3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keberanian untuk Memulai Ketidakselesaian

Hidayat by Hidayat
February 22, 2018
in Cerpen
Keberanian untuk Memulai Ketidakselesaian

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

SUARA mesin grinder biji kopi, aroma biji kopi yang telah menjadi bubuk, lagu pop barat yang membosankan. Dan orang-orang yang melewatkan malam bersama dalam satu ruang.

Robin dan Sabina duduk bersama di meja dekat pintu kafe, saling berhadap-hadapan. Robin menghadap ke dalam, memandang seisi kafe, Sabina menghadap ke jalan, memandang sepi kendaraan. Mereka saling bercakap seperti sepasang kekasih yang baru jadian. Mesra dan serius.Sabina lebih mendominasi, Robin dengan baik-baik mendengarkan.

Seseorang di meja pojok berdiri, menghampiri pemilik kafe. “Lagunya diganti dong, Bli”, celetuknya.

Pemilik kafe yang sedang membuatkan pesanan menganguk dan memberikan remote control LCD. Dengan gagahnya seperti seorang yang serba bisa, menekan tombol remote, ia mengganti lagu seenaknya tanpa permisi pada pelanggan yang lain.

“Lihat pemuda di belakangmu itu, Sa, pasti hidupnya terasing sekali,” pinta Robin dengan yakin

Sabina membalik tubuhnya, matanya berusaha menemukan apa yang apa yang ingin ditunjukkan oleh Robin. Setelah selesai, ia berbalik, mengangkat kedua alisnya dan menatap Robin dalam-dalam.

“Apa yang membuatmu begitu yakin, Robin?”

“Ketidakpeduliaannya terhadap orang lain!”

“Hanya itu?”

Robin diam. Sabina diam. Masing-masing mereka menyeruput kopi. Dan seperti adegan sebuah film, mereka meletakkan cangkir bersamaan, bunyi ting bersamaan. Musik yang anggun mengalun melankolis.

Orang-orang di kafe itu, yang tidak begitu paham musik tak terlalu mempedulikannya. Musik klasik tak cocok diputar di zaman sekarang. Orang-orang di kafe bermuka kecut, mengeluh dalam hatinya, “Duuuh, musiknya bikin ngantuk.” Kebanyakan dari mereka tampakseperti mahasiswa-mahasiswi. Muda dan sedikit menggoda. Wajahnya terpancar akan kehausan cinta dan citra.

“Beethoven. Selera musiknya tak begitu buruk,” sambung Sabina.

“Aku tak yakin begitu, Sa. Kukira semua orang bisa akting. Bisa aja ia sedang akting, menunjukkan bahwa dirinya memiliki pengetahuan yang luas soal musik,” ucap Robin meyakinkan Sabina

“Seperti aktor film yang hanya mengikuti arahan sutradara?”

“Ini lain, Sa.”

Tiba-tiba Ludwig van Beethoven masuk dalam kafe dengan langkah yang angkuh, lalu duduk di meja kosong dekat meja barista. Tiba-tiba mejanya berubah jadi piano. Ia memainkannya Symphoni no.8 yang anggun dan rumit.

Sabina diam dan matanya terpejam. Robin yang tak begitu bisa menikmati musik klasik hanya diam. Memandangi Sabina dengan terkagum-kagum.

Wajah nan anggun, alis yang hitam dan tebal, rambut pendek hitam kemerah-merahan. Sabina menempelkan tangannya di atas meja. Membiarkan imajinasinya melebur dalam musik klasik karya komponis besar Beethoven. Seolah-olah ia ikut memainkan. Dan matanya yang terpejam memperlihatkan anggunnya anugerah pendengaran yang dimiliki.

Ia kemudian mengambil cangkir di depannya, meletakkan di bibirnya dengan mata sedikit terpejam sambil tetap menghayati ritme.

“Ini sudah ke-9 kali, Robin, hampir setiap malam kau mengajakku keluar, mentraktir makan dan minum, di tempat ini. Selalu tempat ini,” kata Sabina

“Tidak. Ini ke-8 kali, Sa,” tegas Robin.

“Lalu?” tanya Sabina.

Robin menghela napas panjang. Menatap Sabina, seperti menerka jawaban apa yang paling diinginkannya. Sesekali ia mengawasi orang-orang yang juga duduk di kafe ini. Beberapa di antara mereka mengabaikan temannya, ada yang  tertawa karena cerita, ada yang merokok dan diam sendirian, juga ada yang memenadangi layar LCD, seperti mencoba mengingat siapa itu.

Hampir dua jam mereka duduk, menikmati minuman kesukaan masing-masing, dan saling berpandangan. Sementara Sabina bercerita, Robin mendengar dan mencatat setiap cerita ke dalam memori otaknya.

Dalam tempo kurang dari sepuluh menit, otaknya sudah dipenuhi fragmen-fragmen cerita dari Sabina. Tentang kecintaannya pada anjing, tentang minatnya pada musik klasik, tentang ibunya yang berulang tahun 3 hari lalu, tentang ayahnya yang tak pernah kembali dan tentang pacarnya yang kecanduan rokok.

“Kau begitu manis malam ini,” sela Robin memotong cerita Sabina.

“Dan kau selalu ramah, Robin. Seperti ketika kau dan aku pertama bertemu,” balas Sabina.

Robin hanya tersenyum sambil memutar ingatannya. Ia dan Sabina bertemu pada Selasa malam di sebuah rumah komunitas, tempat sejumlah mahasiswa dengan hobi yang sama berkumpul, menonton, dan mendiskusikan film-film Ingmar Bergmen, David Lynch, Christoper Nolan, Quentin Tarantino, Stanley Kubrick dan lain-lain. Pada akhir diskusi, Robin, yang bukan mahasiswa sastra, entah mengapa tiba-tiba menghampiri Sabina, berkenalan dan bertukar nomor.

“Orang-orang dengan minat pada film yang tinggi selalu menarik untuk diperhatikan, lebih humanis dan tidak membosankan,” balas Robin dan tersenyum.

“Itu kata-kataku ketika menutup diskusi,” sahut Sabina.

Robin menempelkan rokok di bibirnya dan mengangkat korek, sebagai isyarat tanya, tidak keberatankah bila aku merokok? Sabina hanya tersenyum sebagai tanda meng-iya-kan isyarat Robin.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Robin.”

Hisapan panjang, musik yang mengiringi diamnya, kepulan asap yang keluar perlahan-lahan  seperti tak ingin cepat hilang.

Mulutnya masih berasap, jari-jemarinya yang kurus memutar-mutar batang rokoknya. Robin menjawab dengan yakin, “Untuk apa aku lakukan ini? Aku ingin menulis, Sa.”

“Menulis tentang aku?” Sabina semakin penasaran.

“Aku selalu penasaran dengan kehidupan orang-orang. Aku tak pernah tahu bagaimana karakter setiap orang. Itulah sebabnya aku habiskan waktu setiap malam di sini  untuk lebih tahu bagaimana karaktermu, bagaimana tempat ini.” jawabnya yakin.

Robin bisa mengetahui banyak hal tentang orang-orang yang diajaknya menghabiskan waktu berlama-lama. Ia menyusun karakter, alur, dan ide cerita, lalu menuliskannya. Ia tahu banyak hal lewat percakapannya dengan orang-orang.

Sabina mengangguk yakin. Namun alasan Robin dirasa tak cocok dengan jawaban yang diharapkan, ia kemudian bertanya lagi, “Jadi, hanya untuk alasan menulis lantas kau lakukan ini?”

Robin tersenyum, dengan improvisasi yang handal ia menjawab dengan penuh semangat, “Begini, Sa. Aku tak tahu apakah ini berguna. Kurasa ada hal-hal yang sulit dipahami jika aku hanya melihat dari jauh. Aku harus bisa sedekat mungkin dengan objek yang membuatku tertarik.”

“Kau tak menulis tentang orang asing?” tanya Sabina penasaran

“Tidak begitu yakin. Aku hanya menulis tentang apa yang kualami, dan mungkin dialami semua orang.”

Ia sendiri, pemuda dari keluarga terhormat di kampung halamnnya. Ia pemalas dan bebal. Namun ia juga seperti kebanyakan orang yang idealis. Mengorbankan apa saja demi tercapainya tujuan. ia mengunjungi banyak tempat, berteman dengan banyak orang, dan melakukan apa yang dilakukan oleh orang lain.

Robin memang ingin menulis dan selalu menulis dengan serius dan perenungan yang dalam. Dua bulan terakhir, dapur penulisannya tak berasap lagi. Macet begitu saja. Ia memang menyadari itu. Tapi tak tahu bagaimana menghidupkan api dapur penulisannya. Sampai pada akhirnya ia yakin, bahwa dirinya kurang mendalami karakter tokoh yang akan ditulisnya.

Ada begitu banyak inspirasi menulis sebanarnya, dan ia yakin di dunia ini tak ada yang benar-benar baru. Semua karya tulis adalah bentuk replika dari suatu masyarakat. Seorang penulis membutuhkan observasi yang mendalam untuk membentuk karakter dan alur cerita.

Lebih dari dua minggu ia tinggalkan kuliah. Mengikuti pedagang di pasar pada dini hari, membuntuti mahasiswa-mahasiswi pada siang, mendengar obrolan orang-orang pekerja pada pagi di sebuah warung makan, dan juga ia selalu penasaran pada orang-orang yang berangkat sembahyang pada sore hari.

Ia mengikuti orang-orang yang membuatnya penasaran dan menurutnya menarik. Kemudian ia mengamati bagaimana pola tingkah, bagaimana gerak setiap orang, dan mendengar apa yang diperbincangkan.

Robin telah menghabiskan seluruh kirimannya bulan ini, mentraktir dan bercakap lama-lama, mengunjungi tempat-tempat baru, ini dilakukan untuk mendalami karakter seseorang yang menarik baginya.

Dan satu-satunya untuk kelancaran misinya, iamenjual sebagian pakaian, menggadaikan motor, dan menjual jam tangan pemberian kekasihnya. Kemudian, untuk menghemat uang dan tatap pada misinya, ia pindah kost yang lebih murah, walaupun tempat tidur, meja tulis, dan tempat ibadah menjadi satu. Sekalipun sempit dan berdebu, ia bahagia.

Robin telah menemukan banyak orang yang dijadikan objek tulisannya. Seorang preman yang mengeluh kehilangan gigi, seorang pedagang pasar yang mengeluh bangun dini hari, seorang mahasiswi yang menangis kehilangan kunci motor, seorang notaris yang ingin menghabiskan waktunya untuk melihat banyak pantai.

Jari-jari Sabina yang mungil mengetuk meja kayu. Bibirnya yang tipis seperti ingin bertanya. Lalu meneguk cappuccino-nya. Sementara Robin sedang tak memperhatikannya, ia mengawasi seisi kafe menerka isi kepala orang-orang, seperti ingin masuk ke dalamnya untuk mencuri karakternya.

Sekarang sudah jam 11.30. Orang-orang di kafe mulai bergegas pulang. Dan mungkin, salah satu alasan adalah bosan dengan musiknya. Musik klasik selalu membosankan bagi generasi sekarang. Tak dianggap mampu menyuntikkan adrenalin yang mampu mendatangkan inspirasi. Kuno dan tampak ragu, seperti sepatu musafir yang usang diselimuti debu dan keringat. Seperti benda kuno yang semestinya dimuseumkan.

“Tapi mengapa aku?” celetuk Sabina membuyarkan lamunan Robin

“Tak ada alasan, Sa.”

“Karena aku menarik?”

“Mungkin,” jawab Robin singkat dan patah

Robin menyeruput espessonya. Sabina mengusap bibirnya dengan tisu.

“Apa yang akan kau lakukan setelah ini, kau tidak tidur di kosku lagi?”

“Kurasa tidak. Aku mencoba memulai menulis ketidakselesaian. Karya selalu tentang tidak selesai.” (T)

 

*Cerpen ini terinspirasi kata-kata Rainer Maria Rilke, “puisi bukanlah sentimen, ia adalah pengalaman. Untuk dapat menulis sebaris sajak, kita mesti telah melihat banyak kota, manusia dan benda-benda.”

Tags: Cerpen
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

KKN PPM Unud 2018 di Mas Ubud: Dengan Melukis, Perangi Sampah Plastik

Next Post

Tuhan, Cinta dan Birahi, di Bawah Kibaran Daster

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Tuhan, Cinta dan Birahi, di Bawah Kibaran Daster

Tuhan, Cinta dan Birahi, di Bawah Kibaran Daster

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co