2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semusim Saja

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 10, 2019
in Cerpen
Semusim Saja

Lukisan Kabul Suasana (croping)

Musim ini adalah nasib buruk bagi kami. Di luar, angin begitu kencang.  Dedaunan berbaring di sepanjang jalan, toko-toko tutup lebih awal, dan pejalan kaki terburu-buru pulang.

Sekarang masih pukul tiga siang, waktu yang tepat untuk mengurung diri lebih lama di kantor atau secepat mungkin kembali tidur karena hujan akan tiba. Di media sosial pun banyak berseliweran berita-berita tentang bencana yang akan terjadi mulai dari tsunami, erupsi, gempa bumi, hujan badai, dan banjir bandang. Semua masih prediksi atau hanya ilusi, tentu masih ada waktu untuk mencegahnya.

Satu-satunya bencana yang bisa dicegah adalah banjir. Belakangan warga kota mulai sadar untuk bersikap bersih dan tanggap sampah. Mereka mulai kewalahan untuk mengurus banjir. Saluran-saluran air sudah dibersihkan dan diperbarui. Dua hari sekali petugas kebersihan sudah mengambil gumpalan sampah yang mengendap di kali. Anehnya, kali itu tepat ada di depan kantor pejabat kota. Setiap pagi udara sejuk menggiring bau amis kali itu ke masing-masing hidung pejalan kaki dan pekerja kantor.

Mengeluh karena bau amis, itu terasa sia-sia saja. Pejalan kaki, pekerja kantor, dan pengendara yang melintasi jalan utama itu sudah malas. Ketabahan mereka cukup teruji karena situasi ini dihadapi hari demi hari. Setidaknya pemerintah sudah berupaya untuk mempekerjakan petugas kebersihan.

Masalah bau tak sedap dan jalanan macet akibat truk sampah pagi hari masih bisa diampuni asalkan warga tidak terkena dampak dari banjir itu. Aksi saling menyalahkan adalah warisan yang tidak ada habisnya. Bagi pejabat itu, selama warga belum punya sikap, maka bau ini akan makin parah. Sedangkan warga acuh karena tidak ada solusi yang efektif dari pejabat.

Nampaknya pejabat belum cukup puas dengan riuh tepuk tangan dan sanjungan dari warga. Bagi mereka, jasa dan pengorbanannya sudah maksimal. Terlebih saat mereka berusaha mencegah erupsi gunung api. Bukan hal yang mengejutkan lagi. Kehebatan pejabat itu sudah tersiar ke pelosok negeri. Erupsi yang semakin besar mampu diredam.

Berbagai cara dilakukan mulai dari membuat ritual besar-besaran, memohon pada dewa agar membatalkan rencananya, memainkan level darurat bencana, sampai mengontrol berita heboh dari para jurnalis. Retorika-retorika palsu yang disebar semata agar acara akbar berstandar internasional tetap digelar. Nyatanya hanya soal melindungi ladang devisa yang terguncang.

Kami juga berkeyakinan bahwa mereka pun mampu mencegah tsunami. Rencana demi rencana diluncurkan. Mereka mencoba melindungi kota ini dengan membuat gerbang. Alih-alih membuat gerbang sebagai menara perlindungan, justru daerah baru dibangun.

Pasir dari negara lain datang dan menimbun sedikit demi sedikit terumbu karang. Tentu ada kematian masal di laut. Hewan laut itu mati seketika. Mungkin hanya beberapa orang yang berduka, selebihnya masih tetap fokus pada urusan masing-masing yang tentu lebih penting. Semisal bekerja lebih giat agar disayang atasan, atau mempercantik diri agar mampu menjadi artis media sosial.

Sikap tidak peduli ini adalah bentuk ketabahan. Tentu ketabahan ini sangat amis seperti bau sampah di depan kantor pejabat. Anak-anak makin tahu cara mengasingkan diri dari polusi ini. Mereka memilih mengurung diri di kamar sambil menyantap mie instan dan menonton drama korea. Keasikan yang sangat intim. Sudah tidak ada waktu lagi mengeluh. Waktunya kini hanya diam, santai, dan curhat di media sosial.

“Tulisanmu sangat pesimis. Tidakkah lebih pantas kamu membuat sesuatu yang memiliki pengaruh penting?” kata @bagusgenjing mengomentari unggahan perempuan itu.

“Sudah seharusnya kita fokus bekerja. Lebih baik selamatkan dirimu sebelum tulisan ini dilaporkan!” kata pemilik akun @ajegjegeg18 dengan emoticon yang tidak bisa ditranskripkan.

“Santai saja! Masih ada hukum karma. Roda berputar kok!” sahut @panjoul91 dengan melampirkan link tentang hukum karma menurut ajaran Budha.

Perempuan yang mengunggah tulisan tersebut merasa keributan ini berlebihan. Baginya tak ada salahnya membuat tulisan tentang bau selokan di depan kantor walikota. Mungkin saat itu yang dia pikirkan hanya bau yang tak kunjung hilang karena banyak hal yang sudah busuk tersimpan.

Bencana awal tahun, bau amis dan busuk di kantor pejabat. Truk sampah yang mengganggu dan hal-hal yang tak bisa disampaikan.

Tulisan yang sederhana. Berkata hal remeh yang tidak ada pengaruhnya dan tidak ada bentuk provokasi. Entah kenapa sangat ribut mempergunjingkan hal remeh ini. Cukuplah angin di luar saja yang kencang. Biarkan dedaunan saja yang berserakkan, tidak perlulah kita membuat sampah lagi. Keracunan sampah di media sosial lebih berbahaya daripada mencium bau amis selokan.

Keesokan harinya, prestasi baru bagi pejabat kota. Kini, mereka pun mampu mencegah polusi emosi di media sosial. Beberapa akun yang dicurigai palsu sudah hilang. Beberapa tulisan pesimis telah sirna. Dan beberapa puisi anarkis tidak muncul. Di mesin pencarian tidak ditemukan lagi kata-kata sampah dan hal-hal yang mengundang polusi.

Tidak hanya itu, beberapa tayangan anak-anak yang bersifat kekerasan dan tak patuh aturan segera dilarang. Foto-foto artis internasional diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan demonstrasi. Konser artis luar negeri yang mengundang aksi anarkis secepat mungkin ditutup. Terlebih buku-buku sejarah yang dipandang menganut ajaran terlarang, menentang idelogi, dan memicu keributan disita sampai tuntas.

Tidak ada bencana yang tidak bisa dicegah oleh mereka. Kalau begitu, sudah seharusnya daerah ini lebih baik.

Selasa akhir bulan, perempuan itu menulis lagi. Kini dengan membagikan tautan tentang bebasnya pembunuh nomor satu dari jeruji penjara. Orang-orang diam. Jemari tidak mampu lagi mengetik beberapa kata. Lelah sudah mengumpat.

Orang-orang bermimpi. Bermalam-malam mimpi yang sama. Ingatan itu mendatangi mereka, di saat dentuman terdengar, ambulan sibuk, rumah sakit bergelimpangan mayat, dan pemadam kebakaran akhirnya bekerja. Saat monumen dibentuk, saat polisi mengincar pelaku, dan saat toko-toko bangkrut. Ekonomi yang lesu itu adalah musim terburuk bagi warga. Kerja yang nyata bertahun-tahun terbakar dalam ledakan semalam.

Malam yang sial, musim yang malang bagi warga. Sedangkan kini pelaku tersenyum girang hendak menghirup polusi ibu kota kembali. Kebebasannya sungguh mulia. Kemanusiaan yang sangat filosofis. Ini juga bukti yang cukup bahwa pejabat mampu mencegah bencana politik.

“Tidak bisa dipercaya! Keputusan ini pasti ada tujuannya!” komentar akun @novayanax dengan emoticon bulat merah bertanduk.

“Ini permainan politik. Ini sebuah seni. Lihat bagaimana nanti,” tulis akun @oontyoopa tanpa emoticon.

“Percayalah ini hanya berita yang tidak benar. Berita ingin menjatuhkan pejabat,” sahut akun @damaipeaace2 dengan tautan bandingan Prestasi Kabinet 4 Tahun Terakhir.

“Ingatkah kalian kata Pakde?” tanya akun @golongankita17 sambil mengunggah meme bertuliskan enakan jaman ku toh?.  

Kami hanya butuh ketabahan. Menghadapi dunia maya, melewati hidup di dunia kerja, juga menghalau bau amis di kantor pejabat. Kami menyalakan dupa, memohon untuk kali ini, semusim saja agar tidak ada bencana. Mungkinkah cahaya itu kembali?

Angin di luar semakin lebat, hujan perlahan turun. Sebelum siang, cahaya telah terbit menyibak mendung. Menyibak gelap. Tak ingin ribut. Cahaya keluar dengan santun dan lembut.

Doa kami dikabulkan. Walau semusim saja, kami cukup merasakannya. Kami pikir cahaya bukan bencana, dan tak ada yang bisa mencegahnya bahkan pejabat sekalipun.

Tags: Cerpen
Share43TweetSendShareSend
Previous Post

Belajar dari Guru Asing Mengajar

Next Post

Makna Hari Tumpek Krulut Sebagai Hari Kasih Sayang Versi Bali

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Makna Hari Tumpek Krulut Sebagai Hari Kasih Sayang Versi Bali

Makna Hari Tumpek Krulut Sebagai Hari Kasih Sayang Versi Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co