12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Erupsi Gunung Agung dan Apa Kabar Gerakan Literasi Nasional

Wayan Paing by Wayan Paing
February 2, 2018
in Opini

Foto: Kardian Narayana

.
BATUK bukan kata yang mengejutkan. Kita terbiasa dengar batuk dan mengalami batuk. Karena terbiasa batuk bukanlah hal yang bikin panik, justru memberi petunjuk tentang apa yang harus kita lakukan.

Jika batuk mendera anak kita dalam rentang waktu yang lama, mungkin muncul rasa khawatir. Namun situasi itu masih dapat dikatakan sesuatu yang normal dan wajar. Cemas kadang dibutuhkan agar kita tetap merasa waspada.

Ketika mendengar kata Gunung Agung “batuk-batuk”, beragam tanggapan dan ekspresi muncul. Tentu karena banyak dari kita belum tahu dan belum terbiasa sehingga tak tahu apa yang harus kita lakukan.

Ketika gunung terbesar di Pulau Bali itu mulai menunjukkan aktivitas, dengan gejala erupsi berupa gempa yang tak berkesudahan, masyarakat yang berlokasi dekat dengan puncak Gunung Agung mulai merasa resah. Karena sebagian besar dari warga di sekitar gunung itu baru pertama kali mengalaminya.

Keresahan tersebut diperparah oleh asap dan abu kebakaran di lereng gunung yang disangka abu vulkanis. Salah sangka itu memicu kepanikan yang luar biasa. Bukan hanya masyarakat awam, pihak-pihak pengambil keputusan pun terkesan kelabakan.

Begitu dinyatakan status keaktifan Gunung Agung meningkat ke level awas, masyarakat jadi kalang kabut. Gema kepanikan begitu terasa di seantero Karangasem bahkan seluruh Bali. Banyak warga berebut keluar dari wilayah yang dianggap berbahaya dengan melajukan mobil dan sepeda motor.

Bersamaan pula ada upaya sanak famili di luar zona berbahaya menjemput saudaranya yang berada di kawasan berbahaya. Ini menyebabkan jalan-jalan menjadi macet parah oleh lalu-lalang kendaraan. Belum lagi kejadian tersebut terjadi di malam hari.

Tentu saja kita menanggapi itu sebagai sesuatu yang wajar. Semua manusia punya naluri dan usaha untuk menyelamatkan diri dari bencana. Secara alamiah semua manusia dan hewan melakukan tindakan tersebut.

Yang kemudian menjadikannya tidak wajar adalah ketika usaha untuk menyelamatkan diri itu malah membahayakan diri juga. Kemacetan dan resiko mobilitas yang tergesa-gesa tidak kurang dampak buruknya dari bencana yang hendak dihindari.

Di samping itu, masyarakat yang berada di zona aman ikut-ikutan panik. Ada beberapa daerah yang direkomendasikan sebagai tempat evakuasi jika erupsi terjadi, malah masyarakatnya ikut mengungsi. Para pengungsi yang datang dari daerah yang benar-benar rawan menjadi bingung setibanya di tempat relokasi. Penyebabnya, walau dinyatakan aman, melihat masyarakat tempat tersebut ikut mengungsi, menimbulkan keraguan, apakah tempat yang direkomendasikan tersebut benar-benar aman atau tidak.

Hal ini diperparah oleh media sosial. Media yang seyogyanya membantu dalam mempercepat akses penyebaran informasi yang baik, malah menjadi bagian dari pemicu kepanikan itu sendiri. Berita-berita hoax beredar. Dan tak henti-hentinya pula, sentuhan share merajalela. Dalam hitungan detik puluhan bahkan ratusan berita yang tidak benar beredar. Panik dan panik adalah satu-satunya hal yang kemudian tercipta.

Tanpa berusaha mencari kambing hitam di tengah kepanikan tersebut, tidak ada salahnya jika momen ini dijadikan pijakan untuk mulai berbenah. Seorang pakar pendidikan bahkan sudah mengusulkan agar materi mengenai bencana mulai dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah.

Tujuannya, agar kita semua mengenal dan membiasakan diri berhadapan dengan bencana alam yang selalu mengancam di sekitar kita. Bukan hanya mengenai bencana Gunung Agung yang efeknya tentu saja paling besar, tapi juga bencana-bencana yang kerap terjadi. Longsor, pergerakan tanah, banjir, dan angin puting beliung adalah sedikit contohnya.

Pertanyaan kemudian muncul adalah bukankah informasi mengenai bencana erupsi Gunung Agung sudah banyak yang tersebar luas? Banyak berita, foto, video dan bahkan lontar mengenai dampak erupsi Gunung Agung terdahulu dengan gampang bisa diakses. Mulai dari media massa, elektronik dan media sosial, setiap saat dan di setiap tempat bisa kita dapatkan dengan mudah. Apakah ini belum cukup?

Tentu saja kita tidak bisa mengelak. Dari banyaknya sumber dan media yang ada, semua itu bisa dikatakan cukup. Masalahnya adalah kita mendapatkan informasi mengenai hal tersebut setelah bencana begitu dekat dan kepanikan terlanjur terjadi. Atau dengan kata lain kita baru berusaha mendapatkan pemahaman mengenai dampak erupsi Gunung Agung setelah ancaman erupsi tersebut tersaji di depan mata kita.

Belum lagi minat baca masyarakat masih amat rendah. Jangankan lontar, bahkan buku-buku cerita bergambar yang biasa berisi informasi-informasi tentang pengetahuan gunung api jarang dibaca. Buku-buku semacam itu sudah banyak beredar. Tapi, mau apa lagi, kita mungkin akan membaca ketika bencana sudah begitu dekat, saking dekatnya justru membacapun tak akan sempat.

Pada saat luang saja kita jarang membaca, apalagi pada saat panik.

Hal ini tentu saja tidak kita inginkan menimpa generasi-generasi kita ke depan. Perlu adanya upaya sistematis yang dilakukan untuk memberikan pemahaman yang benar. Dengan pemahaman yang benar, cara yang diambil dalam menghadapi bencana akan lebih baik dan “kepanikan yang sia-sia” tidak lagi terjadi.

Beranjak dari itu, tentunya tidak berlebihan jika budaya literasi, budaya membaca, budaya berpikir, makin digalakkan. Jangan hanya membaca label di minimarket tentang kenaikan harga-harga barang, tapi baca juga tentang ilmu alam dan lingkungan yang ada di sekitar kita.

Selain itu, dengan pengalaman ini, upaya untuk membuat kajian dan analisis tertulis mengenai dampak dan upaya-upaya penyelamatan diri jika Gunung Agung meletus segera diupayakan. Istilahnya mungkin bisa dikerenkan, yakni upaya literasi erupsi Gunung Agung dari masa ke masa perlu disusun.

Hasil dari literasi inilah yang harus disebarkan dan diwariskan kepada generasi agar kebal dalam menghadapi bencana. Agar upaya menyelamatkan diri ketika bencana itu terjadi bukan merupakan tindakan yang malah membahayakan diri.

Lalu, Gerakan Literasi Nasional, khususnya di Bali, apa kabar? Jika kabarnya masih belum jelas, maka gerakan itu sebaiknya digenjot terus, terutama gerakan membaca tentang cerita-cerita alam bagi warga yang berada di daerah-daerah yang berisiko terkena bencana alam.

Membaca bisa menyelamatkan diri dari ketidaktahuan. Karena ketidaktahuan bisa menimbulkan kepanikan, dan kepanikan bisa menimbulkan kesalahan dalam melangkah dan menyelamatkan diri. (T)

Tags: erupsiGunung AgungLiterasi
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

Nunung Noor El Niel# Puisi: Jemari Waktu, Igauan Selembar Daun

Next Post

Bangli, Tempat “Orang-orang Gila” Berkumpul

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post

Bangli, Tempat “Orang-orang Gila” Berkumpul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co