2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harian Sugi Lanus: Gunung Agung Meletus dan ‘Pangéling-Éling’ Ida Pĕdanda Madé Sidĕmĕn

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

 

SANG Madé Gĕdé Sidĕmĕn — demikian menyebut dirinya dalam lontar, dikenal sebagai sastrawan besar tiada lain bergelar Ida Pĕdanda Madé Sidĕmĕn, seorang seniman, budayawan, arsitektur/undagi, dan dikenal sebagai seorang kawi-wiku (sang pendeta-pujangga) yang sangat sederhana — dalam kolopon lontar ‘Pūjā Pañambutan’ yang disalinnya punya pangéling-éling (pesan pengingat) tentang letusan Gunung Agung tahun 1963, yang diikuti kekacauan politik tahun 1965, atau 2 tahun setelah letusan besar itu.

Isi kolopon lontar tersebut, yang sebenarnya tiada berhubungan dengan isi lontarnya, yang tidak lain adalah lontar tentang ‘Pūjā Pañambutan’ yang berisi mantra atau puja, sekilas menyebut rangkai peristiwa dan musibah, sebagai berikut:

“Malĕtus Gunung Agung mĕdal hagni, hudan hawu mawor watu…iśaka 1884. Iśaka 1887, rijĕk jagaté hantuk pārthé. Pang, sasih, kapat, tĕkéng, tang, ka, 5, bintang kukus ring hambara meh rahina bĕnĕr kangin. Ring pūrnama kalima, gĕntuh pasaning sāgara, hangrubuhakĕn pinggir, ngilyakĕn watu kakalih, ring sāgara Hintaran, kadi kubu göngnya”.
Terjemahannya:

“Meletus Gunung Agung keluar lahar (api), hujan abu berhamburan batu… tahun iśaka 1884 (1963 M). Tahun iśaka 1887 (1965 M), hancur masyarakat oleh partai. Bulan ke empat (perhitungan sasih), tanggal 5, bintang kukus di langit timur, rubuh tepian, menghayudkan dua batu, di pantai Intaran, besarnya sebesar rumah.”

Apa yang bisa dipelajari dari kolopon ini?

Tahun 1963 Gunung Agung meletus, lalu kemudian 1965 masyarakat hancur karena partai, banyak warga dibunuh, dan seterusnya. Dari kolopon lontar ‘Pūjā Pañambutan’, kita diajak eling, menjaga keheningan batin, mulat sarira dan merenung: Apakah ini berulang tahun 2017 meletus (?), dua tahun kemudian, tahun 2019 muncul ribut-ricuh-kacau karena partai (?) — semoga jangan terulanglah ritme kekacauan itu.

Sang Kawya juga memberi gambaran bencana Gunung Agung tahun 1963, tentang berapa lama kira-kira dampak letusan Gunung Agung, dalam salinan lontar lainnya yaitu lontar ‘Batur Kalawasan’, yang disalinnya di Desa Intaran (Sanur), dituliskan:
“Duk sasih, 8… Gunung Hagung malĕtus mëdal hagni, ngadakang hudan hawu, katĕkéng tilĕm kasanga kari gununge medal hagni, maduluran ëmbah linĕt, tan pahudan, tan kantĕn sūrya wahu hasasih, durung kantĕn panguwusané.”

Terjemahannya:
“Ketika bulan 8 [menurut perhitungan Sasih]… Gunung Agung meletus mengeluarkan api, menyebabkan hujan abu, berlanjut sampai bulan 9 gunung [Agung] masih mengeluarkan api, disertai banjir lava, tiada hujan, matahari tak tampak selama sebulan, belum ada tanda-tanda berhenti”.

Seperti apa yang ditulis Sang Kawya, letusan Gunung Agung tahun 1963 memang dasyat, dicatat dalam beberapa catatan Gunung Agung mulai menampakkan aktivitasnya pada 18 Februari 1963, lalu pucak kebencanaan terjadi ketika meletus dasyat pada 17 Maret 1963.

Disebutkan terlihat pada 24 Februari 1963 mulai turun lahar di bagian utara gunung, diperkirakan meluncur sejauh 7 kilometer selama 20 hari. Pada letusan tanggal 17 Maret 1963 menyemburkan abu vulkanik diperkirakan mencapai 10 kilometer ke udara. Letusan ini memakan ribuan korban. Kembali pada 16 Mei 1963 terjadi letusan, yang diperkirakan kembali menewaskan 200 orang.

Gunung Agung tak hanya bergolak dan meletus dari 18 Februari 1963 sampai 16 Mei 1963. Menurut catatan sejarah Gunung Agung meletus kembali pada 26 Januari 1964, setelah itu tidak ada aktivitas berbahaya lain, kemudian terjadi bulan ini, September 2017.

Aktivitas kebencanaan Gunung Agung — terhitung dari 18 Februari 1963-16 Mei 1963 dan letusan kembali pada 26 Januari 1964, atau sekitar 1 tahun— itulah, dengan disertai kemunculan bintang kukus di langit timur, dikaitkan oleh Sang Kawya, Ida Pĕdanda Madé Sidĕmĕn, dengan bencana kemanusiaan di Bali akibat kisruh kepartaian (dan juga keterlibatan militer) yang diperkirakan oleh beberapa peneliti disebut memakan korban rakyat Bali sekitar 80.000 korban. Jauh lebih besar dari bencana letusan Gunung Agung pada 2-3 tahun sebelumnya.

Bencana kepartaian menewaskan sekitar 100.000 orang ini, yang muncul 2-3 tahun berselang setelah letusan Gunung Agung dan bintang kukus itu, tersirat dituliskan dalam kolopon lontar lain yang disalin oleh Ida Pĕdanda Madé Sidĕmĕn, yaitu lontar ‘Caru Agĕng Alit’ yang berisi soal tata cara ‘pacaruan’(ruwat bumi) akibat bencana dan musibah, sebagai berikut:

“Puput sinurat ring dina, Bu, Ka, Dunghulan… duk rijĕk jagaté hantuk pārthé, kéh janmané kapadĕmang, makawit maciri bintang kukus wetan das rahina, nĕmonin wuku wayang, muwah ring tilĕm kalima, A, Wa, Sinta, sūryūgra matĕmu lawan ulan, duk iśaka, 1887.”
Terjemahannya:

“Selesai disalin pada hari, Rabu, Kliwon, Dungulan.. ketika hancur dunia karena partai, banyak manusia dibunuh, berawal dari ciri bintang kukus di timur setiap hari, pada wuku Wayang, bulan gelap kelima, Selasa, Wage, Sinta, bagian matahari bertemu bulan, pada tahun duk iśaka, 1887 (1965 M).”

Ida Pĕdanda Madé Sidĕmĕn dikenal sebagai ‘bhujangga siddhi’ dan ‘bétél tinggal’, pendeta yang mumpuni dan punya visi melihat ke masa depan, tentu tiada bermain-main meninggalkan semacam ‘pengeling-eling’ yang ditinggal dalam jejak tangan tulisan Sang Kawya.

Dari ‘pangéling-éling’ dalam karya beliau kita sekarang diajak bercermin dan berpikir bijak: Semoga segera Gunung Agung kembali tenang dan tidak pernah terulang lagi bencana ricuh partai yang menewaskan ratusan ribu krama Bali itu. (T)

Catatan Harian 27 September 2017.

Tags: erupsigeguritanGunung AgungIda Pedanda Made Sidemensastra
Share97TweetSendShareSend
Previous Post

Pejabat adalah Relawan – Melihat Pak Subur Bikin Toilet di Posko Pengungsian

Next Post

Hantu PKI, Awas Propaganda, dan Pengalihan Isu

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Hantu PKI, Awas Propaganda, dan Pengalihan Isu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co