19 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bunglon di Republik Kita

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada saja, entah datang dari mana. Saya tidak memberi makan mereka, tapi mereka selalu bisa saya lihat tiap hari. Kadang bertengger dengan gagah di atas batu besar dekorasi taman, menikmati sinar matahari. Senang saya lihat atraksi perubahan wana mereka.

Di alam, bunglon adalah salah satu makhluk yang saya kira paling sering disalahpahami. Sejak kecil kita diajarkan bahwa bunglon adalah simbol ketidaksetiaan. Orang yang plin-plan disebut “bunglon”. Politikus yang berubah haluan disebut “politikus bunglon”. Pejabat yang pandai menyesuaikan diri dengan siapa pun yang sedang berkuasa juga sering memperoleh julukan yang sama.

Padahal, jika kita mau sedikit belajar dari biologi, bunglon tidak pernah berubah warna karena ingin menipu dunia. Ia berubah warna agar tidak dimangsa. Meski dia butuh makan, tapi dalam hal ini dia memiliki kemampuan itu bukan karena predator, tapi karena dia sadar bahwa dia juga mangsa.  Maksud saya, sang bunglon ini tidak memiliki cakar singa, kecepatan cheetah, racun ular, atau kekuatan beruang.

Bunglon bukan puncak rantai makanan. Alam hanya membekalinya satu kemampuan, yaitu beradaptasi. Kamuflase adalah hak hidup seekor hewan yang lemah.  Ironisnya, manusia mengambil metafora itu lalu memakainya untuk menjelaskan perilaku politik. Masalahnya, tidak semua “bunglon” berada pada posisi yang sama.

Bunglon Tidak Pernah Bohong

Yang menarik, bunglon tidak pernah berpura-pura menjadi makhluk lain. Ia memang berubah warna, kita semua tahu itu. Tidak ada kebohongan, tidak ada konferensi pers yang mengatakan, “Saya tidak berubah.” Apalagi, maaf kata, tidak ada juru bicara yang menyusun narasi bahwa warna kemarin sebenarnya sama dengan warna hari ini. 

Perubahan warna pada bunglon adalah mekanisme biologis yang terbuka. Justru manusialah yang sering punya banyak persoalan. Bukan karena berubah, tapi karena enggan mengakui bahwa ia berubah. Di sinilah etika mulai mengambil alih wilayah biologi.

Sebagian orang menganggap pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak pernah berubah. Pandangan ini terdengar heroik, tetapi bisa jadi berbahaya. Bayangkan jika dunia berubah, ekonomi global bergejolak, teknologi berkembang sangat cepat, ancaman pangan muncul, tetapi pemerintah tetap bersikeras memakai cara lama hanya demi terlihat konsisten.

Tentu saja itu bukan keteguhan prinsip. Malah, itu bisa menjadi suatu bentuk keras kepala. Negara kita yang dinamis ini tidak membutuhkan patung, melainkan membutuhkan pemimpin yang mampu belajar. Kemampuan mengubah strategi justru merupakan tanda bahwa pemerintah bersedia mendengarkan data, mengevaluasi kebijakan, dan memperbaiki kesalahan.

Dalam administrasi publik modern, kemampuan beradaptasi merupakan salah satu syarat tata kelola yang baik. Kebijakan harus responsif terhadap perubahan, tetapi tetap berpijak pada tujuan yang jelas, melindungi warga dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Lihat saja pelajaran IPS SD atau SMP tentang tujuan negara di pembukaan UUD NRI 1945.  Artinya, berganti cara belum tentu berarti berganti prinsip.

Dinilai dari Hasil, Bukan dari Slogan

Di sinilah masyarakat perlu memiliki ukuran yang lebih cerdas. Bukan semua perubahan harus dicurigai. Dikit-dikit curiga sensus, MBG, atau pelatihan ala militer di Koperasi Yang Itu. Bukan semata programnya, namun yang harus diperiksa adalah alasan di balik perubahan itu. Karena ada perbedaan besar antara pemimpin yang adaptif dan pemimpin yang oportunis. Pemimpin adaptif mengubah cara agar tujuan negara tetap tercapai. Pemimpin oportunis mengubah cara agar tujuan pribadinya tetap terjaga.

Sekilas memang tampak sama, keduanya berubah. Tapi arah pengabdiannya berbeda. Yang satu mengabdi kepada kepentingan publik, yang lain mengabdi kepada kepentingan kekuasaan. Di sinilah kita bisa sering keliru. Kita terlalu sibuk memperhatikan warna, padahal yang lebih penting adalah arah langkahnya.  Setiap pemerintahan akan melahirkan berbagai program. Mari kita sebut saja ada program koperasi wana itu, lalu ada program pangan bergizi, ada juga program kesehatan, program pendidikan, sampai pada program perlindungan sosial.

Nama program bisa berbeda-beda pada setiap periode pemerintahan. Sebagian mungkin berhasil. Sebagian mungkin perlu diperbaiki. Sebagian mungkin gagal. Sebagai warga negara, kita tidak berkewajiban langsung memuja ataupun langsung mencela.

Yang lebih penting adalah bertanya secara kritis apakah program ini benar-benar meningkatkan kesejahteraan rakyat, anggarannya transparan, lanjut ke apakah pelaksanaannya dapat diawasi, terakhir apakah manfaatnya dapat diukur? Akhir -akhir ini, apakah kritik diterima sebagai bagian dari perbaikan? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menjaga demokrasi tetap sehat. Karena slogan tidak pernah cukup. Yang dibutuhkan masyarakat adalah hasil.

Ketika Korupsi Mencuri Kepercayaan

Masalah terbesar korupsi sebenarnya bukan hanya hilangnya uang negara. Dalam hemat saya, korupsi sesungguhnya mencuri sesuatu yang jauh lebih mahal, yaitu kepercayaan. Ketika kasus demi kasus korupsi terus bermunculan, masyarakat mulai kehilangan kemampuan untuk percaya.

Akibatnya, setiap kebijakan baru langsung disambut dengan kecurigaan. Bahkan program yang mungkin baik pun ikut menanggung beban ketidakpercayaan itu. Ini adalah kerugian sosial yang sering luput dibahas. Karena percayaan publik yang solid dibangun bertahun-tahun dapat runtuh hanya karena segelintir penyalahgunaan kekuasaan. 

Karena itu, transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan bukan sekadar prosedur administratif. Ketiganya merupakan fondasi agar masyarakat bersedia kembali percaya. Ini bukan omon-omon. Yang dibutuhkan adalah kedewasaan untuk membedakan antara pencitraan dan kinerja. Antara retorika dan hasil, antara simbol dan substansi.  Bukan semua yang berubah adalah pengkhianat. Pula, bukan semua yang tampak konsisten sedang memperjuangkan kepentingan rakyat.

Lalu Kapan Bunglon Menjadi Masalah?

Kembali ke bunglon saya yang suka berjemur di atas batu itu. Mungkin selama ini kita terlalu keras kepada bunglon. Padahal ia hanya berusaha bertahan hidup. Yang perlu lebih kita waspadai justru bukan bunglon di kebun belakang. Melainkan “bunglon” dalam kehidupan publik yang menjadikan kemampuan kamuflasenya sebagai alat untuk menjadi predator rakyat.

Namun, kita juga harus adil. Kalau suatu perubahan benar-benar membawa pelayanan yang lebih baik, kesejahteraan yang meningkat, tata kelola yang lebih bersih, dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat, maka perubahan itu bukanlah kamuflase.  Jelas, itu adalah kepemimpinan yang sehat.

 Pada akhirnya, ukuran paling penting bukanlah seberapa sering pemimpin berganti warna.  Melainkan kepada siapa perubahan warna itu mengabdi. Jika mengabdi kepada rakyat, sejarah mungkin akan menyebutnya sebagai pemimpin yang adaptif.

Jika mengabdi hanya kepada kelanggengan kekuasaan dan kemakmuran pribadi, rakyatlah yang akan mengingatnya sebagai kamuflase predator. Demokrasi yang sehat selalu mengajarkan satu hal sederhana, jangan berhenti pada warna yang tampak. Lihatlah jejak yang ditinggalkan. Nah, nanti dari situ kita bisa lihat, apakah bunglon di kebun belakang rumah kita predator atau bukan. Yang menarik, sekarang ini banyak beredar isu tak jelas, katanya ada bunglon yang punya kompetensi jadi komisaris perusahaan baja atau memegang jabatan lain. Kejadiannya sama seperti bunglon di kebun belakang saya, tadinya tidak ada, tapi sekarang tiba-tiba ada. Sepertinya bunglon jenis ini cukup pintar dan bisa jadi kawan diskusi. Mau pelihara? Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Jaswanto

Tags: pemerintahanPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Next Post

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails

Indonesia yang Muncul di Beranda

by Angga Wijaya
August 18, 2026
0
Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

Read moreDetails

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

by Angga Wijaya
August 17, 2026
0
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

Read moreDetails

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
0
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

Read moreDetails

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merawat Warisan Budaya Kolonial…
Esai

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

by Pande Susan
August 19, 2026
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         
Khas

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris
Pendidikan

FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris

DENPASAR | TATKALA.CO -- Institut Seni Indonesia (ISI) Bali melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menyelenggarakan Focus Group...

by Dewi Yulianti
August 19, 2026
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026
Panggung

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak
Khas

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”
Panggung

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

by Andre Syahreza
August 18, 2026
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta
Khas

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh
Esai

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
Indonesia yang Muncul di Beranda
Esai

Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

by Angga Wijaya
August 18, 2026
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi
Tualang

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung
Bahasa

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

by I Made Sudiana
August 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co