29 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 8, 2026
in Ulas Rupa
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Dr. Nyoman Suardina dan karyanya, Stupid Smile (Senyuman Bodoh) | Foto: Angga Wijaya

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya yang memenuhi ruang pamer. Sebagian hadir sebagai patung, sebagian lagi berupa guci, instalasi, wastra, logam, hingga kayu yang diperlakukan bukan sekadar benda, melainkan medium untuk menyampaikan pengalaman hidup.

Di ruangan itulah saya kembali bertemu karya-karya Dr. Nyoman Suardina. Beberapa bulan sebelumnya saya pernah menulis tentang dirinya di media daring Tatkala.co. Ketika itu, perhatian saya lebih banyak tertuju pada sosoknya sebagai seniman dan akademisi, juga bagaimana ia membangun dunia artistiknya melalui keramik. Kali ini suasananya berbeda. Saya tidak lagi datang untuk mengenal siapa Suardina, melainkan untuk melihat bagaimana perjalanan kreatifnya terus bergerak.

Dan saya menemukan satu hal, bahwa Suardina tetap berbicara dengan bahasa yang sama, yakni tanah. Namun bahasa itu kini terasa semakin tenang. Karya Suardina yang menyita perhatian pengunjung adalah Stupid Smile atau Senyuman Bodoh. Di atas sebuah meja bundar, pohon terakota berdiri terbalik. Akar menjulang ke atas, sementara batangnya menggantung lesu, tak lagi menjadi penyangga kehidupan, melainkan menjelma monumen kematian. Di sampingnya duduk seorang badut bertubuh tambun dengan rambut merah menyala dan senyum yang tak pernah pudar.

Dari bibirnya menjulur sebuah sedotan yang terhubung ke akar pohon. Ia mengisap. Perlahan, tanpa tergesa. Benda sederhana itu menjadi pusat narasi karya, bahwa manusia tidak sedang memelihara alam, melainkan mengisap kehidupan darinya sedikit demi sedikit.

Suardina menghadirkan metafora yang tajam tentang kerakusan manusia modern, ketika eksploitasi terhadap alam tidak selalu berlangsung melalui kekerasan yang kasatmata, melainkan justru dibungkus wajah ramah, janji kesejahteraan, dan senyum yang menenangkan.

Di tengah tema besar Prakriti–Pustaka–Padma yang mengajak publik menimbang kembali relasi manusia dengan alam, Senyuman Bodoh tampil sebagai sindiran yang getir terhadap kuasa dan modal yang terus menguras bumi. Suardina tidak menawarkan jawaban atau khotbah moral. Ia hanya menghadirkan sebuah senyuman.

Dr. Nyoman Suardina dan karyanya, Stupid Smile (Senyuman Bodoh) | Foto: Angga Wijaya

Namun justru senyum itulah yang paling mengganggu, karena memaksa penonton bertanya;  siapa sesungguhnya badut itu? Segelintir pemilik modal, para penguasa yang abai terhadap lingkungan, atau jangan-jangan diri kita sendiri yang setiap hari menikmati hasil eksploitasi alam tanpa pernah menyadari bahwa kita sedang mengisap masa depan.

Pameran Kriya Internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma menghadirkan lima puluh seniman dari delapan negara dengan tujuh puluh sembilan karya dua dan tiga dimensi. Keramik, terakota, logam, kayu, batik, tapestri, wayang kulit, instalasi hingga berbagai eksplorasi medium lain dipertemukan dalam satu ruang yang memperlihatkan perkembangan seni kriya kontemporer.

Pameran ini bukan sekadar perayaan ulang tahun ke-30 Museum ARMA. Ia juga menjadi penanda semakin terbukanya percakapan seni kriya Indonesia dengan dunia internasional melalui kolaborasi ARMA dan Program Studi Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Bali.

Tema yang diusung, Prakriti–Pustaka–Padma, terdengar puitis sekaligus filosofis. Prakriti berbicara tentang alam sebagai sumber kehidupan. Pustaka mengingatkan bahwa pengetahuan tidak hanya hidup dalam buku, tetapi juga diwariskan melalui tangan-tangan yang bekerja.

Padma menjadi metafora tentang proses menjadi. Tentang kehidupan yang terus berubah sebagaimana bunga teratai yang tumbuh dari lumpur sebelum akhirnya mekar. Ketiganya membentuk sebuah cara pandang bahwa penciptaan bukanlah hasil akhir, melainkan perjalanan panjang yang tidak pernah selesai.

Ketika membaca pengantar kuratorial itu, saya justru teringat pada perjalanan berkarya Suardina. Dalam dunia seni rupa, tidak sedikit seniman yang merasa harus terus menemukan sesuatu yang benar-benar baru agar dianggap berkembang.

Suardina memilih jalan berbeda. Ia tidak meninggalkan tanah dan justru semakin masuk ke dalamnya. Pilihan itu mungkin terdengar sederhana, padahal tidak. Tanah adalah medium yang jujur. Ia tidak bisa dipaksa. Sedikit berbeda suhu pembakaran, warna berubah. Jika sedikit berbeda kadar air, bentuk bisa retak. Begitu pun saat ada sedikit terlambat mengering, seluruh proses harus diulang.

Karena itu, bekerja dengan keramik selalu menuntut kesabaran. Barangkali itulah sebabnya karya-karya Suardina tidak pernah terasa tergesa-gesa. Ia membiarkan material menyelesaikan percakapannya sendiri.

Kurator pameran menulis bahwa dalam seni kriya kontemporer, material bukan lagi sekadar alat untuk mewujudkan gagasan. Tanah mempunyai sifatnya sendiri. Api menghadirkan kemungkinan yang tak selalu bisa diprediksi. Seniman bukan hanya membentuk material, tetapi juga dibentuk oleh material yang sedang dikerjakannya.

Kalimat itu seperti menjelaskan perjalanan artistik Suardina selama ini. Di tengah derasnya perkembangan seni kontemporer yang sering mengejar sensasi visual, karya-karya Suardina justru mengajak penonton memperlambat langkah, dimana tekstur dan retakan menjadi penting. Bahkan, permukaan yang tidak sepenuhnya rata menjadi penting.

Semuanya berbicara mengenai waktu dan juga tentang proses, dan pengalaman. Keramik yang diciptakannya tidak sedang berusaha menjadi benda yang sempurna. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian dari kehidupan.

Di sinilah saya merasa karya-karyanya selalu memiliki kedalaman yang berbeda. Ia tidak menawarkan jawaba, melainkan perenungan. Pengantar kuratorial pameran berkali-kali menegaskan bahwa seni kriya hari ini tidak lagi dibatasi oleh fungsi praktis. Kriya telah berkembang menjadi ruang dialog yang mempertemukan tradisi, inovasi, pengetahuan, pengalaman budaya, dan kesadaran ekologis. Medium tidak lagi dipahami sebagai batas, melainkan sebagai kemungkinan.

Saya melihat gagasan itu hidup pada karya Suardina. Tradisi tetap hadir, tetapi tidak diperlakukan sebagai benda museum. Ia dibaca, dan ditafsirkan kembali. Lalu dihadirkan dalam bahasa visual yang relevan dengan hari ini.

Di situlah letak kekuatan seorang perupa yang telah matang seperti Suardina. Ia tidak sibuk membuktikan dirinya modern. Ia cukup jujur terhadap pengalaman artistiknya sendiri.

Pameran ini juga menghadirkan seniman dari Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, Iran, dan Indonesia. Keberagaman itu memperlihatkan bahwa bahasa seni memang tidak mengenal batas negara.

Namun justru di tengah perjumpaan lintas budaya itulah identitas seorang seniman menjadi penting. Suardina tidak kehilangan Bali, ia juga tidak terjebak pada romantisme Bali, namun ia berdiri di antara keduanya.

Mengambil akar tradisi, tetapi membiarkannya tumbuh ke arah yang baru. Mungkin inilah makna Becoming yang sesungguhnya. Menjadi dan terus ‘menjadi’. Bukan selesai, dan juga bukan tiba. Melainkan bergerak tanpa henti.

Sebelum meninggalkan ruang pamer, saya kembali memandangi karya-karya yang memenuhi Bale Daja; tanah, kayu, logam, kain, dan serat. Semuanya seolah sedang berbicara. Namun, suara yang paling lama tinggal dalam ingatan saya justru datang dari sesuatu yang paling sederhana.

Tanah, yang selama ribuan tahun menjadi tempat manusia berpijak. Tanah yang diam-diam menyimpan ingatan. Dan di tangan Nyoman Suardina, tanah kembali menemukan bahasanya. Namun, bahasa yang tidak berteriak, tetapi sanggup membuat kita berhenti sejenak untuk mendengarkan kehidupan.[T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Jaswanto

Tags: Dr. Nyoman SuardinaPameran Kriya Internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–PadmaSenyuman Bodoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

Next Post

Bunglon di Republik Kita

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

by Angga Wijaya
July 20, 2026
0
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

Read moreDetails

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

by Angga Wijaya
July 19, 2026
0
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

ADA kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa tahun terakhir. Para perupa tidak lagi hanya berbicara tentang keterampilan mengolah bahan,...

Read moreDetails

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Bunglon di Republik Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Layar Redup, Pembelajaran Hidup
Esai

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”
Pameran

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka
Khas

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD
Pemerintahan

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

BULELENG | TATKALA -- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Gabungan Komisi bersama jajaran Eksekutif Pemerintah Kabupaten...

by tatkala
July 28, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Ulas Pentas

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja
Panggung

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

by Yahya Umar
July 28, 2026
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati
Ulas Rupa

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

by Angga Wijaya
July 28, 2026
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata
Khas

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 
Pemerintahan

Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 

BULELENG | TATKALA.CO -- Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Kerja bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kabupaten...

by tatkala
July 27, 2026
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan
Tualang

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

by Chusmeru
July 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co