13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayo Ges, Nonton Barisan & Panjat Pinang, Lomba 17-an yang Tak Merdeka

Emboeng Arishinta Poetra by Emboeng Arishinta Poetra
February 2, 2018
in Esai

Foto: Istimewa

HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta.

Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Pancasila yang merupakan lambang dan dasar negara kita. Bicara soal negara, saat ini kita tengah menginjak Agustus. Bulan ini negara kita memeringati Hari Kemerdekaan.

Agustus ini tentu bulan bersejarah bagi kita semua. Banyak sekali peristiwa-peristiwa penting terjadi di bulan yang penuh berkah ini. 71 tahun yang lalu, negara kita telah memasuki pintu kebebasan dari negara-negara penjajah. Tentu sangat senang rasanya hidup dalam kebebasan, maka untuk memeringati Hari Kemerdekaan ini dilakukaan berbagai macam lomba yang bersifat sangat menghibur, misalnya lomba gerak jalan atau dulu biasa disebut barisan. Ada juga lomba makan kerupuk, lomba lari karung, dan lomba panjat pinang.

Namun di usia yang ke-71 ini apakah lomba-lomba berkaitan dengan Hari Kemerdekaan ini masih penting untuk dilaksanakan?

Sudah  saatnya gue sebagai mantan mahasiswa yang nasionalis dan anak bangsa yang bermulut besar (maaf, maksud gue, berjiwa besar) akan membahas hal yang amat sangat tidak penting sekali ini. Gue berharap segenap jajaran pemerintahan, presiden, kementerian, anggota legeslatif, PNS, PGRI, masyarakat binasa (maksud gue, biasa), mahasiswa, aliansi MLM yg berdaulat, dan seluruh warga Negara Indonesia yang budiman.

Semoga semua dapat membaca curhatan gue ini, dan semoga pandangan gue ini dapat diterima dan diberikan tempat indah di sisi Tuhan atau minimal dapat menyadarkan orang-orang dari zinah dan dosa yang berkepanjangan. Sebelum gue mulai curhat ini, marilah berdoa sesuai dengan agama dan keinginan masing-masing, berdoa mulai! …. sesali! (Maaf maksud gue, selesai!)

Baiklah ges, lomba 17-an yang pertama yang gue bahas adalah lomba gerak jalan. Lomba gerak jalan ini adalah lomba baris-berbaris yang biasanya terbentuk dari 14 orang yang berjejer rapi dan 1 orang pemimpin barisan yang disebut danton. Keseragaman adalah inti penilaian dari lomba ini, semua orang dikotakkan dalam gerak yang sama, langkah yang seragam, tinggi dan fisik yang sama, serta dalam irama yang sama.

Sangat tidak merdeka, langkah saja harus seragam. Kiri kata danton, harus semua kiri, kanan harus kanan semuanya. Ayunan tangan pun diatur seberapa tinggi dan seberapa rendah ayunannya. Ironisnya, kadang mereka sambil nyanyi  “Maju Tak Gentar”. Bagaimana bisa berlari  maju tak gentar menyerang penjajah kalau langkah kaki harus seragam?

Belum lagi jika pesertanya adalah siswa yang seharusnya dapat mengekspresikan dirinya masing-masing, masa-masa emas untuk menemukan jati diri, kemudian sirna hanya karena harus mendengarkan instruksi pimpinan barisan atau kemauan guru-guru atau pelatih-pelatihnya, sungguh terlalu.

Setiap hari siswa harus belajar jalan, meninggalkan pelajaran di kelas dan waktu-waktu bermanin dengan temannya. Inilah penyebab negara Indonesia ini sulit maju. Negara lain sudah berlomba membuat helikopter dan kapal terbang sedang kita masih sibuk belajar jalan.

Belum lagi dampaknya dalam kehidupan, ketika latihan gerak jalan atau saat pelaksanaan lomba, jalanan menjadi macet, mobil-mobil pun berserakan, terlebih jika lomba ini dilaksanakan di kota besar semacam Jakarta, maka ini akan menjadi perlawanan terhadap program pemerintah yang ingin mengurai kemacetan di jalan umum.

Selain itu, dampak paling sederhana namun cukup menggelisahkan dalam pelaksanaan lomba ini adalah ibu-ibu rumah tangga jadi lupa masak karena harus menonton anak-anaknya yang sedang lomba berjalan. Ibu rumah tangga tidak memasak tentulah hal sepele, namun sebenarnya hal-hal inilah yang dapat memicu tindakan kriminal, misalnya tindak kekerasan rumah tangga.

Selain itu, tindakan kriminal yang mungkin terjadi saat lomba gerak jalan adalah kasus pencurian yang dikarenakan rumah-rumah yang menjadi sepi saat ditinggalkan menonton lomba jalan yang sesungguhnya tidak penting ini, Ges. Nah, jadi begitu ges pandangan gue terhadap lomba gerak jalan untuk mengisi kemerdekaan yang telah menua ini. Gue tidak memaksa agar pendapat kita jadi sama karena gue bukan danton pasukan gerak jalan, ges.

Berikutnya dalam kegiatan 17-an ada lomba makan kerupuk dan lomba lari karung. Dalam lomba ini gue dapat melihat sebuah ketergesa-gesahan, antistrategi, dan wajah muram republik ini, ges. Dalam lomba makan kerupuk misalnya, gue jadi sedih melihat anak-anak yang tumbuh dalam kelaparan dan kerakusan. Gue sebagai orang sok sial (maaf, maksud gue, sosial) jadi miris dan menangis, ada yang dengan lahap makan kerupuk dan ada yang sedang menikmati kelaparan orang lain.

Inilah gambaran negara kita, kebijakan-kebijakan orang gede yang malah tidak bepihak untuk masyarakat kecil. Masak rakyat diberi krupuk, tapi krupuknya digantung tinggi-tinggi.

Kemudian lomba lari karung, ini benar-benar lomba yang antistrategi, di mana hidup yang sungguh sudah susah malah dibuat tambah susah. Lomba ini seakan-akan mengolok-olok jasa perjuangan pahlawan-pahlawan yang terdahulu. Pahlawan-pahlawan kita dulu begitu kukuh untuk tidak berlari meninggalkan medan perang, terlebih berlari menggunakan karung. Beliau-beliau itu menyerbu pasukan penjajah dengan sangat berani. Pantang mundur, apalagi bersembunyi di balik karung,

Ges. Sedangkan lomba lari karung ini, gue lihat malah seperti orang yang lari dari kenyataan atau seperti orang yang lari dikejar-kejar hutang dengan bunga menetap yang tinggi, terlebih hutang tersebut merupakan ciptaan dari bank-bank milik negara. Sungguh menakjubkan sekali negara ini, ges.

Kemudian lomba 17-an yang menjadi gambaran buruknya moral negeri ini yaitu lomba panjat pinang. Lihatlah betapa sulitnya mendapatkan hadiah-hadiah yang tergantung tinggi di pohon pinang yang dilumuri lemak sapi/oli bekas.

Disinilah gue dapat lihat runtuhnya sebuah keiklasan dan rasa saling memberi. Di mana keiklasan itu? Jika ingin memberikkan sesuatu kepada orang, mengapa harus mempersulitnya. Berikanlah dengan ikhlas, ges. Jangan main-mainkan keinginan orang dong.

Misalkan jika ada beasiswa untuk siswa dan mahasiswa, ya jangan persulit syarat-nya. Atau jika ada jalan untuk memberikan sertifikasi kepada guru, ya jangan terlalu banyak disyaratkan yang aneh-aneh berkedok administrasi, kan kasihan anak-anak bangsa jadi terbengkalai hanya karena guru-gurunya sibuk mengejar sertifikasi untuk beli mobil atau sekadar merehab rumah lama menjadi model minimalis.

Ya, itulah beberapa jenis lomba 17-an yang sangat ingin gue kritisi, ges. Jadi menurut gue Indonesia ini merupakan negara yang unik dan kaya akan lomba-lomba rakyat yang tidak penting dan justru menunjukkan ketidakmerdekaan.

Yang bikin miris, penonton, tentu juga para pejabat di panggung kehormatan, tertawa bahkan sampai terpingkal melihat para peserta yang “menderita” saat berjuang mendapatkan selembar krupuk, atau “menderita” ketika naik-turun pada sebatang pohon pinang untuk mendapatkan hadiah. Banyak dari kita yang memang sangat suka melihat orang lain menderita.

Konon, dari cerita yang gue dapatkan dari orang-orang tua, lomba panjat pinang itu sudah dilakukan pada zaman pemerintahan kolonial Belanda.  Lomba itu digelar semata-mata untuk menghibur para tuan dan nyonya pejabat kolonial yang saat lomba biasanya duduk di panggung kehormatan. Para pejabat itu tertawa-tawa dan tampak senang melihat rakyat di negeri jajahannya berebut naik pohon pinang yang licin hanya untuk mendapatkan hadiah.

Kini, lomba itu dilanjutkan terus, dan seperti para pejabat kolonial, pejabat dari negeri kita sendiri sering juga ikut menyaksikan dari panggung kehormatan yang tinggi. Dan tak malu untuk tertawa-tawa.

Semoga cara pandang gue tidak merubah apapun, dan semoga tunas-tunas bangsa senantiasa tumbuh dengan keceriaan serta kasih sayang yang tidak kurang. Hormatilah gurumu, sayangi teman, karena itulah tandanya murid yang budiman.

Isilah kemerdekaan ini dengan kegiatan yang positif misalnya dengan makan bersama-sama keluarga, kelurahan, kecamatan. Makanlah kerupuk dengan baik dan benar, jangan digantung, karena krupuk adalah karya asli anak bangsa yang sudah sepatutnya dihargai. Maka cobalah makan kerupuk ditemani dengan sate kambing atau minimal ditemani soto babat.

Sekian saja curhatan gue, ges. Selamat meniti hari-hari yang kian menua ini dan jangan lupa makan kerupuk. Semoga nafas ini tak hanya berakhir sampai di sini, agar selalu dapat menulis hal-hal tidak penting lainnya sembari makan kerupuk. Gue seorang mantan mahasiswa yang sangat nasionalis pamit undur dari hadapan ges ges semua, sampai jumpa!

Salam Olah Raga.

Tags: kemerdekaanlomba rakyatolahraga
Share261TweetSendShareSend
Previous Post

“Rare Bali Festival”: Ekspresi Anak di Ruang Non Akademik

Next Post

“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?

Emboeng Arishinta Poetra

Emboeng Arishinta Poetra

Mantan mahasiswa yang kini jadi mantan guru. Pernah menulis puisi dan menang di tingkat kampus

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post

“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co