“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra
SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah karya seni, simbol ada tetapi menjadi tidak begitu penting. Wacana seni kontemporer hari ini lebih menitik beratkan pada persoalan pengalaman, apa yang didapatkan oleh pengunjung melalui interaksi tubuh mereka di dalam karya seni. Model seni imersif telah menunjukan hal itu, atau setidaknya karya-karya seni instalasi yang memungkinkan terjadinya interaksi oleh pengunjung seperti karya-karya Mella Jaarsma, atau Instalasi Nyoman Erawan. Pengunjung hadir dan dapat masuk atau mempergunakan karya instalasi tersebut layaknya fashion, atau setidaknya terlibat dalam suatu lingkungan secara riil. Lantas, apa yang membedakan karya seni yang dimaksud dengan karya yang dibuat oleh Ida Bagus Komang Sindu Putra (Gus Sindu)?
Tentu berbeda, meski sama dalam konteks capaian masa kininya (kontemporer) akan tetapi ia lebih menekankan pada wacana inklusivitas. Praktik seni inklusif pada pengertiannya mengutip dari “Art for Everyone” melalui laman web Art Access Victoria (artsaccess.com.au) merupakan proses kreatif yang fleksibel yang menjamin akses setara terhadap seni bagi semua kelompok yang terpinggirkan termasuk penyandang disabilitas, penyandang masalah kesehatan jiwa, dan kaum tuli, baik sebagai penonton, seniman, maupun peserta. Dengan demikian semestinya memang tidak ada batas yang dibangun antara manusia dan karya seni karena di dalamnya tertanam sikap atau sistem terbuka serta mendorong keterlibatan atau keikutsertaan semua orang dan tanpa adanya diskriminasi.

Melalui wacana seni inklusif, Gus Sindhu menciptakan karya melalui kencenderungan pendekatan instalatif dengan tujuan-tujuan tertentu, dalam kasus ini adalah rabaan sehingga tekstur dibuat lebih massif, selain itu dimasukan juga unsur audio pada karya sehingga ketika permukaan karya yang dipenuhi berbagai model barik akan mengeluarkan suara. Barik yang dihadirkan pada karya-karya Gus Sindu di hadirkan dari material dasar penyusun karya itu sendiri maupun sengaja ditamhakan pada permukaan material, yang berasal dari material dasar misalkan hadir melalui efek tempaan pada pelat besi sehingga menghasilkan permukaan kasar berlubang maupun halus, sedangkan barik yang sengaja ditambahkan berasal dari berbagai material seperti potongan batang besi yang dilas pada permukaan plat maupun penerapan silicon, kayu, karet trailtop, spons, kain velboa dan bongkahan-bongkahan kecil batu lahar.
Karya-karya Gus Sindu yang dipamerkan di ruangan Kulidan Art Space ini meskipun menitik beratkan pada persoalan inklusivitas tentu saja tidak mengabaikan persoalan estetik yang melekat pada karya seni itu sendiri. Menyitir Suryajaya dalam Sejarah Estetika (2016) bahwa estetika sebagai filsafat seni merupakan pendekatan atas kesenian yang mengabstraksikan aspek-aspek partikular karya untuk sampai pada kesimpulan tentang masalah-masalah universal dalam kesenian. Bentuk utama yang dipilih oleh Gus Sindu adalah bundar dengan ketebalan kira-kira 10cm dengan rentang diameter 100cm, saya menduga bahwa bentuk bundar ini dipilih berdasarkan kenyamanan bidang yang ketika ia harus diraba dapat dilakukan dengan gerakan tangan melingkar, seolah menyajikan efek pola ketidak terbatasan itu sendiri. Barik-barik dihadirkan dengan pola titik, garis, dan dibuat juga lebih menonjol dengan berbagai ukuran panjang sehinggga selain diraba barik-barik pada karya dapat ditarik. Pola sususunannya mengingatkan kita pada pola dasar belajar nirmana, sederhananya susunan titik dan garis-garis, bermain kontras warna dari medium dengan permukaan karya sebagai latar belakangnya.


Satu karya instalasi dan satu karya dengan bentuk dasar persegi panjang juga ditampilkan pada pameran ini. Karya persegi panjang yang di dalamnya terdapat budaran kain velboa (berbulu imitasi) sepertinya tidak hanya untuk diraba, melainkan dapat dirasakan kenyamanannya dengan disandarkan, mengingat anak-anak yang saya ajak berkunjung melakukan hal itu, pada bagian sisi kanan dan kirinya membentang barik-barik serupa hamparan lanskap warna gelap atau dark colorfield.
Pada karya instalasi berwarna hitam dalam bentuk abstrak setinggi kurang lebih 200cm berjudul “Tumbuh dari Dalam” lebih memberikan ruang seluas-luasnya untuk dieksplorasi melalui sentuhan, rabaan, bahkan pelukan, karya dengan medium campuran ini seperti fiber, spons ati, karet, silikon, memungkinkan sensasi ketika menyentuh permukaannya atau mungkin mencoba menarik-narik silikonnya, hal itu dikarenakan permukaan dan tekstur yang kenyal. Sejalan pada pernyataan Gus Sindu sendiri dalam pengantar pamerannya bahwa “rupa )dalam konteks karya seni) dipahami sebagai sesuatu yang dapat didekati, disentuh, ditelusuri, didengar, dan dialami oleh tubuh.”
Berhadapan pada karya-karya Gus Sindu melalui tajuk utamanya yaitu Sparsa Rupa membuat saya kemudian berfikir bahwa: 1) Bila karya ini lahir dari rahim riset akademik maka sepantasnya untuk mengetahui (hasilnya) tanggapan pengalaman kawan-kawan disabilitas atau kawan-kawan yang memiliki persoalan gangguan mental? 2) Mungkinkah karya ini akan berkembang menjadi sebuah bentuk produk terapi (seni) sehingga tidak terhenti pada ranah estetik dan ruang pameran semata melainkan menajamkan sisi tujuan inklusivitasnya? 3) oleh karena batasan antara audiens dan pengunjung pada karya ini dihilangkan, terlebih ketika interaksi terjadi akan sangat sulit untuk menjaga keutuhan karya sebab barik2 yang menonjol maupun lekat pada karya dapat ditarik-tarik, bahkan beberapa sampai terlepas, apakah hal ini dibenarkan dari sudut pandang pencipta atau bagaimana menanggapinya?


Setidaknya itu yang ada dipikiran saya ketika berhadapan dengan karya-karya Gus Sindu dan mengamati asiknya anak-anak saya meraba-raba, memencet, menarik-narik, menekan-nekan 10 karya yang dipamerkan. Tentang dunia seni yang inklusif mengutip laman web disasterhealingresources.org pada tajuk “Inclusive & Adaptive Arts” bahwa Seni Inklusif merayakan perbedaan kita dan mengakui kontribusi penyandang disabilitas dengan menjunjung tinggi inklusivitas, representasi, keberagaman, dan aksesibilitas. Kembali pada kalimat kutipan dari Niti Sastra di awal, bahwa sebagai manusia jangan sampai tidak memiliki kerabat, upayakan juga untuk mendapatkan yang utama. Kulitas utama kekerabatan adalah bentuk kekerabatan yang saling memahami kebutuhan, saling menjaga satu dengan lainnya, sebab di dalam seni inklusif itu sendiri ada satu kunci yaitu membuka dialog antara komunitas dan masyarakat luas. Selamat Gus Sindu! [T]
Pohmanis, 7 Juli 2026
Penulis: Purwita Sukahet
Editor: Adnyana Ole































