23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harian Sugi Lanus: Gunung Agung Meletus dan ‘Pangéling-Éling’ Ida Pĕdanda Madé Sidĕmĕn

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

 

SANG Madé Gĕdé Sidĕmĕn — demikian menyebut dirinya dalam lontar, dikenal sebagai sastrawan besar tiada lain bergelar Ida Pĕdanda Madé Sidĕmĕn, seorang seniman, budayawan, arsitektur/undagi, dan dikenal sebagai seorang kawi-wiku (sang pendeta-pujangga) yang sangat sederhana — dalam kolopon lontar ‘Pūjā Pañambutan’ yang disalinnya punya pangéling-éling (pesan pengingat) tentang letusan Gunung Agung tahun 1963, yang diikuti kekacauan politik tahun 1965, atau 2 tahun setelah letusan besar itu.

Isi kolopon lontar tersebut, yang sebenarnya tiada berhubungan dengan isi lontarnya, yang tidak lain adalah lontar tentang ‘Pūjā Pañambutan’ yang berisi mantra atau puja, sekilas menyebut rangkai peristiwa dan musibah, sebagai berikut:

“Malĕtus Gunung Agung mĕdal hagni, hudan hawu mawor watu…iśaka 1884. Iśaka 1887, rijĕk jagaté hantuk pārthé. Pang, sasih, kapat, tĕkéng, tang, ka, 5, bintang kukus ring hambara meh rahina bĕnĕr kangin. Ring pūrnama kalima, gĕntuh pasaning sāgara, hangrubuhakĕn pinggir, ngilyakĕn watu kakalih, ring sāgara Hintaran, kadi kubu göngnya”.
Terjemahannya:

“Meletus Gunung Agung keluar lahar (api), hujan abu berhamburan batu… tahun iśaka 1884 (1963 M). Tahun iśaka 1887 (1965 M), hancur masyarakat oleh partai. Bulan ke empat (perhitungan sasih), tanggal 5, bintang kukus di langit timur, rubuh tepian, menghayudkan dua batu, di pantai Intaran, besarnya sebesar rumah.”

Apa yang bisa dipelajari dari kolopon ini?

Tahun 1963 Gunung Agung meletus, lalu kemudian 1965 masyarakat hancur karena partai, banyak warga dibunuh, dan seterusnya. Dari kolopon lontar ‘Pūjā Pañambutan’, kita diajak eling, menjaga keheningan batin, mulat sarira dan merenung: Apakah ini berulang tahun 2017 meletus (?), dua tahun kemudian, tahun 2019 muncul ribut-ricuh-kacau karena partai (?) — semoga jangan terulanglah ritme kekacauan itu.

Sang Kawya juga memberi gambaran bencana Gunung Agung tahun 1963, tentang berapa lama kira-kira dampak letusan Gunung Agung, dalam salinan lontar lainnya yaitu lontar ‘Batur Kalawasan’, yang disalinnya di Desa Intaran (Sanur), dituliskan:
“Duk sasih, 8… Gunung Hagung malĕtus mëdal hagni, ngadakang hudan hawu, katĕkéng tilĕm kasanga kari gununge medal hagni, maduluran ëmbah linĕt, tan pahudan, tan kantĕn sūrya wahu hasasih, durung kantĕn panguwusané.”

Terjemahannya:
“Ketika bulan 8 [menurut perhitungan Sasih]… Gunung Agung meletus mengeluarkan api, menyebabkan hujan abu, berlanjut sampai bulan 9 gunung [Agung] masih mengeluarkan api, disertai banjir lava, tiada hujan, matahari tak tampak selama sebulan, belum ada tanda-tanda berhenti”.

Seperti apa yang ditulis Sang Kawya, letusan Gunung Agung tahun 1963 memang dasyat, dicatat dalam beberapa catatan Gunung Agung mulai menampakkan aktivitasnya pada 18 Februari 1963, lalu pucak kebencanaan terjadi ketika meletus dasyat pada 17 Maret 1963.

Disebutkan terlihat pada 24 Februari 1963 mulai turun lahar di bagian utara gunung, diperkirakan meluncur sejauh 7 kilometer selama 20 hari. Pada letusan tanggal 17 Maret 1963 menyemburkan abu vulkanik diperkirakan mencapai 10 kilometer ke udara. Letusan ini memakan ribuan korban. Kembali pada 16 Mei 1963 terjadi letusan, yang diperkirakan kembali menewaskan 200 orang.

Gunung Agung tak hanya bergolak dan meletus dari 18 Februari 1963 sampai 16 Mei 1963. Menurut catatan sejarah Gunung Agung meletus kembali pada 26 Januari 1964, setelah itu tidak ada aktivitas berbahaya lain, kemudian terjadi bulan ini, September 2017.

Aktivitas kebencanaan Gunung Agung — terhitung dari 18 Februari 1963-16 Mei 1963 dan letusan kembali pada 26 Januari 1964, atau sekitar 1 tahun— itulah, dengan disertai kemunculan bintang kukus di langit timur, dikaitkan oleh Sang Kawya, Ida Pĕdanda Madé Sidĕmĕn, dengan bencana kemanusiaan di Bali akibat kisruh kepartaian (dan juga keterlibatan militer) yang diperkirakan oleh beberapa peneliti disebut memakan korban rakyat Bali sekitar 80.000 korban. Jauh lebih besar dari bencana letusan Gunung Agung pada 2-3 tahun sebelumnya.

Bencana kepartaian menewaskan sekitar 100.000 orang ini, yang muncul 2-3 tahun berselang setelah letusan Gunung Agung dan bintang kukus itu, tersirat dituliskan dalam kolopon lontar lain yang disalin oleh Ida Pĕdanda Madé Sidĕmĕn, yaitu lontar ‘Caru Agĕng Alit’ yang berisi soal tata cara ‘pacaruan’(ruwat bumi) akibat bencana dan musibah, sebagai berikut:

“Puput sinurat ring dina, Bu, Ka, Dunghulan… duk rijĕk jagaté hantuk pārthé, kéh janmané kapadĕmang, makawit maciri bintang kukus wetan das rahina, nĕmonin wuku wayang, muwah ring tilĕm kalima, A, Wa, Sinta, sūryūgra matĕmu lawan ulan, duk iśaka, 1887.”
Terjemahannya:

“Selesai disalin pada hari, Rabu, Kliwon, Dungulan.. ketika hancur dunia karena partai, banyak manusia dibunuh, berawal dari ciri bintang kukus di timur setiap hari, pada wuku Wayang, bulan gelap kelima, Selasa, Wage, Sinta, bagian matahari bertemu bulan, pada tahun duk iśaka, 1887 (1965 M).”

Ida Pĕdanda Madé Sidĕmĕn dikenal sebagai ‘bhujangga siddhi’ dan ‘bétél tinggal’, pendeta yang mumpuni dan punya visi melihat ke masa depan, tentu tiada bermain-main meninggalkan semacam ‘pengeling-eling’ yang ditinggal dalam jejak tangan tulisan Sang Kawya.

Dari ‘pangéling-éling’ dalam karya beliau kita sekarang diajak bercermin dan berpikir bijak: Semoga segera Gunung Agung kembali tenang dan tidak pernah terulang lagi bencana ricuh partai yang menewaskan ratusan ribu krama Bali itu. (T)

Catatan Harian 27 September 2017.

Tags: erupsigeguritanGunung AgungIda Pedanda Made Sidemensastra
Share97TweetSendShareSend
Previous Post

Pejabat adalah Relawan – Melihat Pak Subur Bikin Toilet di Posko Pengungsian

Next Post

Hantu PKI, Awas Propaganda, dan Pengalihan Isu

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post

Hantu PKI, Awas Propaganda, dan Pengalihan Isu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co