2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pernikahan, Sartre dan Berang-berang Pacarnya

I Putu Agus Phebi Rosadi by I Putu Agus Phebi Rosadi
February 14, 2021
in Esai
Pernikahan, Sartre dan Berang-berang Pacarnya

Jean Paul Sartre/theparisreview.org [diambil dari IDN Times]

Seorang teman yang nasib hidupnya tak lebih baik setelah menikah, bertanya kepada saya yang memang mempunyai rencana menikah dalam waktu dekat,” Apa kamu akan menikah?”, “Dalam wabah Corona begini, bukankah tidak boleh menikah?” saya bertanya balik. Dia tak menyahut. Tiap kali pertanyaan semacam itu membawa saya pada identifikasi yang itu-itu juga ; pernikahan adalah keharusan demi belanjutnya kehidupan manusia. Tiap kali pula hal semacam itu membawa saya pada sebuah kemungkinan baru untuk membalikkan fakta yang itu-itu juga.  Setiap pernikahan, seyogyanya membawa nasib masing-masing dan mengandung kemungkinan tak terduga. Entah pernikahan membawa nasib ke arah yang lebih baik atau kearah yang lebih buruk.

Saya kemudian teringat kisah Sartre dan Berang-berang pacarnya. Jean Paul Satre amat tenar di kalangan para mahasiswa, kaum revolusioner di masanya, bahkan hingga sekarang. Laki-laki yang bertubuh kecil dan berkacamata tebal yang dicap, bahwa hanya saat ia tidur, ia tak berpikir. Sikap politiknya amat selaras dengan era jayanya Che Guevara. Namun, diantara sikap politik dan pemikiran-pemikiran filsafatnya, dalam hidupnya Satre mengalami kisah cinta yang menggantung.

Pada suatu hari, di Paris tahun 1929, saat Jean Paul nongkrong di sebuah kafe di Latin Quarter dengan Raymond Aron Maurice Marleau-Ponty, tiba-tiba seorang perempuan bertubuh tinggi ikut bergabung. Sekejap saja gadis itu sanggup bertaut dengan obrolan filsafat. Dialah Simone de Beauvoir. Selisih usia mereka 3 tahun. Sartre 24 tahun dan Simone 21 tahun.  Sartre memandang Simone sebagai perempuan manis, cantik, dan kerap mengenankan pakaian keren. Dalam diskusi yang berlangsung lama itu, seketika kawan-kawan dari Sartre memberi julukan “Berang-berang” pada Simone karena ia berpendafat seperti menunjukkan sebuah kerja keras dan berenergi.

Tanpa disadari, dalam pertemuan itu, Sartre telah menaruh hati pada Simone dan mengatakan bahwa ia akan melindungi Simone dalam kepakan sayapnya. Mereka kerap bepergian berdua dan beradu pendapat. Meskipun Simone begitu pintar, namun ia selalu kalah bila beradu isi kepala dengan Sartre. Simon kerap memberikan pendapat-pendapat dan kritik tepat sasaran. Hal itulah yang membuat Sartre merasa menjadi tumbu bertemu tutup. Mereka akhirnya menjalin hubungan yang lebih serius. Tapi mereka sama memandang bahwa sebuah hubungan yang serius tidakalh sesuai dengan sudut pandang filosofis. Sikap hubungan pacaran yang konvensional menurutnya meski dihindari.

Mereka akhinya membuat sikap bahwa hubungan mereka harus bersifat terbuka. Tidak ada ikatan, tidak ada komitmen.  Mereka sering bepergian ke rumah makan di Left Blank, ke kafe-kafe. Betapa saya membayangkan saat Julliette Greco menyanyikan lagu , Whaterver you do, you become.” dan Satre dan si berang-berang mendengarkannya di sebuah meja dengan obrolan-obrolan filsafat yang berserakan di meja sambil sesekali berciuman dan tertawa menertawakan dirinya masing-masing. Lalu mereka pulang, dan bercinta di ranjang sambil memperdebatkan sisa-sisa filsafat yang masih berserakan di atas meja kafe itu.

Lama berselang, setelah masa akhir ujian kelas Filsafat diumumkan, Sartre menduduki peringkat pertama, sedangkan Simone menduduki peringkat kedua. Sungguh pasangan yang sempurna. Era Filsafat Prancis sedang menemukan generasi emas. Namun akhirnya Sartre dan Simone dihadapkan dengan peristiwa dunia nyata yang harus dihadapi ; Simone mengajar dan Sartre manjalani wajib militer. Sartre sadar, bahwa hubungannya dengan Simon adalah hubungan yang istimewa, amka ia membuat sebuah komitmen baru yang menyatakan bahwa Ia dan Simone menjalani ikatan kontrak dua tahun. Sartre mengusulkan selama dua tahun hubungan mereka akan bersifat affair. Banyak orang yang mengatakan bahwa Prancis adalah kota yang romantic bagi sebuah hubungan. Namun Sartre dan simon jalas-jelas membantahnya dan melakukannya bahkan di jantung Prancis.

Sartre akhirnya benar-benar menjalani wajib militer dan menjadi serdadu paling buruk setelah Bustre Keaton. Karena ia adalah serdadu yang buruk, Satre akhirnya memilih unit meteorology dan menjadi penerbang balon cuaca di bawah pimpinan temannya Raymond Aron. Dalam masa wajib militer itu, Sartre kerap menerima surat-surat dari Simone dengan salam yang sama sekali tidak romantic, “ Hey, aku telah menemukan teori baru!”

Sebetulnya Sartre tidaklah menemukan teori baru, namun ia hanya merusak teori yang telah ada. Ia mengatakan Descartes keliru, Kant tidak lengkap, dan Hegel sangat Borjuis hingga akhirnya ia kecewa pada diri sendiri yang menggeluti filsafat. Menurutnya filsafat sama sekali tak mampu mencekram kehidupan nyata. Tapi Raymond Aron membantahnya, ia mengatakan bahwa filsafat telah sejak lama mencakup kehidupan nyata. Ia memberikan contoh bahwa jika ia sanggup bicara mengenai fenomenologi sebuah botol di atas meja, maka itu adalah fisafat. Hal itulah kemudian membuat Sartre ingin menghabiskan waktunya di Fennch Institute untuk memahami filsafat Husserl yang dikatakan Aron tadi.

Melihat kisah cinta mereka, saya jadi ingat novelis Gibson dan Atwood yang memandang pernikahan juga sebagai sesuatu yang boleh tak dilakukan. Dalam puisinya “ Habitation” ia mengatakan bahwa pernikahan membutuhkan usaha yang banyak untuk mempertahankannya. Dan Satre-Simone, bukan tipe orang yang mau diribetkan dengan hal semacam itu. Simone mengatakan perasaan negatif kepada perempuan.

Ia mengatakan bahwa kehamilan adalah kutukan yang menjadikan manusia lemah dan pasif. Dan sekali lagi saya tegaskan, tak perlu kiranya dijelaskan lagi. Dalam hal cinta, mereka adalah filsafat itu sendiri. Biarlah cara berhubungan mereka tetap menjadikan pernikahan sebagai sebuah pilihan, bukan keharusan. Sementara saya sendiri, tetap menimbang-nimbang, apakah akan meniru Sartre ataukah mengambil keputusan manusia pada umumnya. [T]

Tags: cintafilsafatJean Paul Sartrepernikahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menulis, Menjaga Kelestarian Otak Kita

Next Post

Duku dan Duka | Kisah Kematian Pohon-Pohon

I Putu Agus Phebi Rosadi

I Putu Agus Phebi Rosadi

Setelah menempuh pendidikan di Singaraja, ia kembali ke kampung halamannya di Jembrana untuk menjadi petani sembari nyambi jadi guru. Selain menulis puisi, ia juga menulis esai dan cerpen.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Duku dan Duka | Kisah Kematian Pohon-Pohon

Duku dan Duka | Kisah Kematian Pohon-Pohon

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co