2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ciwaratri, Betulkah Lubdaka Masuk Surga?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
January 22, 2020
in Esai
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

“Sebuah pelayanan, lebih mulia ketimbang seribu doa.” (Mahatma Gandhi)

Dalam perjalanan pulang, dari radio di dalam mobil, saya mendengar pemaparan tentang hari raya Ciwarartri. Materi itu dibawakan seseorang yang mewakili departemen agama di kabupaten. Diceritakan dengan sangat menarik perjalanan hidup Lubdaka, seorang pemburu yang tak kenal kasihan. Ia, seperti yang telah kita ketahui semenjak kanak-kanak adalah seorang kepala keluarga yang berprofesi sebagai pemburu. Tak mungkin juga seorang yang memiliki sifat pengasih dapat bekerja sehari-hari bekerja sebagai pemburu.

Ia harus membunuh hewan buruannya untuk dimakan dan dijual untuk memperoleh uang guna menafkahi keluarganya. Seperti yang juga sudah kita ketahui bersama, di hari yang penuh kesialan itu, tak seekor binatang pun yang berhasil ia bunuh. Justru ia sendirilah kemudian terjebak dalam ketakutan, di atas sebatang pohon Bila. Akan perasaan ngerinya terjatuh dari pohon dan dimangsa binatang buas, ia memaksa melek sepanjang malam dengan memetik satu per satu daun pohon Bila tersebut. Dedaunan yang dipetiknya telah menimpa sebuah Lingga yang ada di telaga jernih di bawahnya dan rupanya malam itu adalah satu malam spesial di kalangan para Dewa yaitu malam Ciwarartri saat mana Dewa Ciwa sedang menjalankan meditasi. 

Sampai di situ cerita yang merupakan ajaran Sanathana Dharma ini cukup menarik diikuti. Namun, kisa berikutnya di Swah Loka (khayangan), cukup membuat kaget dan mengecewakan. Diceritakan, roh Lubdaka pada akhirnya, atas perintah Dewa Ciwa diterima di swarga loka, hanya karena di malam Ciwarartri itu, Lubdaka menyesali dosa-dosanya selama ini. Itupun sebuah penyesalan yang lahir dari keterpojokan dan pada suatu hari baik yang ia pun tak sadari.

Tampaknya cerita ini ingin menonjolkan sisi fantastis sebuah peristiwa yang mengabaikan kekuatan nalar, lalu diciptakan hanya menjadi sebuah simbol semata, entahlah. Sebuah simbol akan menjadi sia-sia belaka jika tak dipahami dan disublimasi dalam jiwa dan energi gerak. Atau, kisah Lubdaka akan menyandera satu gagasan besar sehebat Ciwarartri hanya menjadi sebuah identitas, yang setiap tahun mengumpulkan umat memenuhi tempat-tempat suci untuk begadang.

Spiritual, jika diamati, cenderung rasional. Berbeda dengan tradisi dan keyakinan yang kerap irrasional. Maka jika agama sering “bentrok” dengan sains, itu pastilah sisi tradisi sebuah agama, bukan aspek spiritualnya. Tradisi, umumnya merupakan kreasi manusia, yang kadang memang sejak awal telah dicemari motif manfaat untuk kelompok tertentu atau kebiasaan yang kadang rigid resisten untuk direformasi karena itu telah memberi zone nyaman untuk kelompok tertentu. Sementara, spiritual dan sains, keduanya ciptaan Tuhan yang umumnya selaras dan universal. Bagaimana mungkin dosa yang telah dilakukan puluhan tahun, dihapuskan dengan penyesalan semalam, yang bahkan tak disadari?  

Jika kita suka makan kolesterol yang enak bertahun-tahun, rasanya mustahil efeknya akan lenyap hanya dengan sebuah penyesalan sepanjang malam. Bahkan jika dikonversi, sekali saja makan siang yang mengandung lemak berlebih, nilai kalorinya baru bisa disetarakan dengan tiga kali jalan cepat non stop selama 45 menit. Begitulah sifat energi yang kekal, ia takkan pernah hilang dalam perhitungan metafisika, namun ia seakan-akan hilang saat energi yang berlawanan kekuatannya lebih besar. Dosa, dengan sangat baik diibaratkan bagaikan gula di dalam gelas yang berisi air, sementara airnya sendiri ibarat kebaikan. Semakin banyak ditambahkan air ke dalamnya, maka rasa manis makin memudar, namun janganlah pernah ragu, gula itu niscaya masih ada di dalam gelas.

Namun demikian, disamping otokritik ini perlu disampaikan, memang ada hal-hal yang menarik bisa kita petik dari kisah Lubdaka ini. Sebuah kesadaran, ia selalu dihargai dan dimuliakan. Tak peduli, kapan, di mana dan dengan cara apa pun ia tercipta. Pun kemuliaan tak menjadi monopoli sekelompok orang. Tak harus kaum brahmana atau yogi, ia pun memberi kesempatan kepada seorang pemburu yang tak kenal kasihan. Begitu pun, kisah seorang jiwa agung masyur yang bernama Mahatma Gandhi. Ia tidaklah seperti awathara Sri Kresna yang ditakdirkan sebagai juru selamat karena kesempurnaannya.

Dalam otobiografinya, Gandhi muda adalah seorang pencuri, kawin dalam usia dini dan berlaku keras kasar kepada anak-anaknya, hingga membuat istrinya sering mecucurkan air mata. Masa lalu boleh saja tetap ada, namun masa depan dapat memberinya warna baru. Demikianlah, berkat kesadaran memimpin dirinya sendiri secara mencengangkan, ia digelari sebagai Sang Jiwa Agung. Sudah pasti bukan hanya karena penyesalan akan masa lalunya belaka.

Tak dapat dipungkiri lagi, Hindu berlimpah filsafat adiluhung yang implisit dalam berbagai simbol. Kita bisa sebut contoh-contohnya dengan keyakinan penuh, perayaan-perayaan Ciwarartri, Saraswati atau Nyepi. Apakah tradisi-tradisi itu akan menjadi spiritual atau sekadar ritual belaka, sepenuhnya kembali kepada kita. Seperti halnya peringatan proklamasi, itu bukanlah wujud cinta tanah air yang esensi, ia baru sebatas identitas.

Cinta bangsa dan tanah air perlu berwujud dengan bekerja sepenuh hati sebagai seorang guru, dokter atau polisi. Atau ikhlas melayani sesama dan bersahabat baik dengan alam. Jika ritual adalah masa lalu, maka jadikanlah spiritual sebagai masa depan. Kalau tidak demikian, selamanya Ciwarartri hanya akan menjadi ritual begadang menemani Lubdaka semata.[T]

Tags: kesehatanLubdakasastraSiwaratriTanakung
Share178TweetSendShareSend
Previous Post

Teater Kalangan, Pertemuan Cerita, Kata Dan Tubuh

Next Post

Keluarga Saya di Desa Kayuputih Punya Tradisi Merayakan Imlek – Inilah Penyebabnya…

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Keluarga Saya di Desa Kayuputih Punya Tradisi Merayakan Imlek – Inilah Penyebabnya…

Keluarga Saya di Desa Kayuputih Punya Tradisi Merayakan Imlek – Inilah Penyebabnya…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co