12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Tahun Baru: Jangan Sampai Hilang Arah dan Buta Arah

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 29, 2019
in Esai
Omong Kutang Kutang

Kadek Sonia Piscayanti

Dalam dunia bahasa yang standar dan normal, arah didefinisikan dengan jelas. Utara, Selatan, Timur, Barat, Timur Laut, Barat Laut, dan seterusnya. Jelas dan akurat sebagai pedoman. Tapi di rumah suami saya di Tabanan, arah tidaklah sederhana seperti arah yang saya ketahui. Arah adalah teks dan konteks. Arah adalah tujuan. Arah adalah sistem kekerabatan. Arah adalah perspektif siapa yang mengucapkan dan siapa yang dimaksud.

Arah bukanlah single concept yang dapat diterima sebagai kebenaran umum, tapi spesifik, khusus, spesial tanpa telur.

Secara umum bahasa Bali arah yang saya tahu adalah arah yang standar normal 4 arah mata angin. Maksimal sekali 8. Saya dilahirkan dan dibesarkan di Utara. Laut adalah selalu Utara bagi saya. Dan gunung adalah selalu Selatan bagi saya.  Seumur hidup percaya bahwa ya Kelod itu Utara. Kangin itu Timur. Kaja itu Selatan. Dauh itu Barat. Dipecah menjadi 8 masih bisa. Kelod Kangin. Kelod Kauh. Kelod Kaja. Dan seterusnya.

Tapi arah di Tabanan bukanlah konsep arah di Utara versi keyakinan saya. Sejak menikah saya ditanya kalau akan ke Buleleng sebagai “bin pidan ngajanang?” Jadi ke Utara maksudnya adalah ke Selatan. Masih bingung? Ya ke Utara dalam konsep saya artinya Kelod tapi disebut Kaja dalam konsep di Tabanan karena mereka mengacu bukit. Jadi demikianlah.

Saya selalu hilang arah di Tabanan. Konsep Utara Selatan membuat arah saya kacau. Juga timur barat dan semuanya.

Arah Berkaitan dengan Tali Persaudaraan

Saya masih ingat ketika saya ditertawakan karena tak tahu arah. Disuruh ibu mertua ke saudara di timur. Saya ke timur tapi lewat satu rumah. Jadi saya salah membaca arah karena timur bukanlah timur semata. Timur adalah arah general, tapi spesifiknya mengacu pada “siapa yang saya tuju”, di perspektif yang dimaksud si pembicara. Membingungkan? Tentulah.

Beginilah contohnya. “Kemu malu li kangie. Abe ne.” Artinya, jalanlah ke (rumah) timur. Bawa ini.

Lalu jalanlah saya ke timur. Dan salahlah saya. Bukan timur itu maksudnya tapi timur satu lagi.

Timur yang dimaksud adalah rumah “saudara kandung ibu” atau “bibi suami saya” yang rumahnya di seberang timur jalan. Dalam pemahaman ibu mertua, saya dianggap sudah pasti tahu bahwa timur yang dimaksud adalah “rumah saudara ibu”. Artinya, tidak mungkin membawa satu benda ke rumah orang lain yang bukan saudara.

Jadi, jika orang lain atau tetangga sebelah menyebut rumah likangi (timur), yang dimaksud pastilah bukan “sauadara ibu saya”, melainkan adalah saudara mereka sendiri yang rumahnya di timur. Jadi, jika mendengar seseorang mengatakan rumah likangi (rumah di timur), lihat dulu siapa saudaranya di timur, karena rumah saudaranya itulah yang dimaksud.

Dengan begitu, arah memiliki pertalian saudara. Lama-lama saya hapal, dalam konteks pembicaraan keluarga, upacara, dan sejenisnya, arah yang disebut ibu saya adalah rumah saudara-saudara kami. Jika ibu menyuruh membawa makanan nganginang (kalau likangi artinya timur dekat rumah, maka nganginang artinya timur yang jauh), maka saya akan tahu bahwa nganginang artinya rumah bajang ibu atau rumah orang tua kandung ibu yang ada di timur.

Jika ibu bilang kaja kangin, artinya adalah rumah adik kandung ibu yang rumahnya memang kaja-kangin (timur laut). Jika ibu bilang kelod-kangin (tenggara) maka yang dimaksud ibu adalah rumah kakak kandung ibu yang memang lokasinya pada arah tenggara dari rumah saya.

Nah, sebutan itu berbeda jika dihitung dari rumah saudara ibu yang lain. Jika kita kebetulan berada di rumah bajang ibu, maka rumah untuk kakak kandung ibu akan disebut bedelod (di selatan). Cukup bilang bedelod, maka semua saudara besar ibu akan paham rumah siapa yang dimaksud.

Bingung bukan?          

Spesifik Arah adalah Kunci

Perbedaan arah di Tabanan dengan daerah lain, misalnya daerah saya di Buleleng sangat mencolok. Di Tabanan khususnya di Marga, spesifik arah memegang kendali bahkan kunci.

Timur (Kangin) saja bisa dibahasakan menjadi

  • Li kangie artinya timur sedikit atau sebelah timur
  • Duur Kangin artinya timur atas (berarti letak geografis rumahnya di timur bisa di atas jalan, di atas sungai, di atas jembatan atau di atas lainnya)
  • Tuwun Kangin artinya timur turun (berarti letak geografis rumahnya di timur bisa di bawah jalan, di bawah sungai, di bawah jembatan atau di bawah pohon besar)
  • Bedangin artinya di timur secara umum, agak jauh dari rumah, misalnya di sebelah jalan besar atau di balik jalan besar
  • Kelod Kangin, artinya Selatan Timur. Antara Timur dan Selatan.
  • Kaja Kangin, artinya Utara Timur. Antara Utara dan Timur.
  • Dan Kangin lainnya

Saya saja tidak tahu berapa versi Kangin lagi yang ada. Itu baru timur.

Kalau bicara Selatan. Sama saja

  • Li Kelode
  • Bedelod
  • Duwur Kelod
  • Tuwun Kelod
  • Kelod Jauh
  • Kaja Kelod

Dan seterusnya jadi jika ada 8 arah mata angin secara umum dan standar, di Tabanan, khususnya di Marga tempat mertua saya mukim, delapan arah mata angin itu bisa diturunkan menjadi minimal 64 arah mata angin dan bila dimaksimalkan menjadi ratusan sampai tak berhingga.

Arah, sekali lagi, adalah pengetahuan yang harus memadukan konteks dan budaya kekerabatan. Kita harus tahu siapa keluarga kita dan dimana rumahnya. Jika punya seratus kerabat, berarti ada seratus arah yang harus saya ingat. Inilah yang kadang membuat saya sering remidi. Keluarga suami itu besar sekali.

Keluarga inti melahirkan keluarga inti kedua lalu menyebar menjadi keluarga inti ketiga dan seterusnya. Keluarga inti kedua bisa melahirkan inti inti lainnya jadi inti kuadrat. Keluarga bapak mertua dan ibu mertua jika digabungkan hampir dua ratusan orang jumlahnya, sekitar tiga puluhan KK. Akhirnya pernikahan adalah satu sistem kecil yang dikeroyok sistem arah yang besar sekali. Sementara saya, adalah remah remah rengginang yang mengapung di antara sistem itu. Saya dimana. Disini. Disini dimana. Itulah. Mungkin di kaje kelod. Atau di kangin kauh. Atau kaja kangin. Atau di antara seratus arah yang diciptakan orang itu.

Maka tersesatlah saya. Kadang saya salah meletakkan Banten di sawah orang lain, atau di kebun orang lain, atau yang sering saya salah adalah meletakkan barang barang juga. Saya merasa selalu salah. Ini sudah benar disini? Apa salah disini dan sebagainya.

Sejak 12 tahun lalu hingga sekarang, saya belum juga tahu pasti semua arah. Tapi anggaplah saya bodoh atau sejenisnya. Keseluruhan konsep arah ini membuat saya selalu belajar, bahwa arah itu sebenarnya hanya imajinasi. Yang tak pernah berawal. Dan juga tak pernah berakhir.

Barangkali, anggaplah barangkali, arah itu ada ketika kita siap belajar berjalan menuju tujuan yang mungkin terus berubah sesuai kebutuhan.

Saya mungkin membela diri. Tapi bagi orang seperti saya yang kerap berurusan dengan arah, terutama kalau ke luar negeri sendiri, untuk belajar, saya anggap arah adalah motivasi bergerak. Sepanjang kita bergerak berarti kita menuju sebuah arah. Entah benar entah salah. Paling tidak ada pelajaran.

Jadi resolusi Tahun Baru saya adalah tetap menjaga arah. Mencari arah. Menjadi arah. Meskipun arah bisa jadi hanya imajinasi. [T]

Tags: BahasaBahasa Balibahasa daerahBahasa Indonesiabalitabanan
Share74TweetSendShareSend
Previous Post

Tabu Project: Dialog Tentang Tabu yang Rancu

Next Post

Kelola Duit 300 Juta, Pusing Juga Susun APBDes – [Cerita Kecil “Panyarikan Desa Adat”]

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Kelola Duit 300 Juta, Pusing Juga Susun APBDes – [Cerita Kecil “Panyarikan Desa Adat”]

Kelola Duit 300 Juta, Pusing Juga Susun APBDes - [Cerita Kecil “Panyarikan Desa Adat”]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co