23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ciwaratri, Betulkah Lubdaka Masuk Surga?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
January 22, 2020
in Esai
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

“Sebuah pelayanan, lebih mulia ketimbang seribu doa.” (Mahatma Gandhi)

Dalam perjalanan pulang, dari radio di dalam mobil, saya mendengar pemaparan tentang hari raya Ciwarartri. Materi itu dibawakan seseorang yang mewakili departemen agama di kabupaten. Diceritakan dengan sangat menarik perjalanan hidup Lubdaka, seorang pemburu yang tak kenal kasihan. Ia, seperti yang telah kita ketahui semenjak kanak-kanak adalah seorang kepala keluarga yang berprofesi sebagai pemburu. Tak mungkin juga seorang yang memiliki sifat pengasih dapat bekerja sehari-hari bekerja sebagai pemburu.

Ia harus membunuh hewan buruannya untuk dimakan dan dijual untuk memperoleh uang guna menafkahi keluarganya. Seperti yang juga sudah kita ketahui bersama, di hari yang penuh kesialan itu, tak seekor binatang pun yang berhasil ia bunuh. Justru ia sendirilah kemudian terjebak dalam ketakutan, di atas sebatang pohon Bila. Akan perasaan ngerinya terjatuh dari pohon dan dimangsa binatang buas, ia memaksa melek sepanjang malam dengan memetik satu per satu daun pohon Bila tersebut. Dedaunan yang dipetiknya telah menimpa sebuah Lingga yang ada di telaga jernih di bawahnya dan rupanya malam itu adalah satu malam spesial di kalangan para Dewa yaitu malam Ciwarartri saat mana Dewa Ciwa sedang menjalankan meditasi. 

Sampai di situ cerita yang merupakan ajaran Sanathana Dharma ini cukup menarik diikuti. Namun, kisa berikutnya di Swah Loka (khayangan), cukup membuat kaget dan mengecewakan. Diceritakan, roh Lubdaka pada akhirnya, atas perintah Dewa Ciwa diterima di swarga loka, hanya karena di malam Ciwarartri itu, Lubdaka menyesali dosa-dosanya selama ini. Itupun sebuah penyesalan yang lahir dari keterpojokan dan pada suatu hari baik yang ia pun tak sadari.

Tampaknya cerita ini ingin menonjolkan sisi fantastis sebuah peristiwa yang mengabaikan kekuatan nalar, lalu diciptakan hanya menjadi sebuah simbol semata, entahlah. Sebuah simbol akan menjadi sia-sia belaka jika tak dipahami dan disublimasi dalam jiwa dan energi gerak. Atau, kisah Lubdaka akan menyandera satu gagasan besar sehebat Ciwarartri hanya menjadi sebuah identitas, yang setiap tahun mengumpulkan umat memenuhi tempat-tempat suci untuk begadang.

Spiritual, jika diamati, cenderung rasional. Berbeda dengan tradisi dan keyakinan yang kerap irrasional. Maka jika agama sering “bentrok” dengan sains, itu pastilah sisi tradisi sebuah agama, bukan aspek spiritualnya. Tradisi, umumnya merupakan kreasi manusia, yang kadang memang sejak awal telah dicemari motif manfaat untuk kelompok tertentu atau kebiasaan yang kadang rigid resisten untuk direformasi karena itu telah memberi zone nyaman untuk kelompok tertentu. Sementara, spiritual dan sains, keduanya ciptaan Tuhan yang umumnya selaras dan universal. Bagaimana mungkin dosa yang telah dilakukan puluhan tahun, dihapuskan dengan penyesalan semalam, yang bahkan tak disadari?  

Jika kita suka makan kolesterol yang enak bertahun-tahun, rasanya mustahil efeknya akan lenyap hanya dengan sebuah penyesalan sepanjang malam. Bahkan jika dikonversi, sekali saja makan siang yang mengandung lemak berlebih, nilai kalorinya baru bisa disetarakan dengan tiga kali jalan cepat non stop selama 45 menit. Begitulah sifat energi yang kekal, ia takkan pernah hilang dalam perhitungan metafisika, namun ia seakan-akan hilang saat energi yang berlawanan kekuatannya lebih besar. Dosa, dengan sangat baik diibaratkan bagaikan gula di dalam gelas yang berisi air, sementara airnya sendiri ibarat kebaikan. Semakin banyak ditambahkan air ke dalamnya, maka rasa manis makin memudar, namun janganlah pernah ragu, gula itu niscaya masih ada di dalam gelas.

Namun demikian, disamping otokritik ini perlu disampaikan, memang ada hal-hal yang menarik bisa kita petik dari kisah Lubdaka ini. Sebuah kesadaran, ia selalu dihargai dan dimuliakan. Tak peduli, kapan, di mana dan dengan cara apa pun ia tercipta. Pun kemuliaan tak menjadi monopoli sekelompok orang. Tak harus kaum brahmana atau yogi, ia pun memberi kesempatan kepada seorang pemburu yang tak kenal kasihan. Begitu pun, kisah seorang jiwa agung masyur yang bernama Mahatma Gandhi. Ia tidaklah seperti awathara Sri Kresna yang ditakdirkan sebagai juru selamat karena kesempurnaannya.

Dalam otobiografinya, Gandhi muda adalah seorang pencuri, kawin dalam usia dini dan berlaku keras kasar kepada anak-anaknya, hingga membuat istrinya sering mecucurkan air mata. Masa lalu boleh saja tetap ada, namun masa depan dapat memberinya warna baru. Demikianlah, berkat kesadaran memimpin dirinya sendiri secara mencengangkan, ia digelari sebagai Sang Jiwa Agung. Sudah pasti bukan hanya karena penyesalan akan masa lalunya belaka.

Tak dapat dipungkiri lagi, Hindu berlimpah filsafat adiluhung yang implisit dalam berbagai simbol. Kita bisa sebut contoh-contohnya dengan keyakinan penuh, perayaan-perayaan Ciwarartri, Saraswati atau Nyepi. Apakah tradisi-tradisi itu akan menjadi spiritual atau sekadar ritual belaka, sepenuhnya kembali kepada kita. Seperti halnya peringatan proklamasi, itu bukanlah wujud cinta tanah air yang esensi, ia baru sebatas identitas.

Cinta bangsa dan tanah air perlu berwujud dengan bekerja sepenuh hati sebagai seorang guru, dokter atau polisi. Atau ikhlas melayani sesama dan bersahabat baik dengan alam. Jika ritual adalah masa lalu, maka jadikanlah spiritual sebagai masa depan. Kalau tidak demikian, selamanya Ciwarartri hanya akan menjadi ritual begadang menemani Lubdaka semata.[T]

Tags: kesehatanLubdakasastraSiwaratriTanakung
Share178TweetSendShareSend
Previous Post

Teater Kalangan, Pertemuan Cerita, Kata Dan Tubuh

Next Post

Keluarga Saya di Desa Kayuputih Punya Tradisi Merayakan Imlek – Inilah Penyebabnya…

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Keluarga Saya di Desa Kayuputih Punya Tradisi Merayakan Imlek – Inilah Penyebabnya…

Keluarga Saya di Desa Kayuputih Punya Tradisi Merayakan Imlek – Inilah Penyebabnya…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co