TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan kesabaran melalui pertumbuhannya yang perlahan. Sungai mengajarkan perjalanan tanpa pernah memberi khotbah. Gunung mengajarkan keteguhan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pengetahuan lahir dari perjumpaan yang panjang dengan tanah, hujan, angin, dan musim. Alam menjadi guru pertama, jauh sebelum manusia mengenal sekolah, perpustakaan, atau universitas.
Kini hubungan itu perlahan berubah. Kita mengenal alam melalui data, peta digital, atau gambar di layar telepon genggam. Kita mengetahui nama ilmiah berbagai jenis pohon, tetapi tidak lagi akrab dengan tekstur kulit batangnya. Kita dapat mencari ribuan foto bunga padma dalam hitungan detik, tetapi belum tentu pernah menyaksikan bagaimana kelopaknya perlahan membuka ketika matahari pagi menyentuh permukaan air. Alam masih berbicara, tetapi manusia semakin jarang mendengarkannya.
Kegelisahan itulah yang terasa hidup dalam The Sacred Text of Padma (2026), karya kolaboratif Sumino dan Sarah Kasuhardi. Karya ini dipamerkan dalam Becoming: Prakriti, Pustaka, Padma, pameran kriya internasional yang berlangsung di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, Bali, pada 5-18 Juli 2026.
Menghadirkan puluhan seniman dari berbagai negara, pameran tersebut mempertemukan berbagai tafsir tentang hubungan antara alam, pengetahuan, dan spiritualitas melalui bahasa kriya kontemporer. Di tengah berbagai karya yang dipamerkan, The Sacred Text of Padma menawarkan perenungan yang tenang sekaligus mendalam. Melalui selembar kayu dan guratan kuningan, karya ini mengingatkan bahwa alam sesungguhnya masih terus menulis, sementara manusialah yang perlahan kehilangan kemampuan untuk membacanya.
Judul karya ini segera mengundang rasa ingin tahu. The Sacred Text of Padma. Sebuah “teks suci” tentang padma. Kata text menggeser cara kita memandang karya seni. Yang hadir di hadapan kita bukan sekadar objek untuk dinikmati secara visual, melainkan sesuatu yang hendak dibaca.
Namun bagaimana membaca sepotong kayu? Bagaimana membaca bunga? Bagaimana membaca guratan yang dibentuk oleh waktu? Pertanyaan-pertanyaan itu justru menjadi pintu masuk menuju karya ini.
Sumino dan Sarah Kasuhardi tidak menghadirkan teks dalam bentuk aksara. Mereka menjadikan kayu sebagai halaman, serat sebagai kalimat, dan kuningan sebagai tinta yang mengabadikan pengalaman spiritual. Membaca karya ini akhirnya bukan perkara mengeja huruf, melainkan melatih kembali kepekaan untuk memahami bahasa yang sejak lama ditulis oleh alam.
Judul pameran Becoming: Prakriti, Pustaka, Padma pun bukan sekadar rangkaian tiga istilah Sanskerta yang terdengar puitis. Di dalamnya tersimpan sebuah perjalanan gagasan. Prakriti menunjuk pada alam sebagai sumber kehidupan. Pustaka merujuk pada pengetahuan yang lahir dari pengalaman manusia membaca alam. Sementara Padma menjadi lambang kesadaran yang tumbuh menuju kebijaksanaan. Ketiganya membentuk lintasan yang utuh; dari alam, menuju pengetahuan, lalu bermuara pada pencerahan. The Sacred Text of Padma seolah menjadi simpul yang mempertemukan ketiga gagasan tersebut dalam satu bidang karya.
Hal pertama yang menarik perhatian justru bukan bunga padma di bagian tengah, melainkan bentuk kayunya sendiri. Kayu itu tidak dipotong menjadi persegi sempurna sebagaimana lazimnya bidang lukis. Lekukan-lekukan alaminya tetap dipertahankan. Tepinya bergelombang. Bentuknya organik, menyerupai serpihan bumi yang terlepas dari bentang alam.
Keputusan artistik ini tampak sederhana, tetapi menyimpan sikap estetik yang penting. Dalam kehidupan modern, manusia terbiasa memaksa alam mengikuti logika geometri. Hutan dibagi menjadi petak-petak, sungai diluruskan, bukit diratakan. Alam harus tunduk pada ukuran manusia.
Sebaliknya, karya ini membiarkan kayu tetap menjadi dirinya sendiri. Pilihan itu mengingatkan bahwa kriya tidak selalu lahir dari keinginan menguasai material. Kadang-kadang, karya terbaik justru muncul ketika seniman bersedia mendengarkan karakter material yang sedang diolah. Kayu tidak dipaksa kehilangan ingatannya. Bekas pertumbuhan, lekuk alami, dan warna yang dibentuk usia tetap dipertahankan sebagai bagian dari bahasa visual karya.
Permukaan kayu yang gelap menyimpan jaringan serat yang bergerak ke berbagai arah. Garis-garis itu tidak dibuat oleh tangan seniman. Ia lahir dari perjalanan panjang pohon menghadapi musim demi musim. Hujan, kemarau, cahaya matahari, dan usia meninggalkan jejak yang tidak mungkin dipalsukan.
Dengan demikian, sebelum karya ini selesai dikerjakan pada 2026, sesungguhnya ia telah mulai ditulis jauh sebelumnya oleh alam sendiri. Di sinilah makna “teks suci” menemukan kedalamannya.Serat kayu bukan sekadar tekstur, ia adalah ingatan.

Dari kejauhan, komposisi karya tampak sederhana. Namun ketika pandangan mendekat, detail-detail kecil mulai berbicara. Kilau kuningan mengikuti lekuk ukiran seperti urat-urat cahaya yang merambat di atas permukaan kayu tua. Padma di bagian tengah tidak tampak ditempelkan, melainkan seolah tumbuh dari tubuh kayu itu sendiri. Hubungan tersebut membuat bunga itu bukan sekadar hiasan, melainkan puncak dari perjalanan yang telah dimulai oleh alam.
Dalam antropologi, ada satu pemahaman yang terus berulang, bahwa kebudayaan lahir dari hubungan manusia dengan lingkungannya. Cara sebuah masyarakat membangun rumah, mengolah sawah, menentukan arah mata angin, hingga menciptakan simbol-simbol keagamaan, tidak pernah berdiri sendiri. Semuanya tumbuh dari pengalaman panjang hidup bersama alam.
Bali menyimpan banyak jejak cara pandang semacam itu. Lontar memang menjadi media penting untuk menyimpan pengetahuan, tetapi sebelum pengetahuan dituliskan, ia terlebih dahulu hidup sebagai pengalaman. Seorang undagi mengenali karakter kayu bukan hanya karena membaca naskah, melainkan karena bertahun-tahun berhadapan dengan pohon. Petani membaca musim dari perubahan angin dan perilaku burung. Nelayan memahami laut melalui arus dan langit. Pengetahuan hadir sebagai hasil perjumpaan yang terus-menerus antara manusia dan alam.
Di tengah perubahan zaman, hubungan itu perlahan menjauh. Pengetahuan semakin banyak diperoleh melalui mesin pencari, sementara pengalaman langsung dengan alam semakin berkurang. Kita mengetahui nama ilmiah berbagai jenis pohon, tetapi tidak lagi mengenali tekstur kulit batangnya. Kita dapat melihat ribuan foto bunga padma di internet, tetapi mungkin tidak pernah menyaksikan bagaimana bunga itu perlahan membuka kelopaknya ketika matahari mulai naik.
Dalam situasi seperti itulah The Sacred Text of Padma memperoleh daya gugatnya. Karya ini mengingatkan bahwa alam bukan sekadar objek yang dapat dieksploitasi atau didokumentasikan. Alam adalah guru pertama yang diam-diam membentuk cara manusia memahami kehidupan.
Jika kayu menjadi halaman tempat alam menuliskan dirinya, maka padma adalah bagian yang paling terang untuk dibaca. Bunga itu ditempatkan tepat di pusat komposisi. Kelopak-kelopaknya tersusun radial, mengingatkan pada mandala dalam tradisi Hindu dan Buddha. Komposisi semacam ini tidak hanya menghadirkan keseimbangan visual, tetapi juga membangun pengalaman batin. Mata pembaca mula-mula tertarik pada padma, lalu perlahan bergerak mengikuti guratan kuningan, sebelum akhirnya berhenti pada serat-serat kayu yang memenuhi seluruh bidang karya.
Perjalanan mata itu seperti perjalanan memahami kehidupan. Manusia sering kali tertarik kepada sesuatu yang berkilau lebih dahulu. Namun ketika perhatian diperdalam, yang justru tampak penting adalah hal-hal yang selama ini luput diperhatikan. Serat kayu yang sederhana ternyata menyimpan kisah jauh lebih panjang daripada kilau logam yang langsung mencuri perhatian.
Padma dalam karya ini juga tidak berdiri sendiri. Ia tidak tampak sebagai simbol yang ditempelkan di atas kayu, melainkan seolah lahir dari tubuh kayu itu sendiri. Serat-serat alami mengalir menuju pusat komposisi, membuat bunga tersebut seperti tumbuh dari pengalaman panjang yang disimpan oleh pohon.
Pembacaan semacam ini membuat padma kehilangan sifatnya sebagai simbol yang beku. Ia menjadi hidup. Dalam berbagai tradisi Asia, padma memang menjadi lambang kesucian. Ia tumbuh dari lumpur tanpa membawa lumpur pada kelopaknya. Namun karya Sumino dan Sarah Kasuhardi tidak berhenti pada simbol yang sudah sangat dikenal itu. Mereka menghadirkan padma sebagai hasil dari sebuah proses.
Pencerahan, seolah ingin dikatakan karya ini, tidak pernah datang secara tiba-tiba. Ia bertumbuh, memerlukan waktu, da lahir dari pengalaman yang tidak selalu mudah.
Sebagaimana pohon membutuhkan puluhan tahun untuk membentuk batang yang kokoh, demikian pula manusia memerlukan perjalanan panjang untuk memahami dirinya sendiri. Tidak ada jalan pintas menuju kebijaksanaan.
Pilihan menggunakan kuningan memperkuat pembacaan tersebut. Kilau keemasannya hadir secukupnya. Tidak mendominasi bidang, tetapi juga tidak tenggelam di antara warna gelap kayu. Pada beberapa bagian, garis-garis kuningan tampak seperti cahaya yang merambat mengikuti alur serat. Di bagian lain, ia menyerupai guratan tinta emas pada manuskrip kuno.
Kuningan menjadi semacam aksara. Bukan aksara yang dibaca melalui bunyi, melainkan melalui pengalaman visual. Pertemuan kayu dan logam menghadirkan kontras yang lembut. Kayu membawa kesan bumi, usia, dan pertumbuhan. Kuningan menghadirkan cahaya, harapan, dan kesadaran. Keduanya tidak saling mengalahkan. Justru saling melengkapi.
Dalam kebudayaan Bali terdapat pemahaman tentang keseimbangan yang hidup melalui berbagai konsep, salah satunya rwa bhineda. Terang dan gelap, gunung dan laut, hulu dan teben, bukan dipahami sebagai pertentangan yang harus dimenangkan salah satunya, melainkan sebagai pasangan yang membuat kehidupan tetap berlangsung.
Semangat itulah yang terasa hadir dalam karya ini. Gelap tidak disingkirkan agar cahaya dapat muncul. Sebaliknya, cahaya memperoleh maknanya justru karena ada gelap yang melatarinya.
Padma tidak akan berarti tanpa lumpur, cahaya tidak akan tampak tanpa bayangan. Begitu pula pengetahuan. Ia tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari pengalaman hidup yang sering kali penuh ketidakpastian.
Ada satu hal menarik yang jarang dibicarakan ketika membahas karya kriya, yakni hubungan antara tangan dan waktu. Dalam seni kriya, waktu tidak hanya hadir sebagai penanda kapan sebuah karya selesai dibuat. Waktu justru menjadi bagian dari material itu sendiri. Setiap ukiran membutuhkan kesabaran. Setiap guratan memerlukan pengulangan. Tidak ada proses yang dapat dipercepat tanpa mengorbankan kualitas.
Karena itu, kriya sesungguhnya mengandung nilai yang semakin langka di tengah kehidupan modern. Ia mengajarkan kelambatan. Di zaman ketika hampir semua hal diukur berdasarkan kecepatan, karya kriya mengingatkan bahwa ada pengalaman yang hanya dapat lahir melalui kesabaran. Sebatang kayu tidak berubah menjadi karya seni dalam semalam. Demikian pula manusia tidak menjadi bijaksana hanya karena mengumpulkan banyak informasi.
Kebijaksanaan memerlukan waktu sebagaimana kayu memerlukan waktu untuk menjadi pohon. Dan pohon memerlukan waktu untuk menjadi hutan.
Perubahan cara pandang terhadap kriya merupakan salah satu perkembangan menarik dalam seni rupa Indonesia beberapa dekade terakhir. Dahulu, kriya lebih sering dipahami sebagai seni yang bertumpu pada keterampilan mengolah material. Keindahan sebuah karya banyak diukur dari kerumitan teknik, ketelitian pengerjaan, atau fungsi benda yang dihasilkan.
Kini batas-batas itu semakin mencair. Kriya tidak lagi sekadar berbicara tentang keterampilan tangan. Ia telah berkembang menjadi ruang untuk mengolah gagasan, mengajukan pertanyaan, bahkan mengkritik cara manusia memandang dunia. Material tidak lagi diperlakukan sebagai benda mati, melainkan sebagai medium yang membawa sejarah, ingatan, dan pengalaman.

The Sacred Text of Padma berada dalam arus perubahan tersebut. Kayu yang digunakan dalam karya ini tidak sekadar menjadi alas bagi ukiran. Ia tetap mempertahankan identitasnya sebagai bagian dari alam. Serat-serat yang dibiarkan tampak jelas memperlihatkan bahwa material tidak kehilangan riwayatnya ketika memasuki ruang seni. Justru riwayat itulah yang menjadi bagian penting dari makna karya.
Demikian pula kuningan. Ia tidak dipakai untuk menunjukkan kemewahan, melainkan menjadi penanda perjalanan menuju kesadaran. Logam itu tidak menutupi kayu, tetapi berdialog dengannya. Pertemuan keduanya menghadirkan hubungan yang saling menghidupkan, bukan saling meniadakan.
Di sinilah kekuatan karya ini. Ia tidak mengandalkan simbol semata, tetapi membiarkan material ikut berbicara. Ada lapisan lain yang membuat karya ini layak dibaca lebih jauh, yakni proses kolaborasinya. The Sacred Text of Padma lahir dari kerja bersama Sumino, seorang dosen di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dan Sarah Kasuhardi, mahasiswanya.
Kolaborasi semacam ini menyimpan makna yang lebih besar daripada sekadar kerja bersama menghasilkan sebuah karya. Ia memperlihatkan bagaimana pengetahuan diwariskan.
Dalam tradisi Nusantara, seorang empu tidak hanya mengajarkan teknik kepada cantriknya. Ia juga mewariskan cara melihat dunia. Pengetahuan tidak dipindahkan seperti memindahkan isi sebuah wadah. Ia tumbuh melalui laku, melalui percakapan, melalui kerja bersama, dan melalui penghormatan terhadap material yang sedang diolah.
Hubungan seperti itu terasa hadir dalam karya ini. Sulit mengatakan di mana gagasan seorang dosen berakhir dan gagasan seorang mahasiswa dimulai. Yang tampak justru sebuah dialog yang saling memperkaya. Kolaborasi menjadi ruang belajar yang berlangsung dua arah.
Barangkali di situlah pendidikan seni menemukan bentuknya yang paling hidup. Bukan ketika ilmu selesai diajarkan, melainkan ketika proses belajar berubah menjadi proses berkarya.
Karya ini juga mengajak kita memikirkan kembali hubungan manusia dengan alam pada masa sekarang. Selama bertahun-tahun, pembicaraan mengenai lingkungan sering berhenti pada angka. Berapa hektare hutan yang hilang, berapa ton sampah yang dihasilkan, berapa persen tutupan lahan yang berkurang. Semua itu penting sebagai data, tetapi angka tidak selalu mampu menghadirkan kedekatan emosional. Seni bekerja dengan cara yang berbeda. Ia tidak menyajikan statistik, tetapi ia menghidupkan empati.
Melalui sepotong kayu, karya ini mengingatkan bahwa setiap pohon memiliki riwayat yang jauh lebih panjang daripada masa hidup manusia. Sebatang pohon membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh, tetapi dapat ditebang dalam hitungan menit. Ketika pohon hilang, yang lenyap bukan hanya kayunya, melainkan juga jejak musim yang tersimpan pada batangnya, tempat burung bersarang, bayangan yang menaungi tanah, serta hubungan panjang antara manusia dan alam.
Karena itu, karya ini tidak dapat dibaca semata-mata sebagai simbol spiritual. Ia juga merupakan refleksi ekologis. Bukan refleksi yang lantang, melainkan refleksi yang bekerja melalui keheningan.
Barangkali di situlah letak kekuatan seni. Ia tidak memaksa orang setuju, juga tidak memberikan jawaban yang selesai. Seni hanya membuka kemungkinan untuk melihat sesuatu dari cara yang berbeda.
Selembar kayu yang semula tampak biasa berubah menjadi manuskrip kehidupan. Guratan logam yang semula terlihat sebagai hiasan berubah menjadi aksara yang menghubungkan manusia dengan alam. Padma yang semula dipahami sebagai lambang keagamaan berubah menjadi metafora tentang perjalanan menjadi manusia.
Pada titik itu, karya tidak lagi berhenti sebagai benda. Ia menjadi pengalaman. Fi tengah kehidupan yang semakin dipenuhi layar dan informasi, manusia sesungguhnya tidak sedang kekurangan pengetahuan. Yang perlahan menghilang justru kemampuan untuk mengalami pengetahuan itu sendiri.
Kita membaca lebih banyak daripada generasi-generasi sebelumnya, tetapi semakin jarang membaca alam. Kita mengenali nama tumbuhan melalui mesin pencari, tetapi lupa menyentuh kulit batangnya. Kita menyimpan ribuan foto bunga di telepon genggam, tetapi kehilangan kesabaran untuk menyaksikan bagaimana bunga itu mekar perlahan pada pagi hari.
The Sacred Text of Padma mengingatkan bahwa ada jenis pengetahuan yang tidak dapat diperoleh melalui buku, internet, ataupun ruang kuliah. Pengetahuan itu lahir ketika manusia bersedia kembali menjadi bagian dari alam, bukan sekadar pengamatnya. Serat-serat kayu yang memenuhi permukaan karya mengajarkan bahwa waktu meninggalkan jejak. Padma mengingatkan bahwa pertumbuhan memerlukan kesabaran. Sementara kilau kuningan menghadirkan harapan bahwa dari pengalaman hidup yang paling sederhana pun, kebijaksanaan dapat bertumbuh.
Di situlah karya ini melampaui dirinya sebagai sebuah objek seni. Ia tidak berhenti sebagai hasil keterampilan mengolah kayu dan logam. Ia juga tidak berhenti sebagai simbol spiritual yang indah dipandang. Karya ini berubah menjadi ruang perenungan tentang hubungan manusia dengan asal-usulnya. Tentang bagaimana alam selama ini bukan sekadar menyediakan bahan bagi kehidupan, melainkan juga membentuk cara manusia berpikir, percaya, dan memahami dirinya.
Barangkali itulah sebabnya karya ini terasa begitu tenang. Ia tidak berteriak untuk menarik perhatian. Ia tidak menawarkan tafsir tunggal. Ia tidak menggurui. Ia hanya membuka sebuah kemungkinan, bahwa sepotong kayu dapat dibaca seperti sebuah kitab, dan bahwa setiap serat yang melintas di atasnya adalah kalimat yang ditulis oleh waktu.
Dalam masyarakat Bali, hubungan dengan alam tidak pernah sepenuhnya dipahami sebagai hubungan antara manusia dan benda. Gunung, laut, pohon, mata air, hingga batu-batu tertentu ditempatkan dalam jejaring makna yang menghubungkan dunia yang tampak dan yang tak kasatmata. Alam bukan sekadar lanskap, melainkan ruang tempat manusia belajar menjaga keseimbangan hidup. Karena itu, membaca alam sesungguhnya juga berarti membaca kebudayaan yang tumbuh bersamanya.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, karya Sumino dan Sarah Kasuhardi justru mengajak kita melambat. Melambat untuk memperhatikan guratan kayu. Melambat untuk mengikuti arah cahaya pada permukaan kuningan. Melambat untuk memahami bahwa tidak semua hal penting dapat diselesaikan dalam hitungan detik. Sebagaimana pohon memerlukan puluhan tahun untuk tumbuh, demikian pula manusia memerlukan waktu untuk bertumbuh menjadi pribadi yang arif.
Barangkali memang tidak semua kitab dibuat dari kertas. Sebagiannya ditulis hujan pada batang pohon, angin pada arah tumbuh ranting matahari pada warna kayu yang menua. Dan sebagian lainnya ditulis oleh waktu, perlahan, melalui lingkar-lingkar usia yang nyaris tak pernah kita perhatikan.
Mungkin itulah fungsi terdalam sebuah karya seni. Bukan menghadirkan jawaban yang selesai, melainkan mengembalikan manusia kepada pertanyaan-pertanyaan yang pernah begitu akrab: bagaimana pohon bertumbuh, mengapa bunga tetap mekar dari lumpur, dan sejak kapan kita berhenti menganggap alam sebagai guru.
Ketika pertanyaan-pertanyaan itu hidup kembali, sebuah karya tidak lagi berhenti sebagai benda seni. Ia berubah menjadi pengalaman yang terus bekerja dalam ingatan, lama setelah kita selesai memandangnya. [T]
Keterangan karya:
The Sacred Text of Padma merupakan karya kolaboratif Sumino dan Sarah Kasuhardi yang dipamerkan dalam Becoming: Prakriti, Pustaka, Padma, pameran kriya internasional di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, Bali, pada 5–18 Juli 2026. Karya dua dimensi berukuran 55 × 38 cm ini menggunakan media kayu dan kuningan, serta berangkat dari gagasan tentang alam sebagai pustaka pertama manusia, tempat pengetahuan dan kesadaran spiritual tumbuh melalui perjalanan waktu.
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole































