2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rimba

Jaswanto by Jaswanto
February 2, 2018
in Cerpen

Lukisan Kabul Ketut Suasana

 

Cerpen: Jaswanto

AKU tak pernah ragu dengan kekayaan Indonesia. 17.000 pulau dan hampir 110 juta Hektar hutan tropis, dari Aceh hingga Papua. Semua memberi kehidupan bagi kita. Hutan yang dilindungi dengan aturan hukum, idealnya tidak akan tersentuh oleh tangan manusia. Hukum yang mengatur bermanfaat besar bagi hutan di Indonesia. Tapi kenyataannya, hukum tidak selamanya menjadi sebuah aturan paksa yang harus dipatuhi. Masih banyak oknum-oknum individualis yang kebal akan hukum.

Sudah 24 tahun aku dilahirkan, dan aku masih bertanya apa arti semua ini bagi mereka yang terlahir di dalamnya? Orang Rimba.

Jauh di pedalaman hutan tropis yang masih terjaga akan kealamiannya. Terdapat sebuah kelompok orang rimba. Dari alam mereka hidup, dari alam mereka belajar, dan dari alam pula mereka tahu mana yang dianggap benar dan mana yang dianggap salah. Mereka tak mengenal apa itu membaca dan apa itu menulis. Mereka tidak tahu apa itu perdagangan dan apa itu bercocok tanam. Mereka hanya tahu berburu dan berperang antar kelompok.

Hingga sampai cerita ini aku tulis.

***

Mereka sudah beberapa kali berpindah. Karena perluasan zonasi taman nasional dan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. Aku bertemu bocah bernama Rimba. Yang memperlihatkanku sepucuk surat yang tidak dapat dibacanya. Tak seorang pun di kelompok itu dapat membaca. Gulungan kertas itu berisi perjanjian pengambilan kayu di wilayah adat mereka. Dan mereka setuju dengan memberikan cap jempol di atas surat yang tidak dapat mereka baca. Dengan bayaran beberapa makanan pokok. Rimba membawa gulungan surat itu ke mana-mana. Seolah ingin menunjukkan kepadaku betapa ia ingin membaca dan menolak transaksi penipuan orang rimba ini.

Sungai-sungai membelah hutan tropis itu. Sesungguhnya hutan itu dikepung oleh perkebunan kelapa sawit. Perkebunan milik orang-orang yang hanya mempentingkan diri mereka sendiri.

Aku masih ingat dengan perkataan Rimba.

“Guru, kenapa orang-orang itu selalu menebang pohon kami? Sekali tebang, pohon besar roboh. Beda dengan kami. Kami menebang pohon sebesar itu saja membutuhkan berhari-hari baru roboh.” ucap Rimba sambil menunjuk sebuah pohon sedang di sebelah kami.

Aku hanya diam dan tak tahu harus menjawab apa waktu itu. Aku hanya tersenyum dan kemudian Rimba melanjutkan,

“Kalau nanti saya sudah pintar. Sudah bisa baca dan tulis. Maka saya akan melarang mereka untuk menebang pohon di wilayah kami.”

Hanya itu yang dapat aku lakukan. Ya, mengajar mereka agar dapat membaca dan menulis. Dengan sekuat tenaga aku mengajarkan anak-anak rimba itu membaca dan menulis. Kadang aku ingin tertawa, karena mereka begitu cerdas dari apa yang aku kira. Hanya beberapa minggu mereka sudah hafal abjad. Dan hanya beberapa bulan, mereka dapat menghitung, membaca dan menulis.

Waktu terus berlalu. Gerjaji mesin mengaung tanpa ampun. Melibas pohon-pohon yang pasrah. Orang rimba terus berpindah tempat karena pohon-pohon sudah ditebangi. Mereka pindah ke hutan yang pohonnya masih lebat. Mereka juga kesusahan dalam berburu. Kalau biasanya semasa pohon masih lebat, mereka dengan mudah mendapatkan babi hutan, rusa atau hewan buruan lainnya. Namun, kini mereka membutuhkan dua sampai tiga hari hanya untuk mendapatkan seekor babi hutan. Bahkan, tak jarang mereka juga pulang dengan tangan hampa.

Proses belajar mengajar berjalan dengan baik. Dan anak-anak rimba itu juga cepat mengerti. Kemudian kepala kelompok orang rimba itu meninggal karena malaria. Miris, mereka menganggap kalau kematian pemimpin itu dikarenakan kutukan. Kutukan karena anak-anak mereka sudah bisa membaca dan menulis.

“Lebih baik Pak Guru pergi saja dari sini. Anak-anak kami tidak butuh membaca dan menulis. Ilmu yang Pak Guru ajarkan menyebabkan kematian pemimpin kami. Dan kami juga mendapatkan kutukan.”

Begitu kata mereka yang mengusirku dengan cara yang sangat sopan. Sekilas aku melihat Rimba. Anak itu memang yang paling pintar diantara anak-anak yang lain. Dan Rimba juga adalah calon pemimpin mereka yang baru.

Aku pergi dari kelompok itu. Ya, benar-benar meninggalkan mereka. Dan meninggalkan cita-citaku untuk bisa membuat meraka membaca dan menulis.

Embun dan kabut tipis menyelimuti sudut-sudut hutan tropis itu setiap pagi. Dingin dan basah. Hari ini aku akan pergi.

“Guru jangan pergi!”

“Anak-anak. Pak Guru harus pergi.”

Bocah itu tidak rela berpisah denganku, sampai ikut berjalan kaki menyusuri hutan yang lebat, demi memperpanjang waktu bersamaku.

“Saya masih ingin belajar dengan Pak Guru,” ujarnya di tengah perjalanan.

“Kamu bisa belajar sendiri, walau tanpa Pak Guru,” jawabku.

“Tapi tidak seperti belajar dengan Pak Guru.”

“Apa bedanya?”

Rimba tak segera menjawab. Ia menunduk, menikmati sepasang kakinya yang berayun melangkah. Ibu jari kiri dan kanannya bergantian timbul tenggelam ritmis, membuatnya seperti berada di dunia lain, mengambang, terutama pada jalanan menurun, ketika langkahnya semakin deras.

Rimba serasa melayang-layang di sisiku. Ia merasa bentang hutan yang dilaluinya hari itu jauh lebih elok dibanding kapanpun. Begitu juga dengan ricik sungai yang membelah hutan itu, yang serupa sabda Tuhan tentang jalan kebijaksanaan.

Hingga tiba di jalan raya.

“Pulanglah, Rimba,” kataku. Dadaku nyeri melihat sepasang mata bocah itu.

“Tidak. Pak Guru pergi dulu, baru saya pulang.”

“Tidak bisa. Pak Guru harus melepasmu pergi, bukan sebaliknya.”

“Pak Guru salah. Saya yang harus melepas Pak Guru pergi.”

“Kenapa? Kau takut terlihat menangis di depan Pak Guru? Kau kira menangis itu keliru?”

Rimba menatapku, seolah minta persetujuan bahwa bulir-bulir bening dari matanya tak pernah salah, sekalipun ia laki-laki.

“Menangislah, Rimba.”

Aku merasa rahangku nyaris pecah menahan duka lara. Rimba membiarkan air matanya mengalir menghangati kedua pipinya.

Aku ingin menjelaskan semuannya, bahwa pada saatnya nanti, Rimba akan diberi tanggung jawab besar sebagai kepala kelompok.

Aku merasa sebagian jiwaku mengurai, menjadi semacam partikel mahakecil yang bertaburan gemerlapan ketika aku harus melangkah ke dalam mobil. Sementara Rimba, denga sedu sedannya berlari menuju bentangan hutan, jalan ke surganya di tengah hutan tropis. Aku tak sanggup lagi membayangkan beban bocah itu.

***

Beberapa tahun kemudian. Aku bersama kawan-kawan peduli pendidikan kembali masuk ke dalam hutan belantara menemui Rimba. Namun sayang, kami kesulitan mencarinya karena memang mereka hidup dengan cara nomaden.

Kami terus mencari. Dan akhirnya kami mendengar sayup-sayup orang sedang melakukan sebuah transaksi. Dengan hati-hati kami mendekat.

“Kepala, kami ingin melakukan perjanjian dengan Kepala mengenai pembukaan lahan sawit di area hutan ini.”

“Tunggu dulu, biar saya baca dulu surat perjanjiannya dulu.”

Orang setengah baya itu terlihat memberikan selembar kertas kepada Kepala Kelompok.

“Saya tidak menyetujui perjanjian ini. Karena dalam surat ini tertulis ‘akan menebang pohon untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit’. Saya menyetujui kalau kalian menebang pohon tidak sampai perbatasan wilayah yang telah kami buat.”

Kami semua begitu terkagum-kagum dengan kepala kelompok yang cerdas itu. Ia bisa membaca dan menyikapi masalah dengan sangat bijak. Tapi, aku sudah sangat yakin kalau kepala kelompok orang rimba itu ialah Rimba. (T)

Catatan: Cerpen ini terispirasi dari film, Sokola Rimba

Tags: Cerpen
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Hantu PKI, Awas Propaganda, dan Pengalihan Isu

Next Post

Kenapa Lontar Mesti Diselamatkan dari Erupsi Gunung Agung?

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post

Kenapa Lontar Mesti Diselamatkan dari Erupsi Gunung Agung?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co