6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?

Putu Oka Suardana by Putu Oka Suardana
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

GELI  juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem “full day school” untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun swasta. Memangnya untuk apa anak-anak seharian di sekolah? Belajar?

Sebelum Bapak Menteri mengeluarkan statamen itu sesungguhnya sejak beberapa tahun belakangan ini banyak anak-anak sudah seharian belajar, meski bukan di sekolah. Mereka harus mengikuti les pelajaran tambahan, sejak pulang sekolah bahkan hingga malam hari. Betapa kasihan anak-anak itu?

Saya sempat ngobrol dengan adik sepupu yang masih duduk di kelas 5 SD. Saat itu di sore hari, dia terlihat sangat lelah, tas punggungnya terasa berat pada punggungnya yang kecil. Belum sampai satu jam dia di rumah dari tambahan jam belajar, katanya dia harus pergi lagi untuk les privat.

Wajahnya saat itu begitu lesu, padahal seharusnya pada usia itu adalah puncak dari masa penuh semangat dan keceriaan. Namun, yang nampak pada wajahnya adalah tatapan lesu dan setiap hari dia menjalani hari yang sama. Bahkan tidak hanya dia, hampir semua teman sebayanya juga mengalami hari yang sama. Belajar di sekolah, kelas tambahan, les privat, dan berbagai jenis les lainnya. Hari-hari yang membuat mereka kehilangan semangat masa anak-anak yang ceria dan penuh warna.

Saat itu juga muncul bayangan masa anak-anak yang telah saya lewati belasan tahun lalu. Masa itu adalah masa yang paling indah bagi saya. Bermain bersama dengan teman. Menangkap capung, mekorot layangan, memancing belut, mencuri mangga, dan diakhiri dengan berendam sepuasnya di sungai sembari memancing ikan kecil yang entah apa namanya. Sungguh masa kecil yang indah.

Jika anak-anak seharian di sekolah, mereka akan kehilangan masa-masa indah, masa mengenal lingkungan rumah, lingkungan desa, dan lingkungan tetangga. Mereka mungkin hapal bahasa latin padi, tapi mereka tak mengenal rupa padi dan kentalnya lumpur sawah.

Itu sudah terbukti ketika anak-anak harus berkutat dengan pelajaran sekolah dan pelajaran tambahan di bilik-bilik les. Les, belajar, belajar lagi, les lagi, dan begitu seterusnya. Sebagai seorang guru, saya melihat adanya beban yang belum semestinya ditanggung oleh anak usia sekolah dasar.  Usia tersebut seharusnya dilalui dengan riang dan penuh keceriaan. Biarkan anak-anak menikmati masa belia mereka, jangan bebani mereka dengan tambahan belajar apalagi harus seharian di sekolah.

Saya yakin, tidak hanya adik saya beserta teman-temannya yang mengikuti pelajaran tambahan di luar sekolah. Masih banyak lagi anak lain yang menghabiskan waktu usai sekolah mereka dengan mengikuti berbagai macam les. Les Matematika, bahasa Inggris, bahasa Jerman, Fisika, Hitung Cepat, sampai les membaca. Belajar-belajar dan belajar, menimbulkan tekanan yang luar biasa pada usia belia. Wajar jika wajah anak-anak tampak lebih tua, kacamata menggelayuti wajah kecil mereka. Beban begitu besar sudah bersandar di bahu mereka yang ringkih. Beban belajar yang berlebihan telah merenggut senyum kecil pada wajah anak-anak masa kini.

Belajar Seharian

Jika dihitung-hitung, anak-anak sudah belajar seharian. Hitungannya, waktu sekolah mencapai 7-8 jam, ditambah dengan les sekitar 5 jam. Sampai di rumah mereka tak sempat bermain karena harus mengerjakan pekerjaan rumah yang menumpuk dan bisa mencapai puluhan soal untuk masing-masing mata pelajaran. Tanpa disadari, kegiatan belajar yang sangat sibuk dapat mengakibatkan stres pada anak-anak. Anak-anak dengan mental yang masih labil dipaksa untuk terus belajar dan terus ditekan untuk  mendapatkan nilai yang bagus. Itupun standar yang ditetapkan adalah standar nilai yang begitu tinggi. Dengan ekspektasi yang demikian tinggi, wajar anak usia sekolah dasar begitu stres.

Dampaknya adalah mereka mulai ogah-ogahan untuk sekolah. Selalu merasa capek dan lemas saat beraktivitas. Bahkan mereka bisa menarik diri dari pergaulan sosial akibat rutinitas yang membosankan. Sangat disayangkan apabila pada anak-anak sudah mengalami stres dan depresi hanya karena beban belajar yang terlalu mencekik leher dan otak mereka.

Melihat beban belajar yang ada, muncul pertanyaan, apakah memang perlu anak-anak “dikarantina” di sekolah seharian. Saat ini les tambahan pun perlu dipertanyakan, apakah les merupakan kebutuhan mendasar siswa saat ini?

Jujur diakui les pelajaran yang berlebihan bagi siswa sekolah dasar itu belum penting dilaksanakan. Terlebih siswa harus les pelajaran yang sudah mereka dapat di sekolah. Mereka akan sangat bosan dengan rutinitas yang monoton dan tidak bervariasi. Rutinitas yang membosankan ini  akan semakin menambah tingkat stres siswa dalam belajar.

Paulo Freire, dalam bukunya, Pendidikan Kaum Tertindas, mengatakan saat ini sistem pendidikan di dunia memperlakukan siswa seperti bejana kosong. Siswa diisi dengan pengetahuan sehingga bejana mereka penuh. Guru bertanggung jawab mengisi mereka dengan pengetahuan dan pengetahuan sehingga penuh dan siap digunakan.

Freire juga mengatakan ini tidak ubahnya seperti pendidikan sistem bank (banking concept of education). Siswa dianggap sebagai sebuah deposito dan guru bertugas mengisi deposito itu yang berupa pengetahuan. Konsep pendidikan ini sangat ditentang oleh Freire yang menganggap ini hanya sebuah penindasan pendidikan dan perbudakan pada pendidikan. Namun, sistem inilah wajah pendidikan di Indonesia secara umum.

Siswa adalah bejana kosong yang dianggap selalu siap untuk diisi pengetahuan dan menjadi pintar. Ada anggapan jika anak belajar lebih sejak kecil akan menjadi lebih pintar. Selalu seperti itu sejak dulu kala.

Anak belajar terlalu banyak seakan seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi anak memang akan menjadi pintar. Akan tetapi, di sisi lain banyak menimbulkan efek domino yang bersifat negatif. Efek negatif ini seakan saling berkaitan akibat beban berat yang mereka terima. Selain stres dan depresi, dampak domino yang muncul adalah dari sisi psikologi.

Percuma jika nanti anak itu pintar tetapi justru dia memiliki hati yang kosong. Ini yang berbahaya, mereka akan menjadi orang jenius yang gila dan tidak berperasaan. Ditambah lagi mereka tidak bisa bergaul dengan baik membuat mereka dijauhi dan dikucilkan pada pergaulan. Lambat laun mereka akan semakin mengasigkan diri dari dunia sosial dan tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Bukankah lebih baik jika mereka tidak hanya memiliki otak yang bagus tetapi juga memiliki hati yang terbuka dan penuh cinta?

Berikan Anak Kesempatan Bermain

Dengan beban yang berat, wajar kalau banyak siswa yang stres. Sebaiknya anak dibiarkan berkembang sesuai dengan umurnya dan jangan dibebani dengan pelajaran berlebihan. Anak-anak pada dasarnya harus diberikan kesempatan untuk bermain.

Papalia (1995) menyatakan dunia anak-anak adalah dunia bermain. Jadi, sudah sepantasnya anak diberikan waktu untuk bermain tanpa dibebani oleh les pelajaran tambahan yang membenani masa kecil mereka yang indah.

Secara alami, dunia anak adalah dunia bermain. Saat bermain mereka akan menemukan banyak hal megenai hidup. Mereka akan belajar soal organisasi, kerja sama tim, dan juga pentingnya kebersamaan bersama teman.

Papalia juga menyatakan bahwa anak berkembang dengan cara bermain. Bermain bersama teman membuat anak lebih berkembang dari sisi mental dan juga sosial.

Mereka akan berkembang dengan cara yang alami dan perkembangan mental mereka juga bagus. Tidak dipaksakan dewasa sebelum waktunya.

Selain itu, bermain juga melatih jiwa kepemimpinan dan juga melatih kepekaan mereka terhadap teman. Meskipun bermain terlihat seolah-olah hanya membuang waktu, tetapi juga secara tidak langsung melatih jiwa kepemimpinan mereka.

Mereka akan belajar untuk memimpin dalam kelompok kecil dan merasakan kenikmatan masa kecil mereka. Dengan bermain anak-anak juga melatih fisik mereka. Mereka tidak hanya terkungkung di dalam ruangan sempit bersama materi pelajaran. Wajah dan pikiran mereka akan lebih segar. Ide kreatif akan banyak bermunculan dan generasi penerus akan menjadi generasi yang lebih baik.

Sebagai sebuah contoh mungkin apa yang dilakukan Kepala Sekolah Kobayashi dalam Novel Toto-Chan dapat ditiru. Tuan Kobayashi tidak hanya memberikan materi pelajaran pada siswanya, tetapi juga memberikan kesempatan untuk bermain. Kepala sekolah Tomoe Gakuen yang dipimpin Tuan Kobayashi menyadari bahwa pada tahap pendidikan dasar anak harus lebih dibuat menggali potensi mereka tanpa paksaan. Mengalir secara alami dan menyenangkan. Hingga pada akhirnya seluruh siswa menemukan bakat mereka.

Dan yang lebih penting, karakter yang akan mereka bawa sampai dewasa tertanam dengan baik di sekolah dasar. Rasa empati, saling menghargai, rasa percaya diri yang tinggi, sekaligus kerendahan hati. Seluruhnya didapatkan dengan komposisi yang pas antara belajar dan bermain bersama dengan teman. Bukan hanya dengan banyak mengikuti les yang menambah beban pada masa kecil yang indah.

Semoga saja wajah pendidikan dasar di Indonesia bisa lebih manusiawi terhadap anak-anak saat ini. Semoga juga orang tua semakin menyadari bukan hanya nilai matematika atau nilai akademis yang paling penting pada pendidikan awal siswa.

Semua komponen kebahagaiaan anak-anak juga menjadi sebuah fondasi penting bagi pembentukan karakter mereka. Bermain bersama teman di luasnya dunia menjadi salah satu pembentuk karakter paling ampuh yang pernah ada. Mari berikan komposisi yang pas bagi perkembangan anak di Indonesia. Jangan hanya jejali mereka dengan doktrin-doktrin akademis yang membuat mereka stres. Buatlah mereka menyayangi kehidupan mereka yang berharga. (T)

 

Tags: lesPendidikansekolah dasar
Share297TweetSendShareSend
Previous Post

Ayo Ges, Nonton Barisan & Panjat Pinang, Lomba 17-an yang Tak Merdeka

Next Post

Badriyah: Kumpulan Kisah Perempuan Masa Kini

Putu Oka Suardana

Putu Oka Suardana

Tinggal di Denpasar. Sedang belajar untuk menulis dan menikmati hidup melalui tulisan.

Related Posts

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

Read moreDetails

Toa Lagi Toa Lagi

by Khairul A. El Maliky
February 23, 2026
0
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

PENDAHULUAN Saat bulan Ramadhan tiba setiap tahunnya, suasana keislaman menyelimuti hampir setiap sudut kehidupan di Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke,...

Read moreDetails

Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

by I Gede Joni Suhartawan
February 19, 2026
0
Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

SIDANG RDP (Rapat Dengar Pendapat) antara MKMK (Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi) yang digawangi I Dewa Gede Palguna dengan Komisi III...

Read moreDetails

Tanah Terlantar dan Krisis Ekologis: Mencari Arah Kebijakan Pertanahan Berkeadilan dengan Berlakunya PP 48/2025

by I Made Pria Dharsana
February 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah bukan sekadar objek hak atau sertifikat, tetapi ruang hidup bersama yang menentukan masa depan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis...

Read moreDetails

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

by I Made Pria Dharsana
January 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme...

Read moreDetails

Matinya Demokrasi Lokal: Kala Pemilihan Kepala Daerah Ditarik Kembali  ke DPRD

by I Made Pria Dharsana
January 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KETIKA hak memilih pemimpin daerah tidak lagi berada di tangan rakyat, di situlah demokrasi lokal mulai kehilangan maknanya. Wacana pengembalian...

Read moreDetails

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

by Ruben Cornelius Siagian
January 16, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

WACANA pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali mengemuka, dengan dalih klasik, yaitu sah secara konstitusi, lebih efisien, dan...

Read moreDetails

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
January 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

- kajian kritis atas berlakunya Omnibus Law PERKEMBANGAN globalisasi  adalah keniscayaan. Dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi menyebabkan mobilisasi orang...

Read moreDetails

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

by Ikrom F.
January 8, 2026
0
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Shinta Athaya Gadiza menulis opini berjudul Budaya Viral dan Krisis Kedalaman, Ketika Validasi Publik Menggeser Nalar Kritis yang dimuat di...

Read moreDetails

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

by I Made Pria Dharsana
January 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNAterhadap Status Hak Milik atas Tanah setelah berlakunyaKeputusan Mahkamah Konstitusi Nomor No. 69/PUU/XII/2015 dan...

Read moreDetails
Next Post

Badriyah: Kumpulan Kisah Perempuan Masa Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co