18 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Prank

tatkala by tatkala
March 16, 2020
in Cerpen
Prank

Cerpen: Luh Riasih

“Aku sangat mencintaimu, apapun akan kulakukan  untukmu!”

 Terdengar manis. Begitulah perasaan Gusti terhadap Dayu. Ketulusan besar Gusti yang mencintai Dayu. Dan meski ia hanya kuli bangunan, Dayu menerima kekurangan itu dari Gusti.

Mereka  sudah lama menjalin kasih, bahkan masing-masing keluarga sudah saling mengenal. Dayu, yang sehari-hari mengajar di salah satu sekolah dasar di kampungnya sangat sulit untuk bertemu Gusti. Tempat tinggal mereka lumayan saling berjauhan.

Malam itu mereka bertemu. Gusti ingin menikahi Dayu. Ia merasa sudah mampu untuk menafkahi dan  menjadi kepala keluarga yang baik. Mendengar hal itu Dayu merasa sangat bahagia, namun di sisi lain dia ingat akan perkataan ayahnya saat di meja makan.

“Jika kau nanti menikah dengan seorang PNS, maka ikutlah bersama suamimu, ayah yakin kamu bahagia bersamanya. Namun jika kamu menikah dengan seorang kuli bangunan, maka tetaplah tinggal di rumah ini, biarkan suamimu yang ikut denganmu. Ayah tidak yakin  kamu bahagia jika ikut dengan kuli bangunan itu!”

 Begitulah ucapan ayah Dayu, malam itu, sekitar tiga bulan lalu,

 Dengan sabarnya Gusti menunggu jawaban Dayu. Dayu berpikir sebentar. Lalu dia  menerima ajakan Gusti.  Syaratnya, tentu saja ikut apa perkataan ayah Dayu. Gusti ikut di rumah Dayu.

Mendengar hal itu, Gusti sangat senang, namun agak terusik,  dia tidak yakin jika keluarga akan mengiklaskan anak lelakinya ikut dengan istri. Melihat adat yang berlaku di desanya, sebagian besar orang-orang  yang sudah menikah pasti istrinya tinggal dengan suaminya.  

Gusti lantas bertemu dengan keluarganya. Ia menceritakan tentang syarat calon istrinya tersebut, dia juga menceritakan perasaan cinta yang sangat dalam terhadap Dayu. Mendengar hal itu keluarganya dengan sangat berat mengiklaskan anak sulungnya harus mau menuruti kata sang kekasih.

Satu bulan setelah mereka menikah menjadi hal yang sangat membahagiakan, namun beberapa hari belakangan ini  Gusti dan Dayu sering mengalami keributan, Gusti yang sekarang tidak lagi bekerja, hanya bisa mengandalkan gaji yang diterima Dayu sebagai pengajar.

“Aku sangat menyesal menjadi istrimu, selama ini,  kamu tidak bisa memberikan apa yang aku mau!”

Itulah ucapan Dayu ketika mereka ribut.

Selama ini Gusti hanya dianggap seperti budak oleh  sang istri, namun Gusti tidak pernah mengeluh. Dia paham akan statusnya yang harus ikut adat istrinya. Pekerjaan yang seharusnya menjadi kewajiban istri, namun juga harus dia yang mengerjakan, dan hal itu sudah menjadi kebiasaannya.

Hingga suatu ketika dia merasa sudah gagal menjadi seorang kepala keluarga yang tidak  bisa membimbing istrinya.

Suatu pagi, si saat matahari  mulai menampakkan diri, Gusti mencoba berbincang dengan sang istri. Setiap kalimat yang diucapkannya selalu berusaha meyakinkan sang istri untuk kembali seperti yang dulu, wanita yang dikenalnya polos, lugu, dan ,menerima segala kekurangannya. Namun, Dayu seperti tidak menggubris perkataan suaminya, dia terlihat biasa-biasa saja, entah apa yang terjadi padanya.

Setiap pagi Gusti selalu mengingatkan tentang kewajiban sang istri, dan selalu istrinya bersikap tidak peduli. Tetapi dia terus berusaha  agar istrinya bisa berubah.

Hingga suatu hari, Gusti diberitahu seorang guru, teman Dayu, kalau Dayu masih berada di sekolah bersama seorang lelaki. Gusti pun penasaran. Ia pergi ke tempat istrinya mengajar, ketika  menengok ke salah satu ruangan, dia melihat sang istri bersama seorang lelaki, entah itu siapa. Kakinya mulai gemetaran, wajahnya mulai memerah, cinta tulus yang selama ini dia berikan terhadap istrinya, merasa sudah dikhianati.

Dengan sigapnya dia melangkahkan kaki menghampiri sang istri, namun ruangan itu tiba-tiba gelap gulita, istri dan pria yang tadi sudah tidak ada, Gusti merasa semakin marah, lalu seketika ada suara wanita sedang bernyanyi terdengar dari ruangan itu, dia langsung mencari sumber bunyi tersebut, hingga tiba di sebuah ruangan yang dihiasi begitu banyak balon dan origami yang meriah,  dia benar-benar kaget, ternyata wanita itu adalah istrinya, dan pria itu juga di sana bermain gendang, ayah bahkan keluarga Dayu juga di sana. Hal  itu  semakin membuat Gusti bingung.

Dayu  menarik tangan sang suami, dia mengajak Gusti untuk menari di tengah ruangan tersebut, yang diiringi dengan irama gendang lelaki tadi, dan disaksikan oleh keluarga Dayu.

 “Aku tidak pernah berubah, aku masih tetap wanita yang kamu kenal dulu, perasaan ini masih tetap sama seperti yang dulu, I LOVE YOU My Husband,” ucap Dayu kepada sang suami,

Itu semakin membuat Gusti kebingungan, entah apa yang terjadi dengan istrinya, yang pasti dia tahu kalau istrinya berubah sikap satu bulan belakangan ini. Namun dia hanya diam,  sambil memandang bola mata istrinya.

“Kamu tidak perlu bingung, selama ini aku hanya ingin prank suami kesayanganku, tidak mungkin suami sebaik dan setulus sepertimu tega aku sia-siakan. Aku hanya ingin tahu batas kesabaranmu jika dihadapkan terhadap suatu masalah yang besar. Dan kamu benar-benar lelaki yang tangguh, aku juga ingin membuktikan kepada ayahku, kalau suami yang baik itu tidak harus dipandang seberapa kekayaan yang dia miliki, na mun juga dari ketulusan dan tanggung jawabnya,” ucap Dayu sambil membalas pandangan manis sang suami.

Mendengar hal itu, Gusti baru bisa mengucapkan sesuatu hal terhadap Dayu

“Hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Prank iya prank. Dia yang hampir buat aku gelap mata. Aku merasa lega, karena kamu tidak pernah berubah.  Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku, jika istri yang selama ini aku cintai harus jatuh kepelukkan orang. So I LOVE YOU Beby”. Itulah ucapan yang dilontarkan Gusti terhadap Dayu.

Sontak mereka berdua tertawa akan kejadian di pernikahannya yang dibilang masih seumur jagung. Ayah Dayu merasa sangat bersalah menilai Gusti, dia merasa malu terhadap menantunya.

“Saya sebagai mertua benar-benar merasa bersalah karena menilai dirimu berdasarkan materi. Ayah minta maaf atas semua ini!” kata sang mertua terhadap Gusti.

“Bagiku itu wajar, karena pasti setiap orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya,” ucap Gusti.

Sang mertua lalu memeluk Gusti sambil menangis terharu akan ucapan Gusti.

 Di hari selanjutnya mereka melakukan aktivitas yang sudah tidak lagi sama dari hari-hari sebelumnya, Gusti dipanggil untuk mengerjakan proyek besar, dan dia dipercayai sebagai kordinatornya. Sedangkan Dayu masih mengajar di sekolah dasar, namun sembari menjalani kewajibannya sebagai istri.

Mereka sudah tidak tinggal dengan keluarga Dayu, Gusti yang mendapat bonus dari atasannya, bisa membeli rumah sendiri.  [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Luh Riasih, Lahir di Panji, Sukasada, Buleleng,  13 Maret 2003. Kini masih menempuh pendidikan di SMAN 1 Sukasada.

Tags: Cerpen
Share9TweetSendShareSend
Previous Post

Sebelas

Next Post

Ibu, Kau Menyesal Mengandungku?

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Ibu, Kau Menyesal Mengandungku?

Ibu, Kau Menyesal Mengandungku?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak
Khas

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”
Panggung

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

by Andre Syahreza
August 18, 2026
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta
Khas

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh
Esai

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
Indonesia yang Muncul di Beranda
Esai

Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

by Angga Wijaya
August 18, 2026
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi
Tualang

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung
Bahasa

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

by I Made Sudiana
August 18, 2026
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika
Panggung

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng
Esai

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan
Panggung

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari
Panggung

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co