2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Tahun Baru: Jangan Sampai Hilang Arah dan Buta Arah

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 29, 2019
in Esai
Omong Kutang Kutang

Kadek Sonia Piscayanti

Dalam dunia bahasa yang standar dan normal, arah didefinisikan dengan jelas. Utara, Selatan, Timur, Barat, Timur Laut, Barat Laut, dan seterusnya. Jelas dan akurat sebagai pedoman. Tapi di rumah suami saya di Tabanan, arah tidaklah sederhana seperti arah yang saya ketahui. Arah adalah teks dan konteks. Arah adalah tujuan. Arah adalah sistem kekerabatan. Arah adalah perspektif siapa yang mengucapkan dan siapa yang dimaksud.

Arah bukanlah single concept yang dapat diterima sebagai kebenaran umum, tapi spesifik, khusus, spesial tanpa telur.

Secara umum bahasa Bali arah yang saya tahu adalah arah yang standar normal 4 arah mata angin. Maksimal sekali 8. Saya dilahirkan dan dibesarkan di Utara. Laut adalah selalu Utara bagi saya. Dan gunung adalah selalu Selatan bagi saya.  Seumur hidup percaya bahwa ya Kelod itu Utara. Kangin itu Timur. Kaja itu Selatan. Dauh itu Barat. Dipecah menjadi 8 masih bisa. Kelod Kangin. Kelod Kauh. Kelod Kaja. Dan seterusnya.

Tapi arah di Tabanan bukanlah konsep arah di Utara versi keyakinan saya. Sejak menikah saya ditanya kalau akan ke Buleleng sebagai “bin pidan ngajanang?” Jadi ke Utara maksudnya adalah ke Selatan. Masih bingung? Ya ke Utara dalam konsep saya artinya Kelod tapi disebut Kaja dalam konsep di Tabanan karena mereka mengacu bukit. Jadi demikianlah.

Saya selalu hilang arah di Tabanan. Konsep Utara Selatan membuat arah saya kacau. Juga timur barat dan semuanya.

Arah Berkaitan dengan Tali Persaudaraan

Saya masih ingat ketika saya ditertawakan karena tak tahu arah. Disuruh ibu mertua ke saudara di timur. Saya ke timur tapi lewat satu rumah. Jadi saya salah membaca arah karena timur bukanlah timur semata. Timur adalah arah general, tapi spesifiknya mengacu pada “siapa yang saya tuju”, di perspektif yang dimaksud si pembicara. Membingungkan? Tentulah.

Beginilah contohnya. “Kemu malu li kangie. Abe ne.” Artinya, jalanlah ke (rumah) timur. Bawa ini.

Lalu jalanlah saya ke timur. Dan salahlah saya. Bukan timur itu maksudnya tapi timur satu lagi.

Timur yang dimaksud adalah rumah “saudara kandung ibu” atau “bibi suami saya” yang rumahnya di seberang timur jalan. Dalam pemahaman ibu mertua, saya dianggap sudah pasti tahu bahwa timur yang dimaksud adalah “rumah saudara ibu”. Artinya, tidak mungkin membawa satu benda ke rumah orang lain yang bukan saudara.

Jadi, jika orang lain atau tetangga sebelah menyebut rumah likangi (timur), yang dimaksud pastilah bukan “sauadara ibu saya”, melainkan adalah saudara mereka sendiri yang rumahnya di timur. Jadi, jika mendengar seseorang mengatakan rumah likangi (rumah di timur), lihat dulu siapa saudaranya di timur, karena rumah saudaranya itulah yang dimaksud.

Dengan begitu, arah memiliki pertalian saudara. Lama-lama saya hapal, dalam konteks pembicaraan keluarga, upacara, dan sejenisnya, arah yang disebut ibu saya adalah rumah saudara-saudara kami. Jika ibu menyuruh membawa makanan nganginang (kalau likangi artinya timur dekat rumah, maka nganginang artinya timur yang jauh), maka saya akan tahu bahwa nganginang artinya rumah bajang ibu atau rumah orang tua kandung ibu yang ada di timur.

Jika ibu bilang kaja kangin, artinya adalah rumah adik kandung ibu yang rumahnya memang kaja-kangin (timur laut). Jika ibu bilang kelod-kangin (tenggara) maka yang dimaksud ibu adalah rumah kakak kandung ibu yang memang lokasinya pada arah tenggara dari rumah saya.

Nah, sebutan itu berbeda jika dihitung dari rumah saudara ibu yang lain. Jika kita kebetulan berada di rumah bajang ibu, maka rumah untuk kakak kandung ibu akan disebut bedelod (di selatan). Cukup bilang bedelod, maka semua saudara besar ibu akan paham rumah siapa yang dimaksud.

Bingung bukan?          

Spesifik Arah adalah Kunci

Perbedaan arah di Tabanan dengan daerah lain, misalnya daerah saya di Buleleng sangat mencolok. Di Tabanan khususnya di Marga, spesifik arah memegang kendali bahkan kunci.

Timur (Kangin) saja bisa dibahasakan menjadi

  • Li kangie artinya timur sedikit atau sebelah timur
  • Duur Kangin artinya timur atas (berarti letak geografis rumahnya di timur bisa di atas jalan, di atas sungai, di atas jembatan atau di atas lainnya)
  • Tuwun Kangin artinya timur turun (berarti letak geografis rumahnya di timur bisa di bawah jalan, di bawah sungai, di bawah jembatan atau di bawah pohon besar)
  • Bedangin artinya di timur secara umum, agak jauh dari rumah, misalnya di sebelah jalan besar atau di balik jalan besar
  • Kelod Kangin, artinya Selatan Timur. Antara Timur dan Selatan.
  • Kaja Kangin, artinya Utara Timur. Antara Utara dan Timur.
  • Dan Kangin lainnya

Saya saja tidak tahu berapa versi Kangin lagi yang ada. Itu baru timur.

Kalau bicara Selatan. Sama saja

  • Li Kelode
  • Bedelod
  • Duwur Kelod
  • Tuwun Kelod
  • Kelod Jauh
  • Kaja Kelod

Dan seterusnya jadi jika ada 8 arah mata angin secara umum dan standar, di Tabanan, khususnya di Marga tempat mertua saya mukim, delapan arah mata angin itu bisa diturunkan menjadi minimal 64 arah mata angin dan bila dimaksimalkan menjadi ratusan sampai tak berhingga.

Arah, sekali lagi, adalah pengetahuan yang harus memadukan konteks dan budaya kekerabatan. Kita harus tahu siapa keluarga kita dan dimana rumahnya. Jika punya seratus kerabat, berarti ada seratus arah yang harus saya ingat. Inilah yang kadang membuat saya sering remidi. Keluarga suami itu besar sekali.

Keluarga inti melahirkan keluarga inti kedua lalu menyebar menjadi keluarga inti ketiga dan seterusnya. Keluarga inti kedua bisa melahirkan inti inti lainnya jadi inti kuadrat. Keluarga bapak mertua dan ibu mertua jika digabungkan hampir dua ratusan orang jumlahnya, sekitar tiga puluhan KK. Akhirnya pernikahan adalah satu sistem kecil yang dikeroyok sistem arah yang besar sekali. Sementara saya, adalah remah remah rengginang yang mengapung di antara sistem itu. Saya dimana. Disini. Disini dimana. Itulah. Mungkin di kaje kelod. Atau di kangin kauh. Atau kaja kangin. Atau di antara seratus arah yang diciptakan orang itu.

Maka tersesatlah saya. Kadang saya salah meletakkan Banten di sawah orang lain, atau di kebun orang lain, atau yang sering saya salah adalah meletakkan barang barang juga. Saya merasa selalu salah. Ini sudah benar disini? Apa salah disini dan sebagainya.

Sejak 12 tahun lalu hingga sekarang, saya belum juga tahu pasti semua arah. Tapi anggaplah saya bodoh atau sejenisnya. Keseluruhan konsep arah ini membuat saya selalu belajar, bahwa arah itu sebenarnya hanya imajinasi. Yang tak pernah berawal. Dan juga tak pernah berakhir.

Barangkali, anggaplah barangkali, arah itu ada ketika kita siap belajar berjalan menuju tujuan yang mungkin terus berubah sesuai kebutuhan.

Saya mungkin membela diri. Tapi bagi orang seperti saya yang kerap berurusan dengan arah, terutama kalau ke luar negeri sendiri, untuk belajar, saya anggap arah adalah motivasi bergerak. Sepanjang kita bergerak berarti kita menuju sebuah arah. Entah benar entah salah. Paling tidak ada pelajaran.

Jadi resolusi Tahun Baru saya adalah tetap menjaga arah. Mencari arah. Menjadi arah. Meskipun arah bisa jadi hanya imajinasi. [T]

Tags: BahasaBahasa Balibahasa daerahBahasa Indonesiabalitabanan
Share74TweetSendShareSend
Previous Post

Tabu Project: Dialog Tentang Tabu yang Rancu

Next Post

Kelola Duit 300 Juta, Pusing Juga Susun APBDes – [Cerita Kecil “Panyarikan Desa Adat”]

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kelola Duit 300 Juta, Pusing Juga Susun APBDes – [Cerita Kecil “Panyarikan Desa Adat”]

Kelola Duit 300 Juta, Pusing Juga Susun APBDes - [Cerita Kecil “Panyarikan Desa Adat”]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co