19 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
in Khas
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

Diskusi Panel ‘Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani’│Foto: Dok. SLF

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.”

Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng. Sesaat, percakapan tentang puisi tidak lagi terdengar sebagai pembahasan sastra yang berjarak. Ia berubah menjadi refleksi tentang pengalaman manusia—bagaimana sebuah luka yang lahir dari ruang pribadi menjelma menjadi pengalaman kolektif.

Pertanyaan itulah yang menjadi benang merah diskusi. Kapan sebuah puisi bertransformasi dari sekadar alat penyembuhan luka menjadi karya yang membangun kesadaran kolektif bagi pembacanya? Willy Fahmi Agiska, Yahya Umar, dan Hamzah Muhammad mengurai pertanyaan tersebut dari sudut pandang masing-masing dalam diskusi panel “Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani” yang dipandu Puja Savitri pada rangkaian Singaraja Literary Festival 2026.

Dari kiri ke kanan: Hamzah Muhammad, Yahya Umar, Willy Fahmi Agiska│Foto: Dok. SLF

Bagi Willy Fahmi Agiska, hampir semua penyair pada dasarnya membicarakan dirinya sendiri. Namun, hal itu bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan. Justru dari titik itulah sebuah puisi memulai perjalanannya.

Menurutnya, yang sering disebut sebagai narsisme dalam puisi bukanlah ketika penyair berbicara tentang dirinya, melainkan bagaimana pengalaman pribadi itu mampu menjalin komunikasi ke banyak arah. Di situlah puisi berbeda dengan bentuk komunikasi lain. Bahasa dalam puisi bekerja melalui simbol-simbol yang membuka kemungkinan makna, bukan menutupnya.

Willy menjelaskan bahwa puisi memiliki beragam cara menyampaikan pengalaman. Ada puisi yang figuratif atau metaforikal, ada pula yang lugas. Namun, kelugasan bukan berarti menghilangkan ruang tafsir. Puisi yang lugas sekalipun tetap memberi kesempatan kepada pembaca untuk menafsirkan pengalaman hidupnya sendiri ke dalam teks.

“Puisi menjadi ruang yang aman untuk berbahasa. Penyair menyampaikan sesuatu, tetapi pembaca tidak diwajibkan memahami dengan cara yang sama. Setiap orang dapat merespons melalui pengalaman masing-masing,” kata Willy.

“Puisi bisa memantik kesadaran kalau kita bukanlah pusat dunia,” ucapnya.

Diskusi Panel ‘Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani’│Foto: Dok. SLF

Kesadaran itulah yang membuat puisi melampaui kepentingan pribadi. Menurut Willy, puisi memiliki ruang simbolik yang mampu menautkan pengalaman-pengalaman kompleks antarmanusia. Detail peristiwanya mungkin berbeda, tetapi perasaan yang dibangkitkan dapat sama. Di sanalah pembaca menemukan dirinya dalam pengalaman orang lain.

Pandangan itu kemudian dipertegas oleh Yahya Umar. Menurutnya, setiap kali penyair menyuarakan lukanya, sesungguhnya ia sedang menyuarakan luka manusia. Pengalaman personal tidak otomatis menjadi sempit hanya karena berasal dari individu. Sebaliknya, ketika pengalaman itu menemukan kesamaan dengan kehidupan orang lain, puisi telah berubah menjadi kesadaran kolektif.

Dengan kata lain, yang membuat sebuah puisi hidup bukan semata kualitas bahasanya, melainkan kemampuannya membangun resonansi. Ketika pembaca merasa pernah mengalami kesedihan, kehilangan, atau kegelisahan yang sama, batas antara penyair dan pembaca perlahan memudar. Yang tersisa adalah pengalaman manusia yang dibagikan bersama.

Perspektif lain disampaikan Hamzah Muhammad yang melihat perkembangan puisi dari sudut zaman digital. Menurutnya, puisi selalu berada dalam posisi untuk terus mengekspansi dirinya semaksimal mungkin, terlebih pada era teknologi yang membuat setiap orang dapat menyampaikan pemikiran dengan sangat mudah.

Diskusi Panel ‘Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani’│Foto: Dok. SLF

Media sosial menghadirkan ruang baru bagi setiap individu untuk menampilkan dirinya. Personalitas menjadi semakin masif. Orang dapat membangun citra, menunjukkan keseharian, bahkan membentuk identitas hanya melalui layar ponsel.

Di tengah situasi tersebut, Hamzah melihat tantangan baru bagi puisi. Persoalannya bukan lagi apakah puisi bersifat personal atau tidak, melainkan bagaimana keakuan yang begitu kuat itu mampu diolah menjadi pengalaman yang juga dapat dirasakan orang lain.

“Tantangannya, bagaimana semua personalitas atau keakuan itu juga tercermin dalam karya puisi agar puisi itu bisa jamak dialami oleh orang lain,” jelasnya.

Bagi Hamzah, perkembangan teknologi juga telah mengubah cara generasi muda berkenalan dengan sastra. Hari ini, banyak pembaca menggunakan Wattpad dan berbagai platform digital lainnya. Bentuk bacaan berubah, begitu pula kebiasaan membaca.

Karena itu, ia menolak anggapan bahwa karya-karya di platform digital bukan bagian dari sastra.

Diskusi Panel ‘Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani’│Foto: Dok. SLF

“Generasi hari ini bacanya di Wattpad dan platform lain, lalu ketika ada yang mengecap itu bukan sastra, itu sih jahat banget,” ujarnya.

Menurutnya, boleh jadi justru bentuk-bentuk bacaan itulah yang dibutuhkan generasi sekarang karena perkembangan industri bergerak ke arah tersebut. Yang menjadi pertanyaan bukan lagi apakah platform itu layak disebut sastra, melainkan sejauh mana sastra Indonesia mampu mengakomodasi perubahan cara membaca masyarakat hari ini.

Diskusi di Kawasan Museum Buleleng itu akhirnya tidak menawarkan satu definisi tentang puisi. Tidak ada kesimpulan bahwa puisi harus metaforis, harus lugas, atau harus berbicara tentang isu sosial. Sebaliknya, ketiga narasumber memperlihatkan bahwa puisi selalu bergerak mengikuti manusia yang menciptakan dan membacanya.

Puisi boleh lahir dari pengalaman yang sangat pribadi. Ia boleh berangkat dari luka, kegelisahan, atau kegembiraan seorang penyair. Namun, ia menemukan makna yang lebih besar ketika pengalaman itu tidak lagi berhenti pada diri penulisnya.

Barangkali di situlah jawaban atas pertanyaan yang mengawali diskusi hari itu. Sebuah puisi berhenti menjadi sekadar catatan pribadi ketika pembaca menemukan dirinya di dalamnya.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: Hamzah MuhammadSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026Willy Fahmi Agiska
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

Next Post

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
0
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

Read moreDetails
Next Post
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

by Andre Syahreza
August 19, 2026
Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa
Buku Tatkala

Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa

Judul: PENJAGA RUPA UTAR, Jejak Warisan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa Penerbit: PT Tatkala Sekala...

by Buku Tatkala
August 19, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang
Pendidikan

UPMI Bali Lepas 237 Wisudawan, Rektor Ingatkan Gelar Bukan Sekadar untuk Dipajang

 “Gelar ini bukan untuk dipajang tapi untuk dibuktikan dengan karya.” Pesan Rektor UPMI Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Suarta,...

by Dede Putra Wiguna
August 19, 2026
Merawat Warisan Budaya Kolonial…
Esai

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

by Pande Susan
August 19, 2026
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         
Khas

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris
Pendidikan

FGD Penelitian ISI Bali: Menggali Nilai-Nilai Karakter Kearifan Lokal untuk Pengembangan Drama Tari Berbahasa Inggris

DENPASAR | TATKALA.CO -- Institut Seni Indonesia (ISI) Bali melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) menyelenggarakan Focus Group...

by Dewi Yulianti
August 19, 2026
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026
Panggung

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak
Khas

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”
Panggung

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

by Andre Syahreza
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co