2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Taru Bukit

Satia Guna by Satia Guna
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Satia Guna

POTONGAN-POTONGAN kayu narbuaya, jati, dan eboni sudah tertumpuk di salon Man Gredeg. Pagi itu ia memandangi potongan-potongan kayu itu sembari menyeduh kopi pahit kesukaannya. Ia menghela kepulan-kepulan asap rokok yang keluar dari mulutnya. Pengotok, paet, dan meteran sudah berada disampingnya. Siap menemaninya membentuk bongkahan-bongkahan kayu yang ada.

Bongkahan-bongkahan kayu yang bergeletak di salon,menerbangkan ingatannya pada tumpukan masa lalu dimana kesehariannya tidaklah seperti ini. Dimana pohon-pohon tumbuh subur di tegalannya. Tubuhnya tak sekerempeng sekarang. Dulu tubuhnya tegap, gagah, dan berwibawa.

Setiap hari ia selalu membawa gergaji dan tali untuk menumbangkan pohon-pohon yang menjulang tepat berada di ujung bukit yang kini telah gundul. Ia mengingat-ingat kapan terakhir kali ia membabat puluhan pohon-pohon di belakang bukit itu. Ia telah lupa, lupa pada ambisinya saat itu. Ia pula lupa bagaimana kebanggannya mengukir satu demi satu pohon menjadi patung dan topeng utuh.

Pada tahun 1989 tersiar kabar bahwa penebang pohon liar akan ditangkap, dikenai denda, dan dipenjara jika ketahuan sedang membabat pohon di hutan. Para pengangguran berlomba-lomba untuk mengikuti seleksi masuk kepolisian hutan. Saat Man Gredeg mendengar berita tersebut dari beberapa teman-teman penebang kayu, ia sontak berpikir keras dan mencari cara agar tak tertangkap oleh mereka. Sebab penghasilan utamanya adalah sebagai penebang pohon.

Ia sudah jadi penebang pohon sejak umur 15 tahun. Putus sekolah hanya untuk melanglang bhuana melewati bukit demi bukit hanya untuk mendapatkan kayu yang berkualitas dan menjanjikan bagi para investor. Ia tak pernah pulang. Rumahnya adalah bukit. Soal makanan, bila beruntung ia bisa menyantap kijang bakar bersama teman-teman, tapi kalau sedang lagi apes beberapa kalajengking dan ulat tanah pun tak jadi masalah.

Man Gredeg biasa berjalan bersama teman-temannya, bergerombol, bernyanyi di sepanjang perjalanan. Menyusuri kabut yang tanpa henti menghadang langkah dingin yang mereka tancapkan pada tubuh-tubuh bukit renta. Mereka bersorak seperti bajak laut seusai menjarah harta. Tatapan mereka dingin sedingin sapuan angin yang menyapu pohon-pohon cemara yang mereka lewati. Mereka takkan pulang sebelum memanggul tubuh-tubuh pohon yang telah mereka mutilasi.

Man Gredeg merupakan anggota terkecil dari puluhan anggota tersebut. Ia seorang pekerja keras. Ia merupakan anak tertua dari lima bersaudara. Hanya ia yang dapat membiayai sekolah adik-adiknya.

Setelah menyusuri berbagai macam kelok-melok sungai dan bentang sawah yang berpetak-petak, sampailah mereka pada sebuah bukit dengan pepohonan yang aneh. Biasanya satu bukit menyediakan berbagai macam pohon. Tapi pada satu bukit ini hanya ada pohon pule. Mereka jadi sulit untuk menentukan arah, karena semua pohon sama, jalanan kelok melok pun sama. Mereka berputar, mengulang dan mengulang sampai malam menyingkirkan kabut yang menutupi penglihatan.

Man Gredeg menyeruput sisa-sisa kopi yang masih tersisa di gelas, sembari melontarkan lintingan puntung rokok yang tak habis ia hirup. Hembusan kepulan terakhir mengingatkannya akan semua rekan-rekannya yang lenyap di bukit itu. Termasuk pamannya yang paling disayang.

Pakis-pakis di sepandang bukit berlumuran darah lalu beberapa sabit yang menancap di pohon-pohon pule. Hanya Man Gredeg yang selamat. Hanya ia yang terbangun dan mendapati diri telah sendiri. Dari atas pohon tempat ia tertidur ia hanya melihat kumpulan kunang-kunang subuh yang hinggap di beberapa pohon pakis yang berlumuran darah.

Kunang-kunang itu berusaha membangunkan beberapa kejadian yang menimpa semua anggotanya. Ia melihat kepala yang tergantung di atas pohon lalu akar-akar pohon pule menyeruak dari timbul tanah mengikat semua anggotanya dan menggantung mereka pada beberapa batang yang kuat menahan berat badan mereka.

Lalu akar-akar tajam itu menusuk bertubi-tubi perut, leher, kepala, dan seluruh organ tubuh anggotanya. Malam itu pohon pule tak terlihat hijau seperti biasanya. Daun-daun berwarna merah dan tanah menjadi lautan darah yang dipenuhi potongan tubuh. Dalam termangunya Man Gredeg tak sadar air matanya mengalir membasahi pipinya. Ia tak berani turun dari pohon, seolah-olah akar-akar pohon pule siap menjadi duri panjang yang akan menusuk perutnya saat ia terjatuh dari pohon

Ia sangat ketakutan. Ia tak berani turun. Kakinya mengakar pada sebuah dahan pohon. Matanya hampa diterpa beberapa debu. Ia kehilangan kesadaran.

Daun-daun pohon pule berjatuhan menghantam kulitnya yang kasar. Ia tersadar, bangkit dan masih terduduk lemas di atas dahan pohon pule. Ditengoknya ke bawah memastikan kejadian semalam hanyalah mimpi yang larut menjadi bunga tidur. Matanya terbelalak, api unggun masih utuh, lalu tungku tak lagi hangat. Ditengoknya lagi sekeliling. Sepi siang itu membuatnya lebih takut ketimbang melihat kejadian semalam.

Sangat sepi. Semua kelompoknya menghilang. Tak ada jejak kaki, senyap, musnah. Ia menangis sejadi-jadinya sampai tak terdengar lagi desir angin yang selalu menerpa rambut dan sekujur tubuhnya. Sepi ini lebih gigil daripada rintik hujan dan kumpulan kabut. Sepi ini kubangan masa lalu yang tak ingin ia ingat kembali. Dan sepi ini adalah alunan nada penjerit yang memekikan hati dan air mata.

Man Gredeg turun dari pohon pule, setelah lelahnya henti menghinggapi. Dirabanya semua daun-daun pakis berharap ada beberapa jejak yang dapat membuatnya sadar kalau ia tak sendirian di tengah hutan pohon pule. Ia harus menemukan jejak sekecil apapun, kalau tidak, malam akan menjemput segala macam sepi yang ia miliki.

Beberapa kumbang pohon bersuara. Saling bersautan menandakan pencarian Man Gredeg akan segera berakhir. Hujan turun malam itu menyibak barisan kabut yang mengitari bukit. Man Gredeg naik lagi ke atas pohon pule, ia tak bisa tidur, ia takut saat tertidur pohon pule menjeratnya lalu menelannya ke dalam tanah. Ia mulai memikirkan tragedi-tragedi aneh yang memacu kecemasannya.

Hujan semakin deras. Ia teringat dengan beberapa kelompoknya yang sempat disebut-sebut sebagai anggota PKI, Man Gredeg mengira PKI itu adalah sebuah partai politik yang akan maju ke pilkada. Tapi alangkah terkejutnya ia setelah salah satu dari anggota penebang pohonnya diketahui mengambang terbungkus karung ditemukan di sungai dekat sawah ayahnya.

Ia berpikir, mungkin hal tersebut karena perseteruan antar politikus. Ia masih menanggapinya dengan santai. Seminggu kemudian giliran saudaranya yang juga penebang kayu yang diiusukan masuk PKI tergantung di atas pohon kelapa depan rumahnya. Rentetan itu berlangsung sampai sebulan kemudian satu persatu penebang kayu tewas secara misterius. Sampai akhirnya rombongan penebang kayu pun berencana untuk pergi mencari kayu di sebuah bukit di bagian utara.

Melayang-layang, tubuh teman-teman dan saudaranya bergelantungan digantung pohon pule. Ia menyaksikannya lagi. Ditemani kunang-kunang yang kadang hinggap di bahunya seakan membisik bahwa ini semua bukan mimpi. Hutan pule kembali menjadi lautan darah. Seluruh organ tubuh berserakan. Tetesan hujan yang ia rasakan tadi berubah anyir dan berwarna merah.

Ia hanya bisa menangis dan menangis tak bersuara, sepi, hening, senyap, musnah. Akar-akar pohon pule berusaha menariknya menuju dasar neraka paling dalam di bawah tanah. Saat tertarik ia terbangun. Mimpi yang sama. Tragedi yang sama. Dan sepi yang sama. Ia beranjak mengambil kapan dan pahat. Ia mencincang, memotong semua bagian tubuh pohon pule. Kesepuluh pohon pule yang ada dihadapannya ia cincang menjadi bongkahan patung mirip manusia yang masih utuh berada di antara batang pohon. Sambil menahan tangis ia berlari menjauh dari amarah dan tempat yang membuatnya menjadi gila.

Ia masih berlari dan berlari dari kabut masih tebal hingga malam memayungi kesepiannya. Ia terus berlari berharap menjauh dari tempat itu. Setelah beberapa bulan berlari melewati liku hutan yang membingungkan ia menemukan sebuah desa dengan kabut tebal dan sekelompok kunang-kunang yang menyangkar. Ia coba menyibak kabut tersebut. Betapa terkejutnya ia saat menjumpai sepuluh patung yang ia buat tengah disembah oleh masyarakat di sana. (T)

Tags: Cerpen
Share31TweetSendShareSend
Previous Post

Curangologi: Filsafat Curang Seri 1 – Gambar Umbul

Next Post

PMM-Al-Hikmah Undiksha adalah Sebuah Persatuan

Satia Guna

Satia Guna

Lelaki pendiam yang selalu bikin kangen, terutama dikangeni teman-temannya di Komunitas Mahima. Suka main teater, suka menulis puisi, esai dan cerpen. Kini juga melukis.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post

PMM-Al-Hikmah Undiksha adalah Sebuah Persatuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co