11 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

Mahesa Putra by Mahesa Putra
June 30, 2026
in Ulas Rupa
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati. Maka dari itu, pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” di Palembang hendak menawarkan wacana kepada khalayak luas bahwa ada sebuah upaya mendobrak iklim kesenian di nusantara; upaya yang penulis rasa bukan sebuah kenihilan. Sebab, karya yang disajikan bukan sesuatu yang tiba-tiba terjadi.

Ferdian Semai selaku perupa yang karyanya direspon oleh Dahlia Rasyad sendiri, bukan yang tiba-tiba muncul di iklim kesenian maupun budaya. Ia sejak tahun 90-an sudah aktif berkegiatan dengan Teater Potlot melalui pendekatan teks-teks lingkungan dan budaya.

Karya-karya terbaru yang telah Ferdi garap diantaranya adalah “Merawat Sungai Dari Dapur Ibu”, “Antropogenik”, dan “Rahim Sungai Musi”. Dari judul-judul pertunjukan yang coba dihidangkan ini, kita mendapati kedekatan Ferdi dengan alam tidak terjadi begitu saja, seperti yang sudah penulis bahas di Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang.

Sementara Dahlia Rasyad sendiri tidak datang tiba-tiba lalu menuliskan puisi, meski ia lebih dikenal sebagai seorang prosais. Pada 2014, novelnya “Perempuan yang Memetik Mawar” mendapat penghargaan untuk Karya Sastra Terbaik oleh Balai Bahasa Yogyakarta. Pada 2016, Dahlia terpilih menjadi “Penulis Emerging Ubud Writers & Readers Festival”. Menariknya, Dahlia juga diam-diam menuliskan puisi, tapi tidak pernah dipublikasikan dalam bentuk buku maupun daring. Pada pameran Ferdi inilah, pertama kalinya puisi Dahlia Rasyad dibaca oleh khalayak.

Sebelum masuk lebih jauh ke dalam diskusi minggu ke-3 yang tersaji pada 28 Juni 2026 di Roemah Tumbuh Kembang, Plaju, penulis sendiri memiliki pengalaman visual ketika melihat gambar-gambar Ferdi. Sesuatu yang berangkat dari tumpukan memori, terbesit bersinggungan ketika Asmaran Dani selaku kurator menunjukkan gambar Ferdi. Penulis membayangkan sedang tersedot ke hippocampus sendiri, lalu masuk ke dalam serial televisi yang sedang memutar adegan di Hawkins pada Stranger Things, lalu lamat-lamat memasuki dunia terbalik yang dikenal sebagai The Upside Down—sebuah dimensi alternatif yang ada secara paralel dengan dunia manusia. Menjadi menariknya di dalam serial itu, kelompok diskusi yang dinamai Hellfire Club dirian Eddie Munson ini mirip dengan pola diskusi minggu ke-3 Opus Sastra.

Hellfire Club sendiri dianggap sebagai kelompok orang aneh atau outcast di sekolahnya, tapi penulis tidak ingin meromantisasi kata outcast itu sendiri, seolah-olah sastra dan seni tidak menarik hari ini. Tidak, tidak. Penulis ingin menggambarkan suasana meja saat itu seperti para pencinta permainan role-playing game (RPG) Dungeons & Dragons (D&D) di SMA Hawkins. Sebab, Dahlia Rasyad sendiri selaku penulis puisi berhalangan hadir. Penulis membayangkan Dahlia Rasyad sedang berada di The Upside Down dan hendak dicari tahu eksistensi puisinya, sebab yang ada pada muka meja Opus Sastra sendiri adalah puisinya. Dahlia Rasyad bisa saja di The Right Side Up (dunia nyata), sementara puisinya masih harus dicari tahu eksistensi teksnya.

Diskusi terjadi setelah langit gelap, persis berada di suasana Hawkins, bedanya gambar-gambar Ferdi menemani kami seakan-akan itu adalah sulur-sulur hidup yang menjerat satu sama lain. Gambar itu tidak mati sebagai gambar, Ferdi sebagai perupa sendiri keluar dari tubuhnya dan melebur menjadi anggota diskusi dan kadang-kadang seperti Vecna yang memainkan sulur-sulur di dinding pameran untuk menggerakkan Hive Mind (pikiran kolektif). Ketika salah satu anggota diskusi terinjak sulur-sulur Vecna, Ferdi tak segan menjadi Vecna yang memereteli alam bawah sadar anggota diskusi. Ia tak segan menampilkan kilasan-kilasan peristiwa anggota diskusi, ia seperti Demogorgon langsung mengetahui posisi eksistensi teks. Psikoanalisis yang ditawarkan Ferdi, bak Vecna yang terhubung dengan sulur-sulur dan Dahlia Rasyad sendiri sedang terikat pada sulur-sulur yang Ferdi gunakan di diskusi minggu ke-3.

Ia menanggalkan status sebagai perupa yang sedang berpameran, ia menjadi anggota diskusi yang juga mencambuk-cambuk dengan sulur-sulur di ruangan, kaki meja dan kursi yang kawan-kawan Opus Sastra duduki. Mau tidak mau, anggota diskusi mengikuti pola main yang dilakukan Ferdi. Mau tidak mau, sulur-sulur itu dihayati tidak dilawan. Seperti Will yang awalnya terjerat dengan sulur-sulur Vecna, menjadi kekuatan sendiri ketika ia dapat mengendalikan jalannya permainan Vecna sendiri. Asmaran Dani beberapa kali menjadi Will yang menentang sulur-sulur Ferdi. Namun, ia makin terjerat dan tersesat di The Upside Down. Ketika Asmaran Dani menghayati apa yang sedang ingin dilakukan Ferdi, sulur-sulur yang menjeratnya melonggar dan menjadi serangan balik yang cukup berarti dan membuka jalannya diskusi ke arah yang menarik. Tidak lagi dikuasai oleh aktor utama Vecna sendiri yakni Ferdi, namun meluas menjadi ruang Hellfire Club.

Pembacaan puisi Dahlia Rasyad oleh Eko Saputra menjadi jalan yang terjal, beberapa kali pertarungan terjadi persis game (RPG) mempertanyakan eksistensi teks. Apakah pas digunakan, tepat, dan sesuai dengan gambar yang dihidangkan. Satu baris puisi dari Dahlia Rasyad menjadi perdebatan panjang: membuatku melahirkan seonggok daging yang mengalir dari sungaimu.

Menurut Ferdi, puisi Dahlia Rasyad sangat baik dalam konteks penghayatan. Tapi ada sesuatu yang tidak dapat memuaskan Ferdi pada bagian “melahirkan seonggok daging yang mengalir dari sungaimu”, menurutnya pada bagian itu bergeser dari makna awal. Sejak awal kami menghayati pembacaan puisi Dahlia Rasyad oleh Eko Saputra pun tidak terganggu, dan merasa ada tarik-menarik dengan gambar yang disajikan Ferdi. Tetapi, ketika di bagian itu Ferdi memulai memainkan sulur-sulurnya untuk memecut api diskusi. Terjadilah perdebatan, Sultan seorang penulis muda gen-Z tidak sepakat. Menurutnya setiap penulis bebas menginterpretasikan puisinya ke arah mana saja. Lalu, Eko Saputra selaku pembaca puisi melirik tajam ke arah Sultan. Ferdi masih berdiam, menunggu momen yang pas untuk membalas serangan Sultan. Terjadi percakapan panjang memutar-mutar persis sedang berada dalam The Upside Down mencari jalan kembali.

Lalu, Ferdi kembali memecut menggunakan sulur-sulurnya. “Apakah pohon besar itu adalah seonggok daging?” Ferdi menunjuk gambar yang direspon oleh Dahlia Rasyad, dan melanjutkan, “Sungai yang mengalir itu adalah pisang-pisang dan lavender di gambar ini?” Semua diam. Tapi tidak benar-benar hening, dialog terjadi terlihat dari banyak pasang mata yang siap menyambar sulur-sulur Ferdi.

Asmaran Dani membongkar satu peristiwa, layaknya ia berubah menjadi Dustin ketika berkumpul di Hellfire memberi fakta bahwa Dahlia Rasyad sendiri sudah lama menulis puisi itu. Puisi yang telah lama ditulisnya ini terinspirasi dari Neruda, Asmaran Dani membongkar isi chat:

DAHLIA RASYAD

Ada puisi Neruda judulnya “And Because Love Battles” yang pernah menginspirasi Mbak membuat sebuah puisi tentang pohon. Tapi puisi Mbak tidak sepanjang dan sebagus Neruda di puisi itu. Gara-gara pohon juga Mbak menyukai Neruda yang sebelumnya belum Mbak baca.

Asmaran Dani membacakan pesan ini, dan membuat suasana menjadi lebih cair. Kepanikan seperti The Upside Down pada puisi Dahlia Rasyad menjadi The Right Side Up, semuanya seperti lega bahwa keujungan dari perdebatan ini adalah kenihilan. Asmaran Dani melanjutkan membaca pesan:

DAHLIA RASYAD

Puisi saya sangat-sangat pendek dan bisa dibilang terinspirasi dari makhluk yang bernama pohon, itu foto pohonnya dikasih seorang kawan di Australia waktu ia menjajal hutan Tasmania.

Setelah semua selesai mendengar pembacaan pesan oleh Asmaran Dani, termasuk Ferdi sendiri yang dari awal diskusi berlaku seperti Vecna dengan sulur-sulurnya menarik napas panjang dan menutup diskusi dengan “Tuhan adalah bumi, bumi adalah kebun, kebun adalah pohon, itulah puisi Dahlia Rasyad,” tutup Ferdian Semai, lamat-lamat melepas sulur-sulur yang sejak tadi mengikat kursi, bawah meja dan ruangan diskusi yang telah diubahnya menjadi area role-playing game (RPG) Dungeons & Dragons (D&D) di Plaju, Palembang. [T]

Palembang, 29 Juni 2026

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

Next Post

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

Mahesa Putra

Mahesa Putra

Pengasuh kedai kopi bernama Roemah Tumbuh Kembang. Juga menulis puisi sebagai kerangka berpikir. Aktif berkegiatan dengan komunitas Opus Sastra yang berada di Palembang. Telah menerbitkan dua novel Dunia Dalam Serkap (2025), Mate Taun (2026). Instagram: tementanah

Related Posts

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co