16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?

Putu Oka Suardana by Putu Oka Suardana
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

GELI  juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem “full day school” untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun swasta. Memangnya untuk apa anak-anak seharian di sekolah? Belajar?

Sebelum Bapak Menteri mengeluarkan statamen itu sesungguhnya sejak beberapa tahun belakangan ini banyak anak-anak sudah seharian belajar, meski bukan di sekolah. Mereka harus mengikuti les pelajaran tambahan, sejak pulang sekolah bahkan hingga malam hari. Betapa kasihan anak-anak itu?

Saya sempat ngobrol dengan adik sepupu yang masih duduk di kelas 5 SD. Saat itu di sore hari, dia terlihat sangat lelah, tas punggungnya terasa berat pada punggungnya yang kecil. Belum sampai satu jam dia di rumah dari tambahan jam belajar, katanya dia harus pergi lagi untuk les privat.

Wajahnya saat itu begitu lesu, padahal seharusnya pada usia itu adalah puncak dari masa penuh semangat dan keceriaan. Namun, yang nampak pada wajahnya adalah tatapan lesu dan setiap hari dia menjalani hari yang sama. Bahkan tidak hanya dia, hampir semua teman sebayanya juga mengalami hari yang sama. Belajar di sekolah, kelas tambahan, les privat, dan berbagai jenis les lainnya. Hari-hari yang membuat mereka kehilangan semangat masa anak-anak yang ceria dan penuh warna.

Saat itu juga muncul bayangan masa anak-anak yang telah saya lewati belasan tahun lalu. Masa itu adalah masa yang paling indah bagi saya. Bermain bersama dengan teman. Menangkap capung, mekorot layangan, memancing belut, mencuri mangga, dan diakhiri dengan berendam sepuasnya di sungai sembari memancing ikan kecil yang entah apa namanya. Sungguh masa kecil yang indah.

Jika anak-anak seharian di sekolah, mereka akan kehilangan masa-masa indah, masa mengenal lingkungan rumah, lingkungan desa, dan lingkungan tetangga. Mereka mungkin hapal bahasa latin padi, tapi mereka tak mengenal rupa padi dan kentalnya lumpur sawah.

Itu sudah terbukti ketika anak-anak harus berkutat dengan pelajaran sekolah dan pelajaran tambahan di bilik-bilik les. Les, belajar, belajar lagi, les lagi, dan begitu seterusnya. Sebagai seorang guru, saya melihat adanya beban yang belum semestinya ditanggung oleh anak usia sekolah dasar.  Usia tersebut seharusnya dilalui dengan riang dan penuh keceriaan. Biarkan anak-anak menikmati masa belia mereka, jangan bebani mereka dengan tambahan belajar apalagi harus seharian di sekolah.

Saya yakin, tidak hanya adik saya beserta teman-temannya yang mengikuti pelajaran tambahan di luar sekolah. Masih banyak lagi anak lain yang menghabiskan waktu usai sekolah mereka dengan mengikuti berbagai macam les. Les Matematika, bahasa Inggris, bahasa Jerman, Fisika, Hitung Cepat, sampai les membaca. Belajar-belajar dan belajar, menimbulkan tekanan yang luar biasa pada usia belia. Wajar jika wajah anak-anak tampak lebih tua, kacamata menggelayuti wajah kecil mereka. Beban begitu besar sudah bersandar di bahu mereka yang ringkih. Beban belajar yang berlebihan telah merenggut senyum kecil pada wajah anak-anak masa kini.

Belajar Seharian

Jika dihitung-hitung, anak-anak sudah belajar seharian. Hitungannya, waktu sekolah mencapai 7-8 jam, ditambah dengan les sekitar 5 jam. Sampai di rumah mereka tak sempat bermain karena harus mengerjakan pekerjaan rumah yang menumpuk dan bisa mencapai puluhan soal untuk masing-masing mata pelajaran. Tanpa disadari, kegiatan belajar yang sangat sibuk dapat mengakibatkan stres pada anak-anak. Anak-anak dengan mental yang masih labil dipaksa untuk terus belajar dan terus ditekan untuk  mendapatkan nilai yang bagus. Itupun standar yang ditetapkan adalah standar nilai yang begitu tinggi. Dengan ekspektasi yang demikian tinggi, wajar anak usia sekolah dasar begitu stres.

Dampaknya adalah mereka mulai ogah-ogahan untuk sekolah. Selalu merasa capek dan lemas saat beraktivitas. Bahkan mereka bisa menarik diri dari pergaulan sosial akibat rutinitas yang membosankan. Sangat disayangkan apabila pada anak-anak sudah mengalami stres dan depresi hanya karena beban belajar yang terlalu mencekik leher dan otak mereka.

Melihat beban belajar yang ada, muncul pertanyaan, apakah memang perlu anak-anak “dikarantina” di sekolah seharian. Saat ini les tambahan pun perlu dipertanyakan, apakah les merupakan kebutuhan mendasar siswa saat ini?

Jujur diakui les pelajaran yang berlebihan bagi siswa sekolah dasar itu belum penting dilaksanakan. Terlebih siswa harus les pelajaran yang sudah mereka dapat di sekolah. Mereka akan sangat bosan dengan rutinitas yang monoton dan tidak bervariasi. Rutinitas yang membosankan ini  akan semakin menambah tingkat stres siswa dalam belajar.

Paulo Freire, dalam bukunya, Pendidikan Kaum Tertindas, mengatakan saat ini sistem pendidikan di dunia memperlakukan siswa seperti bejana kosong. Siswa diisi dengan pengetahuan sehingga bejana mereka penuh. Guru bertanggung jawab mengisi mereka dengan pengetahuan dan pengetahuan sehingga penuh dan siap digunakan.

Freire juga mengatakan ini tidak ubahnya seperti pendidikan sistem bank (banking concept of education). Siswa dianggap sebagai sebuah deposito dan guru bertugas mengisi deposito itu yang berupa pengetahuan. Konsep pendidikan ini sangat ditentang oleh Freire yang menganggap ini hanya sebuah penindasan pendidikan dan perbudakan pada pendidikan. Namun, sistem inilah wajah pendidikan di Indonesia secara umum.

Siswa adalah bejana kosong yang dianggap selalu siap untuk diisi pengetahuan dan menjadi pintar. Ada anggapan jika anak belajar lebih sejak kecil akan menjadi lebih pintar. Selalu seperti itu sejak dulu kala.

Anak belajar terlalu banyak seakan seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi anak memang akan menjadi pintar. Akan tetapi, di sisi lain banyak menimbulkan efek domino yang bersifat negatif. Efek negatif ini seakan saling berkaitan akibat beban berat yang mereka terima. Selain stres dan depresi, dampak domino yang muncul adalah dari sisi psikologi.

Percuma jika nanti anak itu pintar tetapi justru dia memiliki hati yang kosong. Ini yang berbahaya, mereka akan menjadi orang jenius yang gila dan tidak berperasaan. Ditambah lagi mereka tidak bisa bergaul dengan baik membuat mereka dijauhi dan dikucilkan pada pergaulan. Lambat laun mereka akan semakin mengasigkan diri dari dunia sosial dan tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Bukankah lebih baik jika mereka tidak hanya memiliki otak yang bagus tetapi juga memiliki hati yang terbuka dan penuh cinta?

Berikan Anak Kesempatan Bermain

Dengan beban yang berat, wajar kalau banyak siswa yang stres. Sebaiknya anak dibiarkan berkembang sesuai dengan umurnya dan jangan dibebani dengan pelajaran berlebihan. Anak-anak pada dasarnya harus diberikan kesempatan untuk bermain.

Papalia (1995) menyatakan dunia anak-anak adalah dunia bermain. Jadi, sudah sepantasnya anak diberikan waktu untuk bermain tanpa dibebani oleh les pelajaran tambahan yang membenani masa kecil mereka yang indah.

Secara alami, dunia anak adalah dunia bermain. Saat bermain mereka akan menemukan banyak hal megenai hidup. Mereka akan belajar soal organisasi, kerja sama tim, dan juga pentingnya kebersamaan bersama teman.

Papalia juga menyatakan bahwa anak berkembang dengan cara bermain. Bermain bersama teman membuat anak lebih berkembang dari sisi mental dan juga sosial.

Mereka akan berkembang dengan cara yang alami dan perkembangan mental mereka juga bagus. Tidak dipaksakan dewasa sebelum waktunya.

Selain itu, bermain juga melatih jiwa kepemimpinan dan juga melatih kepekaan mereka terhadap teman. Meskipun bermain terlihat seolah-olah hanya membuang waktu, tetapi juga secara tidak langsung melatih jiwa kepemimpinan mereka.

Mereka akan belajar untuk memimpin dalam kelompok kecil dan merasakan kenikmatan masa kecil mereka. Dengan bermain anak-anak juga melatih fisik mereka. Mereka tidak hanya terkungkung di dalam ruangan sempit bersama materi pelajaran. Wajah dan pikiran mereka akan lebih segar. Ide kreatif akan banyak bermunculan dan generasi penerus akan menjadi generasi yang lebih baik.

Sebagai sebuah contoh mungkin apa yang dilakukan Kepala Sekolah Kobayashi dalam Novel Toto-Chan dapat ditiru. Tuan Kobayashi tidak hanya memberikan materi pelajaran pada siswanya, tetapi juga memberikan kesempatan untuk bermain. Kepala sekolah Tomoe Gakuen yang dipimpin Tuan Kobayashi menyadari bahwa pada tahap pendidikan dasar anak harus lebih dibuat menggali potensi mereka tanpa paksaan. Mengalir secara alami dan menyenangkan. Hingga pada akhirnya seluruh siswa menemukan bakat mereka.

Dan yang lebih penting, karakter yang akan mereka bawa sampai dewasa tertanam dengan baik di sekolah dasar. Rasa empati, saling menghargai, rasa percaya diri yang tinggi, sekaligus kerendahan hati. Seluruhnya didapatkan dengan komposisi yang pas antara belajar dan bermain bersama dengan teman. Bukan hanya dengan banyak mengikuti les yang menambah beban pada masa kecil yang indah.

Semoga saja wajah pendidikan dasar di Indonesia bisa lebih manusiawi terhadap anak-anak saat ini. Semoga juga orang tua semakin menyadari bukan hanya nilai matematika atau nilai akademis yang paling penting pada pendidikan awal siswa.

Semua komponen kebahagaiaan anak-anak juga menjadi sebuah fondasi penting bagi pembentukan karakter mereka. Bermain bersama teman di luasnya dunia menjadi salah satu pembentuk karakter paling ampuh yang pernah ada. Mari berikan komposisi yang pas bagi perkembangan anak di Indonesia. Jangan hanya jejali mereka dengan doktrin-doktrin akademis yang membuat mereka stres. Buatlah mereka menyayangi kehidupan mereka yang berharga. (T)

 

Tags: lesPendidikansekolah dasar
Share297TweetSendShareSend
Previous Post

Ayo Ges, Nonton Barisan & Panjat Pinang, Lomba 17-an yang Tak Merdeka

Next Post

Badriyah: Kumpulan Kisah Perempuan Masa Kini

Putu Oka Suardana

Putu Oka Suardana

Tinggal di Denpasar. Sedang belajar untuk menulis dan menikmati hidup melalui tulisan.

Related Posts

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails
Next Post

Badriyah: Kumpulan Kisah Perempuan Masa Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co