10 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

Mahesa Putra by Mahesa Putra
June 30, 2026
in Ulas Rupa
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati. Maka dari itu, pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” di Palembang hendak menawarkan wacana kepada khalayak luas bahwa ada sebuah upaya mendobrak iklim kesenian di nusantara; upaya yang penulis rasa bukan sebuah kenihilan. Sebab, karya yang disajikan bukan sesuatu yang tiba-tiba terjadi.

Ferdian Semai selaku perupa yang karyanya direspon oleh Dahlia Rasyad sendiri, bukan yang tiba-tiba muncul di iklim kesenian maupun budaya. Ia sejak tahun 90-an sudah aktif berkegiatan dengan Teater Potlot melalui pendekatan teks-teks lingkungan dan budaya.

Karya-karya terbaru yang telah Ferdi garap diantaranya adalah “Merawat Sungai Dari Dapur Ibu”, “Antropogenik”, dan “Rahim Sungai Musi”. Dari judul-judul pertunjukan yang coba dihidangkan ini, kita mendapati kedekatan Ferdi dengan alam tidak terjadi begitu saja, seperti yang sudah penulis bahas di Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang.

Sementara Dahlia Rasyad sendiri tidak datang tiba-tiba lalu menuliskan puisi, meski ia lebih dikenal sebagai seorang prosais. Pada 2014, novelnya “Perempuan yang Memetik Mawar” mendapat penghargaan untuk Karya Sastra Terbaik oleh Balai Bahasa Yogyakarta. Pada 2016, Dahlia terpilih menjadi “Penulis Emerging Ubud Writers & Readers Festival”. Menariknya, Dahlia juga diam-diam menuliskan puisi, tapi tidak pernah dipublikasikan dalam bentuk buku maupun daring. Pada pameran Ferdi inilah, pertama kalinya puisi Dahlia Rasyad dibaca oleh khalayak.

Sebelum masuk lebih jauh ke dalam diskusi minggu ke-3 yang tersaji pada 28 Juni 2026 di Roemah Tumbuh Kembang, Plaju, penulis sendiri memiliki pengalaman visual ketika melihat gambar-gambar Ferdi. Sesuatu yang berangkat dari tumpukan memori, terbesit bersinggungan ketika Asmaran Dani selaku kurator menunjukkan gambar Ferdi. Penulis membayangkan sedang tersedot ke hippocampus sendiri, lalu masuk ke dalam serial televisi yang sedang memutar adegan di Hawkins pada Stranger Things, lalu lamat-lamat memasuki dunia terbalik yang dikenal sebagai The Upside Down—sebuah dimensi alternatif yang ada secara paralel dengan dunia manusia. Menjadi menariknya di dalam serial itu, kelompok diskusi yang dinamai Hellfire Club dirian Eddie Munson ini mirip dengan pola diskusi minggu ke-3 Opus Sastra.

Hellfire Club sendiri dianggap sebagai kelompok orang aneh atau outcast di sekolahnya, tapi penulis tidak ingin meromantisasi kata outcast itu sendiri, seolah-olah sastra dan seni tidak menarik hari ini. Tidak, tidak. Penulis ingin menggambarkan suasana meja saat itu seperti para pencinta permainan role-playing game (RPG) Dungeons & Dragons (D&D) di SMA Hawkins. Sebab, Dahlia Rasyad sendiri selaku penulis puisi berhalangan hadir. Penulis membayangkan Dahlia Rasyad sedang berada di The Upside Down dan hendak dicari tahu eksistensi puisinya, sebab yang ada pada muka meja Opus Sastra sendiri adalah puisinya. Dahlia Rasyad bisa saja di The Right Side Up (dunia nyata), sementara puisinya masih harus dicari tahu eksistensi teksnya.

Diskusi terjadi setelah langit gelap, persis berada di suasana Hawkins, bedanya gambar-gambar Ferdi menemani kami seakan-akan itu adalah sulur-sulur hidup yang menjerat satu sama lain. Gambar itu tidak mati sebagai gambar, Ferdi sebagai perupa sendiri keluar dari tubuhnya dan melebur menjadi anggota diskusi dan kadang-kadang seperti Vecna yang memainkan sulur-sulur di dinding pameran untuk menggerakkan Hive Mind (pikiran kolektif). Ketika salah satu anggota diskusi terinjak sulur-sulur Vecna, Ferdi tak segan menjadi Vecna yang memereteli alam bawah sadar anggota diskusi. Ia tak segan menampilkan kilasan-kilasan peristiwa anggota diskusi, ia seperti Demogorgon langsung mengetahui posisi eksistensi teks. Psikoanalisis yang ditawarkan Ferdi, bak Vecna yang terhubung dengan sulur-sulur dan Dahlia Rasyad sendiri sedang terikat pada sulur-sulur yang Ferdi gunakan di diskusi minggu ke-3.

Ia menanggalkan status sebagai perupa yang sedang berpameran, ia menjadi anggota diskusi yang juga mencambuk-cambuk dengan sulur-sulur di ruangan, kaki meja dan kursi yang kawan-kawan Opus Sastra duduki. Mau tidak mau, anggota diskusi mengikuti pola main yang dilakukan Ferdi. Mau tidak mau, sulur-sulur itu dihayati tidak dilawan. Seperti Will yang awalnya terjerat dengan sulur-sulur Vecna, menjadi kekuatan sendiri ketika ia dapat mengendalikan jalannya permainan Vecna sendiri. Asmaran Dani beberapa kali menjadi Will yang menentang sulur-sulur Ferdi. Namun, ia makin terjerat dan tersesat di The Upside Down. Ketika Asmaran Dani menghayati apa yang sedang ingin dilakukan Ferdi, sulur-sulur yang menjeratnya melonggar dan menjadi serangan balik yang cukup berarti dan membuka jalannya diskusi ke arah yang menarik. Tidak lagi dikuasai oleh aktor utama Vecna sendiri yakni Ferdi, namun meluas menjadi ruang Hellfire Club.

Pembacaan puisi Dahlia Rasyad oleh Eko Saputra menjadi jalan yang terjal, beberapa kali pertarungan terjadi persis game (RPG) mempertanyakan eksistensi teks. Apakah pas digunakan, tepat, dan sesuai dengan gambar yang dihidangkan. Satu baris puisi dari Dahlia Rasyad menjadi perdebatan panjang: membuatku melahirkan seonggok daging yang mengalir dari sungaimu.

Menurut Ferdi, puisi Dahlia Rasyad sangat baik dalam konteks penghayatan. Tapi ada sesuatu yang tidak dapat memuaskan Ferdi pada bagian “melahirkan seonggok daging yang mengalir dari sungaimu”, menurutnya pada bagian itu bergeser dari makna awal. Sejak awal kami menghayati pembacaan puisi Dahlia Rasyad oleh Eko Saputra pun tidak terganggu, dan merasa ada tarik-menarik dengan gambar yang disajikan Ferdi. Tetapi, ketika di bagian itu Ferdi memulai memainkan sulur-sulurnya untuk memecut api diskusi. Terjadilah perdebatan, Sultan seorang penulis muda gen-Z tidak sepakat. Menurutnya setiap penulis bebas menginterpretasikan puisinya ke arah mana saja. Lalu, Eko Saputra selaku pembaca puisi melirik tajam ke arah Sultan. Ferdi masih berdiam, menunggu momen yang pas untuk membalas serangan Sultan. Terjadi percakapan panjang memutar-mutar persis sedang berada dalam The Upside Down mencari jalan kembali.

Lalu, Ferdi kembali memecut menggunakan sulur-sulurnya. “Apakah pohon besar itu adalah seonggok daging?” Ferdi menunjuk gambar yang direspon oleh Dahlia Rasyad, dan melanjutkan, “Sungai yang mengalir itu adalah pisang-pisang dan lavender di gambar ini?” Semua diam. Tapi tidak benar-benar hening, dialog terjadi terlihat dari banyak pasang mata yang siap menyambar sulur-sulur Ferdi.

Asmaran Dani membongkar satu peristiwa, layaknya ia berubah menjadi Dustin ketika berkumpul di Hellfire memberi fakta bahwa Dahlia Rasyad sendiri sudah lama menulis puisi itu. Puisi yang telah lama ditulisnya ini terinspirasi dari Neruda, Asmaran Dani membongkar isi chat:

DAHLIA RASYAD

Ada puisi Neruda judulnya “And Because Love Battles” yang pernah menginspirasi Mbak membuat sebuah puisi tentang pohon. Tapi puisi Mbak tidak sepanjang dan sebagus Neruda di puisi itu. Gara-gara pohon juga Mbak menyukai Neruda yang sebelumnya belum Mbak baca.

Asmaran Dani membacakan pesan ini, dan membuat suasana menjadi lebih cair. Kepanikan seperti The Upside Down pada puisi Dahlia Rasyad menjadi The Right Side Up, semuanya seperti lega bahwa keujungan dari perdebatan ini adalah kenihilan. Asmaran Dani melanjutkan membaca pesan:

DAHLIA RASYAD

Puisi saya sangat-sangat pendek dan bisa dibilang terinspirasi dari makhluk yang bernama pohon, itu foto pohonnya dikasih seorang kawan di Australia waktu ia menjajal hutan Tasmania.

Setelah semua selesai mendengar pembacaan pesan oleh Asmaran Dani, termasuk Ferdi sendiri yang dari awal diskusi berlaku seperti Vecna dengan sulur-sulurnya menarik napas panjang dan menutup diskusi dengan “Tuhan adalah bumi, bumi adalah kebun, kebun adalah pohon, itulah puisi Dahlia Rasyad,” tutup Ferdian Semai, lamat-lamat melepas sulur-sulur yang sejak tadi mengikat kursi, bawah meja dan ruangan diskusi yang telah diubahnya menjadi area role-playing game (RPG) Dungeons & Dragons (D&D) di Plaju, Palembang. [T]

Palembang, 29 Juni 2026

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

Next Post

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

Mahesa Putra

Mahesa Putra

Pengasuh kedai kopi bernama Roemah Tumbuh Kembang. Juga menulis puisi sebagai kerangka berpikir. Aktif berkegiatan dengan komunitas Opus Sastra yang berada di Palembang. Telah menerbitkan dua novel Dunia Dalam Serkap (2025), Mate Taun (2026). Instagram: tementanah

Related Posts

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”
Budaya

MTN Presentasi Buruan.co 2026: “Merawat Regenerasi Penulis Sastra Muda”

KEMENTERIAN Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya berkolaborasi dengan Buruan.co menggelar program bertajuk “MTN Presentasi: Buruan.co...

by tatkala
August 10, 2026
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital
Esai

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan
Bahasa

Timbulan Sampah dan Timbunan Sampah dalam Istilah Lingkungan

PERNAHKAH Anda membaca berita lingkungan dan merasa bingung dengan dua istilah yang mirip: timbulan sampah dan timbunan sampah? Sekilas keduanya tampak sama, tetapi...

by I Made Sudiana
August 9, 2026
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman
Khas

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co