22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penguatan Bahasa Nasional Indonesia di Era Disrupsi: Dominasi, Infiltrasi dan Dialogisasi

Putu Sulistyawati by Putu Sulistyawati
March 16, 2020
in Esai
Penguatan Bahasa Nasional Indonesia di Era Disrupsi: Dominasi, Infiltrasi dan Dialogisasi

Ilutrasi dari Google

Menjadi salah satu mahasiswa yang mengambil program studi pendidikan sejarah merupakan sebuah labelitas yang cukup berat bagi saya. Karna untuk berada dalam prodi ini mengharuskan saya mempunyai bekal yang cukup alias literasi yang memumpuni. Keterampilan membaca adalah kredo utama yang harus dimiliki jika ingin bertahan di prodi yang jumlah mahasiswanya mendekati punah ini. Sedangkan saya justru lebih senang mendengarkan. Otak lebih cepat menangkap informasi yang disampaikan melalui pendengaran, alih-alih penglihatan. Dan  membaca buku merupakan aktivitas pilihan terakhir yang saya pilih ketika saya tidak memiliki aktivitas apapun.

Tetapi jangan seudzon dulu. Meski jarang menyentuh buku, saya pernah mencatatkan sejarah sebagai Putri Undiksha 2018. Di samping itu prestasi akademik tidak terlalu buruk dengan menjuari beberapa lomba akademik dan seni. Saya juga aktif di organisasi kemahasiswaan seperti HMJ.        

Tulisan yang hadir di hadapan pembaca Tatkala berikut adalah respon akademik terhadap tantangan Pembimbing Kemahasiswaan (PK) di Lingkungan Jurusan Sejarah Sosiologi dan Perpustakaan, Bapak I Putu Hendra Mas Martayana yang mendaulat saya sebagai salah satu perwakilan Jurusan SSP untuk mengikuti ajang Duta Bahasa Provinsi Bali tahun 2020. Tulisan ini disadur dari diskusi singkat kami beberapa waktu lalu sebagai prasayarat lomba. Dan saya anggap ini adalah tantangan yang harus ditaklukkan.     

Melalui diskusi yang cukup alot dengan PK SSP, saya disarankan mengangkat problematika tentang posisi bahasa Indonesia dalam konteks lokal dan global. Saya juga disarankan untuk menulis secara kritis, tidak dikungkung oleh normativits pendidikan. Jangan sampai label anak pendidikan mengurung imajinasi kita dalam menulis. Karena PK SSP pengagum Rocky Gerung, Ia hampir selalu menyitir pendapat filsuf kondang itu bahkan sebagai bahan analogi agar saya mampu mendialektika pemikiran-pemikiran kritis dalam satu kesatuan. Awalnya berat dan bikin kantuk, tetapi setelah dicoba, sepertinya sekarang saya mulai kecanduan.

Meski gagal melaju ke babak 10 besar dari ratusan peserta, saya tidak kecewa sedikitpun. Setidaknya saya telah berhasil menjawab keraguan PK SSP terhadap kualitas membaca dan literasi saya selama ini. Perlahan tetapi pasti, otak ini sudah saya biasakan membaca, dimulai dengan bacaan-bacaan novel bernuansa sejarah semacam Tetralogi Pulau Buru dan buku buku lainnya. Saya agak terkejut mendapati hasil dari membaca ternyata memberikan asupan kosakata yang begitu kaya. Penggunaan kata tidak lagi monoton dan tampak bervariasi. Ada banyak sekali pilihan diksi yang bisa saya pilah dan pilih ketika berbicara di depan banyak orang. Namun terpenting, rutinitas membaca telah menghasilkan kegelisahan. Hal ini sempat saya sampaikan kepada PK. Menurutnya itu wajar, dan justru kegelisahan itu lah yang menjaga kita agar tidak dungu. 

Bagi PK SSP, kegagalan masuk ke tahap berikutnya bukan perkara besar. Sebab, yang terpenting baginya bahwa kami telah mampu menghadirkan sebuah gagasan orisinil melampaui normativitas. Ada raut kebahagiaan di wajahnya meski menurut saya, berita kegagalan ini nampak sebagai aib yang memalukan jurusan. Atas desakan personalnya lah saya memberanikan diri mengirimkan tulisan ini ke redaksi Tatkla. Saya harap bisa memberikan pembelajaran bagi generasi muda tentang posisi ambivalensi dari bahasa Indonesia ketika bertautan dengan glokalisasi.

Dalam memahami posisi bahasa Indonesia sebagai tema besar dari esai yang diminta oleh pihak Panitia Duta Bahasa, saya mencoba menautkannnya dengan lokalitas yang diwakili oleh bahasa daerah yang kontraproduktif dengan konteks global dengan bahasa Inggris sebagai bahasa dunia. PK SSP berpesan bahwa ide ini akan menghasilkan tulisan yang mampu memotret hubungan yang problematis di antara ketiganya. Pada akhirnya, isu-isu konstuktivisme yang diminta oleh panitia tidak akan terpenuhi. Sebab tulisan akan didominasi oleh keraguan, ketidakpercayaan, penyimpangan sebagai hasil dari prosesualisasi sosio historis yang coba dipakai sebagai matra. Selamat membaca.

Dewasa ini, bahasa Indonesia sedang digaungkan sebagai salah satu semangat persatuan. Hal ini wajar mengingat fenomena dekadensi sosial yang terjadi akhir-akhir ini.   Legitimasi formalnya bisa kita temukan di dalam UUD 1945 Pasal 36 Bab XV yang menyatakan bahwa Bahasa negara adalah Bahasa Indonesia. Artinya, Bahasa Indonesia merupakan jati diri bangsa. Oleh sebab itu, Ia berfungsi sebagai salah satu elemen penting perekat sosial bangsa di tengah perbedaan, mulai dari suku, agama, ras dan antargolongan.

Eksistensi Indonesia sebagai sebuah nation state baru sejak tahun 1945 tentu tidak bisa dilepaskan dari peran kejuangan para pemuda Indonesia pada saat pergerakan nasional yang menyadari bahwa semua yang rakyat Indonesia merupakan saudara setanah air, sebangsa dan  sebahasa. Pemuda, dalam hal ini merupakan aset nasional yang potensial bagi pembangunan sekaligus agen perubahan yang meneruskan estafet perjuangann para pendahulunya dalam rangka memajukan negara. Oleh sebab itu, pemuda memiliki tempat istimewa dalam narasi sejarah sosial politik di Indonesia. Rasanya, tidak ada peristiwa penting di negeri ini yang tidak mencantumkan narasi kepemudaan. Era Kebangkitan Nasional misalnya bisa kita jadikan titik tolak gerakan pemuda yang memelopori Sumpah Pemuda dan menjadi dasar persatuan Indonesia di masa yang akan datang.

 Dalam beberapa peristiwa sejarah, pemuda mampu memanfaatkan wawasan dan pikirannya sebagai kekuatan utama dalam perjuangan. Hal itu yang membuat pemuda mampu melakukan terobosan sejarah karena pemuda dapat memadukan antara cara pandang dan gaya hidupnya. Pemuda hadir sebagai kekuatan yang berjasa menyelamatkan negeri dari marabahaya dan mengantarkan masyarakat ke gerbang kehidupan yang adil dan makmur. Spirit pemuda sejak awal abad ke 20 lalu kini ditemui dalam berbagai dinamika kaum muda yang berkarya di tengah bangsanya mewujudkan dalam kolaborasi dan espresi kaum muda. Maka dari itu pemuda sangat diharapkan dapat menjadi tonggak utama dari keberlangsungan dan keberadaan Bahasa Indonesia saat ini, mengingat pemuda merupakan salah satu agen yang dapat mendistribusikan pengetahuan di kalangan masyarakat.

Namun demikian, kaum muda Indonesia akhir-akhir ini berada pada fase di mana penghargaan dan penghormataan kepada bahasa nasional mengalami kemerosotan. Hal tersebut dibuktikan dengan fenomena penggunaan bahasa asing di ruang publik. Harus diakui bahwa implikasi sosial dan moral dari fenomena penyempitan dunia sebagai akibat penemuan teknologi transportasi dan komunikasi telah mengakibatkan disorientasi nasionalitas. Wawancara kecil-kecilan dan dipadu dengan sumber website, salah satunya Tirto. id perihal gejala kebahasaan di atas didapati sebuah kenyataan bahwa  ada kebanggan yang muncul di kalangan pemuda ketika mampu bercakap menggunakan bahasa Inggris. Mereka mengganggap dengan menggunakan Bahasa asing mereka akan terlihat lebih keren, gaul, eksis dan modern. Misalnya saja fenoemna campur aduk “Bahasa anak Jaksel” yang sempat viral beberapa waktu lalu. Sebagian pemuda di Jakarta Selatan menggunakan Bahasa campuran antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris. Seperti: which is, basically, literally lalu diikuti dengan Bahasa Indonesia. Dalam ilmu linguistik fenomena ini dikenal dengan istilah code mixing atau campur kode. Konsekuensinya, Bahasa Indonesia menjadi terkikis. Apalagi yang sudah terjangkit adalah kawula mudanya.

Meski demikian, tidak bisa kita pungkiri bahwa kemampuan berbahasa Inggris merupakan keniscayaan yang harus dimiliki sebagai bekal lebih. Apalagi eranya revoluis 4.0, disrupsi, globalisasi.  Implikasi politisnya adalah seseorang akan memiliki bargaining power atau nilai lebih di kehidupan sosial. Hal tersebut selanjutnya akan memudahkannya mencaripekerjaan di bidang-bidang yang memerlukan keterampilan verbal.

Tidak ada masalah dengan penggunaan bahasa asing. Namun dilematikanya terletak pada dominasi, alih-alih infiltrasi bahasa asing ke dalam struktur kebahasaan kita sebagaimana kasus anak Jaksel di atas. Salah satu contoh penggunaan Bahasa asing dalam forum resmi dan terus diwarisi sampai saat ini adalah “snack” atau jika di-bahasaindonesia-kan adalah Kudapan yang artinya makanan ringan atau cemilan. Kata ‘snack” acapkali kita dengar dalam forum resmi seperti rapat, diskusi dan lain lain padahal istilah itu diadopsi dari Bahasa Inggris.

Selain itu, masih banyak penggunaan istilah asing yang dipakai masyarakat di dalam forum resmi sebagai akibat nir pengetahuan mereka. Dengan demikian, pengaplikasian Bahasa asing di ruang publik berpotensi menggerus Bahasa Indonesia. Jika ini terus dibiarkan, Bahasa Indonesia akan kehilangan spiritnya sebagai identitas nasional.

Melalui persoalan di atas, penting memagari Bahasa Indonesia dari ancaman dan serbuan Bahasa asing. Di samping bahasa Indonesia, ada ribuan bahasa daerah yang mendesak kita untuk diperhatikan. Bahasa daerah adalah produk kebudayaan lelhur kita di masa lalu yang sudah selayaknya kita lestarikan. Bukan bermaksud feodal atau bersikap antikuarian, saya melihat di dalam bahasa derah ada produk mental bangsa kita yang terus bertumbuh yang bisa diteladani kebaikannya dan dibuang kejelekannya. Jika pada kasus bahasa Indonesia di atas hanya mengalami kolonisasi global, maka terhadap bahasa daerah mengalami dua hal sekaligus yakni  globalisasi cum indonesianisasi. Oleh sebab itu, anjuran-anjuran yang sifatnya dialogis, yang mampu mempertemukan ketiga kepentingan kebahasaan di atas harus dilakukan. Oleh sebab itu saya sangat setuju dengan tagline “Lestarikan Bahasa Daerah, Utamakan bahasa Indonesia dan Kuasai Bahasa Asing”.

Dengan adanya tagline di atas diharapkan para pemuda di Indonesia dapat lebih dalam lagi mengartikannya demi keberlangsungan kebudayaan dan proses dari sebuah perkembangan jaman dan industri agar kita bisa hidup dengan selaras. Dan juga kita dapat  meneruskan tradisi para leluhur kita terdahulu. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak lupa akan sejarah dan kebudayaannya.

Pemuda sebagai agen dan tonggak bangsa sudah seharusnya menjadi contoh untuk masyarakat dalam konteks merawat Bahasa Indonesia. Pemuda wajib menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik tanpa melupakan Bahasa Daerah dan tanpa menyepelekan Bahasa Asing. Oleh seba itu diperlukannya sebuah sikap bahasa sebagai usaha pengoptimalisasi peran dan kedudukan Bahasa Indonesia sebagai penguat jati diri bangsa. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan rasa kebanggaan memiliki dan menggunakan Bahasa Indonesia tanpa rasa gengsi. Lalu menghindari penggunaan Bahasa asing secara berlebihan. Terakhir meningkatkan frekuensi pembiasaan penggunaan Bahasa Indonesia dalam semua kesempatan. [T]

Tags: BahasaBahasa Indonesia
Share61TweetSendShareSend
Previous Post

Ibu, Kau Menyesal Mengandungku?

Next Post

Jayaprana

Putu Sulistyawati

Putu Sulistyawati

Lahir di Tista 16 Januari 1999. Mahasiswa prodi Pendidikan Sejarah / Sejarah, Sosiologi dan Perpustakaan, Undiksha Singaraja

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Kekuasaan

Jayaprana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co