2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayo Ges, Nonton Barisan & Panjat Pinang, Lomba 17-an yang Tak Merdeka

Emboeng Arishinta Poetra by Emboeng Arishinta Poetra
February 2, 2018
in Esai

Foto: Istimewa

HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta.

Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Pancasila yang merupakan lambang dan dasar negara kita. Bicara soal negara, saat ini kita tengah menginjak Agustus. Bulan ini negara kita memeringati Hari Kemerdekaan.

Agustus ini tentu bulan bersejarah bagi kita semua. Banyak sekali peristiwa-peristiwa penting terjadi di bulan yang penuh berkah ini. 71 tahun yang lalu, negara kita telah memasuki pintu kebebasan dari negara-negara penjajah. Tentu sangat senang rasanya hidup dalam kebebasan, maka untuk memeringati Hari Kemerdekaan ini dilakukaan berbagai macam lomba yang bersifat sangat menghibur, misalnya lomba gerak jalan atau dulu biasa disebut barisan. Ada juga lomba makan kerupuk, lomba lari karung, dan lomba panjat pinang.

Namun di usia yang ke-71 ini apakah lomba-lomba berkaitan dengan Hari Kemerdekaan ini masih penting untuk dilaksanakan?

Sudah  saatnya gue sebagai mantan mahasiswa yang nasionalis dan anak bangsa yang bermulut besar (maaf, maksud gue, berjiwa besar) akan membahas hal yang amat sangat tidak penting sekali ini. Gue berharap segenap jajaran pemerintahan, presiden, kementerian, anggota legeslatif, PNS, PGRI, masyarakat binasa (maksud gue, biasa), mahasiswa, aliansi MLM yg berdaulat, dan seluruh warga Negara Indonesia yang budiman.

Semoga semua dapat membaca curhatan gue ini, dan semoga pandangan gue ini dapat diterima dan diberikan tempat indah di sisi Tuhan atau minimal dapat menyadarkan orang-orang dari zinah dan dosa yang berkepanjangan. Sebelum gue mulai curhat ini, marilah berdoa sesuai dengan agama dan keinginan masing-masing, berdoa mulai! …. sesali! (Maaf maksud gue, selesai!)

Baiklah ges, lomba 17-an yang pertama yang gue bahas adalah lomba gerak jalan. Lomba gerak jalan ini adalah lomba baris-berbaris yang biasanya terbentuk dari 14 orang yang berjejer rapi dan 1 orang pemimpin barisan yang disebut danton. Keseragaman adalah inti penilaian dari lomba ini, semua orang dikotakkan dalam gerak yang sama, langkah yang seragam, tinggi dan fisik yang sama, serta dalam irama yang sama.

Sangat tidak merdeka, langkah saja harus seragam. Kiri kata danton, harus semua kiri, kanan harus kanan semuanya. Ayunan tangan pun diatur seberapa tinggi dan seberapa rendah ayunannya. Ironisnya, kadang mereka sambil nyanyi  “Maju Tak Gentar”. Bagaimana bisa berlari  maju tak gentar menyerang penjajah kalau langkah kaki harus seragam?

Belum lagi jika pesertanya adalah siswa yang seharusnya dapat mengekspresikan dirinya masing-masing, masa-masa emas untuk menemukan jati diri, kemudian sirna hanya karena harus mendengarkan instruksi pimpinan barisan atau kemauan guru-guru atau pelatih-pelatihnya, sungguh terlalu.

Setiap hari siswa harus belajar jalan, meninggalkan pelajaran di kelas dan waktu-waktu bermanin dengan temannya. Inilah penyebab negara Indonesia ini sulit maju. Negara lain sudah berlomba membuat helikopter dan kapal terbang sedang kita masih sibuk belajar jalan.

Belum lagi dampaknya dalam kehidupan, ketika latihan gerak jalan atau saat pelaksanaan lomba, jalanan menjadi macet, mobil-mobil pun berserakan, terlebih jika lomba ini dilaksanakan di kota besar semacam Jakarta, maka ini akan menjadi perlawanan terhadap program pemerintah yang ingin mengurai kemacetan di jalan umum.

Selain itu, dampak paling sederhana namun cukup menggelisahkan dalam pelaksanaan lomba ini adalah ibu-ibu rumah tangga jadi lupa masak karena harus menonton anak-anaknya yang sedang lomba berjalan. Ibu rumah tangga tidak memasak tentulah hal sepele, namun sebenarnya hal-hal inilah yang dapat memicu tindakan kriminal, misalnya tindak kekerasan rumah tangga.

Selain itu, tindakan kriminal yang mungkin terjadi saat lomba gerak jalan adalah kasus pencurian yang dikarenakan rumah-rumah yang menjadi sepi saat ditinggalkan menonton lomba jalan yang sesungguhnya tidak penting ini, Ges. Nah, jadi begitu ges pandangan gue terhadap lomba gerak jalan untuk mengisi kemerdekaan yang telah menua ini. Gue tidak memaksa agar pendapat kita jadi sama karena gue bukan danton pasukan gerak jalan, ges.

Berikutnya dalam kegiatan 17-an ada lomba makan kerupuk dan lomba lari karung. Dalam lomba ini gue dapat melihat sebuah ketergesa-gesahan, antistrategi, dan wajah muram republik ini, ges. Dalam lomba makan kerupuk misalnya, gue jadi sedih melihat anak-anak yang tumbuh dalam kelaparan dan kerakusan. Gue sebagai orang sok sial (maaf, maksud gue, sosial) jadi miris dan menangis, ada yang dengan lahap makan kerupuk dan ada yang sedang menikmati kelaparan orang lain.

Inilah gambaran negara kita, kebijakan-kebijakan orang gede yang malah tidak bepihak untuk masyarakat kecil. Masak rakyat diberi krupuk, tapi krupuknya digantung tinggi-tinggi.

Kemudian lomba lari karung, ini benar-benar lomba yang antistrategi, di mana hidup yang sungguh sudah susah malah dibuat tambah susah. Lomba ini seakan-akan mengolok-olok jasa perjuangan pahlawan-pahlawan yang terdahulu. Pahlawan-pahlawan kita dulu begitu kukuh untuk tidak berlari meninggalkan medan perang, terlebih berlari menggunakan karung. Beliau-beliau itu menyerbu pasukan penjajah dengan sangat berani. Pantang mundur, apalagi bersembunyi di balik karung,

Ges. Sedangkan lomba lari karung ini, gue lihat malah seperti orang yang lari dari kenyataan atau seperti orang yang lari dikejar-kejar hutang dengan bunga menetap yang tinggi, terlebih hutang tersebut merupakan ciptaan dari bank-bank milik negara. Sungguh menakjubkan sekali negara ini, ges.

Kemudian lomba 17-an yang menjadi gambaran buruknya moral negeri ini yaitu lomba panjat pinang. Lihatlah betapa sulitnya mendapatkan hadiah-hadiah yang tergantung tinggi di pohon pinang yang dilumuri lemak sapi/oli bekas.

Disinilah gue dapat lihat runtuhnya sebuah keiklasan dan rasa saling memberi. Di mana keiklasan itu? Jika ingin memberikkan sesuatu kepada orang, mengapa harus mempersulitnya. Berikanlah dengan ikhlas, ges. Jangan main-mainkan keinginan orang dong.

Misalkan jika ada beasiswa untuk siswa dan mahasiswa, ya jangan persulit syarat-nya. Atau jika ada jalan untuk memberikan sertifikasi kepada guru, ya jangan terlalu banyak disyaratkan yang aneh-aneh berkedok administrasi, kan kasihan anak-anak bangsa jadi terbengkalai hanya karena guru-gurunya sibuk mengejar sertifikasi untuk beli mobil atau sekadar merehab rumah lama menjadi model minimalis.

Ya, itulah beberapa jenis lomba 17-an yang sangat ingin gue kritisi, ges. Jadi menurut gue Indonesia ini merupakan negara yang unik dan kaya akan lomba-lomba rakyat yang tidak penting dan justru menunjukkan ketidakmerdekaan.

Yang bikin miris, penonton, tentu juga para pejabat di panggung kehormatan, tertawa bahkan sampai terpingkal melihat para peserta yang “menderita” saat berjuang mendapatkan selembar krupuk, atau “menderita” ketika naik-turun pada sebatang pohon pinang untuk mendapatkan hadiah. Banyak dari kita yang memang sangat suka melihat orang lain menderita.

Konon, dari cerita yang gue dapatkan dari orang-orang tua, lomba panjat pinang itu sudah dilakukan pada zaman pemerintahan kolonial Belanda.  Lomba itu digelar semata-mata untuk menghibur para tuan dan nyonya pejabat kolonial yang saat lomba biasanya duduk di panggung kehormatan. Para pejabat itu tertawa-tawa dan tampak senang melihat rakyat di negeri jajahannya berebut naik pohon pinang yang licin hanya untuk mendapatkan hadiah.

Kini, lomba itu dilanjutkan terus, dan seperti para pejabat kolonial, pejabat dari negeri kita sendiri sering juga ikut menyaksikan dari panggung kehormatan yang tinggi. Dan tak malu untuk tertawa-tawa.

Semoga cara pandang gue tidak merubah apapun, dan semoga tunas-tunas bangsa senantiasa tumbuh dengan keceriaan serta kasih sayang yang tidak kurang. Hormatilah gurumu, sayangi teman, karena itulah tandanya murid yang budiman.

Isilah kemerdekaan ini dengan kegiatan yang positif misalnya dengan makan bersama-sama keluarga, kelurahan, kecamatan. Makanlah kerupuk dengan baik dan benar, jangan digantung, karena krupuk adalah karya asli anak bangsa yang sudah sepatutnya dihargai. Maka cobalah makan kerupuk ditemani dengan sate kambing atau minimal ditemani soto babat.

Sekian saja curhatan gue, ges. Selamat meniti hari-hari yang kian menua ini dan jangan lupa makan kerupuk. Semoga nafas ini tak hanya berakhir sampai di sini, agar selalu dapat menulis hal-hal tidak penting lainnya sembari makan kerupuk. Gue seorang mantan mahasiswa yang sangat nasionalis pamit undur dari hadapan ges ges semua, sampai jumpa!

Salam Olah Raga.

Tags: kemerdekaanlomba rakyatolahraga
Share261TweetSendShareSend
Previous Post

“Rare Bali Festival”: Ekspresi Anak di Ruang Non Akademik

Next Post

“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?

Emboeng Arishinta Poetra

Emboeng Arishinta Poetra

Mantan mahasiswa yang kini jadi mantan guru. Pernah menulis puisi dan menang di tingkat kampus

Related Posts

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails

Memang Pasar Malam

by Angga Wijaya
May 30, 2026
0
Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

Read moreDetails

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

Read moreDetails

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
0
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

Read moreDetails
Next Post

“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif
Esai

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026
Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co