6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

7 Pria, 4 Babak, 1 Marlina – Ulasan Film

Aldhyansah Dodhy Putra by Aldhyansah Dodhy Putra
February 2, 2018
in Ulasan

 

MARLINA. Tubuhnya tinggi semampai, raut wajahnya sendu menanggung berat kesedihan. Dia hidup dalam sunyi setelah ditinggal suami dan calon anaknya. Hanya dengan memandang dari jauh para pria akan melihatnya sebagai santapan empuk.

Ketukan pintu di rumah Marlina pun menjadi awal malapetaka. Seorang pria tua bernama Markus datang dengan janji yang tidak mengenakkan. “Setengah jam lagi teman-temanku akan datang, mengambil uang, hewan ternak dan memperkosamu,” begitu kira-kira ucapannya. Membayangkan tujuh orang asing akan datang menggerayangi harta dan kehormatannya membuat Si Janda Miskin itu menjadi kalut dan lesu. Setidaknya itulah yang kita kira.

Satu yang tidak diketahui para pria, Marlina bukanlah wanita yang mau patuh terhadap pelecehan. Di balik kepalanya yang tunduk, Marlina melawan dengan otak yang berpikir cepat. Sayang, sebelum mereka sadar betapa cerdiknya Marlina, para pria tersebut sudah terbaring lemas di gubuk kayu itu. Marlina pun meninggalkan rumah, berusaha mengejar keadilan, dengan potongan kepala Markus di tangannya.

Begitulah kira-kira sinopsis dari film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak. Dikemas dengan apiknya sinematografi yang memamerkan pesona Pulau Sumba Timur, dan padanan warna yang memanjakan mata. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak yang merupakan film garapan Mouly Surya ini adalah sebuah hadiah spesial bagi penikmat film Indonesia.

Menjadi perwakilan Indonesia di ajang Cannes Film Festival, film ini sukses mendapat apresiasi dari kritikus internasional. Berbagai penghargaan pun dimenangkan, mulai dari skenario terbaik dalam FIFFS di Maroko hingga kategori aktris terbaik di  Sitges International Film Festival di Spanyol. Setelah puas berkelana keliling festival-festival film dunia, pada 16 November 2017 lalu Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak pun menguji peruntungannya di pasar perfilman Tanah Air.

Sebagai sebuah film yang dibuat oleh sutradara wanita, film ini membawa beberapa misi sosial. Selain untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan keindahan alam dan ketertinggalan ekonomi masyarakat Sumba Timur. Isu lain yang paling penting dan tak bisa diabaikan adalah tentang kekerasan, pengabaian dan prasangka buruk terhadap wanita. Sebuah masalah yang mengakar tapi cenderung diabaikan. Sesuatu yang akan menyentil pikiran penonton setelah meninggalkan bioskop.

Ambisi Mouly Surya untuk memvisualkan adegan-adegan misoginis ditunjukkan dengan berbagai cara, baik yang secara sangat jelas maupun samar. Pemerkosaan tentu saja menjadi cara utama dalam menunjukkan penindasan terhadap wanita dalam film ini. Bagaimana seorang wanita bahkan tak bisa merasakan hidup aman dan tenang di rumahnya sendiri setelah ditinggal suaminya menjadi pukulan telak terhadap realitas. Kisah sejenis sebenarnya sempat juga ditunjukkan oleh Eka Kurniawan dalam novelnya Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas walaupun dengan cara yang sedikit lebih sureal.

Gestur-gestur yang ditampilkan dalam film ini juga seperti menjadi atraksi misoginis tersendiri. Bagaimana dengan mudahnya Markus datang bertamu, dengan tenang menyampaikan ancamannya, bahkan masih sempat untuk meminta dibuatkan makanan menggambarkan tentang sifat menyepelekan wanita. Juga tentang bagaimana Marlina berteman dengan seorang anak perempuan yang diberi nama Topan oleh orang tuanya dengan alasan agar menjadi kuat dan tangguh seperti lelaki. Kisah tersebut merupakan miniatur dari beberapa budaya di Indonesia yang belum bisa sepenuhnya menghargai lahirnya anak perempuan.

Selain itu, adegan yang ditampilkan secara jelas tentang diskriminasi terhadap wanita ini adalah tentang skeptisnya polisi terhadap laporan pemerkosaan yang diberikan Marlina. Adegan tersebut mengingatkan kembali kepada reaksi masyarakat Indonesia pada saat kasus-kasus pelecehan seksual mengemuka yang terkadang justru masih menyalahkan korban.

Isu-isu feminisme telah menjadi penyakit kronis dalam kehidupan bermasyarakat kita, dan film ini mencoba menjadi pengingat. Bukan dengan ceramah moral lewat monolog panjang lebar, tapi dengan aksi yang dilakukan secara satir. Walaupun beberapa karakter dalam film ini digambarkan dengan cukup komikal ala komedi gelap, tetap tak dapat dilepaskan juga fakta bahwa Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak adalah sinekdoke dari masyarakat kita yang masih banyak skeptis terhadap masalah emansipasi wanita.

Tapi film ini tidak hanya menjual substansi, ada gaya yang sangat kuat dan tak dapat untuk tidak menjadi perhatian tersendiri. Nuansa ala Quentin Tarantino sudah tercium dalam Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak sejak awal film ini dimulai. Musik western, kuda dan areal pasir luas mengingatkan pada Django Unchained. Penggunaan beberapa babak dalam penceritaan tentu saja membawa penikmat film ternostalgia dengan film-film Tarantino seperti The Hateful Eight hingga Pulp Fiction. Dan, tentu saja penggunaan karakter utama wanita yang sadis akan mengingatkan kita kepada tokoh The Bride dalam film Kill Bill.

Tapi sayangnya, tidak seperti film-film Quentin Tarantino, Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak terkesan gagal dalam mengembangkan peran para karakternya. Terlebih bagi tokoh-tokoh pria penjahat yang wataknya masih terasa satu dimensi. Tanpa adanya dialog yang dapat diingat, hingga mayoritas adegan yang mengglorifikasikan pria sebagai sosok yang ‘sempit’, membuat penonton tidak perlu merasa peduli dengan para tokoh tersebut.

Selain masalah kurang dalamnya karakter, dialog juga menjadi hal yang cukup memecah belah dalam film ini. Beberapa bagian patut dipuji, sebagian lainnya tidak. Tak ada ucapan klise maupun lelucon murahan yang keluar, bahkan bisa dibilang beberapa mop efektif menghadirkan riuh tawa. Hanya saja tidak ada jiwa dalam setiap kata yang keluar, tak nampak kemarahan nyata, kesedihan yang ditunjukkan pun terasa samar.

Memang benar film ini memiliki beberapa kekurangan, akan tetapi keindahan sinematografis bukanlah salah satunya. Dengan menggunakan teknik pengambilan gambar dari jarak jauh dengan kamera yang mematung sedikit mengingatkan pada film The Master, sebuah mahakarya dari sutradara P.T. Anderson. Ditambah dengan keelokan Sumba Timur yang berhasil dieksploitasi dengan baik oleh Yunus Pasolang selaku penata kamera. Film ini menyajikan aktivitas kamera yang membuat kita sadar akan eloknya pulau erotis khas timur Indonesia.

Kualitas akting pun menjadi poin tersendiri. Marsha Timothy yang memerankan Marlina memang tak perlu diragukan lagi tampil dengan kualitas tanpa cacat, tetapi bukan berarti aktingnya menutupi kualitas seluruh aktor lainnya. Kredit khusus juga perlu diarahkan pada Dea Panendrea pemeran Novi yang mampu mengimbangi Marsha Timothy sehingga keseimbangan filmnya tetap terjaga. Dea Panendra adalah sebuah angin segar yang perlu disyukuri di tengah monotonnya jumlah pelakon film di Indonesia.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak adalah sebuah film yang harus mendapatkan apresiasi lebih dari penikmat film Indonesia. Bukan karena berbagai penghargaan yang didapatkan tetapi karena keberhasilannya menanamkan standar baru bagi dunia perfilman lokal tanah air. (T)

Tags: filmIndonesiaPerempuanresensi
Share30TweetSendShareSend
Previous Post

Menyintas Ganas Korupsi di Tahta Dewata

Next Post

Pelacur Prita dan Yang Tersembunyi di Laci Meja

Aldhyansah Dodhy Putra

Aldhyansah Dodhy Putra

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Aktif sebagai Koordinator Redaktur Online di LPM Keadilan.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Pelacur Prita dan Yang Tersembunyi di Laci Meja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co