3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Erupsi Gunung Agung dan Apa Kabar Gerakan Literasi Nasional

Wayan Paing by Wayan Paing
February 2, 2018
in Opini

Foto: Kardian Narayana

.
BATUK bukan kata yang mengejutkan. Kita terbiasa dengar batuk dan mengalami batuk. Karena terbiasa batuk bukanlah hal yang bikin panik, justru memberi petunjuk tentang apa yang harus kita lakukan.

Jika batuk mendera anak kita dalam rentang waktu yang lama, mungkin muncul rasa khawatir. Namun situasi itu masih dapat dikatakan sesuatu yang normal dan wajar. Cemas kadang dibutuhkan agar kita tetap merasa waspada.

Ketika mendengar kata Gunung Agung “batuk-batuk”, beragam tanggapan dan ekspresi muncul. Tentu karena banyak dari kita belum tahu dan belum terbiasa sehingga tak tahu apa yang harus kita lakukan.

Ketika gunung terbesar di Pulau Bali itu mulai menunjukkan aktivitas, dengan gejala erupsi berupa gempa yang tak berkesudahan, masyarakat yang berlokasi dekat dengan puncak Gunung Agung mulai merasa resah. Karena sebagian besar dari warga di sekitar gunung itu baru pertama kali mengalaminya.

Keresahan tersebut diperparah oleh asap dan abu kebakaran di lereng gunung yang disangka abu vulkanis. Salah sangka itu memicu kepanikan yang luar biasa. Bukan hanya masyarakat awam, pihak-pihak pengambil keputusan pun terkesan kelabakan.

Begitu dinyatakan status keaktifan Gunung Agung meningkat ke level awas, masyarakat jadi kalang kabut. Gema kepanikan begitu terasa di seantero Karangasem bahkan seluruh Bali. Banyak warga berebut keluar dari wilayah yang dianggap berbahaya dengan melajukan mobil dan sepeda motor.

Bersamaan pula ada upaya sanak famili di luar zona berbahaya menjemput saudaranya yang berada di kawasan berbahaya. Ini menyebabkan jalan-jalan menjadi macet parah oleh lalu-lalang kendaraan. Belum lagi kejadian tersebut terjadi di malam hari.

Tentu saja kita menanggapi itu sebagai sesuatu yang wajar. Semua manusia punya naluri dan usaha untuk menyelamatkan diri dari bencana. Secara alamiah semua manusia dan hewan melakukan tindakan tersebut.

Yang kemudian menjadikannya tidak wajar adalah ketika usaha untuk menyelamatkan diri itu malah membahayakan diri juga. Kemacetan dan resiko mobilitas yang tergesa-gesa tidak kurang dampak buruknya dari bencana yang hendak dihindari.

Di samping itu, masyarakat yang berada di zona aman ikut-ikutan panik. Ada beberapa daerah yang direkomendasikan sebagai tempat evakuasi jika erupsi terjadi, malah masyarakatnya ikut mengungsi. Para pengungsi yang datang dari daerah yang benar-benar rawan menjadi bingung setibanya di tempat relokasi. Penyebabnya, walau dinyatakan aman, melihat masyarakat tempat tersebut ikut mengungsi, menimbulkan keraguan, apakah tempat yang direkomendasikan tersebut benar-benar aman atau tidak.

Hal ini diperparah oleh media sosial. Media yang seyogyanya membantu dalam mempercepat akses penyebaran informasi yang baik, malah menjadi bagian dari pemicu kepanikan itu sendiri. Berita-berita hoax beredar. Dan tak henti-hentinya pula, sentuhan share merajalela. Dalam hitungan detik puluhan bahkan ratusan berita yang tidak benar beredar. Panik dan panik adalah satu-satunya hal yang kemudian tercipta.

Tanpa berusaha mencari kambing hitam di tengah kepanikan tersebut, tidak ada salahnya jika momen ini dijadikan pijakan untuk mulai berbenah. Seorang pakar pendidikan bahkan sudah mengusulkan agar materi mengenai bencana mulai dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah.

Tujuannya, agar kita semua mengenal dan membiasakan diri berhadapan dengan bencana alam yang selalu mengancam di sekitar kita. Bukan hanya mengenai bencana Gunung Agung yang efeknya tentu saja paling besar, tapi juga bencana-bencana yang kerap terjadi. Longsor, pergerakan tanah, banjir, dan angin puting beliung adalah sedikit contohnya.

Pertanyaan kemudian muncul adalah bukankah informasi mengenai bencana erupsi Gunung Agung sudah banyak yang tersebar luas? Banyak berita, foto, video dan bahkan lontar mengenai dampak erupsi Gunung Agung terdahulu dengan gampang bisa diakses. Mulai dari media massa, elektronik dan media sosial, setiap saat dan di setiap tempat bisa kita dapatkan dengan mudah. Apakah ini belum cukup?

Tentu saja kita tidak bisa mengelak. Dari banyaknya sumber dan media yang ada, semua itu bisa dikatakan cukup. Masalahnya adalah kita mendapatkan informasi mengenai hal tersebut setelah bencana begitu dekat dan kepanikan terlanjur terjadi. Atau dengan kata lain kita baru berusaha mendapatkan pemahaman mengenai dampak erupsi Gunung Agung setelah ancaman erupsi tersebut tersaji di depan mata kita.

Belum lagi minat baca masyarakat masih amat rendah. Jangankan lontar, bahkan buku-buku cerita bergambar yang biasa berisi informasi-informasi tentang pengetahuan gunung api jarang dibaca. Buku-buku semacam itu sudah banyak beredar. Tapi, mau apa lagi, kita mungkin akan membaca ketika bencana sudah begitu dekat, saking dekatnya justru membacapun tak akan sempat.

Pada saat luang saja kita jarang membaca, apalagi pada saat panik.

Hal ini tentu saja tidak kita inginkan menimpa generasi-generasi kita ke depan. Perlu adanya upaya sistematis yang dilakukan untuk memberikan pemahaman yang benar. Dengan pemahaman yang benar, cara yang diambil dalam menghadapi bencana akan lebih baik dan “kepanikan yang sia-sia” tidak lagi terjadi.

Beranjak dari itu, tentunya tidak berlebihan jika budaya literasi, budaya membaca, budaya berpikir, makin digalakkan. Jangan hanya membaca label di minimarket tentang kenaikan harga-harga barang, tapi baca juga tentang ilmu alam dan lingkungan yang ada di sekitar kita.

Selain itu, dengan pengalaman ini, upaya untuk membuat kajian dan analisis tertulis mengenai dampak dan upaya-upaya penyelamatan diri jika Gunung Agung meletus segera diupayakan. Istilahnya mungkin bisa dikerenkan, yakni upaya literasi erupsi Gunung Agung dari masa ke masa perlu disusun.

Hasil dari literasi inilah yang harus disebarkan dan diwariskan kepada generasi agar kebal dalam menghadapi bencana. Agar upaya menyelamatkan diri ketika bencana itu terjadi bukan merupakan tindakan yang malah membahayakan diri.

Lalu, Gerakan Literasi Nasional, khususnya di Bali, apa kabar? Jika kabarnya masih belum jelas, maka gerakan itu sebaiknya digenjot terus, terutama gerakan membaca tentang cerita-cerita alam bagi warga yang berada di daerah-daerah yang berisiko terkena bencana alam.

Membaca bisa menyelamatkan diri dari ketidaktahuan. Karena ketidaktahuan bisa menimbulkan kepanikan, dan kepanikan bisa menimbulkan kesalahan dalam melangkah dan menyelamatkan diri. (T)

Tags: erupsiGunung AgungLiterasi
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

Nunung Noor El Niel# Puisi: Jemari Waktu, Igauan Selembar Daun

Next Post

Bangli, Tempat “Orang-orang Gila” Berkumpul

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Bangli, Tempat “Orang-orang Gila” Berkumpul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co