14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harian Sugi Lanus: Bisnis Lontar

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Aktivitas menjemur "kertas lontar"

 

SAHABAT saya bisnisnya menjual lontar. Lontar yang dijual adalah lontar kosong. Jadi mirip penjual buku kosong, bukan buku bacaan. Juga menjual/menyediakan pangrupak (pisau tulis) dan perlengkapan bantal menulis lontar. Rumahnya pun mirip toko penjual buku tulis dan alat tulis.

Sahabat satu lagi membuka lapak menjual lontar di sebelah rumahnya di Desa Tenganan. Lontar yang dijual berupa lontar prasi, lontar bergambar. Gambarnya, dari yang sekedar drawing dekoratif pewayangan sederhana, cukilan wariga, sampai lembar-lembar perjalanan hidup dan kematian Sang Lubdaka yang diambil dari naskah Siwalatri Kalpa. Jadi lapaknya mirip penjual lukisan dekoratif sebagaimana kita bisa temukan di pasar seni Sukawati atau Kumbasari.

Lebih besar lagi ‘pelaku usaha’ lontar lain adalah sahabat saya yang sudah 40 tahun membuat daun lontar jadi ‘kertas lontar’. Hidupnya berjalan seiring perjalanan musim lontar: Memetik daun-daun lontar di kebun dan tepian pantai di timur pulau Bali, membawanya pulang, memotong dan membentuknya jadi lebih tersusun, memasak dan menjemur, memproses sampai matang dengan berbagai ramuan, menjepit berbulan-bulan sampai betul-betul menjadi lembar ideal ‘kertas lontar’ yang berkualitas dijadikan lembar menulis.

Modal yang diputar sampai sekitar Rp 50 juta. Hidup dan nafas keluarganya tak lepas dari sastra dan lontar. Rp 50 juta yang diputar itu menyangga kehidupannya yang penuh ketabahan menjalani hidup merawat tradisi baca dan tembang, serta interpretasi. Tiada terhitung sudah ratusan mahasiswa master dan PhD datang dari berbagai negeri diberi arahan dan masukan, bahkan tidak jarang dibantu menyalinkan berbagai lontar. Sahabat sepuh ini saya yakin adalah pembaca lontar terbanyak di dunia.

Ketiga sahabat itu orangnya sangat bersahaja. Tidak ada guratan wajahnya menunjukkan mereka ini ingin kaya dari lontar. Hidupnya seperti pelayan kuil yang memberikan kesempatan setiap orang yang mendekat dengannya bisa mencicipi ‘dunia lontar’. Ketiganya tidak mencari untung berlebih. Sekedar bisa membayar anak sekolah dan bertahan makan seadanya. Ketiganya, buat saya, adalah sosok ‘pahlawan literasi’ yang memperpanjang denyut tradisi lontar.

Tiga sosok ini membuat saya kagum. Hidup dijalani dengan sungguh. Tanpa keraguan. Tanpa penyesalan. Tidak banyak keluhan. Tidak punya akun sosial media, sehingga tidak sekalipun umbar status galau, serta tidak tersentuh dan tidak bergeming dengan sengkarut media sosial dan lain-lain.

Di samping ketiga sosok sahabat saya ini, sesungguhnya masih banyak sosok lain yang juga ‘bisnis lontar’. Namun, ini bukan bisnis sebagaimana halnya bisnis yang meraup untung berjuta atau beratus juta, ini lebih merupakan pilihan dan kecintaan pada dunia lontar. Mereka itu seperti: Para tukang tulis awig-awig desa pakraman’ yang sehari-hari menyalin awig-awig beraksara latin menjadi format lontar, berhuruf Bali dan ditulis di atas daun lontar.

Hidupnya lebih menyerupai ngayah dan pengabdian dibandingkan ‘bisnis’. Demikian juga para seniman lontar prasi yang bertahan hidup di beberapa wilayah di Karangasem. Sama halnya dengan pengerajin ukir dan penenun, hidupnya adalah kerja-kerja-kerja yang jauh dari hiruk-pikuk gemerlap gemerincing pelipat gandaan uang.

Buat saya mereka punya andil besar memperpanjang nafas tradisi tulis dan bahasa Bali. Tanpa banyak pidato, mereka penjaga tradisi aksara dan penulisan lontar di garda depan.

Melihat para ‘pekerja lontar’ tersebut, yang saya sebutkan di atas, saya sering berpikir:

1). Kita semestinya mensupport mereka dengan memesan ‘kertas lontar’ sebanyaknya dan kita bagikan untuk anak-anak sekolah untuk belajar atau mencoba menulis lontar. Seperti halnya seni ukir kayu atau pasir, serta paras, lembar lontar-lontar kosong itu adalah bahan untuk berlatih. Anak-anak semasa bersekolah akan bagus sekali punya kesempatan mencoba menulis atau membuat prasi, dan dengan sendirinya pemesanan ini akan membuat para pembuat/penyedian lontar bisa mendapat pesanan dan tradisi membuat ‘kertas-lembar lontar’ ini bertahan.

2). Jika kita punya uang lebih — dibanding gonta-ganti HP terbaru — penting memesan secakep dua cakep lontar buat koleksi keluarga. Ditaruh pajang di ruang tamu sebagai mana layaknya buku atau koleksi patung atau lukis, sehingga anak-anak terbiasa melihat lontar sebagai ‘buku Bali’ yang ditulis dengan kesabaran, keindahan, dan bisa bercermin bahwa Bali punya tradisi panjang sampai awal abad masehi yang akarnya dari aksara Pre-Negari, setidaknya tahu bahwa Bali telah punya kegandrungan literasi semenjak zaman raja-raja Gelgel.

3). Sekolah-sekolah bisa membuat atau melengkapi koleksi buku-buku di perpustakaan mereka dengan koleksi lontar. Ini bisa dilakukan dengan menyalin lontar-lontar koleksi Gedong Kirtya, Pusat Dokumentasi Bali, atau koleksi milik warga (orang tua siswa) sehingga perpustakaan sekolah minimal punya sebiji sampai 10 cakep lontar yang bisa dipajang dan bisa dibaca di masing-masing perpustakaan sekolah di seluruh Bali. Banyak sekali sumber dana pengadaan dan peningkatan kualitas sekolah membuka peluang pengadaan naskah lontar ini. Ini sangat mungkin. Kalaupun tidak banyak tersedia dana, bisa mengkoleksi karya-karya lontar yang ditulis siswa sekolah bersangkutan yang menjadi pemenang lomba ‘nyurat lontar’.

4). Minimal, kalau tidak bisa di tiap sekolah, sebagaimana perpustakaan yang perlu hadir di setiap sudut kota dan kabupaten di seluruh Bali, idealnya semua sudut-sudut perpustakaan yang ada itu melengkapi koleksinya dengan pengadaan salinan lontar-lontar. Jadi perpustakaan kabupaten dan kota punya koleksi lontar-lontar yang relevan dengan kebutuhan warganya, seperti kepemangkuan, seni sastra, usada, pertanian dan bidang lainnya.

Di tengah perkembangan berbagai sektor ‘bisnis’ lain di Bali yang cukup berlimpah dolar, empat hal di atas tidak muluk-muluk. Secara nasional ketersediaan dana pendidikan dari pusat sangat besar, dan PAD di kabupaten dan kota makin meningkat. Semua itu bisa jadi berkah buat hidupnya ‘bisnis lontar’ dan kelanjutan tradisi literasi kita sepanjang kita paham pentingnya merawat tradisi literasi berbasis bahasa Ibu dan berbasis warisan tradisi pengetahuan kuno dalam menyongsong masa depan yang kian tercerabut dari akar.

Lontar adalah buku orang Bali. Membuat kertas lontar, memperjualbelikan lontar kosong, menulis dan membaca, menggandakan isi lontar serta mengkajinya adalah sebuah kegiatan-kegiatan yang sangat mendasar untuk merawat tradisi literasi yang perlu didukung sebagaimana ‘mempromosikan’ kebiasaan membaca buku sejak dini. (T)

*Catatan Harian, 17 Nopember 2017.

Tags: balibisnislontar
Share82TweetSendShareSend
Previous Post

Lelaki Garam

Next Post

Curangologi: Filsafat Curang Seri 1 – Gambar Umbul

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post

Curangologi: Filsafat Curang Seri 1 - Gambar Umbul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co