badan sungai terpaksa harus dimuntahkan, menjadi luapan yang menggenangi pekarangan dan kebun warga.

Luapan lumpur yang akhirnya membunuh pohon duku dan pohon lain yang usianya jauh lebih tua dari umur pertambangan di hulu Sungai Kungkilan. Perlakuan pada wilayah hulu sungai yang kini hanya dipandang dengan kaca mata ekonomi, berapa rupiah keuntungan yang bisa digali. Sementara di saat yang sama tanaman buah warga di hilir perlahan tapi pasti mulai mengering, mati tertimbun lumpur.

Kerugian yang tentu saja tak bisa dihitung dengan angka apalagi dirupiahkan. Bagi Nursahiba atau Bang Wat, duku bukan hanya sekedar buah yang sekilo bisa ditebus dengan nominal Rp. 15.000,00-, tapi lebih dari itu duku adalah warisan yang harus dirawat, ada jalinan emosi dan nostalgia yang membentang dan secara nyata telah menjadi perajut jalinan interaksi sosial, nilai yang tidak mungkin bisa dirupiahkan. Kematian satu pohon duku bisa berarti terputusnya interaksi dengan keluarga atau tetangga sekitar.

Dan yang lebih mengerikan tentu saja bagaimana Sungai Kungkilan yang kemudian dengan seenaknya digunakan menjadi agen untuk mengirimkan lumpur yang kemudian membunuh pohon-pohon tersebut.

Sungai yang kemudian kemudian menjadi relief bagaimana sebuah ruang hidup berubah seiring dengan perubahan orientasi manusia yang hidup di dalamnya. Dari yang lebih memilih menjaga tutupan lahan dengan pepohonan demi merasakan luapan air sungai sebagai berkah dengan humus yang menyuburkan. Kini memilih untuk rakus menggali batu bara dan membuat luapan air sungai menjadi momok yang mengancam warga yang sudah turun-temurun hidup dan beranak-pinak di dalam ruang hidup tersebut. [T]

Tags: lingkunganpohonSumatera Selatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pernikahan, Sartre dan Berang-berang Pacarnya

Next Post

Putu Bagiada | Dari Bupati ke Bhawati, Dari Riuh Politik ke Hening Pengetahuan

Lanang Taji

Lanang Taji

Part time citizen, full time netizen. tukang tulis di I NI timpalkopi

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Putu Bagiada | Dari Bupati ke Bhawati, Dari Riuh Politik ke Hening Pengetahuan

Putu Bagiada | Dari Bupati ke Bhawati, Dari Riuh Politik ke Hening Pengetahuan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co