3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Rare Bali Festival”: Ekspresi Anak di Ruang Non Akademik

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Khas

Foto-foto: Eka

RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran, melompat-lompat kegirangan. Semuanya tersenyum. Semuanya tertawa.

Ada yang menari, ada yang bermain goak-goakan, ada yang bermain tajog, malah ada juga yang bermain dengkleng. Mereka bermain dengan lepas sesuka hati. Semuanya dilakukan dengan suka cita.

Gerakan-gerakan permainan itu sejatinya bagian dari koreografi sederhana yang dipertontonkan pada ajang Rare Bali Festival 2016, yang berakhir Minggu (7/8). Koreografi sederhana itu merupakan sari dari permainan rakyat di Bali, yang harus diakui dewasa ini jarang dimainkan anak-anak.

festival rare1Rare Bali Festival adalah satu dari sekian banyak festival non populer yang ada di Bali, khususnya di Denpasar. Jangan bayangkan festival ini berlangsung megah dan mewah seperti Sanur Village Festival atau Denpasar Festival. Festival yang berlangsung selama dua hari, 6-7 Agustus itu justru sangat sederhana. Namun festival itu memiliki misi idealisme yang tinggi: melestarikan permainan tradisional dan menanamkan wawasan berbudaya pada anak.

Festival itu dilaksanakan untuk kedua kalinya. Sebelumnya festival itu diselenggarakan pada tahun 2014 lalu di Jalan WR. Supratman, Denpasar, tepat di depan Rumah Budaya Penggak Men Mersi. Tahun ini, Rumah Budaya Penggak Men Mersi yang menjadi penggagas sekaligus pelaksana kegiatan, melangsungkannya di Taman Lumintang.

Rare Bali Festival bisa dibilang anti tesis kegiatan anak-anak di era digital. Ketika anak-anak semakin dekat dengan gadget dan menjauhi permainan tradisional apalagi seni tradisi, Rare Bali Festival justru mengajak dan memaksa anak-anak mengenali permainan tradisional dan seni tradisi.

Festival ini juga melawan pola pikir orang tua kekinian. Ketika orang tua menekankan kemampuan akademik bagi anak, Rare Bali Festival menawarkan ruang berkesenian, berbudaya, berkreasi, sastra, menyanyi, dan segala hal yang bersifat non akademik.

Hasilnya, anak-anak bersemangat dan bergembira. Semuanya menumpahkan kreasi mereka. Mereka memuaskan hasrat memainkan permainan tradisional. Jauh dari gadget – setidaknya untuk sementara waktu.

“Buktinya mereka bisa menikmati permainan tradisional. Mereka bisa senang, bisa tertawa, bisa bergembira dengan teman-temannya. Tujuan kami memang itu, mengajak anak memainkan permainan tradisional dan megenali seni tradisi. Supaya ada keseimbangan intelektual, emosional, dan spiritual bagi mereka,” ungkap Kadek Wahyudita, Kelian Rumah Budaya Penggak Men Mersi.

Festival yang didedikasikan bagi anak-anak itu, bukan hanya soal permainan tradisional. Berbagai kegiatan dirancang untuk menggandeng anak-anak yang baru berusia lima tahun, hingga yang berusia 17 tahun. Anak-anak berusia lima tahun, diajak mengenal permainan tradisional, menggambar, melukis, serta berkreasi dari barang bekas. Anak-anak sekolah dasar juga begitu.

festival rare1Sementara anak-anak SMP diajak melakukan kegiatan kreatif yang lebih serius, seperti membuat produk kreatif dari sampah yang memiliki nilai tepat guna juga nilai ekonomis. Pikiran mereka liar, berkreasi mereproduksi sampah. Ada yang membuat mobil-mobilan dari kaleng bekas, lampur belajar dari lidi, bak sampah dari tutup botol minuman air kemasan, malah ada yang membuat beton yang bahan utamanya dari plastik.

Sedangkan untuk kalangan remaja, dirancang kegiatan-kegiatan seperti stand up comedy. Mereka juga diberi panggung guna mementaskan keahlian mereka berkesenian, entah itu seni tradisi atau seni modern.

Salah satu ruang berkesenian yang banyak mendapat apresiasi adalah ruang berkesenian di seni rupa. Dari lomba melukis yang diselenggarakan pada Rare Bali Festival, disebut banyak muncul ide-ide kreatif yang terinspirasi dari lingkungan sekitar. Banyak bibit-bibit unggul yang perlu dipoles, bahkan diyakini bisa menjadi perupa andal di masa mendatang.

“Melihat dari karya yang muncul, saya berharap ada ruang yang lebih besar untuk proses kreatif di bidang seni rupa, khususnya lukis. Untuk ukuran usia mereka, hasil karya mereka sangat luar biasa,” ungkap perupa Made Bendi Yudha, yang juga Pembantu Dekan II Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Misi idealis pada ajang Rare Bali Festival juga mendapat apresiasi dari Walikota Denpasar, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra. Pucuk pimpinan di Pemerintah Kota Denpasar itu mengakui pentingnya Rare Bali Festival. Rai Mantra menyadari bahwa Rare Bali Festival tidak akan mendatangkan keuntungan jangka pendek, tak memberikan perputaran ekonomi yang besar, juga tak mendatangkan penonton dalam jumlah masif.

Rai Mantra memandang Rare Bali Festival adalah salah satu proses pendidikan yang harus ditempuh. Festival ini juga menjadi ruang yang sangat besar untuk memberikan pendidikan di bidang non akademik. Pendidikan pun tidak hanya didapatkan di sekolah. Rai Mantra menyebut angka pendidikan dari sekolah, hanya 33 persen. Sementara 77 persen sisanya ada di lingkungan juga pendidikan orang tua.

“Pendidikan itu bukan hanya akademik saja, tapi ada di luar itu. Ada permainan tradisional, ada ajang kreatif, ada juga seni tradisi. Lewat festival ini kita kenalkan seni tradisi itu. Kita kenalkan permainan tradisional. Dampaknya memang tidak langsung,” ucap Rai Mantra.

Festival idealis semacam Rare Bali Festival, memang tidak memberikan dampak secara langsung. Namun dengan mengenalkan permainan tradisional pada anak-anak, warisan budaya adiluhung serta pesan pendidikan dan moral dalam permainan tradisional, bisa sampai pada anak-anak. Bahkan bisa dibawa hingga ketika dewasa.

Pun demikian dengan pengenalan seni tradisi pada ajang tersebut. Anak-anak lambat laun mencintai seni tradisi. Kesenian tradisi pada masa yang akan datang pun tak sulit mendapatkan generasi penerus. Terlepas dari itu, dengan pengenalan pada seni tradisi dan permainan tradisional, anak pun semakin jauh dari dampak negatif yang dimunculkan dari kemajuan teknologi, seperti pengaruh video porno dan narkotika dapat dicegah.

“Jangka panjang, kekerasan pada anak, baik itu kekerasan seksual, kekerasan fisik, penyalahgunaan narkotika, itu bisa dikurangi. Paling penting misi kami menjadikan Denpasar sebagi kota berwawasan budaya itu bisa kami capai. Caranya ya itu tadi, mengenalkan seni tradisi sejak dini, utamanya kalangan anak,” tutup Rai Mantra. (T)

Tags: anak-anakbalidenpasarfestival
Share253TweetSendShareSend
Previous Post

Dua Tokoh, Dua Cerita Rakyat

Next Post

Ayo Ges, Nonton Barisan & Panjat Pinang, Lomba 17-an yang Tak Merdeka

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post

Ayo Ges, Nonton Barisan & Panjat Pinang, Lomba 17-an yang Tak Merdeka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co