14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pudak Wangi Kesayangan Sang Dewi

Devy Gita by Devy Gita
February 2, 2018
in Cerpen

Lukisan Nyoman Wirata (cropping)

 

Cerpen: Devy Gita

DAUN-DAUN kamboja menggigil, menerjemah lembut bisikan angin. Dalam diam, para Dwarapala, patung-patung penjaga memasang mata awas menyisir pekatnya malam. Langit tampak tenang dan terang. Gerombolan bintang menunggu sabar waktu berjaga menemani kepuh tua yang masih berdiri dengan gagahnya di tengah barikade kepuh muda. Suara ditelan malam, sunyi. Bahkan jangkrik-jangkrik sombong yang kerap memamerkan merdu suaranya pun hanya bertengger penasaran di atas hamparan rumput setinggi mata kaki.

Sisa-sisa pengabenan berserak hangus. Masih meninggalkan aroma samar kayu tersantap sang agni. Sepasang mata menyapu sekitarnya penuh resah. Tak tampak apapun dibalik ranting-ranting pohon pule. Begitu pula jalan tanah yang dijejak, langkahnya seperti terbang. Rambut coklat sebahu menari liar seiring tolehan cemas dan cepat. Nafas tersengal sekat di dada yang ditekannya erat. Entah berlari terlalu cepat atau melayang, tubuhnya mengarah tak terkendalikan ke arah candi bentar dengan penerangan lampu 5 watt temaram. Dua Dwarapala saling berbisik,

“Ini dia, ini dia..”

Bisikan-bisikan tidak terdengar oleh tubuh penuh keringat dingin yang akhirnya menjejakkan kakinya di antara mereka.

Tubuh itu seperti bukan miliknya. Kakinya tidak lagi menurut, langkah yang seharusnya berbalik, menapak lurus ke dalam candi bentar. Sekarang tidak ada pertanyaan tentang di mana tubuhnya dipaksa hadir. Pintu dari besi tipis membuka sendiri gerendelnya. Memberi perintah untuk sesegera mungkin meruyup ke hadapan Padma Capah, satu-satunya candi yang berjejak angkuh dalam tempat ini. Dia rebah, kelelahan merayap dari telanjang jari kakinya. Gemetar bahu-bahunya pertanda ketakutan berkuasa atas tubuhnya.

Tubuhnya menari tak tentu, tangan kanan meliuk ke kiri pun sebaliknya. Jari jemari begitu gemulainya. Menari seperti dia terlahir untuk itu. Kaki memutar tubuhnya dengan ritme teratur, semakin lama semakin cepat, ganas, panas. Dia merasa panas. Pinggulnya lelah, kaki tanpa alas kaki kebas. Erangan demi erangan meluncur dari bibir penuh tanpa gincu merah yang biasa dia pulaskan. Menari dan terus menari, raganya tak turut perintah berhenti. Di tengah sapaan dingin malam, tubuh si gadis merespon tabuh suara angin yang tiba-tiba bertiup, berputar, menderu, memainkan nada-nada menghentak. Hentakan demi hentakan, dia menandak, mengibaskan rambut ke depan ke belakang berirama, menjulur lidahnya, melompat-lompat, payudaranya seperti akan mengelupas dari dada.

“Aaaaaaaaarggghhh,” teriakan terlepas tak mampu ditahan kerongkongan yang kian kering.

Sekujur tubuhnya bermandi keringat. Celana pendek dan kaos tak berlengan menempel basah di atas kulit coklatnya. Terengah-engah di bawah sorotan bulan. Gadis itu menarik, melipat tubuhnya lalu memeluk erat kedua kakinya. Dia menatap candi di hadapannya penuh amarah. Di dalam pura Mrajapati, istana para roh yang belum bisa menapaki sorga maupun neraka dia membara. Menyalahkan nasib, mengutuk kelahirannya.

“Apa salahku? Kenapa harus aku?” geramnya.

Menangis dihadapan simbol sang Dewi, tersedu. Tertekan. Tidak ada jawaban dari manapun, semut-semut melangkah secepat mungkin. Menghindari tatapan penuh tanya si gadis. Sang bayu pun memilih untuk menghentikan racauannya. Seketika senyap memerangkap.

Sinar bulan membias di wajah basah. Si gadis sudah menyerah dengan tangisnya. Nasib sudah mempermainkannya. Dia adalah kesayangan Sang Dewi, itu kata seseorang yang dia temui seminggu yang lalu. Dia tidak mengerti sayang seperti apa. Bukankah, Sang Dewi menyayangi semua ciptaannya? Orang itu menatapnya cermat, sesekali dia menggelengkan kepalanya lalu mengangguk. Semacam berdiskusi dengan dirinya sendiri.

Orang itu bercerita tentang Sang Dewi yang memilih anak-anak kesayangan untuk mengabdi padanya. Membaktikan diri untuk menjadi tangan sang penguasa alam kematian. Si gadis mengernyit semakin tak mengerti.

Pertanyaan menyerbu menderapkan ingatan-ingatan akan kejanggalan dalam perjalanan napasnya. Terlahir prematur dalam usia kandungan 7 bulan, Pudak Wangi begitu kecilnya untuk tahu begitu kejam nasib merampas ayah kandungnya yang menyayat pergelangan tangan saat mengetahui ibunya sedang mengandung. Keanehan -keanehan, bukan lagi keanehan yang bisa diterima logika ilmuan fisika dan matematika membawa Pudak Wangi, si gadis berambut coklat sebahu menemui seseorang yang dipanggil Jero Balian oleh orang-orang.

Sejak kecil dia memang terbiasa melihat apa yang tidak terlihat oleh temannya. Wanita berambut panjang yang berdiri sedih di pinggir jalan saat Pudak melintas bahkan saat tengah hari, anak-anak kecil berkulit legam yang berlarian menembus kios-kios di pasar, pria tinggi hitam besar yang melambaikan tangan di bawah pohon besar. Akan hal itu, dia sudah lumrah. Namun belakangan, dia seperti gila, kadang menangis tanpa tahu untuk apa dia melakukan itu. Dia hanya merasakan sesak menghujam dada dan membuatnya ingin berteriak sekerasnya. Melelehkan air mata tak terbendung dan hilang kesadaran. Panas membakar tangannya menjelang tengah malam. Dihantui mimpi-mimpi penuh kegelapan, makhluk bertaring menyeramkan, dan orang-orang tak dikenal menghunuskan bermacam senjata ke arahnya.

Kata psikiater Pudak menderita depresi. Itu lumrah terjadi jika seseorang mengalami depresi.

Depresi mungkin penjelasan yang sedikit menenangkan disaat hati seorang gadis berparas manis pemberontak seperti Pudak dicincang bagai daging babi pelengkap lawar oleh pria yang dia cintai. Dicincang lalu ditumbuk halus tak berbentuk. Pudak meluncur jatuh, menggapai kosong udara. Sahabat-sahabat yang senantiasa menopang pun tak mampu menahan ambruk jiwanya. Hanya hembusan asap rokok serta tegukan demi tegukan alkohol yang masih bisa meringankan otaknya sementara, hanya sementara. Dia tidak pernah beruntung pasal asmara. Beberapa laki-laki yang mendekati, hanya menginginkan tubuhnya yang memang sintal. Sementara yang lainnya membagi hati kepada perempuan lain. Pedih memang. Namun, kali ini bukan depresi.

Jero balian menyalakan dupa dan mulai memejamkan mata. Di depannya, tumpukan canang, sesajen orang-orang yang datang padanya tersusun seperti undakan pendek. Bibirnya mulai merapalkan mantra, udara tiba-tiba semakin dingin. Pudak bergidik, dirasakannya hembusan aneh memenuhi seisi ruangan yang disebut kamar suci itu. Jero balian mulai meracau suaranya berubah halus dan dalam, suara seorang wanita. Dia berbicara dengan bahasa berbeda namun Pudak mengerti setiap kata yang terucap. Sesuatu merasuki laki-laki tua itu, apapun itu, nada kerinduan tersampaikan dengan jelas.

Sang Dewi, telah meminjam raga Jero Balian. Sang Dewi pemberi dan pencabut kehidupan. Dia yang mempunyai banyak wujud, penguasa makhluk hidup maupun tak kasat mata. Permintaan Sang Dewi adalah perintah, itu yang dikatakan Jero Balian saat beliau kembali pada raganya. Pudak harus menjadi anak yang patuh pada titah sang ibu.

Tidak terbantahkan, Sang Dewi meminta anak gadis kesayangannya yang pemberontak untuk menjadi putih, bersih, bertugas atas namanya.

“Jadi, aku harus menjadi pemangku melayani umat?” tanya pudak lemah menatap tato- tato abstrak pada lengannya. Dalam benaknya menjadi seorang pemangku, seseorang yang berpakaian serba putih dan melayani umat di Pura adalah hal yang di luar nalar. Tak pernah terpikirkan oleh gadis yang sembahyang hanya jika ibunya mengingatkan ini untuk berlakon seperti itu. Hidup adalah kebebasan, Tuhan bukan tujuan utamanya. Bagaimana Sang Dewi bisa memilih gadis sepertinya?

“Bukan hanya itu, Geg Ayu. Anugerah dalam tubuhmu, harus digunakan menolong orang.” jelas Jero Balian.

Pudak menghela nafas.

“Namun, anugerah tersebut harus dibarengi dengan penyucian dirimu, Geg Ayu.” Jero Balian berdehem melonggarkan tenggorokannya.

Pudak seperti ditarik ke atas lalu dihempaskan dengan keras ke tanah.

Anugerah? Penyucian diri? Sejauh yang bisa dia ingat, Pudak tidak pernah meminta tuah yang mengharuskan dia melakukan penyucian diri. Dia tidak suka hal-hal yang merepotkan.

Telinga Pudak berdengung ketika Jero Balian menjabarkan apa maksud beliau tentang penyucian diri. Pudak harus melambaikan tangan pada kebebasan yang perlahan melanglang menjauh. Penyucian diri menuntutnya melupakan kecap kenyal daging. Tubuhnya akan menolak, menurut Jero Balian. Alih – alih menikmati dunia gemerlap malam yang selalu membuatnya pulang dalam keadaan setengah sadar, Pudak di wajibkan melakukan meditasi guna mengendalikan api yang menjalar liar di dalam tubuhnya. Untuk apa dia harus melakukan ini semua? Membantu orang? Bahkan membantu dirinya sendiri pun belum mampu.

“Dan kau juga tidak boleh menikah, Geg Ayu.” Jero Balian tersenyum dan mencoba membuat suaranya selembut mungkin. Pudak terlanjur terkesiap. Palu-palu yang tak nampak menghantam kepala dan dadanya silih berganti. Sama sekali, bukan hal seperti ini yang dia inginkan untuk dijalani. Terkungkung, terisolasi, terbentengi. Mata-mata indahnya membelalak.

“Itu hak asasi saya untuk menikah.” erang Pudak.

Disakiti bukan lantas membuatnya tidak ingin merasakan lagi belaian laki-laki. Dia tetaplah perempuan, yang nikmat merasakan sentuhan tangan seorang kekasih menjelajahi setiap inci kulitnya. Dia gadis muda yang membiarkan tubuh dan jiwanya bebas. Akan tetapi kelak, dia juga ingin menjadi seorang ibu.

“Geg Ayu, orang-orang lain menjalankan banyak ritual untuk mendapatkan anugerah ini. Menjadi perantara antara Sang Dewi dan umat.” Jero Balian mencoba menenangkan. Beliau tahu, badai topan sedang bergemuruh, melunyah, menerjang sel-sel dalam diri Pudak Wangi.

Dia bukan orang lain, dia adalah Pudak Wangi. Mungkin banyak orang ingin terlihat hebat saat mendapatkan tuah dari Sang Dewi, tapi bukan dirinya. Pikirnya, jika Sang Dewi memang benar menjadikan dia sebagai anak kesayangan, beliau tentu memberikan kebahagiaan bukan penjara. Lagipula, beliau yang digadang-gadang menyayanginya lebih dari yang lain tidak pernah muncul, bahkan saat cobaan hidup yang dijalani lebih berat dari gadis seusianya. Dari mana dia bisa percaya? Penolakan tergambar jelas di permukaan wajah Pudak. Dia sungguh tidak mau.

Pudak berpamitan pada Jero Balian yang memandangnya iba. Belum lagi malam, tubuh dan kepalanya terasa begitu berat. Amarah memenuhi setiap pori-porinya. Tidak ada yang tahu bagaimana Sang Dewi memilih anak kesayangan. Mengapa tidak diberikan saja anugerah ini pada mereka yang benar-benar ingin? Pudak menjerit, di bawah guyuran shower . Bulir – bulir tercemar airmata asin menetes deras, mengalirkan caci dan umpatan pada hidup, pada Sang Dewi. Namun, dia tak lagi punya pilihan untuk melarikan diri.

Gerimis tergelincir setitik lalu setitik dari gumpalan awan yang lelah bergelayut pada langit suram. Bintang-bintang merayap pulang dibalik pekat. Burung – burung hantu mengintip dari celah dedaunan pohon pule.

“Itu dia, gadis bodoh yang menolak Sang Dewi,” bisik burung hantu putih menggelengkan kepalanya ke kanan, menatap lekat Pudak yang duduk tak bergerak dibawah gerimis.

“Tidak ada yang bisa menolak, kau tahu!” balas burung hantu hitam pekat sambil menelisik bulu basahnya.

Angin menderu, berputar merangsek ke dalam Pura. Berhenti tepat di depan Pudak yang terdiam. Aneh, dinginnya malam tidak membuatnya membeku. Dia hanya mematung menatap kosong. Sepasang tangan menyala dengan kuku-kuku panjang meneteskan bara api mengulur, salah satunya menggenggam kain putih yang juga terbakar tetapi tidak hangus. Berat suaranya membuat pudak mendongak terkesiap. Tubuh penuh gelegak api berdiri dihadapannya. Tinggi, besar, berkalung usus manusia dengan taring panjang dan mata membelalak berapi-api menggetarkan tubuh pudak.

“Sang Ibu…,” rintih Pudak lemah.

Sang Dewi terkekeh berat, lelehan bara menetes dari hidung, mulut dan telinga. Api, seluruh tubuhnya adalah api. Namun, pudak tidak merasakan panas. Kain Putih dikibaskan diatas kepala Pudak yang dihujani gerimis. Dia menangis dan menangis. Meronta pun takkan berguna dihadapan nyala Sang Dewi. Kata- kata pun menggigil bersembunyi diantara ibu dan anak kesayangannya.

Pudak ingin pulang, kembali tertawa bersama teman-temannya. Menikmati hingar bingar musik di klub malam langganannya sambil menikmati minuman dengan kadar alkohol tinggi. Dia hendak menambah gambar pada kulitnya yang coklat, sebuah tengkorak yang sedang menghisap rokok di pergelangan tangannya dan lukisan wajahnya di paha kanan. Menguap sudah semua yang dia damba. Hanya isak yang tertinggal. Residu-residu kenangan yang perlahan mengabur dilalap benderang Sang Dewi.

“Tidak ada yang bisa menolak Sang Dewi.” Burung hantu hitam turun dari dahannya lantas berbisik pada para Dwarapala.

“Sang Dewi telah menjemputnya. Dia akan tinggal,” balas Dwarapala.

Burung hantu hitam memanjangkan kepalanya, melongokkan lehernya ke dalam Pura lalu terbang kembali menuju sarangnya.

“Tidak ada yang bisa menolak Sang Dewi,” bisik si hitam.

“Penolakan dibayar nyawa,” kekeh burung hantu putih. (T)

A Gift for my birthday
Denpasar, 25 Agustus 2017

Tags: Cerpen
Share48TweetSendShareSend
Previous Post

Angga Wijaya# Puisi: Nocturno, Skizofrenia-3, Skizofrenia-4

Next Post

Operet Prambanan Teater Orok: Tak Sekadar Tontonan, Perlu juga Keberanian Tafsir

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post

Operet Prambanan Teater Orok: Tak Sekadar Tontonan, Perlu juga Keberanian Tafsir

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co