22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Tahun Baru: Jangan Sampai Hilang Arah dan Buta Arah

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 29, 2019
in Esai
Omong Kutang Kutang

Kadek Sonia Piscayanti

Dalam dunia bahasa yang standar dan normal, arah didefinisikan dengan jelas. Utara, Selatan, Timur, Barat, Timur Laut, Barat Laut, dan seterusnya. Jelas dan akurat sebagai pedoman. Tapi di rumah suami saya di Tabanan, arah tidaklah sederhana seperti arah yang saya ketahui. Arah adalah teks dan konteks. Arah adalah tujuan. Arah adalah sistem kekerabatan. Arah adalah perspektif siapa yang mengucapkan dan siapa yang dimaksud.

Arah bukanlah single concept yang dapat diterima sebagai kebenaran umum, tapi spesifik, khusus, spesial tanpa telur.

Secara umum bahasa Bali arah yang saya tahu adalah arah yang standar normal 4 arah mata angin. Maksimal sekali 8. Saya dilahirkan dan dibesarkan di Utara. Laut adalah selalu Utara bagi saya. Dan gunung adalah selalu Selatan bagi saya.  Seumur hidup percaya bahwa ya Kelod itu Utara. Kangin itu Timur. Kaja itu Selatan. Dauh itu Barat. Dipecah menjadi 8 masih bisa. Kelod Kangin. Kelod Kauh. Kelod Kaja. Dan seterusnya.

Tapi arah di Tabanan bukanlah konsep arah di Utara versi keyakinan saya. Sejak menikah saya ditanya kalau akan ke Buleleng sebagai “bin pidan ngajanang?” Jadi ke Utara maksudnya adalah ke Selatan. Masih bingung? Ya ke Utara dalam konsep saya artinya Kelod tapi disebut Kaja dalam konsep di Tabanan karena mereka mengacu bukit. Jadi demikianlah.

Saya selalu hilang arah di Tabanan. Konsep Utara Selatan membuat arah saya kacau. Juga timur barat dan semuanya.

Arah Berkaitan dengan Tali Persaudaraan

Saya masih ingat ketika saya ditertawakan karena tak tahu arah. Disuruh ibu mertua ke saudara di timur. Saya ke timur tapi lewat satu rumah. Jadi saya salah membaca arah karena timur bukanlah timur semata. Timur adalah arah general, tapi spesifiknya mengacu pada “siapa yang saya tuju”, di perspektif yang dimaksud si pembicara. Membingungkan? Tentulah.

Beginilah contohnya. “Kemu malu li kangie. Abe ne.” Artinya, jalanlah ke (rumah) timur. Bawa ini.

Lalu jalanlah saya ke timur. Dan salahlah saya. Bukan timur itu maksudnya tapi timur satu lagi.

Timur yang dimaksud adalah rumah “saudara kandung ibu” atau “bibi suami saya” yang rumahnya di seberang timur jalan. Dalam pemahaman ibu mertua, saya dianggap sudah pasti tahu bahwa timur yang dimaksud adalah “rumah saudara ibu”. Artinya, tidak mungkin membawa satu benda ke rumah orang lain yang bukan saudara.

Jadi, jika orang lain atau tetangga sebelah menyebut rumah likangi (timur), yang dimaksud pastilah bukan “sauadara ibu saya”, melainkan adalah saudara mereka sendiri yang rumahnya di timur. Jadi, jika mendengar seseorang mengatakan rumah likangi (rumah di timur), lihat dulu siapa saudaranya di timur, karena rumah saudaranya itulah yang dimaksud.

Dengan begitu, arah memiliki pertalian saudara. Lama-lama saya hapal, dalam konteks pembicaraan keluarga, upacara, dan sejenisnya, arah yang disebut ibu saya adalah rumah saudara-saudara kami. Jika ibu menyuruh membawa makanan nganginang (kalau likangi artinya timur dekat rumah, maka nganginang artinya timur yang jauh), maka saya akan tahu bahwa nganginang artinya rumah bajang ibu atau rumah orang tua kandung ibu yang ada di timur.

Jika ibu bilang kaja kangin, artinya adalah rumah adik kandung ibu yang rumahnya memang kaja-kangin (timur laut). Jika ibu bilang kelod-kangin (tenggara) maka yang dimaksud ibu adalah rumah kakak kandung ibu yang memang lokasinya pada arah tenggara dari rumah saya.

Nah, sebutan itu berbeda jika dihitung dari rumah saudara ibu yang lain. Jika kita kebetulan berada di rumah bajang ibu, maka rumah untuk kakak kandung ibu akan disebut bedelod (di selatan). Cukup bilang bedelod, maka semua saudara besar ibu akan paham rumah siapa yang dimaksud.

Bingung bukan?          

Spesifik Arah adalah Kunci

Perbedaan arah di Tabanan dengan daerah lain, misalnya daerah saya di Buleleng sangat mencolok. Di Tabanan khususnya di Marga, spesifik arah memegang kendali bahkan kunci.

Timur (Kangin) saja bisa dibahasakan menjadi

  • Li kangie artinya timur sedikit atau sebelah timur
  • Duur Kangin artinya timur atas (berarti letak geografis rumahnya di timur bisa di atas jalan, di atas sungai, di atas jembatan atau di atas lainnya)
  • Tuwun Kangin artinya timur turun (berarti letak geografis rumahnya di timur bisa di bawah jalan, di bawah sungai, di bawah jembatan atau di bawah pohon besar)
  • Bedangin artinya di timur secara umum, agak jauh dari rumah, misalnya di sebelah jalan besar atau di balik jalan besar
  • Kelod Kangin, artinya Selatan Timur. Antara Timur dan Selatan.
  • Kaja Kangin, artinya Utara Timur. Antara Utara dan Timur.
  • Dan Kangin lainnya

Saya saja tidak tahu berapa versi Kangin lagi yang ada. Itu baru timur.

Kalau bicara Selatan. Sama saja

  • Li Kelode
  • Bedelod
  • Duwur Kelod
  • Tuwun Kelod
  • Kelod Jauh
  • Kaja Kelod

Dan seterusnya jadi jika ada 8 arah mata angin secara umum dan standar, di Tabanan, khususnya di Marga tempat mertua saya mukim, delapan arah mata angin itu bisa diturunkan menjadi minimal 64 arah mata angin dan bila dimaksimalkan menjadi ratusan sampai tak berhingga.

Arah, sekali lagi, adalah pengetahuan yang harus memadukan konteks dan budaya kekerabatan. Kita harus tahu siapa keluarga kita dan dimana rumahnya. Jika punya seratus kerabat, berarti ada seratus arah yang harus saya ingat. Inilah yang kadang membuat saya sering remidi. Keluarga suami itu besar sekali.

Keluarga inti melahirkan keluarga inti kedua lalu menyebar menjadi keluarga inti ketiga dan seterusnya. Keluarga inti kedua bisa melahirkan inti inti lainnya jadi inti kuadrat. Keluarga bapak mertua dan ibu mertua jika digabungkan hampir dua ratusan orang jumlahnya, sekitar tiga puluhan KK. Akhirnya pernikahan adalah satu sistem kecil yang dikeroyok sistem arah yang besar sekali. Sementara saya, adalah remah remah rengginang yang mengapung di antara sistem itu. Saya dimana. Disini. Disini dimana. Itulah. Mungkin di kaje kelod. Atau di kangin kauh. Atau kaja kangin. Atau di antara seratus arah yang diciptakan orang itu.

Maka tersesatlah saya. Kadang saya salah meletakkan Banten di sawah orang lain, atau di kebun orang lain, atau yang sering saya salah adalah meletakkan barang barang juga. Saya merasa selalu salah. Ini sudah benar disini? Apa salah disini dan sebagainya.

Sejak 12 tahun lalu hingga sekarang, saya belum juga tahu pasti semua arah. Tapi anggaplah saya bodoh atau sejenisnya. Keseluruhan konsep arah ini membuat saya selalu belajar, bahwa arah itu sebenarnya hanya imajinasi. Yang tak pernah berawal. Dan juga tak pernah berakhir.

Barangkali, anggaplah barangkali, arah itu ada ketika kita siap belajar berjalan menuju tujuan yang mungkin terus berubah sesuai kebutuhan.

Saya mungkin membela diri. Tapi bagi orang seperti saya yang kerap berurusan dengan arah, terutama kalau ke luar negeri sendiri, untuk belajar, saya anggap arah adalah motivasi bergerak. Sepanjang kita bergerak berarti kita menuju sebuah arah. Entah benar entah salah. Paling tidak ada pelajaran.

Jadi resolusi Tahun Baru saya adalah tetap menjaga arah. Mencari arah. Menjadi arah. Meskipun arah bisa jadi hanya imajinasi. [T]

Tags: BahasaBahasa Balibahasa daerahBahasa Indonesiabalitabanan
Share74TweetSendShareSend
Previous Post

Tabu Project: Dialog Tentang Tabu yang Rancu

Next Post

Kelola Duit 300 Juta, Pusing Juga Susun APBDes – [Cerita Kecil “Panyarikan Desa Adat”]

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Kelola Duit 300 Juta, Pusing Juga Susun APBDes – [Cerita Kecil “Panyarikan Desa Adat”]

Kelola Duit 300 Juta, Pusing Juga Susun APBDes - [Cerita Kecil “Panyarikan Desa Adat”]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co