12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Curangologi: Filsafat Curang Seri 1 – Gambar Umbul

Hartanto by Hartanto
February 2, 2018
in Opini

Istimewa

 

SUNGGUH, saya sendiri tidak tahu. Mengapa tiba-tiba ingin memikir lebih dalam soal curang. Yang jelas tak ada kaitan dengan pilkada masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Apakah karena kian maraknya tersangka korupsi, baik yang OTT, terlapor, terdakwa, tersangka, tersadap, ‘tersembunyi’, ‘terlindungi’, dan ‘ter’ – ‘ter’ lainnya ? Atau karena adanya ‘model baru’ dalam kompetisi olah raga – yang secara vulgar, memberi hadiah point pada sebuah klub peserta kompetisi ? Saya tak terlalu paham. Saya hanya ingin menulis saja, meski saya bukan ahli pilkada, pilpres, korupsi, dan juga bukan ahli analisa olah raga.

Sesuai konvensi umum, curang adalah suatu tindak ke-tidak benar-an. Menurut saya, ini berlaku universal. Saya belum pernah mendengar sebuah negara pun yang membenarkan tindak kecurangan. Ia, senantiasa berkait dengan ambisi/keinginan seseorang atau kelompok, untuk meraih sesuatu keuntungan atau kemenangan. Entah menang dalam mengkorup hak yang bukan haknya, memanipulasi sesuatu untuk keuntungan diri pribadi atau kelompok.

Kecurangan juga tak terlepas dari ambisi pemenangan tender proyek, persaingan bisnis, pertandingan olah raga, aneka pemilihan, kompetisi sepak bola, pilkada, pilpres dan bidang-bidang hidup lainnya. Kendati demikian, saya masih percaya ada ‘kejujuran’ diantara tumbuh suburnya tindak curang dalam kehidupan manusia.

Curang, tak bisa dilepaskan dalam kehidupan manusia, kendati tindakan curang acap bertentangan dengan ajaran etika, moral, budi pekerti, agama, dan norma-norma lainnya dalam kehidupan manusia. Memang, terkadang dalam menilai suatu tindakan curang, tidaklah mudah. Sebab, satu sama lain selalu ingin memiliki kebenarannya sendiri. Maka betapa tidak mudahnya menilai salah-benar tentang suatu ‘kebenaran’ itu.

Arti curang, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). cu·rang a tidak jujur; tidak lurus hati; tidak adil: orang yang munafik senantiasa berhati –;

men·cu·rangi v berbuat curang terhadap seseorang; menipu; mengakali;
ke·cu·rang·an n perihal curang; perbuatan yg curang; ketidakjujuran; keculasan.

Saya juga bingung, mengapa kata curang lebih banyak sinonimnya dari pada antonimnya. Sinonimnya ; bengkok, cerdik, kerangkeroh, keroh, korup, lancung, lengit, licik, licin, main kayu, main sabun, patgulipat, serong. Sementara antonimnya hanya ; jujur. Biarlah ahli bahasa yang membahasnya.

Pelajaran tentang curang, saya dapatkan dari permainan gambar umbul di masa kecil. Permainan kuno ini tentu bukan didapat dari download di AppStore, Google Play, dan lain sebagainya. Entah dari mana asalnya permainan ini, yang jelas kita mendapatkan pengetahuan permainan ini dari kakak-kakak kita. Termasuk di dalamnya adalah pengetahuan tentang ‘teknologi kecurangan’ dalam permainan ini.

Gambar umbul terbuat dari karton duplex ukuran A3 atau F4 dengan gramatur 250 gr, atau karton BC 220 gr. Gambar yang tercetak di atasnya, merupakan sebuah cerita film layar lebar yang populer saat itu, antara lain ; Ivan Hoe, Hercules, Spartagus, Zoro, Cleopatra, Flash Gordon, Robin Hood, James Bond, Jango, dan lain sebagainya. Ada juga tentang tokoh-tokoh wayang dan tokoh-tokoh komik seperti; Gundala Putra Petir, Si Buta Goa Hantu, Mahesa Wulung, Pendekar Bambu Kuning, Siti Gahara, Mahabarata, dan masih banyak lagi. Itu di tahun 1960-70 an. Belakangan, gambar umbul banyak mengambil cerita dari film-film serial televisi, seperti Bonanza, Hawai Five’O, The Saint, si Unyil, Doraemon, dan lain sebagainya.

Umbul, adalah permainan cukup populer di masa kecil saya. Teknis permainannya amat mudah. Kita dan lawan kita masing-masing menjagokan ‘gacuk’ dua lembar gambar umbul. 4 gambar dijadikan satu dijepit antara jari tengah dan telunjuk, dan ditekan oleh ibu jari, lalu dilentingkan ke udara. Nah, kalau misalnya kedua gambar umbul kita jatuhnya menghadap atas, dan kedua gambar lawan atau salah satu tertelungkup, maka kitalah yang menang. Jadi mayoritas yang gambar umbulnya menghadap ke ataslah yang menang. Taruhannya variatif, bisa 5 lembar atau 10 lembar gambar umbul. Jumlah peserta yang bermain bisa bervariatif, tidak hanya 2 orang. Peraturan taruhannya pun, bisa diatur secara fleksible.

Yang namanya permainan tak terlepas dari kecurangan. Seperti yg sudah saya sebutkan di atas, pada permainan inilah saya mulai diperkenalkan dengan teknologi kecurangan. Berbagai teknologi kecurangan, dari yang vulgar sampai yang halus, saya pelajari. Yang vulgar namanya ‘lap-lip’, ini menempel gambar yang sama di belakang gambar – sehingga, ketika gambar umbul jatuh ke tanah selalu dalam posisi gambar di atas. Karena kedua sisinya bergambar. Karena terlalu vulgar, teknologi ini jarang dipakai.

Teknologi yang lain adalah melumuri sisi belakang gambar dengan putih telur, lantas di jemur. Logikanya, sisi belakang memiliki berat yang lebih, hingga ketika jatuh ke tanah, lebih sering telentang menghadap ke atas. Trik yang lain, ketika kita mendapat giliran melempar/melentingkan gambar umbul, kita tekuk sedikit ‘gacuk’ kita – dengan demikian, entah ada gaya fisika apa, memang ‘gacuk’ kita jatuhnya sering menghadap atas.

Begitulah yang saya ingat tentang ilmu pengetahuan curang yang hadir ke dalam diri di usia dini, dengan tujuan keuntungan pribadi. Pelajaran budi pekerti maupun etika memang sudah didapat dari keluarga, sekolah, dan pelajaran agama. Namun, pada sisi lain, dalam bertingkah-laku sebagai perseorangan di lingkungan sosial, banyak pula pengetahuan yang kita serap. Salah satunya adalah ilmu pengetahuan curang.

Apakah serapan ilmu pengetahuan kecurangan itu bisa dimaafkan mengingat pada saat itu kita-kita masih usia kanak? Dan secara alamiah, pengetahuan itu turun-menurun dari lingkungan sosial yang ada. Bahkan merupakan ‘nilai’ yang berharga sebagai sarana menuju ‘kemenangan’ untuk keuntungan pribadi? Terkadang, saya ingin mengkoreksi apakah naluri curang itu sudah terlanjur melekat dalam bawah sadar kita. Atau memang justru di-melekat-kan dalam kesadaran kita? Tanya ini belum terjawab.

Lantas mengapa teknologi curang di jaman ini kian canggih dan kian vulgar saja? Melebihi kevulgaran teknologi ‘lap-lip’ tadi. Begitu banyaknya kecurangan yang vulgar bermunculan dalam kehidupan nyata, hingga mengingatkanku pada masa kanak-kanak yang indah. Tentu, teknologi curang saat itupun termasuk dalam kenangan indahku. Hal ini lah yang menarik minatku untuk mempelajari lebih dalam tentang ‘curangologi’. Meski ketika aku cari di google maupun wikipedia tak kutemukan istilah tersebut, tak apa-apa. Kelak, mungkin ketemu dengan sendirinya. (T)

LANJUTKAN BACA: Curangologi: Filsafat Curang Seri 2 – Sekuni Milenial

 

Tags: Bahasagaya hiduppermainanSeni
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Bisnis Lontar

Next Post

Taru Bukit

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post

Taru Bukit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co