25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ciwaratri, Betulkah Lubdaka Masuk Surga?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
January 22, 2020
in Esai
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

“Sebuah pelayanan, lebih mulia ketimbang seribu doa.” (Mahatma Gandhi)

Dalam perjalanan pulang, dari radio di dalam mobil, saya mendengar pemaparan tentang hari raya Ciwarartri. Materi itu dibawakan seseorang yang mewakili departemen agama di kabupaten. Diceritakan dengan sangat menarik perjalanan hidup Lubdaka, seorang pemburu yang tak kenal kasihan. Ia, seperti yang telah kita ketahui semenjak kanak-kanak adalah seorang kepala keluarga yang berprofesi sebagai pemburu. Tak mungkin juga seorang yang memiliki sifat pengasih dapat bekerja sehari-hari bekerja sebagai pemburu.

Ia harus membunuh hewan buruannya untuk dimakan dan dijual untuk memperoleh uang guna menafkahi keluarganya. Seperti yang juga sudah kita ketahui bersama, di hari yang penuh kesialan itu, tak seekor binatang pun yang berhasil ia bunuh. Justru ia sendirilah kemudian terjebak dalam ketakutan, di atas sebatang pohon Bila. Akan perasaan ngerinya terjatuh dari pohon dan dimangsa binatang buas, ia memaksa melek sepanjang malam dengan memetik satu per satu daun pohon Bila tersebut. Dedaunan yang dipetiknya telah menimpa sebuah Lingga yang ada di telaga jernih di bawahnya dan rupanya malam itu adalah satu malam spesial di kalangan para Dewa yaitu malam Ciwarartri saat mana Dewa Ciwa sedang menjalankan meditasi. 

Sampai di situ cerita yang merupakan ajaran Sanathana Dharma ini cukup menarik diikuti. Namun, kisa berikutnya di Swah Loka (khayangan), cukup membuat kaget dan mengecewakan. Diceritakan, roh Lubdaka pada akhirnya, atas perintah Dewa Ciwa diterima di swarga loka, hanya karena di malam Ciwarartri itu, Lubdaka menyesali dosa-dosanya selama ini. Itupun sebuah penyesalan yang lahir dari keterpojokan dan pada suatu hari baik yang ia pun tak sadari.

Tampaknya cerita ini ingin menonjolkan sisi fantastis sebuah peristiwa yang mengabaikan kekuatan nalar, lalu diciptakan hanya menjadi sebuah simbol semata, entahlah. Sebuah simbol akan menjadi sia-sia belaka jika tak dipahami dan disublimasi dalam jiwa dan energi gerak. Atau, kisah Lubdaka akan menyandera satu gagasan besar sehebat Ciwarartri hanya menjadi sebuah identitas, yang setiap tahun mengumpulkan umat memenuhi tempat-tempat suci untuk begadang.

Spiritual, jika diamati, cenderung rasional. Berbeda dengan tradisi dan keyakinan yang kerap irrasional. Maka jika agama sering “bentrok” dengan sains, itu pastilah sisi tradisi sebuah agama, bukan aspek spiritualnya. Tradisi, umumnya merupakan kreasi manusia, yang kadang memang sejak awal telah dicemari motif manfaat untuk kelompok tertentu atau kebiasaan yang kadang rigid resisten untuk direformasi karena itu telah memberi zone nyaman untuk kelompok tertentu. Sementara, spiritual dan sains, keduanya ciptaan Tuhan yang umumnya selaras dan universal. Bagaimana mungkin dosa yang telah dilakukan puluhan tahun, dihapuskan dengan penyesalan semalam, yang bahkan tak disadari?  

Jika kita suka makan kolesterol yang enak bertahun-tahun, rasanya mustahil efeknya akan lenyap hanya dengan sebuah penyesalan sepanjang malam. Bahkan jika dikonversi, sekali saja makan siang yang mengandung lemak berlebih, nilai kalorinya baru bisa disetarakan dengan tiga kali jalan cepat non stop selama 45 menit. Begitulah sifat energi yang kekal, ia takkan pernah hilang dalam perhitungan metafisika, namun ia seakan-akan hilang saat energi yang berlawanan kekuatannya lebih besar. Dosa, dengan sangat baik diibaratkan bagaikan gula di dalam gelas yang berisi air, sementara airnya sendiri ibarat kebaikan. Semakin banyak ditambahkan air ke dalamnya, maka rasa manis makin memudar, namun janganlah pernah ragu, gula itu niscaya masih ada di dalam gelas.

Namun demikian, disamping otokritik ini perlu disampaikan, memang ada hal-hal yang menarik bisa kita petik dari kisah Lubdaka ini. Sebuah kesadaran, ia selalu dihargai dan dimuliakan. Tak peduli, kapan, di mana dan dengan cara apa pun ia tercipta. Pun kemuliaan tak menjadi monopoli sekelompok orang. Tak harus kaum brahmana atau yogi, ia pun memberi kesempatan kepada seorang pemburu yang tak kenal kasihan. Begitu pun, kisah seorang jiwa agung masyur yang bernama Mahatma Gandhi. Ia tidaklah seperti awathara Sri Kresna yang ditakdirkan sebagai juru selamat karena kesempurnaannya.

Dalam otobiografinya, Gandhi muda adalah seorang pencuri, kawin dalam usia dini dan berlaku keras kasar kepada anak-anaknya, hingga membuat istrinya sering mecucurkan air mata. Masa lalu boleh saja tetap ada, namun masa depan dapat memberinya warna baru. Demikianlah, berkat kesadaran memimpin dirinya sendiri secara mencengangkan, ia digelari sebagai Sang Jiwa Agung. Sudah pasti bukan hanya karena penyesalan akan masa lalunya belaka.

Tak dapat dipungkiri lagi, Hindu berlimpah filsafat adiluhung yang implisit dalam berbagai simbol. Kita bisa sebut contoh-contohnya dengan keyakinan penuh, perayaan-perayaan Ciwarartri, Saraswati atau Nyepi. Apakah tradisi-tradisi itu akan menjadi spiritual atau sekadar ritual belaka, sepenuhnya kembali kepada kita. Seperti halnya peringatan proklamasi, itu bukanlah wujud cinta tanah air yang esensi, ia baru sebatas identitas.

Cinta bangsa dan tanah air perlu berwujud dengan bekerja sepenuh hati sebagai seorang guru, dokter atau polisi. Atau ikhlas melayani sesama dan bersahabat baik dengan alam. Jika ritual adalah masa lalu, maka jadikanlah spiritual sebagai masa depan. Kalau tidak demikian, selamanya Ciwarartri hanya akan menjadi ritual begadang menemani Lubdaka semata.[T]

Tags: kesehatanLubdakasastraSiwaratriTanakung
Share178TweetSendShareSend
Previous Post

Teater Kalangan, Pertemuan Cerita, Kata Dan Tubuh

Next Post

Keluarga Saya di Desa Kayuputih Punya Tradisi Merayakan Imlek – Inilah Penyebabnya…

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Keluarga Saya di Desa Kayuputih Punya Tradisi Merayakan Imlek – Inilah Penyebabnya…

Keluarga Saya di Desa Kayuputih Punya Tradisi Merayakan Imlek – Inilah Penyebabnya…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co