23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sebelas

Ari Dwijayanthi by Ari Dwijayanthi
March 16, 2020
in Cerpen
Sebelas

Cerpen: Ni Made Ari Dwijayanthi

Akhirnya kau memilih tubuhku sebagai jalan kematianmu. Bersama kidung-kidung warna dan bunga yang ditempatkan musim di seluruh penjuru mata angin. Aji Kembang, kau sering menyebutnya, yang konon kau percaya membungkus jiwamu untuk terbang melayang-layang setelah kau meninggalkan tubuhmu.

Ah, lalu bagaimana aku yang sendiri, menatap gundukan di depanku. Gundukkanmu, gundukkanku yang kautanam sebelum hari ini.

***

Aku niatkan, maka kau ada di sini. Sekarang. Aku inginkan, maka kadang di sini. Sekarang. Apa kau tahu, namamu sudah lama aku tuliskan di buku catatan: I Made Suara Wikrama.  

“Aku mencintaimu Riris, tergila-gila padamu, sisipkan aku dalam rambutmu yang bergelung itu, siapakah kau sebenarnya, Ris? Siapa? Aku nyaris tak bisa berkutik? Aku hanya ingin denganmu, Ris.”

Aku selalu bayangkan, Suara mengucapkan kalimat-kalimat itu. Ah, manis sekali rasanya, sering juga bayangan Suara menyelipkan bait-bait puisi dalam setiap pesannya. Kapan itu akan terjadi? Kapan-kapan saja. Mana mungkin seorang Suara…. Sudahlah, sudah. Simpan sajalah.

***

“Apa yang telah kita lakukan, Ris?”

“Tidak ada.”

“Kau bilang tak ada.”

“Ya memang tak ada.”

“Kau gila, Ris.”

“Kau yang gila, Suara.”

“Bukan, aku.”

“Kau yang memulai.”

“Kita yang akan mengakhiri.”

“Tidak.”

“Ya.”

“Kita akhiri.”

“Caranya.”

“Pulang, pulang.”

“Pulang ke mana?”

“Ke hatimu.”

“Ke hatiku?”

“Tak bisa.”

“Belum bisa, bukan tak bisa.”

“Ajari aku.”

“Kita sama sama bisa.”

“Ilmu kita sama, Aji Kembang.”

 “Tapi perasaan kita berbeda.”

“Mengurai warna dan arah tak akan menyelamatkan kita.”

***

Susah kalau sudah berurusan dengan perasaan, tak ada yang akan terpenuhi jika ukurannya adalah perasaan. Timbangannya bernama hati, batu-batu timbangannya bernama jantung, paru, pikiran, sesekali usus. Ya, memang jadinya susah menakar. Ini perasaan bagaimana, maksudnya apa, tujuan untuk siapa, mengapa perasaan ini ada? Ujung-ujungnya perasaanlah yang salah, waktulah yang salah, hiduplah yang salah.

Aku menghela nafas, sedalam-dalamnya menghirup aroma cengkeh yang direbus bersama kunyit, jahe, sereh, kayu manis, dan jeruk nipis. Mulai bosan pada semua hal yang dilakukan. Aku mengetik sampah, aku memakan sampah, aku bahkan bekerja untuk menutupi sampah-sampah busuk. Tapi di antara hiruk pikuk dunia persampahan itu, ada perasaan bahagia sebesar setengah biji kacang bekas gigitan tikus itu tumbuh. Perasaan itu tidak lain tidak bukan: menikahi I Made Suara Wikrama.

Suatu hal yang mustahil. Tapi perasaan itu selalu muncul, entah apa yang mengawalinya. Mungkin niat, mungkin keinginan berlebih, atau kemungkinan-kemungkinan lainnya yang sering dikatakan orang sebagai perkara cinta. Cinta? Cinta-cintaan di umur tiga puluhan. Orang-orang akan mengejek, cinta itu saat kau bahagia bersamanya, cinta itu saat kau ingin selalu bersamanya, cinta itu selalu membawa tawa, cinta itu ini dan itu, mereka akan menertawakan bahwa cinta itu tak ada di umur tiga puluhan. Mereka akan mendebat, bahwa cinta di umur tiga puluhan itu adalah komitmen. Lalu dengan bangga menyebutkan: aku hanya membuka paha untuk lelaki yang berkomitmen, bukan pada lelaki yang mengaku mencintai tapi tanpa komitmen.

“Kau akan ditertawakan, Ris.”

“Biarkan saja, sudah tak penting bagiku.”

“Apa kau tak malu?”

“Apa benda asingmu malu?”

“Kau mulai lagi.”

“Aku memang selalu memulai.”

“Hahaha, niat.”

“Niat.”

Aku tetap meneguk ramuan cengkeh itu. Setiap pagi dan setiap menjelang tidur. Selalu begitu. Ramuan itu melebihi harga satu hektar tanah di tepi pantai di kampung. Nenek tak pernah salah, dia mewariskan isi pikirannya bukan mewariskan hasil tangannya. Sampai detik ini aku masih terkagum-kagum, ini baru satu di antara ratusan resep yang ditulis di atas daun lontar olehnya. Hanya satu, satu resep, aku berhasil bawa pulang bahkan melebihi harga sehektar tanah itu. Jika saja nenek masih hidup, aku akan menyembahnya melebihi menyembah dewa-dewi yang diajarkan oleh kitab agama omong kosong itu.

Jariku masih menggoyang-goyangkan cangkir keramik dengan motif bunga-bunga. Kuniatkan satu hal di sana: datanglah Suara datanglah. Ke marilah Suara. Ke marilah. Ke hatiku. Ke hatiku.

Berulang kali sampai tersenyum bahagia, melepaskan kepekatan di ladang ilalang gelap, menikmatinya sampai gerimis turun. Saat gerimis turun, entah dari mana tubuh ini merasa ringan, hati benar-benar seimbang, timbangan-timbangan tak lagi berat sebelah. Lega. Sangat lega. Selega-leganya. Telah berhasil mendatangkan lelaki itu.

Aku meniatkan dengan berdarah-darah. Benarkah hanya niat? Niat macam apa ini sampai harus ratusan kali memanggilnya. Niat membangun komitmen? Niat benar-benar cinta? Atau niat hanya untuk bercinta? Sebab rasa haus datang setiap hari, semakin haus lalu semakin ingin meminum air dari tubuh Suara.

Apakah perasaan ini semacam keterikatan yang muncul dari kumpulan simpul-simpul niat tiap hari? Mulai terikat pada niat sendiri?

Ah, bukan pertama aku lakukan ini, aku bertahan hidup karena niatku. Bertahun-tahun setelah aku setia menuliskan nama kalian, namanya, dan namamu. Sungguh ingin berhenti pada namamu, tak lagi ingin pergi, tak lagi ingin singgah tapi tak sungguhan. Kali ini ingin sungguh-sungguh berteduh di rumah yang kau tawarkan dalam imajinasi-imajinasiku.

***

“Ris, kau tinggalkan saja dia.”

“Tak bisa.”

“Aku mau denganmu.”

“Tak bisa.”

“Bukankah kau menginginkannya.”

“Tidak.”

“Tidak?”

“Aku mau kalian.”

“Enak di kamu tak enak di kami.”

“Kupastikan kau yang pertama.”

“Bukankah namaku saja?”

“Tidak.”

“Namanya juga.”

“Ada berapa, Ris?”

“Sebelas.”

***

Sebelum hari ini datang, kabar pernikahanmu sampai di telingaku. Udara terasa mampat di dada. Dalam sisa-sisa niatku, kau dihadirkan dalam ramuan cengkehku. Seperti biasa aku menggoyang-goyangkan cangkir, menyebut namamu berulang kali, sampai tersenyum, sampai kepekatan mengurai di ladang ilalang hitam. Setelahnya, ku tunggu kabarmu: mati dalam tidur lelapmu.  [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Tags: Cerpen
Share58TweetSendShareSend
Previous Post

Bali Gerubug, Jayaprana Yatim-Piatu

Next Post

Prank

Ari Dwijayanthi

Ari Dwijayanthi

Bernama lengkap Ni Made Ari Dwijayanthi, lahir di Tabanan, 1988. Lulusan S2 Jawa Kuno, Unud, ini banyak menulis puisi dan prosa dalam bahasa Bali, antara lain dimuat di Bali Post dan Pos Bali. Bukunya yang berjudul Blanjong (prosa liris Bali modern) mengantarkannya meraih penghargaan Widya Pataka dari Gubernur Bali tahun 2014

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Prank

Prank

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co