2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keluarga Saya di Desa Kayuputih Punya Tradisi Merayakan Imlek – Inilah Penyebabnya…

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
January 22, 2020
in Khas
Keluarga Saya di Desa Kayuputih Punya Tradisi Merayakan Imlek – Inilah Penyebabnya…

“Gong xi fat chai”

Pastilah pembaca kaget dengan judul tulisan ini. Dan akan lebih heran lagi jika mengetahui, saya ini ikut merayakan Imlek setiap tahunnya. “Apamu sih yang China?” Pertanyaan ini sering diarahkan kepada saya, juga kepada saudara-saudara saya, oleh teman-teman dalam mimik wajah penasaran. Karena agak bingung juga, salah seorang sepupu saya menjawab sekenanya saja, “Hp-ku yang China hahaha!”.

Ya, memang aneh, keluarga kami yang tinggal di Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, yang bukan keturunan Tionghoa, setiap tahun ikut merayakan Imlek. Dan menjadi unik, saat perayaan Imlek itu tak ada di antara kami yang berkulit putih dan bermata sipit, seperti yang lazim dijumpai saat saudara-saudara kita, keturunan Tionghoa merayakan Imlek di klenteng Ling Gwang Kiong di bekas pelabuhan Buleleng atau klenteng Seng Hong Bio di Kampung Baru, Singaraja.   

Perayaan Imlek keluarga dadia kami (keluarga dalam kekerabatan satu kawitan/leluhur), dilakukan sehari mendahului perayaan Imlek nasional, biasanya sehari sebelum penanggalan Bali  tilem kepitu (purwani). Pagi harinya, salah satu anggota keluarga pergi ke kota Singaraja membeli bahan masakan khas Tionghoa. Kokinya adalah salah satu anggota keluarga yang punya kebisaan turun temurun  memasak hidangan China yang kemudian akan dibagi-bagikan untuk semua, bahkan ada yang dibungkus dibawa pulang. Rasanya lumayan juga, khas chinese food, bahkan aromanya pun sudah tercium dari jauh.

Kami yang beribadah dalam perayaan itu, menggunakan pakaian nasional, meski ada beberapa orang keluarga yang memakai pakaian adat Bali. Pun kongco kami dibangun tetap dalam gaya bangunan tradisional Bali, hanya saja pada dinding bangunan bagian dalam tertempel lukisan-lukisan China, juga beberapa patung dan lilin berukuran besar. Tatacara ibadah yang kami lakukan sama dengan tradisi Tionghoa adalah hanya menggunakan dupa untuk berdoa, tanpa bunga. Seseorang membagikan dupa untuk semua, lalu setelah selesai dikumpulkan kembali.

Di halaman kongco diramaikan oleh pedagang camilan, bandar judi mong-mongan yang selalu ramai hingga membuat malam purwani tilem kepitu itu makin meriah. Usai ibadah, biasanya pada tengah malam, kami bubar dan beberapa orang tinggal untuk mekemit atau bermalam di kongco yang dibangun di atas dataran tinggi itu. Dulu, di tahun delapanpuluhan, keesokan hari setelah ibadah perayaan Imlek malam sebelumnya, kongco kami selalu dikunjungi “keluarga China” kami dari Singaraja. Namun belakangan ini sudah hampir tak pernah lagi.

Lalu, kenapa kami merayakan Imlek? Hal ini pernah saya tanyakan kepada ayah saat kanak-kanak. Dijelaskan kalau dahulu sekali, menurut bebaos (kata-kata orang pintar), salah seorang anggota keluarga dadia kami telah berbuat salah terhadap pedagang China yang berjualan ke desa kami. Dari cerita-cerita yang tak terlalu terang tersebut, sepertinya leluhur kami melakukan satu kejahatan yang telah menyebabkan pedagang China itu tewas.

Di sinilah sebetulnya kisah ini menjadi menarik. Tak jelas informasi mengenai tuntutan hukum yang dikenakan kepada leluhur kami saat itu, tampaknya sebuah kejahatan yang tak terungkap dan tak tersentuh hukum. Namun, ada hal-hal yang bagi saya mencengangkan kemudian terjadi. Berbagai kesulitan hidup telah mendera keluarga dadia kami jauh setelah peristiwa itu terjadi. Maka, diputuskanlah untuk bertanya kepada orang pintar mengapa nasib keluarga kami sedemikian buruk?

Begitulah yang kemudian diyakini, seperti kisah yang telah diceritakan di atas. Segala nasib buruk yang menimpa keluarga kami, adalah sebuah ganjaran akibat kejahatan yang telah dilakukan di masa lalu, oleh leluhur kami. Maka untuk menyudahi hukuman itu, yang bukan diputuskan oleh pengadilan dan bukan perdata maupun pidana, namun berdasarkan bebaos, kami diharuskan mendirikan sebuah bangunan kongco untuk memuja roh pedagang China yang telah terbunuh itu, dikenal sebagai hyang dewa, lengkapnya hyang dewa kongco. Semenjak itu dan selanjutnya, seterusnya keturunan keluarga dadia kami harus nyungsung (memuliakan dengan menyembah) hyang dewa kongco ini. Ajaib, segala kejadian buruk dan kesialan yang menimpa keluarga kami, rasanya perlahan berkurang. Percaya tidak percaya!

Bagaimana mungkin, karma buruk orang lain, meski itu keluarga sendiri, pahalanya bisa dikenakan pada yang lain? Jika dicermati konsep hukum Karma Pahala dalam filsafat Hindu, mestinya ia berlaku fair dan personal. Dosa seseorang tak mungkin membuat orang lain yang diseret ke neraka. Model beginian hanya bisa terjadi dalam peradilan dunia. Namun demikianlah, keyakinan yang telah terbagun dalam pengalaman hidup yang panjang, bagai bangunan kongco itu sendiri, akan eksistensi energi yang diberi nama hyang dewa. Sebuah kesalahan yang dianggap berat, menghilangkan nyawa seseorang, akan mendapat vonis hukuman kultural yang berat pula yaitu, menyembah sang korban sebagai dewa, oleh keluarga dan keturunan pelakunya, selamanya.

Tradisi ini sesungguhnya bagus pada gagasannya untuk menakuti kita melakukan kejahatan, bukan pada pelaksanaan hukumannya itu sendiri. Jika ini diyakini oleh semua orang di bumi, pastilah takkan terjadi pembantaian massal orang-orang tak berdosa akibat sentimen G30S-PKI, atau holocoust oleh NAZI terhadap etnis Yahudi, juga genosida yang menimpa muslim Bosnia serta pembersihan suku Tutsi dan Hutu di Rwanda. Dari berbagai kejahatan keji ini, mungkin perlu dibangun dan disembah ratusan juta hyang dewa di seluruh dunia!

Cerita-cerita tentang dosa dan berbagai hukumannya, hanyalah panduan dan nilai-nilai yang melayang-layang begitu saja dalam atmosfir bumi yang kian lelah dan suram ini. Ia baru membawa makna dan hakikat saat siapa saja telah menarik ke dalam udara pernafasannya lalu mewujudkannya dalam energi kehidupan, dalam gerak tangan dan buah pikirannya. Bicara begini, jadi ingat dengan sosok Gus Dur, bapak pluralisme yang senantiasa membumikan nilai-nilai spiritual yang melayang jauh di langit. Berkatnyalah, dalam spirit humanisme yang hangat, saat menjabat presiden RI yang keempat, menerbitkan Inpres no 6/2000 tentang Imlek sebagai hari libur nasional. Kita semua bersaudara, Gong Xi Fat Chai! [T]

Tags: balibulelengCinaDesa KayuputihImlekTionghoa
Share138TweetSendShareSend
Previous Post

Ciwaratri, Betulkah Lubdaka Masuk Surga?

Next Post

Ini yang Terjadi di Jembrana Bila Tol Gilimanuk-Tabanan Terealisasi

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Ini yang Terjadi di Jembrana Bila Tol Gilimanuk-Tabanan Terealisasi

Ini yang Terjadi di Jembrana Bila Tol Gilimanuk-Tabanan Terealisasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co