24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keberanian untuk Memulai Ketidakselesaian

Hidayat by Hidayat
February 22, 2018
in Cerpen
Keberanian untuk Memulai Ketidakselesaian

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

SUARA mesin grinder biji kopi, aroma biji kopi yang telah menjadi bubuk, lagu pop barat yang membosankan. Dan orang-orang yang melewatkan malam bersama dalam satu ruang.

Robin dan Sabina duduk bersama di meja dekat pintu kafe, saling berhadap-hadapan. Robin menghadap ke dalam, memandang seisi kafe, Sabina menghadap ke jalan, memandang sepi kendaraan. Mereka saling bercakap seperti sepasang kekasih yang baru jadian. Mesra dan serius.Sabina lebih mendominasi, Robin dengan baik-baik mendengarkan.

Seseorang di meja pojok berdiri, menghampiri pemilik kafe. “Lagunya diganti dong, Bli”, celetuknya.

Pemilik kafe yang sedang membuatkan pesanan menganguk dan memberikan remote control LCD. Dengan gagahnya seperti seorang yang serba bisa, menekan tombol remote, ia mengganti lagu seenaknya tanpa permisi pada pelanggan yang lain.

“Lihat pemuda di belakangmu itu, Sa, pasti hidupnya terasing sekali,” pinta Robin dengan yakin

Sabina membalik tubuhnya, matanya berusaha menemukan apa yang apa yang ingin ditunjukkan oleh Robin. Setelah selesai, ia berbalik, mengangkat kedua alisnya dan menatap Robin dalam-dalam.

“Apa yang membuatmu begitu yakin, Robin?”

“Ketidakpeduliaannya terhadap orang lain!”

“Hanya itu?”

Robin diam. Sabina diam. Masing-masing mereka menyeruput kopi. Dan seperti adegan sebuah film, mereka meletakkan cangkir bersamaan, bunyi ting bersamaan. Musik yang anggun mengalun melankolis.

Orang-orang di kafe itu, yang tidak begitu paham musik tak terlalu mempedulikannya. Musik klasik tak cocok diputar di zaman sekarang. Orang-orang di kafe bermuka kecut, mengeluh dalam hatinya, “Duuuh, musiknya bikin ngantuk.” Kebanyakan dari mereka tampakseperti mahasiswa-mahasiswi. Muda dan sedikit menggoda. Wajahnya terpancar akan kehausan cinta dan citra.

“Beethoven. Selera musiknya tak begitu buruk,” sambung Sabina.

“Aku tak yakin begitu, Sa. Kukira semua orang bisa akting. Bisa aja ia sedang akting, menunjukkan bahwa dirinya memiliki pengetahuan yang luas soal musik,” ucap Robin meyakinkan Sabina

“Seperti aktor film yang hanya mengikuti arahan sutradara?”

“Ini lain, Sa.”

Tiba-tiba Ludwig van Beethoven masuk dalam kafe dengan langkah yang angkuh, lalu duduk di meja kosong dekat meja barista. Tiba-tiba mejanya berubah jadi piano. Ia memainkannya Symphoni no.8 yang anggun dan rumit.

Sabina diam dan matanya terpejam. Robin yang tak begitu bisa menikmati musik klasik hanya diam. Memandangi Sabina dengan terkagum-kagum.

Wajah nan anggun, alis yang hitam dan tebal, rambut pendek hitam kemerah-merahan. Sabina menempelkan tangannya di atas meja. Membiarkan imajinasinya melebur dalam musik klasik karya komponis besar Beethoven. Seolah-olah ia ikut memainkan. Dan matanya yang terpejam memperlihatkan anggunnya anugerah pendengaran yang dimiliki.

Ia kemudian mengambil cangkir di depannya, meletakkan di bibirnya dengan mata sedikit terpejam sambil tetap menghayati ritme.

“Ini sudah ke-9 kali, Robin, hampir setiap malam kau mengajakku keluar, mentraktir makan dan minum, di tempat ini. Selalu tempat ini,” kata Sabina

“Tidak. Ini ke-8 kali, Sa,” tegas Robin.

“Lalu?” tanya Sabina.

Robin menghela napas panjang. Menatap Sabina, seperti menerka jawaban apa yang paling diinginkannya. Sesekali ia mengawasi orang-orang yang juga duduk di kafe ini. Beberapa di antara mereka mengabaikan temannya, ada yang  tertawa karena cerita, ada yang merokok dan diam sendirian, juga ada yang memenadangi layar LCD, seperti mencoba mengingat siapa itu.

Hampir dua jam mereka duduk, menikmati minuman kesukaan masing-masing, dan saling berpandangan. Sementara Sabina bercerita, Robin mendengar dan mencatat setiap cerita ke dalam memori otaknya.

Dalam tempo kurang dari sepuluh menit, otaknya sudah dipenuhi fragmen-fragmen cerita dari Sabina. Tentang kecintaannya pada anjing, tentang minatnya pada musik klasik, tentang ibunya yang berulang tahun 3 hari lalu, tentang ayahnya yang tak pernah kembali dan tentang pacarnya yang kecanduan rokok.

“Kau begitu manis malam ini,” sela Robin memotong cerita Sabina.

“Dan kau selalu ramah, Robin. Seperti ketika kau dan aku pertama bertemu,” balas Sabina.

Robin hanya tersenyum sambil memutar ingatannya. Ia dan Sabina bertemu pada Selasa malam di sebuah rumah komunitas, tempat sejumlah mahasiswa dengan hobi yang sama berkumpul, menonton, dan mendiskusikan film-film Ingmar Bergmen, David Lynch, Christoper Nolan, Quentin Tarantino, Stanley Kubrick dan lain-lain. Pada akhir diskusi, Robin, yang bukan mahasiswa sastra, entah mengapa tiba-tiba menghampiri Sabina, berkenalan dan bertukar nomor.

“Orang-orang dengan minat pada film yang tinggi selalu menarik untuk diperhatikan, lebih humanis dan tidak membosankan,” balas Robin dan tersenyum.

“Itu kata-kataku ketika menutup diskusi,” sahut Sabina.

Robin menempelkan rokok di bibirnya dan mengangkat korek, sebagai isyarat tanya, tidak keberatankah bila aku merokok? Sabina hanya tersenyum sebagai tanda meng-iya-kan isyarat Robin.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Robin.”

Hisapan panjang, musik yang mengiringi diamnya, kepulan asap yang keluar perlahan-lahan  seperti tak ingin cepat hilang.

Mulutnya masih berasap, jari-jemarinya yang kurus memutar-mutar batang rokoknya. Robin menjawab dengan yakin, “Untuk apa aku lakukan ini? Aku ingin menulis, Sa.”

“Menulis tentang aku?” Sabina semakin penasaran.

“Aku selalu penasaran dengan kehidupan orang-orang. Aku tak pernah tahu bagaimana karakter setiap orang. Itulah sebabnya aku habiskan waktu setiap malam di sini  untuk lebih tahu bagaimana karaktermu, bagaimana tempat ini.” jawabnya yakin.

Robin bisa mengetahui banyak hal tentang orang-orang yang diajaknya menghabiskan waktu berlama-lama. Ia menyusun karakter, alur, dan ide cerita, lalu menuliskannya. Ia tahu banyak hal lewat percakapannya dengan orang-orang.

Sabina mengangguk yakin. Namun alasan Robin dirasa tak cocok dengan jawaban yang diharapkan, ia kemudian bertanya lagi, “Jadi, hanya untuk alasan menulis lantas kau lakukan ini?”

Robin tersenyum, dengan improvisasi yang handal ia menjawab dengan penuh semangat, “Begini, Sa. Aku tak tahu apakah ini berguna. Kurasa ada hal-hal yang sulit dipahami jika aku hanya melihat dari jauh. Aku harus bisa sedekat mungkin dengan objek yang membuatku tertarik.”

“Kau tak menulis tentang orang asing?” tanya Sabina penasaran

“Tidak begitu yakin. Aku hanya menulis tentang apa yang kualami, dan mungkin dialami semua orang.”

Ia sendiri, pemuda dari keluarga terhormat di kampung halamnnya. Ia pemalas dan bebal. Namun ia juga seperti kebanyakan orang yang idealis. Mengorbankan apa saja demi tercapainya tujuan. ia mengunjungi banyak tempat, berteman dengan banyak orang, dan melakukan apa yang dilakukan oleh orang lain.

Robin memang ingin menulis dan selalu menulis dengan serius dan perenungan yang dalam. Dua bulan terakhir, dapur penulisannya tak berasap lagi. Macet begitu saja. Ia memang menyadari itu. Tapi tak tahu bagaimana menghidupkan api dapur penulisannya. Sampai pada akhirnya ia yakin, bahwa dirinya kurang mendalami karakter tokoh yang akan ditulisnya.

Ada begitu banyak inspirasi menulis sebanarnya, dan ia yakin di dunia ini tak ada yang benar-benar baru. Semua karya tulis adalah bentuk replika dari suatu masyarakat. Seorang penulis membutuhkan observasi yang mendalam untuk membentuk karakter dan alur cerita.

Lebih dari dua minggu ia tinggalkan kuliah. Mengikuti pedagang di pasar pada dini hari, membuntuti mahasiswa-mahasiswi pada siang, mendengar obrolan orang-orang pekerja pada pagi di sebuah warung makan, dan juga ia selalu penasaran pada orang-orang yang berangkat sembahyang pada sore hari.

Ia mengikuti orang-orang yang membuatnya penasaran dan menurutnya menarik. Kemudian ia mengamati bagaimana pola tingkah, bagaimana gerak setiap orang, dan mendengar apa yang diperbincangkan.

Robin telah menghabiskan seluruh kirimannya bulan ini, mentraktir dan bercakap lama-lama, mengunjungi tempat-tempat baru, ini dilakukan untuk mendalami karakter seseorang yang menarik baginya.

Dan satu-satunya untuk kelancaran misinya, iamenjual sebagian pakaian, menggadaikan motor, dan menjual jam tangan pemberian kekasihnya. Kemudian, untuk menghemat uang dan tatap pada misinya, ia pindah kost yang lebih murah, walaupun tempat tidur, meja tulis, dan tempat ibadah menjadi satu. Sekalipun sempit dan berdebu, ia bahagia.

Robin telah menemukan banyak orang yang dijadikan objek tulisannya. Seorang preman yang mengeluh kehilangan gigi, seorang pedagang pasar yang mengeluh bangun dini hari, seorang mahasiswi yang menangis kehilangan kunci motor, seorang notaris yang ingin menghabiskan waktunya untuk melihat banyak pantai.

Jari-jari Sabina yang mungil mengetuk meja kayu. Bibirnya yang tipis seperti ingin bertanya. Lalu meneguk cappuccino-nya. Sementara Robin sedang tak memperhatikannya, ia mengawasi seisi kafe menerka isi kepala orang-orang, seperti ingin masuk ke dalamnya untuk mencuri karakternya.

Sekarang sudah jam 11.30. Orang-orang di kafe mulai bergegas pulang. Dan mungkin, salah satu alasan adalah bosan dengan musiknya. Musik klasik selalu membosankan bagi generasi sekarang. Tak dianggap mampu menyuntikkan adrenalin yang mampu mendatangkan inspirasi. Kuno dan tampak ragu, seperti sepatu musafir yang usang diselimuti debu dan keringat. Seperti benda kuno yang semestinya dimuseumkan.

“Tapi mengapa aku?” celetuk Sabina membuyarkan lamunan Robin

“Tak ada alasan, Sa.”

“Karena aku menarik?”

“Mungkin,” jawab Robin singkat dan patah

Robin menyeruput espessonya. Sabina mengusap bibirnya dengan tisu.

“Apa yang akan kau lakukan setelah ini, kau tidak tidur di kosku lagi?”

“Kurasa tidak. Aku mencoba memulai menulis ketidakselesaian. Karya selalu tentang tidak selesai.” (T)

 

*Cerpen ini terinspirasi kata-kata Rainer Maria Rilke, “puisi bukanlah sentimen, ia adalah pengalaman. Untuk dapat menulis sebaris sajak, kita mesti telah melihat banyak kota, manusia dan benda-benda.”

Tags: Cerpen
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

KKN PPM Unud 2018 di Mas Ubud: Dengan Melukis, Perangi Sampah Plastik

Next Post

Tuhan, Cinta dan Birahi, di Bawah Kibaran Daster

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Tuhan, Cinta dan Birahi, di Bawah Kibaran Daster

Tuhan, Cinta dan Birahi, di Bawah Kibaran Daster

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co