12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pudak Wangi Kesayangan Sang Dewi

Devy Gita by Devy Gita
February 2, 2018
in Cerpen

Lukisan Nyoman Wirata (cropping)

 

Cerpen: Devy Gita

DAUN-DAUN kamboja menggigil, menerjemah lembut bisikan angin. Dalam diam, para Dwarapala, patung-patung penjaga memasang mata awas menyisir pekatnya malam. Langit tampak tenang dan terang. Gerombolan bintang menunggu sabar waktu berjaga menemani kepuh tua yang masih berdiri dengan gagahnya di tengah barikade kepuh muda. Suara ditelan malam, sunyi. Bahkan jangkrik-jangkrik sombong yang kerap memamerkan merdu suaranya pun hanya bertengger penasaran di atas hamparan rumput setinggi mata kaki.

Sisa-sisa pengabenan berserak hangus. Masih meninggalkan aroma samar kayu tersantap sang agni. Sepasang mata menyapu sekitarnya penuh resah. Tak tampak apapun dibalik ranting-ranting pohon pule. Begitu pula jalan tanah yang dijejak, langkahnya seperti terbang. Rambut coklat sebahu menari liar seiring tolehan cemas dan cepat. Nafas tersengal sekat di dada yang ditekannya erat. Entah berlari terlalu cepat atau melayang, tubuhnya mengarah tak terkendalikan ke arah candi bentar dengan penerangan lampu 5 watt temaram. Dua Dwarapala saling berbisik,

“Ini dia, ini dia..”

Bisikan-bisikan tidak terdengar oleh tubuh penuh keringat dingin yang akhirnya menjejakkan kakinya di antara mereka.

Tubuh itu seperti bukan miliknya. Kakinya tidak lagi menurut, langkah yang seharusnya berbalik, menapak lurus ke dalam candi bentar. Sekarang tidak ada pertanyaan tentang di mana tubuhnya dipaksa hadir. Pintu dari besi tipis membuka sendiri gerendelnya. Memberi perintah untuk sesegera mungkin meruyup ke hadapan Padma Capah, satu-satunya candi yang berjejak angkuh dalam tempat ini. Dia rebah, kelelahan merayap dari telanjang jari kakinya. Gemetar bahu-bahunya pertanda ketakutan berkuasa atas tubuhnya.

Tubuhnya menari tak tentu, tangan kanan meliuk ke kiri pun sebaliknya. Jari jemari begitu gemulainya. Menari seperti dia terlahir untuk itu. Kaki memutar tubuhnya dengan ritme teratur, semakin lama semakin cepat, ganas, panas. Dia merasa panas. Pinggulnya lelah, kaki tanpa alas kaki kebas. Erangan demi erangan meluncur dari bibir penuh tanpa gincu merah yang biasa dia pulaskan. Menari dan terus menari, raganya tak turut perintah berhenti. Di tengah sapaan dingin malam, tubuh si gadis merespon tabuh suara angin yang tiba-tiba bertiup, berputar, menderu, memainkan nada-nada menghentak. Hentakan demi hentakan, dia menandak, mengibaskan rambut ke depan ke belakang berirama, menjulur lidahnya, melompat-lompat, payudaranya seperti akan mengelupas dari dada.

“Aaaaaaaaarggghhh,” teriakan terlepas tak mampu ditahan kerongkongan yang kian kering.

Sekujur tubuhnya bermandi keringat. Celana pendek dan kaos tak berlengan menempel basah di atas kulit coklatnya. Terengah-engah di bawah sorotan bulan. Gadis itu menarik, melipat tubuhnya lalu memeluk erat kedua kakinya. Dia menatap candi di hadapannya penuh amarah. Di dalam pura Mrajapati, istana para roh yang belum bisa menapaki sorga maupun neraka dia membara. Menyalahkan nasib, mengutuk kelahirannya.

“Apa salahku? Kenapa harus aku?” geramnya.

Menangis dihadapan simbol sang Dewi, tersedu. Tertekan. Tidak ada jawaban dari manapun, semut-semut melangkah secepat mungkin. Menghindari tatapan penuh tanya si gadis. Sang bayu pun memilih untuk menghentikan racauannya. Seketika senyap memerangkap.

Sinar bulan membias di wajah basah. Si gadis sudah menyerah dengan tangisnya. Nasib sudah mempermainkannya. Dia adalah kesayangan Sang Dewi, itu kata seseorang yang dia temui seminggu yang lalu. Dia tidak mengerti sayang seperti apa. Bukankah, Sang Dewi menyayangi semua ciptaannya? Orang itu menatapnya cermat, sesekali dia menggelengkan kepalanya lalu mengangguk. Semacam berdiskusi dengan dirinya sendiri.

Orang itu bercerita tentang Sang Dewi yang memilih anak-anak kesayangan untuk mengabdi padanya. Membaktikan diri untuk menjadi tangan sang penguasa alam kematian. Si gadis mengernyit semakin tak mengerti.

Pertanyaan menyerbu menderapkan ingatan-ingatan akan kejanggalan dalam perjalanan napasnya. Terlahir prematur dalam usia kandungan 7 bulan, Pudak Wangi begitu kecilnya untuk tahu begitu kejam nasib merampas ayah kandungnya yang menyayat pergelangan tangan saat mengetahui ibunya sedang mengandung. Keanehan -keanehan, bukan lagi keanehan yang bisa diterima logika ilmuan fisika dan matematika membawa Pudak Wangi, si gadis berambut coklat sebahu menemui seseorang yang dipanggil Jero Balian oleh orang-orang.

Sejak kecil dia memang terbiasa melihat apa yang tidak terlihat oleh temannya. Wanita berambut panjang yang berdiri sedih di pinggir jalan saat Pudak melintas bahkan saat tengah hari, anak-anak kecil berkulit legam yang berlarian menembus kios-kios di pasar, pria tinggi hitam besar yang melambaikan tangan di bawah pohon besar. Akan hal itu, dia sudah lumrah. Namun belakangan, dia seperti gila, kadang menangis tanpa tahu untuk apa dia melakukan itu. Dia hanya merasakan sesak menghujam dada dan membuatnya ingin berteriak sekerasnya. Melelehkan air mata tak terbendung dan hilang kesadaran. Panas membakar tangannya menjelang tengah malam. Dihantui mimpi-mimpi penuh kegelapan, makhluk bertaring menyeramkan, dan orang-orang tak dikenal menghunuskan bermacam senjata ke arahnya.

Kata psikiater Pudak menderita depresi. Itu lumrah terjadi jika seseorang mengalami depresi.

Depresi mungkin penjelasan yang sedikit menenangkan disaat hati seorang gadis berparas manis pemberontak seperti Pudak dicincang bagai daging babi pelengkap lawar oleh pria yang dia cintai. Dicincang lalu ditumbuk halus tak berbentuk. Pudak meluncur jatuh, menggapai kosong udara. Sahabat-sahabat yang senantiasa menopang pun tak mampu menahan ambruk jiwanya. Hanya hembusan asap rokok serta tegukan demi tegukan alkohol yang masih bisa meringankan otaknya sementara, hanya sementara. Dia tidak pernah beruntung pasal asmara. Beberapa laki-laki yang mendekati, hanya menginginkan tubuhnya yang memang sintal. Sementara yang lainnya membagi hati kepada perempuan lain. Pedih memang. Namun, kali ini bukan depresi.

Jero balian menyalakan dupa dan mulai memejamkan mata. Di depannya, tumpukan canang, sesajen orang-orang yang datang padanya tersusun seperti undakan pendek. Bibirnya mulai merapalkan mantra, udara tiba-tiba semakin dingin. Pudak bergidik, dirasakannya hembusan aneh memenuhi seisi ruangan yang disebut kamar suci itu. Jero balian mulai meracau suaranya berubah halus dan dalam, suara seorang wanita. Dia berbicara dengan bahasa berbeda namun Pudak mengerti setiap kata yang terucap. Sesuatu merasuki laki-laki tua itu, apapun itu, nada kerinduan tersampaikan dengan jelas.

Sang Dewi, telah meminjam raga Jero Balian. Sang Dewi pemberi dan pencabut kehidupan. Dia yang mempunyai banyak wujud, penguasa makhluk hidup maupun tak kasat mata. Permintaan Sang Dewi adalah perintah, itu yang dikatakan Jero Balian saat beliau kembali pada raganya. Pudak harus menjadi anak yang patuh pada titah sang ibu.

Tidak terbantahkan, Sang Dewi meminta anak gadis kesayangannya yang pemberontak untuk menjadi putih, bersih, bertugas atas namanya.

“Jadi, aku harus menjadi pemangku melayani umat?” tanya pudak lemah menatap tato- tato abstrak pada lengannya. Dalam benaknya menjadi seorang pemangku, seseorang yang berpakaian serba putih dan melayani umat di Pura adalah hal yang di luar nalar. Tak pernah terpikirkan oleh gadis yang sembahyang hanya jika ibunya mengingatkan ini untuk berlakon seperti itu. Hidup adalah kebebasan, Tuhan bukan tujuan utamanya. Bagaimana Sang Dewi bisa memilih gadis sepertinya?

“Bukan hanya itu, Geg Ayu. Anugerah dalam tubuhmu, harus digunakan menolong orang.” jelas Jero Balian.

Pudak menghela nafas.

“Namun, anugerah tersebut harus dibarengi dengan penyucian dirimu, Geg Ayu.” Jero Balian berdehem melonggarkan tenggorokannya.

Pudak seperti ditarik ke atas lalu dihempaskan dengan keras ke tanah.

Anugerah? Penyucian diri? Sejauh yang bisa dia ingat, Pudak tidak pernah meminta tuah yang mengharuskan dia melakukan penyucian diri. Dia tidak suka hal-hal yang merepotkan.

Telinga Pudak berdengung ketika Jero Balian menjabarkan apa maksud beliau tentang penyucian diri. Pudak harus melambaikan tangan pada kebebasan yang perlahan melanglang menjauh. Penyucian diri menuntutnya melupakan kecap kenyal daging. Tubuhnya akan menolak, menurut Jero Balian. Alih – alih menikmati dunia gemerlap malam yang selalu membuatnya pulang dalam keadaan setengah sadar, Pudak di wajibkan melakukan meditasi guna mengendalikan api yang menjalar liar di dalam tubuhnya. Untuk apa dia harus melakukan ini semua? Membantu orang? Bahkan membantu dirinya sendiri pun belum mampu.

“Dan kau juga tidak boleh menikah, Geg Ayu.” Jero Balian tersenyum dan mencoba membuat suaranya selembut mungkin. Pudak terlanjur terkesiap. Palu-palu yang tak nampak menghantam kepala dan dadanya silih berganti. Sama sekali, bukan hal seperti ini yang dia inginkan untuk dijalani. Terkungkung, terisolasi, terbentengi. Mata-mata indahnya membelalak.

“Itu hak asasi saya untuk menikah.” erang Pudak.

Disakiti bukan lantas membuatnya tidak ingin merasakan lagi belaian laki-laki. Dia tetaplah perempuan, yang nikmat merasakan sentuhan tangan seorang kekasih menjelajahi setiap inci kulitnya. Dia gadis muda yang membiarkan tubuh dan jiwanya bebas. Akan tetapi kelak, dia juga ingin menjadi seorang ibu.

“Geg Ayu, orang-orang lain menjalankan banyak ritual untuk mendapatkan anugerah ini. Menjadi perantara antara Sang Dewi dan umat.” Jero Balian mencoba menenangkan. Beliau tahu, badai topan sedang bergemuruh, melunyah, menerjang sel-sel dalam diri Pudak Wangi.

Dia bukan orang lain, dia adalah Pudak Wangi. Mungkin banyak orang ingin terlihat hebat saat mendapatkan tuah dari Sang Dewi, tapi bukan dirinya. Pikirnya, jika Sang Dewi memang benar menjadikan dia sebagai anak kesayangan, beliau tentu memberikan kebahagiaan bukan penjara. Lagipula, beliau yang digadang-gadang menyayanginya lebih dari yang lain tidak pernah muncul, bahkan saat cobaan hidup yang dijalani lebih berat dari gadis seusianya. Dari mana dia bisa percaya? Penolakan tergambar jelas di permukaan wajah Pudak. Dia sungguh tidak mau.

Pudak berpamitan pada Jero Balian yang memandangnya iba. Belum lagi malam, tubuh dan kepalanya terasa begitu berat. Amarah memenuhi setiap pori-porinya. Tidak ada yang tahu bagaimana Sang Dewi memilih anak kesayangan. Mengapa tidak diberikan saja anugerah ini pada mereka yang benar-benar ingin? Pudak menjerit, di bawah guyuran shower . Bulir – bulir tercemar airmata asin menetes deras, mengalirkan caci dan umpatan pada hidup, pada Sang Dewi. Namun, dia tak lagi punya pilihan untuk melarikan diri.

Gerimis tergelincir setitik lalu setitik dari gumpalan awan yang lelah bergelayut pada langit suram. Bintang-bintang merayap pulang dibalik pekat. Burung – burung hantu mengintip dari celah dedaunan pohon pule.

“Itu dia, gadis bodoh yang menolak Sang Dewi,” bisik burung hantu putih menggelengkan kepalanya ke kanan, menatap lekat Pudak yang duduk tak bergerak dibawah gerimis.

“Tidak ada yang bisa menolak, kau tahu!” balas burung hantu hitam pekat sambil menelisik bulu basahnya.

Angin menderu, berputar merangsek ke dalam Pura. Berhenti tepat di depan Pudak yang terdiam. Aneh, dinginnya malam tidak membuatnya membeku. Dia hanya mematung menatap kosong. Sepasang tangan menyala dengan kuku-kuku panjang meneteskan bara api mengulur, salah satunya menggenggam kain putih yang juga terbakar tetapi tidak hangus. Berat suaranya membuat pudak mendongak terkesiap. Tubuh penuh gelegak api berdiri dihadapannya. Tinggi, besar, berkalung usus manusia dengan taring panjang dan mata membelalak berapi-api menggetarkan tubuh pudak.

“Sang Ibu…,” rintih Pudak lemah.

Sang Dewi terkekeh berat, lelehan bara menetes dari hidung, mulut dan telinga. Api, seluruh tubuhnya adalah api. Namun, pudak tidak merasakan panas. Kain Putih dikibaskan diatas kepala Pudak yang dihujani gerimis. Dia menangis dan menangis. Meronta pun takkan berguna dihadapan nyala Sang Dewi. Kata- kata pun menggigil bersembunyi diantara ibu dan anak kesayangannya.

Pudak ingin pulang, kembali tertawa bersama teman-temannya. Menikmati hingar bingar musik di klub malam langganannya sambil menikmati minuman dengan kadar alkohol tinggi. Dia hendak menambah gambar pada kulitnya yang coklat, sebuah tengkorak yang sedang menghisap rokok di pergelangan tangannya dan lukisan wajahnya di paha kanan. Menguap sudah semua yang dia damba. Hanya isak yang tertinggal. Residu-residu kenangan yang perlahan mengabur dilalap benderang Sang Dewi.

“Tidak ada yang bisa menolak Sang Dewi.” Burung hantu hitam turun dari dahannya lantas berbisik pada para Dwarapala.

“Sang Dewi telah menjemputnya. Dia akan tinggal,” balas Dwarapala.

Burung hantu hitam memanjangkan kepalanya, melongokkan lehernya ke dalam Pura lalu terbang kembali menuju sarangnya.

“Tidak ada yang bisa menolak Sang Dewi,” bisik si hitam.

“Penolakan dibayar nyawa,” kekeh burung hantu putih. (T)

A Gift for my birthday
Denpasar, 25 Agustus 2017

Tags: Cerpen
Share48TweetSendShareSend
Previous Post

Angga Wijaya# Puisi: Nocturno, Skizofrenia-3, Skizofrenia-4

Next Post

Operet Prambanan Teater Orok: Tak Sekadar Tontonan, Perlu juga Keberanian Tafsir

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post

Operet Prambanan Teater Orok: Tak Sekadar Tontonan, Perlu juga Keberanian Tafsir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co