7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayam, Taji dan Radio

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
October 21, 2018
in Cerpen
Ayam, Taji dan Radio

Ilustrasi: Patung karya Dek Omo Santika

Jero, jero anak lanang, bagus genjing

Wantah titiang widyadari, Ken Sulasih parab titiang

Napi wenten ngambil busanan titiange

Titiang nyadia mengentosin, antuk jinah. Mas tur mirah

 

Rajapala parab titiang, truna lara

Yening sweca pekayunan

Makaronan ratu ayu, sareng titiang, truna lara

 

Mangkin wenten pinunas titiang ring beli

Yening wenten putra adiri

Titiang mapamit ring beli

 

(Geguritan Rajapala)

 

ALUNAN geguritan Rajapala mengalun lembut ke sudut-sudut ruangan. Made Arsa masih pulas, tengkurap. Namun tak ada dengkuran terdengar seperti biasanya. Geguritan Rajapala berganti geguritan I Durma. Acara Dagang Gantal di RRI begitu menyejukkan kalbu. Hari itu, Buda Wage, 17 April 1985. Luh Seni, istri Made Arsa masih sibuk di dapur menyelesaikan pesanan jaje uli dan begina untuk persiapan hari raya.

Biasanya setiap pagi  Made Arsa bangun pkl.06.00. Duduk sebentar, kemudian berjalan kaki di halaman rumah sekitar 10 menit. Ia sering lupa berapakali ia  berjalan mengitari halaman rumah. Akhirnya, ia memiliki ide untuk memetik satu daun, setiap kali menyelesaikan satu putaran. Maka setelah menyelesaikan sesi berjalannya tiap pagi, ia akan menghitung jumlah daun yang ia petik. Dari jumlah daun ia tahu berapa kali putaran ia mengitari halaman rumahnya.

Lelah berjalan, secangkir kopi tanpa gula ditemani jaje laklak sudah menunggu di atas meja untuk disantap. Selesai sarapan, ia memeriksa ayam aduannya satu-satu. Dari muda, hobinya memang adu ayam. Ia senang ikut acara ngrebongdi Kesiman. Tradisi ngrebong atau berkumpul ini biasanya diadakan setiap enam bulan sekali menurut penanggalan kalender Bali. Rangkaian dari acara ngrebong ini adalah adu ayam.  Adu ayam yang lain biasanya diadakan di pinggir Tukad Yeh Poh dekat tempat tinggal Made Arsa.

Setiap kali adu ayam, ia sering memberi istrinya oleh-oleh be cundang sebagai bukti kemenangannya dalam adu ayam. Made Arsa memang hebat dalam adu ayam. Jarang ia kalah. Maka setelah sarapan, ia akan mengelus ayam-ayamnya, memeriksa, merawat ayam-ayam perkasanya yang telah memberinya label sebagai orang yang tangguh dalam adu ayam. Ia sangat telaten merawat ayam-ayam aduannya. Kalau tidak ada acara adu ayam, bisa seharian ia mengelus ayamnya sambil mendengarkan acara dagang gantal di radio. Hal ini yang sering menimbulkan pertengkaran dengan Luh Seni, istrinya.

Luh Seni, merasa sering diabaikan karena hari-hari Made Arsa sering dihabiskan dengan ayam dan radio. Mengasah taji dan radio. Mereka memang tinggal berdua. Made Arsa memiliki dua orang anak perempuan. Keduanya sudah menikah. Tak satu pun menantunya bersedia nyentana. Baginya tidak masalah. Toh ia masih sehat dan punya hobi yang membuatnya bahagia. Namun anak-anaknya sering menengoknya, membawakan kopi kupu-kupu bola dunia dan jaje laklak kesukaannya.

Tak jarang, kedua cucunya dari anak pertama menginap di rumahnya. Namun ia tak terlalu dekat dengan cucunya. Ia selalu sibuk mengurus ayam,taji dan radionya. Inilah yang sering membuat Luh Seni meradang sampai puik berminggu-minggu. Made Arsa tak terlalu ambil hati. Sepanjang hari, ia biarkan Luh Seni Mengomel sampai akhirnya diam sendiri.

Malam harinya, ia biasanya merangkul pinggang istrinya yang tak lagi langsing seperti dulu. Kini pinggang itu sudah dipenuhi tumpukan lemak yang empuk kalau di belai. Luh Seni biasanya luluh dan memaafkan Made Arsa. Namun, ini sudah kesekian kalinya. Rangkulan dan belaian Made Arsa tak mampu meluluhkan hati Luh Seni. Luh Seni memutuskan puik dengan suaminya.

“Ayahmu sudah tak perlu ibu lagi, Luh. Dia sudah punya dunianya sendiri,” kata Luh Seni suatu hari pada Luh Yanti, anak sulungnya. “Dia lebih menyayangi ayam, taji dan radionya. Kalau ngga ngurus ayam, asah taji, ya memeluk radio.”

Luh Yanti menghela nafas panjang. Setiap ia pulang, selalu hal yang sama dikeluhkan ibunya. Ia bukan tak berusaha. Ia sudah meminta waktu pada ayahnya untuk berbicara. Namun ayahnya selalu sibuk.

“Sabar, Luh. Bapa lagi mempersiapkan sabung ayam dua hari lagi di Pangrebongan, Kesiman.”

Lagi-lagi Luh Yanti menghela nafas panjang.

Suatu hari, Made Arsa memanggil-manggil istrinya, Luh Seni. Yang dipanggil tak kunjung datang. Made Arsa kembali tenggelam dengan radionya mendengarkan acara favoritnya, dagang gantal. Sampai ia tertidur pulas di dipan bambu yang biasa dipakai istrinya untuk menjemur jaje uli yang sudah dipotong tipis-tipis.

Luh Seni memang pintar membuat jajanan khas Bali. Ia bisa membuat jaje uli, jaje begina, jaje sabun, satuh dan masih banyak lagi. Mungkin itu yang membuat Made Arsa jatuh cinta kepada Luh Seni. Di samping memang wajah Luh Seni lumayan cantik.

Perjuangannya mendapatkan Luh Seni memang tak mudah. Ia pernah menantang Tut Simpreg,lelaki yang menaruh hati pada Luh Seni, untuk adu ayam di lapangan dekat tukad Yeh Poh. Mereka sepakat, siapa pun yang menang, pantas memacari Luh Seni, pembuat dan pedagang jaje. Akhirnya Made Arsa berhasil memenangkan sabung ayam itu. Keesokan harinya, Made Arsa langsung meminang Luh Seni, pujaan hatinya.

Ia khawatir Luh Seni digaet orang. Rayuan Made Arsa lewat surat memang berhasil meluluhkan hati Luh Seni. Surat-surat Made Arsa satu bendel tersimpan rapi di bawah dipan kamar mereka. Geguritan Rajapala masih mengalun lembut berganti geguritan Durma. Geguritan Durma memasuki alam mimpi Made Arsa. Made Arsa menangis sesenggukan dan terbangun. Ia meraba matanya yang basah. Hidungnya mencium bau asap menyengat. Ia bangkit ke arah datangnya asap. Ia melihat Luh Seni sedang membakar sesuatu.

“Apa itu Luh?”

Luh Seni melirik sekilas lalu sibuk dengan tongkat bambunya mengaduk-aduk kertas-kertas yang dilalap api.

“Luh, apakah itu surat-surat Bli untuk Luh ?”

Luh Seni mengangguk namun tetap kekeh dalam diam. Tangan Made Arsa mencekal tangan Luh Seni.

“Ke sini dulu, Luh. Mengapa Luh membakar surat-surat itu?”

” Apa Luh ingin membakar kenangan kita?”

Luh Seni berusaha melepaskan diri.

“Bli kan sudah punya pacar. Ayam-ayam itu, taji, radio adalah pacar-pacarmu. Kita tak perlu lagi surat itu. Itu hanya tumpukan sampah di bawah dipan.”

“Ternyata nenek-nenek bisa cemburu juga ya.” Made Arsa tertawa.

“Heh, cemburu? Bukan soal itu. Ini soal dibutuhkan atau tidak? Siapa yang menjadi prioritas? Hidup Bli hanya dari sabung ayam ke sabung ayam. Bli ngga peduli anak, cucu apalagi soal ngayah.” Suara Luh Seni makin melengking.

Made Arsa diam, membiarkan asap membelai rambutnya yang putih dan membiarkan Luh Seni berlalu dari hadapannya.

Sejak peristiwa itu, sebulan lamanya Made Arsa dan Luh Seni tak berbicara satu sama lain. Kedua anak mereka sudah berusaha mendekati keduanya dan memediasi mereka.

“Mungkin belum saatnya, Luh,” jawab Made Arsa sekenanya. “Bapa sudah minta maaf tapi ibumu belum mau berbicara. Ini memang salah bapa. Sejak di-PHK jadi satpam di Kuta, bapa malas bekerja. Dan melaksanakan hobi waktu truna yaitu sabung ayam.”

“Sekarang bapa tak usah sabung ayam lagi. Bapa pelihara ayam, burung atau ikan saja.” Luh Yanti mencoba memberikan solusi. Made Arsa menggeleng. Ini sudah menjadi kebahagiaan bapa. Ayam, taji, radio tidak bisa dipisahkan dari hidup bapa, Luh.”

“Baik, Tapi bapa harus berjanji tidak mengabaikan meme lagi. Bapa harus bisa atur waktu.” Luh Yanti menatap mata Made Arsa. Menunggu jawaban yang diharapkan.

Made Arsa tak menjawab. Ia mengangguk disertai tarikan nafas dalam.

Hari itu, di pinggir Kali Yeh Poh, Saniscara Kliwon, 13 April 1985. Terjadi pertarungan sengit ayam milik Made Arsa dan Tut Simpreg. Tut Simprug adalah lelaki dari masa lalu Made Arsa dan Luh Seni. Kali ini mereka bertemu lagi di arena yang sama ketika memperebutkan pujaan hati mereka. Tak ada kesepakatan apa pun seperti dulu.

Entah mengapa sampai kini, api cemburu selalu mengaliri tubuh Made Arsa tatkala bertemu dengan Tut Simpreg. Apalagi Tut Simpreg telah lama ditinggal mati oleh istrinya. Nalurinya mengatakan Tut Simpreg masih menyimpan perasaan pada Luh Seni meski kini mereka berdua telah menjelma menjadi kakek.

Pertarungan berlangsung sengit. Made Arsa terus berdoa dalam hati sambil menyemangati ayam aduannya. Ia berjongkok di seberang ayam miliknya. Ia berteriak-teriak menyemangati ayam kesayangannya. Namun ia tak pernah menduga, ayam milik  Tut Simpreg menerjangnya. Tak ayal taji sepanjang 10 cm itu merobek perutnya. Made Arsa berusaha melepaskan diri. Orang-orang berkerumun berusaha menolong Made Arsa tak terkecuali Tut Simpreg.

Suasana pertandingan berubah menjadi situasi kacau. Ayam milik Tut Simpreg yang memberontak melepaskan diri malah membuat robekan di perut Made Arsa bertambah lebar. Darah segar deras mengucur. Made Arsa segera dilarikan ke klinik terdekat. Setelah mendapat pertolongan, Made Arsa diijinkan pulang. Ia berobat jalan dan disarankan beristirahat oleh dokter dan tak melakukan aktivitas apa pun sampai jahitan luka di perutnya benar-benar sembuh.

Cai Durma pianak bapa paling wayah, tumbuhe keasih-asih, ketinggalan biang, jumah cening apang melah, bapa luas nangun kerti, ka gunung alas idepang bapa mati (Dari  Geguritan Durma ).

Alunan geguritan Rajapala berganti Durma  mengalun lembut ke sudut-sudut ruangan. Made Arsa masih pulas, tengkurap. Namun tak ada dengkuran terdengar seperti biasanya.  Acara Dagang Gantal di RRI begitu menyejukkan kalbu.

Hari itu, Budha Wage, 17 April 1985. Luh Seni, istri Made Arsa masih sibuk di dapur menyelesaikan pesanan jaje uli dan begina untuk persiapan hari raya. Made Arsa masih tengkurap, pulas. Ia lelah seusai insiden yang ia alami  pada adu ayam beberapa hari yang lalu. Ia lelah dengan semuanya. Ia ingin istirahat lebih lama.Lebih lama lagi.

Ia keluar menyaksikan tubuhnya yang lelah masih terbaring, menyaksikan luka perutmya yang belum kering, ,menyaksikan darah terus menetes dari luka jahitan di perutnya. Ia lalu mengintip istrinya yang masih sibuk di dapur. Ia mengusap lembut pipi istrinya yang dipenuhi keriput. Membelai rambut putihnya. Membelai pinggang empuknya. Meminta maaf. Namun Luh Seni tak bergeming. Ia tak menyadari kehadiran Made Arsa.

Selanjutnya Made Arsa mengunjungi sudut-sudut rumahnya, ayam-ayamnya, radio kesayangannya. Ia akan merindukan semuanya. Ia mencintai ayam, taji dan radio. Lalu dengan langkah ringan ia pergi meninggalkan asap dapur, suara ayam, taji, arena sabung ayam dan radio yang masih menyanyikan geguritan Durma menyayat hati. Meninggalkan Luh Seni yang menangis histeris berlari ke tetangga karena baru menyadari suaminya pergi. Meninggalkan suka duka yang selalu intim mengisi hari-harinya. Luh Seni menangis memandangi ayam-ayam itu, taji dan radio yang kini tak bertuan.

Hari itu, Buda Wage, 17 April 1985. Pagi belum terlalu renta, mendung bergelayut tipis. Udara segar berdesir. Semburat di ufuk timur begitu cantik. Namun hati Luh Seni mengabu seperti surat-surat yang ia bakar menjadi abu. (T)

Tags: Cerpen
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

“Brand Selayaknya jadi Media Propaganda atas Pemikiran dan Gagasan,” kata JRX pada Jah Megesah Vol #1

Next Post

Jangan Dipandang Remeh, Kantin itu Nyawa Sebuah Negara

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
0
Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

Read moreDetails

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Dipandang Remeh, Kantin itu Nyawa Sebuah Negara

Jangan Dipandang Remeh, Kantin itu Nyawa Sebuah Negara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co