26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 15, 2026
in Esai
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan

Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun tidak menerima murid baru hingga kini hanya memiliki empat siswa menyisakan ironi yang patut direnungkan. Di satu sisi, ruang-ruang kelas berdiri sunyi. Meja dan kursi tersusun rapi tanpa riuh tawa anak-anak. Di sisi lain, pemerintah sedang menggencarkan pembangunan Sekolah Rakyat sebagai ikhtiar menghadirkan pendidikan gratis dan berkualitas bagi keluarga miskin dan miskin ekstrem. Dua kenyataan ini tampak berjalan sendiri-sendiri, padahal sebenarnya dapat dipertemukan dalam sebuah solusi yang lebih bijaksana.

Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi siapa pun. Setiap kebijakan publik lahir dari niat baik dan pertimbangan yang tidak sederhana. Yang ingin diajukan di sini hanyalah sebuah gagasan: mungkinkah sekolah-sekolah negeri yang kekurangan murid dipetakan dan direvitalisasi menjadi Sekolah Rakyat? Bukankah lahan sudah tersedia, gedung telah berdiri, sebagian fasilitas sudah ada, sehingga negara dapat lebih fokus meningkatkan kualitas pendidikan daripada sekadar membangun fisik baru?

Pertanyaan ini bukan semata soal efisiensi anggaran. Lebih dari itu, ia menyangkut cara kita memandang pendidikan. Apakah pendidikan hanya identik dengan pembangunan gedung, ataukah yang jauh lebih penting adalah membangun manusia?

Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling banyak membangun sekolah baru, melainkan bangsa yang paling bijaksana memanfaatkan seluruh sumber dayanya demi masa depan generasi berikutnya.

Menghidupkan Kembali Aset Pendidikan Bangsa

Setiap gedung sekolah dibangun dengan uang rakyat. Karena itu, ketika sebuah sekolah kehilangan murid, sesungguhnya yang kehilangan bukan hanya sekolah tersebut, melainkan seluruh masyarakat. Bangunan yang dulu penuh semangat belajar perlahan berubah menjadi ruang yang sunyi.

Dalam dunia perencanaan pembangunan dikenal konsep adaptive reuse, yaitu menghidupkan kembali aset yang sudah ada dengan fungsi yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman. Prinsip ini banyak diterapkan di berbagai negara karena terbukti lebih hemat, lebih berkelanjutan, dan lebih ramah lingkungan dibanding membangun dari awal.

Mengapa pendekatan serupa tidak diterapkan dalam dunia pendidikan? Sekolah-sekolah yang mengalami penurunan jumlah murid dapat dipetakan secara objektif. Bila lokasinya strategis dan bangunannya masih layak, sekolah tersebut dapat di-upgrade menjadi Sekolah Rakyat dengan fasilitas yang disesuaikan dengan standar yang dibutuhkan.

Dengan demikian, anggaran negara yang semula dialokasikan untuk pembangunan gedung baru dapat dialihkan kepada hal-hal yang jauh lebih mendasar, seperti peningkatan kompetensi guru, laboratorium modern, perpustakaan digital, asrama bila diperlukan, layanan kesehatan, makan bergizi, hingga penguatan pendidikan karakter.

Efisiensi bukan berarti mengurangi kualitas. Sebaliknya, efisiensi adalah menggunakan setiap rupiah uang rakyat secara bertanggung jawab agar manfaatnya dirasakan oleh lebih banyak anak bangsa.

Di Era Digital, Informasi Berlimpah, Kesadaran Justru Menjadi Langka

Abad ke-21 membawa perubahan yang luar biasa. Internet telah menghapus batas ruang dan waktu. Kini hampir seluruh pengetahuan dunia dapat diakses melalui telepon genggam. Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin mempercepat proses belajar. Apa yang dahulu memerlukan waktu berhari-hari untuk dicari di perpustakaan, kini dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik.

Artinya, tantangan pendidikan bukan lagi transformasi informasi. Informasi sudah tersedia di mana-mana. Yang justru menjadi tantangan terbesar adalah transformasi kesadaran.

AI mampu menjawab pertanyaan. Mesin mampu mengolah data. Buku mampu menyampaikan ilmu pengetahuan. Namun tidak satu pun mampu menanamkan kebijaksanaan, empati, kasih sayang, atau integritas. Semua itu hanya dapat tumbuh melalui perjumpaan antarmanusia.

Di sinilah sekolah tetap memiliki peran yang tidak tergantikan. Sekolah bukan sekadar tempat mentransfer pengetahuan, tetapi ruang di mana seorang anak belajar menjadi manusia.

Seorang murid mungkin lupa rumus matematika yang diajarkan gurunya. Ia mungkin lupa tanggal-tanggal sejarah. Tetapi ia hampir tidak pernah lupa bagaimana gurunya memperlakukan dirinya. Sikap hormat, kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, dan kasih sayang jauh lebih membekas dibandingkan isi buku pelajaran.

Karena itu, pendidikan masa depan harus bergeser dari transfer of information menuju transformation of consciousness. Sebab informasi dapat membuat seseorang menjadi pintar, tetapi hanya kesadaran yang membuat seseorang menjadi bijaksana.

Karakter Guru Mendahului Karakter Murid

Selama ini kita sering berbicara tentang pentingnya pendidikan karakter bagi murid. Padahal ada satu pertanyaan yang lebih mendasar: siapakah yang membentuk karakter para guru?

Ki Hajar Dewantara telah memberikan jawabannya lebih dari satu abad lalu melalui semboyan yang sangat terkenal, Ing ngarso sung tulodo. Di depan memberi teladan. Kalimat sederhana ini sesungguhnya merupakan fondasi seluruh pendidikan.

Anak-anak belajar bukan hanya melalui pendengaran, tetapi terutama melalui pengamatan. Mereka meniru apa yang dilakukan orang dewasa. Karena itu, karakter murid tidak lahir pertama-tama dari kurikulum, melainkan dari karakter guru.

Guru yang disiplin akan melahirkan murid yang menghargai waktu. Guru yang jujur akan melahirkan murid yang menjunjung integritas. Guru yang rendah hati akan mengajarkan kerendahan hati tanpa perlu banyak berbicara.

Albert Bandura melalui Social Learning Theory menjelaskan bahwa manusia belajar melalui observasi terhadap model yang dianggap layak diteladani. Dengan kata lain, guru bukan hanya penyampai materi pelajaran, tetapi model kehidupan.

Inilah tantangan terbesar pendidikan Indonesia. Kita mungkin mampu membangun ribuan gedung sekolah. Kita mungkin mampu menyediakan teknologi tercanggih. Tetapi apabila para pendidik tidak terus bertumbuh sebagai pribadi yang berintegritas dan sadar akan tanggung jawab moralnya, pendidikan karakter hanya akan menjadi slogan.

Karakter tidak diwariskan melalui ceramah. Karakter ditularkan melalui kehidupan.

Pendidikan Holistik: Membangun Manusia Seutuhnya

Di sinilah saya melihat relevansi Pañcamaya Kośa, ajaran yang termuat dalam Taittirīya Upaniṣad. Pendidikan sejati tidak berhenti pada pengembangan kecerdasan intelektual. Manusia terdiri atas lima lapisan kesadaran yang saling berkaitan.

Annamaya Kośa mengingatkan pentingnya tubuh yang sehat melalui gizi yang baik dan lingkungan belajar yang layak. Prāṇamaya Kośa menekankan vitalitas, semangat hidup, dan kesehatan energi. Manomaya Kośa berkaitan dengan pikiran, emosi, dan kemampuan belajar. Vijñānamaya Kośa adalah lapisan kebijaksanaan, kemampuan membedakan yang benar dan yang keliru. Sementara Ānandamaya Kośa merupakan puncak kesadaran, ketika manusia menemukan makna hidup, kedamaian, dan kebahagiaan sejati.

Sayangnya, sistem pendidikan modern sering kali berhenti pada Manomaya Kośa, yakni penguasaan pengetahuan. Nilai ujian menjadi ukuran utama keberhasilan, sementara kebijaksanaan dan kematangan batin kurang memperoleh perhatian.

Padahal, tujuan pendidikan adalah mengantar manusia bertumbuh menuju kebijaksanaan.

Pandangan ini selaras dengan Peta Kesadaran David R. Hawkins. Menurut Hawkins, kualitas hidup seseorang tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecerdasannya, tetapi oleh tingkat kesadarannya. Kesadaran yang didominasi rasa takut, kemarahan, keserakahan, atau gengsi akan melahirkan perilaku yang destruktif. Sebaliknya, ketika seseorang bertumbuh menuju keberanian, penerimaan, kasih, dan kedamaian, ia menjadi sumber inspirasi bagi lingkungan sekitarnya.

Bila dikaitkan dengan dunia pendidikan, maka tujuan sekolah bukan sekadar mencetak siswa yang memperoleh nilai tinggi. Sekolah hendaknya menjadi ruang yang membantu peserta didik bergerak dari kesadaran yang sempit menuju kesadaran yang lebih luas; dari ego menuju empati; dari kompetisi menuju kolaborasi; dari sekadar mengejar sukses menuju kehidupan yang bermakna.

Guru yang kesadarannya berkembang akan mengangkat kesadaran muridnya. Sebaliknya, guru yang masih terjebak pada ketakutan, kemarahan, atau ego akan tanpa sadar mewariskan energi yang sama kepada peserta didik.

Karena itu, investasi terbesar dalam pendidikan bukan pertama-tama gedung, kurikulum, atau teknologi, melainkan pembangunan kualitas kesadaran para guru. Ketika guru bertumbuh, murid akan berkembang. Ketika guru menjadi teladan, karakter murid tumbuh secara alami.

Mungkin di sinilah makna terdalam Sekolah Rakyat. Ia bukan sekadar sekolah gratis bagi rakyat kecil, melainkan sekolah yang memuliakan manusia. Tempat setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi, memperoleh kesempatan mengembangkan seluruh potensinya—fisik, mental, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual.

Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa banyak gedung sekolah yang berhasil dibangun, melainkan oleh seberapa banyak manusia berintegritas yang berhasil dilahirkan. Beton dan baja dapat membangun ruang kelas, teknologi dapat mempercepat transfer informasi, tetapi hanya manusia yang telah bertumbuh kesadarannya yang mampu membangkitkan kesadaran manusia lain.

Maka, bila Sekolah Rakyat ingin menjadi tonggak perubahan, fondasinya bukan hanya semen dan batu bata. Fondasi sejatinya adalah guru-guru yang terus membangun dirinya sendiri. Sebab pendidikan yang sesungguhnya bukanlah memindahkan informasi dari kepala guru ke kepala murid, melainkan menyalakan cahaya kesadaran dari hati seorang guru ke hati setiap peserta didiknya. Dari cahaya itulah lahir karakter, dan dari karakter itulah masa depan bangsa dibangun. [T]

Tags: Pendidikansekolahsekolah rakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

Next Post

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails
Next Post
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan ---Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co