2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibu, Kau Menyesal Mengandungku?

Satria Aditya by Satria Aditya
March 16, 2020
in Cerpen
Ibu, Kau Menyesal Mengandungku?

Cerpen: Satria Aditya

Hari sudah nampak gelap, lampu-lampu di depan rumah sudah dimatikan. Beberapa anjing nampak berkeliaran seperti saling menyapa anjing-anjing lainnya. Di sudut gang nampak seorang wanita muda yang tertunduk lesu dengan raut wajah pucat dan air mata yang terus mengalir, ia berdiri di bawah lampu jalan yang remang. Ia masih menangis, kakinya kotor entah dari mana. Ia terus saja menangis sampai kakinya gemetar dan tersungkur di bawah tiang lampu itu.

Beberapa waktu sebelumnya, nampak seorang lelaki menemuinya di depan rumah kontrakan. Entah apa yang mereka bicarakan, namun nadanya sangat tinggi sampai si wanita itu menangis sejadi-jadinya. Lalu, mereka pergi ke suatu tempat.

Di sudut kota, sangat dekat dengan laut. Mereka berhenti di suatu tempat yang sangat kotor, bau dan belatung di mana-mana. Plastik, dedaunan sampai bangkai ada di sana. Wanita itu lalu membuang sebuah kantong plastik dengan darah yang memenuhi kantong plastik itu. Baunya sangat amis. Dengan raut muka yang sangat pucat dan air mata yang terus membasahi pipi wanita itu sejak tadi.

Pria itu langsung mengajaknya pergi dari tempat itu dengan kecepatan motornya yang sangat kencang. Lalu, wanita itu ditinggalkan di depan gang yang sudah sunyi tak ada orang atau kendaraan yang lalu lalang. Hanya ada suara lolongan anjing dari kejauhan. Wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, sedangkan pria itu pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata.

Wanita itu masih saja duduk tersungkur di bawah tiang lampu. Dengan tubuh yang sudah tampak lemas wanita itu berusaha berdiri namun tetap saja tersungkur kembali. Ia mencoba kembali, sampai akhirnya ia bangun dan berjalan ke rumahnya dengan tubuh yang masih gemetar. Anjing-anjing di sana menggonggong wanita itu, tetapi ia tidak menghiraukan sama sekali. Sampai di rumahnya, wanita itu kembali tersungkur di atas kasurnya dan kembali menangis sejadi-jadinya. Tiba- tiba saja dengan tidak sadar wanita itu tertidur pulas setelah tangisnya yang tak kunjung selesai.

Di tengah pulasnya, seseorang mengetuk pintu dari luar.

“Siapa?” tanya wanita itu sedikit ragu. Ia berjalan pelan menuju pintu.

Pintu masih terketuk, tapi tidak ada siapapun yang menjawab pertanyaan wanita itu. Ia lantas gemetar, ada sekelebat bayangan dipikirannya; antara itu maling atau pria yang mengajaknya ke tempat dimana bangkai, belatung dan sampah-sampah busuk bercampur menjadi satu. Wanita itu kian takut, tangannya gemetar untuk membukakan pintu.

“Si.. si.. siapa?” Wanita itu terbata-bata.

Dengan tangan gemetar wanita itu memberanikan diri membukakan pintu. Seorang anak dengan tubuh yang kotor dan penuh lumpur dengan muka yang sangat pucat berdiri di depan pintu. Darah melekat di sekujur tubuhnya dan tali pusar yang masih melekat.

“Kau siapa?” tanya wanita itu dengan tubuh gemetar.

“I…buu… ibuu..”  anak itu menjawab lirih.

Kakinya lemas seperti mati rasa, ia tak bisa melakukan apapun, wanita itu  jatuh tersungkur ke lantai. Menangis, hanya itu yang bisa dilakukannya.

“Kenapa, Bu? Kenapa kau membuangku di tempat itu?”

Wanita itu semakin ketakutan, ia terus menangis dan tubuhnya membeku. Ingin sekali wanita itu berkata, tapi tak sepatah kata pun bisa terucap dari bibirnya. Mulutnya seperti dibekap oleh tangan yang sangat besar.

“Ibu…, aku anakmu, yang kau buang di tempat pembuang sampah yang besar di sudut kota itu, Bu, tepat setelah kau meminta maaf padaku. Bu, kenapa kau membuangku? Apa kau tidak menyayangiku? Kau menyesal telah mengandungku, Bu?” lanjut anak itu sembari mendekatinya.

Rasa bersalah seperti menampar di kiri kanan wajahnya. Ia semakin ketakutan melihat anak itu mendekatinya. Tubuhnya tak bisa bergerak sama sekali—tangisnya semakin menjadi-jadi. Sampai anak itu memegang tangannya dan duduk di depannya.

“Bu, sayangi aku. Aku belum sempat memeluk dan menyayangi kau, Bu.” Katanya sambil melihat wajah wanita itu.

“Maafkan aku,” jawabnya lirih sembari menundukkan kepalanya.

Tangan wanita itu masih gemetar merasakan begitu dinginnya tangan anak itu. Ia menghela nafas lalu mencoba berbicara dengan anak itu.

Wanita itu menatap wajah anak itu. Ia menangis dan memberanikan diri mengusap wajah anak itu. Anak itu tersenyum, seperti menunjukkan giginya yang hanya satu dan matanya yang sipit karena tersenyum.

“Maafkan aku. Aku menyayangimu. Aku tidak bermaksud membuangmu di tempat busuk itu. Anjing busuk yang tidak mau bertanggung jawab itu yang tak ingin kau dilahirkan!” Sambil menangis ia memeluk tubuh anak itu.

“Aku tahu, Bu. Aku tahu semuanya. Aku bisa melihatmu, meskipun masih menjadi gumpalan darah di rahimmu.”

“Kau tau betapa sakitnya aku harus membuangmu? Aku tahu perbuatanku itu salah. Dia mengajakku ke rumahnya. Aku terhasut rayuan, kedua mata dan telingaku seakan ditutup oleh cinta, oleh sesuatu yang begitu indah di bayanganku. Hingga aku tak bisa menolaknya.”

“Bu, jangan menyesal.  Itu adalah perbuatanmu. Aku tahu kau menyayangiku, sampai tubuhmu memar untuk mempertahankanku. Bu, aku akan selalu menyayangimu. Walaupun kau terpaksa membuangku di tempat yang tak semestinya.”

Wanita itu masih memeluk erat tubuh anak itu. Ia masih menangis dan penyesalan yang tak akan pernah ia lupakan dalam hidupnya adalah telah membuang orok yang belum sempat merasakan kebahagiaan pelukan ibu.

“Anakku, maafkan ibumu ini. Sampai kapanpun aku tak akan pernah berhenti menyesal. Kau anak laki-laki yang sangat manis. Entah kau tidak dilahirkan atau dilahirkanpun aku akan tetap menyayangimu.”

“Bu, aku akan datang setiap hari. Memelukmu, tidur di sampingmu dan menjagamu, Bu.”

“Maafkan aku, maafkan aku!” Ia mengulang kata itu beberapa kali sembari menangis semakin keras.

Ketika wanita itu membuka matanya, anak itu telah menghilang dari pelukannya. Wanita itu kebingungan, matanya bergerak ke berbagai arah memastikan ke mana anak itu. Wanita itu menangis terus menerus seperti air matanya tak akan pernah habis-habis. Tiba-tiba wanita itu terbangun, menangis setiap memimpikan hal yang sama. Penyesalan seperti jalan panjang yang tak pernah ada ujung pangkal yang selalu menghampirinya, di setiap hari yang ia lewati.

Sesekali ia seperti menimang sambil tertawa lalu menangis kembali lalu seperti menyusui lalu menangis kembali lalu bernyanyi-nyanyi lalu menangis kembali lalu, begitu seterusnya. [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Tags: Cerpen
Share52TweetSendShareSend
Previous Post

Prank

Next Post

Penguatan Bahasa Nasional Indonesia di Era Disrupsi: Dominasi, Infiltrasi dan Dialogisasi

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Penguatan Bahasa Nasional Indonesia di Era Disrupsi: Dominasi, Infiltrasi dan Dialogisasi

Penguatan Bahasa Nasional Indonesia di Era Disrupsi: Dominasi, Infiltrasi dan Dialogisasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co