13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Jika Akhirnya Kita Terbiasa dengan Situasi ini? – [Renungan di Masa Pandemi]

I Gusti Bagus Weda Sanjaya by I Gusti Bagus Weda Sanjaya
August 16, 2021
in Esai
Bagaimana Jika Akhirnya Kita Terbiasa dengan Situasi ini? – [Renungan di Masa Pandemi]

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Sampai kapan kita terkarantina karena situasi ini? Bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah. Berbagai perasaan muncul dalam sebulan ini. Hari-hari pertama, mungkin banyak yang merasa senang. Murid-murid dan para pekerja menikmati libur terselubung di balik istilah WfH dan SfH, setelah sekian lama terkungkung dalam aktivitas monoton yang terjebak menjadi rutinitas memuakkan.

Seminggu, sebulan, setahun, berlalu, yang sebelumnya menikmati indahnya hari-hari di rumah mulai merasakan bosan. Terlebih, tidak semua bisa menjalankan WfH dan SfH ini dengan ideal. Ada berbagai kendala dalam menjalankannya. Sebut saja koneksi internet yang tidak merata sampai ke pelosok desa, mahalnya paket internet, atau mungkin tidak adanya fasilitas pendukung untuk mengakses internet. Tidak bisa dipungkiri, bekerja dan belajar dari rumah sangat erat kaitannya dengan internet.

Lebih menyakitkannya, ada banyak saudara kita yang akhirnya dirumahkan secara permanen, atau di PHK. Ini merupakan sebuah keputusan pahit, baik bagi yang diPHK, ataupun bagi perusahaan yang akhirnya harus memPHK. Kita tidak bisa menuntut perusahaan mempekerjakan dan menggaji semua karyawannya, sementara perusahaan tidak bisa menghasilkan pemasukan.

Di tengah perkembangan situasi ini, semua pihak tentunya berjuang untuk dapat bertahan. Kantor-kantor dan perusahaan-perusahaan membuat pola kerja dari rumah seefisien mungkin. Sekolah-sekolah mulai memperkuat Learning Management System secara daring untuk dapat memastikan pembelajaran tetap berlangsung. Pihak-pihak lainpun mulai mendukung kegiatan ini. RRI dan TVRI mengeluarkan terobosan dengan membuat siaran belajar bersama dari rumah. Komunitas-komunita membuat acara secara daring untuk membuat orang semakin betah di rumah. Ini merupakan sebuah perkembangan positif yang perlu kita catat.

Lalu bagaimana jika akhirnya kita nyaman dengan situasi ini?

Bagaimana jika akhirnya para orang tua yang sebelumnya merasa tertekan saat mendampingi anak-anak mereka mengerjakan tugas, sekarang mulai mendapati bahwa mereka tak usah mencemaskan masalah jawaban dari tugas anaknya. Mereka mulai fokus pada pembinaan karakternya, mengajari mereka cara belajar, cara mencari informasi dari berbagai sumber. Tentu, internet salah satunya.

Para orang tua ini akan mulai bersyukur, melihat perkembangan anaknya secara penuh. Bagaimana saat dia baru bangun, bagaimana saat dia bermain, saat belajar, saat marah, atau saat mengantuk. Tidak sedikit orang tua yang melewati masa ini karena sebelumnya harus meninggalakan rumah pagi hari untuk bekerja dan baru bisa pulang saat malam hari.

Anak-anak usia sekolah mulai menemukan bahwa sumber belajar tidak hanya buku paket, dan tulisan guru di papan tulis. Mereka mulai terbiasa menemukan informasi di internet dengan browsing pada berbagai situs untuk mendapatkan suatu informasi. Para siswa ini mulai merasa senang, karena bisa memutuskan sendiri waktu belajar mereka. Mungkin pagi hari bisa bersepeda dulu di halaman rumah sampai pukul 9. Setelah mandi, baru bersiap untuk belajar. Oya, nonton TVRI juga salah satunya.

Sore hari mereka masih punya cukup energi untuk menjelajah area rumah. Menemukan tunas pohon silik di pojokan taman, atau sekadar mengetahui bahwa di samping pelinggih tunggun karang ada sebuah benda berwarna biru yang berisi angka-angka penunjuk penggunaan air di rumah. “Eh, ini seperti yang ada di buku paket IPA.” Begitu kira-kira pikiran mereka.

Guru-guru mulai terbiasa membuat perencanaan pembelajaran jarak jauh yang lebih menekankan pembelajaran bermakna – tak sebatas megejar ketuntasan kurikulum. Toh UN sudah dihapuskan. Untuk apa lagi deret nilai itu? Yang penting anak-anak memahami bahwa belajar adalah kepentingan mereka.

Untuk mempertanggungjawabkan tugasnya, guru-guru membuat media pembelajaran online. Membuat chanel belajar di youtube, postingan materi pelajaran di sosmed mereka, dan mengembangkan blog sendiri terkait bidang studi mereka. Tanggung jawabnya tidak hanya pada siswa di sekolahnya, tetapi pada seluruh anak bangsa.

Media-media mulai mendukung proses ini. ada kolom-kolom belajar dari rumah di koran-koran, dengan narasumber guru-guru kreatif. Radio dan televisi berlomba-lomba membuat tayangan edukasi. Kta akan mengucapkan selamat tinggal pada acara kompetisi dangdut berdurasi enam jam. Atau sinetron geng motor remaja yang jatuh cinta saat tabrakan. Media-media elektonik akan berlimpah sumber-sumber pengetahuan.

Ibu-ibu rumah tangga mulai menikmati untuk menjalankan hobi mereka di dapur. Berbagai resep di internet mereka coba dengan antusias, kemudian berhasil, kemudian mereka foto, kemudian pamerkan di sosial media. Teman-temannya memberi jempol, jantung, dan memberi komentar pujian. Ibu-ibu ini menemukan kesujatian mereka sebagai seorang ibu. Penguasa dapur.

Tunggu, untuk urusan dapur, uangnya dari mana?

Ya, tentulah di balik hal-hal baik itu, ada hal yang tidak mengenakkan untuk kita. Terutama bagi yang akhirnya harus diPHK, atau bagi pekerja harian yang tidak bisa bekerja, karena harus di rumah. Dalam hal ini, para pekerja pariwisata salah satu yang paling terdampak.

Syukurnya, manusia adalah makhluk yang adaptif. Banyak teman-teman yang kita lihat mulai beradaptasi dengan situasi ini. Ada yang memulai berjualan dari rumah. Ada yang mulai belajar berkebun. Dan hal-hal lain yang bisa produktif di masa seperti ini. Beberapa pemerintah desa juga mulai merespon dengan menyediakan pekerjaan bagi warganya yang terdampak situasi ini.

Jika semua desa akhirnya mampu melaksanakan program serupa, orang-orang yang sebelumnya merantau akan mulai kembali pulang. Mereka menjalankan hidup di desa. Kemudian tersadar, hidup di desa tidak begitu menyeramkan. Juga tidak begitu memalukan – sebagaimana pandangan mereka saat menjadi orang kota.

Beberapa orang yang kreatif kemudian mencoba menerapkan cara bercocok tanam modern yang mereka temukan di internet. Anggaplah berhasil dan menghasilkan. Beberapa lagi membuat sebuah pola pemasaran online dari desa langsung ke konsumen, sehingga memutus jalur panjang barang dari produsen ke konsumen. Lagi pula, bukankah saat ini ke pasar adalah hal yang tidak mengasikkan? Lebih baik jika ada penjual yang mau membawakan ke rumah. Ya, semprot disinfektan sajalah dulu.

Akhirnya, orang-orang mulai menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang adaptif. Manusia adalah makhluk yang berevolusi. Makhluk yang bisa bertahan dalam segala keadaan. Situasi karena Covid ini bukan hal besar bagi ciptaan Tuhan maha sempurna ini. Kita mampu mengatasinya.

Dan nanti, ketika virus ini sudah pergi. Bagaimana jika kita tetapkan saja seperti ini? [T]

Tags: belajar di rumahcovid 19pandemi
Share132TweetSendShareSend
Previous Post

Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

Next Post

Kesetaraan Gender: Evolusi Sebuah Ideologi

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

Pembelajar yang ditugaskan menemani pembelajar lain untuk belajar. Serupa guru. Lahir di Tabanan, lereng selatan Gunung Batukaru.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Kesetaraan Gender:  Evolusi Sebuah Ideologi

Kesetaraan Gender: Evolusi Sebuah Ideologi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co