14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keluarga Saya di Desa Kayuputih Punya Tradisi Merayakan Imlek – Inilah Penyebabnya…

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
January 22, 2020
in Khas
Keluarga Saya di Desa Kayuputih Punya Tradisi Merayakan Imlek – Inilah Penyebabnya…

“Gong xi fat chai”

Pastilah pembaca kaget dengan judul tulisan ini. Dan akan lebih heran lagi jika mengetahui, saya ini ikut merayakan Imlek setiap tahunnya. “Apamu sih yang China?” Pertanyaan ini sering diarahkan kepada saya, juga kepada saudara-saudara saya, oleh teman-teman dalam mimik wajah penasaran. Karena agak bingung juga, salah seorang sepupu saya menjawab sekenanya saja, “Hp-ku yang China hahaha!”.

Ya, memang aneh, keluarga kami yang tinggal di Desa Kayuputih, Kecamatan Banjar, yang bukan keturunan Tionghoa, setiap tahun ikut merayakan Imlek. Dan menjadi unik, saat perayaan Imlek itu tak ada di antara kami yang berkulit putih dan bermata sipit, seperti yang lazim dijumpai saat saudara-saudara kita, keturunan Tionghoa merayakan Imlek di klenteng Ling Gwang Kiong di bekas pelabuhan Buleleng atau klenteng Seng Hong Bio di Kampung Baru, Singaraja.   

Perayaan Imlek keluarga dadia kami (keluarga dalam kekerabatan satu kawitan/leluhur), dilakukan sehari mendahului perayaan Imlek nasional, biasanya sehari sebelum penanggalan Bali  tilem kepitu (purwani). Pagi harinya, salah satu anggota keluarga pergi ke kota Singaraja membeli bahan masakan khas Tionghoa. Kokinya adalah salah satu anggota keluarga yang punya kebisaan turun temurun  memasak hidangan China yang kemudian akan dibagi-bagikan untuk semua, bahkan ada yang dibungkus dibawa pulang. Rasanya lumayan juga, khas chinese food, bahkan aromanya pun sudah tercium dari jauh.

Kami yang beribadah dalam perayaan itu, menggunakan pakaian nasional, meski ada beberapa orang keluarga yang memakai pakaian adat Bali. Pun kongco kami dibangun tetap dalam gaya bangunan tradisional Bali, hanya saja pada dinding bangunan bagian dalam tertempel lukisan-lukisan China, juga beberapa patung dan lilin berukuran besar. Tatacara ibadah yang kami lakukan sama dengan tradisi Tionghoa adalah hanya menggunakan dupa untuk berdoa, tanpa bunga. Seseorang membagikan dupa untuk semua, lalu setelah selesai dikumpulkan kembali.

Di halaman kongco diramaikan oleh pedagang camilan, bandar judi mong-mongan yang selalu ramai hingga membuat malam purwani tilem kepitu itu makin meriah. Usai ibadah, biasanya pada tengah malam, kami bubar dan beberapa orang tinggal untuk mekemit atau bermalam di kongco yang dibangun di atas dataran tinggi itu. Dulu, di tahun delapanpuluhan, keesokan hari setelah ibadah perayaan Imlek malam sebelumnya, kongco kami selalu dikunjungi “keluarga China” kami dari Singaraja. Namun belakangan ini sudah hampir tak pernah lagi.

Lalu, kenapa kami merayakan Imlek? Hal ini pernah saya tanyakan kepada ayah saat kanak-kanak. Dijelaskan kalau dahulu sekali, menurut bebaos (kata-kata orang pintar), salah seorang anggota keluarga dadia kami telah berbuat salah terhadap pedagang China yang berjualan ke desa kami. Dari cerita-cerita yang tak terlalu terang tersebut, sepertinya leluhur kami melakukan satu kejahatan yang telah menyebabkan pedagang China itu tewas.

Di sinilah sebetulnya kisah ini menjadi menarik. Tak jelas informasi mengenai tuntutan hukum yang dikenakan kepada leluhur kami saat itu, tampaknya sebuah kejahatan yang tak terungkap dan tak tersentuh hukum. Namun, ada hal-hal yang bagi saya mencengangkan kemudian terjadi. Berbagai kesulitan hidup telah mendera keluarga dadia kami jauh setelah peristiwa itu terjadi. Maka, diputuskanlah untuk bertanya kepada orang pintar mengapa nasib keluarga kami sedemikian buruk?

Begitulah yang kemudian diyakini, seperti kisah yang telah diceritakan di atas. Segala nasib buruk yang menimpa keluarga kami, adalah sebuah ganjaran akibat kejahatan yang telah dilakukan di masa lalu, oleh leluhur kami. Maka untuk menyudahi hukuman itu, yang bukan diputuskan oleh pengadilan dan bukan perdata maupun pidana, namun berdasarkan bebaos, kami diharuskan mendirikan sebuah bangunan kongco untuk memuja roh pedagang China yang telah terbunuh itu, dikenal sebagai hyang dewa, lengkapnya hyang dewa kongco. Semenjak itu dan selanjutnya, seterusnya keturunan keluarga dadia kami harus nyungsung (memuliakan dengan menyembah) hyang dewa kongco ini. Ajaib, segala kejadian buruk dan kesialan yang menimpa keluarga kami, rasanya perlahan berkurang. Percaya tidak percaya!

Bagaimana mungkin, karma buruk orang lain, meski itu keluarga sendiri, pahalanya bisa dikenakan pada yang lain? Jika dicermati konsep hukum Karma Pahala dalam filsafat Hindu, mestinya ia berlaku fair dan personal. Dosa seseorang tak mungkin membuat orang lain yang diseret ke neraka. Model beginian hanya bisa terjadi dalam peradilan dunia. Namun demikianlah, keyakinan yang telah terbagun dalam pengalaman hidup yang panjang, bagai bangunan kongco itu sendiri, akan eksistensi energi yang diberi nama hyang dewa. Sebuah kesalahan yang dianggap berat, menghilangkan nyawa seseorang, akan mendapat vonis hukuman kultural yang berat pula yaitu, menyembah sang korban sebagai dewa, oleh keluarga dan keturunan pelakunya, selamanya.

Tradisi ini sesungguhnya bagus pada gagasannya untuk menakuti kita melakukan kejahatan, bukan pada pelaksanaan hukumannya itu sendiri. Jika ini diyakini oleh semua orang di bumi, pastilah takkan terjadi pembantaian massal orang-orang tak berdosa akibat sentimen G30S-PKI, atau holocoust oleh NAZI terhadap etnis Yahudi, juga genosida yang menimpa muslim Bosnia serta pembersihan suku Tutsi dan Hutu di Rwanda. Dari berbagai kejahatan keji ini, mungkin perlu dibangun dan disembah ratusan juta hyang dewa di seluruh dunia!

Cerita-cerita tentang dosa dan berbagai hukumannya, hanyalah panduan dan nilai-nilai yang melayang-layang begitu saja dalam atmosfir bumi yang kian lelah dan suram ini. Ia baru membawa makna dan hakikat saat siapa saja telah menarik ke dalam udara pernafasannya lalu mewujudkannya dalam energi kehidupan, dalam gerak tangan dan buah pikirannya. Bicara begini, jadi ingat dengan sosok Gus Dur, bapak pluralisme yang senantiasa membumikan nilai-nilai spiritual yang melayang jauh di langit. Berkatnyalah, dalam spirit humanisme yang hangat, saat menjabat presiden RI yang keempat, menerbitkan Inpres no 6/2000 tentang Imlek sebagai hari libur nasional. Kita semua bersaudara, Gong Xi Fat Chai! [T]

Tags: balibulelengCinaDesa KayuputihImlekTionghoa
Share138TweetSendShareSend
Previous Post

Ciwaratri, Betulkah Lubdaka Masuk Surga?

Next Post

Ini yang Terjadi di Jembrana Bila Tol Gilimanuk-Tabanan Terealisasi

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Ini yang Terjadi di Jembrana Bila Tol Gilimanuk-Tabanan Terealisasi

Ini yang Terjadi di Jembrana Bila Tol Gilimanuk-Tabanan Terealisasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co