25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Erupsi Gunung Agung dan Apa Kabar Gerakan Literasi Nasional

Wayan Paing by Wayan Paing
February 2, 2018
in Opini

Foto: Kardian Narayana

.
BATUK bukan kata yang mengejutkan. Kita terbiasa dengar batuk dan mengalami batuk. Karena terbiasa batuk bukanlah hal yang bikin panik, justru memberi petunjuk tentang apa yang harus kita lakukan.

Jika batuk mendera anak kita dalam rentang waktu yang lama, mungkin muncul rasa khawatir. Namun situasi itu masih dapat dikatakan sesuatu yang normal dan wajar. Cemas kadang dibutuhkan agar kita tetap merasa waspada.

Ketika mendengar kata Gunung Agung “batuk-batuk”, beragam tanggapan dan ekspresi muncul. Tentu karena banyak dari kita belum tahu dan belum terbiasa sehingga tak tahu apa yang harus kita lakukan.

Ketika gunung terbesar di Pulau Bali itu mulai menunjukkan aktivitas, dengan gejala erupsi berupa gempa yang tak berkesudahan, masyarakat yang berlokasi dekat dengan puncak Gunung Agung mulai merasa resah. Karena sebagian besar dari warga di sekitar gunung itu baru pertama kali mengalaminya.

Keresahan tersebut diperparah oleh asap dan abu kebakaran di lereng gunung yang disangka abu vulkanis. Salah sangka itu memicu kepanikan yang luar biasa. Bukan hanya masyarakat awam, pihak-pihak pengambil keputusan pun terkesan kelabakan.

Begitu dinyatakan status keaktifan Gunung Agung meningkat ke level awas, masyarakat jadi kalang kabut. Gema kepanikan begitu terasa di seantero Karangasem bahkan seluruh Bali. Banyak warga berebut keluar dari wilayah yang dianggap berbahaya dengan melajukan mobil dan sepeda motor.

Bersamaan pula ada upaya sanak famili di luar zona berbahaya menjemput saudaranya yang berada di kawasan berbahaya. Ini menyebabkan jalan-jalan menjadi macet parah oleh lalu-lalang kendaraan. Belum lagi kejadian tersebut terjadi di malam hari.

Tentu saja kita menanggapi itu sebagai sesuatu yang wajar. Semua manusia punya naluri dan usaha untuk menyelamatkan diri dari bencana. Secara alamiah semua manusia dan hewan melakukan tindakan tersebut.

Yang kemudian menjadikannya tidak wajar adalah ketika usaha untuk menyelamatkan diri itu malah membahayakan diri juga. Kemacetan dan resiko mobilitas yang tergesa-gesa tidak kurang dampak buruknya dari bencana yang hendak dihindari.

Di samping itu, masyarakat yang berada di zona aman ikut-ikutan panik. Ada beberapa daerah yang direkomendasikan sebagai tempat evakuasi jika erupsi terjadi, malah masyarakatnya ikut mengungsi. Para pengungsi yang datang dari daerah yang benar-benar rawan menjadi bingung setibanya di tempat relokasi. Penyebabnya, walau dinyatakan aman, melihat masyarakat tempat tersebut ikut mengungsi, menimbulkan keraguan, apakah tempat yang direkomendasikan tersebut benar-benar aman atau tidak.

Hal ini diperparah oleh media sosial. Media yang seyogyanya membantu dalam mempercepat akses penyebaran informasi yang baik, malah menjadi bagian dari pemicu kepanikan itu sendiri. Berita-berita hoax beredar. Dan tak henti-hentinya pula, sentuhan share merajalela. Dalam hitungan detik puluhan bahkan ratusan berita yang tidak benar beredar. Panik dan panik adalah satu-satunya hal yang kemudian tercipta.

Tanpa berusaha mencari kambing hitam di tengah kepanikan tersebut, tidak ada salahnya jika momen ini dijadikan pijakan untuk mulai berbenah. Seorang pakar pendidikan bahkan sudah mengusulkan agar materi mengenai bencana mulai dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah.

Tujuannya, agar kita semua mengenal dan membiasakan diri berhadapan dengan bencana alam yang selalu mengancam di sekitar kita. Bukan hanya mengenai bencana Gunung Agung yang efeknya tentu saja paling besar, tapi juga bencana-bencana yang kerap terjadi. Longsor, pergerakan tanah, banjir, dan angin puting beliung adalah sedikit contohnya.

Pertanyaan kemudian muncul adalah bukankah informasi mengenai bencana erupsi Gunung Agung sudah banyak yang tersebar luas? Banyak berita, foto, video dan bahkan lontar mengenai dampak erupsi Gunung Agung terdahulu dengan gampang bisa diakses. Mulai dari media massa, elektronik dan media sosial, setiap saat dan di setiap tempat bisa kita dapatkan dengan mudah. Apakah ini belum cukup?

Tentu saja kita tidak bisa mengelak. Dari banyaknya sumber dan media yang ada, semua itu bisa dikatakan cukup. Masalahnya adalah kita mendapatkan informasi mengenai hal tersebut setelah bencana begitu dekat dan kepanikan terlanjur terjadi. Atau dengan kata lain kita baru berusaha mendapatkan pemahaman mengenai dampak erupsi Gunung Agung setelah ancaman erupsi tersebut tersaji di depan mata kita.

Belum lagi minat baca masyarakat masih amat rendah. Jangankan lontar, bahkan buku-buku cerita bergambar yang biasa berisi informasi-informasi tentang pengetahuan gunung api jarang dibaca. Buku-buku semacam itu sudah banyak beredar. Tapi, mau apa lagi, kita mungkin akan membaca ketika bencana sudah begitu dekat, saking dekatnya justru membacapun tak akan sempat.

Pada saat luang saja kita jarang membaca, apalagi pada saat panik.

Hal ini tentu saja tidak kita inginkan menimpa generasi-generasi kita ke depan. Perlu adanya upaya sistematis yang dilakukan untuk memberikan pemahaman yang benar. Dengan pemahaman yang benar, cara yang diambil dalam menghadapi bencana akan lebih baik dan “kepanikan yang sia-sia” tidak lagi terjadi.

Beranjak dari itu, tentunya tidak berlebihan jika budaya literasi, budaya membaca, budaya berpikir, makin digalakkan. Jangan hanya membaca label di minimarket tentang kenaikan harga-harga barang, tapi baca juga tentang ilmu alam dan lingkungan yang ada di sekitar kita.

Selain itu, dengan pengalaman ini, upaya untuk membuat kajian dan analisis tertulis mengenai dampak dan upaya-upaya penyelamatan diri jika Gunung Agung meletus segera diupayakan. Istilahnya mungkin bisa dikerenkan, yakni upaya literasi erupsi Gunung Agung dari masa ke masa perlu disusun.

Hasil dari literasi inilah yang harus disebarkan dan diwariskan kepada generasi agar kebal dalam menghadapi bencana. Agar upaya menyelamatkan diri ketika bencana itu terjadi bukan merupakan tindakan yang malah membahayakan diri.

Lalu, Gerakan Literasi Nasional, khususnya di Bali, apa kabar? Jika kabarnya masih belum jelas, maka gerakan itu sebaiknya digenjot terus, terutama gerakan membaca tentang cerita-cerita alam bagi warga yang berada di daerah-daerah yang berisiko terkena bencana alam.

Membaca bisa menyelamatkan diri dari ketidaktahuan. Karena ketidaktahuan bisa menimbulkan kepanikan, dan kepanikan bisa menimbulkan kesalahan dalam melangkah dan menyelamatkan diri. (T)

Tags: erupsiGunung AgungLiterasi
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

Nunung Noor El Niel# Puisi: Jemari Waktu, Igauan Selembar Daun

Next Post

Bangli, Tempat “Orang-orang Gila” Berkumpul

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Bangli, Tempat “Orang-orang Gila” Berkumpul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co