9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kesetaraan Gender: Evolusi Sebuah Ideologi

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
April 20, 2020
in Opini
Kesetaraan Gender:  Evolusi Sebuah Ideologi

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Hari Kartini diperingati sebagai tonggak bersejarah tentang  kesetaraan gender di Indonesia khususnya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam mengenyam pendidikan. Perjuangan kesetaraan gender terus disuarakan. Dalam bidang politik, sudah diatur mengenai proporsi keterwakilan perempuan. Dalam Undang-undang Nomor 31/2002 tentang Partai Politik, perhatian atas perlunya keterwakilan perempuan di bidang politik sudah terlihat. Pasal 13 ayat 3 undang-undang tersebut memberi ruang perhatian kepada kesetaraan dan keadilan gender.

Ketentuan terkait keterwakilan perempuan dalam politik semakin jelas dalam Undang-undang Nomor 2/2008 tentang Partai Politik. Dalam Pasal 2 undang-undang tersebut, keterwakilan perempuan di bidang politik diperlihatkan dalam angka yang jelas yaitu 30 persen. Besaran keterwakilan perempuan itu menyangkut pendirian dan pembentukan parpol, serta kepengurusan parpol di tingkat pusat (diramu dari berbagai sumber).

Dalam bidang pendidikan, perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki untuk mengenyam pendidikan. Saat ini, sudah ada perempuan yang menjadi menteri, menjadi pimpinan perusahaan dan menjadi bupati, gubernur, anggota dewan serta pengurus partai. Hal itu menandakan bahwa kesetaraan gender telah terakomodasi meskipun persentase belum maksimal.

Kesetaraan gender berkaitan dengan sebuah ideologi yang dianut oleh masyarakat. Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, tentu antara suku-suku tersebut memiliki perbedaan ideologi. Ideologi suatu masyarakat tercermin dalam bentuk perilaku anggota masyarakat dalam keseharian. Bahkan Thomson (1984:14) menyatakan ideologi tidak dapat dipisahkan dengan kajian bahasa. Dari perspektif kebahasaan dapat dicermati ideologi. Mengkaji ideologi berarti mengkaji penggunaan bahasa dalam kehidupan sosial. Melalui bahasa direfleksikan ideologi suatu masyarakat. Melalui kajian bahasa dapat ditentukan kekuasaan. Teori ideologi memandang bahwa bahasa bukan sekadar struktur yang dapat digunakan untuk komunikasi tetapi dengan pengkajian bahasa  terungkap fenomena sosial suatu masyarakat.

William (1986) mendefinisikan ideologi menjadi tiga kategori. Pertama, ideologi sebagai sebuah sistem kepercayaan yang dimiliki oleh kelompok tertentu atau kelas tertentu. Ideologi tidak merupakan sistem yang unik yang dibentuk oleh pengalaman seseorang, tetapi ditentukan oleh masyarakat di mana dia hidup, posisi sosial mereka, pembagian kerja, dan lain sebagainya.          

Kedua, ideologi merupakan seperangkat  kategori yang dibuat dan digunakan oleh kelompok yang dominan untuk melakukan dominasi kepada kelompok yang tidak dominan. Kelompok yang superordinat mengontrol kelompok subordinat dengan menggunakan seperangkat ideologi sehingga kelompok subordinat memandang hubungan tersebut tampak natural dan diterima sebagai sebuah kebenaran.  Dalam hal ini, kelompok superordinat berhasil memengaruhi pikiran kelompok subordinsai sehingga mereka dapat menerima bentuk dominasi tersebut sebagai sesuatu konsensus, berterima, dan legal. Gramscsi ( 1971) mengistilahkan situasi tersebut dengan hegemoni.

Ketiga, ideologi digunakan untuk menggambarkan produksi makna. Eriyanto (2000)memberikan contoh tentang berita demonstrasi buruh pabrik Gudang Garam. Secara umum  berita tersebut menggambarkan apa yang dilakukan oleh buruh dan bagaimana dampaknya bagi produksi perusahaan, perekonomian masyarakat, dan pemerintah. Yang ditekankan di sini bukan betapa kecilnya gaji  buruh, melainkan sikap buruh yang merugikan  banyak pihak. Ideologi bekerja dalam memproduksi makna dapat dilihat dari bagaimana tindakan masyarakat dan pengusaha digambarkan dan bagaimana posisi kelompok yang terlibat diposisikan. Masyarakat digambarkan sebagai pihak yang anarkis yang melakukan cara-cara kekerasan agar tuntutannya dipenuhi. Sebaliknya, pihak perusahaan/penguasa digambarkan sebagai pihak yang berjasa dalam menyerap tenaga kerja dan membayar pajak.  

Menurut van Dijk  (1997: 29) ideologi merupakan sistem dasar dari kognisi sosial dan yang merefleksikan tujuan dasar, kepentingan, dan nilai-nilai dari sebuah grup sosial. Ideologi secara metafora dapat diandaikan sebagai fundamental kognitif program atau sistem operasi yang mengorganisasikan atau memonitor sikap sosial suatu grup atau anggotanya dan representasi sosial. Van Dijk ( 2008:35) menegaskan ideologi merupakan salah satu bentuk kognisi sosial yang ada pada setiap anggota suatu grup.       

Wacana kesetaraan gender terus dikumandangkan oleh pejuang perempuan. Perjuangan tersebut untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dalam berbagai bidang. Kesetaraan gender akan tercapai apabila pandangan masyarakat yang dalam hal ini ideologi masyarakat berubah secara perlahan. Tidak bisa dipungkiri, masyarakat menganggap perempuan menduduki posisi inferior sedangkan laki-laki menduduki posisi superior. Urusan nafkah keluarga merupakan tanggung jawab laki-laki sedangkan perempuan mengurus kepentingan domestik. Hal ini merupakan fakta yang tidak terbantahkan. Hal ini perlu dicermati karena perbedaan  peran antara laki-laki dan perempuan merupakan peran yang telah dibentuk oleh sebuah ideologi suatu masyarakat.

Kajian tentang gender telah banyak dikaji. Kajian itu dianalisis dari berbagai aspek. Yang menarik untuk dicermati adalah kajian yang dilakukan Coates (1986:12). Coates mengkaji bahwa dalam masyarakat modern, ada perbedaan pola perlakuan antara anak laki-laki dengan perempuan. Coates (1986:12) menyatakan bahwa perempuan sebagai anggota dari suatu masyarakat mempunyai status  sosial  yang berbeda dengan laki-laki. Kaum perempuan merupakan  grup inferior yang posisinya selalu berada di bawah grup superior (laki-laki). 

Selanjutnya Coates menekankan bahwa  perbedaan pendekatan atau cara pandang terhadap laki-laki dengan perempuan diakibatkan oleh dua pendekatan yang ada pada masyarakat. Pertama, pendekatan perbedaan(difference approach) yang memandang bahwa antara  laki-laki dengan perempuan merupakan kelompok yang berbeda. Kedua, pendekatan dominasi (dominant approach).  Pendekatan ini memandang bahwa laki-laki sebagai grup atasan memiliki kekuasaan yang lebih besar daripada perempuan yang merupakan grup bawahan.

Perbedaan peran laki-laki dan perempuan memang sudah dibentuk sejak dini.  Orang tua akan melarang anak laki-lakinya memainkan boneka begitu sebaliknya anak perempuan dilarang bermain pistol-pistolan. Boneka identik dengan peremuan dan pistol identik dengan laki-laki. Wanita diharap berbahasa dengan santun dan lembut. Laki-laki diharapkan sebagai sosok yang tegas dan tidak cengeng.  

Perbedaan peran laki-laki dan perempuan yang sudah dibentuk sejak kecil akan terefleksi dalam kehidupan sosial sehari-hari. Hal itulah yang membentuk ideologi suatu masyarakat. Ideologi merupakan salah satu dari social belief. Sebagai bentuk dari social belief  sudah tentu ideologi tersebut tercermin pada setiap individu anggota suatu grup tertentu. Ideologi secara alamiah membangun representasi sosial setiap anggota suatu komunitas.

Representasi sosial merupakan kesadaran mental dari suatu grup. Bagaimana kepercayaan, pengetahuan, dan prasangka dari anggota  suatu grup sosial memandang suatu permasalahan.  Di samping membangun representasi sosial, ideologi juga membangun attitude (sikap). Dalam hal ini bagaimana sikap suatu komunitas dalam memandang suatu isu, misalnya bagaimana sikap suatu komunitas terhadap aborsi, kekerasan seksual,dan  ketimpangan pembayaran gaji antara perempuan dan laki-laki.

Wacana kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan yang sering diwacanakan bukanlah sesuatu yang mudah karena pencapaian kesetaraan gender sangat dipengaruhi oleh ideologi masyarakat. Perubahan ideologi memerlukan proses  dan dilakukan bukan dengan revolusi tetapi dengan tahapan yang panjang sehingga masyarakat dapat melakukan evolusi terhadap ideologi.  [T]

Tags: GenderHari Kartiniibulaki-lakiPerempuan
Share46TweetSendShareSend
Previous Post

Bagaimana Jika Akhirnya Kita Terbiasa dengan Situasi ini? – [Renungan di Masa Pandemi]

Next Post

Pandemi Corona atau Pandemi Kesenjangan Sosial? – [Catatan dari Ibukota]

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails
Next Post
Pandemi Corona atau Pandemi Kesenjangan Sosial? – [Catatan dari Ibukota]

Pandemi Corona atau Pandemi Kesenjangan Sosial? - [Catatan dari Ibukota]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co