23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bunglon di Republik Kita

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada saja, entah datang dari mana. Saya tidak memberi makan mereka, tapi mereka selalu bisa saya lihat tiap hari. Kadang bertengger dengan gagah di atas batu besar dekorasi taman, menikmati sinar matahari. Senang saya lihat atraksi perubahan wana mereka.

Di alam, bunglon adalah salah satu makhluk yang saya kira paling sering disalahpahami. Sejak kecil kita diajarkan bahwa bunglon adalah simbol ketidaksetiaan. Orang yang plin-plan disebut “bunglon”. Politikus yang berubah haluan disebut “politikus bunglon”. Pejabat yang pandai menyesuaikan diri dengan siapa pun yang sedang berkuasa juga sering memperoleh julukan yang sama.

Padahal, jika kita mau sedikit belajar dari biologi, bunglon tidak pernah berubah warna karena ingin menipu dunia. Ia berubah warna agar tidak dimangsa. Meski dia butuh makan, tapi dalam hal ini dia memiliki kemampuan itu bukan karena predator, tapi karena dia sadar bahwa dia juga mangsa.  Maksud saya, sang bunglon ini tidak memiliki cakar singa, kecepatan cheetah, racun ular, atau kekuatan beruang.

Bunglon bukan puncak rantai makanan. Alam hanya membekalinya satu kemampuan, yaitu beradaptasi. Kamuflase adalah hak hidup seekor hewan yang lemah.  Ironisnya, manusia mengambil metafora itu lalu memakainya untuk menjelaskan perilaku politik. Masalahnya, tidak semua “bunglon” berada pada posisi yang sama.

Bunglon Tidak Pernah Bohong

Yang menarik, bunglon tidak pernah berpura-pura menjadi makhluk lain. Ia memang berubah warna, kita semua tahu itu. Tidak ada kebohongan, tidak ada konferensi pers yang mengatakan, “Saya tidak berubah.” Apalagi, maaf kata, tidak ada juru bicara yang menyusun narasi bahwa warna kemarin sebenarnya sama dengan warna hari ini. 

Perubahan warna pada bunglon adalah mekanisme biologis yang terbuka. Justru manusialah yang sering punya banyak persoalan. Bukan karena berubah, tapi karena enggan mengakui bahwa ia berubah. Di sinilah etika mulai mengambil alih wilayah biologi.

Sebagian orang menganggap pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak pernah berubah. Pandangan ini terdengar heroik, tetapi bisa jadi berbahaya. Bayangkan jika dunia berubah, ekonomi global bergejolak, teknologi berkembang sangat cepat, ancaman pangan muncul, tetapi pemerintah tetap bersikeras memakai cara lama hanya demi terlihat konsisten.

Tentu saja itu bukan keteguhan prinsip. Malah, itu bisa menjadi suatu bentuk keras kepala. Negara kita yang dinamis ini tidak membutuhkan patung, melainkan membutuhkan pemimpin yang mampu belajar. Kemampuan mengubah strategi justru merupakan tanda bahwa pemerintah bersedia mendengarkan data, mengevaluasi kebijakan, dan memperbaiki kesalahan.

Dalam administrasi publik modern, kemampuan beradaptasi merupakan salah satu syarat tata kelola yang baik. Kebijakan harus responsif terhadap perubahan, tetapi tetap berpijak pada tujuan yang jelas, melindungi warga dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Lihat saja pelajaran IPS SD atau SMP tentang tujuan negara di pembukaan UUD NRI 1945.  Artinya, berganti cara belum tentu berarti berganti prinsip.

Dinilai dari Hasil, Bukan dari Slogan

Di sinilah masyarakat perlu memiliki ukuran yang lebih cerdas. Bukan semua perubahan harus dicurigai. Dikit-dikit curiga sensus, MBG, atau pelatihan ala militer di Koperasi Yang Itu. Bukan semata programnya, namun yang harus diperiksa adalah alasan di balik perubahan itu. Karena ada perbedaan besar antara pemimpin yang adaptif dan pemimpin yang oportunis. Pemimpin adaptif mengubah cara agar tujuan negara tetap tercapai. Pemimpin oportunis mengubah cara agar tujuan pribadinya tetap terjaga.

Sekilas memang tampak sama, keduanya berubah. Tapi arah pengabdiannya berbeda. Yang satu mengabdi kepada kepentingan publik, yang lain mengabdi kepada kepentingan kekuasaan. Di sinilah kita bisa sering keliru. Kita terlalu sibuk memperhatikan warna, padahal yang lebih penting adalah arah langkahnya.  Setiap pemerintahan akan melahirkan berbagai program. Mari kita sebut saja ada program koperasi wana itu, lalu ada program pangan bergizi, ada juga program kesehatan, program pendidikan, sampai pada program perlindungan sosial.

Nama program bisa berbeda-beda pada setiap periode pemerintahan. Sebagian mungkin berhasil. Sebagian mungkin perlu diperbaiki. Sebagian mungkin gagal. Sebagai warga negara, kita tidak berkewajiban langsung memuja ataupun langsung mencela.

Yang lebih penting adalah bertanya secara kritis apakah program ini benar-benar meningkatkan kesejahteraan rakyat, anggarannya transparan, lanjut ke apakah pelaksanaannya dapat diawasi, terakhir apakah manfaatnya dapat diukur? Akhir -akhir ini, apakah kritik diterima sebagai bagian dari perbaikan? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menjaga demokrasi tetap sehat. Karena slogan tidak pernah cukup. Yang dibutuhkan masyarakat adalah hasil.

Ketika Korupsi Mencuri Kepercayaan

Masalah terbesar korupsi sebenarnya bukan hanya hilangnya uang negara. Dalam hemat saya, korupsi sesungguhnya mencuri sesuatu yang jauh lebih mahal, yaitu kepercayaan. Ketika kasus demi kasus korupsi terus bermunculan, masyarakat mulai kehilangan kemampuan untuk percaya.

Akibatnya, setiap kebijakan baru langsung disambut dengan kecurigaan. Bahkan program yang mungkin baik pun ikut menanggung beban ketidakpercayaan itu. Ini adalah kerugian sosial yang sering luput dibahas. Karena percayaan publik yang solid dibangun bertahun-tahun dapat runtuh hanya karena segelintir penyalahgunaan kekuasaan. 

Karena itu, transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan bukan sekadar prosedur administratif. Ketiganya merupakan fondasi agar masyarakat bersedia kembali percaya. Ini bukan omon-omon. Yang dibutuhkan adalah kedewasaan untuk membedakan antara pencitraan dan kinerja. Antara retorika dan hasil, antara simbol dan substansi.  Bukan semua yang berubah adalah pengkhianat. Pula, bukan semua yang tampak konsisten sedang memperjuangkan kepentingan rakyat.

Lalu Kapan Bunglon Menjadi Masalah?

Kembali ke bunglon saya yang suka berjemur di atas batu itu. Mungkin selama ini kita terlalu keras kepada bunglon. Padahal ia hanya berusaha bertahan hidup. Yang perlu lebih kita waspadai justru bukan bunglon di kebun belakang. Melainkan “bunglon” dalam kehidupan publik yang menjadikan kemampuan kamuflasenya sebagai alat untuk menjadi predator rakyat.

Namun, kita juga harus adil. Kalau suatu perubahan benar-benar membawa pelayanan yang lebih baik, kesejahteraan yang meningkat, tata kelola yang lebih bersih, dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat, maka perubahan itu bukanlah kamuflase.  Jelas, itu adalah kepemimpinan yang sehat.

 Pada akhirnya, ukuran paling penting bukanlah seberapa sering pemimpin berganti warna.  Melainkan kepada siapa perubahan warna itu mengabdi. Jika mengabdi kepada rakyat, sejarah mungkin akan menyebutnya sebagai pemimpin yang adaptif.

Jika mengabdi hanya kepada kelanggengan kekuasaan dan kemakmuran pribadi, rakyatlah yang akan mengingatnya sebagai kamuflase predator. Demokrasi yang sehat selalu mengajarkan satu hal sederhana, jangan berhenti pada warna yang tampak. Lihatlah jejak yang ditinggalkan. Nah, nanti dari situ kita bisa lihat, apakah bunglon di kebun belakang rumah kita predator atau bukan. Yang menarik, sekarang ini banyak beredar isu tak jelas, katanya ada bunglon yang punya kompetensi jadi komisaris perusahaan baja atau memegang jabatan lain. Kejadiannya sama seperti bunglon di kebun belakang saya, tadinya tidak ada, tapi sekarang tiba-tiba ada. Sepertinya bunglon jenis ini cukup pintar dan bisa jadi kawan diskusi. Mau pelihara? Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Jaswanto

Tags: pemerintahanPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Next Post

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co