2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pelacur Prita dan Yang Tersembunyi di Laci Meja

Ahmad Anif Alhaki by Ahmad Anif Alhaki
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

 

Cerpen: Ahmad Anif Alhaki

MALAM semakin sepi, tapi kebisingan masih saja berlanjut. Sumpah-serapah bergema di segala penjuru. Tanpa bising itu, bagi Prita, sungguh akan terasa asing di telinga.

Malam sudah menunjukkan pukul 00.00. Prita sudah selesai berdandan. Bibir merah gincu, wajah putih bersih, betis mulus, pakaian seksi, payudara besar, pinggang ramping, bokong padat berisi, dan bersepatu tinggi tumit.

Prita sampai di tempat tujuan. Tak perlu waktu lama berjalan, karena jarak rumah tinggalnya dengan tempat tujuan hanya beberapa meter saja. Seperti biasanya, kedatangan Prita selalu disambut oleh suara yang tak lain lagi bagi telinganya.

“Anak-anak usia tujuh-belas tahun ke bawah silakan pulang!”

Suara itu bersumber dari seberang rel kereta, di sanalah tempat Prita bekerja, sebagai pelacur. Kedatangan Prita bagaikan umpan daging paha bagi singa jantan. Ia yang tengah menyadarinya pun melenggak-lenggokkan panggul kala menyeberang rel kereta, hal itu terlihat karena dibias temaram bulan dan lampu-lampu warung sekitar rel.

“Hei, kontol-kontol sudah pada menunggumu!” ucap Tika, teman Prita yang juga berprofesi sebagai pelacur.

“Malam ini tiga kontol saja cukup!” jawab Prita.

“Lho, kenapa? Pepekmu bermasalah?” tanya Lastri yang juga berprofesi sebagai pelacur.

“Tidak, di rumah anakku sedang sakit!”

“Biarkan saja anakmu, nanti juga akan sembuh sendiri. Tidak usah terlalu diurus, ngerepotin!” sela Tika.

“Jaga tuh mulut! Jangan asal ceplas-ceplos. Urus saja tuh susumu, kecil begitu mana ada yang mau,” tangkis Prita.

Prita berlalu meninggalkan Tika dan Lastri. Berselang waktu singkat, seorang lelaki berkumis melambaikan tangan, Prita menghampiri. Tak ada muncikari, hanya saja dengan kode identik para lelaki pengunjung memberi isyarat memanggil.

Setelah sedikit berbincang, kesepakatan antara keduanya sudah jadi. Prita berlalu dengan perjanjian kamar nomor delapan, karena kamar itu adalah kamar rentalan Prita saban malam kala bekerja. Selang waktu singkat lelaki berkumis pun menuju kamar nomor delapan.

Di dalam kamar, Prita dan lelaki berkumis tengah bercium bibir. Lelaki itu menjilat sekujur tubuh Prita. Kenikmatan keduanya berlarut dengan desahan. Seusai penat menjilat, lelaki berkumis itu membuka semua pakaian yang membalut di tubuhnya.

Ranjang bergoyang, suara mendesah-desah. Lelaki itu semakin gesit, ayunan pinggang semakin kencang bagaikan tusuk-tusuk jarum mesin jahit. Lelaki itu larut dalam kenikmatan. Bercinta hina usai sudah. Lelaki berkumis mengenakan pakaiannya kembali, dan tanpa sapa ia berlalu pergi. Prita pun kembali berpakaian, dan berdandan.

Di atas meja samping tas Prita tergeletak selembar uang merah, seratus-ribu rupiah. Ia masukkan uang itu ke dalam tasnya, lalu keluar kembali untuk mencari mangsa yang akan memangsa. Tidak perlu waktu lama, selang belasan menit saja berlenggok panggul di areal rel kereta, lelaki lain pun datang menawar harga. Tapi Prita sudah tetapkan: tanpa kurang, dan boleh lebih, seratus-ribu rupiah untuk sekali main.

Sesuai target, sudah tiga lelaki menikmati tubuh Prita malam ini. Malam semakin larut, pukul 03.00, dan patut sudah dibilang pagi. Tanpa alasan lain, Prita melangkah meninggalkan tempat pelesiran. Dua-ratus-ribu rupiah sudah di dalam tas sandangnya, berkurang seratus-ribu rupiah sebagai pembayar rentalan kamar. Dengan kerisian hati ia berlalu.

Tidak lama berjalan, ia pun sampai di depan rumah tempat tinggalnya. Di dalam rumah buluk itu, ia dapati anaknya; Nabila sedang duduk di atas ranjang. Prita heran, karena sewaktu ia pergi dari rumah Nabila sedang tertidur. Ia dekati anaknya, terlihat jelas Nabila sedang menangis sedu.

“Kenapa menangis?” tanya Prita pada anaknya.

“Aku takut, Bu!” jawab Nabila sambil terisak.

“Takut apa? Tak ada hantu!”

“Aku selalu sendiri setiap malam. Ibu ke mana aja!” protes Nabila dengan kesal.

“Jangan tanya, aku keluar bekerja untuk hidupmu, hidup kita! Kamu tidak perlu tanya lain-lain, kamu harus istirahat, besok siang kita harus ke dokter. Aku sudah ada uang cukup untuk itu,” balas Prita pada anaknya.

Seusai mandi, Prita mengenakkan pakaian tidur, dan ia berbaring di samping Nabila. Ia rasai kening anaknya yang panas. Penyakit jantung yang bersarang di dalam tubuh Nabila menjadi sumber keresahan baginya.

Nabila memeluk tubuh Prita, ia terlihat amat sayang pada ibunya walau pun tadinya kesal. Prita pun tak bisa elakkan pengartian itu, ia balas rangkulan anaknya. Prita merasakan sembilu rimba yang menyayat-nyayat di kedalaman kalbunya. Kerena ia menyadari Nabila masih belum tertidur, ia pun meraung tangis ke dasar hati. Tangis yang bisu. Rasa ngilu teramat pedih yang ia tanggung. Nabila juga di tengah-tengah keresahan itu.

Prita begitu peka pada keresahan anaknya. Ia tidak paksa Nabila untuk tidur meski esok siang akan ke dokter. Sesisa waktu malam, atas permintaan Nabila ia bungkus waktu dalam cerita:

“Ada seorang wanita yang tersesat di tengah hutan duri. Ia tidak mampu keluar dari sana. Lama sudah duri-duri menancap di sekujur tubuhnya, dia tidak bisa mencabut duri itu, termasuk yang di telapak kakinya sendiri. Ia berjalan dan terus berjalan, ia semakin tersesat. Sebelum pagi datang membawa surya, ia akan ma…”

“Apa dia tidak sakit, Bu?” Nabila memotong cerita Prita.

“Iya, dia merasa sangat sakit. Tapi ada orang yang membuat dia tidak sakit!”

“Siapa, Bu? Orang itu pasti panggeran Surya!” ucap Nabila.

“Oh, tidak!!”

“Lalu siapa?”

“Orang itu adalah kamu!” jawab Prita.

“Ha! Di sana kan tidak ada aku, Bu,” sela Nabila.

“Iya, kamu tidak ada di sana, dan tidak boleh masuk ke sana!” ucap Prita.

Tak peduli duri yang menancap, luka, dan rasa sakit. Hal itu tak penting bagi Prita, karena dia adalah tulang punggung. Yang terpenting baginya, bagaimana Nabila dan dirinya bisa makan, Nabila bisa sekolah, bisa berobat saat sakit, dan bisa memberi sedikit jajan untuk anaknya.

Nabila sudah tertidur. Prita memperbaiki posisi anaknya, lalu mencium kening Nabila. Di atas meja jam sudah menunjukkan pukul 05.00. Prita bangkit, dan berjalan menuju meja itu. Ia tarik laci pada meja, ia ambil obat-obatan pribadinya. Obat itu masih di dalam bungkusannya yang utuh. Dengan segelas air putih obat tersebut ditelannya.

Sehabis menelan obat dengan air, Prita termangu melihat bungkusan obat itu. Seketika terngiang olehnya perkataan dokter seminggu yang lalu, “Obat ini hanya dapat membendung rasa sakit, bukan untuk menyembuhkan! Sampai sekarang belum ada obat yang dapat menyambuhkan penyakit ibu!”

Air mata tak tertahankan, ia menangis. Bukan nyawa yang akan meninggal badan yang dia cemaskan, melainkan dia yang akan meninggalkan Nabila. (T)

Tags: Cerpen
Share46TweetSendShareSend
Previous Post

7 Pria, 4 Babak, 1 Marlina – Ulasan Film

Next Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Laut yang Tak Selamanya Asin

Ahmad Anif Alhaki

Ahmad Anif Alhaki

Biasa dipanggil Anif. Lahir di Sumatera Barat. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa di jurusan Penidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali. Tak tahu hobinya apa, tapi merasa senang menulis.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong tentang Laut yang Tak Selamanya Asin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co