2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lelaki Garam

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Cerpen

Diambil dari ilustrasi asli di Kompas, 22 Oktober 2017

Cerpen: Made Adnyana Ole

PADA saat bersamaan ketika lelaki itu mengibaskan ujung kerah kemeja di sisi bahu yang basah oleh keringat, Jenawi tanpa sadar menjulurkan sedikit ujung lidah untuk melontarkan biji jambu yang tertinggal di mulut sehabis meneguk jus campur buah lokal. Tepat saat itulah lidahnya mencecap rasa asin yang menggetarkan hati, asin yang dirindukannya sejak bertahun-tahun lalu.

Ia merasakan angin aneh berembus dari tubuh lelaki itu, angin dengan kandungan uap garam yang basah. Uap itu mungkin meruap dari keringat yang terbang ketika ujung kerah kemeja lelaki itu dikibaskan. Mereka sama-sama berdiri di tepi danau, di pinggiran acara Festival Wisata Air yang digelar Dinas Pariwisata. Jadi, tak mungkin ada embusan uap garam dari danau, kecuali dari tubuh lelaki dengan kejanggalan yang menyiksa: keringat berlebih di udara sejuk sekali pun.

Jenawi serasa mabuk. Dan dengan dorongan sensasi asin ia dekati lelaki itu, lelaki yang melamun sendiri di bibir danau, di antara tonggak bambu tempat nelayan mengikat jukung kayu. Begitu dekat, Jenawi ingin meraih tengkuk lelaki itu seperti mengetuk tengkuk seorang teman yang kebetulan ditemukan di tempat asing. Tapi berdebarlah jantung Jenawi saat tak terduga lelaki itu berbalik. Lelaki itu merentangkan kedua tangan dengan tingkah hendak menangkap tubuh Jenawi. Dan seperti sihir, tubuh Jenawi meluncur lalu terjerembab tepat di antara dua rentang tangan lelaki itu. Tubuh Jenawi tertangkap, lelaki itu menangkapnya.

Mereka berpelukan. Tepat di atas bahu lelaki itu, mulut Jenawi tak henti menyembulkan ujung lidah, menikmati uap asin yang seperti meletus dari setiap pori tubuh lelaki yang memeluknya, lelaki yang dipeluknya. Saat pelukan merenggang, Jenawi sempat melirik dan melihat lelaki itu juga menjulurkan lidah, seperti mencecap sesuatu, mencecap dengan penuh perasaan, kadang dengan mata yang pejam.

Begitulah awal bertemunya Jenawi, sebulan lalu, dengan Ripah, lelaki itu. Jenawi datang ke festival diundang selaku pengusaha restoran. Ripah datang selaku pengusaha hotel. Keramaian mempertemukan mereka, tapi pertemuan itu ia rasa seperti pertemuan gaib antara mimpi dan kenyataan. Ia pikir, pertemuan itu layak bagi seorang perempuan lajang meski usianya hampir 35 tahun. Ripah mungkin lebih tua lima tahun. Jika boleh berkhayal, ia ingin pertemuan itu bagai pertemuan sepasang burung yang tak perlu saling kenal tapi kemudian bercumbu dengan bebas di hutan senyap.

Sebulan lewat, Jenawi merasa seperti burung. Burung perindu, bernyanyi selalu, memanggil pasangan yang entah di mana. Sungguh bukan Ripah dan pelukan itu yang dirindukannya. Tapi asin itu. Asin dengan satu rasa nan sama dengan asin yang pernah ia nikmati di masa kanak. Asin uap garam itu, dulu, selalu meruap dari tubuh lelaki berotot liat berkulit hangus yang ia panggil ayah. Lelaki itu penjual garam. Datang setiap Rabu ke desanya, ke Desa Uli, sebuah desa tani di lereng Bukit Bedugul. Lelaki itu selalu ditunggu, tentu karena dia satu-satunya penjaja garam ke desa itu. Lebih-lebih bagi warga Desa Uli, garam sematalah bahan makanan yang harus mereka beli. Semua bahan lain diambil cuma-cuma dari alam desa yang raya.

Jenawi satu-satunya anak desa yang menunggu penjaja garam itu dengan getar harap di setiap Rabu. Selalu di setiap Rabu pagi, ia keluar rumah, memandang lurus ke ujung jalan setapak. Ia tak pernah kecewa, lelaki itu menyembul dari tikungan di bawah rimbun sukun dan semak di kiri-kanan. Suara langkahnya jelas, karena beban berat di bahu menyebabkan kedua kakinya menginjak daun kering yang terserak di jalan dengan tekanan yang cukup keras.

“Ayah datang!”

Jenawi menyambutnya dengan lengking girang kanak-kanak. Lelaki itu mempercepat langkah sehingga dua keranjang berisi garam yang sedang dipanggul dengan sepotong bambu di pundak berayun seakan hendak jatuh. Keranjang itu tak jatuh. Tali ijuk terlalu kuat menggantungnya dan sangat erat mengikat di kedua ujung bambu. Kalau pun akhirnya keranjang itu dilepaskan ke tanah, tentu karena lelaki itu menurunkannya dengan sengaja, agar kedua tangannya leluasa merangkul tubuh mungil Jenawi. Jenawi lalu menggeliat di dada lelaki itu, sambil selalu menjulurkan lidah, mencecap uap garam yang meletus di setiap pori tubuh lelaki yang selalu tampak hangus terbakar itu.

Selalu sebelum keliling menjajakan garam, lelaki itu jeda di rumah Jenawi. Usai keliling, saat sore sebelum gelap, lelaki itu datang lagi, bercanda dengan Jenawi, dan tidur bersama ibunya setelah sore berubah gelap. Lelaki itu menginap hingga Sabtu dan pergi di Minggu pagi. Rabu pagi berikutnya ia datang lagi. Selalu begitu. Dan Jenawi tak pernah hirau siapa sesungguhnya lelaki itu.

“Dia bukan suami ibu. Tapi panggil saja dia ayah!” kata ibunya suatu pagi. Jenawi tak peduli, tapi ia mengangguk. Sama tak pedulinya ia ketika sejumlah orang desa mengejeknya dengan cerita-cerita sok tahu.

“Kau anak malang, Jenawi. Lahir tanpa ayah, tapi dipelihara tukang garam, bukan ayah, tapi sebenarnya ayah!”

Jenawi berkali dengar cerita itu. Ibunya menjalin asmara dengan penjual garam lalu hamil. Ibunya menolak menikah. Jenawi tetap lahir. Ibunya diusir dari rumah keluarga. Dibantu lelaki penjual garam, ibunya mendirikan rumah kecil di atas tegalan agak tinggi, sehingga dari rumah itu akan tampak dengan indah lekuk sungai dan tera sawah di lembah pedesaan. Bagi Jenawi, rumahnya adalah tempat paling indah. Apalagi terdapat pohon asam yang rajin berbuah di halaman. Ia biasa naik dan duduk di atas cabang besar. Dari atas cabang ia tak hanya bisa melihat liku sungai dan sawah berundak di bawah, tapi juga laut dan sebuah tanjung luas di tempat yang jauh di selatan.

“Di situlah rumah Ayah, Jenawi. Di kaki pulau itu!” kata lelaki itu suatu sore ketika mereka duduk di cabang asam yang tinggi. Tangan lelaki itu menunjuk sebuah tanjung, daratan yang tampak kelabu, menjorok ke laut di ujung selatan Pulau Bali. “Di tepi tanjung itu, di atas pasir putih, Ayah membuat garam dari air laut yang bening!”

“Kapan Ayah mengajak Jenawi ke sana?”

“Ayah ingin sekali mengajakmu tinggal di sana, tentu bersama ibumu. Tapi ibumu menolak. Katanya ia lebih bahagia di desa ini, di rumah ini,” jawab lelaki itu.

Wajah lelaki itu seketika memerah dan keringatnya melimpah. Keringat berlebih memang selalu terbit di tubuhnya jika lelaki itu bicara soal perasaan, mungkin rasa cinta dan sedih yang saling bertabrakan di hatinya. Seperti biasa pada saat seperti itu Jenawi akan menyembulkan lidah lalu mencecap asin dari uap keringat tubuh lelaki itu. Jenawi memetik buah asam matang, dikupas segera, lalu daging asam lunak dilumurkan ke wajah lelaki itu. Lelaki itu akan mengeluarkan lidah dan berupaya menjilat lumuran asam di sekitar bibir dengan mata terpejam. Lelaki itu menyukai asam, tentu saja. Di Minggu pagi, lelaki itu selalu mengisi keranjangnya dengan buah asam untuk dibawa pulang ke tanjung selatan, ke rumahnya, tempat ia bertani garam.

Jenawi ingat, pada Minggu yang dini, lelaki itu menjejali kedua keranjangnya dengan buah asam matang. Dan ketika hendak beranjak pergi di pagi hari, ia didatangi kepala desa. Mereka bicara agak lama, tapi intinya lelaki itu diusir.

“Di desa ini akan dibangun pasar modern yang menyediakan semua kebutuhan warga. Jadi, sesuai kesepakatan kami dengan investor, penjual barang apa pun, termasuk garam, tak diizinkan masuk desa ini, apalagi ke rumah-rumah,” kata kepala desa.

Lelaki itu mengangguk lalu bersiap pergi. Sebelum meninggalkan halaman rumah, lelaki itu memeluk Jenawi. “Ayah tetap akan datang, bukan untuk jual garam, tapi untuk menemui Jenawi dan ibumu!” ujarnya.

Namun lelaki itu tak pernah datang. Jenawi terus menunggu sambil menyaksikan Desa Uli berubah. Jalan diperlebar, jembatan dibangun, lalu-lalang orang entah dari mana lewat setiap saat di desa itu. Toko modern berjejaring dibangun di setiap sudut tikungan. Kemudian ada hotel dan rumah makan. Kebutuhan warga berubah. Yang harus dibeli bukan lagi semata garam, tapi berbagai barang yang tak mereka perlukan.

Jenawi dan ibunya tak mau tertinggal. Rumah dengan pohon asam di halaman disulap jadi warung dengan menu masakan lokal. Awalnya Jenawi hanya membantu, namun setamat kuliah pariwisata ia mengelola warung secara penuh. Statusnya ia tingkatkan jadi restoran. Ia memimpin ritual memasak dan melayani pelanggan yang tak pernah sepi, siang dan malam. Menu restoran itu tak terlalu enak. Jenawi tahu. Pelanggan datang sebenarnya hanya terpesona alam di sekitar restoran, terutama pohon asam yang makin besar dan kokoh di halaman. Apalagi saat malam, dari pohon asam itu akan tampak pemandangan jutaan lampu seperti kunang-kunang di sebuah tanjung di kejauhan, di ujung selatan Pulau Bali.

“Di sanalah rumah ayah saya, di sela lampu-lampu di tanjung itu. Dulu tanjung itu gelap, kini telah benderang,” kata Jenawi jika melihat pelanggan duduk di bawah pohon asam sambil memandang jauh ke selatan. Jika restoran sudah tutup, Jenawi pun lebih sering duduk di bawah pohon asam, kadang hingga tengah malam, sambil memandang tanjung kelap-kelip di kejauhan. Dengan begitu ia telah merawat rindunya pada uap asin dari tubuh lelaki yang ia panggil ayah, tentu rasa asin yang menggetarkan hati, yang tak pernah ia dapatkan dari garam di pasar mana pun yang pernah dibelinya untuk menu restoran.

Kini asin seperti itu didapat dari tubuh Ripah. Setiap duduk di bawah pohon asam, ia ingat lelaki penjual garam sekaligus ingat Ripah dan ingin menemuinya sekali lagi, dua kali lagi, atau seterusnya, bukan hanya di tepi danau, tapi di sebuah tempat yang amat sunyi, sehingga ia bisa melumat seluruh asin di tubuh lelaki itu. Dan suatu malam, kerinduannya tak bisa ditahan. Ia menelepon Ripah.

“Bisakah kita bertemu di tepi danau itu lagi?” sergah Jenawi saat hubungan telepon tersambung, bahkan sebelum Ripah sempat mengucap salam.

“Tentu saja. Datanglah malam ini juga!” jawab Ripah.

Jenawi tak tahu, saat ia menelepon, Ripah sudah berdiri di tepi danau, di tempat mereka dulu berpelukan. Sejak bertemu Jenawi, lelaki itu hampir setiap hari berdiri di tempat itu, kadang dari pagi hingga tengah malam. Selain menemu sejuk karena belakangan tubuhnya selalu berkeringat secara berlebih, ia juga ingin menyingkir dari hiruk-pikuk perusahaan. Sudah sejak lama ia kerja tanpa henti, tepatnya sejak ia memelihara dendam dan ambisi untuk jadi pengusaha kaya, melebihi kekayaan pengusaha asing yang terus berebut membangun hotel di kawasan tanjung selatan tempat ia lahir.

Tiga istrinya secara bergiliran menelepon. Penduduk tepi danau menganggap ia tak waras, karena selalu tampak menjulurkan lidah, seolah ingin mencecap sesuatu. Padahal ia memang ingin mencecap sisa uap asam yang meruap dari tubuh Jenawi saat ia peluk di tempat itu sebulan lalu. Ia rindu asam tubuh Jenawi, seperti juga ia rindu pada asam yang ia cecap dari embus keringat ayahnya, dulu, di setiap Minggu sore, pada setiap ayahnya baru datang dari menjajakan garam di desa pegunungan.

Ripah tak bisa lupa bagaimana ia kehilangan ayah sekaligus kehilangan uap asam itu. Pada Minggu sore, sejumlah laki-laki mendatangi ibunya di ladang garam. Perawakan mereka tegap seperti tentara, namun dari apa yang dibicarakan kentara sekali mereka calo tanah.Mereka sudah berkali-kali datang. Tujuannya sama, memaksa ayah dan ibunya melepaskan ladang garam untuk dibeli konglomerat dari Jakarta. Ladang garam yang diapit laut dan bukit landai itu hendak disulap jadi hotel paling mewah di Bali.

Ayahnya datang tepat ketika seorang dari sejumlah laki-laki itu membentak ibunya. Ripah tak akan pernah lupa, saat itu ayahnya datang dari menjajakan garam dengan wajah sangat sedih sambil memanggul dua keranjang penuh buah asam. Ayahnya kalap dan langsung mengamuk. Ia menerjang dan mengayunkan keranjang ke tubuh laki-laki yang membentak ibunya. Lalu terdengar ledakan. Ayahnya rebah. Darah dan buah asam berserakan di atas ladang garam. (T)

Cerpen ini dimuat pertamakali di Kompas, Minggu 22 Oktober 2017 

Tags: Cerpen
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Muhammad Husein Heikal# Don Quixote

Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Bisnis Lontar

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Bisnis Lontar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co