4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pandemi Corona atau Pandemi Kesenjangan Sosial? – [Catatan dari Ibukota]

Edo Hary Purnawan by Edo Hary Purnawan
April 21, 2020
in Esai
Pandemi Corona atau Pandemi Kesenjangan Sosial? – [Catatan dari Ibukota]

Ilustrasi foto: penulis

Hari-hari berlalu hidup ditengah wabah Corona yang kian berpandemi. Aku tak melihat ada kekhawatiran akut di lingkungan ku. Jika setiap pagi aku melihat ramai orang belanja sayur, dan membeli bubur ayam buat sarapan. Ya pagi ini juga tak ada beda. Sama seperti hari hari biasa.

Angka pasien yang terjangkit diberitakan selalu bertambah, angka kematian yang terus disiarkan, bahkan peta sebaran Covid-19 juga semakin jelas memerahkan Jakarta seperti hanya tulisan di poster, yang dibaca lalu diabaikan. Mereka di lingkunganku justru seperti tak pernah ambil pusing.

Mereka tetap hidup seperti biasa, beraktivitas di luar rumah seperti biasa, dan tak di rumah saja. Apa mereka tak tau atau tak mau tau dengan peraturan pemerintah? Mereka sepertinya tidak takut. Seharusnya mereka takut. Setakut istriku, yang takut aku membawa virus ke rumah dan menulari seisi rumah.

Kekhawatiran mereka justru menjelang bantuan yang mulai didengungkan dan disebar oleh pemerintah. Mereka khawatir tak mendapat jatah. Bahkan, belum dibagikan saja sudah banyak yang mengoreksi. Pesimis, dan merasa tak akan mencukupi. Omongan tak puas sering didengar istri, dari ibu-ibu sekitar saat berbelanja sayur di warung.

Ya di kalangan bapak-bapak juga sama, di grup whatsapp RT tiap hari mereka menertawakan isi dompet, dan terus memantau sejauh mana pendistribusian sembako oleh pemerintah.

Mereka justru marah jika mereka tak kebagian atau kemahalan untuk membeli kebutuhan pokok. Apalagi sampai tak kebagian bantuan sembako. Yang sudah dapat pun masih protes, karena tak ada uang tunai di paket yang sudah di dapat. Mereka merasa pemerintah sok tahu, dan menyamaratakan. Satu keluarga yang isinya 10 orang justru beda kebutuhan dengan yang isinya hanya 4 orang. Tak bisa sama-sama menerima sekantong beras. Mereka sangat takut kelaparan dari pada harus terpapar virus yang mematikan seperti Corona.

Tak bisa disalahkan memang, jika mereka tetap berada di luar. Mereka tak bisa berdiam diri di rumah tanpa penghasilan. Saat dirumahkan mereka bingung besok mau makan apa.

Bagiku, analisaku, mungkin analisa banyak orang. Ini sebagai wujud ketidaksiapan kita menghadapi Corona. Mulai dari Pemerintah dan rakyat semua tidak siap. Semua sama-sama menganggap enteng. Wajar kalau masyarakat tak mengindahkan, sama halnya waktu Negara kita di warning negara luar. Pemerintah juga tak mengindahkan, bahkan ada pejabat pemerintah yang menganggap sepele. Salah satunya yang melucu waktu itu positif Covid-19.

Pandemi Corona, membuka tabir Pandemi kesenjangan sosial. Kebijakan yang dibuat tak siap untuk melindungi mereka yang terhimpit kesulitan ekonomi. Aku tak terlalu ambil pusing ekonomi global merosot karena Corona, harga minyak mentah anjlok, atau banyak perusahaan yang akhirnya terpukul imbas Corona. Karena mereka tetap punya banker uang buat bertahan. Ribuan di PHK tak masalah. Ribuan mantan karyawannya kehilangan arah hidup karena tak bekerja tak dirisaukan.

Semua kebijakan dibuat agar mereka tetap bertahan. Mereka yang selalu di level terendah ya harus menerima. Toh urusan kesejahteraan masyarakat ada di tangan pemerintah. Sementara, pemerintah juga tak siap menghadapi gelombang pemerosotan ekonomi yang bertubi-tubi.

Jelas Corona membuka tabir, tabir dimana kesenjangan sosial terlalu curam. Ini harus segera disadari. Karena Corona, tak mengenal kaya dan miskin. Bedanya yang kaya sudah siap dengan tembok tebal finansial, sehingga mereka bisa hibernasi di rumah sambil menunggu musim semi berakhirnya Corona. Si miskin tetap harus berjalan walau tertatih dan sulit mengais rezeki, karena si kaya sudah tak lagi menyisihkan uangnya untuk membantu si miskin. Mereka takut kehabisan uang dan temboknya runtuh hingga terpapar Corona. Lucunya logika yang begitu sebenarnya kesalahan terbesar.

Mereka tak belajar dari film Residen Evil. Saat seisi kota menjadi zombie sudah tak bisa dibedakan mana yang kaya mana yang miskin. Isinya semua mahluk tak berjiwa, yang haus untuk memakan siapa saja yang sehat.

Pemerintah harus sadar. Jangan seperti si kaya yang membangun tembok dengan dalih menstabilkan ekonomi. Ekonomi tak akan stabil jika pandemi kesenjangan sosial ini belum dibenahi. Amankan hidup mereka, lakukan dengan total. Kuras pikiran tenaga untuk membuat mereka tak pusing jika dipaksakan untuk tetap di rumah. Jangan tunggu mereka berteriak-teriak kelaparan baru tergerak melihat stok beras dan keuangan negara.

Jangan anggap pembagian sembako satu-satunya cara yang paling benar. Amankan mereka dengan memagari pengeluaran mereka. Buat mereka tak pusing dengan tagihan, buat mereka bisa menyimpan uangnya untuk bertahan. Kompak untuk tak membangun tembok, tapi bangun pundi pundi pertolongan. Jangan tarik uang mereka, tapi berikan mereka waktu untuk bisa bertahan. Setelah itu jika ada yang ingin diberikan dalam bentuk sembako, itu baru bisa dilakukan.

Semuanya akan di rumah saja, jika beras cukup, susu anak cukup, dan ada lauk pauk yang segar dan meningkatkan imun tubuh. Semua akan bekerja dari rumah, jika memang bisa mendapatkan uang hanya dengan menggunakan jempol di handphone. Semua anak-anak akan belajar dan bermain di rumah saja, jika para orang tua memang sudah berada di rumah.

Jangan membangun tembok dan memaksa semua orang tinggal di rumah. Menegur mereka yang tak nurut, mengusir dan membubarkan mereka yang mengerumuni sumber rejeki. Karena itu sama saja abai dan membunuh diri sendiri. [T]

Tags: covid 19DKI Jakartakesenjangan sosialvirus corona
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Kesetaraan Gender: Evolusi Sebuah Ideologi

Next Post

Kusamba dan Lain-lain

Edo Hary Purnawan

Edo Hary Purnawan

Lahir di Pontianak, sempat merantau ke Jakarta, Surabaya, Bali, dan kini terdampar kembali di Jakarta. Menjadi video jurnalis di sebuah stasiun TV nasional sembari giat belajar menulis

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Kekuasaan

Kusamba dan Lain-lain

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co