30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 8, 2026
in Ulas Rupa
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Dr. Nyoman Suardina dan karyanya, Stupid Smile (Senyuman Bodoh) | Foto: Angga Wijaya

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya yang memenuhi ruang pamer. Sebagian hadir sebagai patung, sebagian lagi berupa guci, instalasi, wastra, logam, hingga kayu yang diperlakukan bukan sekadar benda, melainkan medium untuk menyampaikan pengalaman hidup.

Di ruangan itulah saya kembali bertemu karya-karya Dr. Nyoman Suardina. Beberapa bulan sebelumnya saya pernah menulis tentang dirinya di media daring Tatkala.co. Ketika itu, perhatian saya lebih banyak tertuju pada sosoknya sebagai seniman dan akademisi, juga bagaimana ia membangun dunia artistiknya melalui keramik. Kali ini suasananya berbeda. Saya tidak lagi datang untuk mengenal siapa Suardina, melainkan untuk melihat bagaimana perjalanan kreatifnya terus bergerak.

Dan saya menemukan satu hal, bahwa Suardina tetap berbicara dengan bahasa yang sama, yakni tanah. Namun bahasa itu kini terasa semakin tenang. Karya Suardina yang menyita perhatian pengunjung adalah Stupid Smile atau Senyuman Bodoh. Di atas sebuah meja bundar, pohon terakota berdiri terbalik. Akar menjulang ke atas, sementara batangnya menggantung lesu, tak lagi menjadi penyangga kehidupan, melainkan menjelma monumen kematian. Di sampingnya duduk seorang badut bertubuh tambun dengan rambut merah menyala dan senyum yang tak pernah pudar.

Dari bibirnya menjulur sebuah sedotan yang terhubung ke akar pohon. Ia mengisap. Perlahan, tanpa tergesa. Benda sederhana itu menjadi pusat narasi karya, bahwa manusia tidak sedang memelihara alam, melainkan mengisap kehidupan darinya sedikit demi sedikit.

Suardina menghadirkan metafora yang tajam tentang kerakusan manusia modern, ketika eksploitasi terhadap alam tidak selalu berlangsung melalui kekerasan yang kasatmata, melainkan justru dibungkus wajah ramah, janji kesejahteraan, dan senyum yang menenangkan.

Di tengah tema besar Prakriti–Pustaka–Padma yang mengajak publik menimbang kembali relasi manusia dengan alam, Senyuman Bodoh tampil sebagai sindiran yang getir terhadap kuasa dan modal yang terus menguras bumi. Suardina tidak menawarkan jawaban atau khotbah moral. Ia hanya menghadirkan sebuah senyuman.

Dr. Nyoman Suardina dan karyanya, Stupid Smile (Senyuman Bodoh) | Foto: Angga Wijaya

Namun justru senyum itulah yang paling mengganggu, karena memaksa penonton bertanya;  siapa sesungguhnya badut itu? Segelintir pemilik modal, para penguasa yang abai terhadap lingkungan, atau jangan-jangan diri kita sendiri yang setiap hari menikmati hasil eksploitasi alam tanpa pernah menyadari bahwa kita sedang mengisap masa depan.

Pameran Kriya Internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma menghadirkan lima puluh seniman dari delapan negara dengan tujuh puluh sembilan karya dua dan tiga dimensi. Keramik, terakota, logam, kayu, batik, tapestri, wayang kulit, instalasi hingga berbagai eksplorasi medium lain dipertemukan dalam satu ruang yang memperlihatkan perkembangan seni kriya kontemporer.

Pameran ini bukan sekadar perayaan ulang tahun ke-30 Museum ARMA. Ia juga menjadi penanda semakin terbukanya percakapan seni kriya Indonesia dengan dunia internasional melalui kolaborasi ARMA dan Program Studi Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Bali.

Tema yang diusung, Prakriti–Pustaka–Padma, terdengar puitis sekaligus filosofis. Prakriti berbicara tentang alam sebagai sumber kehidupan. Pustaka mengingatkan bahwa pengetahuan tidak hanya hidup dalam buku, tetapi juga diwariskan melalui tangan-tangan yang bekerja.

Padma menjadi metafora tentang proses menjadi. Tentang kehidupan yang terus berubah sebagaimana bunga teratai yang tumbuh dari lumpur sebelum akhirnya mekar. Ketiganya membentuk sebuah cara pandang bahwa penciptaan bukanlah hasil akhir, melainkan perjalanan panjang yang tidak pernah selesai.

Ketika membaca pengantar kuratorial itu, saya justru teringat pada perjalanan berkarya Suardina. Dalam dunia seni rupa, tidak sedikit seniman yang merasa harus terus menemukan sesuatu yang benar-benar baru agar dianggap berkembang.

Suardina memilih jalan berbeda. Ia tidak meninggalkan tanah dan justru semakin masuk ke dalamnya. Pilihan itu mungkin terdengar sederhana, padahal tidak. Tanah adalah medium yang jujur. Ia tidak bisa dipaksa. Sedikit berbeda suhu pembakaran, warna berubah. Jika sedikit berbeda kadar air, bentuk bisa retak. Begitu pun saat ada sedikit terlambat mengering, seluruh proses harus diulang.

Karena itu, bekerja dengan keramik selalu menuntut kesabaran. Barangkali itulah sebabnya karya-karya Suardina tidak pernah terasa tergesa-gesa. Ia membiarkan material menyelesaikan percakapannya sendiri.

Kurator pameran menulis bahwa dalam seni kriya kontemporer, material bukan lagi sekadar alat untuk mewujudkan gagasan. Tanah mempunyai sifatnya sendiri. Api menghadirkan kemungkinan yang tak selalu bisa diprediksi. Seniman bukan hanya membentuk material, tetapi juga dibentuk oleh material yang sedang dikerjakannya.

Kalimat itu seperti menjelaskan perjalanan artistik Suardina selama ini. Di tengah derasnya perkembangan seni kontemporer yang sering mengejar sensasi visual, karya-karya Suardina justru mengajak penonton memperlambat langkah, dimana tekstur dan retakan menjadi penting. Bahkan, permukaan yang tidak sepenuhnya rata menjadi penting.

Semuanya berbicara mengenai waktu dan juga tentang proses, dan pengalaman. Keramik yang diciptakannya tidak sedang berusaha menjadi benda yang sempurna. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian dari kehidupan.

Di sinilah saya merasa karya-karyanya selalu memiliki kedalaman yang berbeda. Ia tidak menawarkan jawaba, melainkan perenungan. Pengantar kuratorial pameran berkali-kali menegaskan bahwa seni kriya hari ini tidak lagi dibatasi oleh fungsi praktis. Kriya telah berkembang menjadi ruang dialog yang mempertemukan tradisi, inovasi, pengetahuan, pengalaman budaya, dan kesadaran ekologis. Medium tidak lagi dipahami sebagai batas, melainkan sebagai kemungkinan.

Saya melihat gagasan itu hidup pada karya Suardina. Tradisi tetap hadir, tetapi tidak diperlakukan sebagai benda museum. Ia dibaca, dan ditafsirkan kembali. Lalu dihadirkan dalam bahasa visual yang relevan dengan hari ini.

Di situlah letak kekuatan seorang perupa yang telah matang seperti Suardina. Ia tidak sibuk membuktikan dirinya modern. Ia cukup jujur terhadap pengalaman artistiknya sendiri.

Pameran ini juga menghadirkan seniman dari Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, Iran, dan Indonesia. Keberagaman itu memperlihatkan bahwa bahasa seni memang tidak mengenal batas negara.

Namun justru di tengah perjumpaan lintas budaya itulah identitas seorang seniman menjadi penting. Suardina tidak kehilangan Bali, ia juga tidak terjebak pada romantisme Bali, namun ia berdiri di antara keduanya.

Mengambil akar tradisi, tetapi membiarkannya tumbuh ke arah yang baru. Mungkin inilah makna Becoming yang sesungguhnya. Menjadi dan terus ‘menjadi’. Bukan selesai, dan juga bukan tiba. Melainkan bergerak tanpa henti.

Sebelum meninggalkan ruang pamer, saya kembali memandangi karya-karya yang memenuhi Bale Daja; tanah, kayu, logam, kain, dan serat. Semuanya seolah sedang berbicara. Namun, suara yang paling lama tinggal dalam ingatan saya justru datang dari sesuatu yang paling sederhana.

Tanah, yang selama ribuan tahun menjadi tempat manusia berpijak. Tanah yang diam-diam menyimpan ingatan. Dan di tangan Nyoman Suardina, tanah kembali menemukan bahasanya. Namun, bahasa yang tidak berteriak, tetapi sanggup membuat kita berhenti sejenak untuk mendengarkan kehidupan.[T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Jaswanto

Tags: Dr. Nyoman SuardinaPameran Kriya Internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–PadmaSenyuman Bodoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

Next Post

Bunglon di Republik Kita

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Bunglon di Republik Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co