24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?

Putu Oka Suardana by Putu Oka Suardana
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

GELI  juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem “full day school” untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun swasta. Memangnya untuk apa anak-anak seharian di sekolah? Belajar?

Sebelum Bapak Menteri mengeluarkan statamen itu sesungguhnya sejak beberapa tahun belakangan ini banyak anak-anak sudah seharian belajar, meski bukan di sekolah. Mereka harus mengikuti les pelajaran tambahan, sejak pulang sekolah bahkan hingga malam hari. Betapa kasihan anak-anak itu?

Saya sempat ngobrol dengan adik sepupu yang masih duduk di kelas 5 SD. Saat itu di sore hari, dia terlihat sangat lelah, tas punggungnya terasa berat pada punggungnya yang kecil. Belum sampai satu jam dia di rumah dari tambahan jam belajar, katanya dia harus pergi lagi untuk les privat.

Wajahnya saat itu begitu lesu, padahal seharusnya pada usia itu adalah puncak dari masa penuh semangat dan keceriaan. Namun, yang nampak pada wajahnya adalah tatapan lesu dan setiap hari dia menjalani hari yang sama. Bahkan tidak hanya dia, hampir semua teman sebayanya juga mengalami hari yang sama. Belajar di sekolah, kelas tambahan, les privat, dan berbagai jenis les lainnya. Hari-hari yang membuat mereka kehilangan semangat masa anak-anak yang ceria dan penuh warna.

Saat itu juga muncul bayangan masa anak-anak yang telah saya lewati belasan tahun lalu. Masa itu adalah masa yang paling indah bagi saya. Bermain bersama dengan teman. Menangkap capung, mekorot layangan, memancing belut, mencuri mangga, dan diakhiri dengan berendam sepuasnya di sungai sembari memancing ikan kecil yang entah apa namanya. Sungguh masa kecil yang indah.

Jika anak-anak seharian di sekolah, mereka akan kehilangan masa-masa indah, masa mengenal lingkungan rumah, lingkungan desa, dan lingkungan tetangga. Mereka mungkin hapal bahasa latin padi, tapi mereka tak mengenal rupa padi dan kentalnya lumpur sawah.

Itu sudah terbukti ketika anak-anak harus berkutat dengan pelajaran sekolah dan pelajaran tambahan di bilik-bilik les. Les, belajar, belajar lagi, les lagi, dan begitu seterusnya. Sebagai seorang guru, saya melihat adanya beban yang belum semestinya ditanggung oleh anak usia sekolah dasar.  Usia tersebut seharusnya dilalui dengan riang dan penuh keceriaan. Biarkan anak-anak menikmati masa belia mereka, jangan bebani mereka dengan tambahan belajar apalagi harus seharian di sekolah.

Saya yakin, tidak hanya adik saya beserta teman-temannya yang mengikuti pelajaran tambahan di luar sekolah. Masih banyak lagi anak lain yang menghabiskan waktu usai sekolah mereka dengan mengikuti berbagai macam les. Les Matematika, bahasa Inggris, bahasa Jerman, Fisika, Hitung Cepat, sampai les membaca. Belajar-belajar dan belajar, menimbulkan tekanan yang luar biasa pada usia belia. Wajar jika wajah anak-anak tampak lebih tua, kacamata menggelayuti wajah kecil mereka. Beban begitu besar sudah bersandar di bahu mereka yang ringkih. Beban belajar yang berlebihan telah merenggut senyum kecil pada wajah anak-anak masa kini.

Belajar Seharian

Jika dihitung-hitung, anak-anak sudah belajar seharian. Hitungannya, waktu sekolah mencapai 7-8 jam, ditambah dengan les sekitar 5 jam. Sampai di rumah mereka tak sempat bermain karena harus mengerjakan pekerjaan rumah yang menumpuk dan bisa mencapai puluhan soal untuk masing-masing mata pelajaran. Tanpa disadari, kegiatan belajar yang sangat sibuk dapat mengakibatkan stres pada anak-anak. Anak-anak dengan mental yang masih labil dipaksa untuk terus belajar dan terus ditekan untuk  mendapatkan nilai yang bagus. Itupun standar yang ditetapkan adalah standar nilai yang begitu tinggi. Dengan ekspektasi yang demikian tinggi, wajar anak usia sekolah dasar begitu stres.

Dampaknya adalah mereka mulai ogah-ogahan untuk sekolah. Selalu merasa capek dan lemas saat beraktivitas. Bahkan mereka bisa menarik diri dari pergaulan sosial akibat rutinitas yang membosankan. Sangat disayangkan apabila pada anak-anak sudah mengalami stres dan depresi hanya karena beban belajar yang terlalu mencekik leher dan otak mereka.

Melihat beban belajar yang ada, muncul pertanyaan, apakah memang perlu anak-anak “dikarantina” di sekolah seharian. Saat ini les tambahan pun perlu dipertanyakan, apakah les merupakan kebutuhan mendasar siswa saat ini?

Jujur diakui les pelajaran yang berlebihan bagi siswa sekolah dasar itu belum penting dilaksanakan. Terlebih siswa harus les pelajaran yang sudah mereka dapat di sekolah. Mereka akan sangat bosan dengan rutinitas yang monoton dan tidak bervariasi. Rutinitas yang membosankan ini  akan semakin menambah tingkat stres siswa dalam belajar.

Paulo Freire, dalam bukunya, Pendidikan Kaum Tertindas, mengatakan saat ini sistem pendidikan di dunia memperlakukan siswa seperti bejana kosong. Siswa diisi dengan pengetahuan sehingga bejana mereka penuh. Guru bertanggung jawab mengisi mereka dengan pengetahuan dan pengetahuan sehingga penuh dan siap digunakan.

Freire juga mengatakan ini tidak ubahnya seperti pendidikan sistem bank (banking concept of education). Siswa dianggap sebagai sebuah deposito dan guru bertugas mengisi deposito itu yang berupa pengetahuan. Konsep pendidikan ini sangat ditentang oleh Freire yang menganggap ini hanya sebuah penindasan pendidikan dan perbudakan pada pendidikan. Namun, sistem inilah wajah pendidikan di Indonesia secara umum.

Siswa adalah bejana kosong yang dianggap selalu siap untuk diisi pengetahuan dan menjadi pintar. Ada anggapan jika anak belajar lebih sejak kecil akan menjadi lebih pintar. Selalu seperti itu sejak dulu kala.

Anak belajar terlalu banyak seakan seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi anak memang akan menjadi pintar. Akan tetapi, di sisi lain banyak menimbulkan efek domino yang bersifat negatif. Efek negatif ini seakan saling berkaitan akibat beban berat yang mereka terima. Selain stres dan depresi, dampak domino yang muncul adalah dari sisi psikologi.

Percuma jika nanti anak itu pintar tetapi justru dia memiliki hati yang kosong. Ini yang berbahaya, mereka akan menjadi orang jenius yang gila dan tidak berperasaan. Ditambah lagi mereka tidak bisa bergaul dengan baik membuat mereka dijauhi dan dikucilkan pada pergaulan. Lambat laun mereka akan semakin mengasigkan diri dari dunia sosial dan tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Bukankah lebih baik jika mereka tidak hanya memiliki otak yang bagus tetapi juga memiliki hati yang terbuka dan penuh cinta?

Berikan Anak Kesempatan Bermain

Dengan beban yang berat, wajar kalau banyak siswa yang stres. Sebaiknya anak dibiarkan berkembang sesuai dengan umurnya dan jangan dibebani dengan pelajaran berlebihan. Anak-anak pada dasarnya harus diberikan kesempatan untuk bermain.

Papalia (1995) menyatakan dunia anak-anak adalah dunia bermain. Jadi, sudah sepantasnya anak diberikan waktu untuk bermain tanpa dibebani oleh les pelajaran tambahan yang membenani masa kecil mereka yang indah.

Secara alami, dunia anak adalah dunia bermain. Saat bermain mereka akan menemukan banyak hal megenai hidup. Mereka akan belajar soal organisasi, kerja sama tim, dan juga pentingnya kebersamaan bersama teman.

Papalia juga menyatakan bahwa anak berkembang dengan cara bermain. Bermain bersama teman membuat anak lebih berkembang dari sisi mental dan juga sosial.

Mereka akan berkembang dengan cara yang alami dan perkembangan mental mereka juga bagus. Tidak dipaksakan dewasa sebelum waktunya.

Selain itu, bermain juga melatih jiwa kepemimpinan dan juga melatih kepekaan mereka terhadap teman. Meskipun bermain terlihat seolah-olah hanya membuang waktu, tetapi juga secara tidak langsung melatih jiwa kepemimpinan mereka.

Mereka akan belajar untuk memimpin dalam kelompok kecil dan merasakan kenikmatan masa kecil mereka. Dengan bermain anak-anak juga melatih fisik mereka. Mereka tidak hanya terkungkung di dalam ruangan sempit bersama materi pelajaran. Wajah dan pikiran mereka akan lebih segar. Ide kreatif akan banyak bermunculan dan generasi penerus akan menjadi generasi yang lebih baik.

Sebagai sebuah contoh mungkin apa yang dilakukan Kepala Sekolah Kobayashi dalam Novel Toto-Chan dapat ditiru. Tuan Kobayashi tidak hanya memberikan materi pelajaran pada siswanya, tetapi juga memberikan kesempatan untuk bermain. Kepala sekolah Tomoe Gakuen yang dipimpin Tuan Kobayashi menyadari bahwa pada tahap pendidikan dasar anak harus lebih dibuat menggali potensi mereka tanpa paksaan. Mengalir secara alami dan menyenangkan. Hingga pada akhirnya seluruh siswa menemukan bakat mereka.

Dan yang lebih penting, karakter yang akan mereka bawa sampai dewasa tertanam dengan baik di sekolah dasar. Rasa empati, saling menghargai, rasa percaya diri yang tinggi, sekaligus kerendahan hati. Seluruhnya didapatkan dengan komposisi yang pas antara belajar dan bermain bersama dengan teman. Bukan hanya dengan banyak mengikuti les yang menambah beban pada masa kecil yang indah.

Semoga saja wajah pendidikan dasar di Indonesia bisa lebih manusiawi terhadap anak-anak saat ini. Semoga juga orang tua semakin menyadari bukan hanya nilai matematika atau nilai akademis yang paling penting pada pendidikan awal siswa.

Semua komponen kebahagaiaan anak-anak juga menjadi sebuah fondasi penting bagi pembentukan karakter mereka. Bermain bersama teman di luasnya dunia menjadi salah satu pembentuk karakter paling ampuh yang pernah ada. Mari berikan komposisi yang pas bagi perkembangan anak di Indonesia. Jangan hanya jejali mereka dengan doktrin-doktrin akademis yang membuat mereka stres. Buatlah mereka menyayangi kehidupan mereka yang berharga. (T)

 

Tags: lesPendidikansekolah dasar
Share297TweetSendShareSend
Previous Post

Ayo Ges, Nonton Barisan & Panjat Pinang, Lomba 17-an yang Tak Merdeka

Next Post

Badriyah: Kumpulan Kisah Perempuan Masa Kini

Putu Oka Suardana

Putu Oka Suardana

Tinggal di Denpasar. Sedang belajar untuk menulis dan menikmati hidup melalui tulisan.

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post

Badriyah: Kumpulan Kisah Perempuan Masa Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co