25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Video Klip Radiohead

Muhamad Kusuma Gotansyah by Muhamad Kusuma Gotansyah
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi karya: IB Pandit Parastu

 

Cerpen: Muhamad Kusuma Gotansyah

MALAM itu seseorang memenggal kepalaku di lorong sepi itu, kemudian mengambil kepalaku dan menaruhnya di dalam sebuah karung kecil. Dari celah-celah kecil di karung itu, aku dapat melihat bahwa orang itu membawaku berjalan ke halte lalu menunggu bus di sana. Beberapa menit kemudian bus sampai dan ia menaiki bus itu terburu-buru. Bus itu diisi dengan pasangan-pasangan kursi di kiri dan kanan hingga belakang. Melihat orang itu terburu-buru, si supir bus sempat menghentikannya dan mengingatkannya membayar tiket, dan orang itu pun membayarnya kemudian lanjut terburu-buru mencari tempat duduk paling belakang.

Bus itu sepi, hanya ada seorang wanita tua yang sedang tertidur dan seorang lelaki yang sedang mabuk dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan dengan bergumam. Mereka duduk di tempat duduk-tempat duduk depan bersama kesibukan mereka masing-masing.

Orang yang membawa kepalaku duduk di kursi yang kiri kemudian mengeluarkan kepalaku yang tak sedikit pun bersimbah darah, lalu menempatkan kepalaku di sebelahnya, di kursi yang kanan, menghadap jendela. Aku tak ingin bicara apa-apa, takut ia marah. Sementara ia sendiri membungkam, diam tanpa secercah kata pun.

Mendekati halte berikutnya, orang itu kembali gegabah melakukan sesuatu. Kali ini ia mengeluarkan iPhone-nya yang tersambung dengan earphone yang kabelnya terlilit-lilit. Ia membuka lilitan kabel itu cepat-cepat, dan ketika semakin dekat dengan halte berikutnya ia semakin tak sabar. Setelah berhasil membukanya ia dengan cepat menancapkan earphone ke telingaku, namun hanya yang kanan yang sempat tertancap ke dalam telinga kananku, lalu ia terbirit-birit kabur.

Terdengar petikan gitar di awal lagu ketika orang itu terburu-buru beranjak dari kursinya lalu dengan separuh berlari keluar bus, membuat si supir membentaknya dengan kata ‘bangsat’.

Saat vokal mulai masuk ke dalam lagu, aku mulai sadar bahwa ini adalah lagu Radiohead yang terbaru. Baru saja kemarin aku mendengar dan menonton video klipnya di Youtube. Judulnya I Promise, lagu yang mereka rekam dua puluh tahun silam di waktu yang sama dengan rekaman album mereka yang bertajuk Ok Computer. Perilisan lagu ini adalah salah satu lagu dari tiga lagu yang sebelumnya tidak dirilis di album tersebut untuk memperingati dua puluh tahun album itu rilis.

Lagu yang sederhana, dengan kunci-kunci gitar yang sederhana, lirik yang terbilang sederhana, dan dengan keindahan vokal Thom Yorke yang sederhana. Lalu keadaanku sekarang mengingatkanku kepada video klip lagu itu yang menampilkan hal yang persis sama. Seonggok kepala yang terpenggal duduk memandang keluar jendela di dalam bus yang bergerak maju. Aku menyukai situasi ini, membuatku serasa ada di dalam video klip itu bersama anggota Radiohead yang sedang memainkan lagu itu di dalam bus ini.

Lirik-liriknya mengalir dengan lancar di telingaku. Aku ingin bicara, bukan kepada sesiapa, hanya kepada diri sendiri. Namun ketika bicara, tekakku agak sakit, maka aku tak banyak bicara. Aku pun hanya membuka-buka mulut sedikit, menggumamkan beberapa lirik yang kuhafal sambil melirik-lirik keluar jendela bus.

Di luar jendela bus, aku tak melihat hal-hal yang muncul di video klip itu. Seperti bus-bus lain yang berpapasan dan penumpang-penumpangnya yang sedikit namun berperawakan aneh, atau orang-orang yang menghangatkan tubuh dengan unggun api, dan pejalan kaki di tepian yang memandang-mandang hal yang tak bisa kujelaskan apa. Juga tak ada pemabuk gemuk yang jalan tak menentu muncul dari lorong-lorong di sepanjang jalan.

Cukup anti-klimaks, segalanya tiba-tiba tidak seperti video klip itu. Di luar jendela tak ada siapa-siapa. Selain itu, jika aku memicingkan mata dan memfokuskan padangan, aku dapat melihat bayangan kepalaku di kaca jendela bus ini. Tak ada selain dua hal itu yang aku lihat, membuatku cukup kecewa.

Namun cukup bodoh juga jika aku mengharapkan hidupku menjelma seperti sebuah video klip hanya karena kemiripan yang bisa saja kebetulan. Namun seiring waktu aku merasa bosan, menunggu-nunggu sesuatu yang aku tidak tahu.

Tidak selang dua menit bus berhenti di sebuah halte dekat restoran. Aku mendengar pintu terbuka, kemudian ada langkah kaki perlahan menuju tempat duduk paling belakang. Di sela-sela bunyi langkah kaki itu, terdengar si supir kembali menghujat.

“Jangan bawa makanan ke dalam kendaraan tolol!”

Namun bunyi langkah-langkah itu seakan tak peduli. Tiba-tiba seorang lelaki dua puluh tahunan datang bersama sekantung besar makanan cepat saji di tangan kanannya. Ia melihatku dan sedikit terkejut.

“Wah, kamu kenapa?”

“Oh, ada seseorang yang tidak kukenal tadi memenggalku, lalu kepalaku ia bawa ke sini dan ditinggalkan,” ucapku susah payah, menahan sakit tekak.

“Aneh, tetapi tidak apa-apa, kamu bisa jalan-jalan malam tanpa bayaran bukan? Boleh aku duduk di sampingmu?”

Aku menertawai ucapannya sembari mengedipkan mataku perlahan sebagai pengganti mengangguk. Ia duduk di sampingku kemudian lanjut mengunyah nugget dari kantung makanan cepat sajinya. Ia menawarkanku sepotong, namun aku menolak karena kerongkonganku terputus, sehinnga makanan yang aku makan akan keluar begitu saja dari ujung kerongkongan yang tersisa. Lelaki itu menampakkan wajah memaklumi, seakan berbicara ah, ya, dunia lucu ya?

“Lagi mendengarkan apa?” tanyanya sambil menunjuk ke telinga kananku yang tersumbat earphone.

“Lagu terbaru Radiohead itu, yang spesial ulang tahun kedua puluh Ok Computer,” ucapku perlahan.

“Oh, iya iya. Bagus lagunya. Ngomong-ngomong, dipikir-pikir keadaanmu sekarang mirip sekali ya dengan…”

“Iya, memang mirip video klipnya, aku juga berpikir seperti itu.”

Kembali ia memperlihatkan wajah memaklumi yang sama, lalu lanjut melahap makanan cepat sajinya.

Tak lama kemudian lagu itu habis, dan tak ada lagi bunyi apapun dari earphone itu yang keluar. Entah mengapa tiba-tiba tercetus dari mulutku bahwa lagu itu sudah selesai. Lelaki itu terdiam seketika, kemudian menoleh.

“Oh, iya? Mau kumainkan lagi?”

“Hahaha, tak usah… Aku mau lihat-lihat luar saja.”

Mendengar tawaku ia ikut tertawa kecil, agak kebingungan. Lalu ia mendapati kantung makanannya telah kosong, yang bermakna makanan cepat sajinya telah habis. Ia menoleh, lalu sambil tertawa berkata, “Yang ini juga habis.”

Kami berdua terkekeh aneh, menertawakan apa adanya dunia.

“Kenapa ada orang yang tiba-tiba memenggal kepalamu?”

“Aku juga tidak mengerti. Aku sedang pulang dari toko grosiran, tiba-tiba ada seorang lelaki misterius memanggilku dari sebuah lorong gelap yang sepi. Awalnya dia menawarkan mixtape pribadinya dia, bilang macam-macam tentang selera musiknya yang tinggi dan lain-lain. Entah kenapa ketika aku tolak tiba-tiba menggal saja pakai pisau.”

“Begitu saja?”

“Iya, begitu saja.”

“Lalu earphone itu?”

“Ini dia yang nancep.”

“Tujuannya apa?”

“Entah, mungkin lagu itu salah satu lagu di mixtapenya.”

“Tetap saja, tujuannya apa?”

“Ah, entahlah. Mungkin dia mau memaksaku mendengarkan lagunya dengan cara begini supaya lebih nangkap feel-nya.”

“Hahaha, tolol.”

Kemudian kami terdiam kira-kira selama lima menit. Ia memain-mainkan kantung makanannya; ditiup hingga kembung, dirimek lalu dilempar, dikembangkan kembali lalu ditiup kembali. Sementara aku masih sibuk melihat-lihat keluar jendela. Aku melihat orang yang tadi memenggalku di salah satu lorong, kemudian memanggil seseorang. Seketika aku tersentak, lalu memerhatikan pertemuan mereka, namun bus ini melaju lebih dahulu sebelum aku dapat melihat kelanjutan cerita dua makhluk Tuhan itu.

Aku masih dibayang-bayangi penampilan dan perilaku orang itu. Seorang lelaki muda dengan penampilan khas anak-anak terbiar yang punya masalah keluarga dan gemar mendengarkan Green Day, lengkap dengan hoodie. Menawarkan CD berisi mixtapenya yang ia sanjung-sanjung berupa kumpulan lagu-lagu favoritnya yang berkualitas tinggi, dari lagu pop hit zaman 1960an hingga musik alternatif awal 2000an. Tiba-tiba menebas leherku dengan sebilah pisau tajam, memisahkan kepalaku dengan tubuhnya dengan sempurna. Kemudian ia menyimpan kepalaku ke dalam karung kecil miliknya yang dari tadi ternyata ia sembunyikan di balik hoodienya. Dan meninggalkanku di dalam sebuah bus.

“Kamu tidak kangen dengan tubuhmu?” ucap lelaki di sampingku, memecahkan hening, setelah sebentar tadi kuintip ia memasang wajah mengingat-ingat sesuatu, lalu menemukan hal yang ia coba ingat-ingat itu.

“Sekarang, setelah kamu mengatakannya, sepertinya cukup kangen.”

“Kamu masih ingat dimana tubuhmu tertinggal?”

“Eh, sudah berapa halte tadi ya?”

“Sepertinya lima.”

“Nah, lima halte sebelum ini, di lorong sepi di antara sebuah apartemen dan toko peti mati.”

“Baiklah, mau kuantar kesana?”

“Hah, memangnya kenapa?”

“Bisa kubawa ke rumah agar dijahitkan kembali oleh ibuku. Dulu kepala adik perempuanku juga pernah terputus dari tubuhnya, lalu ibuku menjahitkannya kembali ke tubuhnya, dan sekarang ia tumbuh dewasa seperti biasa, tidak ada masalah. Mungkin saja ibuku dapat membantumu.”

“Ah baik sekali kamu. Boleh juga, terima kasih banyak ya sebelumnya.”

“Tak usah dipikirkan, aku hanya mau membantu. Setelah ini halte terakhir, lalu kita cari bus yang menuju halte yang kau sebut tadi. Semoga tubuhmu masih ada.”

“Aku mengharapkan hal yang sama.”

“Eh, tetapi, ngomong-ngomong, boleh aku menaruhmu di kantung ini?”

“Hm? Ah tidak apa-apalah, sekurang-kurangnya bau makanan.”

Ia tertawa kemudian memasukkanku ke dalamnya. Aku cukup terkejut karena muat, antara kepalaku yang tergolong kecil atau lelaki itu memesan makanan ukuran jumbo. Ia bertanya kepadaku apakah aku ada masalah pernafasan ketika aku berada di dalam kantung itu, aku menjawab tidak ada masalah. Kami berdua keluar bus di halte terakhir, lalu menunggu bus yang menuju ke arah berlawanan.

Ketika bus yang baru telah sampai, kami pun berangkat. Dan aku menikmati malamku yang ditunda menjadi video klip sebuah lagu. (T)

Kuala Lumpur, Juni 2017

Tags: Cerpen
Share7TweetSendShareSend
Previous Post

Bangli, Tempat “Orang-orang Gila” Berkumpul

Next Post

Dua Esai IBM Dharma Palguna yang Tertinggal tentang Tabanan: Pelangi di Tengah Pasar dan Batu Bolong

Muhamad Kusuma Gotansyah

Muhamad Kusuma Gotansyah

Lahir di Tangerang, Banten, pada 14 Maret 2002. Menetap dan belajar di Kuala Lumpur. Gemar bermusik, menulis, dan membaca. Beberapa karyanya berupa cerpen dan puisi pernah dimuat di media-media online seperti Flores Sastra dan Nusantaranews.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post

Dua Esai IBM Dharma Palguna yang Tertinggal tentang Tabanan: Pelangi di Tengah Pasar dan Batu Bolong

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co