22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayo Ges, Nonton Barisan & Panjat Pinang, Lomba 17-an yang Tak Merdeka

Emboeng Arishinta Poetra by Emboeng Arishinta Poetra
February 2, 2018
in Esai

Foto: Istimewa

HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta.

Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Pancasila yang merupakan lambang dan dasar negara kita. Bicara soal negara, saat ini kita tengah menginjak Agustus. Bulan ini negara kita memeringati Hari Kemerdekaan.

Agustus ini tentu bulan bersejarah bagi kita semua. Banyak sekali peristiwa-peristiwa penting terjadi di bulan yang penuh berkah ini. 71 tahun yang lalu, negara kita telah memasuki pintu kebebasan dari negara-negara penjajah. Tentu sangat senang rasanya hidup dalam kebebasan, maka untuk memeringati Hari Kemerdekaan ini dilakukaan berbagai macam lomba yang bersifat sangat menghibur, misalnya lomba gerak jalan atau dulu biasa disebut barisan. Ada juga lomba makan kerupuk, lomba lari karung, dan lomba panjat pinang.

Namun di usia yang ke-71 ini apakah lomba-lomba berkaitan dengan Hari Kemerdekaan ini masih penting untuk dilaksanakan?

Sudah  saatnya gue sebagai mantan mahasiswa yang nasionalis dan anak bangsa yang bermulut besar (maaf, maksud gue, berjiwa besar) akan membahas hal yang amat sangat tidak penting sekali ini. Gue berharap segenap jajaran pemerintahan, presiden, kementerian, anggota legeslatif, PNS, PGRI, masyarakat binasa (maksud gue, biasa), mahasiswa, aliansi MLM yg berdaulat, dan seluruh warga Negara Indonesia yang budiman.

Semoga semua dapat membaca curhatan gue ini, dan semoga pandangan gue ini dapat diterima dan diberikan tempat indah di sisi Tuhan atau minimal dapat menyadarkan orang-orang dari zinah dan dosa yang berkepanjangan. Sebelum gue mulai curhat ini, marilah berdoa sesuai dengan agama dan keinginan masing-masing, berdoa mulai! …. sesali! (Maaf maksud gue, selesai!)

Baiklah ges, lomba 17-an yang pertama yang gue bahas adalah lomba gerak jalan. Lomba gerak jalan ini adalah lomba baris-berbaris yang biasanya terbentuk dari 14 orang yang berjejer rapi dan 1 orang pemimpin barisan yang disebut danton. Keseragaman adalah inti penilaian dari lomba ini, semua orang dikotakkan dalam gerak yang sama, langkah yang seragam, tinggi dan fisik yang sama, serta dalam irama yang sama.

Sangat tidak merdeka, langkah saja harus seragam. Kiri kata danton, harus semua kiri, kanan harus kanan semuanya. Ayunan tangan pun diatur seberapa tinggi dan seberapa rendah ayunannya. Ironisnya, kadang mereka sambil nyanyi  “Maju Tak Gentar”. Bagaimana bisa berlari  maju tak gentar menyerang penjajah kalau langkah kaki harus seragam?

Belum lagi jika pesertanya adalah siswa yang seharusnya dapat mengekspresikan dirinya masing-masing, masa-masa emas untuk menemukan jati diri, kemudian sirna hanya karena harus mendengarkan instruksi pimpinan barisan atau kemauan guru-guru atau pelatih-pelatihnya, sungguh terlalu.

Setiap hari siswa harus belajar jalan, meninggalkan pelajaran di kelas dan waktu-waktu bermanin dengan temannya. Inilah penyebab negara Indonesia ini sulit maju. Negara lain sudah berlomba membuat helikopter dan kapal terbang sedang kita masih sibuk belajar jalan.

Belum lagi dampaknya dalam kehidupan, ketika latihan gerak jalan atau saat pelaksanaan lomba, jalanan menjadi macet, mobil-mobil pun berserakan, terlebih jika lomba ini dilaksanakan di kota besar semacam Jakarta, maka ini akan menjadi perlawanan terhadap program pemerintah yang ingin mengurai kemacetan di jalan umum.

Selain itu, dampak paling sederhana namun cukup menggelisahkan dalam pelaksanaan lomba ini adalah ibu-ibu rumah tangga jadi lupa masak karena harus menonton anak-anaknya yang sedang lomba berjalan. Ibu rumah tangga tidak memasak tentulah hal sepele, namun sebenarnya hal-hal inilah yang dapat memicu tindakan kriminal, misalnya tindak kekerasan rumah tangga.

Selain itu, tindakan kriminal yang mungkin terjadi saat lomba gerak jalan adalah kasus pencurian yang dikarenakan rumah-rumah yang menjadi sepi saat ditinggalkan menonton lomba jalan yang sesungguhnya tidak penting ini, Ges. Nah, jadi begitu ges pandangan gue terhadap lomba gerak jalan untuk mengisi kemerdekaan yang telah menua ini. Gue tidak memaksa agar pendapat kita jadi sama karena gue bukan danton pasukan gerak jalan, ges.

Berikutnya dalam kegiatan 17-an ada lomba makan kerupuk dan lomba lari karung. Dalam lomba ini gue dapat melihat sebuah ketergesa-gesahan, antistrategi, dan wajah muram republik ini, ges. Dalam lomba makan kerupuk misalnya, gue jadi sedih melihat anak-anak yang tumbuh dalam kelaparan dan kerakusan. Gue sebagai orang sok sial (maaf, maksud gue, sosial) jadi miris dan menangis, ada yang dengan lahap makan kerupuk dan ada yang sedang menikmati kelaparan orang lain.

Inilah gambaran negara kita, kebijakan-kebijakan orang gede yang malah tidak bepihak untuk masyarakat kecil. Masak rakyat diberi krupuk, tapi krupuknya digantung tinggi-tinggi.

Kemudian lomba lari karung, ini benar-benar lomba yang antistrategi, di mana hidup yang sungguh sudah susah malah dibuat tambah susah. Lomba ini seakan-akan mengolok-olok jasa perjuangan pahlawan-pahlawan yang terdahulu. Pahlawan-pahlawan kita dulu begitu kukuh untuk tidak berlari meninggalkan medan perang, terlebih berlari menggunakan karung. Beliau-beliau itu menyerbu pasukan penjajah dengan sangat berani. Pantang mundur, apalagi bersembunyi di balik karung,

Ges. Sedangkan lomba lari karung ini, gue lihat malah seperti orang yang lari dari kenyataan atau seperti orang yang lari dikejar-kejar hutang dengan bunga menetap yang tinggi, terlebih hutang tersebut merupakan ciptaan dari bank-bank milik negara. Sungguh menakjubkan sekali negara ini, ges.

Kemudian lomba 17-an yang menjadi gambaran buruknya moral negeri ini yaitu lomba panjat pinang. Lihatlah betapa sulitnya mendapatkan hadiah-hadiah yang tergantung tinggi di pohon pinang yang dilumuri lemak sapi/oli bekas.

Disinilah gue dapat lihat runtuhnya sebuah keiklasan dan rasa saling memberi. Di mana keiklasan itu? Jika ingin memberikkan sesuatu kepada orang, mengapa harus mempersulitnya. Berikanlah dengan ikhlas, ges. Jangan main-mainkan keinginan orang dong.

Misalkan jika ada beasiswa untuk siswa dan mahasiswa, ya jangan persulit syarat-nya. Atau jika ada jalan untuk memberikan sertifikasi kepada guru, ya jangan terlalu banyak disyaratkan yang aneh-aneh berkedok administrasi, kan kasihan anak-anak bangsa jadi terbengkalai hanya karena guru-gurunya sibuk mengejar sertifikasi untuk beli mobil atau sekadar merehab rumah lama menjadi model minimalis.

Ya, itulah beberapa jenis lomba 17-an yang sangat ingin gue kritisi, ges. Jadi menurut gue Indonesia ini merupakan negara yang unik dan kaya akan lomba-lomba rakyat yang tidak penting dan justru menunjukkan ketidakmerdekaan.

Yang bikin miris, penonton, tentu juga para pejabat di panggung kehormatan, tertawa bahkan sampai terpingkal melihat para peserta yang “menderita” saat berjuang mendapatkan selembar krupuk, atau “menderita” ketika naik-turun pada sebatang pohon pinang untuk mendapatkan hadiah. Banyak dari kita yang memang sangat suka melihat orang lain menderita.

Konon, dari cerita yang gue dapatkan dari orang-orang tua, lomba panjat pinang itu sudah dilakukan pada zaman pemerintahan kolonial Belanda.  Lomba itu digelar semata-mata untuk menghibur para tuan dan nyonya pejabat kolonial yang saat lomba biasanya duduk di panggung kehormatan. Para pejabat itu tertawa-tawa dan tampak senang melihat rakyat di negeri jajahannya berebut naik pohon pinang yang licin hanya untuk mendapatkan hadiah.

Kini, lomba itu dilanjutkan terus, dan seperti para pejabat kolonial, pejabat dari negeri kita sendiri sering juga ikut menyaksikan dari panggung kehormatan yang tinggi. Dan tak malu untuk tertawa-tawa.

Semoga cara pandang gue tidak merubah apapun, dan semoga tunas-tunas bangsa senantiasa tumbuh dengan keceriaan serta kasih sayang yang tidak kurang. Hormatilah gurumu, sayangi teman, karena itulah tandanya murid yang budiman.

Isilah kemerdekaan ini dengan kegiatan yang positif misalnya dengan makan bersama-sama keluarga, kelurahan, kecamatan. Makanlah kerupuk dengan baik dan benar, jangan digantung, karena krupuk adalah karya asli anak bangsa yang sudah sepatutnya dihargai. Maka cobalah makan kerupuk ditemani dengan sate kambing atau minimal ditemani soto babat.

Sekian saja curhatan gue, ges. Selamat meniti hari-hari yang kian menua ini dan jangan lupa makan kerupuk. Semoga nafas ini tak hanya berakhir sampai di sini, agar selalu dapat menulis hal-hal tidak penting lainnya sembari makan kerupuk. Gue seorang mantan mahasiswa yang sangat nasionalis pamit undur dari hadapan ges ges semua, sampai jumpa!

Salam Olah Raga.

Tags: kemerdekaanlomba rakyatolahraga
Share261TweetSendShareSend
Previous Post

“Rare Bali Festival”: Ekspresi Anak di Ruang Non Akademik

Next Post

“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?

Emboeng Arishinta Poetra

Emboeng Arishinta Poetra

Mantan mahasiswa yang kini jadi mantan guru. Pernah menulis puisi dan menang di tingkat kampus

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post

“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co