23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 8, 2026
in Ulas Rupa
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Dr. Nyoman Suardina dan karyanya, Stupid Smile (Senyuman Bodoh) | Foto: Angga Wijaya

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya yang memenuhi ruang pamer. Sebagian hadir sebagai patung, sebagian lagi berupa guci, instalasi, wastra, logam, hingga kayu yang diperlakukan bukan sekadar benda, melainkan medium untuk menyampaikan pengalaman hidup.

Di ruangan itulah saya kembali bertemu karya-karya Dr. Nyoman Suardina. Beberapa bulan sebelumnya saya pernah menulis tentang dirinya di media daring Tatkala.co. Ketika itu, perhatian saya lebih banyak tertuju pada sosoknya sebagai seniman dan akademisi, juga bagaimana ia membangun dunia artistiknya melalui keramik. Kali ini suasananya berbeda. Saya tidak lagi datang untuk mengenal siapa Suardina, melainkan untuk melihat bagaimana perjalanan kreatifnya terus bergerak.

Dan saya menemukan satu hal, bahwa Suardina tetap berbicara dengan bahasa yang sama, yakni tanah. Namun bahasa itu kini terasa semakin tenang. Karya Suardina yang menyita perhatian pengunjung adalah Stupid Smile atau Senyuman Bodoh. Di atas sebuah meja bundar, pohon terakota berdiri terbalik. Akar menjulang ke atas, sementara batangnya menggantung lesu, tak lagi menjadi penyangga kehidupan, melainkan menjelma monumen kematian. Di sampingnya duduk seorang badut bertubuh tambun dengan rambut merah menyala dan senyum yang tak pernah pudar.

Dari bibirnya menjulur sebuah sedotan yang terhubung ke akar pohon. Ia mengisap. Perlahan, tanpa tergesa. Benda sederhana itu menjadi pusat narasi karya, bahwa manusia tidak sedang memelihara alam, melainkan mengisap kehidupan darinya sedikit demi sedikit.

Suardina menghadirkan metafora yang tajam tentang kerakusan manusia modern, ketika eksploitasi terhadap alam tidak selalu berlangsung melalui kekerasan yang kasatmata, melainkan justru dibungkus wajah ramah, janji kesejahteraan, dan senyum yang menenangkan.

Di tengah tema besar Prakriti–Pustaka–Padma yang mengajak publik menimbang kembali relasi manusia dengan alam, Senyuman Bodoh tampil sebagai sindiran yang getir terhadap kuasa dan modal yang terus menguras bumi. Suardina tidak menawarkan jawaban atau khotbah moral. Ia hanya menghadirkan sebuah senyuman.

Dr. Nyoman Suardina dan karyanya, Stupid Smile (Senyuman Bodoh) | Foto: Angga Wijaya

Namun justru senyum itulah yang paling mengganggu, karena memaksa penonton bertanya;  siapa sesungguhnya badut itu? Segelintir pemilik modal, para penguasa yang abai terhadap lingkungan, atau jangan-jangan diri kita sendiri yang setiap hari menikmati hasil eksploitasi alam tanpa pernah menyadari bahwa kita sedang mengisap masa depan.

Pameran Kriya Internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma menghadirkan lima puluh seniman dari delapan negara dengan tujuh puluh sembilan karya dua dan tiga dimensi. Keramik, terakota, logam, kayu, batik, tapestri, wayang kulit, instalasi hingga berbagai eksplorasi medium lain dipertemukan dalam satu ruang yang memperlihatkan perkembangan seni kriya kontemporer.

Pameran ini bukan sekadar perayaan ulang tahun ke-30 Museum ARMA. Ia juga menjadi penanda semakin terbukanya percakapan seni kriya Indonesia dengan dunia internasional melalui kolaborasi ARMA dan Program Studi Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Bali.

Tema yang diusung, Prakriti–Pustaka–Padma, terdengar puitis sekaligus filosofis. Prakriti berbicara tentang alam sebagai sumber kehidupan. Pustaka mengingatkan bahwa pengetahuan tidak hanya hidup dalam buku, tetapi juga diwariskan melalui tangan-tangan yang bekerja.

Padma menjadi metafora tentang proses menjadi. Tentang kehidupan yang terus berubah sebagaimana bunga teratai yang tumbuh dari lumpur sebelum akhirnya mekar. Ketiganya membentuk sebuah cara pandang bahwa penciptaan bukanlah hasil akhir, melainkan perjalanan panjang yang tidak pernah selesai.

Ketika membaca pengantar kuratorial itu, saya justru teringat pada perjalanan berkarya Suardina. Dalam dunia seni rupa, tidak sedikit seniman yang merasa harus terus menemukan sesuatu yang benar-benar baru agar dianggap berkembang.

Suardina memilih jalan berbeda. Ia tidak meninggalkan tanah dan justru semakin masuk ke dalamnya. Pilihan itu mungkin terdengar sederhana, padahal tidak. Tanah adalah medium yang jujur. Ia tidak bisa dipaksa. Sedikit berbeda suhu pembakaran, warna berubah. Jika sedikit berbeda kadar air, bentuk bisa retak. Begitu pun saat ada sedikit terlambat mengering, seluruh proses harus diulang.

Karena itu, bekerja dengan keramik selalu menuntut kesabaran. Barangkali itulah sebabnya karya-karya Suardina tidak pernah terasa tergesa-gesa. Ia membiarkan material menyelesaikan percakapannya sendiri.

Kurator pameran menulis bahwa dalam seni kriya kontemporer, material bukan lagi sekadar alat untuk mewujudkan gagasan. Tanah mempunyai sifatnya sendiri. Api menghadirkan kemungkinan yang tak selalu bisa diprediksi. Seniman bukan hanya membentuk material, tetapi juga dibentuk oleh material yang sedang dikerjakannya.

Kalimat itu seperti menjelaskan perjalanan artistik Suardina selama ini. Di tengah derasnya perkembangan seni kontemporer yang sering mengejar sensasi visual, karya-karya Suardina justru mengajak penonton memperlambat langkah, dimana tekstur dan retakan menjadi penting. Bahkan, permukaan yang tidak sepenuhnya rata menjadi penting.

Semuanya berbicara mengenai waktu dan juga tentang proses, dan pengalaman. Keramik yang diciptakannya tidak sedang berusaha menjadi benda yang sempurna. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian dari kehidupan.

Di sinilah saya merasa karya-karyanya selalu memiliki kedalaman yang berbeda. Ia tidak menawarkan jawaba, melainkan perenungan. Pengantar kuratorial pameran berkali-kali menegaskan bahwa seni kriya hari ini tidak lagi dibatasi oleh fungsi praktis. Kriya telah berkembang menjadi ruang dialog yang mempertemukan tradisi, inovasi, pengetahuan, pengalaman budaya, dan kesadaran ekologis. Medium tidak lagi dipahami sebagai batas, melainkan sebagai kemungkinan.

Saya melihat gagasan itu hidup pada karya Suardina. Tradisi tetap hadir, tetapi tidak diperlakukan sebagai benda museum. Ia dibaca, dan ditafsirkan kembali. Lalu dihadirkan dalam bahasa visual yang relevan dengan hari ini.

Di situlah letak kekuatan seorang perupa yang telah matang seperti Suardina. Ia tidak sibuk membuktikan dirinya modern. Ia cukup jujur terhadap pengalaman artistiknya sendiri.

Pameran ini juga menghadirkan seniman dari Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, Iran, dan Indonesia. Keberagaman itu memperlihatkan bahwa bahasa seni memang tidak mengenal batas negara.

Namun justru di tengah perjumpaan lintas budaya itulah identitas seorang seniman menjadi penting. Suardina tidak kehilangan Bali, ia juga tidak terjebak pada romantisme Bali, namun ia berdiri di antara keduanya.

Mengambil akar tradisi, tetapi membiarkannya tumbuh ke arah yang baru. Mungkin inilah makna Becoming yang sesungguhnya. Menjadi dan terus ‘menjadi’. Bukan selesai, dan juga bukan tiba. Melainkan bergerak tanpa henti.

Sebelum meninggalkan ruang pamer, saya kembali memandangi karya-karya yang memenuhi Bale Daja; tanah, kayu, logam, kain, dan serat. Semuanya seolah sedang berbicara. Namun, suara yang paling lama tinggal dalam ingatan saya justru datang dari sesuatu yang paling sederhana.

Tanah, yang selama ribuan tahun menjadi tempat manusia berpijak. Tanah yang diam-diam menyimpan ingatan. Dan di tangan Nyoman Suardina, tanah kembali menemukan bahasanya. Namun, bahasa yang tidak berteriak, tetapi sanggup membuat kita berhenti sejenak untuk mendengarkan kehidupan.[T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Jaswanto

Tags: Dr. Nyoman SuardinaPameran Kriya Internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–PadmaSenyuman Bodoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

Next Post

Bunglon di Republik Kita

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Bunglon di Republik Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co