24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pernikahan, Sartre dan Berang-berang Pacarnya

I Putu Agus Phebi Rosadi by I Putu Agus Phebi Rosadi
February 14, 2021
in Esai
Pernikahan, Sartre dan Berang-berang Pacarnya

Jean Paul Sartre/theparisreview.org [diambil dari IDN Times]

Seorang teman yang nasib hidupnya tak lebih baik setelah menikah, bertanya kepada saya yang memang mempunyai rencana menikah dalam waktu dekat,” Apa kamu akan menikah?”, “Dalam wabah Corona begini, bukankah tidak boleh menikah?” saya bertanya balik. Dia tak menyahut. Tiap kali pertanyaan semacam itu membawa saya pada identifikasi yang itu-itu juga ; pernikahan adalah keharusan demi belanjutnya kehidupan manusia. Tiap kali pula hal semacam itu membawa saya pada sebuah kemungkinan baru untuk membalikkan fakta yang itu-itu juga.  Setiap pernikahan, seyogyanya membawa nasib masing-masing dan mengandung kemungkinan tak terduga. Entah pernikahan membawa nasib ke arah yang lebih baik atau kearah yang lebih buruk.

Saya kemudian teringat kisah Sartre dan Berang-berang pacarnya. Jean Paul Satre amat tenar di kalangan para mahasiswa, kaum revolusioner di masanya, bahkan hingga sekarang. Laki-laki yang bertubuh kecil dan berkacamata tebal yang dicap, bahwa hanya saat ia tidur, ia tak berpikir. Sikap politiknya amat selaras dengan era jayanya Che Guevara. Namun, diantara sikap politik dan pemikiran-pemikiran filsafatnya, dalam hidupnya Satre mengalami kisah cinta yang menggantung.

Pada suatu hari, di Paris tahun 1929, saat Jean Paul nongkrong di sebuah kafe di Latin Quarter dengan Raymond Aron Maurice Marleau-Ponty, tiba-tiba seorang perempuan bertubuh tinggi ikut bergabung. Sekejap saja gadis itu sanggup bertaut dengan obrolan filsafat. Dialah Simone de Beauvoir. Selisih usia mereka 3 tahun. Sartre 24 tahun dan Simone 21 tahun.  Sartre memandang Simone sebagai perempuan manis, cantik, dan kerap mengenankan pakaian keren. Dalam diskusi yang berlangsung lama itu, seketika kawan-kawan dari Sartre memberi julukan “Berang-berang” pada Simone karena ia berpendafat seperti menunjukkan sebuah kerja keras dan berenergi.

Tanpa disadari, dalam pertemuan itu, Sartre telah menaruh hati pada Simone dan mengatakan bahwa ia akan melindungi Simone dalam kepakan sayapnya. Mereka kerap bepergian berdua dan beradu pendapat. Meskipun Simone begitu pintar, namun ia selalu kalah bila beradu isi kepala dengan Sartre. Simon kerap memberikan pendapat-pendapat dan kritik tepat sasaran. Hal itulah yang membuat Sartre merasa menjadi tumbu bertemu tutup. Mereka akhirnya menjalin hubungan yang lebih serius. Tapi mereka sama memandang bahwa sebuah hubungan yang serius tidakalh sesuai dengan sudut pandang filosofis. Sikap hubungan pacaran yang konvensional menurutnya meski dihindari.

Mereka akhinya membuat sikap bahwa hubungan mereka harus bersifat terbuka. Tidak ada ikatan, tidak ada komitmen.  Mereka sering bepergian ke rumah makan di Left Blank, ke kafe-kafe. Betapa saya membayangkan saat Julliette Greco menyanyikan lagu , Whaterver you do, you become.” dan Satre dan si berang-berang mendengarkannya di sebuah meja dengan obrolan-obrolan filsafat yang berserakan di meja sambil sesekali berciuman dan tertawa menertawakan dirinya masing-masing. Lalu mereka pulang, dan bercinta di ranjang sambil memperdebatkan sisa-sisa filsafat yang masih berserakan di atas meja kafe itu.

Lama berselang, setelah masa akhir ujian kelas Filsafat diumumkan, Sartre menduduki peringkat pertama, sedangkan Simone menduduki peringkat kedua. Sungguh pasangan yang sempurna. Era Filsafat Prancis sedang menemukan generasi emas. Namun akhirnya Sartre dan Simone dihadapkan dengan peristiwa dunia nyata yang harus dihadapi ; Simone mengajar dan Sartre manjalani wajib militer. Sartre sadar, bahwa hubungannya dengan Simon adalah hubungan yang istimewa, amka ia membuat sebuah komitmen baru yang menyatakan bahwa Ia dan Simone menjalani ikatan kontrak dua tahun. Sartre mengusulkan selama dua tahun hubungan mereka akan bersifat affair. Banyak orang yang mengatakan bahwa Prancis adalah kota yang romantic bagi sebuah hubungan. Namun Sartre dan simon jalas-jelas membantahnya dan melakukannya bahkan di jantung Prancis.

Sartre akhirnya benar-benar menjalani wajib militer dan menjadi serdadu paling buruk setelah Bustre Keaton. Karena ia adalah serdadu yang buruk, Satre akhirnya memilih unit meteorology dan menjadi penerbang balon cuaca di bawah pimpinan temannya Raymond Aron. Dalam masa wajib militer itu, Sartre kerap menerima surat-surat dari Simone dengan salam yang sama sekali tidak romantic, “ Hey, aku telah menemukan teori baru!”

Sebetulnya Sartre tidaklah menemukan teori baru, namun ia hanya merusak teori yang telah ada. Ia mengatakan Descartes keliru, Kant tidak lengkap, dan Hegel sangat Borjuis hingga akhirnya ia kecewa pada diri sendiri yang menggeluti filsafat. Menurutnya filsafat sama sekali tak mampu mencekram kehidupan nyata. Tapi Raymond Aron membantahnya, ia mengatakan bahwa filsafat telah sejak lama mencakup kehidupan nyata. Ia memberikan contoh bahwa jika ia sanggup bicara mengenai fenomenologi sebuah botol di atas meja, maka itu adalah fisafat. Hal itulah kemudian membuat Sartre ingin menghabiskan waktunya di Fennch Institute untuk memahami filsafat Husserl yang dikatakan Aron tadi.

Melihat kisah cinta mereka, saya jadi ingat novelis Gibson dan Atwood yang memandang pernikahan juga sebagai sesuatu yang boleh tak dilakukan. Dalam puisinya “ Habitation” ia mengatakan bahwa pernikahan membutuhkan usaha yang banyak untuk mempertahankannya. Dan Satre-Simone, bukan tipe orang yang mau diribetkan dengan hal semacam itu. Simone mengatakan perasaan negatif kepada perempuan.

Ia mengatakan bahwa kehamilan adalah kutukan yang menjadikan manusia lemah dan pasif. Dan sekali lagi saya tegaskan, tak perlu kiranya dijelaskan lagi. Dalam hal cinta, mereka adalah filsafat itu sendiri. Biarlah cara berhubungan mereka tetap menjadikan pernikahan sebagai sebuah pilihan, bukan keharusan. Sementara saya sendiri, tetap menimbang-nimbang, apakah akan meniru Sartre ataukah mengambil keputusan manusia pada umumnya. [T]

Tags: cintafilsafatJean Paul Sartrepernikahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menulis, Menjaga Kelestarian Otak Kita

Next Post

Duku dan Duka | Kisah Kematian Pohon-Pohon

I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi

Setelah menempuh pendidikan di Singaraja, ia kembali ke kampung halamannya di Jembrana untuk menjadi petani sembari nyambi jadi guru. Selain menulis puisi, ia juga menulis esai dan cerpen.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Duku dan Duka | Kisah Kematian Pohon-Pohon

Duku dan Duka | Kisah Kematian Pohon-Pohon

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co