2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Jika Akhirnya Kita Terbiasa dengan Situasi ini? – [Renungan di Masa Pandemi]

I Gusti Bagus Weda Sanjaya by I Gusti Bagus Weda Sanjaya
August 16, 2021
in Esai
Bagaimana Jika Akhirnya Kita Terbiasa dengan Situasi ini? – [Renungan di Masa Pandemi]

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Sampai kapan kita terkarantina karena situasi ini? Bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah. Berbagai perasaan muncul dalam sebulan ini. Hari-hari pertama, mungkin banyak yang merasa senang. Murid-murid dan para pekerja menikmati libur terselubung di balik istilah WfH dan SfH, setelah sekian lama terkungkung dalam aktivitas monoton yang terjebak menjadi rutinitas memuakkan.

Seminggu, sebulan, setahun, berlalu, yang sebelumnya menikmati indahnya hari-hari di rumah mulai merasakan bosan. Terlebih, tidak semua bisa menjalankan WfH dan SfH ini dengan ideal. Ada berbagai kendala dalam menjalankannya. Sebut saja koneksi internet yang tidak merata sampai ke pelosok desa, mahalnya paket internet, atau mungkin tidak adanya fasilitas pendukung untuk mengakses internet. Tidak bisa dipungkiri, bekerja dan belajar dari rumah sangat erat kaitannya dengan internet.

Lebih menyakitkannya, ada banyak saudara kita yang akhirnya dirumahkan secara permanen, atau di PHK. Ini merupakan sebuah keputusan pahit, baik bagi yang diPHK, ataupun bagi perusahaan yang akhirnya harus memPHK. Kita tidak bisa menuntut perusahaan mempekerjakan dan menggaji semua karyawannya, sementara perusahaan tidak bisa menghasilkan pemasukan.

Di tengah perkembangan situasi ini, semua pihak tentunya berjuang untuk dapat bertahan. Kantor-kantor dan perusahaan-perusahaan membuat pola kerja dari rumah seefisien mungkin. Sekolah-sekolah mulai memperkuat Learning Management System secara daring untuk dapat memastikan pembelajaran tetap berlangsung. Pihak-pihak lainpun mulai mendukung kegiatan ini. RRI dan TVRI mengeluarkan terobosan dengan membuat siaran belajar bersama dari rumah. Komunitas-komunita membuat acara secara daring untuk membuat orang semakin betah di rumah. Ini merupakan sebuah perkembangan positif yang perlu kita catat.

Lalu bagaimana jika akhirnya kita nyaman dengan situasi ini?

Bagaimana jika akhirnya para orang tua yang sebelumnya merasa tertekan saat mendampingi anak-anak mereka mengerjakan tugas, sekarang mulai mendapati bahwa mereka tak usah mencemaskan masalah jawaban dari tugas anaknya. Mereka mulai fokus pada pembinaan karakternya, mengajari mereka cara belajar, cara mencari informasi dari berbagai sumber. Tentu, internet salah satunya.

Para orang tua ini akan mulai bersyukur, melihat perkembangan anaknya secara penuh. Bagaimana saat dia baru bangun, bagaimana saat dia bermain, saat belajar, saat marah, atau saat mengantuk. Tidak sedikit orang tua yang melewati masa ini karena sebelumnya harus meninggalakan rumah pagi hari untuk bekerja dan baru bisa pulang saat malam hari.

Anak-anak usia sekolah mulai menemukan bahwa sumber belajar tidak hanya buku paket, dan tulisan guru di papan tulis. Mereka mulai terbiasa menemukan informasi di internet dengan browsing pada berbagai situs untuk mendapatkan suatu informasi. Para siswa ini mulai merasa senang, karena bisa memutuskan sendiri waktu belajar mereka. Mungkin pagi hari bisa bersepeda dulu di halaman rumah sampai pukul 9. Setelah mandi, baru bersiap untuk belajar. Oya, nonton TVRI juga salah satunya.

Sore hari mereka masih punya cukup energi untuk menjelajah area rumah. Menemukan tunas pohon silik di pojokan taman, atau sekadar mengetahui bahwa di samping pelinggih tunggun karang ada sebuah benda berwarna biru yang berisi angka-angka penunjuk penggunaan air di rumah. “Eh, ini seperti yang ada di buku paket IPA.” Begitu kira-kira pikiran mereka.

Guru-guru mulai terbiasa membuat perencanaan pembelajaran jarak jauh yang lebih menekankan pembelajaran bermakna – tak sebatas megejar ketuntasan kurikulum. Toh UN sudah dihapuskan. Untuk apa lagi deret nilai itu? Yang penting anak-anak memahami bahwa belajar adalah kepentingan mereka.

Untuk mempertanggungjawabkan tugasnya, guru-guru membuat media pembelajaran online. Membuat chanel belajar di youtube, postingan materi pelajaran di sosmed mereka, dan mengembangkan blog sendiri terkait bidang studi mereka. Tanggung jawabnya tidak hanya pada siswa di sekolahnya, tetapi pada seluruh anak bangsa.

Media-media mulai mendukung proses ini. ada kolom-kolom belajar dari rumah di koran-koran, dengan narasumber guru-guru kreatif. Radio dan televisi berlomba-lomba membuat tayangan edukasi. Kta akan mengucapkan selamat tinggal pada acara kompetisi dangdut berdurasi enam jam. Atau sinetron geng motor remaja yang jatuh cinta saat tabrakan. Media-media elektonik akan berlimpah sumber-sumber pengetahuan.

Ibu-ibu rumah tangga mulai menikmati untuk menjalankan hobi mereka di dapur. Berbagai resep di internet mereka coba dengan antusias, kemudian berhasil, kemudian mereka foto, kemudian pamerkan di sosial media. Teman-temannya memberi jempol, jantung, dan memberi komentar pujian. Ibu-ibu ini menemukan kesujatian mereka sebagai seorang ibu. Penguasa dapur.

Tunggu, untuk urusan dapur, uangnya dari mana?

Ya, tentulah di balik hal-hal baik itu, ada hal yang tidak mengenakkan untuk kita. Terutama bagi yang akhirnya harus diPHK, atau bagi pekerja harian yang tidak bisa bekerja, karena harus di rumah. Dalam hal ini, para pekerja pariwisata salah satu yang paling terdampak.

Syukurnya, manusia adalah makhluk yang adaptif. Banyak teman-teman yang kita lihat mulai beradaptasi dengan situasi ini. Ada yang memulai berjualan dari rumah. Ada yang mulai belajar berkebun. Dan hal-hal lain yang bisa produktif di masa seperti ini. Beberapa pemerintah desa juga mulai merespon dengan menyediakan pekerjaan bagi warganya yang terdampak situasi ini.

Jika semua desa akhirnya mampu melaksanakan program serupa, orang-orang yang sebelumnya merantau akan mulai kembali pulang. Mereka menjalankan hidup di desa. Kemudian tersadar, hidup di desa tidak begitu menyeramkan. Juga tidak begitu memalukan – sebagaimana pandangan mereka saat menjadi orang kota.

Beberapa orang yang kreatif kemudian mencoba menerapkan cara bercocok tanam modern yang mereka temukan di internet. Anggaplah berhasil dan menghasilkan. Beberapa lagi membuat sebuah pola pemasaran online dari desa langsung ke konsumen, sehingga memutus jalur panjang barang dari produsen ke konsumen. Lagi pula, bukankah saat ini ke pasar adalah hal yang tidak mengasikkan? Lebih baik jika ada penjual yang mau membawakan ke rumah. Ya, semprot disinfektan sajalah dulu.

Akhirnya, orang-orang mulai menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang adaptif. Manusia adalah makhluk yang berevolusi. Makhluk yang bisa bertahan dalam segala keadaan. Situasi karena Covid ini bukan hal besar bagi ciptaan Tuhan maha sempurna ini. Kita mampu mengatasinya.

Dan nanti, ketika virus ini sudah pergi. Bagaimana jika kita tetapkan saja seperti ini? [T]

Tags: belajar di rumahcovid 19pandemi
Share132TweetSendShareSend
Previous Post

Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

Next Post

Kesetaraan Gender: Evolusi Sebuah Ideologi

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

Pembelajar yang ditugaskan menemani pembelajar lain untuk belajar. Serupa guru. Lahir di Tabanan, lereng selatan Gunung Batukaru.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kesetaraan Gender:  Evolusi Sebuah Ideologi

Kesetaraan Gender: Evolusi Sebuah Ideologi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co