21 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

Mahesa Putra by Mahesa Putra
June 30, 2026
in Ulas Rupa
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati. Maka dari itu, pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra” di Palembang hendak menawarkan wacana kepada khalayak luas bahwa ada sebuah upaya mendobrak iklim kesenian di nusantara; upaya yang penulis rasa bukan sebuah kenihilan. Sebab, karya yang disajikan bukan sesuatu yang tiba-tiba terjadi.

Ferdian Semai selaku perupa yang karyanya direspon oleh Dahlia Rasyad sendiri, bukan yang tiba-tiba muncul di iklim kesenian maupun budaya. Ia sejak tahun 90-an sudah aktif berkegiatan dengan Teater Potlot melalui pendekatan teks-teks lingkungan dan budaya.

Karya-karya terbaru yang telah Ferdi garap diantaranya adalah “Merawat Sungai Dari Dapur Ibu”, “Antropogenik”, dan “Rahim Sungai Musi”. Dari judul-judul pertunjukan yang coba dihidangkan ini, kita mendapati kedekatan Ferdi dengan alam tidak terjadi begitu saja, seperti yang sudah penulis bahas di Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang.

Sementara Dahlia Rasyad sendiri tidak datang tiba-tiba lalu menuliskan puisi, meski ia lebih dikenal sebagai seorang prosais. Pada 2014, novelnya “Perempuan yang Memetik Mawar” mendapat penghargaan untuk Karya Sastra Terbaik oleh Balai Bahasa Yogyakarta. Pada 2016, Dahlia terpilih menjadi “Penulis Emerging Ubud Writers & Readers Festival”. Menariknya, Dahlia juga diam-diam menuliskan puisi, tapi tidak pernah dipublikasikan dalam bentuk buku maupun daring. Pada pameran Ferdi inilah, pertama kalinya puisi Dahlia Rasyad dibaca oleh khalayak.

Sebelum masuk lebih jauh ke dalam diskusi minggu ke-3 yang tersaji pada 28 Juni 2026 di Roemah Tumbuh Kembang, Plaju, penulis sendiri memiliki pengalaman visual ketika melihat gambar-gambar Ferdi. Sesuatu yang berangkat dari tumpukan memori, terbesit bersinggungan ketika Asmaran Dani selaku kurator menunjukkan gambar Ferdi. Penulis membayangkan sedang tersedot ke hippocampus sendiri, lalu masuk ke dalam serial televisi yang sedang memutar adegan di Hawkins pada Stranger Things, lalu lamat-lamat memasuki dunia terbalik yang dikenal sebagai The Upside Down—sebuah dimensi alternatif yang ada secara paralel dengan dunia manusia. Menjadi menariknya di dalam serial itu, kelompok diskusi yang dinamai Hellfire Club dirian Eddie Munson ini mirip dengan pola diskusi minggu ke-3 Opus Sastra.

Hellfire Club sendiri dianggap sebagai kelompok orang aneh atau outcast di sekolahnya, tapi penulis tidak ingin meromantisasi kata outcast itu sendiri, seolah-olah sastra dan seni tidak menarik hari ini. Tidak, tidak. Penulis ingin menggambarkan suasana meja saat itu seperti para pencinta permainan role-playing game (RPG) Dungeons & Dragons (D&D) di SMA Hawkins. Sebab, Dahlia Rasyad sendiri selaku penulis puisi berhalangan hadir. Penulis membayangkan Dahlia Rasyad sedang berada di The Upside Down dan hendak dicari tahu eksistensi puisinya, sebab yang ada pada muka meja Opus Sastra sendiri adalah puisinya. Dahlia Rasyad bisa saja di The Right Side Up (dunia nyata), sementara puisinya masih harus dicari tahu eksistensi teksnya.

Diskusi terjadi setelah langit gelap, persis berada di suasana Hawkins, bedanya gambar-gambar Ferdi menemani kami seakan-akan itu adalah sulur-sulur hidup yang menjerat satu sama lain. Gambar itu tidak mati sebagai gambar, Ferdi sebagai perupa sendiri keluar dari tubuhnya dan melebur menjadi anggota diskusi dan kadang-kadang seperti Vecna yang memainkan sulur-sulur di dinding pameran untuk menggerakkan Hive Mind (pikiran kolektif). Ketika salah satu anggota diskusi terinjak sulur-sulur Vecna, Ferdi tak segan menjadi Vecna yang memereteli alam bawah sadar anggota diskusi. Ia tak segan menampilkan kilasan-kilasan peristiwa anggota diskusi, ia seperti Demogorgon langsung mengetahui posisi eksistensi teks. Psikoanalisis yang ditawarkan Ferdi, bak Vecna yang terhubung dengan sulur-sulur dan Dahlia Rasyad sendiri sedang terikat pada sulur-sulur yang Ferdi gunakan di diskusi minggu ke-3.

Ia menanggalkan status sebagai perupa yang sedang berpameran, ia menjadi anggota diskusi yang juga mencambuk-cambuk dengan sulur-sulur di ruangan, kaki meja dan kursi yang kawan-kawan Opus Sastra duduki. Mau tidak mau, anggota diskusi mengikuti pola main yang dilakukan Ferdi. Mau tidak mau, sulur-sulur itu dihayati tidak dilawan. Seperti Will yang awalnya terjerat dengan sulur-sulur Vecna, menjadi kekuatan sendiri ketika ia dapat mengendalikan jalannya permainan Vecna sendiri. Asmaran Dani beberapa kali menjadi Will yang menentang sulur-sulur Ferdi. Namun, ia makin terjerat dan tersesat di The Upside Down. Ketika Asmaran Dani menghayati apa yang sedang ingin dilakukan Ferdi, sulur-sulur yang menjeratnya melonggar dan menjadi serangan balik yang cukup berarti dan membuka jalannya diskusi ke arah yang menarik. Tidak lagi dikuasai oleh aktor utama Vecna sendiri yakni Ferdi, namun meluas menjadi ruang Hellfire Club.

Pembacaan puisi Dahlia Rasyad oleh Eko Saputra menjadi jalan yang terjal, beberapa kali pertarungan terjadi persis game (RPG) mempertanyakan eksistensi teks. Apakah pas digunakan, tepat, dan sesuai dengan gambar yang dihidangkan. Satu baris puisi dari Dahlia Rasyad menjadi perdebatan panjang: membuatku melahirkan seonggok daging yang mengalir dari sungaimu.

Menurut Ferdi, puisi Dahlia Rasyad sangat baik dalam konteks penghayatan. Tapi ada sesuatu yang tidak dapat memuaskan Ferdi pada bagian “melahirkan seonggok daging yang mengalir dari sungaimu”, menurutnya pada bagian itu bergeser dari makna awal. Sejak awal kami menghayati pembacaan puisi Dahlia Rasyad oleh Eko Saputra pun tidak terganggu, dan merasa ada tarik-menarik dengan gambar yang disajikan Ferdi. Tetapi, ketika di bagian itu Ferdi memulai memainkan sulur-sulurnya untuk memecut api diskusi. Terjadilah perdebatan, Sultan seorang penulis muda gen-Z tidak sepakat. Menurutnya setiap penulis bebas menginterpretasikan puisinya ke arah mana saja. Lalu, Eko Saputra selaku pembaca puisi melirik tajam ke arah Sultan. Ferdi masih berdiam, menunggu momen yang pas untuk membalas serangan Sultan. Terjadi percakapan panjang memutar-mutar persis sedang berada dalam The Upside Down mencari jalan kembali.

Lalu, Ferdi kembali memecut menggunakan sulur-sulurnya. “Apakah pohon besar itu adalah seonggok daging?” Ferdi menunjuk gambar yang direspon oleh Dahlia Rasyad, dan melanjutkan, “Sungai yang mengalir itu adalah pisang-pisang dan lavender di gambar ini?” Semua diam. Tapi tidak benar-benar hening, dialog terjadi terlihat dari banyak pasang mata yang siap menyambar sulur-sulur Ferdi.

Asmaran Dani membongkar satu peristiwa, layaknya ia berubah menjadi Dustin ketika berkumpul di Hellfire memberi fakta bahwa Dahlia Rasyad sendiri sudah lama menulis puisi itu. Puisi yang telah lama ditulisnya ini terinspirasi dari Neruda, Asmaran Dani membongkar isi chat:

DAHLIA RASYAD

Ada puisi Neruda judulnya “And Because Love Battles” yang pernah menginspirasi Mbak membuat sebuah puisi tentang pohon. Tapi puisi Mbak tidak sepanjang dan sebagus Neruda di puisi itu. Gara-gara pohon juga Mbak menyukai Neruda yang sebelumnya belum Mbak baca.

Asmaran Dani membacakan pesan ini, dan membuat suasana menjadi lebih cair. Kepanikan seperti The Upside Down pada puisi Dahlia Rasyad menjadi The Right Side Up, semuanya seperti lega bahwa keujungan dari perdebatan ini adalah kenihilan. Asmaran Dani melanjutkan membaca pesan:

DAHLIA RASYAD

Puisi saya sangat-sangat pendek dan bisa dibilang terinspirasi dari makhluk yang bernama pohon, itu foto pohonnya dikasih seorang kawan di Australia waktu ia menjajal hutan Tasmania.

Setelah semua selesai mendengar pembacaan pesan oleh Asmaran Dani, termasuk Ferdi sendiri yang dari awal diskusi berlaku seperti Vecna dengan sulur-sulurnya menarik napas panjang dan menutup diskusi dengan “Tuhan adalah bumi, bumi adalah kebun, kebun adalah pohon, itulah puisi Dahlia Rasyad,” tutup Ferdian Semai, lamat-lamat melepas sulur-sulur yang sejak tadi mengikat kursi, bawah meja dan ruangan diskusi yang telah diubahnya menjadi area role-playing game (RPG) Dungeons & Dragons (D&D) di Plaju, Palembang. [T]

Palembang, 29 Juni 2026

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

Next Post

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

Mahesa Putra

Mahesa Putra

Pengasuh kedai kopi bernama Roemah Tumbuh Kembang. Juga menulis puisi sebagai kerangka berpikir. Aktif berkegiatan dengan komunitas Opus Sastra yang berada di Palembang. Telah menerbitkan dua novel Dunia Dalam Serkap (2025), Mate Taun (2026). Instagram: tementanah

Related Posts

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

by Angga Wijaya
July 20, 2026
0
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

Read moreDetails

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

by Angga Wijaya
July 19, 2026
0
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

ADA kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa tahun terakhir. Para perupa tidak lagi hanya berbicara tentang keterampilan mengolah bahan,...

Read moreDetails

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

Read moreDetails

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”
Khas

Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”

LOMBA Menyanyi Lagu Pop Bali dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 berlangsung bak "perang bintang". Hampir seluruh...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026

 “Hari ini kalian mungkin berpikir narkoba itu urusan orang lain. Padahal, yang dibutuhkan pengedar hanya satu celah, yaitu rasa penasaran.”...

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co