29 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
in Khas
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

Diskusi Panel ‘Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani’│Foto: Dok. SLF

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.”

Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng. Sesaat, percakapan tentang puisi tidak lagi terdengar sebagai pembahasan sastra yang berjarak. Ia berubah menjadi refleksi tentang pengalaman manusia—bagaimana sebuah luka yang lahir dari ruang pribadi menjelma menjadi pengalaman kolektif.

Pertanyaan itulah yang menjadi benang merah diskusi. Kapan sebuah puisi bertransformasi dari sekadar alat penyembuhan luka menjadi karya yang membangun kesadaran kolektif bagi pembacanya? Willy Fahmi Agiska, Yahya Umar, dan Hamzah Muhammad mengurai pertanyaan tersebut dari sudut pandang masing-masing dalam diskusi panel “Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani” yang dipandu Puja Savitri pada rangkaian Singaraja Literary Festival 2026.

Dari kiri ke kanan: Hamzah Muhammad, Yahya Umar, Willy Fahmi Agiska│Foto: Dok. SLF

Bagi Willy Fahmi Agiska, hampir semua penyair pada dasarnya membicarakan dirinya sendiri. Namun, hal itu bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan. Justru dari titik itulah sebuah puisi memulai perjalanannya.

Menurutnya, yang sering disebut sebagai narsisme dalam puisi bukanlah ketika penyair berbicara tentang dirinya, melainkan bagaimana pengalaman pribadi itu mampu menjalin komunikasi ke banyak arah. Di situlah puisi berbeda dengan bentuk komunikasi lain. Bahasa dalam puisi bekerja melalui simbol-simbol yang membuka kemungkinan makna, bukan menutupnya.

Willy menjelaskan bahwa puisi memiliki beragam cara menyampaikan pengalaman. Ada puisi yang figuratif atau metaforikal, ada pula yang lugas. Namun, kelugasan bukan berarti menghilangkan ruang tafsir. Puisi yang lugas sekalipun tetap memberi kesempatan kepada pembaca untuk menafsirkan pengalaman hidupnya sendiri ke dalam teks.

“Puisi menjadi ruang yang aman untuk berbahasa. Penyair menyampaikan sesuatu, tetapi pembaca tidak diwajibkan memahami dengan cara yang sama. Setiap orang dapat merespons melalui pengalaman masing-masing,” kata Willy.

“Puisi bisa memantik kesadaran kalau kita bukanlah pusat dunia,” ucapnya.

Diskusi Panel ‘Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani’│Foto: Dok. SLF

Kesadaran itulah yang membuat puisi melampaui kepentingan pribadi. Menurut Willy, puisi memiliki ruang simbolik yang mampu menautkan pengalaman-pengalaman kompleks antarmanusia. Detail peristiwanya mungkin berbeda, tetapi perasaan yang dibangkitkan dapat sama. Di sanalah pembaca menemukan dirinya dalam pengalaman orang lain.

Pandangan itu kemudian dipertegas oleh Yahya Umar. Menurutnya, setiap kali penyair menyuarakan lukanya, sesungguhnya ia sedang menyuarakan luka manusia. Pengalaman personal tidak otomatis menjadi sempit hanya karena berasal dari individu. Sebaliknya, ketika pengalaman itu menemukan kesamaan dengan kehidupan orang lain, puisi telah berubah menjadi kesadaran kolektif.

Dengan kata lain, yang membuat sebuah puisi hidup bukan semata kualitas bahasanya, melainkan kemampuannya membangun resonansi. Ketika pembaca merasa pernah mengalami kesedihan, kehilangan, atau kegelisahan yang sama, batas antara penyair dan pembaca perlahan memudar. Yang tersisa adalah pengalaman manusia yang dibagikan bersama.

Perspektif lain disampaikan Hamzah Muhammad yang melihat perkembangan puisi dari sudut zaman digital. Menurutnya, puisi selalu berada dalam posisi untuk terus mengekspansi dirinya semaksimal mungkin, terlebih pada era teknologi yang membuat setiap orang dapat menyampaikan pemikiran dengan sangat mudah.

Diskusi Panel ‘Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani’│Foto: Dok. SLF

Media sosial menghadirkan ruang baru bagi setiap individu untuk menampilkan dirinya. Personalitas menjadi semakin masif. Orang dapat membangun citra, menunjukkan keseharian, bahkan membentuk identitas hanya melalui layar ponsel.

Di tengah situasi tersebut, Hamzah melihat tantangan baru bagi puisi. Persoalannya bukan lagi apakah puisi bersifat personal atau tidak, melainkan bagaimana keakuan yang begitu kuat itu mampu diolah menjadi pengalaman yang juga dapat dirasakan orang lain.

“Tantangannya, bagaimana semua personalitas atau keakuan itu juga tercermin dalam karya puisi agar puisi itu bisa jamak dialami oleh orang lain,” jelasnya.

Bagi Hamzah, perkembangan teknologi juga telah mengubah cara generasi muda berkenalan dengan sastra. Hari ini, banyak pembaca menggunakan Wattpad dan berbagai platform digital lainnya. Bentuk bacaan berubah, begitu pula kebiasaan membaca.

Karena itu, ia menolak anggapan bahwa karya-karya di platform digital bukan bagian dari sastra.

Diskusi Panel ‘Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani’│Foto: Dok. SLF

“Generasi hari ini bacanya di Wattpad dan platform lain, lalu ketika ada yang mengecap itu bukan sastra, itu sih jahat banget,” ujarnya.

Menurutnya, boleh jadi justru bentuk-bentuk bacaan itulah yang dibutuhkan generasi sekarang karena perkembangan industri bergerak ke arah tersebut. Yang menjadi pertanyaan bukan lagi apakah platform itu layak disebut sastra, melainkan sejauh mana sastra Indonesia mampu mengakomodasi perubahan cara membaca masyarakat hari ini.

Diskusi di Kawasan Museum Buleleng itu akhirnya tidak menawarkan satu definisi tentang puisi. Tidak ada kesimpulan bahwa puisi harus metaforis, harus lugas, atau harus berbicara tentang isu sosial. Sebaliknya, ketiga narasumber memperlihatkan bahwa puisi selalu bergerak mengikuti manusia yang menciptakan dan membacanya.

Puisi boleh lahir dari pengalaman yang sangat pribadi. Ia boleh berangkat dari luka, kegelisahan, atau kegembiraan seorang penyair. Namun, ia menemukan makna yang lebih besar ketika pengalaman itu tidak lagi berhenti pada diri penulisnya.

Barangkali di situlah jawaban atas pertanyaan yang mengawali diskusi hari itu. Sebuah puisi berhenti menjadi sekadar catatan pribadi ketika pembaca menemukan dirinya di dalamnya.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: Hamzah MuhammadSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026Willy Fahmi Agiska
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

Next Post

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

Read moreDetails

Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Membaca Ulang Mitos Lewat “Rahu” Karya Gus Martin

BERANDA Pustaka menggelar diskusi bedah buku bertajuk "Dekonstruksi Mitos: Menelusuri Kedalaman Peristiwa dalam Naskah Drama Rahu". Diskusi ini menjadi kesempatan...

Read moreDetails

Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
0
Oka Rusmini Bedah “Kembang”, Menggali Luka Sunyi Perempuan Penyintas Tragedi 1965

KALANGAN Ayodya, Taman Budaya Bali, yang biasanya dipenuhi riuh pertunjukan tari dan karawitan, berubah menjadi ruang perenungan pada Selasa (21/7/2026)...

Read moreDetails
Next Post
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali
Pendidikan

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali

DENPASAR | TATKALA.CO -- Tim Penelitian Fundamental menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Formulasi Konsep Drama Tari Berbahasa Inggris Berbasis...

by Dewi Yulianti
July 29, 2026
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik
Esai

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
Layar Redup, Pembelajaran Hidup
Esai

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”
Pameran

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka
Khas

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD
Pemerintahan

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

BULELENG | TATKALA -- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Gabungan Komisi bersama jajaran Eksekutif Pemerintah Kabupaten...

by tatkala
July 28, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Ulas Pentas

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja
Panggung

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

by Yahya Umar
July 28, 2026
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati
Ulas Rupa

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

by Angga Wijaya
July 28, 2026
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata
Khas

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 
Pemerintahan

Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 

BULELENG | TATKALA.CO -- Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Kerja bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kabupaten...

by tatkala
July 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co