9 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
in Khas
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

Diskusi Panel ‘Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani’│Foto: Dok. SLF

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.”

Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng. Sesaat, percakapan tentang puisi tidak lagi terdengar sebagai pembahasan sastra yang berjarak. Ia berubah menjadi refleksi tentang pengalaman manusia—bagaimana sebuah luka yang lahir dari ruang pribadi menjelma menjadi pengalaman kolektif.

Pertanyaan itulah yang menjadi benang merah diskusi. Kapan sebuah puisi bertransformasi dari sekadar alat penyembuhan luka menjadi karya yang membangun kesadaran kolektif bagi pembacanya? Willy Fahmi Agiska, Yahya Umar, dan Hamzah Muhammad mengurai pertanyaan tersebut dari sudut pandang masing-masing dalam diskusi panel “Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani” yang dipandu Puja Savitri pada rangkaian Singaraja Literary Festival 2026.

Dari kiri ke kanan: Hamzah Muhammad, Yahya Umar, Willy Fahmi Agiska│Foto: Dok. SLF

Bagi Willy Fahmi Agiska, hampir semua penyair pada dasarnya membicarakan dirinya sendiri. Namun, hal itu bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan. Justru dari titik itulah sebuah puisi memulai perjalanannya.

Menurutnya, yang sering disebut sebagai narsisme dalam puisi bukanlah ketika penyair berbicara tentang dirinya, melainkan bagaimana pengalaman pribadi itu mampu menjalin komunikasi ke banyak arah. Di situlah puisi berbeda dengan bentuk komunikasi lain. Bahasa dalam puisi bekerja melalui simbol-simbol yang membuka kemungkinan makna, bukan menutupnya.

Willy menjelaskan bahwa puisi memiliki beragam cara menyampaikan pengalaman. Ada puisi yang figuratif atau metaforikal, ada pula yang lugas. Namun, kelugasan bukan berarti menghilangkan ruang tafsir. Puisi yang lugas sekalipun tetap memberi kesempatan kepada pembaca untuk menafsirkan pengalaman hidupnya sendiri ke dalam teks.

“Puisi menjadi ruang yang aman untuk berbahasa. Penyair menyampaikan sesuatu, tetapi pembaca tidak diwajibkan memahami dengan cara yang sama. Setiap orang dapat merespons melalui pengalaman masing-masing,” kata Willy.

“Puisi bisa memantik kesadaran kalau kita bukanlah pusat dunia,” ucapnya.

Diskusi Panel ‘Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani’│Foto: Dok. SLF

Kesadaran itulah yang membuat puisi melampaui kepentingan pribadi. Menurut Willy, puisi memiliki ruang simbolik yang mampu menautkan pengalaman-pengalaman kompleks antarmanusia. Detail peristiwanya mungkin berbeda, tetapi perasaan yang dibangkitkan dapat sama. Di sanalah pembaca menemukan dirinya dalam pengalaman orang lain.

Pandangan itu kemudian dipertegas oleh Yahya Umar. Menurutnya, setiap kali penyair menyuarakan lukanya, sesungguhnya ia sedang menyuarakan luka manusia. Pengalaman personal tidak otomatis menjadi sempit hanya karena berasal dari individu. Sebaliknya, ketika pengalaman itu menemukan kesamaan dengan kehidupan orang lain, puisi telah berubah menjadi kesadaran kolektif.

Dengan kata lain, yang membuat sebuah puisi hidup bukan semata kualitas bahasanya, melainkan kemampuannya membangun resonansi. Ketika pembaca merasa pernah mengalami kesedihan, kehilangan, atau kegelisahan yang sama, batas antara penyair dan pembaca perlahan memudar. Yang tersisa adalah pengalaman manusia yang dibagikan bersama.

Perspektif lain disampaikan Hamzah Muhammad yang melihat perkembangan puisi dari sudut zaman digital. Menurutnya, puisi selalu berada dalam posisi untuk terus mengekspansi dirinya semaksimal mungkin, terlebih pada era teknologi yang membuat setiap orang dapat menyampaikan pemikiran dengan sangat mudah.

Diskusi Panel ‘Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani’│Foto: Dok. SLF

Media sosial menghadirkan ruang baru bagi setiap individu untuk menampilkan dirinya. Personalitas menjadi semakin masif. Orang dapat membangun citra, menunjukkan keseharian, bahkan membentuk identitas hanya melalui layar ponsel.

Di tengah situasi tersebut, Hamzah melihat tantangan baru bagi puisi. Persoalannya bukan lagi apakah puisi bersifat personal atau tidak, melainkan bagaimana keakuan yang begitu kuat itu mampu diolah menjadi pengalaman yang juga dapat dirasakan orang lain.

“Tantangannya, bagaimana semua personalitas atau keakuan itu juga tercermin dalam karya puisi agar puisi itu bisa jamak dialami oleh orang lain,” jelasnya.

Bagi Hamzah, perkembangan teknologi juga telah mengubah cara generasi muda berkenalan dengan sastra. Hari ini, banyak pembaca menggunakan Wattpad dan berbagai platform digital lainnya. Bentuk bacaan berubah, begitu pula kebiasaan membaca.

Karena itu, ia menolak anggapan bahwa karya-karya di platform digital bukan bagian dari sastra.

Diskusi Panel ‘Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani’│Foto: Dok. SLF

“Generasi hari ini bacanya di Wattpad dan platform lain, lalu ketika ada yang mengecap itu bukan sastra, itu sih jahat banget,” ujarnya.

Menurutnya, boleh jadi justru bentuk-bentuk bacaan itulah yang dibutuhkan generasi sekarang karena perkembangan industri bergerak ke arah tersebut. Yang menjadi pertanyaan bukan lagi apakah platform itu layak disebut sastra, melainkan sejauh mana sastra Indonesia mampu mengakomodasi perubahan cara membaca masyarakat hari ini.

Diskusi di Kawasan Museum Buleleng itu akhirnya tidak menawarkan satu definisi tentang puisi. Tidak ada kesimpulan bahwa puisi harus metaforis, harus lugas, atau harus berbicara tentang isu sosial. Sebaliknya, ketiga narasumber memperlihatkan bahwa puisi selalu bergerak mengikuti manusia yang menciptakan dan membacanya.

Puisi boleh lahir dari pengalaman yang sangat pribadi. Ia boleh berangkat dari luka, kegelisahan, atau kegembiraan seorang penyair. Namun, ia menemukan makna yang lebih besar ketika pengalaman itu tidak lagi berhenti pada diri penulisnya.

Barangkali di situlah jawaban atas pertanyaan yang mengawali diskusi hari itu. Sebuah puisi berhenti menjadi sekadar catatan pribadi ketika pembaca menemukan dirinya di dalamnya.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: Hamzah MuhammadSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026Willy Fahmi Agiska
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

Next Post

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails
Next Post
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

by Chusmeru
September 9, 2026
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional
Khas

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?
Khas

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

by tatkala
September 7, 2026
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten
Tualang

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co