13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Dipandang Remeh, Kantin itu Nyawa Sebuah Negara

Muhammad Fathur Rozi by Muhammad Fathur Rozi
October 21, 2018
in Esai
Jangan Dipandang Remeh, Kantin itu Nyawa Sebuah Negara

Ilustrasi: Kantin mewah dalam adegan di K-Drama “The Heirs”

KETIKA ada seseorang bicara kantin, yang terlintas di benak adalah makanan, minuman, atau segala hal yang berhubungan dengan mulut dan perut. Ya, memang wajar dan kita tidak dapat pungkiri itu. Tapi sebenarnya ada hal lain yang terselubung di balik “kantin” dan tak banyak orang sadari.

Saya sebagai langganan kantin di kampus, tersadar ketika diskusi bersama dengan rekan-rekan tukang nongkrong. Diskusinya, ya di kantin. Di kantin itulah, suatu saat, terlontar kalimat bahwa kantin sebagai nyawa sebuah negara. Atau dapat saya katakana, kantin itu setara dengan lembaga atau ruang kuliah mahasiswa.  Karena tempat itulah yang sebenarnya menstimulus ide-ide baru lebih luas mengenai lingkup politik, filsafat, sastra, agama, dan sebagainya.

Inilah kebiasaan mahasiswa di kantin. Setelah usai makan-minum dilanjutkan sesi ngerumpi. Ya! Memang ngerumpi kedengarannya kurang bagus, tapi apa salahnya ngerumpi sebuah topik yang hangat dan baik, yang ringan atau yang serius, yang penting tidak mengganggu orang lain. Ngerumpi, jika dikelola dengan baik, bisa melatih pikiran kritis.

Di situlah sebenarnya anak muda mulai membicarakan apa yang terjadi saat ini, sehingga muncul pandangan-pandangan baru, di antara mereka mulai mengeluarkan ide baru, di antara mereka ada yang menyangkal argumen teman yang lain, dan di antara mereka kemudian mencari solusi bagaimana jalan keluar yang pas atas nuansa polemik yang telah terjadi apa lagi musim ini adalah musimnya politik menjelang pilpres 2019.

Ngerunpi di kantin bisa melewati ruang-ruang kelas dan jurusan. Politik yang biasanya hanya dibahas di jurusan PPKN atau jurusan Ilmu Hukum, di kantin topic itu bisa didiskusikan bersama mahasiswa jurusan yang lain. Jadi, pengetahuan mereka lebih komprehensif dan meneyeluruh tidak hanya berkutat pada satu jalur bidangnya masing-masing. Atau jurusan yang ada di fakultas ekonomi dan katanya hanya membahasa uang, uang, dan uang buktinya juga bisa berkutat dalam bidang sastra dan kain sebagainya.

Kegiatan seperti itu sebenarnya tidak kalah penting dari kegiatan resmi pembelajaran dalam kelas, maka saya katakan kantin sebagai nyawa negara.

Pendidikan dalam pandangan Paulo Freire merupakan pengembalian fungsi pendidikan sebagai alat pembebasan, maka dengan demikian dapat dikatakan yang menjadi substansi sebenarnya adalah bagaimaa pendidikan tersebut diterapkan, tidak terletak pada lembaga pendidikan, maka bebas tempat seperti apa untuk menjalankan proses pendidikan sebenarnya.

Pernah terlintas dalam pikiran sebuah pendidikan atau rangkaian mengajar tanpa RPP dan Silabus? Ya, itu adalah sebuah kantin; pendidikan tanpa RPP dan Silabus. Sebenarnya apa yang terjadi di dalam kantin bagian dari pendidikan. Tempat di mana diskusi liar terjadi. Untuk kemajauan sebuah negara RPP dan Silabus tidak menjadi tolak ukur pembelajar berkembang.

Dua hal tersebut hanya formalitas menambah beban guru atau mahasiswa yang sedang PPL Real. Pada akhirnya ya hasilnya tidak jauh berbeda dengan pendidikan tanpa RPP dan Silabus atau bahkan proses dan hasil belajarnya bagus dan lebih jeli belajar dan disksi di dalam kantin daripada di kelas atau kampus.

Kita sekali-kali melihat sepion dalam artian menoleh ke belakang melihat sejarah. Untuk menjadikan negara Indonesia merdeka dan bebas dari cengkraman Belanda itu membutuhkan kaum muda yang cerdas. Jika dulu Tjokroaminoto dan murid-muridnya seperti Soekarno, Semaun, dan Kartosierjo pendidikannya tanpa fasilitas yang komplit seperti era saat ini, bahkan Tjokroaminoto cara mengajarkan ilmu pada muridnya dengan sederhana, tapi hasilnya jelas menjadikan karakter anak muda berwibawa.

Dulu mungkin tidak ada nama kantin, tapi mungkin pula namanya tongkrongan atau lebih tepatnya adalah kedai. Di situ mereka banyak bertukar pikiran memunculkan inovasi baru menegenai negara. Nah, benar juga di situ dapat dikatakan kantin dan kedai nyawa negara.

Kantin pula tempat anak muda bangasa mengutarakan kebebasan dalam berpendapat, beropini, dan mengeluh kesah. Kita sekarang berbicara demokrasi dalam skala kecil. (Diane Ravitch, 1991: 5) mengatakan demokrasi merupakan sistem di mana warga negara bebas mengambil keputusan dan pengetahuan mengenai sosok guru demokrasi merupakan salah satu faktor penting bagi pemahaman makna demokrasi seutuhnya.

Sepengalaman saya duduk di bangku SD sampai sekarang kuliah, untuk berpendapat masih saja tidak ada kebebasan. Di sana pengajar sebagai raja, hakim, atau sebagai wasit menentukan jalannya pertandingan sepak bola. Seolah-olah pendapat merekalah yang paling benar daripada ujaran orang lain. Di sana demokrasi dalam kelas tidak berjalan sesuai dengan arti demokrasi yang sebenarnya.

Lain halnya dengan kantin, sebagai tempat anak muda bebas mengutarakan pendapatnya dalam segala hal. Misalnya menaggapi isu terbaru saat ini terkait maraknya agama dan politik. Jika berbicara dan mengutarakan argumennya dalam kelas pasti tidak ada kebebasan tapi jika di kantin bebas berpendapat, teman yang satu memandang ke arah A dan teman yang lain bisa jadi B.  Jika di dalam ruang kelas yang benar adalah pendapat pendidik atau pengajar. Jadi hal sekecil itu terkadang memengaruhi pemikiran cemerlang anak muda khusunya mahasiswa. Untungnya ada kantin, dan saya rasa kantin sebagai salah satu nyawa negara.

Selain itu, kantin yang disebut salah satu nyawa negara juga unik dan luar biasa. Karena jika dalam lembaga pendidikan kelas/kampus dan guru/dosen hanya mengajarkan satu tema persemester dengan bertahap dalam satu minggu satu bab, kalah dengan anak muda yang sering nongkrong di kantin. Mungkin dalam sekali ngobrol bisa membahas beberapa buku yang ada, beberapa topik tentang sejarah dibahas dalam rentan waktu beberapa jam. Lebih asiknya lagi diskusi lebih santai dengan hidangan pisang goreng dan seteguk kopi hangat, tertawa terbahak-bahak tapi mendapatkan hasil yang tidak kalah dengan lembaga formal.

Jangan mengira kantin hanya untuk mengisi perut dan melepas dahaga saja, tapi di sisi yang lain tak kalah pentingnya adalah kantin sebagai kegiatan belajar santai, diskusi sembari tertawa, tempat di mana sebuah kebebasan berpendapat terjadi. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana jika tidak ada kantin sebagai ajang adu ideologi. Maka dari itu, kantin sebagai salah satu nyawa kampus dan negara. Jadi, jangan dianggap remeh. (T)

Tags: kampuskantinnegaraPendidikan
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Ayam, Taji dan Radio

Next Post

Terperangkap Jejaring Warisan: Perlu Hermeneutika untuk Bali #Kolom Made Metera

Muhammad Fathur Rozi

Muhammad Fathur Rozi

Alumni mahasiswa PBSI–Undiksha. Kini menjadi guru dan mahasiswa magister aktif di Universitas Nurul Jadid Paiton. Facebook: El-Fathur Rozi. Gmail: rozi8917@gmail.com

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Terperangkap Jejaring Warisan: Perlu Hermeneutika untuk Bali  #Kolom Made Metera

Terperangkap Jejaring Warisan: Perlu Hermeneutika untuk Bali #Kolom Made Metera

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co