6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Curangologi: Filsafat Curang Seri 2 – Sekuni Milenial

Hartanto by Hartanto
February 2, 2018
in Opini

Google

 

TING, ting, ting, ting, ting, bunyi HP-ku bertubi-tubi puluhan kali, yang berarti ada banyak pesan WhatsApp masuk. Berbagai macam kata-kata satire dikirim ke saya dari teman-teman terhormat. Saya bingung dengan satire-satire yang terkirim. Baik berupa kata-kata, maupun gambar/meme. Semuanya mengabarkan hal-hal yang tak saya pahami. Ada yang mengabarkan berita duka pada sebuah tiang, dan lain sebagainya. Ah. Sungguh membingungkan diriku.

Sungguh, saya hanya bingung. Betapa hebatnya teman-teman mengkreasi satire maupun gambar-gambar lucu. Kendatipun demikian, saya tetap tak memahami realita kejadian yang ada. Saya hanya jadi ingat perupa asal Tiongkok, Fang Li Jun dengan penggayaan sinikal realisme (cynical realism)-nya. Kebetulan saya suka dengan wacana-wacana dan figur-figur simbolik yang ia ketengahkan. Jenaka tapi tajam.

Haruskah kita sinis pada realita? Saya hanya tersenyum menyimak karya-karya Fang Li Jun yang lucu dan sinis pada realita. Entah realita yang mana yang di-sinis-i nya. Tapi menurut saya, estetika lucu dan sinisnya berlaku universal dan sepanjang masa, sesuai interpretasi masing-masing penikmat. Itulah hebatnya karya seni rupa (visual art). Sambil tertawa, saya lantas jadi kepingin mentertawakan diri saya sendiri.

Mengapa saya ingin mentertawakan diri sendiri? Entahlah. Mungkin terinspirasi dari isi WhatsApp teman-teman, dan kembali menyimak karya-karya Fang Li Jun – saya lantas berkeinginan menjadi Sekuni Milenial. Saya ingin menjadi Sekuni dengan ber-pengetahuan dan ber-teknologi canggih di jaman milenial ini.

Ya saya membayangkan menjadi Generasi Y (GenY) yang lahir setelah generasi X (Gen X). Saya tak peduli bahwa saya lahir di tahun 1950 an. Pokoknya format pikiran saya harus milenial. Saya ingin menjadi Sekuni yang mampu meningkatan penggunaan sarana komunikasi, media, dan teknologi digital, dan juga meningkatkan kemampuan liberalisasi sosial, kebudayaan, politik, hukum, dan ekonomi.

Oh ya, saya juga telah menyimpan uang saya di ‘kertas panama’, walau saya (sungguh mati) tidak mengerti apa itu ‘kertas panama’. Yang saya tahu, karena saya lahir di Jawa, arti dari kertas adalah dluwang. Nah, saya tak menemukan dalam vocabulary bahasa Jawa, arti dari “dluwang Panama”. Ah biarlah para cendikia yang membahasnya. Saya yakin, walau empu sastra Jawa kuno sekelas Zoet Mulder almarhum masih hidup, pasti tak akan menemukan arti “dluwang Panama”.

Agar saya dibilang kekinian, maka saya juga mencoba berinvestasi di dunia maya. Orang-orang memberi istilah pada “uang dalam bayang” itu, bitcoin. Saya suka ini, karena kepemilikannya bisa anonymous, atau pakai nama samaran seperti penulis-penulis kritis. Saya tak perlu mempelajari teknologi mata uang digital ini. Saya juga tak perlu memahami apa itu cryptocurrency. Pokoknya, garis besarnya bitcoin adalah mata uang on line, implementasi dari cryptocurrency. Saya hanya butuh menggaji konsultan (dari generasi milenial) untuk menjalankan semua ini.

Tapi sungguh, saya sebenarnya tak memahami kalau cryptocurrency adalah sebuah teknologi membuat mata uang digital yang menggunakan kriptografi. Saya hanya tahu secara samar-samar ketika dijelaskan oleh anak saya yang mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Jawa. Ketika itu dia sedang bikin paper tentang cryptocurrency. Mungkin saja, rasa ingin tau saya tentang cryptocurrency – hanya supaya saya dianggap generasi milenial .

Saya suka berinvestasi mata uang digital ini, juga karena memiliki beberapa kelebihan dibanding mata uang biasa. Sebab, mata uang ini tak diatur oleh bank sentral, proses transfer tak perlu melalui jasa bank, tak perlu melapor ke lembaga keuangan manapun, termasuk di dalamnya tak perlu membayar pajak, karena peredarannya belum melibatkan negara manapun juga.. Selain itu, katanya, nilai kenaikannya sangat luar biasa, bahkan mencapai 10.000% atau lebih per-tahunnya. Itu kata tenaga konsultan saya ya, kan saya tak memahami apa-apa soal ini?

Oh..iya, meski saya tak mengerti ilmu hukum, politik, tata negara – tapi saya ingin melakukan ‘koreksi’ atas semua itu. Yang penting — demi kepentingan saya — saya ingin melakukan koreksi atas konsep trias politika. Saya ingin, meski ada pemisahan kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif – pemisahan itu bisa saya perlakukan secara lentur, semau-mau saya. Agar di saat-saat tertentu, saya bisa memanipulir kekuasaan sesuai keinginan saya.

Maksudnya, dengan segala upaya, saya ingin melakukan tumpang-tindih kekuasaan. Saya ingin mencoba-coba melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Pemikiran John Locke, Rousseau, Plato, dan Montesqueieu ini sudah terlalu kuno. Trias Politica yang baru menurut saya, batas-batas eksekutif, yudikatif, dan legislatif harus ‘dikaburkan’. Agar saya bisa ‘bermain’ sesuai kepentingan saya. Ah…saya ini ngaco sekali, mana mungkin hal-hal demikan bisa saya lakukan dengan semau-mau saya? Saya kan tidak sekolah soal hukum tata negara, kok mau seenaknya bikin wacana yang ngawur-ngawur gitu. Tapi, yang namanya bermimpi kan boleh.

Hal-hal di atas itulah yang membuat saya ingin mentertawakan diri sendiri. Selain itu, mengapa saya memilih istilah Sekuni Milenial? karena Sekuni Konvensional sudah pernah menjadi trade mark sahabat saya, almarhum Dr. Ida Bagus Made Palguna. Alumni Universitas Leiden Belanda ini, ketika itu menulis rubrik tetap di Pos Kampus, di Harian Umum Bali Post. Beliau salah satu putra terbaik yang dimiliki Bali.

Sepengetahuan saya, tindakan kecurangan Sekuni konvensional yang paling akbar adalah ketika ia menjadi penasehat judi dadu bagi pihak Kurawa. Memang tidak dijelaskan secara vulgar teknologi kecurangan main dadu itu. Keberadaan figur Sekuni di area perjudian tersebut dan tugasnya sebagai pelempar dadu bagi pihak Kurawa, sudah mengidentifikasikan adanya kecurangan. Itu baru kehadirannya sudah menghadirkan atmosfir curang. Luar biasa kan?

Mungkin, karena otak kita sudah tercuci oleh penulis naskah tentang peran antagonis Sekuni. Sementara yang saya pahami adalah bagaimana kekalahan dramatik pihak Pandawa dalam permainan dadu tersebut. Meski tidak dijelaskan secara detail bagaimana strategi Sekuni dalam mengalahkan Pandawa, tapi suka atau tak suka, secara bawah sadar kita telah men-‘judge’, Sekuni lah biang kekalahan Pandawa di arena judi tersebut. Dalam wiracarita Mahabharata, Sekuni merupakan penasihat utama Duryodana, pemimpin para Korawa. Kepiawaian tipu muslihat dan kelicikan ia jalankan demi menyingkirkan para Pandawa.

Menurut saya, tokoh Sekuni adalah imajinasi kita tentang peng-identifikasi-an tindak jahat, tindak curang, tindak licik, dan tindak-tindak ketidakbenaran lainnya. Ia terus hidup sepanjang jaman, karena karakter tokoh antagonis ini memang selalu hadir dalam kehidupan manusia. Kita akan selalu mengidentifikasikan seseorang yang jahat, curang, licik, dan tindakan buruk lainnya – sebagai Sekuni. Memori kebusukan Sekuni sudah terlanjut mengakar dalam otak kita, sehingga susah untuk di-delete.

Lho….bukankah Sekuni Milenial itu saya sendiri? Mengapa saya harus men-delete diri sendiri. Apakah tidak sebaiknya saya biarkan hidup terus untuk contoh dalam mempelajari pelajaran etika? Bukankah belajar etik, mesti memahami kecurangan, ketidakbenaran, ke-lancung-an, kelicikan, keculasan, dan semacamnya? Saya juga tidak tahu, apakah semua tindakan saya, yang saya paksa-paksakan berorientasi milenial itu merupakan kecurangan? Selaksa tanya, tak terjawab. Jaman now, memang banyak membuat saya don’t know. (T)

  • BACA JUGA:  Curangologi: Filsafat Curang Seri 1 – Gambar Umbul
  • SELANJUTNYA BACA: Curangologi: Filsafat Curang Seri 3 – Paleokultur
Tags: filsafatgaya hidupwayang
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Tidak Ada Alam, Tidak Ada Puisi Hari Ini

Next Post

Kekuatan Rasa dalam Masa – Dari Pameran Seni Rupa 5 Sahabat di Santrian Gallery

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
0
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

Read moreDetails

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails
Next Post

Kekuatan Rasa dalam Masa – Dari Pameran Seni Rupa 5 Sahabat di Santrian Gallery

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co