14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Film Pendek, Merayakan Hal-hal yang Tak Sama

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 2, 2018
in Opini

Penonton film pada acara Minikino Film Week 3. /Foto-foto: Minikino

 

KEBERAGAMAN harus selalu disuarakan. Karena hanya dengan disuarakan terus-menerus, suara-suara yang samar bisa tergantikan, dan kita (sebagai orang Indonesia) bisa saling mengingatkan bahwa sesungguhnya kita tumbuh dalam berbagai perbedaan.

Kata keberagaman belakangan memang sangat santer terdengar. Tentu karena berita dan aksi-aksi intoleransi juga makin kerap terjadi. Dengan makin santernya kata keberagaman terdengar melalui berbagai bentuk, berbagai media, berbagai tulisan, berbagai karya seni, maka aksi intoleransi diharap akan kalah dan menghilang.

Bicara kata beragam, berbeda, atau berlainan, memang kerap dihubungkan dengan identitas yang menyangkut keturunan, agama, kebangsaan atau kesukuan dan golongan. Maka pandangan dan tindakan yang didasarkan pada sentimen terhadap hal-hal berbau suku, ras dan agama, sudah tergolong tindakan pelecehan atau penghinaan.

Ketika sentimen-sentimen yang berbau SARA telah ditanamkan secara tidak sadar sejak usia kanak-kanak, akan menciptakan generasi radikal yang takut akan perbedaan ketika tumbuh dewasa.

Lalu, adakah tindakan sistematis guna memerangi masalah ini, termasuk juga sistem dan kebijakannya? Atau adakah upaya maupun cara lain yang lebih menyenangkan? Jika ditelisik, cara paling mudah dan menyenangkan adalah melalui film. Iya, film adalah koentji!.

Film memiliki kekuatan luar biasa untuk menjadi penggerak perubahan. Bagi pembuat film, media film adalah pilihan penting untuk mengekspresikan diri, menyuarakan pendapat, dan menggambarkan dengan nyata situasi sosial masyarakat.

Tak hanya itu, film juga mampu membuat para penonton (baca: masyarakat) untuk melihat kenyataan atau realitas sedekat mungkin. Tak jarang setelah menonton film, para penonton akan ikut gaya berpakaian pemain film, dialek bahasa maupun hal-hal lain yang mereka temui dalam sebuah film. Kadang film dijadikan sebuah sarana edukasi yang bertujuan baik, maupun sebaliknya sebagai alat propaganda tujuan tertentu.

Ketika bicara soal film, kita tak boleh melupakan film pendek. Terlepas dari panjang pendeknya durasi sebuah film, film pendek sama halnya dengan karya sastra. Film pendek memiliki kekuatan literaturnya sendiri. Selain itu, film pendek juga membuka kesempatan bagi penonton untuk mengolah informasi, serta memanfaatkan analogi dan metafora yang diperlihatkan dengan kritis melalui durasi yang singkat. Salah satu lembaga film pendek di Indonesia yang telah tiga kali menggelar festival film pendek Internasional adalah Minikino.

Minikino adalah organisasi pertama di Indonesia yang menyatakan diri fokus pada film pendek. Di bulan Oktober 2017, lembaga itu menggelar 3rd MFW (Minikino Film Week). MFW merupakan ajang festival film pendek tahunan yang diselenggarakan oleh Minikino. Selama satu minggu mereka mengadakan pemutaran film pendek di beberapa tempat yang berbeda. Di tahun ini 3rd MFW menghadirkan 209 film pendek yang dikemas dalam 42 program. Jumlah tersebut meningkat dari 88 film pendek di tahun pertama, dan 158 film di tahun kedua. Dari 42 program tersebut, salah satu programnya disebut Indonesia Raja.

Indonesia Raja

Ketika mendengar Indonesia Raja, apa yang terlintas diingatan? Indonesia menjadi Raja bak istilah Macam Asia? atau mungkin pandangan lain? mungkin saja. Indonesia Raja merupakan upaya kolaborasi dalam pertukaran film pendek se-Indonesia. Bagi Minikino sendiri, Indonesia Raja diambil dari judul lagu kebangsaan Republik Indonesia dalam ejaan lama. Semangat kebangsaan inilah yang menginspirasi upaya kolaborasi dan berjejaring dalam bentuk pertukaran program film pendek Indonesia.

Minikino juga menambahkan bahwa film pendek merupakan produk kreatif yang melibatkan berbagai disiplin ilmu dan keterampilan, sehingga dengan menyaksikan serangkaian film pendek kita dapat melihat pencapaian kreatif, alih teknologi, pendidikan, kepedulian sosial, budaya dan berbagai aspek kehidupan yang terlibat dan terekam dalam sebuah film pendek.

Dengan kata lain, keberagaman keterampilan dan disiplin ilmu tersebut terpadu menjadi satu untuk membentuk sebuah karya, yaitu film pendek. Terlebih lagi, kerja bersama ini melibatkan banyak orang dari berbagi kota dan wilayah. Sudah barang tentu perbedaan pasti ada, mulai dari sosial budaya, cara pandang dan seterusnya.

Tahun 2017 Indonesia Raja hadir kembali dengan melibatkan 12 programer dari 12 kota/wilayah di seluruh Indonesia. 12 kota/wilayah tersebut adalah Aceh, Bali, Banjarmasin, Cirebon, Gresik, Jakarta, Purbalingga, Semarang, Sumbawa, Surabaya, Tanggerang dan Yogyakarta. Meskipun datang dari 12 penjuru kota dan wilayah, para programer tersebut tetap padu padan untuk berkolaborasi dan hanyut dalam keberagaman. Nah kalau sudah begitu, kurang beragam apalagi?

Relawan dari Berbagai Daerah

Relawan yang ikut tergabung dalam festival film pendek ini tidak hanya berasal dari Bali, melainkan dari berbagai daerah. Dengan kata lain, tidak hanya suku dan keturunan orang Bali saja yang terlibat. Ada dari Banjarmasin, Sumatera, Medan, Jakarta dan beberapa daerah lain.

Jika kita melihat di permukaan saja, apakah hal ini tidak bisa kita sebut dan nilai sebagai keberagaman? Film pendek mempersatukan mereka. Bekerja bersama, berteman dan mengenal satu sama lain lewat film pendek. Perbedaan suku, keturunan, agama, ras dan golongan tidak termasuk perbedaan yang perlu diperdebatkan, apalagi dipermasalahkan.

Layar Tancap

Layar tancap adalah salah satu kegiatan yang dilakukan selama festival berlangsung. Pop Up Cinema adalah istilah kerennya. Relawan berkeliling dari desa ke kota, dari satu tempat ke tempat yang lain. Di Bali dari satu daerah dengan daerah lainnya memiliki adat dan kehidupan sosial budaya yang berbeda.

Tapi dengan adanya layar tancap, orang dari daerah berbeda akan datang, berbaur dengan masyarakat lainnya dan segala perbedaan akan lebur dalam sendirinya. Layar tancap ini mampu mempersatukan mereka. Pertukaran informasi, pengetahuan dan budaya sudah barang tentu terjadi dalam setiap pemutaran film. Secara tidak langsung, relawan dan/ masyarakat yang berasal dari daerah lain akan berbaur duduk bersama dan “Membaca Indonesia melalui film pendek”.

Melihat keindahan pada layar, duduk bersama dengan orang-orang terkasih maupun dengan orang yang tak kita kenal sebelumnya dapat mengantarkan kita untuk lebih menyadari adanya hal-hal yang begitu besar yang akan membawa kita ke dalam sebuah harmoni. Sudah sepatutnya keberagaman dirayakan dengan kebahagiaan dan cara-cara yang lebih menyenangkan, salah satunya dengan menonton film.

Jadi, menonton film pendek bisa disebut sebagai satu cara untuk merayakan hal-hal yang tak sama. Tak sama filmnya, tak sama pembuatnya, tak sama cara memproduksinya, tak sama penontonnya, tak sama cara menontonnya, tak sama tanggapan penontonnya, tak sama inspirasi yang diperoleh penonton, tak sama juga cara menilainya.

Lalu apa yang sama dari semua itu? Ya, itu, visi yang sama untuk merayakan ketidaksamaan itu sendiri. (T)

Tulisan ini Peserta Anugerah Jurnalisme Warga 2017

Tags: festivalfilmfilm pendekMinikino
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nyoman Erawan dalam “Shadow Dance 3” dan Monolog Rupa Dasamuka

Next Post

Menelisik Budaya dari Mata Lensa Tjokorda Gde Romy Tanaya

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails
Next Post

Menelisik Budaya dari Mata Lensa Tjokorda Gde Romy Tanaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co