24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dua Esai IBM Dharma Palguna yang Tertinggal tentang Tabanan: Pelangi di Tengah Pasar dan Batu Bolong

tatkala by tatkala
February 2, 2018
in Opini

Foto FB

 

Sekitar tahun 2010 saya bersama sejumlah teman berencana menerbitkan kumpulan puisi dan esai tentang Tabanan. Saya yang bertugas mengumpulkan puisi dan tulisan menghubungi sejumlah teman penyair dan penulis. Salah seorang yang saya hubungi adalah penulis yang benar-benar saya kagumi dan segani sejak SMA ketika saya baru hanya mengenal dia lewat serial “Sekuni” di Bali Post.

Dia, IBM Dharma Palguna. Saya harus mendapatkan tulisannya. Mungkin karena kekaguman saya maka saya secara subjektif menganggap tak akan punya jiwa buku itu jika tak ada tulisan dia.

Selain memang lahir di Tabanan,  IBM Dharma Palguna juga sempat menetap beberapa tahun di sekitar jalan arteri Kediri-Pseiapan, mungkin tepatnya tak jauh-jauh dari Pasar Kodok sekarang. Namun saat saya menghubunginya dan minta tulisan, ia sudah menetap di Lombok.

Dan karena kendala sejumlah hal, buku itu tak jadi terbit. File naskah teman-teman masih saya simpan dengan harapan suatu saat akan saya terbitkan secara swadaya. Namun hingga IBM Dharma Palguna pulang ke tanah wayah, 27 Oktober 2017, harapan saya tak terkabulkan. Saya sangat bersalah dan berdosa.

Saya tak tahu apakah dua tulisan ini sudah pernah diterbitkan dalam buku atau di media lain. Untuk itu, saya unggah dua esai Gus Pal ini agar bisa dibaca, terutama oleh teman-temannya di Tabanan. Selain dua esai, saya juga menyimpan sejumlah puisi Gus Pal yang rencananya juga akan diikutkan dalam buku itu.  (Made Adnyana Ole- redaksi)   

 

PELANGI DI TENGAH PASAR

Oleh: IBM. Dharma Palguna

Saya hanyalah seorang bocah yang belum tahu bahwa Tabanan itu adalah ibu kota sebuah kabupaten yang juga bernama Tabanan. Setiap kali saya diajak ke Tabanan, maka melalui mata kanak-kanak, otak saya merekam sebuah gambar yang sampai sekarang pun masih jelas saya ingat. Rekaman gambar itu tentang seorang lelaki saparuh umur yang selalu berjalan kaki mengelilingi kota dengan pakaian terbuat dari karung yang compang-camping. Lelaki itu mengalungi lehernya dengan potongan-potongan besi dan seng, melilit kepalanya dengan tali, sementara rambutnya yang tak terurus sudah menyerupai warna tanah.

Tanpa bertanya pun pikiran kanak-kanak saya sudah tahu bahwa beliau beda. Ia sangat asyik dengan dirinya. Barangkali ia tahu dirinya sering diperhatikan oleh orang-orang. Namun ia tidak pernah saya lihat mengganggu orang. Tanpa bicara beliau telah berhasil menunjukkan kepada khalayak, bahwa dirinya lain daripada yang lain. Ia tidak menuntut pengakuan atas perbedaan itu, tapi ia langsung mendapatkannya. Ia diakui buduh (gila).

Rekaman peristiwa “hebat” itu terjadi sekitar akhir dekade 60-an. Saya katakan hebat karena sampai sekarang rekaman itu masih ada dalam file memori saya, sedangkan peristiwa lain yang terekam pada periode yang sama sudah lama terhapus.

Puluhan tahun setelah rekaman gambar itu, saya dibuat semakin menjauh dari Tabanan oleh karena perjalanan hidup memang berkehendak begitu. Di mana pun saya tinggal, dan peristiwa apa pun yang saya alami diberbagai tempat yang baru, semua itu ternyata tidak menghapus kemelekatan gambar itu di otak saya. Selalu ada momen yang menyebabkan gambar itu muncul ke permukaan pikiran. Dan setiap kali gambar itu muncul, selalu membawa sensasi. Oleh karena itu, saya tidak pernah menyikapi kemunculan gambar itu dengan tidak serius. Saya betah merenung lama-lama untuk menghormati warisan masa kecil itu.

Dan sore ini ketika mengetik tulisan ini, saya tidak di Tabanan. Saya sedang larut dalam perenungan tentang beliau yang status sosial dan status mental kejiwaannya diakui beda itu. Hanya saja saya tidak lagi melihat beliau sebagai dirinya, tapi sebagai satu fenomena budaya yang kompleks. Beliau saya posisikan sebagai wakil dari orang dalam yang menjadi orang luar (outsider). Ia menjadi orang luar bukan murni atas kemauannya sendiri, dan juga bukan karena pemaksaan oleh orang-orang dalam. Oleh karena itu, beliau adalah satu contoh kasus ekstrem. Terlalu ekstrem bahkan untuk isu yang ingin saya angkat dalam tulisan ini.

Siapakah “orang luar” itu?

Orang luar ternyata bukan hanya mereka yang datang dari perbedaan, tapi juga mereka yang datang dari persamaan. Baik yang datang dari persamaan maupun yang datang dari perbedaan, mereka sama-sama ada di daerah “perbatasan”. Mereka sama sekali tidak lagi ada di dalam, tapi sejatinya juga tidak benar-benar ada di luar.

Yang datang dari perbedaan, contohnya orang suku lain, orang agama lain, orang ras lain, orang berbahasa lain, dan seterusnya. Untuk selanjutnya kelompok ini tidak akan kita dibicarakan.

Pembicaran kita batasi pada orang luar yang datang dari persamaan. Misalnya dari dalam keluarga besar, dari soroh (klan), dari dalam desa adat, dan seterusnya. Dalam sejarah sosial budaya Bali selalu ada orang atau kelompok orang yang ke luar atau dikeluarkan dari kumpulannya, namun secara geografis mereka masih ada di tempat yang sama.

Untuk sekadar menyegarkan ingatan kita angkat beberapa kata kunci yang berhubungan dengan kasus ini. Astra adalah satu istilah yang diberikan kepada orang atau kelompok orang yang telah dilepaskan dari identitas ke-wangsa-annya (brahmana) karena sesuatu dan lain hal. Pelepasan identitas dalam kasus Astra ini kebanyakan adalah pemaksaan sepihak dari “orang dalam”. Kasus seperti ini sekarang hampir tidak lagi terjadi di Bali. Tapi orang Bali yang ada di Lombok Barat mengetahui bahwa kasus seperti ini bukan sesuatu yang susah dicarikan contohnya.

Ada juga pelepasan identitas tanpa pemaksaan, tapi untuk menyikapi keadaan genting tertentu. Misalnya nyineb wangsa. Kata nyineb berarti menenggelamkan, mengakhiri, menghilangkan, menyembunyikan, menutup dan sejenisnya. Dalam sejarah Bali konon sering terjadi sekelompok orang sengaja menenggelamkan identitas wangsanya, dan kemudian memakai wangsa orang kebanyakan untuk sebuah penyamaran agar selamat dari perburuan para musuh. Dalam sejarah Bali, dan juga sejarah bangsa-bangsa apa saja, permusuhan adalah tema paling menonjol.

Astra dan Nyineb Wangsa barulah dua contoh tentang “orang luar” yang datang dari dalam. Dan beliau yang ada dalam rekaman masa kecil saya itu, yang sama sekali tidak saya kenal siapa dia, adalah juga orang luar yang datang dari dalam. Tapi kasusnya beda. Sangat berbeda bahkan! Astra dan nyineb wangsa dilakukan oleh orang-orang yang secara psikologis tidak disebut buduh. Beliau itu dengan sangat gampang disebut gila, hanya karena isi dan cara berpikirnya beda.

Saya berhenti mengetik sampai di sini. Khawatir renungan saya tentang beliau berubah menjadi “lamunan” budaya ala akademisi. Tapi saya tidak lagi cemas tentang dikotomi orang luar dan orang dalam itu. Karena kehidupan sekarang, dari kehidupan bernegara sampai kehidupan beragama, dikendalikan oleh Pasar dan Harga.

Pendekatan Pasar sangat beda dengan pendekatan tradisi, atau adat. Pasar tidak membedakan “orang dalam” dan “orang luar”. Pasar menerima siapa saja yang membawa “sesari” berupa uang untuk ditukarkan dengan barang dan jasa. Di dalam pasar bertemu berbagai perbedaan tanpa menimbulkan konflik, karena perbedaan-perbedaan itu diikat oleh Harga dan tawar menawar seperlunya.

Ada apa dengan Tabanan? Kota yang satu ini sering disebut Kota Pelangi. Perbedaan warna pelangi itu nampak indah, mungkinkah karena filosofi Pelangi itu sama dengan filosofi Pasar dan Harga?  []*

 

BATU BOLONG

Oleh: IBM. Dharma Palguna

Berjalan kaki dari pantai Yeh Gangga ke Tanah Lot pada sore hari. Matahari di barat. Bayangan yang rebah ke arah timur menjadi pemandu arah. Jejak kaki yang berbaris di belakang jangan hiraukan. Satu sapuan ombak sudah cukup untuk menghapusnya. Kalau ada orang membuntuti dari jauh, mereka akan kehilangan jejak.

Kalau jejak kaki itu seumpamanya karma, mohonlah pada Baruna, dewa laut, untuk memotongnya persis pada sumbunya, sehingga perjalanan tidak lagi dibebani oleh karma suka dan karma duka. Sampaikan permohonan dalam hati dengan bahasa tubuh. Karena bahasa mulut akan terbenam oleh suara angin dan ombak. Kalau tidak bertemu dengan Baruna, karena mungkin tidak ada janji bertemu di kehidupan ini, pikul sajalah suka dan duka itu dengan tidak sekali-sekali mengeluh. Karena memang begitu bunyi kutukannya, setiap kali pemikul mengeluh maka beban itu akan bertambah berat satu setrip.

Maka selamat berjalan. Buatlah langkah menjadi ringan! Indahnya tamasya justru karena tanpa beban. Jika perjalanan ini sebuah tamasya, nikmatilah keindahan langit sore dan canda ombak. Tapi jika ini adalah sebuah perjalanan membayar hukuman karena lahir sebagai orang yang diwajibkan membayar hutang kepada pemberi hidup, maka kuatkanlah langkah agar bisa melunasi utang jarak dengan bayaran tempuh. Kumpulkan keringat, jadikan itu tirtha penglukatan sendiri. Waspadalah, di kanan ada ombak yang sekali-sekali bisa menyeretmu ke tengah. Di depan ada beberapa loloan yang dalam, siapa tahu ada buaya siluman sedang mengintip. Di kiri selain tegalan dan persawahan, juga ada dua kuburan desa. Jangan tergoda untuk beristirahat di kuburan sebelum tiba di depan Batu Bolong yang dituju.

Kuburan itu memang yang terindah dalam pemandangan sore tepi laut. Bukankah kebenaran dongeng memberitahu kita bahwa para penempuh perjalanan sore-hidup yang beristirahat di kuburan tak pernah lagi pulang. Kata dongeng itu, mereka menjadi pelayan Bathari Durga di sana, dan tidak melanjutkan perjalanan, sehingga tidak sampai di Batu Bolong.

Konon itulah sebabnya mengapa ombak di sana galak-galak karena cemburu. Keindahan dirinya yang menjadi inspirasi bagi kebanyakan pengarang, menjadi tercampakkan karena janji-janji alam kubur lebih memikat hati orang-orang yang letih menempuh sore-hidup.

Pernah mendengar rumor mengapa matahari buru-buru membenamkan diri di ufuk barat setiap sore? Karena Dewa Surya yang penuh pengertian ingin segera memberikan kesempatan kepada malam untuk menampilkan yang terindah dari dirinya. Begitulah, katanya, yang terindah dari malam adalah tembok pembatas Pura Dalem dengan kuburan. Banyak peristiwa, banyak cerita, dan banyak keajaiban terjadi di tembok yang tebalnya hanya sejengkal orang dewasa itu.

Makanya bergegaslah berjalan dan usahakan sebelum gelap sudah sampai di Batu Bolong. Kalau tidak, akan banyak sekali godaan yang memikat dan mengikat. Jangan sampai seperti mereka yang tergoda istirahat di salah satu kuburan itu, akhirnya jangankan sampai di Batu Bolong, mereka bahkan tidak pulang-pulang.

Makanya berjalanlah terus. Usahakan agar sampai. Bukankah perjalanan ini adalah kewajiban. Hutang harus dibayar. Hutang jarak dibayar tempuh! Hutang hidup bayar katanya dengan yadnya. Berjalan inilah yadnya yang pertama sebelum ada yadnya-yadnya yang lainnya. Nanti setelah hutang kelahiran lunas, terserah, mau istirahat di mana. Saksikan dulu keajabiban Batu Bolong.

Dan Batu Bolong itu benar-benar batu yang bolong. Duduklah di depan batu yang bolong itu. Jangan lagi mempertentangkan, apakah pertapaan ombak membolonngi batu sebesar bukit itu, atau pertapaan batu yang membolongi dirinya sendiri dengan ikhlas terus menerus berabad-abad di tabrak-tabrak ombak. Cara berpikir mempertentangkan bukanlah cara bertapa yang baik. Masuklah ke dalam bolongan itu, cari tempat sebisa mungkin untuk tetap duduk di sana. Dan arahkan pandangan ke timur.  Jangan terkejut, dari bolongan batu itu, Tanah Lot akan nampak beda dengan Tanah Lot dilihat dari Tanah Lot. Tahu kenapa? Karena orang yang melihat itu sudah menjadi orang baru yang berbeda dengan dirinya sebelum melakukan perjalanan sore itu.

Teka-teki nyaris terpecahkan. Bagaimana caranya masuk ke dalam kerapatan dan kepadatan Batu? Begitu bunyi teka-teki mistis yang disembunyikan di lipatan-lipatan naskah tua. Batu Bolong bukanlah jawaban, karena Batu Bolong bukan cara, tapi ia adalah jalan. Karena itulah, teka-teki “nyaris” terpecahkan.

Tapi jangan! Nanti kita tidak akan punya misteri lagi jika semua teka-teki kita jawab! []***

 

 

Tags: IBM Darma Palgunatabanan
Share109TweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Video Klip Radiohead

Next Post

Indra Andrianto# Puisi: Bait Pembunuh, Dosa yang Dihalalkan

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails
Next Post

Indra Andrianto# Puisi: Bait Pembunuh, Dosa yang Dihalalkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co