3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangli, Tempat “Orang-orang Gila” Berkumpul

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
February 2, 2018
in Ulasan

Foto: FB/Pande Jati

 

MINGGU, 22 Oktober 2017, di kota Bangli tepatnya kantor Parisada Hindu Dharma Indonesia [PHDI], sekumpulan orang-orang yang sakit jiwanya, datang untuk berobat. Jiwa yang sakit, disebabkan rasa cinta. Kecintaan melahirkan kerinduan, rindu yang belum terobati mengakibatkan jiwa sakit.

Benar memang, jika hati yang belum mendapat apa yang didambanya, akan terus menagih. Tidak lagi ada kepedulian pada jarak, baik jarak berupa ruang atau waktu. Untuk mengobati kerinduan itu, maka pada waktu yang telah disebutkan tadi, berkumpullah orang-orang gila.

Mereka tidak merampok, tidak memperkosa, tapi hanya mencuri. Mereka mencuri sesuatu namun tidak merugikan orang-orang waras atau yang mengaku waras. Bangli ketika itu, menjadi tempat berkumpulnya segala ketidakwarasan. Apalah gila jika bukan lupa. Apalah lupa jika bukan gelap mata. Apalah sebab mata menjadi gelap terkecuali cinta buta. Kebutaan menjadi sebab ketidakpastian.

Tapi tunggu dulu, ketidakpastian barangkali menjadi milik semua manusia, termasuk yang tidak buta. Bukankah memang begitu yang diajarkan oleh waktu [baca: kala]? Ia menandakan adanya kehidupan sekaligus kematian. Menurut ajaran ‘Kala’, segala yang ada di bumi manusia ini telah divonis mati, bahkan ketika kehidupan baru direngkuhnya.

Kumpulan orang-orang gila itu ternyata berdiskusi! Diskusi ini terselenggara atas keputusan yang diambil tidak sepihak, sebagai hasil permusyawaratan yang diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya oleh komunitas yang bernama BASKOM. BASKOM adalah akronim dari Bangli Sastra Komala.

Mereka mendiskusikan dua buku yang berjudul Jaen Idup di Bali [Cerpen] karya I Made Suar-Timuhun dan Bulan Sisi Kauh [Prosa Liris] karya anak manusia yang menyebut dirinya Nirguna. Kedua buku itu dibuat dengan bahasa Bali. Ada dua orang yang ditunjuk sebagai pemancing diskusi, I Putu Supartika [Jaen Idup di Bali] dan I Putu Eka Guna Yasa [Bulan Sisi Kauh]. Kedua pembicara begitu semangat dengan pikirannya masing-masing. Supartika, anak muda usia tapi tidak wawasannya, dengan garang ‘mengunyah’ Jaen Idup di Bali karya Made Suar-Timuhun. Katanya, “Kau tahu? Inilah cerita-cerita yang lahir dari Desa”.

Untuk memperkuat argumentasinya itu, Supartika mengutip kalimat berikut ‘yen sing amah leak, pasti iriang timpal’ [jika tidak dimakan leak, pasti [membuat] teman iri]. Ungkapan itu menurut Supartika biasa didengar di masyarakat, terutama masyarakat desa yang masih percaya dengan hal-hal yang bersifat mistis. Selain tentang isinya, Supartika juga mengomentari cover Jaen Idup di Bali.

“Jika pertama kali kau menemukan buku ini di toko buku ataupun ada teman yang membawanya dan kau pinjam, maka kau akan menemukan cover yang menarik dari buku ini … Tapi, bagaimana jika kau mulai membuka halaman buku ini dan mulai membaca cerpen yang ada di dalamnya? Apakah tetap semanis atau semenarik covernya?”

Demikian Supartika berujar bahwa covernya menarik dan manis. Menarik karena dipandang, manis mungkin karena Supartika benar-benar ‘mengunyahnya’. Intinya, Supartika memuji cover buku itu yang dikerjakan oleh seorang kartunis handal bernama Pinky Sinanta. Bahasa yang digunakan pengarang Jaen Idup di Bali, adalah bahasa yang mudah, mengalir, tidak berbelit, dan tidak memerlukan interpretasi lebih untuk dapat memahaminya.

Bahkan, jika pembaca adalah seorang pembaca pemula, tidak akan kesulitan memahami cerita yang disajikan. Jadi Jaen Idup di Bali adalah cerpen dengan bahasa sederhana karya Made Suar-Timuhun yang patut dibaca dan dipahami sebagai tanggapan atas situasi sosial-kultural Bali. Pada tahapan inilah berlaku rumus ‘pengarang adalah pembaca jaman’. Apakah dengan bahasa sederhana, Jaen Idup di Bali menjadi tidak menarik? Kesederhanaan air yang mengalir tenang. Dan, dari dulu saya diajarkan, hati-hati pada air tenang, karena ia menghanyutkan.

Putu Eka Guna Yasa membahas Bulan Sisi Kauh karya Nirguna yang diberikan komentar oleh IBM Dharma Palguna. Ternyata ada tiga ‘guna’ [Palguna, Guna Yasa, Nirguna]. Guna bisa berarti sifat sebagaimana dikatakan IBM Dharma Palguna, tapi Guna bisa berarti kemampuan atau kegunaan seperti yang diungkapkan Guna Yasa. Jadi Nirguna bisa berarti tanpa sifat, bisa juga berarti tanpa kemampuan [kegunaan]. Mana yang benar?

Cover buku Bulan Sisi Kauh menurut Guna Yasa, menunjukkan embun di ujung ilalang yang diistilahkan sebagai ambun ri agraning kusa. Ada hubungan yang tidak sederhana antara embun dan ujung ilalang.

Guna Yasa menyebutkan ‘matahari yang bersinar di ujung embun itu adalah Paramatman, sedangkan embunnya adalah atman. Pada manusia yang telah suci jiwanya, sinar matahari tampak dengan jelas’. Selanjutnya, Guna Yasa juga mengomentari isi Bulan Sisi Kauh mulai dari permohonan maaf, sampai pada beberapa judul prosa liris yang terdapat di dalamnya.

Pembahasan Guna Yasa begitu mendalam, didasarkan pada hasil bacaannya terhadap sastra-sastra klasik yang diduga memiliki hubungan dengan Bulan Sisi Kauh. Guna Yasa juga menambahkan ‘karya sastra ini dapat dijadikan contoh penggunaan bahasa Bali yang sangat baik, dalam karya sastra. Dengan sarana kata-katalah ia [Nirguna] merakit aneka temuan dalam pencariannya. Hasi pergulatan dan pencariannya itu dapat kita jadikan suluh urip dan sangu pati’.

Pernyataan Guna Yasa tersebut, membuat saya ingin berpesan kepada Nirguna, ‘kata-kata juga sama dengan air, ia mengalir. Tidak hanya pada air deras, hati-hatilah juga pada air tenang, siapa tahu di sana ada buayanya. Jangankan di air, di darat pun buaya itu tidak sedikit [jika tidak dapat disebut banyak]’.

Sebagai penutup, ada dua refleksi yang diberikan oleh Guna Yasa: 1) Bulan Sisi Kauh adalah karya sastra teo-sentris dan belum memprioritaskan pada kritik sosial; 2) Sikap optimis dalam upaya mengembangkan sastra Bali Modern perlu dikembangkan, sebagaimana Rabindranath Tagore dengan karya-karyanya yang monumental.

Bangli, memang tempat berkumpulnya orang-orang gila. Kali ini hal itu terbukti, dengan berkumpulnya orang-orang gila itu dan membicarakan hal-hal yang disukainya. Alit Joule sebagai moderator mengantarkan diskusi dengan baik, sehingga situasi yang sempat memanas menjadi dingin kembali. Renes Muliani, anak muda berbakat, membacakan beberapa puisi karyanya sendiri, juga karya I Nengah Jati.

Putra Ariawan membacakan cerpen Jaen Idup di Bali. Wayan Supertama, salah satu penggiat sastra Bali, juga hadir dan memberikan pandangan-pandangannya. Beberapa orang guru SMA pun datang bersama dengan beberapa murid yang begitu pro-aktif, mulai dari mendengarkan sampai turut bertanya tentang hal-hal esensial.

Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Bangli turut hadir dan beberapa di antaranya memberikan komentar terhadap karya sastra yang dibicarakan juga acara yang diselenggarakan. Ternyata benar, sastra adalah ‘lampu penerang’. Penyuluh adalah yang memberikan penerangan bagi siapapun yang merasa berada di tempat gelap [saya].

Kabar mengenai berkumpulnya orang-orang gila ini memang terlambat jika dipandang dari segi etika jurnalis, seperti lawar masem. Tapi benarkah sesuatu benar-benar terlambat jika terus direnungkan?

Barangkali demikianlah sastra, ia selalu menyediakan segala sesuatu yang telah dianggap selesai untuk dipikirkan kembali. Sama seperti tokoh dalam sebuah cerita [cerpen terbitan tahun 2007 yang judulnya saya lupa] yang diajarkan berlari, bahkan sejak kakinya baru bisa memijak ke tanah. Tokoh itu hanya kenal lari, lari dan lari. Saya sebagai pembaca, sampai sekarang pun tetap bertanya, lari dari apa, dan mengapa? Dia selalu menjawab ‘Karena Saya [hanya] Ingin Berlari tanpa kenal kata berhenti!’ (T)

Tags: BangliBukuresensisastra bali modern
Share55TweetSendShareSend
Previous Post

Erupsi Gunung Agung dan Apa Kabar Gerakan Literasi Nasional

Next Post

Menonton Video Klip Radiohead

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Menonton Video Klip Radiohead

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co