17 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

Dewa Purwita Sukahet by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
in Ulas Rupa
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

Karya Gus Sindhu | Foto-foto: Purwita Sukahet

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra

SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah karya seni, simbol ada tetapi menjadi tidak begitu penting. Wacana seni kontemporer hari ini lebih menitik beratkan pada persoalan pengalaman, apa yang didapatkan oleh pengunjung melalui interaksi tubuh mereka di dalam karya seni. Model seni imersif telah menunjukan hal itu, atau setidaknya karya-karya seni instalasi yang memungkinkan terjadinya interaksi oleh pengunjung seperti karya-karya Mella Jaarsma, atau Instalasi Nyoman Erawan. Pengunjung hadir dan dapat masuk atau mempergunakan karya instalasi tersebut layaknya fashion, atau setidaknya terlibat dalam suatu lingkungan secara riil. Lantas, apa yang membedakan karya seni yang dimaksud dengan karya yang dibuat oleh Ida Bagus Komang Sindu Putra (Gus Sindu)?

Tentu berbeda, meski sama dalam konteks capaian masa kininya (kontemporer) akan tetapi ia lebih menekankan pada wacana inklusivitas. Praktik seni inklusif pada pengertiannya mengutip dari “Art for Everyone” melalui laman web Art Access Victoria (artsaccess.com.au)  merupakan proses kreatif yang fleksibel yang menjamin akses setara terhadap seni bagi semua kelompok yang terpinggirkan termasuk penyandang disabilitas, penyandang masalah kesehatan jiwa, dan kaum tuli, baik sebagai penonton, seniman, maupun peserta. Dengan demikian semestinya memang tidak ada batas yang dibangun antara manusia dan karya seni karena di dalamnya tertanam sikap atau sistem terbuka serta mendorong keterlibatan atau keikutsertaan semua orang dan tanpa adanya diskriminasi.

Karya Gus Sindhu

Melalui wacana seni inklusif, Gus Sindhu menciptakan karya melalui kencenderungan pendekatan instalatif dengan tujuan-tujuan tertentu, dalam kasus ini adalah rabaan sehingga tekstur dibuat lebih massif, selain itu dimasukan juga unsur audio pada karya sehingga ketika permukaan karya yang dipenuhi berbagai model barik akan mengeluarkan suara. Barik yang dihadirkan pada karya-karya Gus Sindu di hadirkan dari material dasar penyusun karya itu sendiri maupun sengaja ditamhakan pada permukaan material, yang berasal dari material dasar misalkan hadir melalui efek tempaan pada pelat besi sehingga menghasilkan permukaan kasar berlubang maupun halus, sedangkan barik yang sengaja ditambahkan berasal dari berbagai material seperti potongan batang besi yang dilas pada permukaan plat maupun penerapan silicon, kayu, karet trailtop, spons, kain velboa dan bongkahan-bongkahan kecil batu lahar.

Karya-karya Gus Sindu yang dipamerkan di ruangan Kulidan Art Space ini meskipun menitik beratkan pada persoalan inklusivitas tentu saja tidak mengabaikan persoalan estetik yang melekat pada karya seni itu sendiri. Menyitir Suryajaya dalam Sejarah Estetika (2016) bahwa estetika sebagai filsafat seni merupakan pendekatan atas kesenian yang mengabstraksikan aspek-aspek partikular karya untuk sampai pada kesimpulan tentang masalah-masalah universal dalam kesenian. Bentuk utama yang dipilih oleh Gus Sindu adalah bundar dengan ketebalan kira-kira 10cm dengan rentang diameter 100cm, saya menduga bahwa bentuk bundar ini dipilih berdasarkan kenyamanan bidang yang ketika ia harus diraba dapat dilakukan dengan gerakan tangan melingkar, seolah menyajikan efek pola ketidak terbatasan itu sendiri. Barik-barik dihadirkan dengan pola titik, garis, dan dibuat juga lebih menonjol dengan berbagai ukuran panjang sehinggga selain diraba barik-barik pada karya dapat ditarik. Pola sususunannya mengingatkan kita pada pola dasar belajar nirmana, sederhananya susunan titik dan garis-garis, bermain kontras warna dari medium dengan permukaan karya sebagai latar belakangnya.

Karya-karya Gus Sindhu

Satu karya instalasi dan satu karya dengan bentuk dasar persegi panjang juga ditampilkan pada pameran ini. Karya persegi panjang yang di dalamnya terdapat budaran kain velboa (berbulu imitasi) sepertinya tidak hanya untuk diraba, melainkan dapat dirasakan kenyamanannya dengan disandarkan, mengingat anak-anak yang saya ajak berkunjung melakukan hal itu, pada bagian sisi kanan dan kirinya membentang barik-barik serupa hamparan lanskap warna gelap atau dark colorfield.

Pada karya instalasi berwarna hitam dalam bentuk abstrak setinggi kurang lebih 200cm berjudul “Tumbuh dari Dalam” lebih memberikan ruang seluas-luasnya untuk dieksplorasi melalui sentuhan, rabaan, bahkan pelukan, karya dengan medium campuran ini seperti fiber, spons ati, karet, silikon, memungkinkan sensasi ketika menyentuh permukaannya atau mungkin mencoba menarik-narik silikonnya, hal itu dikarenakan permukaan dan tekstur yang kenyal. Sejalan pada pernyataan Gus Sindu sendiri dalam pengantar pamerannya bahwa “rupa )dalam konteks karya seni) dipahami sebagai sesuatu yang dapat didekati, disentuh, ditelusuri, didengar, dan dialami oleh tubuh.”

Berhadapan pada karya-karya Gus Sindu melalui tajuk utamanya yaitu Sparsa Rupa membuat saya kemudian berfikir bahwa: 1) Bila karya ini lahir dari rahim riset akademik maka sepantasnya untuk mengetahui (hasilnya) tanggapan pengalaman kawan-kawan disabilitas atau kawan-kawan yang memiliki persoalan gangguan mental? 2) Mungkinkah karya ini akan berkembang menjadi sebuah bentuk produk terapi (seni) sehingga tidak terhenti pada ranah estetik dan ruang pameran semata melainkan menajamkan sisi tujuan inklusivitasnya? 3) oleh karena batasan antara audiens dan pengunjung pada karya ini dihilangkan, terlebih ketika interaksi terjadi akan sangat sulit untuk menjaga keutuhan karya sebab barik2 yang menonjol maupun lekat pada karya dapat ditarik-tarik, bahkan beberapa sampai terlepas, apakah hal ini dibenarkan dari sudut pandang pencipta atau bagaimana menanggapinya?

Karya-karya Gus Sindhu

Setidaknya itu yang ada dipikiran saya ketika berhadapan dengan karya-karya Gus Sindu dan mengamati asiknya anak-anak saya meraba-raba, memencet, menarik-narik, menekan-nekan 10 karya yang dipamerkan. Tentang dunia seni yang inklusif mengutip laman web disasterhealingresources.org pada tajuk “Inclusive & Adaptive Arts” bahwa Seni Inklusif merayakan perbedaan kita dan mengakui kontribusi penyandang disabilitas dengan menjunjung tinggi inklusivitas, representasi, keberagaman, dan aksesibilitas. Kembali pada kalimat kutipan dari Niti Sastra di awal, bahwa sebagai manusia jangan sampai tidak memiliki kerabat, upayakan juga untuk mendapatkan yang utama. Kulitas utama kekerabatan adalah bentuk kekerabatan yang saling memahami kebutuhan, saling menjaga satu dengan lainnya, sebab di dalam seni inklusif itu sendiri ada satu kunci yaitu membuka dialog antara komunitas dan masyarakat luas. Selamat Gus Sindu! [T]

Pohmanis, 7 Juli 2026

Penulis: Purwita Sukahet
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

Next Post

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

Dewa Purwita Sukahet

Dewa Purwita Sukahet

Perupa, suka ngukur jalan, dan CaLis tanpa Tung

Related Posts

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

by Angga Wijaya
August 7, 2026
0
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

Read moreDetails

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

by Hartanto
August 7, 2026
0
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

Read moreDetails

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails
Next Post
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026
Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Desa Ramah Lingkungan ——Intip Keseruan KKN Udayana di Desa Sanding Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Udayana tahun 2026 melaksanakan serangkaian program kerja di Desa Sanding, Kecamatan...

by tatkala
August 16, 2026
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang
Khas

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara
Tualang

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital
Pendidikan

Sinergi Universitas Udayana dan Desa Lebih: Bekali Keluarga Hadapi Tantangan Kesehatan Mental Remaja di Era Digital

KESEHATAN mental remaja tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan atau sekolah. Keluarga memiliki peran penting dalam mengenali perubahan yang...

by tatkala
August 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah
Khas

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan
Bahasa

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

 “Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar...

by I Made Sudiana
August 15, 2026
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz
Esai

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

by Angga Wijaya
August 15, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co