13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Rare Bali Festival”: Ekspresi Anak di Ruang Non Akademik

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Khas

Foto-foto: Eka

RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran, melompat-lompat kegirangan. Semuanya tersenyum. Semuanya tertawa.

Ada yang menari, ada yang bermain goak-goakan, ada yang bermain tajog, malah ada juga yang bermain dengkleng. Mereka bermain dengan lepas sesuka hati. Semuanya dilakukan dengan suka cita.

Gerakan-gerakan permainan itu sejatinya bagian dari koreografi sederhana yang dipertontonkan pada ajang Rare Bali Festival 2016, yang berakhir Minggu (7/8). Koreografi sederhana itu merupakan sari dari permainan rakyat di Bali, yang harus diakui dewasa ini jarang dimainkan anak-anak.

festival rare1Rare Bali Festival adalah satu dari sekian banyak festival non populer yang ada di Bali, khususnya di Denpasar. Jangan bayangkan festival ini berlangsung megah dan mewah seperti Sanur Village Festival atau Denpasar Festival. Festival yang berlangsung selama dua hari, 6-7 Agustus itu justru sangat sederhana. Namun festival itu memiliki misi idealisme yang tinggi: melestarikan permainan tradisional dan menanamkan wawasan berbudaya pada anak.

Festival itu dilaksanakan untuk kedua kalinya. Sebelumnya festival itu diselenggarakan pada tahun 2014 lalu di Jalan WR. Supratman, Denpasar, tepat di depan Rumah Budaya Penggak Men Mersi. Tahun ini, Rumah Budaya Penggak Men Mersi yang menjadi penggagas sekaligus pelaksana kegiatan, melangsungkannya di Taman Lumintang.

Rare Bali Festival bisa dibilang anti tesis kegiatan anak-anak di era digital. Ketika anak-anak semakin dekat dengan gadget dan menjauhi permainan tradisional apalagi seni tradisi, Rare Bali Festival justru mengajak dan memaksa anak-anak mengenali permainan tradisional dan seni tradisi.

Festival ini juga melawan pola pikir orang tua kekinian. Ketika orang tua menekankan kemampuan akademik bagi anak, Rare Bali Festival menawarkan ruang berkesenian, berbudaya, berkreasi, sastra, menyanyi, dan segala hal yang bersifat non akademik.

Hasilnya, anak-anak bersemangat dan bergembira. Semuanya menumpahkan kreasi mereka. Mereka memuaskan hasrat memainkan permainan tradisional. Jauh dari gadget – setidaknya untuk sementara waktu.

“Buktinya mereka bisa menikmati permainan tradisional. Mereka bisa senang, bisa tertawa, bisa bergembira dengan teman-temannya. Tujuan kami memang itu, mengajak anak memainkan permainan tradisional dan megenali seni tradisi. Supaya ada keseimbangan intelektual, emosional, dan spiritual bagi mereka,” ungkap Kadek Wahyudita, Kelian Rumah Budaya Penggak Men Mersi.

Festival yang didedikasikan bagi anak-anak itu, bukan hanya soal permainan tradisional. Berbagai kegiatan dirancang untuk menggandeng anak-anak yang baru berusia lima tahun, hingga yang berusia 17 tahun. Anak-anak berusia lima tahun, diajak mengenal permainan tradisional, menggambar, melukis, serta berkreasi dari barang bekas. Anak-anak sekolah dasar juga begitu.

festival rare1Sementara anak-anak SMP diajak melakukan kegiatan kreatif yang lebih serius, seperti membuat produk kreatif dari sampah yang memiliki nilai tepat guna juga nilai ekonomis. Pikiran mereka liar, berkreasi mereproduksi sampah. Ada yang membuat mobil-mobilan dari kaleng bekas, lampur belajar dari lidi, bak sampah dari tutup botol minuman air kemasan, malah ada yang membuat beton yang bahan utamanya dari plastik.

Sedangkan untuk kalangan remaja, dirancang kegiatan-kegiatan seperti stand up comedy. Mereka juga diberi panggung guna mementaskan keahlian mereka berkesenian, entah itu seni tradisi atau seni modern.

Salah satu ruang berkesenian yang banyak mendapat apresiasi adalah ruang berkesenian di seni rupa. Dari lomba melukis yang diselenggarakan pada Rare Bali Festival, disebut banyak muncul ide-ide kreatif yang terinspirasi dari lingkungan sekitar. Banyak bibit-bibit unggul yang perlu dipoles, bahkan diyakini bisa menjadi perupa andal di masa mendatang.

“Melihat dari karya yang muncul, saya berharap ada ruang yang lebih besar untuk proses kreatif di bidang seni rupa, khususnya lukis. Untuk ukuran usia mereka, hasil karya mereka sangat luar biasa,” ungkap perupa Made Bendi Yudha, yang juga Pembantu Dekan II Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Misi idealis pada ajang Rare Bali Festival juga mendapat apresiasi dari Walikota Denpasar, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra. Pucuk pimpinan di Pemerintah Kota Denpasar itu mengakui pentingnya Rare Bali Festival. Rai Mantra menyadari bahwa Rare Bali Festival tidak akan mendatangkan keuntungan jangka pendek, tak memberikan perputaran ekonomi yang besar, juga tak mendatangkan penonton dalam jumlah masif.

Rai Mantra memandang Rare Bali Festival adalah salah satu proses pendidikan yang harus ditempuh. Festival ini juga menjadi ruang yang sangat besar untuk memberikan pendidikan di bidang non akademik. Pendidikan pun tidak hanya didapatkan di sekolah. Rai Mantra menyebut angka pendidikan dari sekolah, hanya 33 persen. Sementara 77 persen sisanya ada di lingkungan juga pendidikan orang tua.

“Pendidikan itu bukan hanya akademik saja, tapi ada di luar itu. Ada permainan tradisional, ada ajang kreatif, ada juga seni tradisi. Lewat festival ini kita kenalkan seni tradisi itu. Kita kenalkan permainan tradisional. Dampaknya memang tidak langsung,” ucap Rai Mantra.

Festival idealis semacam Rare Bali Festival, memang tidak memberikan dampak secara langsung. Namun dengan mengenalkan permainan tradisional pada anak-anak, warisan budaya adiluhung serta pesan pendidikan dan moral dalam permainan tradisional, bisa sampai pada anak-anak. Bahkan bisa dibawa hingga ketika dewasa.

Pun demikian dengan pengenalan seni tradisi pada ajang tersebut. Anak-anak lambat laun mencintai seni tradisi. Kesenian tradisi pada masa yang akan datang pun tak sulit mendapatkan generasi penerus. Terlepas dari itu, dengan pengenalan pada seni tradisi dan permainan tradisional, anak pun semakin jauh dari dampak negatif yang dimunculkan dari kemajuan teknologi, seperti pengaruh video porno dan narkotika dapat dicegah.

“Jangka panjang, kekerasan pada anak, baik itu kekerasan seksual, kekerasan fisik, penyalahgunaan narkotika, itu bisa dikurangi. Paling penting misi kami menjadikan Denpasar sebagi kota berwawasan budaya itu bisa kami capai. Caranya ya itu tadi, mengenalkan seni tradisi sejak dini, utamanya kalangan anak,” tutup Rai Mantra. (T)

Tags: anak-anakbalidenpasarfestival
Share253TweetSendShareSend
Previous Post

Dua Tokoh, Dua Cerita Rakyat

Next Post

Ayo Ges, Nonton Barisan & Panjat Pinang, Lomba 17-an yang Tak Merdeka

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post

Ayo Ges, Nonton Barisan & Panjat Pinang, Lomba 17-an yang Tak Merdeka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co