DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya yang memenuhi ruang pamer. Sebagian hadir sebagai patung, sebagian lagi berupa guci, instalasi, wastra, logam, hingga kayu yang diperlakukan bukan sekadar benda, melainkan medium untuk menyampaikan pengalaman hidup.
Di ruangan itulah saya kembali bertemu karya-karya Dr. Nyoman Suardina. Beberapa bulan sebelumnya saya pernah menulis tentang dirinya di media daring Tatkala.co. Ketika itu, perhatian saya lebih banyak tertuju pada sosoknya sebagai seniman dan akademisi, juga bagaimana ia membangun dunia artistiknya melalui keramik. Kali ini suasananya berbeda. Saya tidak lagi datang untuk mengenal siapa Suardina, melainkan untuk melihat bagaimana perjalanan kreatifnya terus bergerak.
Dan saya menemukan satu hal, bahwa Suardina tetap berbicara dengan bahasa yang sama, yakni tanah. Namun bahasa itu kini terasa semakin tenang. Karya Suardina yang menyita perhatian pengunjung adalah Stupid Smile atau Senyuman Bodoh. Di atas sebuah meja bundar, pohon terakota berdiri terbalik. Akar menjulang ke atas, sementara batangnya menggantung lesu, tak lagi menjadi penyangga kehidupan, melainkan menjelma monumen kematian. Di sampingnya duduk seorang badut bertubuh tambun dengan rambut merah menyala dan senyum yang tak pernah pudar.
Dari bibirnya menjulur sebuah sedotan yang terhubung ke akar pohon. Ia mengisap. Perlahan, tanpa tergesa. Benda sederhana itu menjadi pusat narasi karya, bahwa manusia tidak sedang memelihara alam, melainkan mengisap kehidupan darinya sedikit demi sedikit.
Suardina menghadirkan metafora yang tajam tentang kerakusan manusia modern, ketika eksploitasi terhadap alam tidak selalu berlangsung melalui kekerasan yang kasatmata, melainkan justru dibungkus wajah ramah, janji kesejahteraan, dan senyum yang menenangkan.
Di tengah tema besar Prakriti–Pustaka–Padma yang mengajak publik menimbang kembali relasi manusia dengan alam, Senyuman Bodoh tampil sebagai sindiran yang getir terhadap kuasa dan modal yang terus menguras bumi. Suardina tidak menawarkan jawaban atau khotbah moral. Ia hanya menghadirkan sebuah senyuman.

Namun justru senyum itulah yang paling mengganggu, karena memaksa penonton bertanya; siapa sesungguhnya badut itu? Segelintir pemilik modal, para penguasa yang abai terhadap lingkungan, atau jangan-jangan diri kita sendiri yang setiap hari menikmati hasil eksploitasi alam tanpa pernah menyadari bahwa kita sedang mengisap masa depan.
Pameran Kriya Internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma menghadirkan lima puluh seniman dari delapan negara dengan tujuh puluh sembilan karya dua dan tiga dimensi. Keramik, terakota, logam, kayu, batik, tapestri, wayang kulit, instalasi hingga berbagai eksplorasi medium lain dipertemukan dalam satu ruang yang memperlihatkan perkembangan seni kriya kontemporer.
Pameran ini bukan sekadar perayaan ulang tahun ke-30 Museum ARMA. Ia juga menjadi penanda semakin terbukanya percakapan seni kriya Indonesia dengan dunia internasional melalui kolaborasi ARMA dan Program Studi Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Bali.
Tema yang diusung, Prakriti–Pustaka–Padma, terdengar puitis sekaligus filosofis. Prakriti berbicara tentang alam sebagai sumber kehidupan. Pustaka mengingatkan bahwa pengetahuan tidak hanya hidup dalam buku, tetapi juga diwariskan melalui tangan-tangan yang bekerja.
Padma menjadi metafora tentang proses menjadi. Tentang kehidupan yang terus berubah sebagaimana bunga teratai yang tumbuh dari lumpur sebelum akhirnya mekar. Ketiganya membentuk sebuah cara pandang bahwa penciptaan bukanlah hasil akhir, melainkan perjalanan panjang yang tidak pernah selesai.
Ketika membaca pengantar kuratorial itu, saya justru teringat pada perjalanan berkarya Suardina. Dalam dunia seni rupa, tidak sedikit seniman yang merasa harus terus menemukan sesuatu yang benar-benar baru agar dianggap berkembang.
Suardina memilih jalan berbeda. Ia tidak meninggalkan tanah dan justru semakin masuk ke dalamnya. Pilihan itu mungkin terdengar sederhana, padahal tidak. Tanah adalah medium yang jujur. Ia tidak bisa dipaksa. Sedikit berbeda suhu pembakaran, warna berubah. Jika sedikit berbeda kadar air, bentuk bisa retak. Begitu pun saat ada sedikit terlambat mengering, seluruh proses harus diulang.

Karena itu, bekerja dengan keramik selalu menuntut kesabaran. Barangkali itulah sebabnya karya-karya Suardina tidak pernah terasa tergesa-gesa. Ia membiarkan material menyelesaikan percakapannya sendiri.
Kurator pameran menulis bahwa dalam seni kriya kontemporer, material bukan lagi sekadar alat untuk mewujudkan gagasan. Tanah mempunyai sifatnya sendiri. Api menghadirkan kemungkinan yang tak selalu bisa diprediksi. Seniman bukan hanya membentuk material, tetapi juga dibentuk oleh material yang sedang dikerjakannya.
Kalimat itu seperti menjelaskan perjalanan artistik Suardina selama ini. Di tengah derasnya perkembangan seni kontemporer yang sering mengejar sensasi visual, karya-karya Suardina justru mengajak penonton memperlambat langkah, dimana tekstur dan retakan menjadi penting. Bahkan, permukaan yang tidak sepenuhnya rata menjadi penting.
Semuanya berbicara mengenai waktu dan juga tentang proses, dan pengalaman. Keramik yang diciptakannya tidak sedang berusaha menjadi benda yang sempurna. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian dari kehidupan.
Di sinilah saya merasa karya-karyanya selalu memiliki kedalaman yang berbeda. Ia tidak menawarkan jawaba, melainkan perenungan. Pengantar kuratorial pameran berkali-kali menegaskan bahwa seni kriya hari ini tidak lagi dibatasi oleh fungsi praktis. Kriya telah berkembang menjadi ruang dialog yang mempertemukan tradisi, inovasi, pengetahuan, pengalaman budaya, dan kesadaran ekologis. Medium tidak lagi dipahami sebagai batas, melainkan sebagai kemungkinan.
Saya melihat gagasan itu hidup pada karya Suardina. Tradisi tetap hadir, tetapi tidak diperlakukan sebagai benda museum. Ia dibaca, dan ditafsirkan kembali. Lalu dihadirkan dalam bahasa visual yang relevan dengan hari ini.
Di situlah letak kekuatan seorang perupa yang telah matang seperti Suardina. Ia tidak sibuk membuktikan dirinya modern. Ia cukup jujur terhadap pengalaman artistiknya sendiri.
Pameran ini juga menghadirkan seniman dari Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, Iran, dan Indonesia. Keberagaman itu memperlihatkan bahwa bahasa seni memang tidak mengenal batas negara.
Namun justru di tengah perjumpaan lintas budaya itulah identitas seorang seniman menjadi penting. Suardina tidak kehilangan Bali, ia juga tidak terjebak pada romantisme Bali, namun ia berdiri di antara keduanya.
Mengambil akar tradisi, tetapi membiarkannya tumbuh ke arah yang baru. Mungkin inilah makna Becoming yang sesungguhnya. Menjadi dan terus ‘menjadi’. Bukan selesai, dan juga bukan tiba. Melainkan bergerak tanpa henti.
Sebelum meninggalkan ruang pamer, saya kembali memandangi karya-karya yang memenuhi Bale Daja; tanah, kayu, logam, kain, dan serat. Semuanya seolah sedang berbicara. Namun, suara yang paling lama tinggal dalam ingatan saya justru datang dari sesuatu yang paling sederhana.
Tanah, yang selama ribuan tahun menjadi tempat manusia berpijak. Tanah yang diam-diam menyimpan ingatan. Dan di tangan Nyoman Suardina, tanah kembali menemukan bahasanya. Namun, bahasa yang tidak berteriak, tetapi sanggup membuat kita berhenti sejenak untuk mendengarkan kehidupan.[T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Jaswanto































