2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Prank

tatkala by tatkala
March 16, 2020
in Cerpen
Prank

Cerpen: Luh Riasih

“Aku sangat mencintaimu, apapun akan kulakukan  untukmu!”

 Terdengar manis. Begitulah perasaan Gusti terhadap Dayu. Ketulusan besar Gusti yang mencintai Dayu. Dan meski ia hanya kuli bangunan, Dayu menerima kekurangan itu dari Gusti.

Mereka  sudah lama menjalin kasih, bahkan masing-masing keluarga sudah saling mengenal. Dayu, yang sehari-hari mengajar di salah satu sekolah dasar di kampungnya sangat sulit untuk bertemu Gusti. Tempat tinggal mereka lumayan saling berjauhan.

Malam itu mereka bertemu. Gusti ingin menikahi Dayu. Ia merasa sudah mampu untuk menafkahi dan  menjadi kepala keluarga yang baik. Mendengar hal itu Dayu merasa sangat bahagia, namun di sisi lain dia ingat akan perkataan ayahnya saat di meja makan.

“Jika kau nanti menikah dengan seorang PNS, maka ikutlah bersama suamimu, ayah yakin kamu bahagia bersamanya. Namun jika kamu menikah dengan seorang kuli bangunan, maka tetaplah tinggal di rumah ini, biarkan suamimu yang ikut denganmu. Ayah tidak yakin  kamu bahagia jika ikut dengan kuli bangunan itu!”

 Begitulah ucapan ayah Dayu, malam itu, sekitar tiga bulan lalu,

 Dengan sabarnya Gusti menunggu jawaban Dayu. Dayu berpikir sebentar. Lalu dia  menerima ajakan Gusti.  Syaratnya, tentu saja ikut apa perkataan ayah Dayu. Gusti ikut di rumah Dayu.

Mendengar hal itu, Gusti sangat senang, namun agak terusik,  dia tidak yakin jika keluarga akan mengiklaskan anak lelakinya ikut dengan istri. Melihat adat yang berlaku di desanya, sebagian besar orang-orang  yang sudah menikah pasti istrinya tinggal dengan suaminya.  

Gusti lantas bertemu dengan keluarganya. Ia menceritakan tentang syarat calon istrinya tersebut, dia juga menceritakan perasaan cinta yang sangat dalam terhadap Dayu. Mendengar hal itu keluarganya dengan sangat berat mengiklaskan anak sulungnya harus mau menuruti kata sang kekasih.

Satu bulan setelah mereka menikah menjadi hal yang sangat membahagiakan, namun beberapa hari belakangan ini  Gusti dan Dayu sering mengalami keributan, Gusti yang sekarang tidak lagi bekerja, hanya bisa mengandalkan gaji yang diterima Dayu sebagai pengajar.

“Aku sangat menyesal menjadi istrimu, selama ini,  kamu tidak bisa memberikan apa yang aku mau!”

Itulah ucapan Dayu ketika mereka ribut.

Selama ini Gusti hanya dianggap seperti budak oleh  sang istri, namun Gusti tidak pernah mengeluh. Dia paham akan statusnya yang harus ikut adat istrinya. Pekerjaan yang seharusnya menjadi kewajiban istri, namun juga harus dia yang mengerjakan, dan hal itu sudah menjadi kebiasaannya.

Hingga suatu ketika dia merasa sudah gagal menjadi seorang kepala keluarga yang tidak  bisa membimbing istrinya.

Suatu pagi, si saat matahari  mulai menampakkan diri, Gusti mencoba berbincang dengan sang istri. Setiap kalimat yang diucapkannya selalu berusaha meyakinkan sang istri untuk kembali seperti yang dulu, wanita yang dikenalnya polos, lugu, dan ,menerima segala kekurangannya. Namun, Dayu seperti tidak menggubris perkataan suaminya, dia terlihat biasa-biasa saja, entah apa yang terjadi padanya.

Setiap pagi Gusti selalu mengingatkan tentang kewajiban sang istri, dan selalu istrinya bersikap tidak peduli. Tetapi dia terus berusaha  agar istrinya bisa berubah.

Hingga suatu hari, Gusti diberitahu seorang guru, teman Dayu, kalau Dayu masih berada di sekolah bersama seorang lelaki. Gusti pun penasaran. Ia pergi ke tempat istrinya mengajar, ketika  menengok ke salah satu ruangan, dia melihat sang istri bersama seorang lelaki, entah itu siapa. Kakinya mulai gemetaran, wajahnya mulai memerah, cinta tulus yang selama ini dia berikan terhadap istrinya, merasa sudah dikhianati.

Dengan sigapnya dia melangkahkan kaki menghampiri sang istri, namun ruangan itu tiba-tiba gelap gulita, istri dan pria yang tadi sudah tidak ada, Gusti merasa semakin marah, lalu seketika ada suara wanita sedang bernyanyi terdengar dari ruangan itu, dia langsung mencari sumber bunyi tersebut, hingga tiba di sebuah ruangan yang dihiasi begitu banyak balon dan origami yang meriah,  dia benar-benar kaget, ternyata wanita itu adalah istrinya, dan pria itu juga di sana bermain gendang, ayah bahkan keluarga Dayu juga di sana. Hal  itu  semakin membuat Gusti bingung.

Dayu  menarik tangan sang suami, dia mengajak Gusti untuk menari di tengah ruangan tersebut, yang diiringi dengan irama gendang lelaki tadi, dan disaksikan oleh keluarga Dayu.

 “Aku tidak pernah berubah, aku masih tetap wanita yang kamu kenal dulu, perasaan ini masih tetap sama seperti yang dulu, I LOVE YOU My Husband,” ucap Dayu kepada sang suami,

Itu semakin membuat Gusti kebingungan, entah apa yang terjadi dengan istrinya, yang pasti dia tahu kalau istrinya berubah sikap satu bulan belakangan ini. Namun dia hanya diam,  sambil memandang bola mata istrinya.

“Kamu tidak perlu bingung, selama ini aku hanya ingin prank suami kesayanganku, tidak mungkin suami sebaik dan setulus sepertimu tega aku sia-siakan. Aku hanya ingin tahu batas kesabaranmu jika dihadapkan terhadap suatu masalah yang besar. Dan kamu benar-benar lelaki yang tangguh, aku juga ingin membuktikan kepada ayahku, kalau suami yang baik itu tidak harus dipandang seberapa kekayaan yang dia miliki, na mun juga dari ketulusan dan tanggung jawabnya,” ucap Dayu sambil membalas pandangan manis sang suami.

Mendengar hal itu, Gusti baru bisa mengucapkan sesuatu hal terhadap Dayu

“Hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Prank iya prank. Dia yang hampir buat aku gelap mata. Aku merasa lega, karena kamu tidak pernah berubah.  Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku, jika istri yang selama ini aku cintai harus jatuh kepelukkan orang. So I LOVE YOU Beby”. Itulah ucapan yang dilontarkan Gusti terhadap Dayu.

Sontak mereka berdua tertawa akan kejadian di pernikahannya yang dibilang masih seumur jagung. Ayah Dayu merasa sangat bersalah menilai Gusti, dia merasa malu terhadap menantunya.

“Saya sebagai mertua benar-benar merasa bersalah karena menilai dirimu berdasarkan materi. Ayah minta maaf atas semua ini!” kata sang mertua terhadap Gusti.

“Bagiku itu wajar, karena pasti setiap orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya,” ucap Gusti.

Sang mertua lalu memeluk Gusti sambil menangis terharu akan ucapan Gusti.

 Di hari selanjutnya mereka melakukan aktivitas yang sudah tidak lagi sama dari hari-hari sebelumnya, Gusti dipanggil untuk mengerjakan proyek besar, dan dia dipercayai sebagai kordinatornya. Sedangkan Dayu masih mengajar di sekolah dasar, namun sembari menjalani kewajibannya sebagai istri.

Mereka sudah tidak tinggal dengan keluarga Dayu, Gusti yang mendapat bonus dari atasannya, bisa membeli rumah sendiri.  [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Luh Riasih, Lahir di Panji, Sukasada, Buleleng,  13 Maret 2003. Kini masih menempuh pendidikan di SMAN 1 Sukasada.

Tags: Cerpen
Share9TweetSendShareSend
Previous Post

Sebelas

Next Post

Ibu, Kau Menyesal Mengandungku?

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Ibu, Kau Menyesal Mengandungku?

Ibu, Kau Menyesal Mengandungku?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co