24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buah Lango

Arya Lawa Manuaba by Arya Lawa Manuaba
March 10, 2019
in Cerpen
Buah Lango

Lukisan: Ketut Kabul Suasana

Cerpen: Arya Lawa Manuaba

Dukun itu berkata, hanya buah lango yang bisa mengobati sakitku yang sudah kronis. Sakitnya bukan kepalang. Persis sengatan kalajengking atau lipan bertubi-tubi di bagian dada. Sialnya, mencari buah itu sulitnya minta ampun. Sepanjang ingatan yang masih bisa kujangkau, buah itu hanya tumbuh di jalan setapak di lereng bukit.

Aku ingat betul. Sewaktu masih bocah, aku dan kawan-kawan memakannya setiap hari sampai kekenyangan. Manis betul buah itu. Tak ada tandingannya. Kami bisa tak makan seharian, puas hanya makan buah lango yang bergelantungan di dahan-dahan sepanjang jalan ke air terjun.

Kali terakhir aku melihat dan mencicipinya adalah saat aku kelas empat SD lima puluhan tahun silam. Setelah itu, tak pernah sekali pun aku melihat rupanya lagi. Barangkali ditebang atau benar-benar punah karena pestisida. Entahlah.

Siang kemarin istriku Ratih dan anak pertamaku, Wayan Nuja, pergi ke jalan setapak lereng bukit untuk menemukan buah itu. Hasilnya nihil. Seharian mereka mondar-mandir, bertanya pada belasan petani jagung dan pemanen madu, lalu putus asa.

“Kalau buah itu tidak ketemu, Bapak bisa segera mati,” pasrahku sambil menahan nyeri dada yang kian hari kian ganas.

“Kita ke rumah sakit di Jakarta saja, Pak,” cetus Wayan Nuja. “Obat di sana lebih manjur.”

Tetap aku bersikeras tidak mau. Ke Jakarta? Memang apa bagusnya di Jakarta ketimbang di Singapura? Aku sudah bolak-balik dua kali ke negeri itu, dan hasilnya masih sama. Sakit di dadaku ini tak kunjung sembuh. Semua alternatif jawaban sudah membuatku muak. Tinggal rumah sakit Antartika barangkali.

“Pokoknya Bapak mau buah lango!” tuntutku.

“Di mana saya harus cari lagi?” Wayan Nuja bosan.

“Di sepanjang jalan ke air terjun.”

“Sudah tidak ada, Pak!”

“Kamu sudah cari betul-betul?”

“Sudah.”

Gawat. Jika sampai seminggu lagi aku tidak mendapatkan buah itu, matilah aku. Umurku belum genap enam puluh, tetapi penyakit ini semakin membuatku lemah saja. Aku tak ingat kapan persisnya aku mulai mengidapnya. Yang jelas sudah tahunan.

Berbagai obat sudah masuk ke dalam mulutku, disuntik ke lenganku, tapi masih saja sakit itu tak sirna. Sakitnya sulit dijelaskan dengan kata-kata. Perih laksana disengat kalajengking di bagian dada. Kadang-kadang aku sampai berteriak seperti orang gila, meminta agar nyawaku dicabut saja.

Mendengar kondisiku yang makin parah, sore itu Sutarji, kawan lamaku, menyambangiku di sisi ranjang. Jika aku harus segera mati, paling tidak aku bisa nostalgia untuk kali terakhir. Aku bisa tertawa untuk kali penghabisan bersamanya, mengenang saat kami masih bocah perjaka yang tak kenal waktu.

“Kamu ini,” Sutarji melenguh kelam setelah menatap sekujur tubuhku yang kurus kering dilahap penyakit. “Kata-kata dukun kamu percayai. Percuma kamu tamat sarjana, Darpa!”

“Aku sudah coba semua obat. Hasilnya nol.”

Sutarji tampak berpikir keras. Cukup lama dia terdiam.

“Kamu ingat dulu kita makan buah itu setiap hari?”

Dia manggut-manggut, setengah yakin.

“Bersama Komar, Gilang, Agus dan Wahyu,” beberku.

“Ya, ya, aku ingat.”

“Kamu bisa bantu aku mencari buah itu?”

Terdiam Sutarji. Raut wajahnya menggenang tak pasti.

Aku menunggu. Berharap dia akan mengatakan sesuatu yang bisa membantu nyawaku tetap bertahan di dalam bilik jantung.

“Aku ingat, Darpa. Dahulu buah-buah itu banyak bergelantungan di sepanjang jalan setapak menuju air terjun,” Sutarji mengenang. “Ingatkah kamu akan rasanya, Darpa? Pertama-tama dia manis. Tatkala kita tumbuh remaja dan pikiran kita ternoda mimpi-mimpi masa remaja yang aneh itu, rasanya jadi asam. Setelah aku dan kamu beranak-pianak, dia jadi pahit. Kini aku benar-benar lupa bagaimana rasa dan wujudnya.”

Aku membisu. Kehilangan harapan. Bahkan Sutarji kawan karibku pun lupa.

“Waktu kita masih bocah, kamu sering menimpukku dengan buah lango itu, lalu aku balas kamu. Kusasar burungmu. Lalu kamu menangis dan mengadu pada ibumu.”

Perlahan-lahan, ingatanku terbit. Bibirku terasa ringan. Aku tersenyum lebar. Separuh malu.

“Dan esoknya, ibuku memukuli pantatku sampai aku tidak bisa duduk nyaman di bangku.”

Aku pun tertawa menatapnya. Terpantul di mataku wajah miris bocah Sutarji yang menggeser-geser pantatnya yang memar di bangku sekolah yang reyot. Gila. Itu sudah hampir lima puluh tahun lalu.

“Saat itu kita melewati jalan setapak setiap hari. Kamu dan aku selalu di depan. Kalau kita lapar, kita tinggal ambil buah lango sebanyak yang kita mau. Kadang-kadang aku memanjat sampai tinggi sekali, lalu melompat ke semak-semak saat kantongku penuh. Kamu ingat kita pernah ketiduran sampai larut malam gara-gara kekenyangan makan buah itu? Sinting! Orang tua kita sampai panggil satu dusun buat cari kita!”

“Ah, waktu itu! Waktu kelas empat!” cetusku semringah. “Kamu tahu? Malam itu bapak marah besar lalu menyeretku ke belakang rumah. Bapak mengguyurku dengan air dingin sampai aku teriak-teriak.”

Sutarji terkekeh-kekeh. Aku pun demikian. Rasanya kami sanggup kembali bermain-main di jalan setapak itu dan mengalami semua kejadiannya sekali lagi. Sungguh. Andai saja kami bisa jadi bocah lagi. Tak ada rasa takut. Tak terpikir masalah makan untuk hari esok. Tak ada istri yang komplin dan tagihan sana sini.

“Dan ingatkah kamu saat kita main perang-perangan?”

Aku memicingkan wajah. Berusaha mengingat serpihan kenangan lucu yang nyaris tenggelam dalam batang otak.

“Itu, saat sepeda jengki kakekmu yang kebesaran itu terperosok ke sawah dan bannya lepas.”

Aku meledak. Mataku terpejam kuat. Bibirku merekah. Ingatan itu terbit lagi layaknya sebuah film hitam putih lama yang kocak.

“Ingat tidak?”

“Ya, aku ingat!” letupku akhirnya. “Waktu itu kamu keterlaluan, Ji! Kamu dan Wahyu membombardirku dengan buah lango sampai kena mataku.”

“Namanya juga perang-perangan. Siapa cepat dia menang. Siapa tangkas dia juara.”

“Tapi waktu itu kamu curang.”

“Curang apanya?”

Punggungku terasa panas. Aku sedikit menggeser badan. “Kamu pakai buah lango muda, bukan buah lango yang sudah masak. Itu namanya curang.”

“Bukan aku yang petik waktu itu,” langkar Sutarji. “Wahyu yang petik.”

“Apa pun alasannya pokoknya itu curang! Titik!”

“Kamu malah lebih curang lagi!”

Kami berdua jadi sama-sama jengat.

“Curang apanya?” bantahku. “Aku sudah terperosok ke sawah dan ban sepeda jengki itu lepas! Kamu malah tertawa!”

“Kamu putar lenganku sampai patah. Ingat?”

Langsung raut wajahku memucat. Mataku layu, bergerak-gerak resah. Tepat setelah sepeda jengki tua milik mendiang kakekku terbenam di lumpur sawah dan bannya lepas, aku menangis sekencang-kencangnya. Sutarji malah menertawaiku, mencibir dengan lidahnya yang merah. Mungkin air bercampur lumpur telah membuat mataku perih dan kabur, atau bekas tembakan buah lango muda membuat fokus mataku hilang.

Pokoknya, saat itu wajah Sutarji menjadi sangat menyebalkan. Langsung aku menerjangnya, menjambak kepalanya, menyeretnya dan membenamkan wajahnya ke dalam lumpur. Bocah itu menggelepar-gelepar kehabisan napas. Tak puas sampai sana, aku memelintir lengan kanannya sampai terasa ada patahan.

Mataku baru jernih ketika kulihat dia meraung-raung sejadi-jadinya sambil memegangi lengannya. Yang bisa kuingat saat itu adalah rasa perih yang begitu ngilu di dada. Dua tahun kami tak bicara sejak kejadian itu.

Gila. Dadaku mendadak tersengat lagi. Aku meringis.

“Waktu itu aku langsung opname, Dar,” Sutarji berkata pelan. Dia mendesau berat. “Sejak saat itu kita tidak pernah main lagi. Kamu tidak pernah jenguk aku.”

Rasa sakit di dadaku semakin memuncak. Rahangku mengatup kuat.

“Tapi aku tidak dendam padamu, Dar,” Sutarji akhirnya menatapku. “Aku malah menunggumu tiap hari di jalan setapak. Kamu tidak muncul-muncul. Aku pikir kamu benar-benar benci padaku. Dua tahun kemudian, kita naik SMP. Aku ke Lombok, kamu ke kota. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi ke sana sampai detik ini.”

Aku termangu. Sejak kejadian itu, aku memang tak pernah lagi menginjakkan kaki di jalan setapak menuju air terjun. Tak tahu mengapa. Aku hanya enggan, atau malah takut. Saat itu aku tak paham apa itu dendam, apa itu benci. Semuanya terjadi beitu saja.

“Terima kasih kamu masih mengingatku setelah kejadian itu, Dar,” Sutarji akhirnya melanjutkan. “Kamu memang sahabatku.”

Napasku terembus pelan. Aku tersenyum canggung. Nyeri di dadaku semakin menjadi-jadi. Rasanya aku sudah ada di ambang kematian.

“Maafkan aku karena melemparmu waktu itu dengan buah lango muda, ya,” pintanya.

Aku mengangguk. “Aku juga,” sambungku. “Aku minta maaf karena aku mematahkan lenganmu, Ji.”

Sutarji mengangguk mantap. Kami akhirnya berpelukan. Masing-masing dari kami tertawa lepas, melunasi persahabatan kami yang tertunda puluhan tahun.

Mendadak jantungku tersengat lagi. Kali ini pasti saatku yang terakhir. Tak apalah. Aku bersiap mati. Utangku sudah lunas. Tak ada lagi beban dalam batinku.

Kuraba dadaku, bersiap menghadap Yang Kuasa.

Dan aku pun terkesiap.

Sesuatu menyembul di dalam saku. Kuraba-raba, lalu kurogoh dengan tergesa-gesa. Tanganku langsung menariknya keluar. Ketika kubuka tanganku, aku tak percaya pada apa yang baru saja kuambil dari saku.

Sebutir buah lango matang. [T]

Mangupura, 24 September 2018.

Tags: Cerpen
Share46TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Winar Ramelan# Perempuan Peramu Puisi

Next Post

Art[i] Factual, Pameran 6 Perupa Bali di India – Meniti Makna Menuju Fakta

Arya Lawa Manuaba

Arya Lawa Manuaba

Pendidik, penulis dan peneliti bidang etnopedagogi dan etnoliterasi. Dia menyukai hutan, gunung dan langit malam. Ia bisa disapa di akun Facebook (Arya Lawa Manuaba) atau Instagram @arya_lawa_manuaba.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Art[i] Factual, Pameran 6 Perupa Bali di India – Meniti Makna Menuju Fakta

Art[i] Factual, Pameran 6 Perupa Bali di India - Meniti Makna Menuju Fakta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co