30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
in Khas
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

Diskusi Panel ‘Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani’│Foto: Dok. SLF

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.”

Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng. Sesaat, percakapan tentang puisi tidak lagi terdengar sebagai pembahasan sastra yang berjarak. Ia berubah menjadi refleksi tentang pengalaman manusia—bagaimana sebuah luka yang lahir dari ruang pribadi menjelma menjadi pengalaman kolektif.

Pertanyaan itulah yang menjadi benang merah diskusi. Kapan sebuah puisi bertransformasi dari sekadar alat penyembuhan luka menjadi karya yang membangun kesadaran kolektif bagi pembacanya? Willy Fahmi Agiska, Yahya Umar, dan Hamzah Muhammad mengurai pertanyaan tersebut dari sudut pandang masing-masing dalam diskusi panel “Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani” yang dipandu Puja Savitri pada rangkaian Singaraja Literary Festival 2026.

Dari kiri ke kanan: Hamzah Muhammad, Yahya Umar, Willy Fahmi Agiska│Foto: Dok. SLF

Bagi Willy Fahmi Agiska, hampir semua penyair pada dasarnya membicarakan dirinya sendiri. Namun, hal itu bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan. Justru dari titik itulah sebuah puisi memulai perjalanannya.

Menurutnya, yang sering disebut sebagai narsisme dalam puisi bukanlah ketika penyair berbicara tentang dirinya, melainkan bagaimana pengalaman pribadi itu mampu menjalin komunikasi ke banyak arah. Di situlah puisi berbeda dengan bentuk komunikasi lain. Bahasa dalam puisi bekerja melalui simbol-simbol yang membuka kemungkinan makna, bukan menutupnya.

Willy menjelaskan bahwa puisi memiliki beragam cara menyampaikan pengalaman. Ada puisi yang figuratif atau metaforikal, ada pula yang lugas. Namun, kelugasan bukan berarti menghilangkan ruang tafsir. Puisi yang lugas sekalipun tetap memberi kesempatan kepada pembaca untuk menafsirkan pengalaman hidupnya sendiri ke dalam teks.

“Puisi menjadi ruang yang aman untuk berbahasa. Penyair menyampaikan sesuatu, tetapi pembaca tidak diwajibkan memahami dengan cara yang sama. Setiap orang dapat merespons melalui pengalaman masing-masing,” kata Willy.

“Puisi bisa memantik kesadaran kalau kita bukanlah pusat dunia,” ucapnya.

Diskusi Panel ‘Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani’│Foto: Dok. SLF

Kesadaran itulah yang membuat puisi melampaui kepentingan pribadi. Menurut Willy, puisi memiliki ruang simbolik yang mampu menautkan pengalaman-pengalaman kompleks antarmanusia. Detail peristiwanya mungkin berbeda, tetapi perasaan yang dibangkitkan dapat sama. Di sanalah pembaca menemukan dirinya dalam pengalaman orang lain.

Pandangan itu kemudian dipertegas oleh Yahya Umar. Menurutnya, setiap kali penyair menyuarakan lukanya, sesungguhnya ia sedang menyuarakan luka manusia. Pengalaman personal tidak otomatis menjadi sempit hanya karena berasal dari individu. Sebaliknya, ketika pengalaman itu menemukan kesamaan dengan kehidupan orang lain, puisi telah berubah menjadi kesadaran kolektif.

Dengan kata lain, yang membuat sebuah puisi hidup bukan semata kualitas bahasanya, melainkan kemampuannya membangun resonansi. Ketika pembaca merasa pernah mengalami kesedihan, kehilangan, atau kegelisahan yang sama, batas antara penyair dan pembaca perlahan memudar. Yang tersisa adalah pengalaman manusia yang dibagikan bersama.

Perspektif lain disampaikan Hamzah Muhammad yang melihat perkembangan puisi dari sudut zaman digital. Menurutnya, puisi selalu berada dalam posisi untuk terus mengekspansi dirinya semaksimal mungkin, terlebih pada era teknologi yang membuat setiap orang dapat menyampaikan pemikiran dengan sangat mudah.

Diskusi Panel ‘Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani’│Foto: Dok. SLF

Media sosial menghadirkan ruang baru bagi setiap individu untuk menampilkan dirinya. Personalitas menjadi semakin masif. Orang dapat membangun citra, menunjukkan keseharian, bahkan membentuk identitas hanya melalui layar ponsel.

Di tengah situasi tersebut, Hamzah melihat tantangan baru bagi puisi. Persoalannya bukan lagi apakah puisi bersifat personal atau tidak, melainkan bagaimana keakuan yang begitu kuat itu mampu diolah menjadi pengalaman yang juga dapat dirasakan orang lain.

“Tantangannya, bagaimana semua personalitas atau keakuan itu juga tercermin dalam karya puisi agar puisi itu bisa jamak dialami oleh orang lain,” jelasnya.

Bagi Hamzah, perkembangan teknologi juga telah mengubah cara generasi muda berkenalan dengan sastra. Hari ini, banyak pembaca menggunakan Wattpad dan berbagai platform digital lainnya. Bentuk bacaan berubah, begitu pula kebiasaan membaca.

Karena itu, ia menolak anggapan bahwa karya-karya di platform digital bukan bagian dari sastra.

Diskusi Panel ‘Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani’│Foto: Dok. SLF

“Generasi hari ini bacanya di Wattpad dan platform lain, lalu ketika ada yang mengecap itu bukan sastra, itu sih jahat banget,” ujarnya.

Menurutnya, boleh jadi justru bentuk-bentuk bacaan itulah yang dibutuhkan generasi sekarang karena perkembangan industri bergerak ke arah tersebut. Yang menjadi pertanyaan bukan lagi apakah platform itu layak disebut sastra, melainkan sejauh mana sastra Indonesia mampu mengakomodasi perubahan cara membaca masyarakat hari ini.

Diskusi di Kawasan Museum Buleleng itu akhirnya tidak menawarkan satu definisi tentang puisi. Tidak ada kesimpulan bahwa puisi harus metaforis, harus lugas, atau harus berbicara tentang isu sosial. Sebaliknya, ketiga narasumber memperlihatkan bahwa puisi selalu bergerak mengikuti manusia yang menciptakan dan membacanya.

Puisi boleh lahir dari pengalaman yang sangat pribadi. Ia boleh berangkat dari luka, kegelisahan, atau kegembiraan seorang penyair. Namun, ia menemukan makna yang lebih besar ketika pengalaman itu tidak lagi berhenti pada diri penulisnya.

Barangkali di situlah jawaban atas pertanyaan yang mengawali diskusi hari itu. Sebuah puisi berhenti menjadi sekadar catatan pribadi ketika pembaca menemukan dirinya di dalamnya.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: Hamzah MuhammadSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026Willy Fahmi Agiska
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

Next Post

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails
Next Post
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co