2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harian Sugi Lanus: Gunung Agung Meletus dan ‘Pangéling-Éling’ Ida Pĕdanda Madé Sidĕmĕn

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

 

SANG Madé Gĕdé Sidĕmĕn — demikian menyebut dirinya dalam lontar, dikenal sebagai sastrawan besar tiada lain bergelar Ida Pĕdanda Madé Sidĕmĕn, seorang seniman, budayawan, arsitektur/undagi, dan dikenal sebagai seorang kawi-wiku (sang pendeta-pujangga) yang sangat sederhana — dalam kolopon lontar ‘Pūjā Pañambutan’ yang disalinnya punya pangéling-éling (pesan pengingat) tentang letusan Gunung Agung tahun 1963, yang diikuti kekacauan politik tahun 1965, atau 2 tahun setelah letusan besar itu.

Isi kolopon lontar tersebut, yang sebenarnya tiada berhubungan dengan isi lontarnya, yang tidak lain adalah lontar tentang ‘Pūjā Pañambutan’ yang berisi mantra atau puja, sekilas menyebut rangkai peristiwa dan musibah, sebagai berikut:

“Malĕtus Gunung Agung mĕdal hagni, hudan hawu mawor watu…iśaka 1884. Iśaka 1887, rijĕk jagaté hantuk pārthé. Pang, sasih, kapat, tĕkéng, tang, ka, 5, bintang kukus ring hambara meh rahina bĕnĕr kangin. Ring pūrnama kalima, gĕntuh pasaning sāgara, hangrubuhakĕn pinggir, ngilyakĕn watu kakalih, ring sāgara Hintaran, kadi kubu göngnya”.
Terjemahannya:

“Meletus Gunung Agung keluar lahar (api), hujan abu berhamburan batu… tahun iśaka 1884 (1963 M). Tahun iśaka 1887 (1965 M), hancur masyarakat oleh partai. Bulan ke empat (perhitungan sasih), tanggal 5, bintang kukus di langit timur, rubuh tepian, menghayudkan dua batu, di pantai Intaran, besarnya sebesar rumah.”

Apa yang bisa dipelajari dari kolopon ini?

Tahun 1963 Gunung Agung meletus, lalu kemudian 1965 masyarakat hancur karena partai, banyak warga dibunuh, dan seterusnya. Dari kolopon lontar ‘Pūjā Pañambutan’, kita diajak eling, menjaga keheningan batin, mulat sarira dan merenung: Apakah ini berulang tahun 2017 meletus (?), dua tahun kemudian, tahun 2019 muncul ribut-ricuh-kacau karena partai (?) — semoga jangan terulanglah ritme kekacauan itu.

Sang Kawya juga memberi gambaran bencana Gunung Agung tahun 1963, tentang berapa lama kira-kira dampak letusan Gunung Agung, dalam salinan lontar lainnya yaitu lontar ‘Batur Kalawasan’, yang disalinnya di Desa Intaran (Sanur), dituliskan:
“Duk sasih, 8… Gunung Hagung malĕtus mëdal hagni, ngadakang hudan hawu, katĕkéng tilĕm kasanga kari gununge medal hagni, maduluran ëmbah linĕt, tan pahudan, tan kantĕn sūrya wahu hasasih, durung kantĕn panguwusané.”

Terjemahannya:
“Ketika bulan 8 [menurut perhitungan Sasih]… Gunung Agung meletus mengeluarkan api, menyebabkan hujan abu, berlanjut sampai bulan 9 gunung [Agung] masih mengeluarkan api, disertai banjir lava, tiada hujan, matahari tak tampak selama sebulan, belum ada tanda-tanda berhenti”.

Seperti apa yang ditulis Sang Kawya, letusan Gunung Agung tahun 1963 memang dasyat, dicatat dalam beberapa catatan Gunung Agung mulai menampakkan aktivitasnya pada 18 Februari 1963, lalu pucak kebencanaan terjadi ketika meletus dasyat pada 17 Maret 1963.

Disebutkan terlihat pada 24 Februari 1963 mulai turun lahar di bagian utara gunung, diperkirakan meluncur sejauh 7 kilometer selama 20 hari. Pada letusan tanggal 17 Maret 1963 menyemburkan abu vulkanik diperkirakan mencapai 10 kilometer ke udara. Letusan ini memakan ribuan korban. Kembali pada 16 Mei 1963 terjadi letusan, yang diperkirakan kembali menewaskan 200 orang.

Gunung Agung tak hanya bergolak dan meletus dari 18 Februari 1963 sampai 16 Mei 1963. Menurut catatan sejarah Gunung Agung meletus kembali pada 26 Januari 1964, setelah itu tidak ada aktivitas berbahaya lain, kemudian terjadi bulan ini, September 2017.

Aktivitas kebencanaan Gunung Agung — terhitung dari 18 Februari 1963-16 Mei 1963 dan letusan kembali pada 26 Januari 1964, atau sekitar 1 tahun— itulah, dengan disertai kemunculan bintang kukus di langit timur, dikaitkan oleh Sang Kawya, Ida Pĕdanda Madé Sidĕmĕn, dengan bencana kemanusiaan di Bali akibat kisruh kepartaian (dan juga keterlibatan militer) yang diperkirakan oleh beberapa peneliti disebut memakan korban rakyat Bali sekitar 80.000 korban. Jauh lebih besar dari bencana letusan Gunung Agung pada 2-3 tahun sebelumnya.

Bencana kepartaian menewaskan sekitar 100.000 orang ini, yang muncul 2-3 tahun berselang setelah letusan Gunung Agung dan bintang kukus itu, tersirat dituliskan dalam kolopon lontar lain yang disalin oleh Ida Pĕdanda Madé Sidĕmĕn, yaitu lontar ‘Caru Agĕng Alit’ yang berisi soal tata cara ‘pacaruan’(ruwat bumi) akibat bencana dan musibah, sebagai berikut:

“Puput sinurat ring dina, Bu, Ka, Dunghulan… duk rijĕk jagaté hantuk pārthé, kéh janmané kapadĕmang, makawit maciri bintang kukus wetan das rahina, nĕmonin wuku wayang, muwah ring tilĕm kalima, A, Wa, Sinta, sūryūgra matĕmu lawan ulan, duk iśaka, 1887.”
Terjemahannya:

“Selesai disalin pada hari, Rabu, Kliwon, Dungulan.. ketika hancur dunia karena partai, banyak manusia dibunuh, berawal dari ciri bintang kukus di timur setiap hari, pada wuku Wayang, bulan gelap kelima, Selasa, Wage, Sinta, bagian matahari bertemu bulan, pada tahun duk iśaka, 1887 (1965 M).”

Ida Pĕdanda Madé Sidĕmĕn dikenal sebagai ‘bhujangga siddhi’ dan ‘bétél tinggal’, pendeta yang mumpuni dan punya visi melihat ke masa depan, tentu tiada bermain-main meninggalkan semacam ‘pengeling-eling’ yang ditinggal dalam jejak tangan tulisan Sang Kawya.

Dari ‘pangéling-éling’ dalam karya beliau kita sekarang diajak bercermin dan berpikir bijak: Semoga segera Gunung Agung kembali tenang dan tidak pernah terulang lagi bencana ricuh partai yang menewaskan ratusan ribu krama Bali itu. (T)

Catatan Harian 27 September 2017.

Tags: erupsigeguritanGunung AgungIda Pedanda Made Sidemensastra
Share97TweetSendShareSend
Previous Post

Pejabat adalah Relawan – Melihat Pak Subur Bikin Toilet di Posko Pengungsian

Next Post

Hantu PKI, Awas Propaganda, dan Pengalihan Isu

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post

Hantu PKI, Awas Propaganda, dan Pengalihan Isu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co