21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

Mahesa Putra by Mahesa Putra
June 30, 2026
in Ulas Rupa
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati. Maka dari itu, pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” di Palembang hendak menawarkan wacana kepada khalayak luas bahwa ada sebuah upaya mendobrak iklim kesenian di nusantara; upaya yang penulis rasa bukan sebuah kenihilan. Sebab, karya yang disajikan bukan sesuatu yang tiba-tiba terjadi.

Ferdian Semai selaku perupa yang karyanya direspon oleh Dahlia Rasyad sendiri, bukan yang tiba-tiba muncul di iklim kesenian maupun budaya. Ia sejak tahun 90-an sudah aktif berkegiatan dengan Teater Potlot melalui pendekatan teks-teks lingkungan dan budaya.

Karya-karya terbaru yang telah Ferdi garap diantaranya adalah “Merawat Sungai Dari Dapur Ibu”, “Antropogenik”, dan “Rahim Sungai Musi”. Dari judul-judul pertunjukan yang coba dihidangkan ini, kita mendapati kedekatan Ferdi dengan alam tidak terjadi begitu saja, seperti yang sudah penulis bahas di Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang.

Sementara Dahlia Rasyad sendiri tidak datang tiba-tiba lalu menuliskan puisi, meski ia lebih dikenal sebagai seorang prosais. Pada 2014, novelnya “Perempuan yang Memetik Mawar” mendapat penghargaan untuk Karya Sastra Terbaik oleh Balai Bahasa Yogyakarta. Pada 2016, Dahlia terpilih menjadi “Penulis Emerging Ubud Writers & Readers Festival”. Menariknya, Dahlia juga diam-diam menuliskan puisi, tapi tidak pernah dipublikasikan dalam bentuk buku maupun daring. Pada pameran Ferdi inilah, pertama kalinya puisi Dahlia Rasyad dibaca oleh khalayak.

Sebelum masuk lebih jauh ke dalam diskusi minggu ke-3 yang tersaji pada 28 Juni 2026 di Roemah Tumbuh Kembang, Plaju, penulis sendiri memiliki pengalaman visual ketika melihat gambar-gambar Ferdi. Sesuatu yang berangkat dari tumpukan memori, terbesit bersinggungan ketika Asmaran Dani selaku kurator menunjukkan gambar Ferdi. Penulis membayangkan sedang tersedot ke hippocampus sendiri, lalu masuk ke dalam serial televisi yang sedang memutar adegan di Hawkins pada Stranger Things, lalu lamat-lamat memasuki dunia terbalik yang dikenal sebagai The Upside Down—sebuah dimensi alternatif yang ada secara paralel dengan dunia manusia. Menjadi menariknya di dalam serial itu, kelompok diskusi yang dinamai Hellfire Club dirian Eddie Munson ini mirip dengan pola diskusi minggu ke-3 Opus Sastra.

Hellfire Club sendiri dianggap sebagai kelompok orang aneh atau outcast di sekolahnya, tapi penulis tidak ingin meromantisasi kata outcast itu sendiri, seolah-olah sastra dan seni tidak menarik hari ini. Tidak, tidak. Penulis ingin menggambarkan suasana meja saat itu seperti para pencinta permainan role-playing game (RPG) Dungeons & Dragons (D&D) di SMA Hawkins. Sebab, Dahlia Rasyad sendiri selaku penulis puisi berhalangan hadir. Penulis membayangkan Dahlia Rasyad sedang berada di The Upside Down dan hendak dicari tahu eksistensi puisinya, sebab yang ada pada muka meja Opus Sastra sendiri adalah puisinya. Dahlia Rasyad bisa saja di The Right Side Up (dunia nyata), sementara puisinya masih harus dicari tahu eksistensi teksnya.

Diskusi terjadi setelah langit gelap, persis berada di suasana Hawkins, bedanya gambar-gambar Ferdi menemani kami seakan-akan itu adalah sulur-sulur hidup yang menjerat satu sama lain. Gambar itu tidak mati sebagai gambar, Ferdi sebagai perupa sendiri keluar dari tubuhnya dan melebur menjadi anggota diskusi dan kadang-kadang seperti Vecna yang memainkan sulur-sulur di dinding pameran untuk menggerakkan Hive Mind (pikiran kolektif). Ketika salah satu anggota diskusi terinjak sulur-sulur Vecna, Ferdi tak segan menjadi Vecna yang memereteli alam bawah sadar anggota diskusi. Ia tak segan menampilkan kilasan-kilasan peristiwa anggota diskusi, ia seperti Demogorgon langsung mengetahui posisi eksistensi teks. Psikoanalisis yang ditawarkan Ferdi, bak Vecna yang terhubung dengan sulur-sulur dan Dahlia Rasyad sendiri sedang terikat pada sulur-sulur yang Ferdi gunakan di diskusi minggu ke-3.

Ia menanggalkan status sebagai perupa yang sedang berpameran, ia menjadi anggota diskusi yang juga mencambuk-cambuk dengan sulur-sulur di ruangan, kaki meja dan kursi yang kawan-kawan Opus Sastra duduki. Mau tidak mau, anggota diskusi mengikuti pola main yang dilakukan Ferdi. Mau tidak mau, sulur-sulur itu dihayati tidak dilawan. Seperti Will yang awalnya terjerat dengan sulur-sulur Vecna, menjadi kekuatan sendiri ketika ia dapat mengendalikan jalannya permainan Vecna sendiri. Asmaran Dani beberapa kali menjadi Will yang menentang sulur-sulur Ferdi. Namun, ia makin terjerat dan tersesat di The Upside Down. Ketika Asmaran Dani menghayati apa yang sedang ingin dilakukan Ferdi, sulur-sulur yang menjeratnya melonggar dan menjadi serangan balik yang cukup berarti dan membuka jalannya diskusi ke arah yang menarik. Tidak lagi dikuasai oleh aktor utama Vecna sendiri yakni Ferdi, namun meluas menjadi ruang Hellfire Club.

Pembacaan puisi Dahlia Rasyad oleh Eko Saputra menjadi jalan yang terjal, beberapa kali pertarungan terjadi persis game (RPG) mempertanyakan eksistensi teks. Apakah pas digunakan, tepat, dan sesuai dengan gambar yang dihidangkan. Satu baris puisi dari Dahlia Rasyad menjadi perdebatan panjang: membuatku melahirkan seonggok daging yang mengalir dari sungaimu.

Menurut Ferdi, puisi Dahlia Rasyad sangat baik dalam konteks penghayatan. Tapi ada sesuatu yang tidak dapat memuaskan Ferdi pada bagian “melahirkan seonggok daging yang mengalir dari sungaimu”, menurutnya pada bagian itu bergeser dari makna awal. Sejak awal kami menghayati pembacaan puisi Dahlia Rasyad oleh Eko Saputra pun tidak terganggu, dan merasa ada tarik-menarik dengan gambar yang disajikan Ferdi. Tetapi, ketika di bagian itu Ferdi memulai memainkan sulur-sulurnya untuk memecut api diskusi. Terjadilah perdebatan, Sultan seorang penulis muda gen-Z tidak sepakat. Menurutnya setiap penulis bebas menginterpretasikan puisinya ke arah mana saja. Lalu, Eko Saputra selaku pembaca puisi melirik tajam ke arah Sultan. Ferdi masih berdiam, menunggu momen yang pas untuk membalas serangan Sultan. Terjadi percakapan panjang memutar-mutar persis sedang berada dalam The Upside Down mencari jalan kembali.

Lalu, Ferdi kembali memecut menggunakan sulur-sulurnya. “Apakah pohon besar itu adalah seonggok daging?” Ferdi menunjuk gambar yang direspon oleh Dahlia Rasyad, dan melanjutkan, “Sungai yang mengalir itu adalah pisang-pisang dan lavender di gambar ini?” Semua diam. Tapi tidak benar-benar hening, dialog terjadi terlihat dari banyak pasang mata yang siap menyambar sulur-sulur Ferdi.

Asmaran Dani membongkar satu peristiwa, layaknya ia berubah menjadi Dustin ketika berkumpul di Hellfire memberi fakta bahwa Dahlia Rasyad sendiri sudah lama menulis puisi itu. Puisi yang telah lama ditulisnya ini terinspirasi dari Neruda, Asmaran Dani membongkar isi chat:

DAHLIA RASYAD

Ada puisi Neruda judulnya “And Because Love Battles” yang pernah menginspirasi Mbak membuat sebuah puisi tentang pohon. Tapi puisi Mbak tidak sepanjang dan sebagus Neruda di puisi itu. Gara-gara pohon juga Mbak menyukai Neruda yang sebelumnya belum Mbak baca.

Asmaran Dani membacakan pesan ini, dan membuat suasana menjadi lebih cair. Kepanikan seperti The Upside Down pada puisi Dahlia Rasyad menjadi The Right Side Up, semuanya seperti lega bahwa keujungan dari perdebatan ini adalah kenihilan. Asmaran Dani melanjutkan membaca pesan:

DAHLIA RASYAD

Puisi saya sangat-sangat pendek dan bisa dibilang terinspirasi dari makhluk yang bernama pohon, itu foto pohonnya dikasih seorang kawan di Australia waktu ia menjajal hutan Tasmania.

Setelah semua selesai mendengar pembacaan pesan oleh Asmaran Dani, termasuk Ferdi sendiri yang dari awal diskusi berlaku seperti Vecna dengan sulur-sulurnya menarik napas panjang dan menutup diskusi dengan “Tuhan adalah bumi, bumi adalah kebun, kebun adalah pohon, itulah puisi Dahlia Rasyad,” tutup Ferdian Semai, lamat-lamat melepas sulur-sulur yang sejak tadi mengikat kursi, bawah meja dan ruangan diskusi yang telah diubahnya menjadi area role-playing game (RPG) Dungeons & Dragons (D&D) di Plaju, Palembang. [T]

Palembang, 29 Juni 2026

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

Next Post

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

Mahesa Putra

Mahesa Putra

Pengasuh kedai kopi bernama Roemah Tumbuh Kembang. Juga menulis puisi sebagai kerangka berpikir. Aktif berkegiatan dengan komunitas Opus Sastra yang berada di Palembang. Telah menerbitkan dua novel Dunia Dalam Serkap (2025), Mate Taun (2026). Instagram: tementanah

Related Posts

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]
Ulas Musik

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur
Pameran

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026
Panggung

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co