23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Badriyah: Kumpulan Kisah Perempuan Masa Kini

Ida Ayu Putri Adityarini by Ida Ayu Putri Adityarini
February 2, 2018
in Ulasan

Foto: Mursal Buyung

Judul Buku : Badriyah # Pengarang : Ayu Weda # Penerbit : Gambang Buku Budaya # Tahun Terbit : Maret 2016 # Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman # ISBN : 978-602-6776-15-0

PEREMPUAN adalah sosok yang paling sering dijadikan objek dalam banyak hal. Sosok perempuan bisa kita temui dengan mudah di dalam iklan-iklan, di dalam lukisan, atau di dalam cerita. Para pencipta iklan menampilkan sosok perempuan untuk menjual produk mereka. Para seniman menciptakan sosok perempuan dalam lukisannya untuk memberitahu orang banyak tentang keindahan, kekuatan, dan kelemahan perempuan.

Para sastrawan dan penyair menguraikan sosok perempuan dalam bahasa yang menakjubkan. Tidak ketinggalan juga, para pakar dan peneliti begitu seriusnya menjelajahi sosok perempuan dan kehidupannya.

Perempuan dan kehidupannya adalah sesuatu yang dianggap sangat menarik. Sosok perempuan dan kehidupannya adalah sesuatu yang begitu ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Perempuan memiliki keindahan dalam dirinya. Keindahan yang hanya bisa diciptakan oleh Sang Maha Pencipta. Perempuan menyimpan banyak sekali misteri dalam dirinya. Semakin banyak misteri yang disimpannya, semakin menarik perempuan itu.

Hal itulah yang mungkin menginspirasi Ayu Weda, yang juga seorang perempuan, untuk menguraikan sosok perempuan dan kehidupannya yang sangat kompleks. Jalan yang dipilih oleh Ayu Weda untuk menguraikan sosok perempuan dan kehidupannya itu adalah cerita pendek yang kemudian disusunnya menjadi sebuah antologi cerpen berjudul Badriyah.

Dalam Badriyah terdapat dua belas cerpen yang hampir semuanya menempatkan perempuan sebagai tokoh utama atau menempatkan perempuan sebagai tokoh yang berpengaruh terhadap tokoh utama. Hal tersebut semakin didukung dengan judul antologi ini yang menggunakan nama seorang perempuan; Badriyah.

Sosok perempuan yang diuraikan dalam antologi ini adalah sosok perempuan masa kini dengan masalah dan kehidupannya yang sangat kompleks. Kisah perempuan dengan perjuangan dan pilihannya, kisah perempuan dengan perjalanannya, kisah perempuan dan dualismenya, serta kisah-kisah lain yang juga tidak luput dari campur tangan perempuan.

Kisah pertama, yaitu kisah perempuan dengan perjuangannya. Berada dalam sebuah negara yang merdeka ternyata tidak bisa membuat perempuan berhenti berjuang. Ada bagian-bagian dalam hidupnya yang harus selalu diperjuangkan, bahkan dimerdekakan. Perjuangan menentukan pilihan, salah satunya. Dalam Badriyah, hal tersebut dapat dengan mudah dilihat, seperti pada beberapa penggalan cerpen berikut.

Aku tidak mau seperti mereka. Aku tidak mau menjadi perempuan yang tidak berdaya sehingga memilih cara hidup seperti itu. Seringkali para isteri ini hanya menjadi ‘kanca wingking’ yang tidak memiliki peran banyak dalam pengambilan keputusan. Semua keputusan keluarga dipegang dan ditentukan sepenuhnya oleh suami (Badriyah, 11)

“Kamu! Suami kurang ajar! Jangan kamu pikiraku takut sama kamu! Ingat! Catat! Tanggal berapa, jam berapa sekarang. Semua kejadian ini akan aku pakai menggugat kamu di pengadilan!” Habis sudah kesabaran Ratna (Psikopat, 95)

Terkadang Nur merasa orang yang hidup di kota seolah-olah sudah menjadi orang penting semua. Dari kegiatan memencet tombol ponsel yang tiada henti hingga berkerumun menghadiri acara demi acara yang tak jelas gunanya untuk apa. Di desa waktu menjadi miliknya. Nur yang mengatur waktu, bukan sebaliknya. Dia merasa bagai orang kaya yang bisa mengatur dirinya sendiri. (Capsa, 103)

Sudah hampir setahun mereka bercerai. Dua anak kandung, lima anak asuh nekad dibawa meski belum jelas bagaimana kelak Rusmini menghidupi anak-anak itu. Dia belum punya pekerjaan tetap. Warung lesehan, usaha yang dirintis sejak perceraiannya dengan Zulkifli, tak cukup untuk membiayai tujuh anak yang kini menjadi tanggungannya. (Anak, 111)

Namun Renata bukanlah perempuan dengan keinginan sederhana. Dia terobsesi menjadi perempuan sukses, bukan sekedar sebagai istri yang hanya bergantung kepada harta suami. Ada impian yang ingin dicapainya; menjadi penari tango profesional. (Penari Tango, 172)

“You not fair! You mengeksploitasi kami untuk mendapat harga murah. I kick you from my country,” ucapnya bagai serdadu yang sedang mempertahankan wilayahnya yang terus dikuasai musuh. (Putu Laras, 154)

Kali ini yang ditaksirnya seorang pemuda pendiam asal luar daerah yang tengah merantau di Bali. Dengan tekun didekatinya pemuda pemalu itu. Dengan segala cara, Putu Laras mencoba menarik perhatian dan simpati. Usahanya berhasil. Pemuda itu mulai membuka diri setelah satu minggu berjuang. (Putu Laras, 156)

Beberapa penggalan cerpen tersebut menunjukkan betapa penulis ingin memberitahu pembaca tentang kompleksnya perjuangan perempuan. Bukan lagi perjuangan untuk sekadar menginginkan kesetaraan dengan laki-laki, melainkan perjuangan yang lebih kompleks, yakni perjuangan sebagai manusia yang dilahirkan dengan nama perempuan dan hidup pada zaman sekarang. Perempuan berjuang menolak dan memilih mengakhiri sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, seperti pada penggalan cerpen ‘Badriyah’ dan ‘Psikopat’.

Perempuan memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi miliknya, memperjuangkan waktu dan juga memperjuangkan anak, seperti pada cerpen ‘Capsa’ dan ‘Anak’. Perempuan memperjuangkan mimpinya, seperti pada penggalan cerpen ‘Penari Tango’. Perempuan memperjuangkan usaha miliknya dan memperjuangkan cintanya, seperti pada cerpen ‘Putu Laras’.

Kisah kedua, yaitu kisah perempuan dengan perjalanannya. Selain menceritakan tentang perjuangan perempuan, cerpen-cerpen dalam Badriyah juga menceritakan tentang perjalanan perempuan. Pergerakan perempuan dari satu titik ke titik lain dalam hidupnya hingga perempuan sampai pada suatu akhir yang tidak pernah diduganya, seperti yang terlihat pada penggalan-penggalan cerpen berikut.

Kini Ambra telah lepas dari rasa keterkungkungan. Ambra makin tahu dan yakin dengan langkah hidupnya. Setelah sekian lama menunggu, Ambra menemukan dia tidak perlu lagi merasa berada dalam sangkar, karena itulah sejatinya rumahnya. (Badanku Rumahku, 207)

“Saya sebenarnya sudah menemukan cinta sejati saya, tapi dia tak lebih seperti ‘Gunung Fujiyama’. Biar sajalah seperti itu. Percintaan kami yang tak pernah selesai, memacu saya untuk makin berprestasi mengukir kesuksesan.” (Putu Laras, 158)

We Mundri tahu persis bagaimana harus mengabdi. Dia berharap banyak pada keluarga kami untuk bisa menampung anak, menantu,bahkan keponakannya untuk bekerja di keluarga kami. Dia tidak ingin anak menantunya terbelit kemiskinan hidup di desa seperti dirinya. Di usia lanjut ini We Mundri masih harus sibuk mengurus perceraian anak perempuannya yang sering dihajar suami.(We Mundri, 140)

Tokoh-tokoh seperti Ambra, Putu Laras, atau We Mundri adalah cerminan perempuan dan perjalanannya pada saat ini. Masing-masing perempuan memiliki perjalanan yang berbeda dengan akhir yang berbeda pula. Ambra dengan akhir perjalanannya yang penuh dengan renungan. Putu Laras dengan akhir perjalanan yang penuh dengan kesadaran. Juga We Mundri, dengan akhir perjalanan yang tetap penuh dengan pengabdian.

Perjalanan-perjalanan tersebut seolah-olah terus mengingatkan pembaca bahwa kehidupan perempuan saat ini tidak lagi sebatas pada pencarian kesetaraan, tetapi tentang menjalani kehidupan sebagai manusia yang dilahirkan dengan nama perempuan.

Kisah ketiga, yaitu kisah perempuan dengan dualismenya. Karya apa pun yang menempatkan perempuan sebagai objek, umumnya menampilkan dualisme perempuan. Perempuan memiliki dua sisi dalam dirinya yang tidak bisa dipisahkan, seperti dua sisi mata uang. Hampir semua hal yang berlawanan bisa ditemukan sekaligus dalam diri seorang perempuan. Berjuang dan menyerah. Indah dan rapuh. Menawan dan menakutkan. Dualisme inilah yang selalu menarik untuk diceritakan, termasuk dalam Badriyah, seperti yang terlihat pada penggalan-penggalan cerpen berikut.

….Badriyah mengutarakan maksud kedatangannya padaku. “Ning, apa ndak enak hati sama saya? Apa tidak sebaiknya diterima saja nasib kita ini? Mungkin sudah nasib kita seperti ini.”(Badriyah, 12—13)

Rusmini memilih menyerah dan menerima pinangan menjadi istri kedua juragan tambak udang. Dia enggan hidup dalam kemiskinan. Tak bisa dipungkiri saat Zulkifli dan Rusmini bersama-sama berjuang memelihara anak-anak terlantar, Rusmini pernah merasakan hidup yang serba mentereng dan berkecukupan. (Anak, 125)

Sikap dan sifat perempuan memang aneh. Apa yang dipikirkan dan apa yang dilakukan seringkali berbeda; bahkan bertolak belakang. (Badriyah, 6)

Dualisme perempuan dalam cerpen-cerpen Badriyah ditampilkan dalam dialog tokoh dan narasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dualisme itu ditampilkan melalui sikap tokoh-tokohnya terhadap peristiwa yang dialaminya. Misalnya, dalam cerpen ‘Badriyah’, ketika tokoh Aku berusaha melupakan mantan suaminya, Gus Nukman, tokoh Badriyah justru mengajak tokoh Aku untuk rujuk kembali dengan Gus Nukman dan bersedia hidup bersama dengannya sebagai istri-istri Gus Nukman.

Begitu pula tokoh Rusmini pada cerpen ‘Anak’. Ia akhirnya menyerah pada perjuangannya dan menerima pinangan laki-laki kaya karena ia tidak ingin dirinya dan anak-anaknya hidup dalam kemiskinan. Perempuan bukannya tidak menyadari dualisme dalam diri mereka. Mereka sadar betul dengan hal itu, seperti yang disampaikan oleh tokoh Aku pada penggalan cerpen ‘Badriyah’ di atas.

Namun, mereka juga sadar bahwa dualisme itu tidak akan bisa dilepaskan dari diri seorang perempuan. Apa pun alasannya, perempuan akan selalu hidup dengan dualisme dan pertimbangan-pertimbangan dalam dirinya.

Ketiga kisah tentang perempuan itu diuraikan dengan bahasa yang baik oleh Ayu Weda di dalam cerpen-cerpennya. Bahasa yang digunakan dalam cerpen-cerpennya mudah dimengerti, meskipun di beberapa bagian terdapat kesalahan-kesalahan kecil berkaitan dengan ejaan.

Gaya Ayu Weda bercerita dalam Badriyah seperti seseorang yang bercerita kepada sahabat lamanya setelah ia melakukan perjalanan yang panjang dari satu tempat ke tempat lainnya. Kalimat-kalimat yang cukup panjang membuat narasinya begitu detail. Dengan kalimat-kalimat itu Ayu Weda mampu menceritakan dengan baik hal-hal kecil yang dialami tokoh-tokoh dalam cerpennya. Hanya saja dari satu narasi ke narasi berikutnya terkadang tidak saling berkaitan secara langsung sehingga menyebabkan pengulangan narasi di bagian lainnya.

Selain itu, terkadang fokus cerita dalam beberapa cerpen di antologi ini terlalu meluas sehingga tokoh yang seharusnya menjadi pusat cerita tertutup oleh cerita tokoh lainnya. Cerpen ‘Badriyah’, misalnya.

Pada cerpen ‘Badriyah’ terlihat bahwa yang lebih banyak diceritakan adalah kisah tokoh Aku, bukan tokoh Badriyah. Tokoh Aku menceritakan perasaannya ketika didatangi oleh Badriyah. Tokoh Aku menceritakan kekecewaannya ketika Badriyah mengatakan akan menikah dengan Gus Nukman, mantan suami tokoh Aku. Tidak dijelaskan alasan lebih dalam mengapa Badriyah akhirnya mau dinikahi oleh Gus Nukman atau bagaimana kehidupan Badriyah sebagai janda seorang kiai hingga akhirnya memutuskan menikah kembali dengan orang dari kalangan yang sama dengan almarhum suaminya.

Hal yang hampir sama terjadi pada cerpen ‘Kasto’. Cerita tentang tokoh Jeng Wilda hampir menyamai cerita tentang tokoh utama, Kasto.

Akan tetapi, hal tersebut bukanlah kendala untuk menikmati cerpen-cerpen dalam Badriyah. Secara umum, cerpen-cerpen dalam Badriyah tergolong mudah dipahami dan sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, terutama kehidupan perempuan. Di hampir semua ending cerpennya, Ayu Weda menyampaikan secara langsung pesan atau harapan yang terkandung dalam cerpen tersebut, seperti pada penggalan cerpen berikut.

Wilda hanya mampu menatap langit yang sedemikian luas dan menyediakan segala kemungkinan. Seperti halnya Kasto yang mampu menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. (Kasto, 34)

“Selamat mengemban tugas-tugas negara, Pak. Semoga engkau tak pernah kehilangan nurani, meski berada di sarang penipu dan penjarah negeri.” (Pak Menteri dan Rakyatnya, 78)

Nur menyimpulkan bahwa bermain ‘capsa’ merupakan sarana orang untuk menata hati. Dalam permainan ‘capsa’ terkandung unsur kalah dan menang yang bisa bermanfaat untuk menata hati….Wajah mereka Nampak sangat terang dan bahagia dalam hidupnya…. Nur mendapat pemahaman itu. Dalam hidup ini semuanya berpangkal pada soal rasa….Kalah menang itu biasa. Hadapilah semua masalah dengan tawa riang jika hendak mencapai ketenangan! (Capsa, 107—108)

Walaupun terkungkung dalam sangkar, jangan merasa sangkar itu membatasimu karena itu adalah rumahmu sendiri. Tidak perlu saling membandingkan kehidupan satu dengan kehidupan lainnya. Selamat bergerak Ambra. Kepakkan sayap bebasmu tanpa merasa ada di dalam sangkar. Badanmu adalah rumahmu! (Badanku Rumahku, 208)

Pada akhirnya, dapat dipahami bahwa Badriyah adalah kisah-kisah perjalanan perempuan masa kini dengan perjuangan dan dualisme-nya yang tidak dapat dipisahkan. Badriyah adalah kisah-kisah perjalanan perempuan yang ditulis oleh seorang perempuan yang juga sudah melewati begitu banyak perjalanan.

Badriyah layak dan patut dibaca tidak hanya oleh manusia yang lahir dengan nama perempuan, tetapi juga oleh siapa saja yang ingin mengetahui dan memahami perjuangan, perjalanan, dan dualisme ala perempuan masa kini. (T)

Kemenuh, Juni—Agustus 2016

 

Tags: BukuCerpenkumpulan cerpenPerempuan
Share60TweetSendShareSend
Previous Post

“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?

Next Post

Prof. Sudiana: KKN Dulu dan Kini Beda, Yang Sama ya Kisah Cinlok

Ida Ayu Putri Adityarini

Ida Ayu Putri Adityarini

Pernah kuliah di Singaraja. Kini terus menulis puisi dan cerpen sembari bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Prof. Sudiana: KKN Dulu dan Kini Beda, Yang Sama ya Kisah Cinlok

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co