14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lelaki Garam

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Cerpen

Diambil dari ilustrasi asli di Kompas, 22 Oktober 2017

Cerpen: Made Adnyana Ole

PADA saat bersamaan ketika lelaki itu mengibaskan ujung kerah kemeja di sisi bahu yang basah oleh keringat, Jenawi tanpa sadar menjulurkan sedikit ujung lidah untuk melontarkan biji jambu yang tertinggal di mulut sehabis meneguk jus campur buah lokal. Tepat saat itulah lidahnya mencecap rasa asin yang menggetarkan hati, asin yang dirindukannya sejak bertahun-tahun lalu.

Ia merasakan angin aneh berembus dari tubuh lelaki itu, angin dengan kandungan uap garam yang basah. Uap itu mungkin meruap dari keringat yang terbang ketika ujung kerah kemeja lelaki itu dikibaskan. Mereka sama-sama berdiri di tepi danau, di pinggiran acara Festival Wisata Air yang digelar Dinas Pariwisata. Jadi, tak mungkin ada embusan uap garam dari danau, kecuali dari tubuh lelaki dengan kejanggalan yang menyiksa: keringat berlebih di udara sejuk sekali pun.

Jenawi serasa mabuk. Dan dengan dorongan sensasi asin ia dekati lelaki itu, lelaki yang melamun sendiri di bibir danau, di antara tonggak bambu tempat nelayan mengikat jukung kayu. Begitu dekat, Jenawi ingin meraih tengkuk lelaki itu seperti mengetuk tengkuk seorang teman yang kebetulan ditemukan di tempat asing. Tapi berdebarlah jantung Jenawi saat tak terduga lelaki itu berbalik. Lelaki itu merentangkan kedua tangan dengan tingkah hendak menangkap tubuh Jenawi. Dan seperti sihir, tubuh Jenawi meluncur lalu terjerembab tepat di antara dua rentang tangan lelaki itu. Tubuh Jenawi tertangkap, lelaki itu menangkapnya.

Mereka berpelukan. Tepat di atas bahu lelaki itu, mulut Jenawi tak henti menyembulkan ujung lidah, menikmati uap asin yang seperti meletus dari setiap pori tubuh lelaki yang memeluknya, lelaki yang dipeluknya. Saat pelukan merenggang, Jenawi sempat melirik dan melihat lelaki itu juga menjulurkan lidah, seperti mencecap sesuatu, mencecap dengan penuh perasaan, kadang dengan mata yang pejam.

Begitulah awal bertemunya Jenawi, sebulan lalu, dengan Ripah, lelaki itu. Jenawi datang ke festival diundang selaku pengusaha restoran. Ripah datang selaku pengusaha hotel. Keramaian mempertemukan mereka, tapi pertemuan itu ia rasa seperti pertemuan gaib antara mimpi dan kenyataan. Ia pikir, pertemuan itu layak bagi seorang perempuan lajang meski usianya hampir 35 tahun. Ripah mungkin lebih tua lima tahun. Jika boleh berkhayal, ia ingin pertemuan itu bagai pertemuan sepasang burung yang tak perlu saling kenal tapi kemudian bercumbu dengan bebas di hutan senyap.

Sebulan lewat, Jenawi merasa seperti burung. Burung perindu, bernyanyi selalu, memanggil pasangan yang entah di mana. Sungguh bukan Ripah dan pelukan itu yang dirindukannya. Tapi asin itu. Asin dengan satu rasa nan sama dengan asin yang pernah ia nikmati di masa kanak. Asin uap garam itu, dulu, selalu meruap dari tubuh lelaki berotot liat berkulit hangus yang ia panggil ayah. Lelaki itu penjual garam. Datang setiap Rabu ke desanya, ke Desa Uli, sebuah desa tani di lereng Bukit Bedugul. Lelaki itu selalu ditunggu, tentu karena dia satu-satunya penjaja garam ke desa itu. Lebih-lebih bagi warga Desa Uli, garam sematalah bahan makanan yang harus mereka beli. Semua bahan lain diambil cuma-cuma dari alam desa yang raya.

Jenawi satu-satunya anak desa yang menunggu penjaja garam itu dengan getar harap di setiap Rabu. Selalu di setiap Rabu pagi, ia keluar rumah, memandang lurus ke ujung jalan setapak. Ia tak pernah kecewa, lelaki itu menyembul dari tikungan di bawah rimbun sukun dan semak di kiri-kanan. Suara langkahnya jelas, karena beban berat di bahu menyebabkan kedua kakinya menginjak daun kering yang terserak di jalan dengan tekanan yang cukup keras.

“Ayah datang!”

Jenawi menyambutnya dengan lengking girang kanak-kanak. Lelaki itu mempercepat langkah sehingga dua keranjang berisi garam yang sedang dipanggul dengan sepotong bambu di pundak berayun seakan hendak jatuh. Keranjang itu tak jatuh. Tali ijuk terlalu kuat menggantungnya dan sangat erat mengikat di kedua ujung bambu. Kalau pun akhirnya keranjang itu dilepaskan ke tanah, tentu karena lelaki itu menurunkannya dengan sengaja, agar kedua tangannya leluasa merangkul tubuh mungil Jenawi. Jenawi lalu menggeliat di dada lelaki itu, sambil selalu menjulurkan lidah, mencecap uap garam yang meletus di setiap pori tubuh lelaki yang selalu tampak hangus terbakar itu.

Selalu sebelum keliling menjajakan garam, lelaki itu jeda di rumah Jenawi. Usai keliling, saat sore sebelum gelap, lelaki itu datang lagi, bercanda dengan Jenawi, dan tidur bersama ibunya setelah sore berubah gelap. Lelaki itu menginap hingga Sabtu dan pergi di Minggu pagi. Rabu pagi berikutnya ia datang lagi. Selalu begitu. Dan Jenawi tak pernah hirau siapa sesungguhnya lelaki itu.

“Dia bukan suami ibu. Tapi panggil saja dia ayah!” kata ibunya suatu pagi. Jenawi tak peduli, tapi ia mengangguk. Sama tak pedulinya ia ketika sejumlah orang desa mengejeknya dengan cerita-cerita sok tahu.

“Kau anak malang, Jenawi. Lahir tanpa ayah, tapi dipelihara tukang garam, bukan ayah, tapi sebenarnya ayah!”

Jenawi berkali dengar cerita itu. Ibunya menjalin asmara dengan penjual garam lalu hamil. Ibunya menolak menikah. Jenawi tetap lahir. Ibunya diusir dari rumah keluarga. Dibantu lelaki penjual garam, ibunya mendirikan rumah kecil di atas tegalan agak tinggi, sehingga dari rumah itu akan tampak dengan indah lekuk sungai dan tera sawah di lembah pedesaan. Bagi Jenawi, rumahnya adalah tempat paling indah. Apalagi terdapat pohon asam yang rajin berbuah di halaman. Ia biasa naik dan duduk di atas cabang besar. Dari atas cabang ia tak hanya bisa melihat liku sungai dan sawah berundak di bawah, tapi juga laut dan sebuah tanjung luas di tempat yang jauh di selatan.

“Di situlah rumah Ayah, Jenawi. Di kaki pulau itu!” kata lelaki itu suatu sore ketika mereka duduk di cabang asam yang tinggi. Tangan lelaki itu menunjuk sebuah tanjung, daratan yang tampak kelabu, menjorok ke laut di ujung selatan Pulau Bali. “Di tepi tanjung itu, di atas pasir putih, Ayah membuat garam dari air laut yang bening!”

“Kapan Ayah mengajak Jenawi ke sana?”

“Ayah ingin sekali mengajakmu tinggal di sana, tentu bersama ibumu. Tapi ibumu menolak. Katanya ia lebih bahagia di desa ini, di rumah ini,” jawab lelaki itu.

Wajah lelaki itu seketika memerah dan keringatnya melimpah. Keringat berlebih memang selalu terbit di tubuhnya jika lelaki itu bicara soal perasaan, mungkin rasa cinta dan sedih yang saling bertabrakan di hatinya. Seperti biasa pada saat seperti itu Jenawi akan menyembulkan lidah lalu mencecap asin dari uap keringat tubuh lelaki itu. Jenawi memetik buah asam matang, dikupas segera, lalu daging asam lunak dilumurkan ke wajah lelaki itu. Lelaki itu akan mengeluarkan lidah dan berupaya menjilat lumuran asam di sekitar bibir dengan mata terpejam. Lelaki itu menyukai asam, tentu saja. Di Minggu pagi, lelaki itu selalu mengisi keranjangnya dengan buah asam untuk dibawa pulang ke tanjung selatan, ke rumahnya, tempat ia bertani garam.

Jenawi ingat, pada Minggu yang dini, lelaki itu menjejali kedua keranjangnya dengan buah asam matang. Dan ketika hendak beranjak pergi di pagi hari, ia didatangi kepala desa. Mereka bicara agak lama, tapi intinya lelaki itu diusir.

“Di desa ini akan dibangun pasar modern yang menyediakan semua kebutuhan warga. Jadi, sesuai kesepakatan kami dengan investor, penjual barang apa pun, termasuk garam, tak diizinkan masuk desa ini, apalagi ke rumah-rumah,” kata kepala desa.

Lelaki itu mengangguk lalu bersiap pergi. Sebelum meninggalkan halaman rumah, lelaki itu memeluk Jenawi. “Ayah tetap akan datang, bukan untuk jual garam, tapi untuk menemui Jenawi dan ibumu!” ujarnya.

Namun lelaki itu tak pernah datang. Jenawi terus menunggu sambil menyaksikan Desa Uli berubah. Jalan diperlebar, jembatan dibangun, lalu-lalang orang entah dari mana lewat setiap saat di desa itu. Toko modern berjejaring dibangun di setiap sudut tikungan. Kemudian ada hotel dan rumah makan. Kebutuhan warga berubah. Yang harus dibeli bukan lagi semata garam, tapi berbagai barang yang tak mereka perlukan.

Jenawi dan ibunya tak mau tertinggal. Rumah dengan pohon asam di halaman disulap jadi warung dengan menu masakan lokal. Awalnya Jenawi hanya membantu, namun setamat kuliah pariwisata ia mengelola warung secara penuh. Statusnya ia tingkatkan jadi restoran. Ia memimpin ritual memasak dan melayani pelanggan yang tak pernah sepi, siang dan malam. Menu restoran itu tak terlalu enak. Jenawi tahu. Pelanggan datang sebenarnya hanya terpesona alam di sekitar restoran, terutama pohon asam yang makin besar dan kokoh di halaman. Apalagi saat malam, dari pohon asam itu akan tampak pemandangan jutaan lampu seperti kunang-kunang di sebuah tanjung di kejauhan, di ujung selatan Pulau Bali.

“Di sanalah rumah ayah saya, di sela lampu-lampu di tanjung itu. Dulu tanjung itu gelap, kini telah benderang,” kata Jenawi jika melihat pelanggan duduk di bawah pohon asam sambil memandang jauh ke selatan. Jika restoran sudah tutup, Jenawi pun lebih sering duduk di bawah pohon asam, kadang hingga tengah malam, sambil memandang tanjung kelap-kelip di kejauhan. Dengan begitu ia telah merawat rindunya pada uap asin dari tubuh lelaki yang ia panggil ayah, tentu rasa asin yang menggetarkan hati, yang tak pernah ia dapatkan dari garam di pasar mana pun yang pernah dibelinya untuk menu restoran.

Kini asin seperti itu didapat dari tubuh Ripah. Setiap duduk di bawah pohon asam, ia ingat lelaki penjual garam sekaligus ingat Ripah dan ingin menemuinya sekali lagi, dua kali lagi, atau seterusnya, bukan hanya di tepi danau, tapi di sebuah tempat yang amat sunyi, sehingga ia bisa melumat seluruh asin di tubuh lelaki itu. Dan suatu malam, kerinduannya tak bisa ditahan. Ia menelepon Ripah.

“Bisakah kita bertemu di tepi danau itu lagi?” sergah Jenawi saat hubungan telepon tersambung, bahkan sebelum Ripah sempat mengucap salam.

“Tentu saja. Datanglah malam ini juga!” jawab Ripah.

Jenawi tak tahu, saat ia menelepon, Ripah sudah berdiri di tepi danau, di tempat mereka dulu berpelukan. Sejak bertemu Jenawi, lelaki itu hampir setiap hari berdiri di tempat itu, kadang dari pagi hingga tengah malam. Selain menemu sejuk karena belakangan tubuhnya selalu berkeringat secara berlebih, ia juga ingin menyingkir dari hiruk-pikuk perusahaan. Sudah sejak lama ia kerja tanpa henti, tepatnya sejak ia memelihara dendam dan ambisi untuk jadi pengusaha kaya, melebihi kekayaan pengusaha asing yang terus berebut membangun hotel di kawasan tanjung selatan tempat ia lahir.

Tiga istrinya secara bergiliran menelepon. Penduduk tepi danau menganggap ia tak waras, karena selalu tampak menjulurkan lidah, seolah ingin mencecap sesuatu. Padahal ia memang ingin mencecap sisa uap asam yang meruap dari tubuh Jenawi saat ia peluk di tempat itu sebulan lalu. Ia rindu asam tubuh Jenawi, seperti juga ia rindu pada asam yang ia cecap dari embus keringat ayahnya, dulu, di setiap Minggu sore, pada setiap ayahnya baru datang dari menjajakan garam di desa pegunungan.

Ripah tak bisa lupa bagaimana ia kehilangan ayah sekaligus kehilangan uap asam itu. Pada Minggu sore, sejumlah laki-laki mendatangi ibunya di ladang garam. Perawakan mereka tegap seperti tentara, namun dari apa yang dibicarakan kentara sekali mereka calo tanah.Mereka sudah berkali-kali datang. Tujuannya sama, memaksa ayah dan ibunya melepaskan ladang garam untuk dibeli konglomerat dari Jakarta. Ladang garam yang diapit laut dan bukit landai itu hendak disulap jadi hotel paling mewah di Bali.

Ayahnya datang tepat ketika seorang dari sejumlah laki-laki itu membentak ibunya. Ripah tak akan pernah lupa, saat itu ayahnya datang dari menjajakan garam dengan wajah sangat sedih sambil memanggul dua keranjang penuh buah asam. Ayahnya kalap dan langsung mengamuk. Ia menerjang dan mengayunkan keranjang ke tubuh laki-laki yang membentak ibunya. Lalu terdengar ledakan. Ayahnya rebah. Darah dan buah asam berserakan di atas ladang garam. (T)

Cerpen ini dimuat pertamakali di Kompas, Minggu 22 Oktober 2017 

Tags: Cerpen
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Muhammad Husein Heikal# Don Quixote

Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Bisnis Lontar

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Bisnis Lontar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co