4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Video Klip Radiohead

Muhamad Kusuma Gotansyah by Muhamad Kusuma Gotansyah
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi karya: IB Pandit Parastu

 

Cerpen: Muhamad Kusuma Gotansyah

MALAM itu seseorang memenggal kepalaku di lorong sepi itu, kemudian mengambil kepalaku dan menaruhnya di dalam sebuah karung kecil. Dari celah-celah kecil di karung itu, aku dapat melihat bahwa orang itu membawaku berjalan ke halte lalu menunggu bus di sana. Beberapa menit kemudian bus sampai dan ia menaiki bus itu terburu-buru. Bus itu diisi dengan pasangan-pasangan kursi di kiri dan kanan hingga belakang. Melihat orang itu terburu-buru, si supir bus sempat menghentikannya dan mengingatkannya membayar tiket, dan orang itu pun membayarnya kemudian lanjut terburu-buru mencari tempat duduk paling belakang.

Bus itu sepi, hanya ada seorang wanita tua yang sedang tertidur dan seorang lelaki yang sedang mabuk dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan dengan bergumam. Mereka duduk di tempat duduk-tempat duduk depan bersama kesibukan mereka masing-masing.

Orang yang membawa kepalaku duduk di kursi yang kiri kemudian mengeluarkan kepalaku yang tak sedikit pun bersimbah darah, lalu menempatkan kepalaku di sebelahnya, di kursi yang kanan, menghadap jendela. Aku tak ingin bicara apa-apa, takut ia marah. Sementara ia sendiri membungkam, diam tanpa secercah kata pun.

Mendekati halte berikutnya, orang itu kembali gegabah melakukan sesuatu. Kali ini ia mengeluarkan iPhone-nya yang tersambung dengan earphone yang kabelnya terlilit-lilit. Ia membuka lilitan kabel itu cepat-cepat, dan ketika semakin dekat dengan halte berikutnya ia semakin tak sabar. Setelah berhasil membukanya ia dengan cepat menancapkan earphone ke telingaku, namun hanya yang kanan yang sempat tertancap ke dalam telinga kananku, lalu ia terbirit-birit kabur.

Terdengar petikan gitar di awal lagu ketika orang itu terburu-buru beranjak dari kursinya lalu dengan separuh berlari keluar bus, membuat si supir membentaknya dengan kata ‘bangsat’.

Saat vokal mulai masuk ke dalam lagu, aku mulai sadar bahwa ini adalah lagu Radiohead yang terbaru. Baru saja kemarin aku mendengar dan menonton video klipnya di Youtube. Judulnya I Promise, lagu yang mereka rekam dua puluh tahun silam di waktu yang sama dengan rekaman album mereka yang bertajuk Ok Computer. Perilisan lagu ini adalah salah satu lagu dari tiga lagu yang sebelumnya tidak dirilis di album tersebut untuk memperingati dua puluh tahun album itu rilis.

Lagu yang sederhana, dengan kunci-kunci gitar yang sederhana, lirik yang terbilang sederhana, dan dengan keindahan vokal Thom Yorke yang sederhana. Lalu keadaanku sekarang mengingatkanku kepada video klip lagu itu yang menampilkan hal yang persis sama. Seonggok kepala yang terpenggal duduk memandang keluar jendela di dalam bus yang bergerak maju. Aku menyukai situasi ini, membuatku serasa ada di dalam video klip itu bersama anggota Radiohead yang sedang memainkan lagu itu di dalam bus ini.

Lirik-liriknya mengalir dengan lancar di telingaku. Aku ingin bicara, bukan kepada sesiapa, hanya kepada diri sendiri. Namun ketika bicara, tekakku agak sakit, maka aku tak banyak bicara. Aku pun hanya membuka-buka mulut sedikit, menggumamkan beberapa lirik yang kuhafal sambil melirik-lirik keluar jendela bus.

Di luar jendela bus, aku tak melihat hal-hal yang muncul di video klip itu. Seperti bus-bus lain yang berpapasan dan penumpang-penumpangnya yang sedikit namun berperawakan aneh, atau orang-orang yang menghangatkan tubuh dengan unggun api, dan pejalan kaki di tepian yang memandang-mandang hal yang tak bisa kujelaskan apa. Juga tak ada pemabuk gemuk yang jalan tak menentu muncul dari lorong-lorong di sepanjang jalan.

Cukup anti-klimaks, segalanya tiba-tiba tidak seperti video klip itu. Di luar jendela tak ada siapa-siapa. Selain itu, jika aku memicingkan mata dan memfokuskan padangan, aku dapat melihat bayangan kepalaku di kaca jendela bus ini. Tak ada selain dua hal itu yang aku lihat, membuatku cukup kecewa.

Namun cukup bodoh juga jika aku mengharapkan hidupku menjelma seperti sebuah video klip hanya karena kemiripan yang bisa saja kebetulan. Namun seiring waktu aku merasa bosan, menunggu-nunggu sesuatu yang aku tidak tahu.

Tidak selang dua menit bus berhenti di sebuah halte dekat restoran. Aku mendengar pintu terbuka, kemudian ada langkah kaki perlahan menuju tempat duduk paling belakang. Di sela-sela bunyi langkah kaki itu, terdengar si supir kembali menghujat.

“Jangan bawa makanan ke dalam kendaraan tolol!”

Namun bunyi langkah-langkah itu seakan tak peduli. Tiba-tiba seorang lelaki dua puluh tahunan datang bersama sekantung besar makanan cepat saji di tangan kanannya. Ia melihatku dan sedikit terkejut.

“Wah, kamu kenapa?”

“Oh, ada seseorang yang tidak kukenal tadi memenggalku, lalu kepalaku ia bawa ke sini dan ditinggalkan,” ucapku susah payah, menahan sakit tekak.

“Aneh, tetapi tidak apa-apa, kamu bisa jalan-jalan malam tanpa bayaran bukan? Boleh aku duduk di sampingmu?”

Aku menertawai ucapannya sembari mengedipkan mataku perlahan sebagai pengganti mengangguk. Ia duduk di sampingku kemudian lanjut mengunyah nugget dari kantung makanan cepat sajinya. Ia menawarkanku sepotong, namun aku menolak karena kerongkonganku terputus, sehinnga makanan yang aku makan akan keluar begitu saja dari ujung kerongkongan yang tersisa. Lelaki itu menampakkan wajah memaklumi, seakan berbicara ah, ya, dunia lucu ya?

“Lagi mendengarkan apa?” tanyanya sambil menunjuk ke telinga kananku yang tersumbat earphone.

“Lagu terbaru Radiohead itu, yang spesial ulang tahun kedua puluh Ok Computer,” ucapku perlahan.

“Oh, iya iya. Bagus lagunya. Ngomong-ngomong, dipikir-pikir keadaanmu sekarang mirip sekali ya dengan…”

“Iya, memang mirip video klipnya, aku juga berpikir seperti itu.”

Kembali ia memperlihatkan wajah memaklumi yang sama, lalu lanjut melahap makanan cepat sajinya.

Tak lama kemudian lagu itu habis, dan tak ada lagi bunyi apapun dari earphone itu yang keluar. Entah mengapa tiba-tiba tercetus dari mulutku bahwa lagu itu sudah selesai. Lelaki itu terdiam seketika, kemudian menoleh.

“Oh, iya? Mau kumainkan lagi?”

“Hahaha, tak usah… Aku mau lihat-lihat luar saja.”

Mendengar tawaku ia ikut tertawa kecil, agak kebingungan. Lalu ia mendapati kantung makanannya telah kosong, yang bermakna makanan cepat sajinya telah habis. Ia menoleh, lalu sambil tertawa berkata, “Yang ini juga habis.”

Kami berdua terkekeh aneh, menertawakan apa adanya dunia.

“Kenapa ada orang yang tiba-tiba memenggal kepalamu?”

“Aku juga tidak mengerti. Aku sedang pulang dari toko grosiran, tiba-tiba ada seorang lelaki misterius memanggilku dari sebuah lorong gelap yang sepi. Awalnya dia menawarkan mixtape pribadinya dia, bilang macam-macam tentang selera musiknya yang tinggi dan lain-lain. Entah kenapa ketika aku tolak tiba-tiba menggal saja pakai pisau.”

“Begitu saja?”

“Iya, begitu saja.”

“Lalu earphone itu?”

“Ini dia yang nancep.”

“Tujuannya apa?”

“Entah, mungkin lagu itu salah satu lagu di mixtapenya.”

“Tetap saja, tujuannya apa?”

“Ah, entahlah. Mungkin dia mau memaksaku mendengarkan lagunya dengan cara begini supaya lebih nangkap feel-nya.”

“Hahaha, tolol.”

Kemudian kami terdiam kira-kira selama lima menit. Ia memain-mainkan kantung makanannya; ditiup hingga kembung, dirimek lalu dilempar, dikembangkan kembali lalu ditiup kembali. Sementara aku masih sibuk melihat-lihat keluar jendela. Aku melihat orang yang tadi memenggalku di salah satu lorong, kemudian memanggil seseorang. Seketika aku tersentak, lalu memerhatikan pertemuan mereka, namun bus ini melaju lebih dahulu sebelum aku dapat melihat kelanjutan cerita dua makhluk Tuhan itu.

Aku masih dibayang-bayangi penampilan dan perilaku orang itu. Seorang lelaki muda dengan penampilan khas anak-anak terbiar yang punya masalah keluarga dan gemar mendengarkan Green Day, lengkap dengan hoodie. Menawarkan CD berisi mixtapenya yang ia sanjung-sanjung berupa kumpulan lagu-lagu favoritnya yang berkualitas tinggi, dari lagu pop hit zaman 1960an hingga musik alternatif awal 2000an. Tiba-tiba menebas leherku dengan sebilah pisau tajam, memisahkan kepalaku dengan tubuhnya dengan sempurna. Kemudian ia menyimpan kepalaku ke dalam karung kecil miliknya yang dari tadi ternyata ia sembunyikan di balik hoodienya. Dan meninggalkanku di dalam sebuah bus.

“Kamu tidak kangen dengan tubuhmu?” ucap lelaki di sampingku, memecahkan hening, setelah sebentar tadi kuintip ia memasang wajah mengingat-ingat sesuatu, lalu menemukan hal yang ia coba ingat-ingat itu.

“Sekarang, setelah kamu mengatakannya, sepertinya cukup kangen.”

“Kamu masih ingat dimana tubuhmu tertinggal?”

“Eh, sudah berapa halte tadi ya?”

“Sepertinya lima.”

“Nah, lima halte sebelum ini, di lorong sepi di antara sebuah apartemen dan toko peti mati.”

“Baiklah, mau kuantar kesana?”

“Hah, memangnya kenapa?”

“Bisa kubawa ke rumah agar dijahitkan kembali oleh ibuku. Dulu kepala adik perempuanku juga pernah terputus dari tubuhnya, lalu ibuku menjahitkannya kembali ke tubuhnya, dan sekarang ia tumbuh dewasa seperti biasa, tidak ada masalah. Mungkin saja ibuku dapat membantumu.”

“Ah baik sekali kamu. Boleh juga, terima kasih banyak ya sebelumnya.”

“Tak usah dipikirkan, aku hanya mau membantu. Setelah ini halte terakhir, lalu kita cari bus yang menuju halte yang kau sebut tadi. Semoga tubuhmu masih ada.”

“Aku mengharapkan hal yang sama.”

“Eh, tetapi, ngomong-ngomong, boleh aku menaruhmu di kantung ini?”

“Hm? Ah tidak apa-apalah, sekurang-kurangnya bau makanan.”

Ia tertawa kemudian memasukkanku ke dalamnya. Aku cukup terkejut karena muat, antara kepalaku yang tergolong kecil atau lelaki itu memesan makanan ukuran jumbo. Ia bertanya kepadaku apakah aku ada masalah pernafasan ketika aku berada di dalam kantung itu, aku menjawab tidak ada masalah. Kami berdua keluar bus di halte terakhir, lalu menunggu bus yang menuju ke arah berlawanan.

Ketika bus yang baru telah sampai, kami pun berangkat. Dan aku menikmati malamku yang ditunda menjadi video klip sebuah lagu. (T)

Kuala Lumpur, Juni 2017

Tags: Cerpen
Share7TweetSendShareSend
Previous Post

Bangli, Tempat “Orang-orang Gila” Berkumpul

Next Post

Dua Esai IBM Dharma Palguna yang Tertinggal tentang Tabanan: Pelangi di Tengah Pasar dan Batu Bolong

Muhamad Kusuma Gotansyah

Muhamad Kusuma Gotansyah

Lahir di Tangerang, Banten, pada 14 Maret 2002. Menetap dan belajar di Kuala Lumpur. Gemar bermusik, menulis, dan membaca. Beberapa karyanya berupa cerpen dan puisi pernah dimuat di media-media online seperti Flores Sastra dan Nusantaranews.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post

Dua Esai IBM Dharma Palguna yang Tertinggal tentang Tabanan: Pelangi di Tengah Pasar dan Batu Bolong

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co