23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Taru Bukit

Satia Guna by Satia Guna
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Satia Guna

POTONGAN-POTONGAN kayu narbuaya, jati, dan eboni sudah tertumpuk di salon Man Gredeg. Pagi itu ia memandangi potongan-potongan kayu itu sembari menyeduh kopi pahit kesukaannya. Ia menghela kepulan-kepulan asap rokok yang keluar dari mulutnya. Pengotok, paet, dan meteran sudah berada disampingnya. Siap menemaninya membentuk bongkahan-bongkahan kayu yang ada.

Bongkahan-bongkahan kayu yang bergeletak di salon,menerbangkan ingatannya pada tumpukan masa lalu dimana kesehariannya tidaklah seperti ini. Dimana pohon-pohon tumbuh subur di tegalannya. Tubuhnya tak sekerempeng sekarang. Dulu tubuhnya tegap, gagah, dan berwibawa.

Setiap hari ia selalu membawa gergaji dan tali untuk menumbangkan pohon-pohon yang menjulang tepat berada di ujung bukit yang kini telah gundul. Ia mengingat-ingat kapan terakhir kali ia membabat puluhan pohon-pohon di belakang bukit itu. Ia telah lupa, lupa pada ambisinya saat itu. Ia pula lupa bagaimana kebanggannya mengukir satu demi satu pohon menjadi patung dan topeng utuh.

Pada tahun 1989 tersiar kabar bahwa penebang pohon liar akan ditangkap, dikenai denda, dan dipenjara jika ketahuan sedang membabat pohon di hutan. Para pengangguran berlomba-lomba untuk mengikuti seleksi masuk kepolisian hutan. Saat Man Gredeg mendengar berita tersebut dari beberapa teman-teman penebang kayu, ia sontak berpikir keras dan mencari cara agar tak tertangkap oleh mereka. Sebab penghasilan utamanya adalah sebagai penebang pohon.

Ia sudah jadi penebang pohon sejak umur 15 tahun. Putus sekolah hanya untuk melanglang bhuana melewati bukit demi bukit hanya untuk mendapatkan kayu yang berkualitas dan menjanjikan bagi para investor. Ia tak pernah pulang. Rumahnya adalah bukit. Soal makanan, bila beruntung ia bisa menyantap kijang bakar bersama teman-teman, tapi kalau sedang lagi apes beberapa kalajengking dan ulat tanah pun tak jadi masalah.

Man Gredeg biasa berjalan bersama teman-temannya, bergerombol, bernyanyi di sepanjang perjalanan. Menyusuri kabut yang tanpa henti menghadang langkah dingin yang mereka tancapkan pada tubuh-tubuh bukit renta. Mereka bersorak seperti bajak laut seusai menjarah harta. Tatapan mereka dingin sedingin sapuan angin yang menyapu pohon-pohon cemara yang mereka lewati. Mereka takkan pulang sebelum memanggul tubuh-tubuh pohon yang telah mereka mutilasi.

Man Gredeg merupakan anggota terkecil dari puluhan anggota tersebut. Ia seorang pekerja keras. Ia merupakan anak tertua dari lima bersaudara. Hanya ia yang dapat membiayai sekolah adik-adiknya.

Setelah menyusuri berbagai macam kelok-melok sungai dan bentang sawah yang berpetak-petak, sampailah mereka pada sebuah bukit dengan pepohonan yang aneh. Biasanya satu bukit menyediakan berbagai macam pohon. Tapi pada satu bukit ini hanya ada pohon pule. Mereka jadi sulit untuk menentukan arah, karena semua pohon sama, jalanan kelok melok pun sama. Mereka berputar, mengulang dan mengulang sampai malam menyingkirkan kabut yang menutupi penglihatan.

Man Gredeg menyeruput sisa-sisa kopi yang masih tersisa di gelas, sembari melontarkan lintingan puntung rokok yang tak habis ia hirup. Hembusan kepulan terakhir mengingatkannya akan semua rekan-rekannya yang lenyap di bukit itu. Termasuk pamannya yang paling disayang.

Pakis-pakis di sepandang bukit berlumuran darah lalu beberapa sabit yang menancap di pohon-pohon pule. Hanya Man Gredeg yang selamat. Hanya ia yang terbangun dan mendapati diri telah sendiri. Dari atas pohon tempat ia tertidur ia hanya melihat kumpulan kunang-kunang subuh yang hinggap di beberapa pohon pakis yang berlumuran darah.

Kunang-kunang itu berusaha membangunkan beberapa kejadian yang menimpa semua anggotanya. Ia melihat kepala yang tergantung di atas pohon lalu akar-akar pohon pule menyeruak dari timbul tanah mengikat semua anggotanya dan menggantung mereka pada beberapa batang yang kuat menahan berat badan mereka.

Lalu akar-akar tajam itu menusuk bertubi-tubi perut, leher, kepala, dan seluruh organ tubuh anggotanya. Malam itu pohon pule tak terlihat hijau seperti biasanya. Daun-daun berwarna merah dan tanah menjadi lautan darah yang dipenuhi potongan tubuh. Dalam termangunya Man Gredeg tak sadar air matanya mengalir membasahi pipinya. Ia tak berani turun dari pohon, seolah-olah akar-akar pohon pule siap menjadi duri panjang yang akan menusuk perutnya saat ia terjatuh dari pohon

Ia sangat ketakutan. Ia tak berani turun. Kakinya mengakar pada sebuah dahan pohon. Matanya hampa diterpa beberapa debu. Ia kehilangan kesadaran.

Daun-daun pohon pule berjatuhan menghantam kulitnya yang kasar. Ia tersadar, bangkit dan masih terduduk lemas di atas dahan pohon pule. Ditengoknya ke bawah memastikan kejadian semalam hanyalah mimpi yang larut menjadi bunga tidur. Matanya terbelalak, api unggun masih utuh, lalu tungku tak lagi hangat. Ditengoknya lagi sekeliling. Sepi siang itu membuatnya lebih takut ketimbang melihat kejadian semalam.

Sangat sepi. Semua kelompoknya menghilang. Tak ada jejak kaki, senyap, musnah. Ia menangis sejadi-jadinya sampai tak terdengar lagi desir angin yang selalu menerpa rambut dan sekujur tubuhnya. Sepi ini lebih gigil daripada rintik hujan dan kumpulan kabut. Sepi ini kubangan masa lalu yang tak ingin ia ingat kembali. Dan sepi ini adalah alunan nada penjerit yang memekikan hati dan air mata.

Man Gredeg turun dari pohon pule, setelah lelahnya henti menghinggapi. Dirabanya semua daun-daun pakis berharap ada beberapa jejak yang dapat membuatnya sadar kalau ia tak sendirian di tengah hutan pohon pule. Ia harus menemukan jejak sekecil apapun, kalau tidak, malam akan menjemput segala macam sepi yang ia miliki.

Beberapa kumbang pohon bersuara. Saling bersautan menandakan pencarian Man Gredeg akan segera berakhir. Hujan turun malam itu menyibak barisan kabut yang mengitari bukit. Man Gredeg naik lagi ke atas pohon pule, ia tak bisa tidur, ia takut saat tertidur pohon pule menjeratnya lalu menelannya ke dalam tanah. Ia mulai memikirkan tragedi-tragedi aneh yang memacu kecemasannya.

Hujan semakin deras. Ia teringat dengan beberapa kelompoknya yang sempat disebut-sebut sebagai anggota PKI, Man Gredeg mengira PKI itu adalah sebuah partai politik yang akan maju ke pilkada. Tapi alangkah terkejutnya ia setelah salah satu dari anggota penebang pohonnya diketahui mengambang terbungkus karung ditemukan di sungai dekat sawah ayahnya.

Ia berpikir, mungkin hal tersebut karena perseteruan antar politikus. Ia masih menanggapinya dengan santai. Seminggu kemudian giliran saudaranya yang juga penebang kayu yang diiusukan masuk PKI tergantung di atas pohon kelapa depan rumahnya. Rentetan itu berlangsung sampai sebulan kemudian satu persatu penebang kayu tewas secara misterius. Sampai akhirnya rombongan penebang kayu pun berencana untuk pergi mencari kayu di sebuah bukit di bagian utara.

Melayang-layang, tubuh teman-teman dan saudaranya bergelantungan digantung pohon pule. Ia menyaksikannya lagi. Ditemani kunang-kunang yang kadang hinggap di bahunya seakan membisik bahwa ini semua bukan mimpi. Hutan pule kembali menjadi lautan darah. Seluruh organ tubuh berserakan. Tetesan hujan yang ia rasakan tadi berubah anyir dan berwarna merah.

Ia hanya bisa menangis dan menangis tak bersuara, sepi, hening, senyap, musnah. Akar-akar pohon pule berusaha menariknya menuju dasar neraka paling dalam di bawah tanah. Saat tertarik ia terbangun. Mimpi yang sama. Tragedi yang sama. Dan sepi yang sama. Ia beranjak mengambil kapan dan pahat. Ia mencincang, memotong semua bagian tubuh pohon pule. Kesepuluh pohon pule yang ada dihadapannya ia cincang menjadi bongkahan patung mirip manusia yang masih utuh berada di antara batang pohon. Sambil menahan tangis ia berlari menjauh dari amarah dan tempat yang membuatnya menjadi gila.

Ia masih berlari dan berlari dari kabut masih tebal hingga malam memayungi kesepiannya. Ia terus berlari berharap menjauh dari tempat itu. Setelah beberapa bulan berlari melewati liku hutan yang membingungkan ia menemukan sebuah desa dengan kabut tebal dan sekelompok kunang-kunang yang menyangkar. Ia coba menyibak kabut tersebut. Betapa terkejutnya ia saat menjumpai sepuluh patung yang ia buat tengah disembah oleh masyarakat di sana. (T)

Tags: Cerpen
Share31TweetSendShareSend
Previous Post

Curangologi: Filsafat Curang Seri 1 – Gambar Umbul

Next Post

PMM-Al-Hikmah Undiksha adalah Sebuah Persatuan

Satia Guna

Satia Guna

Lelaki pendiam yang selalu bikin kangen, terutama dikangeni teman-temannya di Komunitas Mahima. Suka main teater, suka menulis puisi, esai dan cerpen. Kini juga melukis.

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post

PMM-Al-Hikmah Undiksha adalah Sebuah Persatuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co