3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kelola Duit 300 Juta, Pusing Juga Susun APBDes – [Cerita Kecil “Panyarikan Desa Adat”]

Wayan Junaedy by Wayan Junaedy
December 30, 2019
in Khas
Kelola Duit 300 Juta, Pusing Juga Susun APBDes – [Cerita Kecil “Panyarikan Desa Adat”]

Anak-anak belajar menabuh, salah satu kegiatan yang dirancang dalam APBDes di bidang Pawongan

Kelar sudah. Kerja berhari-hari yang memusingkan kepala, sudah hampir selesai. Palu sudah diketok. Walaupun malam itu, di wantilan Pura Puseh lan Desa, saat paruman antara Bandesa Adat dengan Sabha Desa untuk pengesahan APBDes Adat, tidak ada palu yang diketok. Karena memang tradisi kita pada rapat-rapat di desa adat dengan warga atau yang disebut krama tidak pernah mengesahkan hasil rapat dengan palu, layaknya sebuah sidang paripurna di lembaga legislatif…hehehe

Yang jelas, saya bisa sedikit bernafas lega sekarang. Kepala saya tidak pusing lagi. Tidur saya mungkin akan lebih nyaman. Kerja berat dan tanggung jawab menyusun APBDes Adat sudah selesai. Sudah di print menjadi 7 jilid, dan siap diserahkan kepada pihak terkait di pemerintahan. Malam itu kami beramai-ramai tanda tangan; Bandesa Adat, saya sebagai penyarikan, dan tujuh orang anggota Sabha Desa. Oh ya, Sabha Desa adalah lembaga pengawas dan partner kerja bagi Bandesa Adat untuk mengambil sebuah keputusan strategis, layaknya seperti BPD di Desa Dinas, atau lembaga legislatif di dalam sebuah negara.

Kalau dilihat dari strukturnya, Desa Adat adalah miniatur sebuah negara. Ada Bandesa Adat sebagai pucuk pimpinan dan prajuru adat yang membantu tugas-tugas beliau. Ada Sabha Desa  sebagai dewan pengawas, layaknya sebagai legislatif. Ada Kerta Desa sebagai lembaga yudikatif, sekaligus dewan pertimbangan, yang berwenang untuk menengahi sebuah perkara di lingkungan desa adat, dan juga punya kewenangan memberikan rekomendasi memberhentikan Bandesa Adat kalau melakukan perbuatan tercela, lewat  Paruman Desa Adat. Kalau dilihat strukturnya, Desa Adat layak disebut sebagai negara kecil. Seperti saudara saya pernah bilang: “negara dalam sebuah negara.”

Dan pertama dalam sejarah, Desa Adat diberi kewenangan mengelola dana secara mandiri. Seperti juga pada sebuah desa dinas di seluruh Indonesia yang mendapat kucuran dana dari APBN miliaran rupiah, Desa Adat sekarang mendapatkan limpahan dana dari pemerintah provinsi sebesar 300 juta. Nilai yang lumayan besar. Saya yang kebetulan sebagai panyarikan diberi tugas menyusun program-program prioritas, dibagi menjadi tiga bagian; program untuk Parahyangan, Pawongan dan Palemahan.

Mungkin bagi orang lain, ini adalah pekerjaan CGT (cenik gae to). Tapi bagi saya ini adalah pekerjaan berat yang memusingkan kepala. Saya berusaha tidak panik. Awalnya memang terasa sangat rumit, tapi setelah dipelajari, dan sering-sering konsultasi dengan pengurus desa adat lain, akhirnya APBDes kami pun tersusun dengan baik. Rapat pertama dengan 7 anggota Sabha Desa, sebagian besar sudah bisa menerima dengan sejumlah hal yang harus direvisi. Dan tadi malam, Sabtu 28 Desember 2019, APBDes Adat kami pun disahkan dengan suara bulat, di wantilan Desa Adat Kelaci, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali.  

Kilas balik kembali ke beberapa bulan saat saya terpilih sebagai sekretaris adat atau panyarikan. Malam itu, pada paruman di bale banjar, setelah bandesa adat terpilih secara demokratis lewat jalan voting, tiba-tiba nama saya disebut untuk jadi sekretaris adat. Dan semua warga setuju secara aklamasi. Saya yang duduk di pojokan bale banjar tersentak kaget. Tidak bisa berkata apa-apa. Lidah saya kelu. Kata-kata pembelaan tidak bisa keluar dari bibir. Terbayang sudah tugas yang berat. Kalau sudah ditunjuk, susah untuk mengelak, kecuali dengan argumentasi yang masuk akal dan diterima oleh warga. Saya berusaha mencari-cari alasan. Tapi pikiran saya mendadak blank. Dan saya berjalan lemas pulang dari paruman. 

Di rumah istri marah-marah. Karena menjadi prajuru adat, yang sibuk bukan si lelaki saja, tapi suami-istri harus ikut ngayah. Apalagi pada saat persiapan pujawali, upacara agama di Pura Tri Kahyangan Tiga, bisa berhari-hari waktu tersita untuk ngayah. Bagaimana istri saya yang kebetulan bekerja sebagai ASN, tentu tidak bisa libur sering-sering.

Tapi apalah daya. Sudah ditunjuk. Dan dipercaya sebagai pengurus adat bukanlah sebagai hukuman, tapi kepercayaan dari masyarakat yang harus kita emban.  Dan kepercayaan memang harus kita hormati.

Pelan-pelan saya belajar. Masih sering gugup ketika berhadapan dengan masyarakat. Belum percaya diri apakah bisa mengemban amanah itu. Tapi niat yang baik, selalu berakhir dengan kebaikan pula. Awalnya bingung, pelan-pelan saya bisa memahami. Dan terasa asyik juga ketika ngayah. Berhari-hari ngayah di pura, di tempat yang suci, pikiran jadi jernih. Sekarang lebih banyak waktu sembahyang. Dulu saat purnama-tilem, saya orang yang paling malas sembahyang. Tapi sekarang saya harus dituntut  hadir untuk mengurus upacara, dan ikut sembahyang pula dengan perasaan hening. Terasa enak gradag-grudug dengan teman-teman sesama prajuru, pekedek-pekenyum saat ngayah.

Kemudian munculah barang baru itu. Desa adat harus menyusun APBDes sendiri, layaknya desa dinas. Pusing lagi saya. Seorang teman mengirimi saya Pergub tentang Desa Adat lewat file PDF, yang kemudian saya baca dengan hati dag-dig-dug. Kami sekarang harus mengurus dana yang berasal dari pemerintah. Sedikit saja kesalahan prosedur, ya bisa diseret ke pengadilan. Duh, ngeri….

Tapi dengan pikiran jernih, lebih banyak bertanya, berkonsultasi, tukar pikiran dengan teman-teman prajuru tentang program-program yang akan kita ajukan, akhirnya konsep APBDes Adat itu tersusun baik. Tinggal mengalokasikan anggaran-anggaran itu agar hasilnya balance dan masuk akal.

Seperti yang saya cita-citakan dari dulu untuk membentuk sekaa gong anak-anak, sekaranglah kesempatan itu. Saya menyisihkan beberapa anggaran untuk membentuk sekaa gong ini, tentunya setelah berkonsultasi dengan bandesa adat. Kebetulan juga hal ini sudah diurai dalam juknis.


Kegiatan belajar menabuh untuk anak-anak laki dan perempuan sebagai salah satu kegiatan Pawongan di Desa Adat

Betapa pentingnya pemberdayaan manusia, pawongan. Apalagi anak-anak sebagai generasi penerus yang akan mengurus kita-kita ini di masa tua. Megambel, di samping menghibur juga bisa menstimulasi agar otak kanan-kiri seorang anak menjadi seimbang. Belum tentu dengan megambel suatu ketika dia akan menjadi seorang penabuh. Bisa saja dia akan jadi dokter, arsitek, atau menteri. Setidaknya kegiatan seni di masa kecil akan menghaluskan jiwanya sampai dewasa. Dan gayung pun bersambut. Dana dari APBD Semesta belum cair, sekaa gong anak-anak ini sudah terbentuk, bahkan sekaa gong anak-anak putra dan putri. Mereka bersemangat. Latihan sudah dimulai. Karena dana belum cair, tentunya memakai kas adat sendiri dulu.

Kalau saya boleh usul melalui tulisan ini, ke depan sebaiknya ada juknis yang mengatur tentang perpustakaan desa. Literasi kita yang masih rendah, siapa tahu dengan menyiapkan buku-buku agama, ditaruh rapi dalam beberapa rak di bale banjar, kegiatan membaca bisa dimulai sejak dini. Perpustakaan di bale banjar-bale banjar, terus ada fasilitas tenis meja dan catur. Ada anak-anak yang bermain tenis meja, bermain catur, dan sebagian mungkin mulai membaca Bagawadgita. Atau kalau tidak Bagawadgita, setidaknya buku-buku dongeng yang berisi pelajaran budi pekerti. Yah, itu yang saya bayangkan dari sekarang…hehehe.

Ternyata, sekarang saya sudah mulai bisa menikmati mengabdi sebagai panyarikan. Apalagi tahun 2020 ini, prajuru adat sudah mulai bisa menikmati insentif dari provinsi, yang besarannya sudah diatur dalam juknis. Walau tidak sebesar UMP, setidaknya bisa mengganti biaya operasional kita sebagai prajuru hehehe…..

Setidaknya ke depan nanti, kalau masa bakti saya berakhir, tugas sebagai prajuru tidak lagi dihindari. [T]

Tags: balidesa adatkebudayaan
Share208TweetSendShareSend
Previous Post

Refleksi Tahun Baru: Jangan Sampai Hilang Arah dan Buta Arah

Next Post

Selamat Jalan, Mbah Prapto: Kini, Tubuh Gerakmu Abadi

Wayan Junaedy

Wayan Junaedy

Lahir dan tinggal di kawasan Taman Margarana, Marga, Tabanan. Suka gowes, suka menulis, suka berteman

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Selamat Jalan, Mbah Prapto: Kini, Tubuh Gerakmu Abadi

Selamat Jalan, Mbah Prapto: Kini, Tubuh Gerakmu Abadi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co