27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 15, 2026
in Esai
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan

Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun tidak menerima murid baru hingga kini hanya memiliki empat siswa menyisakan ironi yang patut direnungkan. Di satu sisi, ruang-ruang kelas berdiri sunyi. Meja dan kursi tersusun rapi tanpa riuh tawa anak-anak. Di sisi lain, pemerintah sedang menggencarkan pembangunan Sekolah Rakyat sebagai ikhtiar menghadirkan pendidikan gratis dan berkualitas bagi keluarga miskin dan miskin ekstrem. Dua kenyataan ini tampak berjalan sendiri-sendiri, padahal sebenarnya dapat dipertemukan dalam sebuah solusi yang lebih bijaksana.

Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi siapa pun. Setiap kebijakan publik lahir dari niat baik dan pertimbangan yang tidak sederhana. Yang ingin diajukan di sini hanyalah sebuah gagasan: mungkinkah sekolah-sekolah negeri yang kekurangan murid dipetakan dan direvitalisasi menjadi Sekolah Rakyat? Bukankah lahan sudah tersedia, gedung telah berdiri, sebagian fasilitas sudah ada, sehingga negara dapat lebih fokus meningkatkan kualitas pendidikan daripada sekadar membangun fisik baru?

Pertanyaan ini bukan semata soal efisiensi anggaran. Lebih dari itu, ia menyangkut cara kita memandang pendidikan. Apakah pendidikan hanya identik dengan pembangunan gedung, ataukah yang jauh lebih penting adalah membangun manusia?

Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling banyak membangun sekolah baru, melainkan bangsa yang paling bijaksana memanfaatkan seluruh sumber dayanya demi masa depan generasi berikutnya.

Menghidupkan Kembali Aset Pendidikan Bangsa

Setiap gedung sekolah dibangun dengan uang rakyat. Karena itu, ketika sebuah sekolah kehilangan murid, sesungguhnya yang kehilangan bukan hanya sekolah tersebut, melainkan seluruh masyarakat. Bangunan yang dulu penuh semangat belajar perlahan berubah menjadi ruang yang sunyi.

Dalam dunia perencanaan pembangunan dikenal konsep adaptive reuse, yaitu menghidupkan kembali aset yang sudah ada dengan fungsi yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman. Prinsip ini banyak diterapkan di berbagai negara karena terbukti lebih hemat, lebih berkelanjutan, dan lebih ramah lingkungan dibanding membangun dari awal.

Mengapa pendekatan serupa tidak diterapkan dalam dunia pendidikan? Sekolah-sekolah yang mengalami penurunan jumlah murid dapat dipetakan secara objektif. Bila lokasinya strategis dan bangunannya masih layak, sekolah tersebut dapat di-upgrade menjadi Sekolah Rakyat dengan fasilitas yang disesuaikan dengan standar yang dibutuhkan.

Dengan demikian, anggaran negara yang semula dialokasikan untuk pembangunan gedung baru dapat dialihkan kepada hal-hal yang jauh lebih mendasar, seperti peningkatan kompetensi guru, laboratorium modern, perpustakaan digital, asrama bila diperlukan, layanan kesehatan, makan bergizi, hingga penguatan pendidikan karakter.

Efisiensi bukan berarti mengurangi kualitas. Sebaliknya, efisiensi adalah menggunakan setiap rupiah uang rakyat secara bertanggung jawab agar manfaatnya dirasakan oleh lebih banyak anak bangsa.

Di Era Digital, Informasi Berlimpah, Kesadaran Justru Menjadi Langka

Abad ke-21 membawa perubahan yang luar biasa. Internet telah menghapus batas ruang dan waktu. Kini hampir seluruh pengetahuan dunia dapat diakses melalui telepon genggam. Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin mempercepat proses belajar. Apa yang dahulu memerlukan waktu berhari-hari untuk dicari di perpustakaan, kini dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik.

Artinya, tantangan pendidikan bukan lagi transformasi informasi. Informasi sudah tersedia di mana-mana. Yang justru menjadi tantangan terbesar adalah transformasi kesadaran.

AI mampu menjawab pertanyaan. Mesin mampu mengolah data. Buku mampu menyampaikan ilmu pengetahuan. Namun tidak satu pun mampu menanamkan kebijaksanaan, empati, kasih sayang, atau integritas. Semua itu hanya dapat tumbuh melalui perjumpaan antarmanusia.

Di sinilah sekolah tetap memiliki peran yang tidak tergantikan. Sekolah bukan sekadar tempat mentransfer pengetahuan, tetapi ruang di mana seorang anak belajar menjadi manusia.

Seorang murid mungkin lupa rumus matematika yang diajarkan gurunya. Ia mungkin lupa tanggal-tanggal sejarah. Tetapi ia hampir tidak pernah lupa bagaimana gurunya memperlakukan dirinya. Sikap hormat, kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, dan kasih sayang jauh lebih membekas dibandingkan isi buku pelajaran.

Karena itu, pendidikan masa depan harus bergeser dari transfer of information menuju transformation of consciousness. Sebab informasi dapat membuat seseorang menjadi pintar, tetapi hanya kesadaran yang membuat seseorang menjadi bijaksana.

Karakter Guru Mendahului Karakter Murid

Selama ini kita sering berbicara tentang pentingnya pendidikan karakter bagi murid. Padahal ada satu pertanyaan yang lebih mendasar: siapakah yang membentuk karakter para guru?

Ki Hajar Dewantara telah memberikan jawabannya lebih dari satu abad lalu melalui semboyan yang sangat terkenal, Ing ngarso sung tulodo. Di depan memberi teladan. Kalimat sederhana ini sesungguhnya merupakan fondasi seluruh pendidikan.

Anak-anak belajar bukan hanya melalui pendengaran, tetapi terutama melalui pengamatan. Mereka meniru apa yang dilakukan orang dewasa. Karena itu, karakter murid tidak lahir pertama-tama dari kurikulum, melainkan dari karakter guru.

Guru yang disiplin akan melahirkan murid yang menghargai waktu. Guru yang jujur akan melahirkan murid yang menjunjung integritas. Guru yang rendah hati akan mengajarkan kerendahan hati tanpa perlu banyak berbicara.

Albert Bandura melalui Social Learning Theory menjelaskan bahwa manusia belajar melalui observasi terhadap model yang dianggap layak diteladani. Dengan kata lain, guru bukan hanya penyampai materi pelajaran, tetapi model kehidupan.

Inilah tantangan terbesar pendidikan Indonesia. Kita mungkin mampu membangun ribuan gedung sekolah. Kita mungkin mampu menyediakan teknologi tercanggih. Tetapi apabila para pendidik tidak terus bertumbuh sebagai pribadi yang berintegritas dan sadar akan tanggung jawab moralnya, pendidikan karakter hanya akan menjadi slogan.

Karakter tidak diwariskan melalui ceramah. Karakter ditularkan melalui kehidupan.

Pendidikan Holistik: Membangun Manusia Seutuhnya

Di sinilah saya melihat relevansi Pañcamaya Kośa, ajaran yang termuat dalam Taittirīya Upaniṣad. Pendidikan sejati tidak berhenti pada pengembangan kecerdasan intelektual. Manusia terdiri atas lima lapisan kesadaran yang saling berkaitan.

Annamaya Kośa mengingatkan pentingnya tubuh yang sehat melalui gizi yang baik dan lingkungan belajar yang layak. Prāṇamaya Kośa menekankan vitalitas, semangat hidup, dan kesehatan energi. Manomaya Kośa berkaitan dengan pikiran, emosi, dan kemampuan belajar. Vijñānamaya Kośa adalah lapisan kebijaksanaan, kemampuan membedakan yang benar dan yang keliru. Sementara Ānandamaya Kośa merupakan puncak kesadaran, ketika manusia menemukan makna hidup, kedamaian, dan kebahagiaan sejati.

Sayangnya, sistem pendidikan modern sering kali berhenti pada Manomaya Kośa, yakni penguasaan pengetahuan. Nilai ujian menjadi ukuran utama keberhasilan, sementara kebijaksanaan dan kematangan batin kurang memperoleh perhatian.

Padahal, tujuan pendidikan adalah mengantar manusia bertumbuh menuju kebijaksanaan.

Pandangan ini selaras dengan Peta Kesadaran David R. Hawkins. Menurut Hawkins, kualitas hidup seseorang tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecerdasannya, tetapi oleh tingkat kesadarannya. Kesadaran yang didominasi rasa takut, kemarahan, keserakahan, atau gengsi akan melahirkan perilaku yang destruktif. Sebaliknya, ketika seseorang bertumbuh menuju keberanian, penerimaan, kasih, dan kedamaian, ia menjadi sumber inspirasi bagi lingkungan sekitarnya.

Bila dikaitkan dengan dunia pendidikan, maka tujuan sekolah bukan sekadar mencetak siswa yang memperoleh nilai tinggi. Sekolah hendaknya menjadi ruang yang membantu peserta didik bergerak dari kesadaran yang sempit menuju kesadaran yang lebih luas; dari ego menuju empati; dari kompetisi menuju kolaborasi; dari sekadar mengejar sukses menuju kehidupan yang bermakna.

Guru yang kesadarannya berkembang akan mengangkat kesadaran muridnya. Sebaliknya, guru yang masih terjebak pada ketakutan, kemarahan, atau ego akan tanpa sadar mewariskan energi yang sama kepada peserta didik.

Karena itu, investasi terbesar dalam pendidikan bukan pertama-tama gedung, kurikulum, atau teknologi, melainkan pembangunan kualitas kesadaran para guru. Ketika guru bertumbuh, murid akan berkembang. Ketika guru menjadi teladan, karakter murid tumbuh secara alami.

Mungkin di sinilah makna terdalam Sekolah Rakyat. Ia bukan sekadar sekolah gratis bagi rakyat kecil, melainkan sekolah yang memuliakan manusia. Tempat setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi, memperoleh kesempatan mengembangkan seluruh potensinya—fisik, mental, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual.

Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa banyak gedung sekolah yang berhasil dibangun, melainkan oleh seberapa banyak manusia berintegritas yang berhasil dilahirkan. Beton dan baja dapat membangun ruang kelas, teknologi dapat mempercepat transfer informasi, tetapi hanya manusia yang telah bertumbuh kesadarannya yang mampu membangkitkan kesadaran manusia lain.

Maka, bila Sekolah Rakyat ingin menjadi tonggak perubahan, fondasinya bukan hanya semen dan batu bata. Fondasi sejatinya adalah guru-guru yang terus membangun dirinya sendiri. Sebab pendidikan yang sesungguhnya bukanlah memindahkan informasi dari kepala guru ke kepala murid, melainkan menyalakan cahaya kesadaran dari hati seorang guru ke hati setiap peserta didiknya. Dari cahaya itulah lahir karakter, dan dari karakter itulah masa depan bangsa dibangun. [T]

Tags: Pendidikansekolahsekolah rakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

Next Post

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan ---Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co