24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selamat Jalan, Mbah Prapto: Kini, Tubuh Gerakmu Abadi

Agus Wiratama by Agus Wiratama
December 30, 2019
in Khas
Selamat Jalan, Mbah Prapto: Kini, Tubuh Gerakmu Abadi

Mbah Prapto (pakai topi, kiri) di sela-sela latihan bersama penulis di Bali

Setelah latihan Gerak di Tejakula, Buleleng, tepatnya di Candi Teja Amertha pada bulan Februari 2019, saya membonceng Mbah Prapto ke penginapkan di rumah temannya yang merupakan seorang pelukis, Nyoman Tusan. Di jalan saya bercerita tentang pengalaman latihan. Saya menceritakan pengalaman saya dengan daun-daun Ketapang yang gugur namun basah kuyup oleh air hujan.

Ketika latihan saya merasa sedih hingga hanyut melihat daun-daun ketapang yang gugur itu, kesedihan yang sepertinya ingin segera saya tanggalkan. Memang benar, ketika latihan saya langsung beralih fokus dari daun ke ombak pantai di hadapan Candi, seolah ingin pergi. Mbah Prapto kurang lebih berkata, “Terima dulu kesedihanmu, jangan pergi begitu saja. Kenali dan terima dengan iklas, setelah itu baru menuju situasi lain,” katanya di atas sepeda motor.

Pernah pula ketika belajar menerima dan memberi dari rekan workshop, saya bertanya dengan lugu tentang batu. Waktu itu latihannya adalah menerima hidup dari orang lain. Tubuh akan bergerak merespon sentuhan atau merespon gerak yang berjarak dari rekan. Saya bertanya, “Mbah, ketika saya bergerak, saya berpikir apakah kita bisa menerima hidup dari benda mati seperti batu misalnya?” Mbah Prapto tertawa dengan suara Khasnya kemudian menjawab, “bisa, tetapi sebelum itu, belajarlah dulu mendengar suara hati orang lain,” dengan suara mengecil yang seolah meledek.

Mbah Prapto atau yang bernama lengkap Suprapto Suryodarmo adalah seorang pria asal Solo yang menjadi guru gerak dan pendiri Padepokan Lemah Putih di Plesungan, karanganyar, Jawa Tengah. Di Bali, Mbah Prapto mendirikan sebuah candi yang disebut Candi Teja Amerta sebagai tempat latihan seni gerak sekaligus berlangsungnya ritual. Di tempat lain, panggung depan Pura Samuan Tiga dan Goa Gajah, Bedulu, Gianyar adalah tempat yang sering digunakan berlatih bersama murid-muridnya.

Ia mengajar tidak hanya di Indonesia, namun keliling dunia. Saya pun sempat bertemu dengan murid-muridnya. Mereka adalah orang-orang yang begitu terbuka. Sangat berbeda dengan turis-turis pada umumnya. Mereka datang untuk berlatih dan menjadi teman, bahkan ada yang berkata mereka merasa seperti keluarga. Salah satu murid Mbah Prapto ada yang bercerita pada saya bahwa sesungguhnya ia tidak mengikuti latihan itu secara penuh. Tetapi, karena masih ingin berkumpul dan diajak oleh teman-teman yang lain, ia lantas bergabung hingga akhir.

Saya tidak paham kedekatan seperti apa yang ditanamkan Mbah Prapto pada diri saya dan teman-teman yang sempat berlatih dengannya. Saya tidak terlalu lama bertemu dengan beliau, meski percakapan memang sering terjadi terutama di atas sepeda motor. Sebab, selama beberapa hari di Tejakula Buleleng, saya bertugas mengantar Mbah Prapto dari rumah Pak Tusan menuju Candi Teja Amerta. Sesekali dalam perjalanan itu, saya yang memulai obrolan dengan pertanyaan mengenai hal-hal tentang latihan.

Beberapa kali di atas motor memang saya yang memulai obrolan. Setiap latihan pagi, saya justru dibangunkan oleh Mbah Prapto. Masih melekat diingatan saya, ketika itu latihan dimulai pukul 04.30 wita. Saya masih nyenyak di atas Kasur di rumah Pak Tusan. Di pagi yang buta itu Mbah Prapto sudah memanggil-manggil dengan suaranya yang lembut. Saya tidak bisa bangun hanya dengan panggilan lembut seperti itu. Giliran Aleksander Gebe dan Nur Hidayatlah yang membangunkan saya dengan agak keras. Ketika sadar dan mendengar panggilan dari Mbah Prapto, saya langsung meloncat untuk membasahi tangan dan mengusap wajah, dengan mata yang masih setengah terbuka kemudian kami berangkat ke Candi.

ALeksander Gebe, seorang aktor dari Komunitas Berkat Yakin pernah berkata pada saya sambil tertawa, “yang latihan siapa, yang bangunin siapa,” katanya.

Pernah pula suatu kali, Mbah Prapto mengejek saya. Ketika itu saya sibuk bergerak dan tubuh merasa sangat lelah. Tanpa saya sadari, mata saya terus menghadap ke bawah sehingga wajah tak terlihat oleh orang sekitar saking fokusnya menunduk. Mbah Prapto memanggil saya, “Gimana Gus?, Gus?” kemudian saya jawab, “Iya, Mbah?”, “Gimana? Sudah ketemu jangkriknya?”. Seketika wajah saya menjadi merah oleh ucapan itu, sementara beberapa teman yang mendengar dan paham, langsung cengar-cengir tertawa melihat saya.

Latihan dengan Mbah Prapto sungguh tidak dapat saya rumuskan dalam beberapa kata. Tapi sangat melekat hingga hari ini. Mungkin karena usaha mendekatkan diri dengan ruang dan situasi yang dibangun membuat kenangan menjadi begitu kuat menancap di kepala saya. Barangkali pula, karena konsep gerak yang tidak hanya untuk pertunjukkan tetapi bisa digunakan sehari-hari. Latihan Mbah Prapto bisa dilakukan sendiri, “sederhana saja” katanya, “Cukup mengingat napas setiap hari”.

Hingga hari ini, saya masih melakukan latihan berdasar hal-hal yang didapat dari  workshop Mbah Prapto juga tambahan dari teman yang juga sama sumbernya. Latihan dengan metode seperti itu membuat saya selalu terbayang ketika workshop berlangsung. Mungkin itu salah satu alasan sehingga, tepat 6 hari yang lalu saya bermimpi bertemu Mbah Prapto di antara jurang dangkal dengan rimbunan pohon raksasa di dekat rumah. Beliau tak melihat saya. Saya mengejarnya hingga terpeleset di tanah miring yang licin. Saya hampir celaka jika saja tidak perpegangan di antara ranting yang bisa saya raih. Namun, Beliau tak juga bisa saya sapa karena saya dihadang seseorang.

Pagi hari pada tanggal 29 Desember 2019 sekitar pukul 04.00, saya membuka Facebook. Saya dibuat kaget dengan beberapa status yang mengatakan meninggalnya Mbah Prapto hari itu pada umur 72 tahun. Pria dengan postur tubuh yang tidak besar dan berumur lebih dari 70 tahun itu sempat membuat saya kagum dengan kebugarannya. Ketika latihan di Goa Gajah Bedulu misalnya, dari tangga paling atas hingga kolam yang berada paling bawah Mbah Prapto bisa naik dan turun tanpa bantuan orang sama sekali, bahkan sampai di bawah mbah prapto masih bisa menari di antara tangga.

Bagaimana saya tidak terkejut mendengar kabar seperti ini mengingat kebugarannya ketika terakhir kali bertemu. Terlebih sempat pula saya mendengar kabar dari Ibed Surgana Yuga, seorang Sutradara di Kalanari Theatre Movement asal Jembrana Bali yang tinggal di Jogja bahwa pada bulan Februari 2020, Mbah Prapto berencana ke Bali.

Tapi sekarang, guru gerak yang mengenalkan saya dengan Joged Amertha ini sudah mencapai gerak abadinya. Pengalaman dengan daun Ketapang di Tejakula harus benar-benar saya gunakan saat ini. “Mungkin kau akan tertawa lagi, Mbah, karena saya baru paham bagaimana cara menerima hidup dari yang mati” Terima kasih, Selamat jalan, Mbah Prapto. kini gerakmu hidup di kepala saya. [T]

Tags: in memoriamTeater
Share111TweetSendShareSend
Previous Post

Kelola Duit 300 Juta, Pusing Juga Susun APBDes – [Cerita Kecil “Panyarikan Desa Adat”]

Next Post

Mari Tentukan Sukses Kita Untuk 2020

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Mari Tentukan Sukses Kita Untuk 2020

Mari Tentukan Sukses Kita Untuk 2020

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co