24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semusim Saja

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 10, 2019
in Cerpen
Semusim Saja

Lukisan Kabul Suasana (croping)

Musim ini adalah nasib buruk bagi kami. Di luar, angin begitu kencang.  Dedaunan berbaring di sepanjang jalan, toko-toko tutup lebih awal, dan pejalan kaki terburu-buru pulang.

Sekarang masih pukul tiga siang, waktu yang tepat untuk mengurung diri lebih lama di kantor atau secepat mungkin kembali tidur karena hujan akan tiba. Di media sosial pun banyak berseliweran berita-berita tentang bencana yang akan terjadi mulai dari tsunami, erupsi, gempa bumi, hujan badai, dan banjir bandang. Semua masih prediksi atau hanya ilusi, tentu masih ada waktu untuk mencegahnya.

Satu-satunya bencana yang bisa dicegah adalah banjir. Belakangan warga kota mulai sadar untuk bersikap bersih dan tanggap sampah. Mereka mulai kewalahan untuk mengurus banjir. Saluran-saluran air sudah dibersihkan dan diperbarui. Dua hari sekali petugas kebersihan sudah mengambil gumpalan sampah yang mengendap di kali. Anehnya, kali itu tepat ada di depan kantor pejabat kota. Setiap pagi udara sejuk menggiring bau amis kali itu ke masing-masing hidung pejalan kaki dan pekerja kantor.

Mengeluh karena bau amis, itu terasa sia-sia saja. Pejalan kaki, pekerja kantor, dan pengendara yang melintasi jalan utama itu sudah malas. Ketabahan mereka cukup teruji karena situasi ini dihadapi hari demi hari. Setidaknya pemerintah sudah berupaya untuk mempekerjakan petugas kebersihan.

Masalah bau tak sedap dan jalanan macet akibat truk sampah pagi hari masih bisa diampuni asalkan warga tidak terkena dampak dari banjir itu. Aksi saling menyalahkan adalah warisan yang tidak ada habisnya. Bagi pejabat itu, selama warga belum punya sikap, maka bau ini akan makin parah. Sedangkan warga acuh karena tidak ada solusi yang efektif dari pejabat.

Nampaknya pejabat belum cukup puas dengan riuh tepuk tangan dan sanjungan dari warga. Bagi mereka, jasa dan pengorbanannya sudah maksimal. Terlebih saat mereka berusaha mencegah erupsi gunung api. Bukan hal yang mengejutkan lagi. Kehebatan pejabat itu sudah tersiar ke pelosok negeri. Erupsi yang semakin besar mampu diredam.

Berbagai cara dilakukan mulai dari membuat ritual besar-besaran, memohon pada dewa agar membatalkan rencananya, memainkan level darurat bencana, sampai mengontrol berita heboh dari para jurnalis. Retorika-retorika palsu yang disebar semata agar acara akbar berstandar internasional tetap digelar. Nyatanya hanya soal melindungi ladang devisa yang terguncang.

Kami juga berkeyakinan bahwa mereka pun mampu mencegah tsunami. Rencana demi rencana diluncurkan. Mereka mencoba melindungi kota ini dengan membuat gerbang. Alih-alih membuat gerbang sebagai menara perlindungan, justru daerah baru dibangun.

Pasir dari negara lain datang dan menimbun sedikit demi sedikit terumbu karang. Tentu ada kematian masal di laut. Hewan laut itu mati seketika. Mungkin hanya beberapa orang yang berduka, selebihnya masih tetap fokus pada urusan masing-masing yang tentu lebih penting. Semisal bekerja lebih giat agar disayang atasan, atau mempercantik diri agar mampu menjadi artis media sosial.

Sikap tidak peduli ini adalah bentuk ketabahan. Tentu ketabahan ini sangat amis seperti bau sampah di depan kantor pejabat. Anak-anak makin tahu cara mengasingkan diri dari polusi ini. Mereka memilih mengurung diri di kamar sambil menyantap mie instan dan menonton drama korea. Keasikan yang sangat intim. Sudah tidak ada waktu lagi mengeluh. Waktunya kini hanya diam, santai, dan curhat di media sosial.

“Tulisanmu sangat pesimis. Tidakkah lebih pantas kamu membuat sesuatu yang memiliki pengaruh penting?” kata @bagusgenjing mengomentari unggahan perempuan itu.

“Sudah seharusnya kita fokus bekerja. Lebih baik selamatkan dirimu sebelum tulisan ini dilaporkan!” kata pemilik akun @ajegjegeg18 dengan emoticon yang tidak bisa ditranskripkan.

“Santai saja! Masih ada hukum karma. Roda berputar kok!” sahut @panjoul91 dengan melampirkan link tentang hukum karma menurut ajaran Budha.

Perempuan yang mengunggah tulisan tersebut merasa keributan ini berlebihan. Baginya tak ada salahnya membuat tulisan tentang bau selokan di depan kantor walikota. Mungkin saat itu yang dia pikirkan hanya bau yang tak kunjung hilang karena banyak hal yang sudah busuk tersimpan.

Bencana awal tahun, bau amis dan busuk di kantor pejabat. Truk sampah yang mengganggu dan hal-hal yang tak bisa disampaikan.

Tulisan yang sederhana. Berkata hal remeh yang tidak ada pengaruhnya dan tidak ada bentuk provokasi. Entah kenapa sangat ribut mempergunjingkan hal remeh ini. Cukuplah angin di luar saja yang kencang. Biarkan dedaunan saja yang berserakkan, tidak perlulah kita membuat sampah lagi. Keracunan sampah di media sosial lebih berbahaya daripada mencium bau amis selokan.

Keesokan harinya, prestasi baru bagi pejabat kota. Kini, mereka pun mampu mencegah polusi emosi di media sosial. Beberapa akun yang dicurigai palsu sudah hilang. Beberapa tulisan pesimis telah sirna. Dan beberapa puisi anarkis tidak muncul. Di mesin pencarian tidak ditemukan lagi kata-kata sampah dan hal-hal yang mengundang polusi.

Tidak hanya itu, beberapa tayangan anak-anak yang bersifat kekerasan dan tak patuh aturan segera dilarang. Foto-foto artis internasional diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan demonstrasi. Konser artis luar negeri yang mengundang aksi anarkis secepat mungkin ditutup. Terlebih buku-buku sejarah yang dipandang menganut ajaran terlarang, menentang idelogi, dan memicu keributan disita sampai tuntas.

Tidak ada bencana yang tidak bisa dicegah oleh mereka. Kalau begitu, sudah seharusnya daerah ini lebih baik.

Selasa akhir bulan, perempuan itu menulis lagi. Kini dengan membagikan tautan tentang bebasnya pembunuh nomor satu dari jeruji penjara. Orang-orang diam. Jemari tidak mampu lagi mengetik beberapa kata. Lelah sudah mengumpat.

Orang-orang bermimpi. Bermalam-malam mimpi yang sama. Ingatan itu mendatangi mereka, di saat dentuman terdengar, ambulan sibuk, rumah sakit bergelimpangan mayat, dan pemadam kebakaran akhirnya bekerja. Saat monumen dibentuk, saat polisi mengincar pelaku, dan saat toko-toko bangkrut. Ekonomi yang lesu itu adalah musim terburuk bagi warga. Kerja yang nyata bertahun-tahun terbakar dalam ledakan semalam.

Malam yang sial, musim yang malang bagi warga. Sedangkan kini pelaku tersenyum girang hendak menghirup polusi ibu kota kembali. Kebebasannya sungguh mulia. Kemanusiaan yang sangat filosofis. Ini juga bukti yang cukup bahwa pejabat mampu mencegah bencana politik.

“Tidak bisa dipercaya! Keputusan ini pasti ada tujuannya!” komentar akun @novayanax dengan emoticon bulat merah bertanduk.

“Ini permainan politik. Ini sebuah seni. Lihat bagaimana nanti,” tulis akun @oontyoopa tanpa emoticon.

“Percayalah ini hanya berita yang tidak benar. Berita ingin menjatuhkan pejabat,” sahut akun @damaipeaace2 dengan tautan bandingan Prestasi Kabinet 4 Tahun Terakhir.

“Ingatkah kalian kata Pakde?” tanya akun @golongankita17 sambil mengunggah meme bertuliskan enakan jaman ku toh?.  

Kami hanya butuh ketabahan. Menghadapi dunia maya, melewati hidup di dunia kerja, juga menghalau bau amis di kantor pejabat. Kami menyalakan dupa, memohon untuk kali ini, semusim saja agar tidak ada bencana. Mungkinkah cahaya itu kembali?

Angin di luar semakin lebat, hujan perlahan turun. Sebelum siang, cahaya telah terbit menyibak mendung. Menyibak gelap. Tak ingin ribut. Cahaya keluar dengan santun dan lembut.

Doa kami dikabulkan. Walau semusim saja, kami cukup merasakannya. Kami pikir cahaya bukan bencana, dan tak ada yang bisa mencegahnya bahkan pejabat sekalipun.

Tags: Cerpen
Share43TweetSendShareSend
Previous Post

Belajar dari Guru Asing Mengajar

Next Post

Makna Hari Tumpek Krulut Sebagai Hari Kasih Sayang Versi Bali

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Makna Hari Tumpek Krulut Sebagai Hari Kasih Sayang Versi Bali

Makna Hari Tumpek Krulut Sebagai Hari Kasih Sayang Versi Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co