14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ayam, Taji dan Radio

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
October 21, 2018
in Cerpen
Ayam, Taji dan Radio

Ilustrasi: Patung karya Dek Omo Santika

Jero, jero anak lanang, bagus genjing

Wantah titiang widyadari, Ken Sulasih parab titiang

Napi wenten ngambil busanan titiange

Titiang nyadia mengentosin, antuk jinah. Mas tur mirah

 

Rajapala parab titiang, truna lara

Yening sweca pekayunan

Makaronan ratu ayu, sareng titiang, truna lara

 

Mangkin wenten pinunas titiang ring beli

Yening wenten putra adiri

Titiang mapamit ring beli

 

(Geguritan Rajapala)

 

ALUNAN geguritan Rajapala mengalun lembut ke sudut-sudut ruangan. Made Arsa masih pulas, tengkurap. Namun tak ada dengkuran terdengar seperti biasanya. Geguritan Rajapala berganti geguritan I Durma. Acara Dagang Gantal di RRI begitu menyejukkan kalbu. Hari itu, Buda Wage, 17 April 1985. Luh Seni, istri Made Arsa masih sibuk di dapur menyelesaikan pesanan jaje uli dan begina untuk persiapan hari raya.

Biasanya setiap pagi  Made Arsa bangun pkl.06.00. Duduk sebentar, kemudian berjalan kaki di halaman rumah sekitar 10 menit. Ia sering lupa berapakali ia  berjalan mengitari halaman rumah. Akhirnya, ia memiliki ide untuk memetik satu daun, setiap kali menyelesaikan satu putaran. Maka setelah menyelesaikan sesi berjalannya tiap pagi, ia akan menghitung jumlah daun yang ia petik. Dari jumlah daun ia tahu berapa kali putaran ia mengitari halaman rumahnya.

Lelah berjalan, secangkir kopi tanpa gula ditemani jaje laklak sudah menunggu di atas meja untuk disantap. Selesai sarapan, ia memeriksa ayam aduannya satu-satu. Dari muda, hobinya memang adu ayam. Ia senang ikut acara ngrebongdi Kesiman. Tradisi ngrebong atau berkumpul ini biasanya diadakan setiap enam bulan sekali menurut penanggalan kalender Bali. Rangkaian dari acara ngrebong ini adalah adu ayam.  Adu ayam yang lain biasanya diadakan di pinggir Tukad Yeh Poh dekat tempat tinggal Made Arsa.

Setiap kali adu ayam, ia sering memberi istrinya oleh-oleh be cundang sebagai bukti kemenangannya dalam adu ayam. Made Arsa memang hebat dalam adu ayam. Jarang ia kalah. Maka setelah sarapan, ia akan mengelus ayam-ayamnya, memeriksa, merawat ayam-ayam perkasanya yang telah memberinya label sebagai orang yang tangguh dalam adu ayam. Ia sangat telaten merawat ayam-ayam aduannya. Kalau tidak ada acara adu ayam, bisa seharian ia mengelus ayamnya sambil mendengarkan acara dagang gantal di radio. Hal ini yang sering menimbulkan pertengkaran dengan Luh Seni, istrinya.

Luh Seni, merasa sering diabaikan karena hari-hari Made Arsa sering dihabiskan dengan ayam dan radio. Mengasah taji dan radio. Mereka memang tinggal berdua. Made Arsa memiliki dua orang anak perempuan. Keduanya sudah menikah. Tak satu pun menantunya bersedia nyentana. Baginya tidak masalah. Toh ia masih sehat dan punya hobi yang membuatnya bahagia. Namun anak-anaknya sering menengoknya, membawakan kopi kupu-kupu bola dunia dan jaje laklak kesukaannya.

Tak jarang, kedua cucunya dari anak pertama menginap di rumahnya. Namun ia tak terlalu dekat dengan cucunya. Ia selalu sibuk mengurus ayam,taji dan radionya. Inilah yang sering membuat Luh Seni meradang sampai puik berminggu-minggu. Made Arsa tak terlalu ambil hati. Sepanjang hari, ia biarkan Luh Seni Mengomel sampai akhirnya diam sendiri.

Malam harinya, ia biasanya merangkul pinggang istrinya yang tak lagi langsing seperti dulu. Kini pinggang itu sudah dipenuhi tumpukan lemak yang empuk kalau di belai. Luh Seni biasanya luluh dan memaafkan Made Arsa. Namun, ini sudah kesekian kalinya. Rangkulan dan belaian Made Arsa tak mampu meluluhkan hati Luh Seni. Luh Seni memutuskan puik dengan suaminya.

“Ayahmu sudah tak perlu ibu lagi, Luh. Dia sudah punya dunianya sendiri,” kata Luh Seni suatu hari pada Luh Yanti, anak sulungnya. “Dia lebih menyayangi ayam, taji dan radionya. Kalau ngga ngurus ayam, asah taji, ya memeluk radio.”

Luh Yanti menghela nafas panjang. Setiap ia pulang, selalu hal yang sama dikeluhkan ibunya. Ia bukan tak berusaha. Ia sudah meminta waktu pada ayahnya untuk berbicara. Namun ayahnya selalu sibuk.

“Sabar, Luh. Bapa lagi mempersiapkan sabung ayam dua hari lagi di Pangrebongan, Kesiman.”

Lagi-lagi Luh Yanti menghela nafas panjang.

Suatu hari, Made Arsa memanggil-manggil istrinya, Luh Seni. Yang dipanggil tak kunjung datang. Made Arsa kembali tenggelam dengan radionya mendengarkan acara favoritnya, dagang gantal. Sampai ia tertidur pulas di dipan bambu yang biasa dipakai istrinya untuk menjemur jaje uli yang sudah dipotong tipis-tipis.

Luh Seni memang pintar membuat jajanan khas Bali. Ia bisa membuat jaje uli, jaje begina, jaje sabun, satuh dan masih banyak lagi. Mungkin itu yang membuat Made Arsa jatuh cinta kepada Luh Seni. Di samping memang wajah Luh Seni lumayan cantik.

Perjuangannya mendapatkan Luh Seni memang tak mudah. Ia pernah menantang Tut Simpreg,lelaki yang menaruh hati pada Luh Seni, untuk adu ayam di lapangan dekat tukad Yeh Poh. Mereka sepakat, siapa pun yang menang, pantas memacari Luh Seni, pembuat dan pedagang jaje. Akhirnya Made Arsa berhasil memenangkan sabung ayam itu. Keesokan harinya, Made Arsa langsung meminang Luh Seni, pujaan hatinya.

Ia khawatir Luh Seni digaet orang. Rayuan Made Arsa lewat surat memang berhasil meluluhkan hati Luh Seni. Surat-surat Made Arsa satu bendel tersimpan rapi di bawah dipan kamar mereka. Geguritan Rajapala masih mengalun lembut berganti geguritan Durma. Geguritan Durma memasuki alam mimpi Made Arsa. Made Arsa menangis sesenggukan dan terbangun. Ia meraba matanya yang basah. Hidungnya mencium bau asap menyengat. Ia bangkit ke arah datangnya asap. Ia melihat Luh Seni sedang membakar sesuatu.

“Apa itu Luh?”

Luh Seni melirik sekilas lalu sibuk dengan tongkat bambunya mengaduk-aduk kertas-kertas yang dilalap api.

“Luh, apakah itu surat-surat Bli untuk Luh ?”

Luh Seni mengangguk namun tetap kekeh dalam diam. Tangan Made Arsa mencekal tangan Luh Seni.

“Ke sini dulu, Luh. Mengapa Luh membakar surat-surat itu?”

” Apa Luh ingin membakar kenangan kita?”

Luh Seni berusaha melepaskan diri.

“Bli kan sudah punya pacar. Ayam-ayam itu, taji, radio adalah pacar-pacarmu. Kita tak perlu lagi surat itu. Itu hanya tumpukan sampah di bawah dipan.”

“Ternyata nenek-nenek bisa cemburu juga ya.” Made Arsa tertawa.

“Heh, cemburu? Bukan soal itu. Ini soal dibutuhkan atau tidak? Siapa yang menjadi prioritas? Hidup Bli hanya dari sabung ayam ke sabung ayam. Bli ngga peduli anak, cucu apalagi soal ngayah.” Suara Luh Seni makin melengking.

Made Arsa diam, membiarkan asap membelai rambutnya yang putih dan membiarkan Luh Seni berlalu dari hadapannya.

Sejak peristiwa itu, sebulan lamanya Made Arsa dan Luh Seni tak berbicara satu sama lain. Kedua anak mereka sudah berusaha mendekati keduanya dan memediasi mereka.

“Mungkin belum saatnya, Luh,” jawab Made Arsa sekenanya. “Bapa sudah minta maaf tapi ibumu belum mau berbicara. Ini memang salah bapa. Sejak di-PHK jadi satpam di Kuta, bapa malas bekerja. Dan melaksanakan hobi waktu truna yaitu sabung ayam.”

“Sekarang bapa tak usah sabung ayam lagi. Bapa pelihara ayam, burung atau ikan saja.” Luh Yanti mencoba memberikan solusi. Made Arsa menggeleng. Ini sudah menjadi kebahagiaan bapa. Ayam, taji, radio tidak bisa dipisahkan dari hidup bapa, Luh.”

“Baik, Tapi bapa harus berjanji tidak mengabaikan meme lagi. Bapa harus bisa atur waktu.” Luh Yanti menatap mata Made Arsa. Menunggu jawaban yang diharapkan.

Made Arsa tak menjawab. Ia mengangguk disertai tarikan nafas dalam.

Hari itu, di pinggir Kali Yeh Poh, Saniscara Kliwon, 13 April 1985. Terjadi pertarungan sengit ayam milik Made Arsa dan Tut Simpreg. Tut Simprug adalah lelaki dari masa lalu Made Arsa dan Luh Seni. Kali ini mereka bertemu lagi di arena yang sama ketika memperebutkan pujaan hati mereka. Tak ada kesepakatan apa pun seperti dulu.

Entah mengapa sampai kini, api cemburu selalu mengaliri tubuh Made Arsa tatkala bertemu dengan Tut Simpreg. Apalagi Tut Simpreg telah lama ditinggal mati oleh istrinya. Nalurinya mengatakan Tut Simpreg masih menyimpan perasaan pada Luh Seni meski kini mereka berdua telah menjelma menjadi kakek.

Pertarungan berlangsung sengit. Made Arsa terus berdoa dalam hati sambil menyemangati ayam aduannya. Ia berjongkok di seberang ayam miliknya. Ia berteriak-teriak menyemangati ayam kesayangannya. Namun ia tak pernah menduga, ayam milik  Tut Simpreg menerjangnya. Tak ayal taji sepanjang 10 cm itu merobek perutnya. Made Arsa berusaha melepaskan diri. Orang-orang berkerumun berusaha menolong Made Arsa tak terkecuali Tut Simpreg.

Suasana pertandingan berubah menjadi situasi kacau. Ayam milik Tut Simpreg yang memberontak melepaskan diri malah membuat robekan di perut Made Arsa bertambah lebar. Darah segar deras mengucur. Made Arsa segera dilarikan ke klinik terdekat. Setelah mendapat pertolongan, Made Arsa diijinkan pulang. Ia berobat jalan dan disarankan beristirahat oleh dokter dan tak melakukan aktivitas apa pun sampai jahitan luka di perutnya benar-benar sembuh.

Cai Durma pianak bapa paling wayah, tumbuhe keasih-asih, ketinggalan biang, jumah cening apang melah, bapa luas nangun kerti, ka gunung alas idepang bapa mati (Dari  Geguritan Durma ).

Alunan geguritan Rajapala berganti Durma  mengalun lembut ke sudut-sudut ruangan. Made Arsa masih pulas, tengkurap. Namun tak ada dengkuran terdengar seperti biasanya.  Acara Dagang Gantal di RRI begitu menyejukkan kalbu.

Hari itu, Budha Wage, 17 April 1985. Luh Seni, istri Made Arsa masih sibuk di dapur menyelesaikan pesanan jaje uli dan begina untuk persiapan hari raya. Made Arsa masih tengkurap, pulas. Ia lelah seusai insiden yang ia alami  pada adu ayam beberapa hari yang lalu. Ia lelah dengan semuanya. Ia ingin istirahat lebih lama.Lebih lama lagi.

Ia keluar menyaksikan tubuhnya yang lelah masih terbaring, menyaksikan luka perutmya yang belum kering, ,menyaksikan darah terus menetes dari luka jahitan di perutnya. Ia lalu mengintip istrinya yang masih sibuk di dapur. Ia mengusap lembut pipi istrinya yang dipenuhi keriput. Membelai rambut putihnya. Membelai pinggang empuknya. Meminta maaf. Namun Luh Seni tak bergeming. Ia tak menyadari kehadiran Made Arsa.

Selanjutnya Made Arsa mengunjungi sudut-sudut rumahnya, ayam-ayamnya, radio kesayangannya. Ia akan merindukan semuanya. Ia mencintai ayam, taji dan radio. Lalu dengan langkah ringan ia pergi meninggalkan asap dapur, suara ayam, taji, arena sabung ayam dan radio yang masih menyanyikan geguritan Durma menyayat hati. Meninggalkan Luh Seni yang menangis histeris berlari ke tetangga karena baru menyadari suaminya pergi. Meninggalkan suka duka yang selalu intim mengisi hari-harinya. Luh Seni menangis memandangi ayam-ayam itu, taji dan radio yang kini tak bertuan.

Hari itu, Buda Wage, 17 April 1985. Pagi belum terlalu renta, mendung bergelayut tipis. Udara segar berdesir. Semburat di ufuk timur begitu cantik. Namun hati Luh Seni mengabu seperti surat-surat yang ia bakar menjadi abu. (T)

Tags: Cerpen
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

“Brand Selayaknya jadi Media Propaganda atas Pemikiran dan Gagasan,” kata JRX pada Jah Megesah Vol #1

Next Post

Jangan Dipandang Remeh, Kantin itu Nyawa Sebuah Negara

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Dipandang Remeh, Kantin itu Nyawa Sebuah Negara

Jangan Dipandang Remeh, Kantin itu Nyawa Sebuah Negara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co