24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Dipandang Remeh, Kantin itu Nyawa Sebuah Negara

Muhammad Fathur Rozi by Muhammad Fathur Rozi
October 21, 2018
in Esai
Jangan Dipandang Remeh, Kantin itu Nyawa Sebuah Negara

Ilustrasi: Kantin mewah dalam adegan di K-Drama “The Heirs”

KETIKA ada seseorang bicara kantin, yang terlintas di benak adalah makanan, minuman, atau segala hal yang berhubungan dengan mulut dan perut. Ya, memang wajar dan kita tidak dapat pungkiri itu. Tapi sebenarnya ada hal lain yang terselubung di balik “kantin” dan tak banyak orang sadari.

Saya sebagai langganan kantin di kampus, tersadar ketika diskusi bersama dengan rekan-rekan tukang nongkrong. Diskusinya, ya di kantin. Di kantin itulah, suatu saat, terlontar kalimat bahwa kantin sebagai nyawa sebuah negara. Atau dapat saya katakana, kantin itu setara dengan lembaga atau ruang kuliah mahasiswa.  Karena tempat itulah yang sebenarnya menstimulus ide-ide baru lebih luas mengenai lingkup politik, filsafat, sastra, agama, dan sebagainya.

Inilah kebiasaan mahasiswa di kantin. Setelah usai makan-minum dilanjutkan sesi ngerumpi. Ya! Memang ngerumpi kedengarannya kurang bagus, tapi apa salahnya ngerumpi sebuah topik yang hangat dan baik, yang ringan atau yang serius, yang penting tidak mengganggu orang lain. Ngerumpi, jika dikelola dengan baik, bisa melatih pikiran kritis.

Di situlah sebenarnya anak muda mulai membicarakan apa yang terjadi saat ini, sehingga muncul pandangan-pandangan baru, di antara mereka mulai mengeluarkan ide baru, di antara mereka ada yang menyangkal argumen teman yang lain, dan di antara mereka kemudian mencari solusi bagaimana jalan keluar yang pas atas nuansa polemik yang telah terjadi apa lagi musim ini adalah musimnya politik menjelang pilpres 2019.

Ngerunpi di kantin bisa melewati ruang-ruang kelas dan jurusan. Politik yang biasanya hanya dibahas di jurusan PPKN atau jurusan Ilmu Hukum, di kantin topic itu bisa didiskusikan bersama mahasiswa jurusan yang lain. Jadi, pengetahuan mereka lebih komprehensif dan meneyeluruh tidak hanya berkutat pada satu jalur bidangnya masing-masing. Atau jurusan yang ada di fakultas ekonomi dan katanya hanya membahasa uang, uang, dan uang buktinya juga bisa berkutat dalam bidang sastra dan kain sebagainya.

Kegiatan seperti itu sebenarnya tidak kalah penting dari kegiatan resmi pembelajaran dalam kelas, maka saya katakan kantin sebagai nyawa negara.

Pendidikan dalam pandangan Paulo Freire merupakan pengembalian fungsi pendidikan sebagai alat pembebasan, maka dengan demikian dapat dikatakan yang menjadi substansi sebenarnya adalah bagaimaa pendidikan tersebut diterapkan, tidak terletak pada lembaga pendidikan, maka bebas tempat seperti apa untuk menjalankan proses pendidikan sebenarnya.

Pernah terlintas dalam pikiran sebuah pendidikan atau rangkaian mengajar tanpa RPP dan Silabus? Ya, itu adalah sebuah kantin; pendidikan tanpa RPP dan Silabus. Sebenarnya apa yang terjadi di dalam kantin bagian dari pendidikan. Tempat di mana diskusi liar terjadi. Untuk kemajauan sebuah negara RPP dan Silabus tidak menjadi tolak ukur pembelajar berkembang.

Dua hal tersebut hanya formalitas menambah beban guru atau mahasiswa yang sedang PPL Real. Pada akhirnya ya hasilnya tidak jauh berbeda dengan pendidikan tanpa RPP dan Silabus atau bahkan proses dan hasil belajarnya bagus dan lebih jeli belajar dan disksi di dalam kantin daripada di kelas atau kampus.

Kita sekali-kali melihat sepion dalam artian menoleh ke belakang melihat sejarah. Untuk menjadikan negara Indonesia merdeka dan bebas dari cengkraman Belanda itu membutuhkan kaum muda yang cerdas. Jika dulu Tjokroaminoto dan murid-muridnya seperti Soekarno, Semaun, dan Kartosierjo pendidikannya tanpa fasilitas yang komplit seperti era saat ini, bahkan Tjokroaminoto cara mengajarkan ilmu pada muridnya dengan sederhana, tapi hasilnya jelas menjadikan karakter anak muda berwibawa.

Dulu mungkin tidak ada nama kantin, tapi mungkin pula namanya tongkrongan atau lebih tepatnya adalah kedai. Di situ mereka banyak bertukar pikiran memunculkan inovasi baru menegenai negara. Nah, benar juga di situ dapat dikatakan kantin dan kedai nyawa negara.

Kantin pula tempat anak muda bangasa mengutarakan kebebasan dalam berpendapat, beropini, dan mengeluh kesah. Kita sekarang berbicara demokrasi dalam skala kecil. (Diane Ravitch, 1991: 5) mengatakan demokrasi merupakan sistem di mana warga negara bebas mengambil keputusan dan pengetahuan mengenai sosok guru demokrasi merupakan salah satu faktor penting bagi pemahaman makna demokrasi seutuhnya.

Sepengalaman saya duduk di bangku SD sampai sekarang kuliah, untuk berpendapat masih saja tidak ada kebebasan. Di sana pengajar sebagai raja, hakim, atau sebagai wasit menentukan jalannya pertandingan sepak bola. Seolah-olah pendapat merekalah yang paling benar daripada ujaran orang lain. Di sana demokrasi dalam kelas tidak berjalan sesuai dengan arti demokrasi yang sebenarnya.

Lain halnya dengan kantin, sebagai tempat anak muda bebas mengutarakan pendapatnya dalam segala hal. Misalnya menaggapi isu terbaru saat ini terkait maraknya agama dan politik. Jika berbicara dan mengutarakan argumennya dalam kelas pasti tidak ada kebebasan tapi jika di kantin bebas berpendapat, teman yang satu memandang ke arah A dan teman yang lain bisa jadi B.  Jika di dalam ruang kelas yang benar adalah pendapat pendidik atau pengajar. Jadi hal sekecil itu terkadang memengaruhi pemikiran cemerlang anak muda khusunya mahasiswa. Untungnya ada kantin, dan saya rasa kantin sebagai salah satu nyawa negara.

Selain itu, kantin yang disebut salah satu nyawa negara juga unik dan luar biasa. Karena jika dalam lembaga pendidikan kelas/kampus dan guru/dosen hanya mengajarkan satu tema persemester dengan bertahap dalam satu minggu satu bab, kalah dengan anak muda yang sering nongkrong di kantin. Mungkin dalam sekali ngobrol bisa membahas beberapa buku yang ada, beberapa topik tentang sejarah dibahas dalam rentan waktu beberapa jam. Lebih asiknya lagi diskusi lebih santai dengan hidangan pisang goreng dan seteguk kopi hangat, tertawa terbahak-bahak tapi mendapatkan hasil yang tidak kalah dengan lembaga formal.

Jangan mengira kantin hanya untuk mengisi perut dan melepas dahaga saja, tapi di sisi yang lain tak kalah pentingnya adalah kantin sebagai kegiatan belajar santai, diskusi sembari tertawa, tempat di mana sebuah kebebasan berpendapat terjadi. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana jika tidak ada kantin sebagai ajang adu ideologi. Maka dari itu, kantin sebagai salah satu nyawa kampus dan negara. Jadi, jangan dianggap remeh. (T)

Tags: kampuskantinnegaraPendidikan
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Ayam, Taji dan Radio

Next Post

Terperangkap Jejaring Warisan: Perlu Hermeneutika untuk Bali #Kolom Made Metera

Muhammad Fathur Rozi

Muhammad Fathur Rozi

Alumni mahasiswa PBSI–Undiksha. Kini menjadi guru dan mahasiswa magister aktif di Universitas Nurul Jadid Paiton. Facebook: El-Fathur Rozi. Gmail: rozi8917@gmail.com

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Terperangkap Jejaring Warisan: Perlu Hermeneutika untuk Bali  #Kolom Made Metera

Terperangkap Jejaring Warisan: Perlu Hermeneutika untuk Bali #Kolom Made Metera

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co