25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kelola Duit 300 Juta, Pusing Juga Susun APBDes – [Cerita Kecil “Panyarikan Desa Adat”]

Wayan Junaedy by Wayan Junaedy
December 30, 2019
in Khas
Kelola Duit 300 Juta, Pusing Juga Susun APBDes – [Cerita Kecil “Panyarikan Desa Adat”]

Anak-anak belajar menabuh, salah satu kegiatan yang dirancang dalam APBDes di bidang Pawongan

Kelar sudah. Kerja berhari-hari yang memusingkan kepala, sudah hampir selesai. Palu sudah diketok. Walaupun malam itu, di wantilan Pura Puseh lan Desa, saat paruman antara Bandesa Adat dengan Sabha Desa untuk pengesahan APBDes Adat, tidak ada palu yang diketok. Karena memang tradisi kita pada rapat-rapat di desa adat dengan warga atau yang disebut krama tidak pernah mengesahkan hasil rapat dengan palu, layaknya sebuah sidang paripurna di lembaga legislatif…hehehe

Yang jelas, saya bisa sedikit bernafas lega sekarang. Kepala saya tidak pusing lagi. Tidur saya mungkin akan lebih nyaman. Kerja berat dan tanggung jawab menyusun APBDes Adat sudah selesai. Sudah di print menjadi 7 jilid, dan siap diserahkan kepada pihak terkait di pemerintahan. Malam itu kami beramai-ramai tanda tangan; Bandesa Adat, saya sebagai penyarikan, dan tujuh orang anggota Sabha Desa. Oh ya, Sabha Desa adalah lembaga pengawas dan partner kerja bagi Bandesa Adat untuk mengambil sebuah keputusan strategis, layaknya seperti BPD di Desa Dinas, atau lembaga legislatif di dalam sebuah negara.

Kalau dilihat dari strukturnya, Desa Adat adalah miniatur sebuah negara. Ada Bandesa Adat sebagai pucuk pimpinan dan prajuru adat yang membantu tugas-tugas beliau. Ada Sabha Desa  sebagai dewan pengawas, layaknya sebagai legislatif. Ada Kerta Desa sebagai lembaga yudikatif, sekaligus dewan pertimbangan, yang berwenang untuk menengahi sebuah perkara di lingkungan desa adat, dan juga punya kewenangan memberikan rekomendasi memberhentikan Bandesa Adat kalau melakukan perbuatan tercela, lewat  Paruman Desa Adat. Kalau dilihat strukturnya, Desa Adat layak disebut sebagai negara kecil. Seperti saudara saya pernah bilang: “negara dalam sebuah negara.”

Dan pertama dalam sejarah, Desa Adat diberi kewenangan mengelola dana secara mandiri. Seperti juga pada sebuah desa dinas di seluruh Indonesia yang mendapat kucuran dana dari APBN miliaran rupiah, Desa Adat sekarang mendapatkan limpahan dana dari pemerintah provinsi sebesar 300 juta. Nilai yang lumayan besar. Saya yang kebetulan sebagai panyarikan diberi tugas menyusun program-program prioritas, dibagi menjadi tiga bagian; program untuk Parahyangan, Pawongan dan Palemahan.

Mungkin bagi orang lain, ini adalah pekerjaan CGT (cenik gae to). Tapi bagi saya ini adalah pekerjaan berat yang memusingkan kepala. Saya berusaha tidak panik. Awalnya memang terasa sangat rumit, tapi setelah dipelajari, dan sering-sering konsultasi dengan pengurus desa adat lain, akhirnya APBDes kami pun tersusun dengan baik. Rapat pertama dengan 7 anggota Sabha Desa, sebagian besar sudah bisa menerima dengan sejumlah hal yang harus direvisi. Dan tadi malam, Sabtu 28 Desember 2019, APBDes Adat kami pun disahkan dengan suara bulat, di wantilan Desa Adat Kelaci, Kecamatan Marga, Tabanan, Bali.  

Kilas balik kembali ke beberapa bulan saat saya terpilih sebagai sekretaris adat atau panyarikan. Malam itu, pada paruman di bale banjar, setelah bandesa adat terpilih secara demokratis lewat jalan voting, tiba-tiba nama saya disebut untuk jadi sekretaris adat. Dan semua warga setuju secara aklamasi. Saya yang duduk di pojokan bale banjar tersentak kaget. Tidak bisa berkata apa-apa. Lidah saya kelu. Kata-kata pembelaan tidak bisa keluar dari bibir. Terbayang sudah tugas yang berat. Kalau sudah ditunjuk, susah untuk mengelak, kecuali dengan argumentasi yang masuk akal dan diterima oleh warga. Saya berusaha mencari-cari alasan. Tapi pikiran saya mendadak blank. Dan saya berjalan lemas pulang dari paruman. 

Di rumah istri marah-marah. Karena menjadi prajuru adat, yang sibuk bukan si lelaki saja, tapi suami-istri harus ikut ngayah. Apalagi pada saat persiapan pujawali, upacara agama di Pura Tri Kahyangan Tiga, bisa berhari-hari waktu tersita untuk ngayah. Bagaimana istri saya yang kebetulan bekerja sebagai ASN, tentu tidak bisa libur sering-sering.

Tapi apalah daya. Sudah ditunjuk. Dan dipercaya sebagai pengurus adat bukanlah sebagai hukuman, tapi kepercayaan dari masyarakat yang harus kita emban.  Dan kepercayaan memang harus kita hormati.

Pelan-pelan saya belajar. Masih sering gugup ketika berhadapan dengan masyarakat. Belum percaya diri apakah bisa mengemban amanah itu. Tapi niat yang baik, selalu berakhir dengan kebaikan pula. Awalnya bingung, pelan-pelan saya bisa memahami. Dan terasa asyik juga ketika ngayah. Berhari-hari ngayah di pura, di tempat yang suci, pikiran jadi jernih. Sekarang lebih banyak waktu sembahyang. Dulu saat purnama-tilem, saya orang yang paling malas sembahyang. Tapi sekarang saya harus dituntut  hadir untuk mengurus upacara, dan ikut sembahyang pula dengan perasaan hening. Terasa enak gradag-grudug dengan teman-teman sesama prajuru, pekedek-pekenyum saat ngayah.

Kemudian munculah barang baru itu. Desa adat harus menyusun APBDes sendiri, layaknya desa dinas. Pusing lagi saya. Seorang teman mengirimi saya Pergub tentang Desa Adat lewat file PDF, yang kemudian saya baca dengan hati dag-dig-dug. Kami sekarang harus mengurus dana yang berasal dari pemerintah. Sedikit saja kesalahan prosedur, ya bisa diseret ke pengadilan. Duh, ngeri….

Tapi dengan pikiran jernih, lebih banyak bertanya, berkonsultasi, tukar pikiran dengan teman-teman prajuru tentang program-program yang akan kita ajukan, akhirnya konsep APBDes Adat itu tersusun baik. Tinggal mengalokasikan anggaran-anggaran itu agar hasilnya balance dan masuk akal.

Seperti yang saya cita-citakan dari dulu untuk membentuk sekaa gong anak-anak, sekaranglah kesempatan itu. Saya menyisihkan beberapa anggaran untuk membentuk sekaa gong ini, tentunya setelah berkonsultasi dengan bandesa adat. Kebetulan juga hal ini sudah diurai dalam juknis.


Kegiatan belajar menabuh untuk anak-anak laki dan perempuan sebagai salah satu kegiatan Pawongan di Desa Adat

Betapa pentingnya pemberdayaan manusia, pawongan. Apalagi anak-anak sebagai generasi penerus yang akan mengurus kita-kita ini di masa tua. Megambel, di samping menghibur juga bisa menstimulasi agar otak kanan-kiri seorang anak menjadi seimbang. Belum tentu dengan megambel suatu ketika dia akan menjadi seorang penabuh. Bisa saja dia akan jadi dokter, arsitek, atau menteri. Setidaknya kegiatan seni di masa kecil akan menghaluskan jiwanya sampai dewasa. Dan gayung pun bersambut. Dana dari APBD Semesta belum cair, sekaa gong anak-anak ini sudah terbentuk, bahkan sekaa gong anak-anak putra dan putri. Mereka bersemangat. Latihan sudah dimulai. Karena dana belum cair, tentunya memakai kas adat sendiri dulu.

Kalau saya boleh usul melalui tulisan ini, ke depan sebaiknya ada juknis yang mengatur tentang perpustakaan desa. Literasi kita yang masih rendah, siapa tahu dengan menyiapkan buku-buku agama, ditaruh rapi dalam beberapa rak di bale banjar, kegiatan membaca bisa dimulai sejak dini. Perpustakaan di bale banjar-bale banjar, terus ada fasilitas tenis meja dan catur. Ada anak-anak yang bermain tenis meja, bermain catur, dan sebagian mungkin mulai membaca Bagawadgita. Atau kalau tidak Bagawadgita, setidaknya buku-buku dongeng yang berisi pelajaran budi pekerti. Yah, itu yang saya bayangkan dari sekarang…hehehe.

Ternyata, sekarang saya sudah mulai bisa menikmati mengabdi sebagai panyarikan. Apalagi tahun 2020 ini, prajuru adat sudah mulai bisa menikmati insentif dari provinsi, yang besarannya sudah diatur dalam juknis. Walau tidak sebesar UMP, setidaknya bisa mengganti biaya operasional kita sebagai prajuru hehehe…..

Setidaknya ke depan nanti, kalau masa bakti saya berakhir, tugas sebagai prajuru tidak lagi dihindari. [T]

Tags: balidesa adatkebudayaan
Share208TweetSendShareSend
Previous Post

Refleksi Tahun Baru: Jangan Sampai Hilang Arah dan Buta Arah

Next Post

Selamat Jalan, Mbah Prapto: Kini, Tubuh Gerakmu Abadi

Wayan Junaedy

Wayan Junaedy

Lahir dan tinggal di kawasan Taman Margarana, Marga, Tabanan. Suka gowes, suka menulis, suka berteman

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Selamat Jalan, Mbah Prapto: Kini, Tubuh Gerakmu Abadi

Selamat Jalan, Mbah Prapto: Kini, Tubuh Gerakmu Abadi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co