14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sebelas

Ari Dwijayanthi by Ari Dwijayanthi
March 16, 2020
in Cerpen
Sebelas

Cerpen: Ni Made Ari Dwijayanthi

Akhirnya kau memilih tubuhku sebagai jalan kematianmu. Bersama kidung-kidung warna dan bunga yang ditempatkan musim di seluruh penjuru mata angin. Aji Kembang, kau sering menyebutnya, yang konon kau percaya membungkus jiwamu untuk terbang melayang-layang setelah kau meninggalkan tubuhmu.

Ah, lalu bagaimana aku yang sendiri, menatap gundukan di depanku. Gundukkanmu, gundukkanku yang kautanam sebelum hari ini.

***

Aku niatkan, maka kau ada di sini. Sekarang. Aku inginkan, maka kadang di sini. Sekarang. Apa kau tahu, namamu sudah lama aku tuliskan di buku catatan: I Made Suara Wikrama.  

“Aku mencintaimu Riris, tergila-gila padamu, sisipkan aku dalam rambutmu yang bergelung itu, siapakah kau sebenarnya, Ris? Siapa? Aku nyaris tak bisa berkutik? Aku hanya ingin denganmu, Ris.”

Aku selalu bayangkan, Suara mengucapkan kalimat-kalimat itu. Ah, manis sekali rasanya, sering juga bayangan Suara menyelipkan bait-bait puisi dalam setiap pesannya. Kapan itu akan terjadi? Kapan-kapan saja. Mana mungkin seorang Suara…. Sudahlah, sudah. Simpan sajalah.

***

“Apa yang telah kita lakukan, Ris?”

“Tidak ada.”

“Kau bilang tak ada.”

“Ya memang tak ada.”

“Kau gila, Ris.”

“Kau yang gila, Suara.”

“Bukan, aku.”

“Kau yang memulai.”

“Kita yang akan mengakhiri.”

“Tidak.”

“Ya.”

“Kita akhiri.”

“Caranya.”

“Pulang, pulang.”

“Pulang ke mana?”

“Ke hatimu.”

“Ke hatiku?”

“Tak bisa.”

“Belum bisa, bukan tak bisa.”

“Ajari aku.”

“Kita sama sama bisa.”

“Ilmu kita sama, Aji Kembang.”

 “Tapi perasaan kita berbeda.”

“Mengurai warna dan arah tak akan menyelamatkan kita.”

***

Susah kalau sudah berurusan dengan perasaan, tak ada yang akan terpenuhi jika ukurannya adalah perasaan. Timbangannya bernama hati, batu-batu timbangannya bernama jantung, paru, pikiran, sesekali usus. Ya, memang jadinya susah menakar. Ini perasaan bagaimana, maksudnya apa, tujuan untuk siapa, mengapa perasaan ini ada? Ujung-ujungnya perasaanlah yang salah, waktulah yang salah, hiduplah yang salah.

Aku menghela nafas, sedalam-dalamnya menghirup aroma cengkeh yang direbus bersama kunyit, jahe, sereh, kayu manis, dan jeruk nipis. Mulai bosan pada semua hal yang dilakukan. Aku mengetik sampah, aku memakan sampah, aku bahkan bekerja untuk menutupi sampah-sampah busuk. Tapi di antara hiruk pikuk dunia persampahan itu, ada perasaan bahagia sebesar setengah biji kacang bekas gigitan tikus itu tumbuh. Perasaan itu tidak lain tidak bukan: menikahi I Made Suara Wikrama.

Suatu hal yang mustahil. Tapi perasaan itu selalu muncul, entah apa yang mengawalinya. Mungkin niat, mungkin keinginan berlebih, atau kemungkinan-kemungkinan lainnya yang sering dikatakan orang sebagai perkara cinta. Cinta? Cinta-cintaan di umur tiga puluhan. Orang-orang akan mengejek, cinta itu saat kau bahagia bersamanya, cinta itu saat kau ingin selalu bersamanya, cinta itu selalu membawa tawa, cinta itu ini dan itu, mereka akan menertawakan bahwa cinta itu tak ada di umur tiga puluhan. Mereka akan mendebat, bahwa cinta di umur tiga puluhan itu adalah komitmen. Lalu dengan bangga menyebutkan: aku hanya membuka paha untuk lelaki yang berkomitmen, bukan pada lelaki yang mengaku mencintai tapi tanpa komitmen.

“Kau akan ditertawakan, Ris.”

“Biarkan saja, sudah tak penting bagiku.”

“Apa kau tak malu?”

“Apa benda asingmu malu?”

“Kau mulai lagi.”

“Aku memang selalu memulai.”

“Hahaha, niat.”

“Niat.”

Aku tetap meneguk ramuan cengkeh itu. Setiap pagi dan setiap menjelang tidur. Selalu begitu. Ramuan itu melebihi harga satu hektar tanah di tepi pantai di kampung. Nenek tak pernah salah, dia mewariskan isi pikirannya bukan mewariskan hasil tangannya. Sampai detik ini aku masih terkagum-kagum, ini baru satu di antara ratusan resep yang ditulis di atas daun lontar olehnya. Hanya satu, satu resep, aku berhasil bawa pulang bahkan melebihi harga sehektar tanah itu. Jika saja nenek masih hidup, aku akan menyembahnya melebihi menyembah dewa-dewi yang diajarkan oleh kitab agama omong kosong itu.

Jariku masih menggoyang-goyangkan cangkir keramik dengan motif bunga-bunga. Kuniatkan satu hal di sana: datanglah Suara datanglah. Ke marilah Suara. Ke marilah. Ke hatiku. Ke hatiku.

Berulang kali sampai tersenyum bahagia, melepaskan kepekatan di ladang ilalang gelap, menikmatinya sampai gerimis turun. Saat gerimis turun, entah dari mana tubuh ini merasa ringan, hati benar-benar seimbang, timbangan-timbangan tak lagi berat sebelah. Lega. Sangat lega. Selega-leganya. Telah berhasil mendatangkan lelaki itu.

Aku meniatkan dengan berdarah-darah. Benarkah hanya niat? Niat macam apa ini sampai harus ratusan kali memanggilnya. Niat membangun komitmen? Niat benar-benar cinta? Atau niat hanya untuk bercinta? Sebab rasa haus datang setiap hari, semakin haus lalu semakin ingin meminum air dari tubuh Suara.

Apakah perasaan ini semacam keterikatan yang muncul dari kumpulan simpul-simpul niat tiap hari? Mulai terikat pada niat sendiri?

Ah, bukan pertama aku lakukan ini, aku bertahan hidup karena niatku. Bertahun-tahun setelah aku setia menuliskan nama kalian, namanya, dan namamu. Sungguh ingin berhenti pada namamu, tak lagi ingin pergi, tak lagi ingin singgah tapi tak sungguhan. Kali ini ingin sungguh-sungguh berteduh di rumah yang kau tawarkan dalam imajinasi-imajinasiku.

***

“Ris, kau tinggalkan saja dia.”

“Tak bisa.”

“Aku mau denganmu.”

“Tak bisa.”

“Bukankah kau menginginkannya.”

“Tidak.”

“Tidak?”

“Aku mau kalian.”

“Enak di kamu tak enak di kami.”

“Kupastikan kau yang pertama.”

“Bukankah namaku saja?”

“Tidak.”

“Namanya juga.”

“Ada berapa, Ris?”

“Sebelas.”

***

Sebelum hari ini datang, kabar pernikahanmu sampai di telingaku. Udara terasa mampat di dada. Dalam sisa-sisa niatku, kau dihadirkan dalam ramuan cengkehku. Seperti biasa aku menggoyang-goyangkan cangkir, menyebut namamu berulang kali, sampai tersenyum, sampai kepekatan mengurai di ladang ilalang hitam. Setelahnya, ku tunggu kabarmu: mati dalam tidur lelapmu.  [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Tags: Cerpen
Share58TweetSendShareSend
Previous Post

Bali Gerubug, Jayaprana Yatim-Piatu

Next Post

Prank

Ari Dwijayanthi

Ari Dwijayanthi

Bernama lengkap Ni Made Ari Dwijayanthi, lahir di Tabanan, 1988. Lulusan S2 Jawa Kuno, Unud, ini banyak menulis puisi dan prosa dalam bahasa Bali, antara lain dimuat di Bali Post dan Pos Bali. Bukunya yang berjudul Blanjong (prosa liris Bali modern) mengantarkannya meraih penghargaan Widya Pataka dari Gubernur Bali tahun 2014

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Prank

Prank

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co