14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bangli, Tempat “Orang-orang Gila” Berkumpul

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
February 2, 2018
in Ulasan

Foto: FB/Pande Jati

 

MINGGU, 22 Oktober 2017, di kota Bangli tepatnya kantor Parisada Hindu Dharma Indonesia [PHDI], sekumpulan orang-orang yang sakit jiwanya, datang untuk berobat. Jiwa yang sakit, disebabkan rasa cinta. Kecintaan melahirkan kerinduan, rindu yang belum terobati mengakibatkan jiwa sakit.

Benar memang, jika hati yang belum mendapat apa yang didambanya, akan terus menagih. Tidak lagi ada kepedulian pada jarak, baik jarak berupa ruang atau waktu. Untuk mengobati kerinduan itu, maka pada waktu yang telah disebutkan tadi, berkumpullah orang-orang gila.

Mereka tidak merampok, tidak memperkosa, tapi hanya mencuri. Mereka mencuri sesuatu namun tidak merugikan orang-orang waras atau yang mengaku waras. Bangli ketika itu, menjadi tempat berkumpulnya segala ketidakwarasan. Apalah gila jika bukan lupa. Apalah lupa jika bukan gelap mata. Apalah sebab mata menjadi gelap terkecuali cinta buta. Kebutaan menjadi sebab ketidakpastian.

Tapi tunggu dulu, ketidakpastian barangkali menjadi milik semua manusia, termasuk yang tidak buta. Bukankah memang begitu yang diajarkan oleh waktu [baca: kala]? Ia menandakan adanya kehidupan sekaligus kematian. Menurut ajaran ‘Kala’, segala yang ada di bumi manusia ini telah divonis mati, bahkan ketika kehidupan baru direngkuhnya.

Kumpulan orang-orang gila itu ternyata berdiskusi! Diskusi ini terselenggara atas keputusan yang diambil tidak sepihak, sebagai hasil permusyawaratan yang diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya oleh komunitas yang bernama BASKOM. BASKOM adalah akronim dari Bangli Sastra Komala.

Mereka mendiskusikan dua buku yang berjudul Jaen Idup di Bali [Cerpen] karya I Made Suar-Timuhun dan Bulan Sisi Kauh [Prosa Liris] karya anak manusia yang menyebut dirinya Nirguna. Kedua buku itu dibuat dengan bahasa Bali. Ada dua orang yang ditunjuk sebagai pemancing diskusi, I Putu Supartika [Jaen Idup di Bali] dan I Putu Eka Guna Yasa [Bulan Sisi Kauh]. Kedua pembicara begitu semangat dengan pikirannya masing-masing. Supartika, anak muda usia tapi tidak wawasannya, dengan garang ‘mengunyah’ Jaen Idup di Bali karya Made Suar-Timuhun. Katanya, “Kau tahu? Inilah cerita-cerita yang lahir dari Desa”.

Untuk memperkuat argumentasinya itu, Supartika mengutip kalimat berikut ‘yen sing amah leak, pasti iriang timpal’ [jika tidak dimakan leak, pasti [membuat] teman iri]. Ungkapan itu menurut Supartika biasa didengar di masyarakat, terutama masyarakat desa yang masih percaya dengan hal-hal yang bersifat mistis. Selain tentang isinya, Supartika juga mengomentari cover Jaen Idup di Bali.

“Jika pertama kali kau menemukan buku ini di toko buku ataupun ada teman yang membawanya dan kau pinjam, maka kau akan menemukan cover yang menarik dari buku ini … Tapi, bagaimana jika kau mulai membuka halaman buku ini dan mulai membaca cerpen yang ada di dalamnya? Apakah tetap semanis atau semenarik covernya?”

Demikian Supartika berujar bahwa covernya menarik dan manis. Menarik karena dipandang, manis mungkin karena Supartika benar-benar ‘mengunyahnya’. Intinya, Supartika memuji cover buku itu yang dikerjakan oleh seorang kartunis handal bernama Pinky Sinanta. Bahasa yang digunakan pengarang Jaen Idup di Bali, adalah bahasa yang mudah, mengalir, tidak berbelit, dan tidak memerlukan interpretasi lebih untuk dapat memahaminya.

Bahkan, jika pembaca adalah seorang pembaca pemula, tidak akan kesulitan memahami cerita yang disajikan. Jadi Jaen Idup di Bali adalah cerpen dengan bahasa sederhana karya Made Suar-Timuhun yang patut dibaca dan dipahami sebagai tanggapan atas situasi sosial-kultural Bali. Pada tahapan inilah berlaku rumus ‘pengarang adalah pembaca jaman’. Apakah dengan bahasa sederhana, Jaen Idup di Bali menjadi tidak menarik? Kesederhanaan air yang mengalir tenang. Dan, dari dulu saya diajarkan, hati-hati pada air tenang, karena ia menghanyutkan.

Putu Eka Guna Yasa membahas Bulan Sisi Kauh karya Nirguna yang diberikan komentar oleh IBM Dharma Palguna. Ternyata ada tiga ‘guna’ [Palguna, Guna Yasa, Nirguna]. Guna bisa berarti sifat sebagaimana dikatakan IBM Dharma Palguna, tapi Guna bisa berarti kemampuan atau kegunaan seperti yang diungkapkan Guna Yasa. Jadi Nirguna bisa berarti tanpa sifat, bisa juga berarti tanpa kemampuan [kegunaan]. Mana yang benar?

Cover buku Bulan Sisi Kauh menurut Guna Yasa, menunjukkan embun di ujung ilalang yang diistilahkan sebagai ambun ri agraning kusa. Ada hubungan yang tidak sederhana antara embun dan ujung ilalang.

Guna Yasa menyebutkan ‘matahari yang bersinar di ujung embun itu adalah Paramatman, sedangkan embunnya adalah atman. Pada manusia yang telah suci jiwanya, sinar matahari tampak dengan jelas’. Selanjutnya, Guna Yasa juga mengomentari isi Bulan Sisi Kauh mulai dari permohonan maaf, sampai pada beberapa judul prosa liris yang terdapat di dalamnya.

Pembahasan Guna Yasa begitu mendalam, didasarkan pada hasil bacaannya terhadap sastra-sastra klasik yang diduga memiliki hubungan dengan Bulan Sisi Kauh. Guna Yasa juga menambahkan ‘karya sastra ini dapat dijadikan contoh penggunaan bahasa Bali yang sangat baik, dalam karya sastra. Dengan sarana kata-katalah ia [Nirguna] merakit aneka temuan dalam pencariannya. Hasi pergulatan dan pencariannya itu dapat kita jadikan suluh urip dan sangu pati’.

Pernyataan Guna Yasa tersebut, membuat saya ingin berpesan kepada Nirguna, ‘kata-kata juga sama dengan air, ia mengalir. Tidak hanya pada air deras, hati-hatilah juga pada air tenang, siapa tahu di sana ada buayanya. Jangankan di air, di darat pun buaya itu tidak sedikit [jika tidak dapat disebut banyak]’.

Sebagai penutup, ada dua refleksi yang diberikan oleh Guna Yasa: 1) Bulan Sisi Kauh adalah karya sastra teo-sentris dan belum memprioritaskan pada kritik sosial; 2) Sikap optimis dalam upaya mengembangkan sastra Bali Modern perlu dikembangkan, sebagaimana Rabindranath Tagore dengan karya-karyanya yang monumental.

Bangli, memang tempat berkumpulnya orang-orang gila. Kali ini hal itu terbukti, dengan berkumpulnya orang-orang gila itu dan membicarakan hal-hal yang disukainya. Alit Joule sebagai moderator mengantarkan diskusi dengan baik, sehingga situasi yang sempat memanas menjadi dingin kembali. Renes Muliani, anak muda berbakat, membacakan beberapa puisi karyanya sendiri, juga karya I Nengah Jati.

Putra Ariawan membacakan cerpen Jaen Idup di Bali. Wayan Supertama, salah satu penggiat sastra Bali, juga hadir dan memberikan pandangan-pandangannya. Beberapa orang guru SMA pun datang bersama dengan beberapa murid yang begitu pro-aktif, mulai dari mendengarkan sampai turut bertanya tentang hal-hal esensial.

Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Bangli turut hadir dan beberapa di antaranya memberikan komentar terhadap karya sastra yang dibicarakan juga acara yang diselenggarakan. Ternyata benar, sastra adalah ‘lampu penerang’. Penyuluh adalah yang memberikan penerangan bagi siapapun yang merasa berada di tempat gelap [saya].

Kabar mengenai berkumpulnya orang-orang gila ini memang terlambat jika dipandang dari segi etika jurnalis, seperti lawar masem. Tapi benarkah sesuatu benar-benar terlambat jika terus direnungkan?

Barangkali demikianlah sastra, ia selalu menyediakan segala sesuatu yang telah dianggap selesai untuk dipikirkan kembali. Sama seperti tokoh dalam sebuah cerita [cerpen terbitan tahun 2007 yang judulnya saya lupa] yang diajarkan berlari, bahkan sejak kakinya baru bisa memijak ke tanah. Tokoh itu hanya kenal lari, lari dan lari. Saya sebagai pembaca, sampai sekarang pun tetap bertanya, lari dari apa, dan mengapa? Dia selalu menjawab ‘Karena Saya [hanya] Ingin Berlari tanpa kenal kata berhenti!’ (T)

Tags: BangliBukuresensisastra bali modern
Share55TweetSendShareSend
Previous Post

Erupsi Gunung Agung dan Apa Kabar Gerakan Literasi Nasional

Next Post

Menonton Video Klip Radiohead

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Menonton Video Klip Radiohead

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co