30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bunglon di Republik Kita

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada saja, entah datang dari mana. Saya tidak memberi makan mereka, tapi mereka selalu bisa saya lihat tiap hari. Kadang bertengger dengan gagah di atas batu besar dekorasi taman, menikmati sinar matahari. Senang saya lihat atraksi perubahan wana mereka.

Di alam, bunglon adalah salah satu makhluk yang saya kira paling sering disalahpahami. Sejak kecil kita diajarkan bahwa bunglon adalah simbol ketidaksetiaan. Orang yang plin-plan disebut “bunglon”. Politikus yang berubah haluan disebut “politikus bunglon”. Pejabat yang pandai menyesuaikan diri dengan siapa pun yang sedang berkuasa juga sering memperoleh julukan yang sama.

Padahal, jika kita mau sedikit belajar dari biologi, bunglon tidak pernah berubah warna karena ingin menipu dunia. Ia berubah warna agar tidak dimangsa. Meski dia butuh makan, tapi dalam hal ini dia memiliki kemampuan itu bukan karena predator, tapi karena dia sadar bahwa dia juga mangsa.  Maksud saya, sang bunglon ini tidak memiliki cakar singa, kecepatan cheetah, racun ular, atau kekuatan beruang.

Bunglon bukan puncak rantai makanan. Alam hanya membekalinya satu kemampuan, yaitu beradaptasi. Kamuflase adalah hak hidup seekor hewan yang lemah.  Ironisnya, manusia mengambil metafora itu lalu memakainya untuk menjelaskan perilaku politik. Masalahnya, tidak semua “bunglon” berada pada posisi yang sama.

Bunglon Tidak Pernah Bohong

Yang menarik, bunglon tidak pernah berpura-pura menjadi makhluk lain. Ia memang berubah warna, kita semua tahu itu. Tidak ada kebohongan, tidak ada konferensi pers yang mengatakan, “Saya tidak berubah.” Apalagi, maaf kata, tidak ada juru bicara yang menyusun narasi bahwa warna kemarin sebenarnya sama dengan warna hari ini. 

Perubahan warna pada bunglon adalah mekanisme biologis yang terbuka. Justru manusialah yang sering punya banyak persoalan. Bukan karena berubah, tapi karena enggan mengakui bahwa ia berubah. Di sinilah etika mulai mengambil alih wilayah biologi.

Sebagian orang menganggap pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak pernah berubah. Pandangan ini terdengar heroik, tetapi bisa jadi berbahaya. Bayangkan jika dunia berubah, ekonomi global bergejolak, teknologi berkembang sangat cepat, ancaman pangan muncul, tetapi pemerintah tetap bersikeras memakai cara lama hanya demi terlihat konsisten.

Tentu saja itu bukan keteguhan prinsip. Malah, itu bisa menjadi suatu bentuk keras kepala. Negara kita yang dinamis ini tidak membutuhkan patung, melainkan membutuhkan pemimpin yang mampu belajar. Kemampuan mengubah strategi justru merupakan tanda bahwa pemerintah bersedia mendengarkan data, mengevaluasi kebijakan, dan memperbaiki kesalahan.

Dalam administrasi publik modern, kemampuan beradaptasi merupakan salah satu syarat tata kelola yang baik. Kebijakan harus responsif terhadap perubahan, tetapi tetap berpijak pada tujuan yang jelas, melindungi warga dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Lihat saja pelajaran IPS SD atau SMP tentang tujuan negara di pembukaan UUD NRI 1945.  Artinya, berganti cara belum tentu berarti berganti prinsip.

Dinilai dari Hasil, Bukan dari Slogan

Di sinilah masyarakat perlu memiliki ukuran yang lebih cerdas. Bukan semua perubahan harus dicurigai. Dikit-dikit curiga sensus, MBG, atau pelatihan ala militer di Koperasi Yang Itu. Bukan semata programnya, namun yang harus diperiksa adalah alasan di balik perubahan itu. Karena ada perbedaan besar antara pemimpin yang adaptif dan pemimpin yang oportunis. Pemimpin adaptif mengubah cara agar tujuan negara tetap tercapai. Pemimpin oportunis mengubah cara agar tujuan pribadinya tetap terjaga.

Sekilas memang tampak sama, keduanya berubah. Tapi arah pengabdiannya berbeda. Yang satu mengabdi kepada kepentingan publik, yang lain mengabdi kepada kepentingan kekuasaan. Di sinilah kita bisa sering keliru. Kita terlalu sibuk memperhatikan warna, padahal yang lebih penting adalah arah langkahnya.  Setiap pemerintahan akan melahirkan berbagai program. Mari kita sebut saja ada program koperasi wana itu, lalu ada program pangan bergizi, ada juga program kesehatan, program pendidikan, sampai pada program perlindungan sosial.

Nama program bisa berbeda-beda pada setiap periode pemerintahan. Sebagian mungkin berhasil. Sebagian mungkin perlu diperbaiki. Sebagian mungkin gagal. Sebagai warga negara, kita tidak berkewajiban langsung memuja ataupun langsung mencela.

Yang lebih penting adalah bertanya secara kritis apakah program ini benar-benar meningkatkan kesejahteraan rakyat, anggarannya transparan, lanjut ke apakah pelaksanaannya dapat diawasi, terakhir apakah manfaatnya dapat diukur? Akhir -akhir ini, apakah kritik diterima sebagai bagian dari perbaikan? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menjaga demokrasi tetap sehat. Karena slogan tidak pernah cukup. Yang dibutuhkan masyarakat adalah hasil.

Ketika Korupsi Mencuri Kepercayaan

Masalah terbesar korupsi sebenarnya bukan hanya hilangnya uang negara. Dalam hemat saya, korupsi sesungguhnya mencuri sesuatu yang jauh lebih mahal, yaitu kepercayaan. Ketika kasus demi kasus korupsi terus bermunculan, masyarakat mulai kehilangan kemampuan untuk percaya.

Akibatnya, setiap kebijakan baru langsung disambut dengan kecurigaan. Bahkan program yang mungkin baik pun ikut menanggung beban ketidakpercayaan itu. Ini adalah kerugian sosial yang sering luput dibahas. Karena percayaan publik yang solid dibangun bertahun-tahun dapat runtuh hanya karena segelintir penyalahgunaan kekuasaan. 

Karena itu, transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan bukan sekadar prosedur administratif. Ketiganya merupakan fondasi agar masyarakat bersedia kembali percaya. Ini bukan omon-omon. Yang dibutuhkan adalah kedewasaan untuk membedakan antara pencitraan dan kinerja. Antara retorika dan hasil, antara simbol dan substansi.  Bukan semua yang berubah adalah pengkhianat. Pula, bukan semua yang tampak konsisten sedang memperjuangkan kepentingan rakyat.

Lalu Kapan Bunglon Menjadi Masalah?

Kembali ke bunglon saya yang suka berjemur di atas batu itu. Mungkin selama ini kita terlalu keras kepada bunglon. Padahal ia hanya berusaha bertahan hidup. Yang perlu lebih kita waspadai justru bukan bunglon di kebun belakang. Melainkan “bunglon” dalam kehidupan publik yang menjadikan kemampuan kamuflasenya sebagai alat untuk menjadi predator rakyat.

Namun, kita juga harus adil. Kalau suatu perubahan benar-benar membawa pelayanan yang lebih baik, kesejahteraan yang meningkat, tata kelola yang lebih bersih, dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat, maka perubahan itu bukanlah kamuflase.  Jelas, itu adalah kepemimpinan yang sehat.

 Pada akhirnya, ukuran paling penting bukanlah seberapa sering pemimpin berganti warna.  Melainkan kepada siapa perubahan warna itu mengabdi. Jika mengabdi kepada rakyat, sejarah mungkin akan menyebutnya sebagai pemimpin yang adaptif.

Jika mengabdi hanya kepada kelanggengan kekuasaan dan kemakmuran pribadi, rakyatlah yang akan mengingatnya sebagai kamuflase predator. Demokrasi yang sehat selalu mengajarkan satu hal sederhana, jangan berhenti pada warna yang tampak. Lihatlah jejak yang ditinggalkan. Nah, nanti dari situ kita bisa lihat, apakah bunglon di kebun belakang rumah kita predator atau bukan. Yang menarik, sekarang ini banyak beredar isu tak jelas, katanya ada bunglon yang punya kompetensi jadi komisaris perusahaan baja atau memegang jabatan lain. Kejadiannya sama seperti bunglon di kebun belakang saya, tadinya tidak ada, tapi sekarang tiba-tiba ada. Sepertinya bunglon jenis ini cukup pintar dan bisa jadi kawan diskusi. Mau pelihara? Tabik.[T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Jaswanto

Tags: pemerintahanPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Next Post

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co