12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hantu PKI, Awas Propaganda, dan Pengalihan Isu

Indra Andrianto by Indra Andrianto
February 2, 2018
in Opini

Poster film Pengkhianatan G30S PKI / Google

 

ISU kebangkitan Partai Komunis Indonnesia (PKI) menjadi wabah sistemik yang membuat bangsa Indonesia mengalami anomali berkepanjangan. Padahal Pancasila dan komponen-komponen vital yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara seperti UUD 1945 dan Undang-undang dibawahnya tidak sedikitpun memberikan ruang kepada paham komunis untuk masuk dalam NKRI. Karena dari segi garis pemikiran komunisme dan Pancasila merupakan dua Ideologi yang sangat berseberangan.

Semisal dari pemahaman atau keyakinan dalam beragama Pancasila secara nyata dalam bunyi sila pertama yaitu “Ketuhanan yang Maha Esa”, sudah jelas bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang berkeyakinan pada Iman yang diajarkan oleh agama, sedangkan bagi komunis sendiri agama merupakan sesuatu candu masyarakat yang harus dijauhkan dari hidup manusia, karena dengan adanya agama dapat menyebabkan fanatise individu/golongan hingga mengganggu eksistesi negaranya.

Kita sebagai bangsa Indonesia harusnya tidak perlu khawatir, seperti apa yang disampaikan  oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah pidatonya, “Segala sesuatu yang bertengan dengan 4 konsensus dasar Pancasila, UUD 194, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika harus ditumpas”. Belum lama Presiden menyampaikan hal ini di tengah-tengah isu logo palu arit (simbol komunisme) tahun lalu.

Bedanya dengan hari ini yakni akan ditayangkannya Film G30S/PKI dan lagu Genjer-genjer yang dianggap menjadi ikon lagu PKI hingga seiap orang yang menyanyikan lagu Genjer-genjer merupakan orang-orang keturunan PKI. Pemutaran Film G30S/PKI tentu bertujuan baik pastinya agar kejadian yang menjadi bab gelap sejarah tidak terjadi pada masa sekarang. Sudah seharusnya kita berpikir dan menyikapi kritis.

Misalnya lagu Genjer-genjer yang diisukan dinyanyikan oleh orang-orang Bantuan Lembaga Hukum (BLH) dalam ruangan hingga terjadi serbuan oleh ratusan massa dengan tujuan akan mengganyang dan mematikan orang-orang PKI. Seperti yang diberitakan oleh CNN Indonesia (baca: amuk massa, genjer-genjer dan trauma kebangkitan PKI).

Padahal lagu genjer-genjer merupakan gambaran kondisi warga Banyuwangi saat penjajahan Jepang. Lagu tersebut diciptakan oleh Muhammad Arief (seniman Using) yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia ialah “Ibu si gadis membelli genjer sembari membawa wadah ayaman bambu, genjer-genjer akan dimasak, genjer-genjer masuk periuk air mendidih setegah matang ditiriskan untuk lauk, nasi sepiring sambal jeruk di dipan, genjer-genjer dimakan dengan nasi”

Membaca arti lagu tersebut tentu jika saya tangkap maknanya ialah masyarakatt Banyuwangi yang hanya makan nasi dan lauk genjer saat Jepang menjajah Banyuwangi, lagu Genjer-genjer itu sempat dinyanyikan di Istana negara pada saat kepemimpinan Ir. Soekarno namun karena lagu ini populer dan tenar maka lagu genjer-genjer digunakan PKI untuk berkampanye menarik suara rakyat, bukan menjadi simbolis bahwa yang menyanyikan lagu genjer-genjer itu PKI. Menurut saya itu salah persepsi karena genjer-genjer sendiri dirillis jauh sebelum PKI mencomot lagu tersebut untuk kampanyenya lebih tepatnya merupakan lagu daerah masyarakat Banyuwangi bukan lagu PKI.

Kita sebagai bangsa yang cerdas jangan hanya melihat dari sudut pandang yang menimbulkan perspektif menyalahkan salah satu pihak saja dengan memojokkan orang-orang PKI yang memiliki sejarah buruk dengan bangsa Indonesia. Jika isu komunis dianggap merupakan doktrinasi sistemik  dari China sebagai pusat komunis, tentu negara-negara yang sudah maju seperti China pijakan ideologinya bukan lagi komunisme murni. Bahkan mereka terlihat seperti bangsa dengan sistem monopoli industri seperti orang-orang kapitalisme, artinya mereka sibuk membangun negaranya agar bersaing di kancah global dengan sibuk memikirkan tahun depan dia harus punya tekhnologi canggih melebihi robotik.

Kita hari ini bangsa Indonesia masih disibukkan dengan perang ideologi yang sejatinya ideologi yang diributkan sudah mati atau susah berkembang di negara kesatuan Republik Indoneisia. Kita bangsa Indonesia harus mengacu pada apa yang telah dikatakan oleh pahlawan nasional Tan Malaka bahwa “Komunisme tidak akan hidup dalam masyarakat yang masih memiliki agama dan unsur kesukuan”.

Maka hari ini kita terlalu berlebihan menyikapi komunisme akan bangkit lagi. Sekalipun bangkit dari kuburnya, hantu bernama komunis ini, adalah tugas negara untuk menumpas dan negara tentu jeli melihat situasi seperti hari ini. Kredibilitas dan loyaitas TNI dan POLRI sebagai garda terdepan menumpas paham-paham radikal seperti komunisme tidak usah kita ragukan lagi. Mereka sangat tegas untuk hal-hal sensitif yang berkaitan dengan kehanan nasional. karena dasar hukum PKI, paham dan ajaran serta ideologi komunis dilarang TAP MPRS NO 25 tahun 1966 tentang pembubaran PKI dan UU RI No. 27 tahun 1999 berkaitan dengan kejahatan terhadap negara.

Isu PKI hari ini seperti kita takut pada hantu pocong namun kita ketahui pocong itu tidak pernah ada, ada hanya sebatas mempolitisir mengada-ngada agar anak-anak kecil yang susah tidur malam hari itu menjadi takut dan cepat tertidur, kira-kira seperti itu saya menganalogikan. Masyarakat harus lebih dewasa dalam hal ini jangan sampai menimbulkan justifikasi pada salah satu pihak atau golongan, sehingga di tubuh bangsa ini timbul kecurigaan yang berujung perpecahan bangsa. Pasalnya seperti yang disampaikan Menteri Kemaritiman Luhut B. Panjaitan dalam statemennya di CNN Indonesia saat ditanya soal isu PKI beliau berkata “Nggak ada kerjaan urus PKI, Partainya saja Cina komunis, tetapi lebih fokus kembangkan ekonominya dengan tekhnologi canggih”.

Film G30S/PKI rencananya akan diputar ulang oleh TNI dengan maksud agar kita mawas diri untuk tidak mengulangi luka yang terjadi di musim lalu bukan diisukan Komunisme bangkit lagi, banyak tokoh-tokoh besar berasumsi bahkan Presiden Joko Widodo yang menyatakan bahwa jika mau memutar film tersebut buat film versi baru agar tidak menimbulkan stigma negatif bagi masyarakat. Pasalnya film tersebut pada masa orde baru dijadikan senjata propaganda untuk melanggengkan kekuasaan dengan syarat pemutaran ataupun pembuatan versi barunya harus korektif. Hal ini juga sependapat dengan pendapat Gatot Nurmantyo yang setuju agar pemutarannya nanti dibuatkan film versi baru agar tidak menimbulkan stigma negatif dari berbagai pihak.

Pengalihan Isu Kasus E-KTP

Di balik isu komunisme akan bangkit di Indonesia tentu membuat sebagian dari mereka mengeluarkan statemen masing-masing terkait adanya hantu komunisme. Bahkan hal ini seperti anomali berkepanjangan bagi bangsa Indonesia jika dikaitkan dengan luka lama pemberontakan G30S/PKI tahun 1965.

Akan tetapi jika kita telisik lebih dalam lagi apa bukti kebangkitan komunis di Indonesia? Apakah ada partai komunis yang punya indikasi membangkitkan komunisme, siapa tokoh komunis yang mau membangkitkan paham tersebut?

Tentu kita harus punya dugaan disertai dasar yang kuat tentang obsesi bangkitnya paham komunisme di Indonesia ini. Jika sebaliknya hanya sebatas dugaan tanpa dasar yang jelas maka kita hanya termakan isu media yang telah di-setting oleh pemilik kepentingan dan fokus kita akan dialihkan pada sebuah permasalahan yang lain dengan tujuan agar kita lupa akan kasus besar yang telah menyesengsarakan bangsa Indonesia itu sendiri, seperti kasus korupsi yang makin hari semakin marak.

Analisa kotor saya kasus apa yang paling besar dan banyak merugikan negara? Tentu yang aktual adalah kasus E-KTP yang memakan anggaran negara hingga kurang lebih 6 triliun. Lantas dengan adanya isu Komunisme yang dibuat maka lambat laun kasus tersebut akan hilang dan tidak lagi menjadi sorotan publik untuk dikritisi, pengawalan hukum dan sebagainya berkaitan dengan sanksi.

Seperti beberapa hari lalu misalnya isu komunis yang dijadikan kedok saat terjadi penangkapan pemuda di Makassar yang mengenakan kaos Palu Arit sebagai simbol komunisme yang dibesar-besarkan oleh media, sehingga yang terjadi berita ini menjadi viral diberbagai media, sehingga yang terpojokkan ialah mereka eks anak-anak keturunan PKI serta kecurigaan yang semakin membabi buta.

Tapi ternyata komunis di Indonesia hari ini tak kunjung berdiri baik dari segi partai, Ormas, atau kepemudaan karena dasarnya jelas di Pancasila dan UUD 1945 bahwa tidak ada ruang untuk paham komunisme berkembang di Indonesia. Yang ada dan tidak diamati oleh kita bagaimana Freeport menjalani ikatan kontrak baru dengan Amerika Serikat hingga aset tersebut tak bisa secepatnya untuk kita kelola kembali.

Lantas apakah isu komunisme juga seperti tahun yang lalu? Tentu bisa saja saya katakan iya, karena melihat kasus yang sedang dijalani oleh  Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) yang gencar-gencarnya membrantas koruptor menjadi dugaan kuat bahwa Isu komunisme hanya sebatas untuk mengalihkan penglihatan kita dari masalah besar dan fokus pada masalah kecil yang sebenarnya hanya sebuah bentuk politisir. (T)

Tags: filmIdeologiPKI
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Gunung Agung Meletus dan ‘Pangéling-Éling’ Ida Pĕdanda Madé Sidĕmĕn

Next Post

Rimba

Indra Andrianto

Indra Andrianto

Lahir pada tanggal 14 Maret 1995 kelahiran Bondowoso-Jatim. Saat ini menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Undiksha-Bali. Kabid Perguruan Tinggi dan Kepemudaan HMI Cabang Singaraja.

Related Posts

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails
Next Post

Rimba

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co