30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
in Ulas Rupa
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

Karya Gus Sindhu | Foto-foto: Purwita Sukahet

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra

SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah karya seni, simbol ada tetapi menjadi tidak begitu penting. Wacana seni kontemporer hari ini lebih menitik beratkan pada persoalan pengalaman, apa yang didapatkan oleh pengunjung melalui interaksi tubuh mereka di dalam karya seni. Model seni imersif telah menunjukan hal itu, atau setidaknya karya-karya seni instalasi yang memungkinkan terjadinya interaksi oleh pengunjung seperti karya-karya Mella Jaarsma, atau Instalasi Nyoman Erawan. Pengunjung hadir dan dapat masuk atau mempergunakan karya instalasi tersebut layaknya fashion, atau setidaknya terlibat dalam suatu lingkungan secara riil. Lantas, apa yang membedakan karya seni yang dimaksud dengan karya yang dibuat oleh Ida Bagus Komang Sindu Putra (Gus Sindu)?

Tentu berbeda, meski sama dalam konteks capaian masa kininya (kontemporer) akan tetapi ia lebih menekankan pada wacana inklusivitas. Praktik seni inklusif pada pengertiannya mengutip dari “Art for Everyone” melalui laman web Art Access Victoria (artsaccess.com.au)  merupakan proses kreatif yang fleksibel yang menjamin akses setara terhadap seni bagi semua kelompok yang terpinggirkan termasuk penyandang disabilitas, penyandang masalah kesehatan jiwa, dan kaum tuli, baik sebagai penonton, seniman, maupun peserta. Dengan demikian semestinya memang tidak ada batas yang dibangun antara manusia dan karya seni karena di dalamnya tertanam sikap atau sistem terbuka serta mendorong keterlibatan atau keikutsertaan semua orang dan tanpa adanya diskriminasi.

Karya Gus Sindhu

Melalui wacana seni inklusif, Gus Sindhu menciptakan karya melalui kencenderungan pendekatan instalatif dengan tujuan-tujuan tertentu, dalam kasus ini adalah rabaan sehingga tekstur dibuat lebih massif, selain itu dimasukan juga unsur audio pada karya sehingga ketika permukaan karya yang dipenuhi berbagai model barik akan mengeluarkan suara. Barik yang dihadirkan pada karya-karya Gus Sindu di hadirkan dari material dasar penyusun karya itu sendiri maupun sengaja ditamhakan pada permukaan material, yang berasal dari material dasar misalkan hadir melalui efek tempaan pada pelat besi sehingga menghasilkan permukaan kasar berlubang maupun halus, sedangkan barik yang sengaja ditambahkan berasal dari berbagai material seperti potongan batang besi yang dilas pada permukaan plat maupun penerapan silicon, kayu, karet trailtop, spons, kain velboa dan bongkahan-bongkahan kecil batu lahar.

Karya-karya Gus Sindu yang dipamerkan di ruangan Kulidan Art Space ini meskipun menitik beratkan pada persoalan inklusivitas tentu saja tidak mengabaikan persoalan estetik yang melekat pada karya seni itu sendiri. Menyitir Suryajaya dalam Sejarah Estetika (2016) bahwa estetika sebagai filsafat seni merupakan pendekatan atas kesenian yang mengabstraksikan aspek-aspek partikular karya untuk sampai pada kesimpulan tentang masalah-masalah universal dalam kesenian. Bentuk utama yang dipilih oleh Gus Sindu adalah bundar dengan ketebalan kira-kira 10cm dengan rentang diameter 100cm, saya menduga bahwa bentuk bundar ini dipilih berdasarkan kenyamanan bidang yang ketika ia harus diraba dapat dilakukan dengan gerakan tangan melingkar, seolah menyajikan efek pola ketidak terbatasan itu sendiri. Barik-barik dihadirkan dengan pola titik, garis, dan dibuat juga lebih menonjol dengan berbagai ukuran panjang sehinggga selain diraba barik-barik pada karya dapat ditarik. Pola sususunannya mengingatkan kita pada pola dasar belajar nirmana, sederhananya susunan titik dan garis-garis, bermain kontras warna dari medium dengan permukaan karya sebagai latar belakangnya.

Karya-karya Gus Sindhu

Satu karya instalasi dan satu karya dengan bentuk dasar persegi panjang juga ditampilkan pada pameran ini. Karya persegi panjang yang di dalamnya terdapat budaran kain velboa (berbulu imitasi) sepertinya tidak hanya untuk diraba, melainkan dapat dirasakan kenyamanannya dengan disandarkan, mengingat anak-anak yang saya ajak berkunjung melakukan hal itu, pada bagian sisi kanan dan kirinya membentang barik-barik serupa hamparan lanskap warna gelap atau dark colorfield.

Pada karya instalasi berwarna hitam dalam bentuk abstrak setinggi kurang lebih 200cm berjudul “Tumbuh dari Dalam” lebih memberikan ruang seluas-luasnya untuk dieksplorasi melalui sentuhan, rabaan, bahkan pelukan, karya dengan medium campuran ini seperti fiber, spons ati, karet, silikon, memungkinkan sensasi ketika menyentuh permukaannya atau mungkin mencoba menarik-narik silikonnya, hal itu dikarenakan permukaan dan tekstur yang kenyal. Sejalan pada pernyataan Gus Sindu sendiri dalam pengantar pamerannya bahwa “rupa )dalam konteks karya seni) dipahami sebagai sesuatu yang dapat didekati, disentuh, ditelusuri, didengar, dan dialami oleh tubuh.”

Berhadapan pada karya-karya Gus Sindu melalui tajuk utamanya yaitu Sparsa Rupa membuat saya kemudian berfikir bahwa: 1) Bila karya ini lahir dari rahim riset akademik maka sepantasnya untuk mengetahui (hasilnya) tanggapan pengalaman kawan-kawan disabilitas atau kawan-kawan yang memiliki persoalan gangguan mental? 2) Mungkinkah karya ini akan berkembang menjadi sebuah bentuk produk terapi (seni) sehingga tidak terhenti pada ranah estetik dan ruang pameran semata melainkan menajamkan sisi tujuan inklusivitasnya? 3) oleh karena batasan antara audiens dan pengunjung pada karya ini dihilangkan, terlebih ketika interaksi terjadi akan sangat sulit untuk menjaga keutuhan karya sebab barik2 yang menonjol maupun lekat pada karya dapat ditarik-tarik, bahkan beberapa sampai terlepas, apakah hal ini dibenarkan dari sudut pandang pencipta atau bagaimana menanggapinya?

Karya-karya Gus Sindhu

Setidaknya itu yang ada dipikiran saya ketika berhadapan dengan karya-karya Gus Sindu dan mengamati asiknya anak-anak saya meraba-raba, memencet, menarik-narik, menekan-nekan 10 karya yang dipamerkan. Tentang dunia seni yang inklusif mengutip laman web disasterhealingresources.org pada tajuk “Inclusive & Adaptive Arts” bahwa Seni Inklusif merayakan perbedaan kita dan mengakui kontribusi penyandang disabilitas dengan menjunjung tinggi inklusivitas, representasi, keberagaman, dan aksesibilitas. Kembali pada kalimat kutipan dari Niti Sastra di awal, bahwa sebagai manusia jangan sampai tidak memiliki kerabat, upayakan juga untuk mendapatkan yang utama. Kulitas utama kekerabatan adalah bentuk kekerabatan yang saling memahami kebutuhan, saling menjaga satu dengan lainnya, sebab di dalam seni inklusif itu sendiri ada satu kunci yaitu membuka dialog antara komunitas dan masyarakat luas. Selamat Gus Sindu! [T]

Pohmanis, 7 Juli 2026

Penulis: Purwita Sukahet
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

Next Post

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co